Featured Posts

<< >>

BERDIRI DI DARAT DAN MEMANDANG KE LAUT

MEMANDANG-KE-LAUT

oleh : Marcus Jozef PATTINAMA[1] I. Prolog Memuliakan Laut. Tema ini kembali digaungkan melalui pemaparan diversifikasi ide pada penerbitan buku ketika merayakan Dies Natalis Universitas Pattimura Ambon yang kini telah berusia 54 tahun pada April 2017. Jika boleh dapat kami sampaikan bahwa tema ini tidak dapat

LA MAIN Á LA PÄTE SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN INSTITUSI INTERNASIONAL

LA MAIN Á LA PÄTE

Oleh : Max Marcus J. PATTINAMA[1]  Prolog La Main à la pâte adalah suatu konsep pengembangan ilmu pendidikan berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan dari pendidikan pada level sekolah dasar dan perguruan tinggi. La Main à la pâte sangat sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tetapi

MUA LALEN DAN ORGANISASI TERITORIAL MENURUT KONSEP GEBA BUPOLO

Orang Buru

Oleh : Max Marcus J. PATTINAMA Profesor Etnoekologi ABSTRACT Geba Bupolo are autochtone of the Buru island. The forest area is a great house for Geba Bupolo (Bupolo people). This view gives meaning also that the forest is an area that has an owner. Hunting

LIWIT LALEN, HAFAK LALEN, SNAFAT LAHIN BUTEMEN

pulau-buru

Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku oleh Marcus J. PATTINAMA Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura I. PROLOG Perkenankan saya pada kesempatan ini untuk menyampaikan sebuah pemikiran yang berangkat dari dasar konsep pikiran orang Bupolo dengan judul :

PENELITIAN DAN PENGAJARAN ETNOBOTANI UNTUK IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KEPULAUAN MALUKU

PERUBAHAN-IKLIM

Ethnobotany Research and Teaching towards Adaptation and Implementation of Climate Change in the Maluku Archipelago  Marcus J. PATTINAMA Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura ABSTRACT Climate change, an increased average global temperature, has resulted in the emission of greenhouse effects

BERDIRI DI DARAT DAN MEMANDANG KE LAUT

MEMANDANG-KE-LAUT

oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[1]

I. Prolog

Memuliakan Laut. Tema ini kembali digaungkan melalui pemaparan diversifikasi ide pada penerbitan buku ketika merayakan Dies Natalis Universitas Pattimura Ambon yang kini telah berusia 54 tahun pada April 2017. Jika boleh dapat kami sampaikan bahwa tema ini tidak dapat dipisahkan dari Pola Ilmiah Pokok Unpatti, Bina Mulia ke Lautan. Dengan demikian landasan berpikir yang hendak dikembangkan dalam tulisan ini adalah bagaimana sumbangan yang dapat diberikan oleh ilmu-ilmu pertanian dalam memberikan penguatan terhadap tema Memuliakan Laut yang pada gilirannya memberikan ciri dan identitas yang makin lengkap terhadap arah pengembangan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon ke depan.

Memuliakan laut sebagai derivatif Bina Mulia ke Lautan adalah konsep yang mengandung makna filosofi paling tinggi karena senantiasa berkohesi dengan dunia nyata dan dunia kosmologis orang Maluku. Dalam hidup sehari-hari orang Maluku sulit dipisahkan dari laut karena dari sanalah ada ladang hidup berkelanjutan. Sedangkan pandangan kosmologis juga tidak dapat dipisahkan dari laut sebagai suatu entitas. Ada hubungan totalitas antara ruang langit dan ruang bumi, dimana ruang bumi tidak hanya dibatasi pada zona darat namun demikian mencakup zona laut. Kemudian dalam tatanan bernegara, tema kelautan pada saat ini menjadi « à la mode » atau « up to date » bahkan menjadi tema dalam hubungan dengan issue Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dalam kalkulasi ekonomi makro, laut Indonesia akan menjadi sumber devisa negara terbesar dan Maluku adalah poros maritim Indonesia.

Ide memuliakan laut mengandung dua tataran makna yakni makna harafiah adalah menyempurnakan laut dengan penuh keluhuran dan makna filosofi adalah suatu tatanan cintarasa terhadap lautan dengan kesadaran dan penghayatan untuk senantiasa menjunjung tinggi lautan dengan segala harta kekayaannya sebagai sumber kehidupan yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Manusia

Menurut hemat penulis bahwa memuliakan laut adalah suatu falsafah pendidikan dan bukan merupakan suatu ilmu atau disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan pula bahwa memuliakan laut adalah suatu konsep inovasi yang mengandung orientasi dasar ilmiah dengan tujuan pengembangan dan kerjasama pendidikan pada level paling bawah hingga level paling tinggi.

 

II. Makna Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut

Memuliakan laut seyogyanya mendapat sentuhan makna aplikasi sehingga ada wujud nyata yang bisa dipahami dari bebagai bidang ilmu. Dengan kata lain memuliakan laut akan menjadi lengkap apabila ditopang dalam perspektif multidisiplin dan interdisipliner. Untuk itu disiplin ilmu pertanian memaknainya dengan Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.    Disiplin ilmu pertanian mencoba untuk mengembangkan pemikiran yang sangat sederhana dari memuliakan laut yaitu berdasarkan hubungan sebab-akibat. Pernyataan Berdiri di Darat bermakna bahwa pemahaman konsep ruang dimana seluruh aktifitas pertanian pada ekologi daratan adalah suatu ruang entitas dimana manusia berpijak untuk hidup. Sedangkan pernyataan Memandang ke Laut artinya bukan sebatas memandang dengan alat indera mata saja tetapi menunjuk pada konsep pembagian waktu kerja penuh untuk meramu wilayah daratan dimana semua aktivitas bekerja di darat tersebut tidak dapat dipisahkan dari ruang laut dengan segala ekologinya. Disini hubungan darat dan laut menjadi suatu entitas yang utuh. Dengan kata lain bahwa memandang ke laut memiliki bobot yang sama dengan berdiri di darat. Pendefinisian memandang ke laut ini berangkat dari pemahaman nyata dari masyarakat pertanian yang ada di Maluku dimana mereka mendiami hanya satu pulau besar (Seram) dan sisanya bermukim pada pulau kecil (< 10.000 km²) dimana laut dan pulau adalah rumah mereka yang sulit dipisahkan.

Seorang petani di Maluku selalu memangku dua profesi pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani yang mengelola ekologi daratan dan sebagai nelayan yang juga mengelola ekologi laut. Dengan demikian seorang petugas penyuluhan pertanian di suatu desa akan berhadapan dengan seorang petani dan juga merangkap sebagai seorang nelayan. Dengan kata lain ini berdampak pada saat kegiatan penyuluhan pertanian atau kegiatan penyuluhan perikanan maka petugas akan berhadapan dengan orang yang sama. Profesi bivalen yang dimiliki oleh petani di Maluku yang memberikan inspirasi pada disiplin ilmu pertanian untuk merumuskan falsafah pembangunan pertanian di Maluku : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.

Kenyataan lainnya yang mendukung falsafah ini adalah dalam hal penguasaan tanah di Maluku. Studi yang mendalam tentang organisasi teritorial menunjukkan bahwa penguasaan tanah di Maluku mempunyai batas-batas yang hanya ditandai secara alami, misalnya gunung, air, tanitan, dan tanaman (pohon) tertentu, akibatnya luas daerah yang menjadi hak milik tidak bisa diukur secara akurat ditambah pula dengan hak petuanan yang bersifat komunal. Penguasaan tanah juga menjangkau dalam wilayah sungai yang mengalir dari sumbernya pada daerah pegunungan hingga bermuara pada wilayah lautan. Untuk wilayah ini pendefinisian pemilikan akan terukur pada batas akhir saat air laut surut (meti). Oleh karena itu pada surat resmi kepemilikan tanah yang diakui oleh Negara sebagai Surat Dati juga mencantumkan batas-batas kepemilikan wilayah yang dicatat berdasarkan terminologi vernakuler.

 

III. Konsep Pertanian di Maluku

Dalam berbagai pertemuan ilmiah baik yang diselenggarakan pada intern Fakultas Pertanian maupun pada ekstern di level regional dan nasional, Fakultas Pertanian telah menetapkan arah bahwa konsep pembangunan pertanian yang hendak dikembangkan di Provinsi Maluku adalah Konsep Pertanian Kepulauan.

Konsep pertanian kepulauan seyogyanya dipandang dari tiga konsep ruang dimana organisme hidup termasuk manusia memilihnya sebagai suatu habitat yaitu gunung, pantai dan laut. Ketiga ruang ini harus dilihat secara holistik. Jika kita mau membangun manusia, dalam hal ini memanusiakan manusia, maka harus dimulai dari habitat dimana manusia berada yaitu ruang yang memungkinkan manusia bisa berkarya sepanjang hidup dengan curahan waktu kerja penuh. Itu berarti manusia hanya bisa menggunakan ruang gunung dan pantai. Sedangkan ruang laut atau lautan adalah tempat hydroorganisma. Ruang laut tidak bisa menjadi pemukiman manusia dan lebih cenderung dijadikan sebagai ruang untuk menghidupi manusia, dimana kondisi laut tidak bisa ramah sepanjang waktu. Kondisi yang ramah itu hanya bisa diketahui oleh manusia yang mengelolanya. Contohnya : pergerakan arah angin di darat akan menjadi indikator bagi manusia untuk memprediksi situasi di laut.

Pertanian kepulauan tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah kepulauan itu sendiri dimana situasi dan kondisi akan sangat berbeda dengan wilayah kontinental, terutama bila dilihat dari sisi luasan ketersediaan lahan untuk mengembangkan suatu usaha pertanian yang intensif. Kemudian iklim yang beragam dan cuaca yang fluktuatif dari pulau ke pulau, serta jenis tanah dengan sifat erodible dan tingkat kesuburan tanah yang rendah, mudah tercuci pada bagian top-soil dengan ketebalan tanah yang rendah merupakan faktor-faktor pembatas pembangunan sistem pertanian kepulauan.

Dengan segala keterbatasan sumbaerdaya alam maka untuk menerapkan pola pertanian di wilayah kepulauan diharapkan mempertimbangkan faktor ekosistem wilayah tersebut sehingga dapat mengembangkan suatu model dengan pola yang sifatnya berkelanjutan. Ciri utama dari wilayah kepulauan adalah terbatasnya lahan datar dengan kondisi kepulauan yang terisolasi satu dengan yang lain memberi peluang untuk mengembangkan pola pertanian lahan kering dengan komoditi unggulan yang kompetitif seperti yang sudah dipraktekkan oleh petani Maluku yaitu mengembangkan sistem agroforestry tradisional. Berikut ini beberapa nama lokal dari sistem agroforestry tradisional adalah dusung (Pulau Ambon dan Lease), lusun (Pulau Seram), wasilalen (Pulau Buru) dan atuvun (Pulau Kei). Model ini merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika kita bayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani dari tanaman campuran antara tanaman hutan dan tanaman pertanian (agrisilvikultur) ke pola usahatani tanaman pangan dengan sistem monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai sehingga akibatnya terjadi pengrusakan vegetasi tanaman daerah pantai (=mangrove) dan yang tidak kalah penting adalah rusaknya daerah terumbu karang. Kerusakan ekosistem daerah pantai akan memberi dampak pada siklus hidup plankton dan jenis biota laut lainnya.

Jadi tindakan merubah ekologi daerah pegunungan akan memberikan indikasi bahwa nilai cinta-rasa memuliakan laut sudah pudar. Amati dan bandingkan dengan tindakan « illegal logging » yang pernah dipraktekkan oleh para pemegang konsesi hutan, akibatnya yang dirasakan saat ini adalah ekosistem daerah pegunungan sangat cepat berubah.

Selanjutnya, sistem pertanian di pulau-pulau kecil selayaknya mengadopsi konsep pertanian dengan input luar rendah dan agroekologi. Konsep LEISA (Low external input sustainable agriculture) merupakan suatu pilihan yang layak bagi petani dan bisa melengkapi bentuk-bentuk lain produksi pertanian. Konsep ini selanjutnya menekankan prinsip-prinsip ekologi dalam pertanian dengan menempatkan usahatani sebagai relung ekologi yang mirip dengan alam yang berupaya mencapai keanekaragaman fungsional dengan mengkombinasikan spesies tanaman dan hewan (agrosilvopastura) dimana hal ini sudah dipraktekkan oleh petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang disebut lutur. Konsep pertanian lutur adalah yang saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergetik dan positif, sehingga kestabilan bisa diperbaiki, dan produktifitas sistem pertanian dengan input rendah.

 

IV. Epilog

Pandangan yang diberikan ini adalah tidak lain bersumber dari pengalaman kami sebagai guru di kampus dan peneliti di lapangan serta laboratorium, dimana kesemuanya diperoleh dari interaksi yang dinamis dengan penuh kerendahan hati mau mendengar, mancatat dan mempelajari semua informasi dan pengetahuan lokal yang dipraktekkan oleh petani dalam mengelola alam serta interaksi harmonis antar manusia dengan alam yang harus mereka ciptakan untuk bisa bertahan hidup. Sistem pertanian yang dijalani adalah gambaran linier dari sistem peradaban manusia karena memang pertanian adalah peta peradaban manusia.

Konsep memuliakan laut yang dijabarkan dalam konsep berdiri di darat dan memandang ke laut adalah landasan sistem pertanian berkelanjutan yang memiliki lima dimensi pandang, yaitu dimensi nuansa ekologis, dimensi kelayakan ekonomis, dimensi kepantasan budaya, dimensi kesadaran sosial, dan dimensi pendekatan holistik. Penguatan kelima dimensi tersebut di atas adalah bertujuan untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan, meningkatkan mutu sumber daya manusia, meningkatkan kualitas hidup, serta menjaga kelestarian sumber daya melalui strategi kerja keras proaktif, pengalaman nyata, partisipatif, dan dinamis.

Artikel dalam Buku Pandangan Guru Besar tentang tema Memuliakan Laut untuk Dies Natalis UNPATTI Ambon ke-54, Tanggal 23 April 2017.

 



[1] Guru Besar Ethnoekologi dan Staf PengajarJurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti Ambon.

LA MAIN Á LA PÄTE SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN INSTITUSI INTERNASIONAL

LA MAIN Á LA PÄTE

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

 Prolog

La Main à la pâte adalah suatu konsep pengembangan ilmu pendidikan berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan dari pendidikan pada level sekolah dasar dan perguruan tinggi. La Main à la pâte sangat sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tetapi secara umum dapat disebut sebagai “TANGAN DALAM ADONAN”.

La Main à la pâte adalah konsep yang memiliki filosofi yang sangat tinggi yang dibangun pada tahun 1996 oleh Georges CHARPAK, pemenang Nobel Fisika dari Prancis. Kemudian tahun 2012 ditetapkan sebagai landasan kerjasama ilmiah oleh institusi teknik yang bergengsi di Prancis seperti  Ecole Normale Superieure de Paris dan École Normale Supérieure de Lyon. Selanjutnya La Main à la pâte telah menjadi suatu yayasan yang punya pengaruh di Perancis dan di dunia.

Siapa Georges CHARPAK ?

Georges-Charpak

Lahir pada tahun 1924 di Ukraina, Georges Charpak tiba di Perancis dengan orang tuanya pada usia 7 tahun. Kemudian dia harus cepat belajar bahasa Prancis yang akan menjadi lidah baru baginya. Oleh karenanya dia selalu merasa berhutang budi kepada sekolah yang mendidik dia. Sebagai seorang mahasiswa brilian, ia membahas pendidikan tinggi pada saat perang. Bergabung dengan Perlawanan, ia ditangkap dan dideportasi dengan nama palsu Charpentier ke kamp konsentrasi Dachau.

Setelah dibebaskan pada tahun 1945 ia memasuki Ecole des Mines de Paris dan kemudian bekerja sebagai peneliti pada laboratorium fisika nuklir Frédéric Joliot-Curie. Setelah itu dia tertarik dengan fisika partikel elementer, mengantarnya untuk bergabung CERN (le Centre Européen de Recherche Nucléaire), Pusat Riset Nuklir Eropa yang berkedudukan di Jenewa. Tahun 1992 Georges CHARPAK adalah pemenang Penghargaan Nobel dalam Fisika. Tahun1996 mempopulerkan konsep la Main à la pâte untuk melawan kegagalan akademis dan kekerasan di lingkungan miskin. Tahun 2010 Georges CHARPAK meninggal dunia.

 

Manusia Prancis dan Ilmu Pengetahuan

Kami cenderung melihat sesuatu dari dasarnya dalam hubungan kerjasama yaitu manusia seutuhnya sebagai sumbernya. Kami tidak ingin membandingkan antara manusia Prancis dan manusia Indonesia, tetapi ingin mensejajarkan kedua manusia dan budaya tersebut, sehingga dapat terlihat bagaimana kita sampai pada hubungan yang ada sekarang.

Manusianya kami lihat dari segi pembentukannya melalui pendidikan formal (modern) yang terutama mendasari sikap pikir dan pandangnya dalam ilmu pengetahuanya itu. Pendidikan manusia Prancis bertumpu pada ajaran Descartes (lihat : Discours de la méthode) ; dimana akal budi adalah alat yang dipakai untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah, berarti mencari apa yang sebenarnya, sehingga manusia itu mendapat keyakinan penuh dari apa yang disimak di luar dirinya. Mereka dididik untuk menemukan sendiri, sehingga mencapai keyakinan yang kokoh atas kebenaran objek yang disimak. Dengan kata lain tiap manusia itu yakin akan kebenaran pandangannya. Demikianlah dikenal ungkapan “autant de têtes, autant d’avis”.

Oleh karena itu mulai dari bangku sekolah mereka sudah dilatih untuk mengembangkan observasi, menganalisis apa yang diamati untuk menilai kebenarannya (l’objet des etudes doit être de diriger l’esprit jusqu’à le rendre capable d’énoncer des jugements solides et vrais sur tout ce qui se présente à lui). Mereka selalu mempertanyakan « kenapa dan bagaimana » (le pourquoi et le comment) untuk meyakinkan kebenaran pandangannya. Maka dapatlah dimengerti bila pada umumnya mereka kurang terbuka dalam arti bahwa kebenaran pandangannya menjadi keyakinannya yang akan dipegang teguh sampai ada pembuktian lain yang menunjukkan ketidakbenarannya.

Di sini dapat dilihat bahwa ide atau pendapatlah yang dikembangkan dan dihargai. Selain itu cara pemaparan penalarannya pun harus jelas dan beruntun dalam hubungan sebab akibat. Oleh karena itu penilaian dan ide yang tepat dan bersifat subjektif itu menjadi ukuran keunggulan seseorang. Perdebatan pendapat dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi manusia Prancis itu. Seseorang yang tidak mengemukakan pendapat tidak menarik. Ide orisinal selalu dicari. Ini tampak dalam pencarian mereka atas dasar ingin tahu akan hal-hal yang khas, istimewa, atau tidak umum. Wajar pula bila mereka memupuk pengetahuan yang luas dan ungkapan « memiliki kepala yang penuh pengetahuan » menjadi tujuan manusia yang berpendidikan. Dan pengetahuan yang didapat berdasarkan rasa ingin tahuakan apa yang ada di luar dirinya itu berarti hasil dari hubungan antara subjek dan objek, Manusia yang demikian akan selalu melihat apa yang di luar dirinya.

Dengan sikap pandang tersebut, kami melihat bahwa selama mereka berada dalam konteks dunianya, terutama bila objeknya dari duania Prancis sendiri, tidak kami rasa ada keganjilan pada pandangan mereka. Keganjilan itu akan timbul bila objek pandangnya adalah fenomena Indonesia atau dari budaya “asing”. Maka pandangan mereka kurang mengena (sebenarnya adalah fenomena universal).

Pertanyaan lain timbul, bagaimana dampak tulisan mereka yang menjadi acuan bagi mereka yang belum mengenal realitasnya ? Pemaparan yang disampaikan dengan nada yang meyakinkan sikap yang tertanam pada manusianya akan mudah diterima sebagai kebenaran realitas objeknya. Terlebih lagi pakar dianggap sebagai orang yang memahami objeknya. Bagaimanapun para pakar itu sedikit banyak menyadari bahwa pandangan mereka itu suatu interpretasi.

 

Manusia Indonesia dan Ilmu Pengetahuan

Dalam mengenal lahan Indonesia dimana tumbuh ilmu pengetahuan modern ini, kita menyadari bahwa suatu sistem budaya tradisional dan modern berjalan bersama dan ilmu pengetahuan itu di sini tumbuh di atas akar budaya tradisional tersebut.

Bagaimana akar budaya tradisional ini ? Sebenarnya sudah kita pahami bahwa ilmu yang tumbuhdari akar tradisional ini berbeda. Ilmu di sini merupakan ajaran hidup dan menuntun manusia untuk menjadi “manusia utama”. Di sini ilmu tidak dipelajari sebagai pengetahuan yang didasari oleh rasa ingin tahu, tetapi harus diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi memang tidak dapat disebut ilmu pengetahuan. Dalam ilmu ini manusianya dituntun untuk menyimak ke dalam dirinya dan meresapi apa yang ada di luar dirinya tanpa memberi pendapat. Sedang yang disebut manusia itu adalah manusia seutuhnya yaitu lahir dan batin. Sikap pandangnya pun menyeluruh (Global) dan manusia itu sendiri adalah bagian dari alam raya ini.

Dengan demikian mereka ini tidak didorong untuk mengemukakan pandangan atau ide mereka, perdebatan pun tidak mudah timbul. Mereka lebih cenderung mengikuti sikap seperti dalam ungkapan ilmu padi : makin berisi makin merunduk. Diam adalah sikap “manusia utama”, manusia yang sempurna lahir batin. Pendidikan tradisonal menuntun manusianya manuju sikap tersebut.

Ilmu pengetahuan yang kemudian tumbuh di atas lahan tradisional ini tentu tidak berproses sama seperti pada lahan aslinya. Dengan masuknya pendidikan BARAT kadar unsur tradisional dalam diri manusianya memudar tergantung dari penyerapan modern tersebut. Akan tetapi sadar atau tidak, unsur-unsur tradisional itu tidak akan lenyap dan pada kondisi tertentu akan muncul juga.

 

Strategi Membangun Kerjasama

Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Orang lain akan menutupi kelemahan atau menambah kekuatan kita. Namun untuk membangun hubungan kerjasama apalagi kerjasama internasional dengan pihak lain bukanlah perkara mudah. Tidak jarang kita gagal membangun hubungan karena kita tidak siap.

Berikut ini beberapa cara membangun hubungan kerjasama dengan pihak lain berdasarkan pengelaman kami :

1.Tentukan Tujuan

Tentukan dengan jelas mengapa harus bekerjasama. Apa yang bisa didapatkan? Apa yang bisa diberikan? Saat kita bisa menjawab pertanyaan ini, maka kita bisa mencari pihak yang tepat untuk diajak kerjasama. Hal ini akan membuat kita lebih efektif dan fokus pada tujuan dari kerjasama dimaksud.

2.Siapkan Profil

Siapkan beberapa materi tentang institusi ini. gali latar belakangnya dan buat menjadi sebuah cerita (atau organisasi yang dimiliki). temukan hal-hal menarik. Pihak luar biasanya menyukai cerita. Hal ini cukup menarik ketika kita mulai menceritakan “Unpatti itu siapa” (diskripsi diri).

3.Buat Kesan Positif

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda” begitu kiranya sebuah tagline sebuah brand terkenal. Kesan pertama memang sangat penting. Banyak orang tidak punya banyak waktu. Berikan kesan positif yang apa adanya. Jangan berlebih-lebihan. Hal ini bisa merusak hubungan dikemudian hari.

4.Fokus pada Kualitas bukan Kuantitas

Kita boleh membuat sebanyak mungkin jaringan kerjasama. Namun kita harus bisa memlih prioritas mana yang bisa kita bangun kualitas hubungannya. Cari yang benar-benar kita butuhkan dan memberikan manfaat lebih banyak. Sesuaikan juga dengan kondisi Unpatti yang sebenarnya.

5.Hargai Pendapat dan Kebiasaan

Setiap orang (atau organisasi) mempunyai kebiasaan dan budaya sendiri. Hargai pendapat atau kebiasaan pihak yang diajak untuk bekerjasama. Jangan pernah membandingkan dengan orang atau organisasi lain yang kita anggap lebih baik. Sadarilah setiap orang atau organisasi mempunyai keunikan sendiri.

6.Tunjukkan Antusiasme

Tunjukan bahwa kita sangat senang bisa mengenal orang atau institusi yang diajak untuk bekerjasama. Lakukan dengan TULUS. Cobalah untuk memahami dan mengenal mereka secara mendalam lebih dahulu. Orang akan lebih senang bila orang lain mengenal dan mau memahami mereka.

7.Tawarkan Bantuan

Jangan ragu untuk menawarkan bantuan. Jika Unpatti memang merasa sanggup untuk membantu, mengapa harus menunggu sampai pihak yang diajak kerjasama meminta? Bersikaplah proaktif. Bantuan yang kita berikan pasti kembali pada generasi berikutnya di suatu saat nanti.

Epilog

Apa yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional dan modern, jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas, untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Indonesia seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana pada lahan aslinya. Dalam pandangan kami, seminar sehari ini ingin Unpatti menuju pada kelas internasional maka yang bisa kami katakan adalah pikiran itu akan bermuara pada :

  • Pemerian pengalaman pribadi
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek pada objeknya
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek yang berada sekaligus dalam objeknya, dengan memakai disiplin ilmu yang mengharuskan keluar dan berdiri di luar objeknya.

 

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi LA MAIN Á LA PÄTE di Warung Prancis (French Corner) Universitas Pattimura Ambon, 12 April 2017.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon

 

MUA LALEN DAN ORGANISASI TERITORIAL MENURUT KONSEP GEBA BUPOLO

Orang Buru

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA

Profesor Etnoekologi

ABSTRACT

Geba Bupolo are autochtone of the Buru island. The forest area is a great house for Geba Bupolo (Bupolo people). This view gives meaning also that the forest is an area that has an owner. Hunting activities are taking forest products and also fought against evil spirits which dwell in the forest. So the forest is a sacred area and the full value of sanctity. To understand the Bupolo people, I should start from how we understand the way they divide their life space in association with the environment, namely by understanding the territorial organization of the Bupolo. This understanding will then give a good direction to the understanding of their social organization. Complex division of space in Bupolo people’s lives is something interesting to study.  Ethnobotany approach is one of the most suitable methods to be used to describe to complexity. This paper attempts to describe how the Bupolo people in Buru Island, Maluku Province, organize their territory and life spaces.

Key words : Bupolo, Buru Island, Forest, Territorial organization, Ethnobotany

 

1.Prolog

Perkenankan saya untuk mempresentasekan makalah saya dengan judul : Mua Lalen dan Organisasi Teritorial menurut Konsep Geba Bupolo dalam forum lokakarya yang dilaksanakan oleh CIFOR dan UNPATTI di Kota Namlea pada tanggal 21 November 2016. Sering terjadi ketidakcocokan antara Geba Bupolo yang menyatakan diri sebagai penduduk asli (autokton) Pulau Buru dengan para pendatang (alokton) dimana alokton belum paham atau mungkin secara sengaja tidak mau memahami adat dan budaya Geba Bupolo. Ada juga yang mengatakan bahwa para peneliti dan ilmuwan juga turut memberikan andil dalam memelihara ketidakcocokan ini, akibat dari hasil riset atau sintesis pengamatan tidak diinformasikan secara meluas di kalangan masyarakat umum. Saya yakin sungguh bahwa tidak ada kata terlambat untuk mau memahami adat dan budaya manusia, karena tema ini memang sangat menarik untuk didiskusikan.

Wilayah hutan (mua lalen) yang berada disekitar kehidupan Geba Bupolo adalah rumah besar dimana wilayah dimaksud adalah tempat mereka berteduh dan mengelola kehidupan di masa lalu dan masa depan. Kemudian untuk memasuki rumah besar tersebut telah ada siklus waktu yang sudah ditetapkan dan harus mendapat izin dari pemangku adat.

Lokakarya ini akan berujung untuk menghasilkan suatu konsep pemahaman Geba Bupolo, sehingga diharapkan program Pemerintah Kabupaten Buru akan bersinergi dengan kajian yang dibuat oleh CIFOR dan UNPATTI atau sebaliknya dimana manfaat positif dan dampak langsung akan diperoleh masyarakat Pulau Buru pada umumnya. Masalah lahan atau tanah adalah masalah semua manusia sehingga penyelesaian hak atas lahan atau tanah harus diselesaikan secara kemanusiaan menurut tatanan adat dan budaya Pulau Buru.

Pulau Buru sejak dahulu hanya dikenal sebagai tempat penampungan tahanan politik dimana ketika itu ditetapkan oleh rezim Presiden Suharto, “Orde Baru”. Selain itu Pulau Buru adalah pulau yang memproduksikan minyak kayu putih, yaitu suatu minyak yang diekstraksi dari daun pohon yang bernama kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies dari famili Myrtaceae. Selain hamparan tanaman kayu putih, maka saat ini Pulau Buru juga menjadi daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai lumbung pangan nasional mengingat sebagian besar wilayah Kayeli ditemui hamparan sawah yang dibangun selama periode tahun 1969-1979 oleh para tahanan politik dengan sistem kerja paksa. Kegiatan yang berikutnya adalah ternyata areal hutan Pulau Buru ditetapkan sebagai wilayah konsesi pertama untuk eksploitasi hutan secara besar-besaran melalui sistem HPH.

 

2. INFORMASI SINGKAT PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

3. DISKRIPSI PENDUDUK OLEH GEBA BUPOLO

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Buru.

Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu, noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain, adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam atau marga. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin berarti pohon sagu.

Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

 

4. DUNIA KOSMOLOGI GEBA BUPOLO

Tempat pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo. Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 1 berikut ini.

 

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 1. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan seorang Laki-laki (Pattinama,2005).

 

Jika diperhatikan Gambar 1 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

5. DUNIA NYATA GEBA BUPOLO

 

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yaitu penduduk autokton, relasi dagang dilakukan dengan pedagang yang menetap di daerah pantai yakni keturunan Cina dan Arab. Penduduk autokton berada pada posisi lemah karena hubungan dengan pedagang terjadi satu arah.  Artinya posisi pedagang sangat kuat. Hal ini sangat berbeda dengan pedagang antar pulau dengan penduduk yang mendiami daerah pesisir pantai. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate.

Geba Bupolo mengusahakan tanaman sagu (=bialahin, Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsinya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, Geba Bupolo secara rasional memilih singkong (=kasbit, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan tepung. Mereka juga mengkonsumsi protein hewani bersumber dari daging babi (fafu), rusa (mjangan) dan kusu (=blafen, Phalanger dendrolagus) dan ikan air tawar (mujair) dan morea (=mloko, Anguilla marmorata). Orang pendatang (Geba Misnit) yang tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan singkong. Di samping itu, mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

Mengenai eksploitasi hutan di Pulau Buru, maka pemerintah Orde Baru untuk pertama kali memberikan izin eksploitasi hutan secara besar-besaran dengan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada PT. Gema Sanubari, suatu perusahaan swasta berafiliasi dengan BAKIN (sekarang BIN). Perusahaan ini memiliki luas HPH terbesar di Pulau Buru (305.000 Ha).

Perkembangan selanjutnya dari kegiatan eksploitasi hutan, maka sekitar tahun 1980 PT. Gema Sanubari mendirikan industri kayu lapis di Buru Utara Barat. Penyerapan tenaga kerja lebih banyak didominasi oleh penduduk alokton sedangkan penduduk autoton mendapat porsi yang sangat sedikit. Mereka tidak diberi kesempatan karena tidak memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang diperlukan perusahaan.

 

6. DUNIA KEARIFAN GEBA BUPOLO

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

 

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana.

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 2. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

d. Organisasi Ruang

Masyarakat Buru mempunyai konsep pembagian batas-batas lingkungan alam yang tegas. Mereka memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri.  Pendatang memerlukan waktu lama untuk memahaminya.

Masyarakat Buru membagi ruang pulau Buru atas tiga bagian :

Pertama, mua lalen yang dilindungi karena nilai kekeramatannya. Wilayah ini termasuk Gunung Date (kaku Date), Danau Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan primer (koin lalen).

Kedua, mua lalen yang dikelola, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen).

Ketiga, mua lalen yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu.

Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsepsi dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas yang harus dipertahankan. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara (HPH), telah terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam hubungan dengan pemanfaatan ruang untuk aktivitas pertanian, maka ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh orang Bupolo yaitu dimulai dengan membuat:

-Hawa fehut atau fehur (kebun baru) yang terdiri dari tanaman: warahe (Arachis hypogaea), feten (Setaria itallica), dan hala (Oryza sativa).

-Hawa (kebun yang akan dipanen) : hawa hala, hawa magat, dan hawa kasbit.

-Hawa wasi (kebun yang belum selesai dipanen dan masih ada tanaman seperti pisang, nenas, dan ketela pohon).

-Wasi (kebun yang mau ditinggalkan), mereka menyebutnya pula wasa-wasi, ada tanaman seperti nakan (Arthocarpus integraifolia), nakan dengen (Arthocarpus champeden), waplane (Mangifera indica), hosi roit (Citrus nobilis), hosi hat (Citrus grandis), kopi (Coffea spp), warian (Durio zybethinus), biafolo (Arenga pinnata), pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Eugenia aromatica).

-Wasilalen (kebun yang ditinggalkan selama 8-9 tahun)

Orang Buru memiliki norma-norma adat untuk melindungi hutan primer yang mereka anggap sakral. Mereka melarang agresi pemegang HPH masuk ke hutan primer dengan cara membuat foron sbanat, yakni alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia.

 

e. Organisasi Waktu

Organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo disesuaikan menurut phenomena alam dari dua jenis pohon: Kautefu (Pisonia umbellifera) dan Emteda (Terminalia sp.) (Pattinama 2005). Untuk pohon yang pertama (kautefu), jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Pohon yang kedua (emteda) lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun.

Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) artinya tetap musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, disekeliling kebun ditebar tanaman hotong atau feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Mereka selalu saling bekerjasama dalam kegiatan menanam.

Efut ale adalah masa ketika daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar.  Artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari. Pada musim ini kegiatan menyiang hanya dilakukan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum lelaki mulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini hanya dilaksanakan pada masa Efut ale yang dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Akhir dari efut ale adalah masa panen yang dilaksanakan pula dengan upacara kematian nitu wasin. Selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore dimana hari hujan relatif besar. Pada masa ini diadakan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga morea itu seolah mabuk. Dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Menurut Keith Philippe (1999), sebenarnya morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi. Umumnya morea di Indonesia melakukan kegiatan reproduksi menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Kegiatan berikutnya orang Bupolo adalah berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat ini buah pohon meranti sangat banyak.  Buah ini merupakan sumber makanan bagi kedua hewan buruan tersebut. Lokasi berburu di hutan relatif jauh, yaitu di daerah gunung Kakupalatmada.

Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan.  Pada masa ini kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 3. Organisasi waktu menurut Geba Bupolo (Pattinama, 2005).

 

f. Berburu

Aktivitas ini dilakukan secara rutin dan merupakan pekerjaan yang hanya digeluti oleh kaum laki-laki. Orang Bupolo menggunakan istilah berburu adalah iko ephaga atau iko lodi. Berburu bagi orang Bupolo bukan sekedar hanya masuk areal hutan untuk menangkap atau membunuh binatang buruan. Tetapi bisa diintepretasikan sebagai kegiatan berperang melawan roh-roh jahat dalam hutan rimba yang lebat (hutan primer). Oleh sebab itu persiapan untuk kegiatan ini penuh dengan ritual yang sangat sakral (koin). Jadi ada upacara adat yang mendahului kegiatan berburu.

Saat pelaksanaan kegiatan berburu di hutan maka seorang pemburu tidak boleh semena-mena melakukan eksploitasi terhadap areal hutan yang dijadikan medan perburuan, misalnya menebang pohon dengan sembarangan atau merusak areal yang sudah ditetapkan secara adat sebagai wilayah yang terlarang untuk masuk dan melakukan aktivitas lain. Semua larangan itu diberi tanda atau dalam bahasa Bupolo mengatakan sebagai sihit.

Binatang yang dijadikan sasaran dalam kegiatan ini adalah babi, rusa dan kusu. Ketiga binatang buruan ini hanya bisa diperoleh pada saat meranti (Shorea spp) berbuah, karena buah dari pohon tersebut adalah makanan utama dari kettiga binatang tersebut. Buah meranti dalam bahasa Buru adalah kalodi.

 

g. Meramu Hutan

Kegiatan meramu hutan adalah kegiatan yang dilakukan secara bersamaan pada saat aktivitas berburu dilaksanakan. Meramu hutan dalam bahasa Buru adalah iko mualalen. Saat Orang Bupolo melakukan perburuan binatang di hutan primer maka kegiatan meramu damar (kisi) dan rotan (uwa) dilaksanakan secara bersamaan.

 

7. EPILOG

Orang Bupolo di pedalaman Pulau Buru merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Bupolo hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Barraud, Cécile and Friedberg, Claudine, 1996. Life-Giving Relationships in Bunaq and Kei Societies, in : Signe Howell (Ed.), For the Sake of Our Future (Sacrificing in Eastern Indonesia), Research School CNWS, Leiden, The Netherlands : 374-383.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.

Pattinama Marcus Jozef, 2014. Territorial Organization by Bupolo People in Buru Island. A New Horizon of Island Studies in the Asia Pacific Region, Kagoshima University Research Center. P.79-87.

 


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi Hasil Penelitian di Pulau Buru Kerjasama antara CIFOR Bogor dengan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, UNPATTI Ambon, Tanggal 21 November 2016 di Kota Namlea, Kabupaten Buru.

LIWIT LALEN, HAFAK LALEN, SNAFAT LAHIN BUTEMEN

pulau-buru

Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku

oleh

Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

I. PROLOG

Perkenankan saya pada kesempatan ini untuk menyampaikan sebuah pemikiran yang berangkat dari dasar konsep pikiran orang Bupolo dengan judul : Liwit Lalen, Hafak Lalen, Snafat Lahin Butemen : Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku. Judul ini saya pilih dengan alasan : (i) Mendukung tema besar dari Kongres Kebudayaan Maluku tahun 2016 di Pulau Buru ini yaitu Mengokohkan Identitas ke-Maluku-an dalam Perspektif Bupolo. Jadi kalimat di atas yang disajikan dalam Bahasa Buru dan sekaligus adalah judul dari artikel kami ini merupakan representasi pokok pikiran orang Bupolo yang sifatnya holistik, komprehensif dan sakral. Kalimat Liwit Lalen, Hafak Lalen. Snafat Lahin Butemen adalah juga pintu masuk untuk memahami manusia Buru yang menamakan dirinya Geba Bupolo secara totalitas dan coheren. (ii) Manusia tetap menjadi tema sentral dalam pembangunan, namun dibalik itu ada sosok manusia yang senantiasa dibungkus dengan “kepompong misterius” yang tidak mudah dipahami oleh manusia lain, artinya tema manusia merupakan masalah yang sangat sensitif, (iii) Diskusi tentang manusia dalam suatu pertemuan resmi ilmiah atau pertemuan informal seyogyanya dilakukan secara rutin seperti Kongres Kebudayaan Maluku 2016 dimana artikel ini ditulis pula untuk menjawab tujuan keempat yaitu identitas ke-Bupolo-an menjadi empowering dan pengokohan yang tidak terpisahkan dari identitas ke-Maluku-an.

 

II.   MAKNA FILSAFATI LIWIT LALEN HAFAK LALEN SNAFAT LAHIN BUTEMEN

Pernyataan liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen tidak dapat diterjemahkan utuh ke dalam Bahasa Indonesia karena akan memiliki ekspresi makna yang berbeda. Jadi terjemahan kata demi kata adalah : liwit lalen = keranjang tempat makanan yang terbuat dari kulit kayu meranti, Shorea sp, berbentuk silinder ukuran panjang satu meter dan diameter 50 cm. Hafak lalen= kain sarung yang dikenakan perempuan Buru. Snafat lahin = saringan air yang terbuat dari serat pelepah kelapa, istilah Melayu Ambon adalah runut kelapa. Sedangkan butemen = air pertama yang keluar. Dengan demikian secara harfiah artinya “keranjang laki-laki, sarung perempuan dan air pertama yang mengalir keluar”. Ini yang dimaksud dengan mengungkap konsep asli masyarakat berdasarkan bahasa mereka.

Pernyataan ini mengisahkan tentang kekeramatan yang ada di sentral Pulau Buru. Gunung Date disimbolkan dengan liwit lalen sekaligus representasi dari alat kelamin laki-laki (penis), Rana disimbolkan dengan sesuatu yang ada di dalam hafak lalen yaitu alat kelamin wanita (vagina). Pintu keluarnya air dari Rana (likusmolat) ke sungai Waenibe disimbolkan dengan snafat lahin sekaligus representasi dari selaput pada organ vagina. Air yang mengalir keluar dari danau menuju sungai Waenibe disebut butemen sekaligus representasi dari keluarnya cairan sexual ketika manusia bersetubuh untuk melanjutkan generasi. Secara totalitas pernyataan ini mengisahkan tentang penyatuan laki-laki dan perempuan yang sangat sacral yaitu kegiatan memproduksi/menghasilkan kehidupan. Terminologi butemen juga menunjuk pada pengambilan hasil pertama dari kegitan berkebun dan berburu.

Pernyataan itu tidak terbatas hanya mengisahkan kekeramatan di Rana lalen saja, namun pernyataan ini dapat menjelaskan bagaimana Orang Bupolo mengelola sumberdaya tanaman yang ada di sekitarnya seperti mengolah sagu, membuat kebun baru dan melakukan kegiatan berburu di hutan.

Kegiatan mengolah sagu, mulai dari menebang pohon, saat batang sagu rebah di atas tanah adalah eskohot mhana (laki-laki). Disini perempuan bisa berpartisipasi membersihkannya, namun ketika batang pohon sagu dibelah menjadi dua bagian disebut eskohot fina (perempuan), maka perempuan Bupolo dilarang (koin) mendekatinya. Dalam konsep pikir orang Bupolo saat laki-laki menokok empulur sagu disitu layaknya aktivitas persetubuhan hingga disaring dalam wadah yang diibaratkan seperti Rana. Pada waktu air bercampur pati sagu keluar melalui saringan itulah yang disebut butemen, seterusnya ditampung dalam goti yang diibaratkan seperti sungai Waenibe yang mengalirkan air dari Rana menuju laut.

Pohon sagu atau bialahin (Metroxylon sp) dalam pertumbuhan di alam juga merepresentasikan hubungan kekerabatan dalam noro yang disebut bialahin. Dalam satu bialahin biasanya mereka bermukim pada petuanannya dengan jumlah rumah hanya tiga sampai lima mengikuti rumpun sagu. (Perhatikan Gambar 1).

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan (pemimpin bialahin). Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung di antara mereka.

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah, penampilannya bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya,. dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa pati sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

rumpun-sagu

(Sumber : Louhenapessy 1992)

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu menurut kekerabatan bialahin. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

III.  LINGKUNGAN ALAM DI PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

 

PULAU-BURU-RANA-DATE

Sumber: Pattinama (2005)

Gambar 2. Pulau Buru dengan Rana dan Gunung Date

 

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

IV.    GEBA BUPOLO

Bupolo adalah nama awal (asli) pulau Buru, disebut pula Bupolo Waekolo. Waekolo adalah nama kelompok kekerabatan (noro atau soa) yang menyatakan diri sebagai penunggu atau Geba eptugu (geba=orang, eptugu=penunggu) di pusat pulau. Nama lain pusat pulau adalah Rana lalen, dimana dijumpai Rana dan Gunung Date. Kita mengenal Rana adalah nama Danau di Pulau Buru dan biasa ditulis Danau Rana, padahal dalam bahasa Buru kata rana artinya telaga atau danau. Oleh sebab itu Orang Bupolo hanya menyebut Rana saja atau Rana Waekollo. Rana lalen adalah milik seluruh orang Bupolo (Gambar 2). Luas Rana diperkirakan 75 Km² dan lebih besar dari Teluk Ambon serta terletak pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut.(Pattinama,2005).

Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Masing-masing soa/noro mempunyai dua sisi yaitu noro dan leit. Noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan leit dipakai dalam pergaulan ekternal. Contoh: noro Waekolo :: leit Waemese, noro Gebahain :: leit Seleki, noro Nalbesi :: leit Tomhisa, dan noro Mual :: leit Solisa. Di Rana lalen adalah pamali (koin) jika kita menyebut leit, karena itu identitas kepada orang di luar kelompok Bupolo.

Kesatuan hidup tingkat kedua di dalam noro adalah bialahin. Tercatat setiap noro/soa di Pulau Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu.

Data penduduk Pulau Buru menurut BPS Maluku tahun 2015 menunjukkan jumlah sebesar 187.199 jiwa dengan penyebaran di Kabupaten Buru 127.910 jiwa (68%) dan di Kabupaten Buru Selatan 59.289 jiwa (32%). Dari jumlah itu dijumpai hanya sekitar 15% adalah populasi masyarakat asli (autokton)

Penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang atau alokton (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 3).

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 3. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut pendapat Geba Bupolo

 

Gambar 3 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton.

V.  ETNOEKOLOGI BUPOLO DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN MALUKU

Mengungkapkan konsep berpikir Orang Bupolo tentang alam dan lingkungannya merupakan tugas saya selaku seorang peneliti Etnobotani  dengan memegang teguh prinsip dasar metodologi riset apalagi konsep tersebut diungkapkan secara lisan (konsep bertutur) dan ini merupakan pengalaman abadi yang tak ternilai. Tanpa disadari selama menjalani hidup sesehari di Rana lalen sebagaimana layaknya Orang Bupolo saya belajar banyak dari mereka. Untuk itu apa yang dipaparkan pada bagian ini adalah konsep murni yang bisa disumbangkan dalam pembangunan Maluku walaupun materinya hanya pada wilayah Pulau Buru.

 

V.1. Bupolo dalam Pengembangan Pendidikan

Bagaimana sumbangan yang bisa diberikan dari kekayaan konsep berpikir Orang Bupolo ini kepada sektor pendidikan ?

Menurut hemat kami bahwa akar permasalahan sistem pendidikan di negeri kita ini adalah karena sekolah dan universitas telah dipisahkan dari soal-soal kehidupan nyata sehari-hari yang sementara berkembang dalam masyarakat. Para murid dan mahasiswa kita telah kehilangan spirit kepekaan dan hal yang terjadi sebagai akibatnya, maka murid dan mahasiswa kita akan sangat sulit menangkap spirit keilmuan.

Pengalaman saya di Pulau Buru saat melakukan inventarisasi tanaman di hutan yang dimanfaatkan oleh Orang Bupolo dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak Bupolo baik yang belia maupun orang dewasa, dengan cekatan tahu nama-nama tumbuhan atau tanaman walaupun yang diungkapkan itu dalam bahasa lokal (vernaculaire). Mereka mendapat pengetahuan ini dari orangtua mereka saat kegiatan meramu hutan atau berburu. Ini harus diwariskan agar mereka tahu mana yang bisa dikonsumsi dan mana yang beracun. Inventarisasi tanaman selama riset di lapangan diperoleh bahwa orang Bupolo mengenal 94 jenis tanaman yang dibudidayakan dan 473 tanaman yang tumbuh secara liar namun bermanfaat dalam kehidupan mereka.

Jika ini saya bandingkan dengan mahasiswa yang setiap semester saya didik dan bina secara akademik pada jenjang pendidikan formal saat ini, mereka tidak peduli dengan tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Ini saya sebut sebagai buta literasi. Ada kecenderungan bahwa yang diajarkan ini nantinya tidak digunakan pada saat terjun ke masyarakat. Saya tidak dapat menyimpulkan itu karena belum ada penelitian yang dilakukan oleh saya untuk mendukung kesimpulan dimaksud.

Dalam hubungan dengan kemampuan literasi ini dapat saya kemukakan contoh seperti yang dialami oleh TNI (=ABRI) tahun 1973 saat mengejar 30 orang Tapol yang melarikan diri dari tahanan di Waeyapo dan mereka menghilang di hutan. Anggota TNI tidak mampu dan akhirnya operasi ini dibatalkan. Panglima Kodam XV Pattimura ketika itu Brigjend. Haroen Soewardi akhirnya datang menjumpai para kepala adat yang bermukim di pegunungan untuk meminta bantuan mencari mereka yang melarikan diri. Perintah yang diberikan saat itu tangkap hidup atau mati. Orang Bupolo dengan mudah bisa menemukan mereka hanya dengan mengandalkan pengetahuan lokal yaitu mereka menyusuri tapak jalan dan mengetahui jejak para pelarian dan dari melihat cara memotong pohon yang berbeda dengan cara orang Bupolo. Dengan bekal itu akhirnya Orang Bupolo sukses menemukan kembali para tapol yang masih hidup. Menurut cerita para Tapol banyak yang mati di hutan karena salah memakan tanaman yang ada, mereka mengkonsumsi tanaman yang beracun.

 

V.2. Bupolo dalam Pengembangan Ekonomi

Orang Bupolo akan mencapai siklus hidup yang sempurna apabila semua fase dalam kehidupan dikerjakan secara utuh. mulai dari kelahiran sampai kematian. Semua fase itu diikuti dengan upacara ritual dan untuk melaksanakannya dibutuhkan dukungan sumberdaya finansial. Dalam adat orang Bupolo jika itu dilakukan oleh suatu noro misalnya noro Gebahain, maka semua anggota noro yang hidup baik di Buru maupun Buru Selatan akan diberi tanggung jawab untuk menanggung apacara ritual tersebut secara bersama-sama. Menurut catatan kami bahwa keputusan itu sudah dirancangkan sejauh mungkin sehingga ada ruang untuk semua orang Bupolo bekerja. Ada yang bekerja meramu di hutan (rotan, uwa dan damar, kisi), menyuling minyak kayu putih (gelan), membuka kebun baru untuk menanam kacang tanah (warahe) dan pergi berburu di hutan (iko phaga).

Hasil dari aktivitas di atas ada yang disumbangkan secara natura dan ada pula yang diberikan dalam bentuk uang setelah hasilnya dijual di pasar. Jadi orang Bupolo mengerjakan sesuatu dalam perencanaan yang matang sehingga semua aktivitas dijalankan secara simultan.

Ilmu ekonomi dan pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini adalah tidak mampu menangkap sinyal bioregional dan biogeografi, karena hanya berada pada lingkaran jaring laba-laba antara demand dan supply dan pemikiran ekonomi tidak mampu keluar dari pemikiran abstraknya tentang pendapatan asli daerah, pendapatan nasional, dan laju pertumbuhan. Mungkin saja pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini oleh para pakarnya di negara-negara maju tidak cocok diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Namun demikian karakter ekonom yang ada saat ini seolah-olah negara ini sudah masuk dalam kategori negara maju dimana mobilisasi tenaga kerja diatur dalam rel ban berjalan. Bagaimana ilmu ekonomi bisa menangkap aktivitas ekonomi orang Bupolo yang nyata? Saya usulkan kepada para pakar ekonomi mencoba mengembangkan cabang ethnosciences untuk bidang ekonomi yaitu ethnoekonomi.

 

V.3. Bupolo dalam Pengembangan Pertanian

Dalam konsep masyarakat Buru tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Di Pulau Buru dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen) ; kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen) ; kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, meliputi Gunung Date (kaku Date), Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan (koin lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Pemimpin bialahin disebut Gebakuasan (atau juga disebut basafena) yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Orang Buru dalam menghadapi agresi pemegang HPH dalam ruang yang telah mereka atur dengan norma adat, hanya bisa membuat alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia. Alat ini disebut foron sbanat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Gambar 4). Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) masih tetap menandai musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara ritual dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, di sekeliling kebun ditebar tanaman hotong/feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Saat yang sama banyak tenaga kerja yang datang di suatu pemukiman dan mereka saling bantu membantu dalam kegiatan menanam. Efut ale (daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar) artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari : kegiatan menyiangi yang hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pada musim ini pula kaum laki-laki memulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Saat panen yaitu akhir dari efut ale dilaksanakan pula upacara kematian nitu wasin. Fase selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore hari hujan relatif besar : upacara meta di Rana dimana keluarnya morea (sidat) dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut Keith Philippe, cs (1999) bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Kepulauan Fiji di Pasifik Selatan. Setelah melakukan reproduksi maka induknya akan mati di Kepulauan Fiji dan larvanya akan menempuh perjalanan kembali ke Rana. Waktu yang dibutuhkan untuk kembali lagi ke Rana yaitu selama dua sampai tiga tahun. Menurut teori bahwa morea sebagaimana jenis ikan lainnya (= salmon) selalu menempuh perjalanan kembali ke habitat asalnya dengan cara melawan arus di laut dan di sungai. Jika morea tidak keluar dari Rana untuk pergi reproduksi dan tetap menetap di Rana maka usia hidupnya sampai 40 tahun setelah itu akan mati (Pattinama, 2005).

Kegiatan berikutnya orang Bupolo melakukan kegiatan berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat yang sama buah pohon meranti sangat banyak karena buah tersebut menjadi konsumsi bagi kedua hewan buruan di hutan yang letaknya relatif jauh yaitu di daerah gunung Kakupalatmada. Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan : kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang. Yang dimaksud dengan perang adalah melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

 

 ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 4. Organisasi waktu berkaitan dengan aktivitas Geba Bupolo

            Bagaimana semangat Orang Bupolo ini bisa memberi penguatan dalam pembangunan pertanian di Maluku? Pertanian yang dibangun pada aras regional di Indonesia pada umumnya tak bisa memisahkan diri dari politik pertanian nasional. Sepuluh tahun reformasi telah dilalui namun karakter kita masih belum berubah, karena reformasi tidak disertai dengan infrastruktur dan suprastruktur hukum yang kuat. Mau melakukan revitalisasi pertanian tapi fondasi tata birokrasi dan finansial tidak mengalami perubahan. Padahal awal reformasi berjalan kita cenderung menyalahkan rezim Orde Baru yang diduga melemahkan sistem keunikan bioregional. Pada waktu kini saat kita diberi otonomi mengatur diri kita dalam pembangunan pertanian nampaknya kita juga belum mendapat format yang sesuai. Kesibukan yang demikian ini tidak mempengaruhi Orang Bupolo untuk tetap menjalankan aktivitas produksi dengan jadwal yang sudah tersusun untuk satu tahun berjalan, karena apa yang dikerjakan ini adalah siklus ritual, sementara yang dikerjakan oleh aparat pemerintah adalah “siklus” proyek. Dengan demikian dalam pemahaman saya bahwa kedua kutub ini tidak akan pernah ketemu. Untuk menunjukkan rasa hormat kepada pemerintah maka Orang Bupolo seolah-olah patuh tetapi sebenarnya tidak mempraktekkan apa yang direkomendasikan dalam program “siklus” proyek.

 

VI.  EPILOG :

Ungkapan Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen yang dikemukakan dalam Kongres Kebudayaan Maluku 2016 di Bupolo pada kesempatan ini adalah suatu energi budaya dalam membangun dan memberdayakan masyarakat untuk bisa berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa di Maluku. Energi budaya Geba Bupolo ini pula akan memberdayakan masyarakat untuk membangun jati diri sebagai manusia yang utuh.

Orang Bupolo sebagai petani tradisional telah melakukan sendiri fungsi produksi (agronomi dan agroindustri) serta fungsi pemasaran (agroniaga). Mereka menguasai teknologi sederhana, salah satunya adalah teknologi menyuling daun kayu putih. Diharapkan semua ketrampilan yang dikuasai oleh Orang Bupolo seyogyanya dipahami pelaku ekonomi modern, dengan cara memberikan sedikit sentuhan inovasi teknologi baru tanpa mempengaruhi pengetahuan lokal yang sebelumnya telah mereka kuasai. Komponen agronomi, agroindustri dan agroniaga adalah komponen bebas, namun di dalam pertanian modern sudah dilakukan institusi khusus, seperti Perkenunan Negara, Industri BUMN dan Pasar Modal, yang keseluruhan dikendalikan oleh negara, sehingga pengelolaan telah ditata secara rapi. Dalam proses yang modern ini, maka perubahan di salah satu komponen akan memberi dampak kepada komponen yang lain. Demikianlah secara teoritis bahwa seluruh mata rantai itu disebut agribisnis. Disisi yang lain dan semestinya diakui bahwa pengetahuan lokal menguasai lingkungan alam yang dipraktekkan oleh Orang Bupolo dimana mereka telah berpartisipasi membangun dengan kokoh pilar pembangunan pertanian yang juga berwawasan agribisnis walaupun dalam skala yang sederhana.

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160 p/.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

 

Presentase Makalah pada Kongres Kebudayaan Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Buru. Namlea Tanggal 5-7 November 2016

PENELITIAN DAN PENGAJARAN ETNOBOTANI UNTUK IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KEPULAUAN MALUKU

PERUBAHAN-IKLIM

Ethnobotany Research and Teaching towards Adaptation and Implementation of Climate Change in the Maluku Archipelago

 Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

ABSTRACT

Climate change, an increased average global temperature, has resulted in the emission of greenhouse effects surrounding hot earth temperature. It is predicted that the earth temperature is one degree warmer. Even though this number is relatively small, however, globally, it has the potential to destroy the earth, and finally influences the livelihood of millions people on earth. Due to the fact that Indonesia is the biggest maritime country in the world possessing three climate types from the east to the west, including tropical muson, equatorial and local, Indonesia has been recorded to contribute to the world climate change. In particular, Maluku is only affected by local and tropical muson climate. Climate experts suggest that the majority of areas in Maluku is covered with local climate where this climate is not found in any other places in Indonesia. Local climate characteristics strongly influence animal and plant biodiversity, which can only be found in Maluku, living in the land as well as water including river, lake and ocean. Global warming will have significant impacts on archipelago, so that plan development concept in Maluku should consider this local climate pattern. Consequently, basic plan should start with accurate research data synthesis. Ethnobotany research is strongly associated with human activities and the environment. Ethnobotany study provides comprehensive analysis about human, culture and every aspect of natural resources. Besides, this analysis needs to be disseminated in the form of structured teaching for non-formal and formal education. Ethnobotany teaching will be presented in more accurate and replicable according to the view, regulation, and culture appreciation in acknowledging, understanding and harnessing natural resources in the culture environment. The role of human and specific natural environment as well as its culture, in turn will become strategic references in implementing and adapting global climate change.

Key words : Ethnobotany, climate change, Maluku archipelago, local climate.

ABSTRAK

Perubahan iklim, dengan meningkatnya suhu global rata-rata, mengakibatkan emisi gas rumah kaca di atmosfer telah mengepung suhu panas bumi. Suhu dunia diperkirakan satu derajat Celsius lebih hangat. Angka suhu ini walau mungkin terdengar relatif tidak terlalu besar, akan tetapi secara global berpotensi menghancurkan planet bumi, dan akhirnya dapat mempengaruhi mata pencaharian jutaan penduduk di muka bumi. Karena Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur, yakni pola iklim muson, ekuatorial dan lokal, maka Indonesia tercatat pula berkontribusi dalam perubahan iklim dunia. Maluku secara spesifik hanya dipengaruhi oleh pola iklim lokal dan muson. Pakar iklim mencatat bahwa mayoritas wilayah Maluku diselimuti oleh iklim lokal dimana pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodivesitas tanaman dan hewan yang hanya dijumpai di Maluku baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut. Kenaikan panas bumi akan berimplikasi signifikan pada wilayah kepulauan, sehingga konsep perencanaan pembangunan daerah di Maluku seyogyanya memerhitungkan pola iklim lokal ini. Karena itu, dasar perencanaan harus dimulai dengan sintesis data penelitian yang akurat. Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyumbangkan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam. Selain itu, diseminasi dari kajian ini perlu disampaikan dalam bentuk pengajaran terstruktur pada strata pendidikan formal dan non formal. Pengajaran etnobotani akan disajikan lebih akurat dan replikabel seturut pandangan, penataan, dan penghayatan budaya dalam mengenali, memaknai dan memanfaatkan sumberdaya alam di lingkungan budayanya. Peran manusia Maluku dan lingkungan alam yang khas serta budayanya pada gilirannya akan menjadi acuan strategis dalam implementasi dan adaptasi perubahan iklim global.

Kata Kunci : Etnobotani, Perubahan iklim, Kepulauan Maluku, Iklim lokal.

PENDAHULUAN

Seminar Nasional APIKI (Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia) pada akhir Agustus 2016 ini di Jakarta mempunyai tema besar yang menarik yakni penguatan pengajaran dan penelitian perubahan iklim. Kalimat selanjutnya dalam tema tersebut, (Bridging gap implementasi kebijakan mitigasi dan adaptasi di tingkat nasional dan subnasional), bagi kami adalah sasaran yang ingin dicapai apabila pengajaran dan penelitian telah dilakukan dengan baik. Hal ini berarti bahwa pengalaman kita berbangsa dan bernegara selama ini untuk membangun masyarakat ternyata masih ada “sisa” yang belum kita selesaikan yaitu adanya masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam jurang pemisah baik yang besar maupun yang kecil. Artinya bahwa jurang pemisah yang besar jika sudah terlalu jauh dari sentrum kekuasaan Jakarta, begitupun sebaliknya jurang pemisah yang kecil jika berdekatan dengan sentrum kekuasaan Jakarta.

Mengapa ada jurang pemisah yang kecil? Hal ini terjadi karena akses sangat sulit dicapai akibat tirani kekuasaan yang rapuh dengan mendirikan tembok penguasa yang tinggi. Situasi ini bisa menjerumuskan masyarakat Indonesia makin terpisah dari kebijakan pembangunan negara. Kemudian akan ada penetapan keputusan secara sepihak dimana dibangun persepsi bahwa masyarakat secara sengaja mengambil posisi terisoler atau mengisolasi diri karena tidak mampu berkompetisi. Akibatnya struktur masyarakat ini sudah dipastikan identik dengan kemiskinan, kelaparan dan rawan gizi.

Pertanyaan menarik yang bisa diajukan adalah bagaimana mereka akan maksimal berpartisipasi dalam pembangunan negara untuk menyelesaikan isu strategis seperti perencanaan pembangunan untuk perubahan iklim, mitigasi bencana, REDD+ dan Paris Agreement ?

Masalah keterisolasian nyata (fisik) dan keterisolasian tersembunyi (psikis) ini terjadi bukan kemauan masyarakat mengisolasi diri mereka namun menunjuk pada jatah kue pembangunan yang tidak sempat mereka rasakan secara merata. Hal ini bukan disebabkan karena pemerintah mengabaikan mereka dalam prioritas pembangunan, akan tetapi harus jujur diungkapkan bahwa sumber dana pembangunan bangsa Indonesia yang sangat terbatas. Mungkin saja dana pembangunan itu melimpah ruah namun efek tetesannya tidak merembes kepada masyarakat terisolir tadi. Secara jujur harus diungkapkan bahwa masalah korupsi dana masyarakat yang belum tuntas tertangani.

Kita boleh bangga dengan sumberdaya alam yang sangat kaya tetapi kita lupa bahwa kita sendirilah yang harus mengolahnya dan pada saat yang sama kita dihadapi dengan persoalan kualitas sumberdaya manusia.

Uraian saya pada bagian pendahuluan ini bukan secara sengaja dimulai dengan mendeskripsikan posisi kita sebagai masyarakat yang hidup di negara kepulauan terbesar di dunia penuh dengan kelemahan dan tidak memiliki wawasan yang prospektif. Namun demikian ini adalah realita yang selama ini kita saksikan.

 

TEBAH-TELAAH ETNOBOTANI DAN PERUBAHAN IKLIM

            Perkembangan etnobotani sebagai suatu ilmu tak lepas dari latar belakang filsafati dan sejarah yang melahirkannya. Terminologi filsafati merujuk pada roh dari ilmu dimaksud, dalam bahasa Prancis disebut “l’esprit de la science”. Sedangkan sejarah akan mengungkapkan catatan-catatan penting atau peristiwa dimana ilmu tersebut mendapat pengaruh sesuai periode waktu berjalan.

Sebelum mengemukakan konsep dasar etnobotani, maka saya akan mengemukakan pandangan atau aliran penelitian yang menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya dimana pada relasi tersebut masyarakat senantiasa berasosiasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan :

  • Penelusuran yang pertama, yakni pada periode penjajahan. Pada fase ini kita mencatat bahwa negara-negara Eropa Barat melakukan ekspansi untuk menguasai wilayah dengan sumberdaya alamnya. Pada saat yang sama sudah ada tradisi yang dikenal sebagai botani ekonomi (economic botany) yaitu mulai memfokuskan eksplorasi penelitian pada penggunaan tanaman, khususnya untuk mendapatkan spesies baru yang berpotensi ekonomi. Aliran penelitian semacam ini banyak dikerjakan oleh para ahli dari negara-negara kolonial seperti Belanda, Prancis dan negara Eropa Barat lainnya. Dari sini lahir ahli botani yang kita kenal yaitu Rumphius, Heyne dan Ochse.
  • Penelusuran yang kedua, yakni periode pasca kemerdekaan. Indonesia mulai mengurangi pengaruh Belanda dan berkiprah ke Amerika Serikat. Langkah pertama dengan menyekolahkan kaum terpelajar dan peneliti ke sana dan pada saat yang sama ada pengaruh aliran ekologi budaya (cultural ecology) dan ekologi manusia (human ecology). Aliran ini tidak terlepas dari roh keilmuan yang dikembangkan pada fase penjajahan hanya mulai mengalami metamorfosis dengan menggabungkan pesatnya kemajuan ilmu botani yang disebut biologi. Jadi aliran ini mulai menganalisis proses hidup suatu masyarakat serta hubungannya dengan lingkungan, tetapi menggunakan konsep kerja para ahli biologi yang dipakai untuk mempelajari ekosistem. Pada periode ini kita mengenal peneliti dan ilmuwan terkenal seperti Clifford Geertz, Conklin, Vayda, Michael Dove dan Rambo yang memakai pendekatan ekologi budaya.

Dua pengalaman dalam aliran berpikir ini semuanya bermuara pada objek penelitian yang menganalisis ketergantungan manusia pada dunia tumbuh-tumbuhan. Aliran pertama telah mencatat hasil yang fantastik dengan menyajikan motede penelitian yang terstruktur yang dimulai dari koleksi hingga identifikasi dan klasifikasi ilmiah. Herbarium merupakan hasil penemuan ilmiah yang sangat luar biasa manfaatnya dan dipakai hingga saat ini untuk mengidentifikasi dunia tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian etnobotani adalah fondasi ilmu untuk lebih memahami pengembangan ilmu lain yang menerangkan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Gambar 1. Berikut ini lebih jelas menggambarkan hubungan asosiasi ilmu alam, masyarakat dan sains dimana hasil interseksi adalah etnobotani.

RUANG-LINGKUP-ETNOBOTANI Gambar 1. Ruang Lingkup Etnobotani

 

Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka etnobotani secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu ethno berarti bangsa atau kelompok etnis atau masyarakat, sedangkan botani merujuk pada dunia tumbuh-tumbuhan. Disatukan dalam terminologi etnobotani untuk memberikan gambaran tentang keutuhan pendekatan, Etno dengan etnologi dalam ethnoscience diperlukan untuk mengungkapkan sistem pengetahuan yang dimiliki suatu suku bangsa.

Beberapa pakar berpendapat bahwa ethnoscience sinonim dengan folkscience yang bertumpu pada sistem kognitif terutama dalam mengungkapkan aspek klasifikasi dan nomenklatur dalam relasi dengan alam (Barrau, 1985). Disamping ethnoscience mereka juga mengemukakan adanya ethnosciences dalam bentuk jamak yang mengarah pada sekumpulan disiplin ilmu yang berkorelasi dengan alam termasuk di dalamnya etnobotani sedangkan yang lain adalah etnozoologi, etnobiologi, etnoekologi, etnomineralogi, etnofarmakologi, etnomedisin dan sebagainya. Setelah pemahaman komprehensif tentang etnobotani, maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan pemahaman tentang apa itu perubahan iklim?

Perubahan iklim secara harfiah adalah iklim yang berubah akibat suhu global rata-rata meningkat. Peningkatan emisi gas rumah kaca, khususnya CO2, telah memerangkap suhu panas di atmosfer bumi. Hal tersebut berdampak pada sistem cuaca global yang menyebabkan segala sesuatu mulai dari curah hujan yang tak terduga hingga gelombang panas yang ekstrim. Bumi telah melalui periode pemanasan dan pendinginan yang terkait dengan perubahan iklim berkali-kali. Hal yang saat ini menjadi perhatian utama dan disetujui oleh para ilmuwan adalah bahwa proses pemanasan yang terjadi jauh lebih cepat daripada yang telah dilakukan sebelumnya, dan bahwa pemanasan yang cepat disebabkan oleh peningkatan tingkat emisi buatan manusia.

Kita membayangkan saat ini dunia sudah satu derajat Celsius lebih hangat daripada di masa pra-industri. Ini mungkin tidak terdengar terlalu signifikan tetapi dapat berpotensi menghancurkan planet ini dan juga mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia.

Perubahan iklim akan menyebabkan beberapa daerah menjadi basah, dan daerah lainnya menjadi lebih hangat. Permukaan air laut akan naik akibat dari gletser yang mencair, sementara beberapa daerah akan lebih berisiko terkena gelombang panas, kekeringan, banjir, dan bencana alam. Perubahan iklim bisa merusak rantai makanan dan ekosistem, menempatkan seluruh spesies pada terancam kepunahan.

Indonesia dengan potensi hutan yang ada ditetapkan sebagai paru-paru dunia, dengan demikian perlu ada tindakan nyata untuk melindungi satu juta pohon dengan berfokus untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan, mengembalikan kawasan hutan, mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan atau lestari, dan meningkatkan persediaan pohon di lahan pertanian.

METODE RISET ETNOBOTANI

            Pengembangan etnobotani sebagai suatu disiplin ilmu tidak dapat dipisahkan dari metodologi yang dikembangkan dengan memandang masyarakat dan ekosistemnya sebagai sesuatu keseluruhan atau totalitas, sebagaimana apa yang sering dikatakan oleh para pakar antropologi yaitu konsep holistik. Menurut Friedberg (2002) diperlukan sistem kerja dalam etnobotani seperti berikut ini:

  • Analisis Dalam yaitu pentingnya menganalisis sudut pandang masyarakat berdasarkan konsep asli seperti yang terungkap dalam bahasa mereka
  • Analisis Luar yaitu pentingnya pendekatan interdisipliner, yang memungkinkan peneliti memadukan berbagai faktor yang terlibat baik dari bidang biologi maupun dari bidang sosial budaya.

Waluyo, Wijaya dan Rifai (1991) serta Waluyo (1988, 2009), mengatakan bahwa etnobotani harus mampu mengungkapkan keterkaitan hubungan budaya masyarakat terutama tentang persepsi dan konsepsi masyarakat dalam memahami sumberdaya nabati di sekitar tempat mereka bermukim.

Data etnobotani adalah data tentang pengetahuan botani masyarakat dan organisasi sosialnya. Dengan kata lain data etnobotani bukan terdiri dari data botani, taksonomi, dan bukan pula data botani ekonomi atau cabang botani lainnya. Sasarannya adalah membuat pemaparan etnobotani menjadi lebih akurat dan lebih replikabel dalam kerangka memproduksi realitas budaya seturut pandangan, penataan, dan penghayatan masyarakat dalam mengenali, mamaknai, dan memanfaatkan sumberdaya nabati di lingkungan budayanya. Ini berarti bahwa pemaparan etnobotani harus diungkapkan sehubungan dengan kaidah konseptual, kategori, kode, dan aturan kognitif “tempat” (emik) untuk kemudian secara taat asas dibuktikan sehubungan dengan kategori konseptual yang diperoleh dari latar belakang ilmiah (etik).

Sekalipun emik dan etik itu dibedakan atas dasar epistemologi, keduanya tidak ada kaitan dengan metode penelitian, melainkan dengan struktur penelitian. Dengan demikian maka pengujian emik dan etik bukanlah bagaimana pengetahuan itu diperoleh, melainkan bagaimana pengetahuan itu divalidasi.

Penelitian etnobotani merupakan studi multidisiplin yang tidak hanya menyangkut disiplin botani murni, seperti taksonomi, ekologi, sitologi, biokimia, fisiologi, tetapi juga aspek lain dari pertanian, kehutanan maupun hortikultura, yang banyak memerhatikan persoalan perbanyakan, budidaya, pemanenan, pengolahan, ekonomi produksi, efek pasar dan agribisnis.

Dalam perkembangan terakhir ini etnobotani sudah berkembang lebih jauh lagi berkat metode penelitian dalam ilmu ini yang senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan penelitian di lapangan.

Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyajikan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam.

Metode riset etnobotani tidak terbatas pada metode yang klasik kualitatif berupa pengamatan yang mendalam tetapi sudah menggunakan metode kuantitatif. Metode ini banyak digunakan di bidang kehutanan untuk mengamati skala produksi dari hasil hutan non kayu.(Wong, Thornber dan Baker, 2001).

 

PENGAJARAN ETNOBOTANI

            Apa arti pengajaran dalam tulisan ini? Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Dalam mencari ilmu, seorang mahasiswa bisa belajar dari beberapa dosen karena hanya ilmu yang dipelajari. Ada dosen yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada mahasiswa yang belajar. Hasilnya mahasiswa tersebut menjadi pandai dan berilmu pengetahuan. Pengajaran khusus ditujukan pada akal. Oleh karena itu mudah (straight forward).

Penulis mencoba untuk memahami tema seminar nasional APIKI 2016 yang menggunakan terminologi “pengajaran”, mengingat pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara penting di dalam membina manusia, namun pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berbeda.

Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh akan dicoba untuk difahami dan dihayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak sedangkan pengajaran lebih menyentuh akal saja.

Dalam konsep masyarakat tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Pada saat belajar dengan masyarakat, maka dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman, kebun, hutan berburu atau meramu, hutan tanaman kayu dan non kayu dan tempat memancing. Kemudian kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun dan padang alang-alang. Akhirnya ada kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, seperti contoh gunung, sungai dan tempat keramat di hutan.

Dengan masyarakat pula kita belajar tentang pola pemukiman pada dusun atau kampung dan peranan dari setiap pemimpin adat yang ada dalam kawasan pemukiman dimaksud. Sebenarnya yang mau dipelajari adalah penguasaan teritorial dari suatu masyarakat yang diteliti.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memeroleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang Ijin Usaha Pengolahan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman masyarakat tradisional senantiasa disesuaikan menurut fenomena alam dari pohon tertentu seperti misalnya kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Pattinama 1998, 2005).

Konsep alam, lingkungan dan budaya masyarakat seperti yang dielaborasi di atas menunjukkan bahwa pengetahuan lokal itu memang menyatu dalam siklus kehidupan masyarakat baik tradisional maupun modern, dan pengetahuan dimaksud diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi dengan hanya mengandalkan konsep bertutur dan bukan pewarisan secara tertulis. Akibatnya banyak narasi cerita yang hilang. Bagi seorang peneliti etnobotani, maka untuk memahami konsep masyarakat ini secara utuh dibutuhkan waktu meneliti yang panjang di lapangan.

 

IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI MALUKU

            Kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia sungguh sangat unik dan memiliki tingkat keberagaman tinggi. Persoalan implementasi dan adaptasi konsep perubahan iklim adalah fase yang terakhir setelah adanya pemantapan yang baik terhadap struktur pengajaran dan penelitian.

Pengajaran dan penelitian seyogyanya berbanding lurus pula dengan tingkat pendidikan penduduk. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tentang thema pulau-pulau kecil, ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memerkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim, walaupun dalam studi etnobotani mencatat bahwa pengetahuan lokal masyarakat tradisional dimana mereka rata-rata berpendidikan rendah tercatat lebih memahami pelestarian lingkungan dan alam serta budaya dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendidikan tinggi.

Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah (Pattinama dan Irwanto, 2016). Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema pengajaran dan penelitian?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah sangat sulit membiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental (Pattinama dan Irwanto, 2016). Bagaimana program implementasi dan adaptasi perubahan iklim di Maluku?

Di Kepulauan Maluku dengan kekayaan biodiversitas tumbuhan yang tinggi dan unik pada pulau-pulau kecil serta tercatat ada sekitar 117 bahasa (90 bahasa di Maluku dan 27 bahasa di Maluku Utara). Data tentang bahasa juga bisa menggambarkan jumlah etnis di Kepulauan Maluku (Pattinama, 2005). Ini merupakan lapangan riset dengan tema menarik yang bisa dieksplorasi untuk melengkapi informasi ilmiah tentang Maluku secara komprehensif.

Cerita lama tentang kepulauan Maluku (Mollucas archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices), bunga cengkeh dan buah pala serta awal sejarah kolonisasi orang Eropa di Nusantara. Sedangkan cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia.

Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial (lihat Gambar 2 di bawah ini). Karakteristik iklim lokal sangat memengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku.

Keunikan ini bisa dilihat pula dari kondisi geografis Maluku yang terdiri dari pulau besar dan pulau-pulau kecil serta penduduk yang mendiami pulau tersebut bukan saja bermukim di pesisir pantai namun menempati pula wilayah pedalaman.

Secara umum di Maluku dijumpai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.  Curah hujan di selatan Kepulauan Maluku lebih tinggi dari daerah sebelah utara. Perbedaan iklim demikian dapat dilihat dari penyebaran formasi biodiversitas tanaman.

Vegetasi yang dijumpai pada daerah pesisir pantai adalah Barringtonia asiatica Kurz dan Terminalia catappa L, serta tanaman kelapa dan pisang yang diusahakan oleh penduduk. Selain itu beberapa tanaman yang umum dijumpai pada daerah pantai diantaranya Musa acuminata Colla, Ipomoea pescaprae, Sesuvium portulacastrum, Ischaemum muticum dan Fimbristylis. Jenis pohon yang tumbuh secara alami dan juga diusahakan oleh manusia adalah Canarium amboinense HOCHR, Anthocephalus macrophyllus Havil, Vitex cofassus Reinw,  dan Pandanus tectorius.  Vegetasi yang ada pada altitude lebih tinggi didominasi oleh Shorea, Agathis, Pometia, Celtis, Pterocarpus, Ficus, Dracontomelon, Vitex, Canarium, Paraserianthes, Alstonia dan Guioa. (Pattinama, 2005)

PETA-POLA-IKLIM-MALUKU

Sumber : Koesmaryono, 2007

             Gambar 2. Peta Iklim Maluku yang khas dalam Pola Iklim Indonesia

 

Keanekaragaman hayati lain yang cukup potensial adalah fauna yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari vegetasi tanaman yang tumbuh. Misalnya pembungaan dari pohon meranti (Shorea spp) akan menambah jumlah populasi dari babi hutan dan kusu (Phallanger dendrolagus) serta satwa lainnya.

Beberapa riset yang dilakukan terhadap kekayaan hayati satwa dan binatang hutan lainnya di Maluku oleh lembaga riset nasional dan internasional menunjukkan bahwa masih ada fauna endemik yang bisa dijumpai dan populasi hewan tersebut dari tahun ke tahun menunjukkan jumlah yang menurun akibat dari gangguan yang sifatnya sistemik seperti eksploitasi hutan dan pembakaran lahan yang tidak terkendali.

 

KESIMPULAN

            Orang Maluku sebagian besar hidup mendiami pulau-pulau kecil dan terisolir pada wilayah pedalaman dengan topografinya yang bergunung. Mereka adalah masyarakat peladang yang mempraktikkan sistem pertanian berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan dan hidup sepenuhnya tergantung dari kemurahan alam. Di sisi lain, alam adalah laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Maluku hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan deskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumberdaya serta interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut yang sulit dan bahkan tidak dapat dipisahkan. Konsep hidup ini yang bisa melestarikan lingkungan sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim.

Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang atau lahan yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa orang Maluku memiliki kearifan dalam mengelola sumberdaya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Maluku menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu, umbi-umbian dan singkong), protein (ayam kampung, kambing lakor, domba kisar, kerbau moa, babi hutan, kusu, rusa, udang, sidat dan ikan) serta tambahan vitamin lain (buah dan sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Maluku bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Maluku sebagai autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Maluku, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Maluku relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan mengingat orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan yang hakiki dengan alam semesta.

Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Maluku makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pelayan negara yang bernama pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Maluku sehingga akses mereka untuk memeroleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memeroleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

Pangajaran saja tidak cukup namun demikian masyarakat seyogyanya dibekali pula dengan pendidikan yang terstruktur sehingga akal dan akhlak juga akan dibentuk dan dibangun demi melestarikan lingkungan yang selalu mereka pandang sebagai ruang yang holistik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barrau, Jacques, 1985. Les savoirs naturalistes populaires, Actes du seminaire de sommieres, Editions de la Maison des sciences de l’homme.

Friedberg, Claudine, 2002. L’anthropologie face à la question de l’appropriation de la biodiversité : la biodiversité est-elle appropriable ?, in : Franck-Dominique Vivien (Ed.), Biodiversité et appropriation, les droits de propriété en question : 163-176

Jonge, Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Koesmaryono, Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama, Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama, Marcus J dan Irwanto, 2016, Api dalam Etnoekologi dan Praktek Sistem Pertanian Tradisional (Adakah Ancaman pada Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?), Artikel untuk Prosiding Seminar Nasional APIKI 3 Juni 2016 di Ambon, (dalam proses).

Walujo, Eko Baroto, 1988. Les écosystèmes domestiques par l’homme dans l’ancien royaume Insana-Timor (Indonésie). Thèse de Doctorat de l’Université Paris VI, Paris, 267 p.

Waluyo, E.B., E.A. Wijaya, M.A. Rifai, 1991, Penguasaan Etnoekologi Secuplikan Masyarakat Etnis di Indonesia, Makalah Utama pada KIPNAS V, LIPI 1991.

Waluyo, E.B., 2009, Etnobotani: Memfasilitasi Penghayatan, Pemutakhiran Pengetahuan, dan Kearifan Lokal dengan Menggunakan Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Pengetahuan, Makalah Utama dalam Seminar Nasional Etnobotani IV, Prosiding.

Wong, Jennifer L.G, Kristi Thomber, Nell Baker, 2001, Resource assesement of non-wood forest product (Ethnobotany), FAO, p 58-61.

 

Presentase Makalah pada Seminar Nasional APIKI 31 Agustus – 1 September 2016, Artikel ini sudah diterbitkan oleh Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia Pusat bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. ISBN: 978-602-73376-2-6. Tahun 2016.

API DALAM ETNOEKOLOGI DAN PRAKTEK SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL – (Adakah Ancaman Pada Pemanasan Global & Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?)

API-KEBAKARAN-HUTAN

Oleh:

Marcus J. PATTINAMA[1] (mjpattinama@gmail.com)

Irwanto[2] (irwantoshut@gmail.com)

 

ABSTRAK

Api memang mengandung makna yang dalam bagi manusia dan manajemen api akan menentukan manusia pada tingkat peradaban yang tinggi atau rendah. Api berhubungan erat dengan praktek pertanian yang dilakukan manusia untuk membuka lahan usahatani. Api memberikan makan dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Pada akhirnya api bisa membumihanguskan alam sekitar manusia termasuk didalamnya hutan produktif dan non produktif. Jika api tidak dikendalikan maka manusia bisa menggunakannya untuk memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Kata kunci : api, etnoekologi, pertanian tradisional, pulau-pulau kecil.

 

ABSTRACT

Fire gives deep meaning to people and fire management will determine the level of human civilization is high or low. Fire is closely related to farming practices to open up farming land. Fire will provide meals and passion for human beings. People who do not blow the fire well then he’ll just chew flour on his mouth. In the end, the fire could burn down around human nature including productive and non-productive forest. If the fire is not controlled well by humans, so he could use it to trigger global warming and climate change.

Keywords: fire, ethnoecology, traditional agriculture, small islands.

 

Prolog

Workshop ahli perubahan iklim regional Maluku dan Maluku Utara yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 3 Juni 2016 di Ambon, tepatnya dilaksanakan di Swiss-Belhotel, merupakan suatu forum diskusi yang sangat bermanfaat guna pertukaran informasi dan pengalaman ilmiah yang tujuannya mendukung program prioritas nasional tentang pengendalian perubahan iklim. Dalam hubungan itu pula workshop diadakan untuk mendesiminasi hasil riset, kajian dan pemikiran dalam upaya penanganan iklim di wilayah kepulauan.

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dan memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur yaitu pola Muson, Ekuatorial dan Lokal. Khusus untuk Maluku dan Maluku Utara banyak dipengaruhi oleh pola iklim Lokal dan Muson. Pola iklim Lokal paling banyak dijumpai di Maluku dan ternyata pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia (Koesmaryono, 2007). Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodiveritas tanaman dan hewan baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut.

Judul artikel kami ini memang sengaja ditampilkan demikian apa adanya sebagai hasil dari diskusi yang hangat dalam workshop tentang issue pemanasan global dan perubahan iklim. Kemudian yang kami paparkan ini pula adalah bersumber dari pengalaman kami selama karier sebagai guru sejati dan dalam proses mendidik para murid kami di jurusan Agribisnis dan jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon.

 

Api dalam Etnologi dan Ekologi Manusia

Sejak awal kita mempelajari perjalanan sejarah manusia dari zaman purba hingga modern dan memahami aspek kebutuhannya maka hal penting dalam kehidupan manusia adalah lingkungan sebagai tempat untuk hidup. Jika kondisi lingkungan tidak bersahabat dengan yang mereka harapkan, maka mereka tidak akan mau bertempat tinggal di lokasi tersebut. Manusia cenderung berpindah untuk memilih dan selalu berusaha untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik dan nyaman. Setelah manusia memperhatikan kondisi lingkungan, maka yang berikutnya adalah bagaimana penguasaan teknologi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu terdapat beberapa variabel yang berhubungan dengan kondisi lingkungan antara lain: tersedianya kebutuhan air, adanya tempat berteduh (=rumah), kondisi tanah yang tidak terlalu lembab dan tersedianya sumber makanan.

API-ETNOEKOLOGI

Hal berikutnya adalah seluruh variabel di atas hendaknya diramu agar manusia tetap bertahan hidup untuk menghasilkan karya sebagai expresi diri dari naluri dasar manusia. Expresi diri ini yang selanjutnya kita sebut sebagai seni atau karya budaya. Untuk bisa bertahan hidup maka manusia harus menemukan api dan proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat penting. Berdasarkan studi arkeologi, maka penemuan api diperkirakan pada 500.000 tahun yang lalu. Pertama kali api dikenal adalah pada zaman purba dimana secara tidak sengaja manusia melihat petir yaitu cahaya panas dilangit yang menyambar pohon-pohon disekitarnya, kemudian api itu pun muncul membakar pohon-pohon di hutan.

Dalam sejarah menemukan api, manusia purba membutuhkan proses yang sangat panjang. Proses ini dimulai dengan mencoba sesuatu tanpa tahu petunjuk atau cara kerjanya sehingga banyak mengalami kegagalan dan mereka terus mencoba walaupun gagal sampai pada akhirnya mereka menemukan hasil yang mereka inginkan. Setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya cara membuat api pun ditemukan yaitu dengan membenturkan dua buah batu atau dengan menggesekan dua buah kayu, sehingga akan menimbulkan panas diikuti dengan percikan api yang kemudian percikan itu ditempelkan pada daun kering atau objek lain yang sifatnya kering dan ringan, sehingga pada awal akan muncul asap lalu manusia membantu untuk meniup hingga pada akhirnya objek itu dapat menjadi pemicu munculnya api.

Ditemukannya api lebih mudah untuk memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanan dengan cara membakar atau menggunakan bumbu dengan ramuan tertentu. Selain itu api juga berfungsi untuk menghangatkan badan, sumber penerangan dan sebagai senjata untuk menghalau binatang buas yang menyerang. Api dipakai manusia untuk dapat menaklukan alam melalui pembakaran lahan yang umumnya terjadi di areal hutan, terutama pada aktifitas pertanian untuk membuka kebun baru. Kebiasaan bertani dengan cara menebang lalu membakar (agriculture sur brülis atau swidden agriculture) adalah tradisi praktek pertanian pada zaman purba atau kuno yang masih berkembang sampai sekarang ini.

Manajemen api akan menjadi ukuran tingkat peradaban manusia. Secara teoritis bahwa api dalam hutan adalah akibat ulah manusia dimana api tersebut dapat dikategorikan kedalam tiga jenis api atau kebakaran (Ensiklopedia Kehutanan Indonesia dalam Irwanto, 2015) yaitu : 1)Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang terjadi pada lantai hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman bawah. Sifat api permukaan cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun cepat padam. Dalam kenyataannya semua tipe kebakaran berasal dari api permukaan. 2)Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar seluruh tajuk tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya mudah terbakar. Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal ini tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak saling bersentuhan. 3)Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah lantai hutan. Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang terjadi tidak ditandai dengan adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan dalam waktu yang lama pada suatu tempat.

Jika melihat pemetaan penduduk Indonesia sebagai negara maritim yang tersebar pada pulau besar dan kecil, maka para peneliti diantaranya Clifford Geertz sejak tahun 1963 telah memberikan diskripsi umum tentang kategori penduduk Indonesia berdasarkan jenis-jenis pertanian yang dikerjakan yaitu antara ladang (berpindah-pindah, tebang dan bakar) disatu pihak, atau dan sawah (penanaman padi basah pada petak-petak yang dialiri air irigasi) di pihak lainnya. Aktivitas ini yang membuat Geertz membelah Indonesia sebagai Indonesia Dalam yaitu Jawa dan Bali yang involusi, sedangkan perladangan selanjutnya disebut Indonesia Luar (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) yang non-involusi.

Peta ekologi ini memiliki nilai keelokan dan kesederhanaan serta juga menuai banyak kritik dimana di Sumatera ada ditemui orang Minangkabau, Aceh dan Batak yang sudah lama mengerjakan lahan basah dengan persawahan beririgasi. Di Jawa dan Bali pun pemilik lahan basah sangat sedikit dibanding penduduknya, sehingga yang lain terpaksa harus masuk dan maramba hutan dengan api. Hal yang sama untuk wilayah Sumatera, kenyataannya masih banyak peladang kering yang masih menggunakan api terutama mereka yang bermukim disekitar Taman Nasional Kerinci di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan (Aumeeruddy, 1994). Hal yang sama dengan di Sulawesi dan di tempat lainnya di Indonesia Luar yang sudah mempraktekkan pertanian lahan basah beririgasi.

Jadi pemikiran Geertz pada periode itu hanya berkonsentrasi di Jawa dan Bali, padahal wilayah Indonesia Luar lainnya juga telah mempraktekkan pertanian lahan basah. Di Kairatu, Pulau Seram Maluku, sejak tahun 1954 dengan datangnya orang Jawa melalui proyek transmigrasi pada pemerintahan Orde Lama telah merubah vegetasi tanaman sagu untuk dijadikan areal persawahan. Ketika itu di Pulau Seram, pemerintah telah sukses mempraktekan pertanian padi lahan basah disusul program membangun bendungan untuk irigasi. Ide perpindahan penduduk secara massif terus berlangsung pada era pemerintahan Orde Baru dengan menyebarkan penduduk dari Pulau Jawa melalui program nasional Transmigrasi. Di Pulau Buru, Maluku pada tahun 1969 pemerintahan Orde Baru menempatkan 10.000 tahanan politik G30S/PKI untuk membangun pertanian lahan basah. Sekali lagi pemerintah melakukan alih fungsi lahan sagu menjadi areal persawahan. Dengan program transmigrasi itu dapat dikatakan bahwa sebagian besar lahan di Indonesia Luar telah beralih fungsi untuk pertanian padi lahan basah. Boleh dikatakan bahwa tujuan pemerintah untuk membina petani agar menjadi petani menetap hanya tersentuh pada sebagian kecil saja dan itupun baru menyentuh petani lahan basah saja sedangkan jutaan petani Indonesia lainnya masih terus mempraktekkan kegiatan pertanian dengan api pada areal kebun yang berlokasi dekat hutan atau areal kebun yang ada di dalam hutan.

 

Api dalam Sistem Bercocok Tanam Tradisional

Pertambahan penduduk dan tekanan lain seperti masalah pangan dan tata ruang pada abad terkini secara tidak langsung akan mangancam kelangsungan sistem pertanian yang sudah berabad-abad umurnya yaitu pertanian ladang berpindah atau tebang bakar. Praktek pertanian ini banyak dilakukan di daerah tropis beriklim sedang. Biarpun daerah dataran rendah tropis kaya akan hujan dan sinar matahari, tetapi sebenarnya daerah ini tidak terlalu produktif, yang sebagian besar akibat sulitnya pengolahan tanah dan gangguan gulma. Sebelumnya metode tebang dan bakar ini juga dipraktekkan secara meluas di daerah sub tropis dan daerah beriklim sedang. Seiring dengan kemajuan peradaban manusia akibat revolusi industri maka belahan sub tropis meninggalkan praktek tebang bakar karena sebagian besar penduduk beralih pekerjaan dalam industri yang dibangun negara. Dengan demikian pekerjaan petani dan buruh tani berpindah menjadi buruh industry pada pabrik-pabrik yang dibangun secara massif. Negara mulai merancang dan menata reforma agrarian dan diberikan kepada para petani yang dididik dan dibina sebagai petani menetap.

Di wilayah tropis seperti Indonesia sementara ini akan menuju ke tahap industrialisasi. Kenyataan terkini menyatakan bahwa masih ada jutaan petani dalam kategori miskin, gurem, dan petani kecil. Ada jutaan penduduk Indonesia yang hidup di desa menyatakan diri sebagai petani namun ironisnya mereka tidak memiliki tanah dan mereka ini lebih cocok disebut sebagai buruh tani dan ada yang tidak bekerja atau lebih tepat disebut pengangguran pedesaan.

Di Maluku sebagai wilayah kepulauan dengan gugusan pulau-pulau kecil masih ditemui kondisi yang umum terjadi pada pedasaan di Indonesia seperti yang kami gambarkan di atas. Yang membedakan dengan situasi di Maluku adalah petani umumnya bivalen yaitu bekerja sebagai petani dan nelayan dalam waktu yang sama. Namun demikian ini hanya terjadi pada petani yang bermukim pada daerah pesisir pantai. Jika petani bermukim pada wilayah pegunungan maka hanya memangku satu pekerjaan sebagai petani saja dan jumlahnya tidak lebih dari 10%. Dengan demikian hampir semua petani di Maluku (90%) adalah bivalen dan mereka masih mempraktekkan sistem bercocok tanam tradisional dengan menggunakan api untuk membuka lahan pertanian.

Hal yang unik terjadi pada wilayah Maluku Barat Daya tepatnya di Pulau Kisar, petani di sana tidak mengenal api untuk membuka lahan pertanian. Dalam sistem kemasyarakatan dan adat budaya telah tersusun suatu norma bahwa api dilarang untuk digunakan dalam membuka kebun baru. Mengapa ? Orang Kisar sebagaimana diketahui bermukim pada suatu wilayah dimana ekologi pulau tersebut didominasi oleh pegunungan yang berbatu dengan padang rumput yang luas (sabana) serta musim kering yang panjang. Manusia, ternak dan tanaman jagung serta biji-bijian yang lain (misalnya kacang) adalah suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Pulau Kisar telah menjadi pengekspor ternak ke wilayah lain di Maluku dan wilayah perbatasan seperti Nusa Tenggara dan Negara Timor Leste.

Di Pulau Buru dan Seram serta pulau lainnya di Maluku masih secara intensif mempraktekkan tebang dan bakar. Kearifan lokal masyarakat juga tak terpisahkan dalam melakukan praktek ini. Orang Bupolo, masyarakat asli di Pulau Buru sebelum membakar kebun baru mereka biasanya membuat batas dimana api tidak akan melewati pada areal yang ingin mereka bakar. Batas antara areal yang dibakar dengan areal yang lain selebar 1 (satu) meter dan ini disebut eskihik boli hawa. Pulau Buru sebagai penghasil minyak kayu putih, di sana terdapat hamparan pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies asli dan plasma nutfah pulau Buru (Pattinama, 2005).

Formasi pohon kayu putih yang luas pada wilayah pegunungan biasanya pada waktu tertentu dibakar secara sengaja oleh orang Bupolo, tujuannya untuk mendapatkan tunas atau daun yang masih muda. Jadi formasi kayu putih yang tumbuh pada pegunungan di Pulau Buru tumbuhnya tidak lebih dari 1 (satu) meter. Ini cara termudah agar mereka bisa memanen daun atau tunas yang masih muda dan selanjutnya disuling menjadi minyak kayu putih. Lapisan cambium pada batang kayu putih yang terbakar tidak mati karena dilapisi oleh kulit kayu putih yang tebal. Selain itu sistem perakaran pohon kayu putih sangat kokoh dalam tanah sehingga tidak akan mati walau terjadi pembakaran. Hal ini sama dengan tanaman Imperata cylindrica atau alang-alang. Pengetahuan lokal yang sama juga berlaku di pulau Saparua dimana petani saat mau membuka kebun baru selalu menggunakan api dan sebelum api dinyalakan, mereka juga membuat pemisah dengan areal yang diharapkan tidak boleh dilewati api. Ini disebut dengan istilah asalae.

Tentunya daerah yang lain di Maluku dan juga di Indonesia mempunyai pengetahuan dan kearifan lokal dalam hal penggunaan api untuk bercocok tanam secara tradisional. Secara ekologi penggunaan api tidak dapat dibenarkan, namun pada suku bangsa tertentu yang mendiami wilayah dengan tanaman yang khas seperti padang alang-alang, misalnya di daearh Batak, Sumatera Utara, para petani selalu menggunakan api untuk membuka lahan pertanian. Ini yang disebut dengan hidden rationality dari petani dengan sistem bercocok tanam tradisional.

 

Manusia dalam Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Yang menarik dari workshop ini adalah diskusi tentang peranan manusia dalam penciptaan pemanasan global dan perubahan iklim. Maluku dan Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan sangat rentan dalam setiap perubahan iklim. Namun yang tidak menjadi bahan diskusi secara mendalam adalah bagaimana kaitannya dengan iklim lokal yang mendominasi kepulauan Maluku ini. Kita sepakati bahwa bumi adalah sebuah rumah yang besar. Adanya ketidak-seimbangan pada satu sisi rumah maka secara total akan mempengaruhi kestabilan rumah tersebut. Untuk itu penghuni rumah harus memiliki kesadran yang tinggi untuk memanfaatkan setiap ruang yang ditempatinya. Jika setiap ruang diberi kebebasan untuk menggunakan api dan kayu bakar untuk menghangatkan badan kemudian tidak ada regulasi yang mengatur pembakaran pada setiap ruang dalam rumah besar itu, maka dapat dibayangkan bahwa asap dari pembakaran itu akan memenuhi rumah tersebut dan dari situ akan mempengaruhi manusia yang berdiam di dalamnya. Kami berpendapat bahwa terlalu sederhana memberi symbol rumah besar. Dalam alam yang nyata maka semua ruang dan waktu akan memberikan sumbangan menuju keseimbangan yang sempurna. Ada pepatah yang mengatakan bahwa relasi biotik dan abiotik di alam sangat sederhana diuraikan menuju kesetimbangan yang sempurna sedangkan jika dibandingkan dengan relasi antar manusia diibaratkan sangat kompleks dan pasti akan memberikan dampak pada penghancuran di alam.

Kami berpendapat bahwa Maluku dengan iklim lokal, maka keseimbangan pertukaran antara Oksigen dan Karbondioksida bukan saja diperoleh dari areal hutan atau darat namun demikian wilayah laut pun akan menyumbangkan pertukaran energi tersebut. Untuk itu ulah manusia seperti yang telah kami uraikan pada bagian terdahulu tentang manajemen api, maka seyogyanya harus mendapat perhatian yang serius.

Dalam workshop tersebut ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memperkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim. Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah. Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema workshop ini ?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah tidak mmebiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam worshop tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental.

Apakah api yang menyulut pemanasan global dan perubahan iklim masih dimainkan oleh mereka (92,54%) yang tidak memahami issue global ini ? Yang jelas bahwa yang menamatkan pendidikan tinggi mempunyai banyak kesempatan untuk meraih puncak karier dan kesuksesan memperoleh jabatan penting di birokrasi pemerintah dan swasta. Jika kesempatan di birokrasi itu tertutup, maka bisa saja yang menamatkan pendidikan tinggi itu menciptakan ruang baru untuk lebih memanusiakan manusia atau menciptakan ruang untuk menghancurkan manusia. Semua tindakan manusia di atas akan memberikan dampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Tidak berhenti sampai disitu, ternyata yang menamatkan pendidikan tinggi juga akan menciptakan pola hidup yang baru. Itu artinya akan diikuti dengan gaya hidup yang baru sehingga tuntutan pemenuhan hidup juga akan meningkat. Jumlah mobil yang dimiliki, rumah yang mewah dengan kelengkapan asesori pendingin ruangan dan berbagai macam pengharum tubuh dan ruangan yang harus tersedia. Jika diteliti dengan mendalam maka komponen ini juga memberikan sumbangan terbesar dalam pemanasan global dan perubahan iklim.

Di Indonesia kemacetan lalu lintas akibat berjubelnya kenderaan tidak mampu terurai dengan baik dan cenderung membangun infrastruktur jalan sebagai pemecah persoalan kemacetan. Padahal saat pembangunan jalan dituntaskan maka bertambah pula jumlah kenderaan yang setiap hari mengeluarkan gas beracun ke alam. Hal yang sama bahwa belum ada perencanaan nasional tentang struktur bangunan yang disyaratkan untuk hemat energi listrik. Kita yang hidup di wilayah kepulauan baik yang mendiami wilayah pesisir pantai maupun yang mendiami wilayah pegunungan telah dianugerahi energi angin dari alam yang berhembus setiap hari dan energi cahaya matahari, namun demikian yang terjadi adalah membangun konstruksi rumah yang tertutup sehingga perlu menggunakan energi listrik untuk cahaya dan untuk pendingin ruangan.

Secara tidak arif telunjuk kita akan mengarah kepada mereka yang hidup di pedesaan dengan pendidikan yang rendah bahwa mereka telah salah dalam manajemen api sehingga terjadi kebakaran hutan, walaupun itu dilakukan oleh para pengusaha perkebunan besar yang karena hitung untung dan rugi lebih dikedepankan maka menyulut api adalah jalan yang terbaik.

 

Epilog

Ada pepatah Perancis yang mengatakan bahwa « Les gens qui ne soufflent pas le feu bien alors il va juste mâchent la farine sur sa bouche », orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Ini sebuah gambaran hidup dengan analogi tiup api. Api adalah energi yang mengubah bahan mentah menjadi masakan enak. Api itulah yang mengubah tepung menjadi roti. Dari api, segala sesuatu dapat terhidang di meja makan. Singkatnya, untuk menikmati masakan yang enak atau roti yang matang maka harus meniup api agar tetap menyala.

Pada sisi yang lain api pun bisa membumihanguskan manusia dan sekitarnya. Manusia akan menjadi tak berdaya apabila lingkungan menjadi rusak dan yang fatal lagi akibat ulah manusia maka terjadi perubahan pemanasan global yang dampaknya pada perubahan iklim. Siklus manusia dan lingkungan akan cepat berubah seiring terjadinya perubahan iklim global.

Maluku dengan bertahtakan gugusan pulau-pulau kecil dan memiliki karakteristik yang unik dengan daerah lain di Indonesia dimana terdapat iklim lokal, maka perlu ada penelitian yang mendalam bahwa laut dan darat di Maluku bisa menyumbangkan perputaran energi yang harmoni antara oksigen dan karbondioksida.

 

Daftar Pustaka

Aumeeruddy Yildiz, 1994, Représentation et Gestion Paysannes des Agroforêts en Périphérie du Parc National Kerinci Seblat á Sumatra, Indonésie, UNESCO, Paris.

Dove Michael R. dan Martopo Sugeng, 1987, Manusia dan Alang-alang di Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogya.

Irwanto, 2015, Kebakaran Hutan dan Lahan, Makalah, Ambon.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus J. 2005. “Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen ” Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue “. Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle.” Pp. 354. Paris

Presentasi Makalah pada Workshop Ahli Perubahan Iklim Regional Maluku dan Maluku Utara, dengan thema :Perubahan Iklim dan Pulau-Pulau Kecil. Ambon 2 Juni 2016.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon

[2] Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon.

BURU DALAM KONTEKS IDENTITAS KE-MALUKU-AN (PERSPEKTIF PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM)

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Oleh:

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

Email : mjpattinama@gmail.com

Blog : maxmjpattinama.unpatti.org

 

BURAT[2]

Pulau Buru dalam era modern ini masih mengisahkan cerita kelam tentang Orang Bupolo yang masih hidup terisolir di wilayah pegunungan dan Pulau Buru yang pernah menjadi tempat penampungan Tahanan Politik G30S PKI pada tahun 1969 sampai dengan tahun 1979. Dalam Temu Buudaya yang digagas oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku ini tema Orang Bupolo ingin ditampilkan dalam gaya penulisan mengelola sumberdaya alam dan dunia Orang Bupolo. Cara pandang alam akan memberikan informasi yang menarik untuk disimak dalam bingkai identitas orang Maluku. Kenyataan membuktikan bahwa ada proses perlambatan dalam membangun wilayah ini dan manusianya. Hal ini mungkin disebabkan karena kita belum mampu menangkap dan mencium wilayah Pulau Buru dan Maluku dengan baik. Maluku memang dikenal sebagai “Indonesia Mini”. Lalu apa yang harus dilakukan ? Jawabannya adalah hanya orang Buru dan orang Maluku sendiri yang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya. Semua wilayah administratif pemerintahan di Maluku telah dikuasai dan dipimpin oleh orang Maluku. Jadi kalau ada istilah perlambatan dalam membangun Maluku, kemudian ada kesulitan mengenal dan memahami identitas ke-Maluku-annya, maka yang harus disalahkan adalah orang Maluku itu sendiri.

 

PROLOG : IDENTITAS KE-MALUKU-AN

Harus diakui bahwa wilayah Maluku sebagai suatu provinsi memang sangat luas (perbandingan lautan dan daratan  adalah 13 :1) dan selanjutnya tidak dapat dibayangkan pula secara logika bahwa seluruh untaian pulau besar dan kecil semuanya dapat dipersatukan sebagai suatu wilayah administrasi. Maluku disebut juga sebagai « Indonesia Mini ». Dari sisi pandang biogeografis ini maka Maluku bisa disebut sebagai provinsi kepulauan dengan sentrum pemerintahan di Pulau Ambon dan tepatnya pada Kota Ambon.

Pada sisi pandang eco-etnografi, maka akan semakin kompleks lagi yaitu mempersatukan seluruh adat, budaya dan bahasa dalam suatu untaian perekat yakni budaya Maluku. Pada saat diskursus budaya orang Maluku, maka di dalamnya ada orang Lease, orang Buru, orang Banda, orang Seram, orang Kei, orang Dobo dan orang Tenggara Jauh. Kesemua orang Maluku yang disebut ini memiliki identitas sebagai orang pulau.

Sisi pandang socio-economica sangatlah tidak efisien mengelola provinsi yang maha luas ini. Yang dirasakan adalah perkembangan kemajuan masyarakat relatif sangat lambat apalagi diikuti dengan rendahnya perkembangan penguasaan teknologi oleh masyarakat akibat perkembangan kemajuan pendidikan yang tidak merata. Pada tahun 1980-an ketika Prof. Habibie sebagai Menristek pernah mengatakan bahwa “kita jual saja Kepulauan Kei kepada Jerman agar ada percepatan kemajuan”. Pernyataan ini kalau dianalisis maka beliau ada dalam kegumaman dan kegemasan tentang penguasaan teknologi yang rendah ketika itu. Masyarakat memang bukan mesin yang dapat digerakkan dengan mudah dan kekompleksan manusia itulah yang menjadi semakin menarik untuk dipahami. Jadi pergerakan manusia tidak dapat diintepretasi dalam skala untung atau rugi. Ada sesuatu alasan yang sulit diungkapkan, sehingga para etnolog sering katakan itu adalah bagian dari rasionalitas yang tersembunyi (hidden rationality). Nilai identitas diri memang sangat sulit diintepretasi secara rasional. Itulah hakekat kemanusiaan yang nilainya sangat tinggi.

Apabila tinjauannya pada sisi eco-policy, maka Maluku tak dapat dipisahkan dari kebijakan politik nasional dan global. Isu tentang konsep keutuhan wilayah merupakan dimensi pertahanan keamanan. Makna identitas sering dihubungkan dengan isu dimaksud karena berkohesi dengan apresiasi diri demi menjunjung tinggi jati diri dan ciri-ciri seseorang atau masyarakat. Apabila dimensi pertahanan keamanan terusik itu sama halnya dengan terusiknya identitas. Mengupas tema identitas, kami lebih condong menempelkannya dengan terminologi orang (man) dan masyarakat (society). Mengapa ? Orang mewakili individu dan masyarakat mewakili kelompok orang. Kami memang sengaja menghindar menggunakan terminologi suku, etnis dan pribumi atau non pribumi. Terminologi itu lebih banyak digunakan pada era kolonial dimana masyarakat belum berkembang dan masih hidup dalam sekat-sekat superior dan inferior.

Orang Maluku yang tinggal di Pulau Enu, Pulau Kisar dan Pulau Leti Moa Lakor (Lemola), yang kesemuanya adalah pulau kecil 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) di Maluku, mungkin saja sangat jauh dari konsep perubahan bernegara yang sementara terjadi di sentrum pemerintahan di Pulau Jawa, tetapi mereka tetap tahu dan sangat setia sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air satu dan berbahasa satu.

Cerita lama dan elok tentang kepulauan Maluku (Mollucas Archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices): bunga cengkeh dan buah pala, serta awal sejarah kolonisasi oleh orang Eropa di Nusantara. Pesona rempah sangat luar biasa ditulis oleh  Jack Turner, 2011 (Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme). Kemudian tulisan lainnya yang menarik berjudul Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan (Penulis : Giles Milton, 2015). Ini adalah bukti sejarah bahwa orang Maluku sudah menapaki dunia modialisasi ekonomi dan globalisasi peradaban.

Cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia. Cerita dan pengalaman globalisasi dan mondialisasi telah dialami oleh orang pulau di Maluku sejak zaman dahulu. Daya tarik-menarik itu hanya bersimpul pada satu persoalan klasik saja yaitu eksploitasi sumberdaya alam yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi.

Pada cerita lama dimana zaman itu eksotik rempah-rempah bagaikan sumberdaya minyak bumi dan emas di masa kini. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat mempengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku. Keunikan ini bisa dilihat dari kondisi geografis Maluku yang banyak didominasi pulau-pulau kecil.

Membangun Maluku dengan identitas pulau kecil seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Jika selama ini kita melihat Maluku dari pulau-pulau dengan bentangan laut di sekitarnya maka ke depan lebih arif jika sudut pandang itu diubah yaitu melihat lautan yang bertatakan pulau-pulau. Dengan cara pandang demikian, laut dan darat akan menjadi satu kesatuan yang disebut konsep laut-pulau dimana dalam merumuskan konsep pembangunan di Maluku seyogyanya mengandung makna filosofi bahwa segala aktivitas di darat sekaligus untuk memuliakan lautan.

Secara antropologi-sosiologi, orang pulau adalah bukan orang yang terisolir. Mereka senantiasa terbuka (welcome) menerima para tamu. Jika ada kapal atau perahu yang singgah di suatu pulau, maka secara spontan mereka akan menyambutnya dengan gembira bahkan semua penduduk akan berlari menuju tepi pantai untuk melihat siapakah gerangan tamu yang datang itu? Kontak sosial mereka dengan orang luar terjadi tanpa batas.

Orang Maluku senang mengungkapkan pokok pikirannya dalam lirik lagu dan mari kita telaah ide tentang Maluku dari lagu yang berjudul Maluku Tanah Pusaka.

 

Maluku Tanah Pusaka

Sio… Maluku tampa beta putus pusa e

Paser putih alus e

Gunung deng tanjong

Beta seng lupa e

Ina ama lama lawang seng baku dapa e

Sio… biar jauh bagini e

Tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera

Sampe Tenggara Jauh

Katong samua basudara

Nusa Ina …sio …..

Katong samua dari sana

Biar jauh bagini e

Beta seng bisa lupa

Maluku tanah pusaka

Satu nama satu gandong

sio… satu suku

Maluku manis e, ..

 

Lagu ini memaparkan ide tentang Maluku dan manusianya dan menurut interpretasi penulis inilah identitas ke-Maluku-an yang hakiki. Syair ini adalah nasihat yang ditujukan untuk anak Maluku yang telah merantau ke luar Maluku atau anak Maluku yang ada di Maluku tapi belum paham betul tentang Maluku. Orang Maluku mempresentasikan wilayahnya yang indah dan elok dengan “paser putih alus”. Dalam pikiran orang Maluku hanya mengenal dua ruang yaitu gunung dan pantai yang sering disebut « kadara dan kalao ». Kata Ina Ama bukan saja rasa hormat pada kedua orangtua tetapi juga ada ungkapan rasa puja dan puji kepada para leluhur.

Yang disebut orang Maluku itu dalam kawasan Kepulauan Maluku. Jadi tidak ada beda antara orang di utara dan orang di selatan. Konsep itu tidak ada dalam pikiran orang Maluku sehingga secara administratif pemerintahan boleh terbelah tapi pikirannya satu sebagai Tanah Raja-Raja. Maluku saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan Raja Ampat Moloko Kieraha (Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan). Bagaikan air yang mengalir dari “dara” ka “kalao” maka semua dipertemukan di Nusa Ina (Pulau Seram) sebagai pulau terbesar dalam struktur Kepulauan Maluku. Untuk itu semua memang berasal dari Nusa Ina (Seram).

Kata “manise” dari dulu hanya ditempelkan dalam ungkapan yang dialamatkan kepada Pulau Ambon menjadi Ambon Manise, mengapa ? Ini ada kaitannya dengan “paser putih alus e”. Everhardus Georgius Rumphius tahun 1741 dalam bukunya Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense) melaporkan bahwa struktur vegetasi tanaman terlengkap di dunia ada di Pulau Ambon. Dan memang pada zamannya itu pulau Ambon dibungkus dengan vegetasi tanaman yang sangat indah. Bagi seorang ilmuwan botani Eropa yang berkebangsaan Jerman dan bekerja untuk kolonial Belanda, maka vegetasi hutan tropis demikian bagaikan sebuah surga sehingga ungkapan Ambon Manise berulang-ulang dituturkan. Rumphius memang sangat menikmati hidup yang panjang di Pulau Ambon hingga dia harus kehilangan anggota keluarganya (istri dan anaknya) pada tsunami dahsyat di Pulau Ambon di medio abad ke-18. Jadi kata Maluku Manise hanya transformasi dari kata Ambon Manise.

Pertanyaan yang bisa diajukan adalah katalisator apakah yang menyatukan seluruh pulau, baik besar maupun kecil bahkan yang telah eksis memiliki nama dan yang anonim, menjadi suatu kesatuan yang utuh ?

Pemahaman yang komprehensif tentang pulau-pulau kecil terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang ada di Maluku dengan segala komponen di dalamnya merupakan suatu cara untuk bisa memahami makna keutuhan wilayah di samping pemahaman tentang etno-antropologi dari setiap wilayah di Maluku. Beranda depan pulau-pulau kecil itu adalah suatu tempat dimana lalu lintas manusia lalu-lalang dengan segala peristiwa pertukaran budaya yang berlangsung.

 

IDENTITAS SEBAGAI ORANG BUPOLO DI PULAU BURU

Orang Bupolo adalah masyarakat asli Pulau Buru yang tinggal terisolir di daerah pegunungan. Mereka juga tidak tahu bahwa siapa itu Gubernur Maluku atau Presiden RI, tetapi mereka tahu bahwa ini bumi Maluku dan Indonesia, dimana cerita itu diperolehnya dari orang Buton dan Bugis saat mereka melakukan transaksi dagang dengan pedagang antar pulau yang secara reguler datang di Pulau Buru. Kisah masyarakat yang hidup terisolir di Maluku yang menempati habitat gunung atau pulau kecil masih banyak yang belum terungkap. Jika arah pembangunan yang dimulai dari wilayah pinggiran maka selain wilayah 3T sebagaimana disebutkan di atas maka keterisolasian penduduk pada wilayah pegunungan juga seyogyanya menjadi perhatian untuk didiskusikan pemecahannya.

Harus diakui bahwa Pulau Buru menyimpan kisah kelam yang sangat tidak manusiawi yang dialami para tahanan politik (tapol) sejak penempatan mereka yang pertama di tahun 1969. Kawasan penahanan mereka untuk pertama kali disebut Tefaat (=Tempat Pemanfaatan). Sesuai namanya Tefaat, maka para tapol sangat menderita karena benar-benar dimanfaatkan untuk pekerjaan membuka lahan pertanian menjadi sawah dan juga membabat hutan kayu untuk perdagangan kayu gelondongan.

Beberapa tahun kemudian cara Indonesia dalam menangani para Tapol mendapat protes dan kritik dari masyarakat internasional, akhirnya Tefaat dirubah nama menjadi Inrehab (=Instalasi Rehabilitasi). Namun praktek penanganan dan pembinaan kepada para Tapol tetap tidak berubah karena militer senantiasa memakai pendekatan kekerasan. Untuk itu masyarakat internasional lebih mengenal Pulau Buru sebagai « le goulag des mers du sud (bahasa Perancis) » yang berarti: Goulag[3] di Laut Selatan.

Berbicara tentang identitas orang Bupolo maka kami ingin memperkenalkan bagaimana cara pandang mereka tentang masyarakat lain yang hidup secara bersama-sama di Pulau Buru ini. Cara pandang itu dapat dilihat pada penjelasan skema manusia dalam gambar berikut ini.

 

GEBA-BURU

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo (masyarakat autokton) membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

Hadirnya para tahanan politik G30S/PKI dimana Pemerintah Orde Baru saat itu memanfaatkan dataran Waeyapo di sebelah utara timur Pulau Buru untuk dijadikan kamp konsentrasi tahanan politik. Tahun 1980 kawasan ini ditetapkan sebagai daerah pemukiman program transmigrasi nasional yang diperuntukkan untuk dua kelompok yaitu kelompok pertama kepada para tapol G30S/PKI yang dinyatakan bebas dan tidak kembali ke Pulau Jawa, sedangkan kelompok kedua adalah transmigran dari masyarakat Pulau Jawa termasuk di dalamnya para pensiunan militer. Yang terakhir disebut dimaksudkan untuk pembinaan teritorial kepada mantan tahanan politik. Jadi status bebas telah disandang oleh para tapol namun dalam kesehariannya tetap dikontrol oleh pensiunan militer. Di era reformasi ini sekat-sekat kecurigaan telah lenyap secara perlahan-lahan dengan berubahnya waktu dan cara pandang geopolitik.

 

DUNIA ORANG BUPOLO

Kuatnya ikatan orang Bupolo dengan ruang kosmologi adalah adanya cerita mitos yang sekaligus pula menjadi perekat diantara mereka, misalnya gunung dan air adalah dua kekuatan yang memberikan banyak inspirasi hidup bagi orang Bupolo untuk tetap bertahan pada wilayah pegunungan yang sangat terisolir. Oleh sebab itu dalam keseharian Gunung Date adalah tempat berdiam para leluhur. Dengan demikian Gunung Date tetap harus dijaga dengan tatanan adat yang kuat dari pengaruh orang luar, misalnya dilarang membawa orang luar mengunjungi dan melintasi Gunung Date. Mereka konsisten mempertahankan daerah itu dengan melarang hadirnya perusahaan yang eksploitasi hutan dengan izin HPH.

Orang Bupolo masih sangat yakin pula bahwa hingga saat ini leluhur mereka yang dipresentasekan dengan seekor morea besar (= eel, anguille, Anguilla marmorata) itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana seluas 75 Km² tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat.

Rana lalen artinya daerah diseputar Danau Rana dan Gunung Date yang terletak di tengah pulau. Orang Bupolo mengibaratkan daerah seputar Danau Rana dan Gunung Date sebagai surga yang perlu dipelihara kelestariannya. Konsep konservasi sumberdaya alam telah mereka kuasai dan melakukannya demi kebesaran leluhur (Opo Lastala) yang selalu mengontrol mereka dari singgasananya di Gunung Date.

Orang Bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan sebenarnya mereka juga sangat curiga dengan orang Bupolo sendiri yang sudah mengenal peradaban baru (agama). Diseputar Rana lalen, hanya ada dua kampung (Waereman dan Waegrahi) yang tetap hidup dengan mempraktekkan ritual adat. Sisanya yaitu sebanyak lima kampung telah menerima agama protestan (Aerdapa, Kakutuan, Warujawa, Wamanboli, dan Waemiting).

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo.

Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 2 berikut ini.

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 2. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan Manusia

 

Jika diperhatikan Gambar 2 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

 

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

Orang Bupolo memiliki nilai dan norma-norma untuk melindungi lautan, air, danau, gunung, tanaman tahunan (sagu dan minyak kayu putih serta pohon lainnya) dan tanman pangan. Hutan primer merupakan tempat tinggal roh nenek moyang memelihara kelangsungan manusia dan alam. Oleh karena itu, orang Bupolo malarang pengusaha kayu yang memiliki hak pengusahaan hutan (HPH) untuk beroperasi di hutan primer.   Wilayah utara Pulau Buru didominasi iklim yang kering dengan sedikit curah hujan. Di daerah ini komoditas kayu putih, gelan, (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) sangat dominan penyebarannya bersama-sama dengan alang-alang, mehet, (Imperata sp) sampai pada altitude 500 meter. Pada altitude yang lebih tinggi akan ditemui hutan tropis basah. Sedangkan wilayah selatan pada altitude 0 – 100 banyak diselimuti oleh daerah batuan dan karang. Variasi biodiversitas akan terlihat pada altitude lebih dari 100 meter hingga altitude yang lebih tinggi.

Di daerah selatan hutan tropis basah sangat dominan dengan tegakan pohon Shorea (biahut) dan Agathis (kisi) yang sangat rapat. Dengan demikian jika kita berada di daerah pesisir pantai utara maupun selatan seolah-olah ada kesan bahwa pulau ini sangat gersang padahal di dalamnya ada terdapat hutan dengan biodiversitas yang tinggi dan diikuti dengan jenis fauna yang sangat unik dan ada beberapa fauna yang sifatnya sangat khas. Seperti misalnya terdapat babi rusa. Akhir-akhir ini tingkat eksploitasi hutan yang tinggi oleh para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) sangat mempengaruhi keseimbangan lingkungan.

Hutan primer adalah tempat orang Bupolo meramu damar dan berburu binatang hutan seperti babi (fafu), babi rusa (fafu boti), rusa (mjangan), dan kusu (blafen, Phalanger dendrolagus). Untuk berburu harus menunggu musim buah dari pohon meranti (biahut, Shorea sp), karena buah dari pohon tersebut akan menjadi makanan bagi binatang hutan tersebut.

Pada kawasan hutan sekunder mereka lebih banyak melakukan kegiatan pertanian. yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua, akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun dengan melihat gejala perubahan pada daun.

Setelah menanam kacang tanah pada kebun baru, orang Bupolo melakukan kegiatan mengolah minyak kayu putih atau mereka sebut pula urut daun, yang banyak dilakukan di daerah sebelah utara Pulau Buru, karena disini banyak dijumpai formasi pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae) yang tercatat sebagai tanaman asli Pulau Buru.

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Umumnya tidak ada masalah gender dalam hubungan laki-laki dan perempuan Bupolo. Perempuan juga mempunyai peranan yang besar dalam setiap keputusan keluarga maupun peranannya dalam upacara ritual atau adat. Orang Bupolo menempatkan perempuan dalam posisi sesuai kodrat mereka.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

Keturunan adalah tujuan utama berkumpulnya laki-laki dan perempuan. Jika keturunan tidak diperoleh dari kelompok kecil tadi maka perempuan harus rela pasangan laki-laki mengambil perempuan yang lain dan tinggal serumah dengannya. Untuk itu dalam suatu rumah bisa kita jumpai seorang laki-laki hidup dengan lebih dari satu perempuan. Catatan kami memperlihatkan bahwa seorang laki-laki bisa hidup serumah dengan minimum dua perempuan dan maksimum empat perempuan. Sedangkan rata-rata jumlah anak dari suatu perkawinan adalah empat.

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana (Gambar 3).

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Gambar 3.  Konstruksi rumah orang Bupolo (Foto: Pattinama, 2005)

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

Tanaman sagu adalah merupakan kemurahan Sang Pencipta yang diberi kesempatan hanya tumbuh sebagai tanaman asli di Maluku dan Papua, namun dari yang mengkonsumsinya hanyalah orang Bupolo yang mampu memaknainya dalam kesatuan hidup mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 4. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Untuk jelasnya mari kita lihat Gambar 4 (Louhenapessy, 1992), dimana interpretasi etnobotani bisa dijelaskan sesuai tradisi yang dipraktekan oleh orang Bupolo.   Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah (fase pohon sagu dipanen), penampilan bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya. Dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak. Hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul. Ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Ciri khas yang akan ditonjolkan adalah bertubuh tegar, berkulit hitam, dada dibelah putih bersih indikator suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa tepung sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan sama sekali tidak berarti.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

Dalam kesederhanaan berpikir orang Bupolo jika seorang Gebakuasan sudah tua dan tidak mampu lagi berjalan maka sebagian energi kekuasaannya telah dilimpahkan kepada yang akan menggantikannya secara perlahan-lahan dan pada saat dia meninggal maka penggantinya sudah mampu melanjutkan peranannya untuk memimpin kelompok bialahin tersebut. Orang Bupolo juga sudah mengerti suatu proses suksesi kekuasaan yang tenang, berlanjut dan tidak saling membunuh. Sebab jika pohon itu ditebang pun harus punya perhitungan yang sangat matang. Ketika ditebang tidak jatuh menimpa pohon yang lain sehingga kelanjutan generasi itupun tidak akan terputus. Untuk itu mereka cenderung memilih suatu proses yang alami dengan suatu kaderisasi yang telah diatur menurut kebiasaan hidup mereka.

Landasan berpikir yang bersandar pada tanaman sagu ini kalau dimiliki oleh semua orang di kepulauan Maluku dan Papua apalagi yang telah dinobatkan sebagai pemimpin seperti pohon (1), seharusnya dia mampu membagi energi yang merata dan dia sendiri yang harus berani memutuskan kapan harus ada kesempatan hidup kepada yang lainnya. Pohon (1) memiliki sikap menang sendiri dan mau tetap berdiri hingga pohon (5) muncul. Pada saat yang sama itu jika yang berikutnya yaitu pohon (2) juga tidak berada dalam etika kesabaran untuk harus bersabar menerima kenyataan karena memang pohon (5) itu telah muncul, maka tindakan tergesa-gesa di luar etika hidup terpaksa harus ditempuh, bisa memberi dampak kepada yang lainnya. Bisa saja terjadi pohon (2) sendiri yang harus menerima akibatnya dari ulahnya sendiri. Dengan kata lain pemahaman hidup terhadap pohon sagu telah menunjukkan arah sebenarnya harus hidup taat asas dalam tatanan etika hidup yang teratur. Dan penulis banyak mengamati sebagian besar orang Maluku terkadang mau menyalahkan landasan berpikir ini karena menganggap bahwa tanaman sagu telah salah memberi arti sebenarnya bagi pandangan hidup mereka. Untuk itu kualitas dari pohon (1) sebagai pemimpin harus diperhitungkan dengan matang jika tidak maka dapat dipastikan dia akan menjadi penghalang distribusi energi kepada pohon yang lainnya.

Metroxylon sagu adalah tanaman asli di kepulauan Maluku dan Papua (termasuk PNG) kemudian menyebar ke Pasifik Selatan dan seterusnya beberapa spesies dikembangkan ke arah barat Indonesia menuju Malaysia sampai ke India. Namun yang memilihnya sebagai makanan pokok adalah orang di kepulauan Maluku dan di Papua.

Dari orang Bupolo kita dapat mengerti tentang bagaimana pendekatannya kepada kelompok masyarakat di pulau lain. Pada prinsipnya orang pulau tidak pernah terisolir hidupnya dan orang Bupolo sendiri telah mencatat sejarah perjalanan mereka sebagai bukti bahwa mereka mampu bersinggungan dalam pergaulan di level nasional dan internasional. Untuk itu studi tentang etnobotani yang penulis tekuni hanya mau membuat suatu pendekatan guna mendalami masyarakat dari tanaman yang ada disekitar habitat dimana manusia hidup, dengan begitu kita dapat mengerti hubungan timbal balik antara masyarakat dan lingkungannya.

Gambar 5 berikut ini menyajikan rumpun sagu yang dibudidayakan. Dalam satu rumpun idealnya hanya ada lima pohon sagu. Louhenapessy (1992) mengatakan bahwa dalam areal hutan dimana tanaman sagu tumbuh secara liar, maka ditemui ada sekitar 90 pohon sagu dalam satu rumpun. Tanaman sagu mengalami proses perkecambahan tunas untuk melahirkan pohon yang baru melalui akar. Pohon sagu yang tumbuh secara liar akan menghasilkan jumlah pati sagu yang sedikit bila dibandingkan dengan pohon dalam rumpun sagu yang mendapat perlakuan pemeliharaan yang intensif. Hal ini berhubungan dengan kompetisi energi dalam rumpun tersebut.

Secara ekologi, pohon sagu menciptakan kondisi hidromorfis, artinya akan tercipta areal basah atau berair pada habitat tanaman tersebut, sehingga apabila pohon sagu tumbuh secara liar dalam hamparan yang luas maka secara otomatis akan menciptakan daerah rawa-rawa.

 

EPILOG : PULAU BURU DAN KEMAJUANNYA

Daoed Joesoef penulis buku Emak (2005) dalam diskusi lisan dengan penulis pada forum alumni Prancis di Jakarta tahun 2011 pernah mengatakan bahwa Maluku dan Papua adalah sebuah kubangan yang didalamnya tersimpan harta bumi alami yang masih terpendam. Jika harta itu diolah maka kedua wilayah ini akan menjadi benua ke-enam.

Pesan di atas sebenarnya memberikan sinyal yang kuat bahwa masa depan Indonesia ada di Papua dan Maluku. Untuk itu Maluku dengan otonomi daerah dan ditambah lagi kepemimpinan dan kekuasaan daerah provinsi, kabupaten dan kota saat ini ada dalam genggaman orang Maluku, maka sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun Maluku. Jangan lagi pikirkan soal jatah kepemimpinan nasional karena itu akan membuang waktu dan energi.

Terobosan pertama menurut hemat penulis seyogyanya dimulai dengan melakukan rekayasa sosial yang akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya ketahanan masyarakat menghadapi setiap perubahan, Inovasi teknologi akan diterima dengan baik apabila masyarakat dipersiapkan dengan segala informasi yang lengkap dan materi penyuluhan yang bisa dipahami. Dengan demikian informasi sosial yang lengkap akan mendukung penerapan teknologi dengan tepat sasaran dan tepat tujuan.

Terobosan yang berikut adalah pulau Buru ke depan bisa membangun museum alam tentang “Goulag di Pantai Selatan” sebagai peringatan atas tragedi kemanusiaan yang paling mengenaskan dalam sejarah manusia. Selain digunakan sebagai obyek wisata maka pembangunan museum ini pula bisa menggambarkan sejarah pembangunan pertanian yang sawah yang tidak dapat dibayangkan bahwa bisa dibangun pada wilayah formasi tanaman sagu sebagai biodiversitas awal pada areal tersebut. Pengalihan fungsi lahan juga bisa menjadi suatu laboratorium alami dalam mempelajari evolusi tanaman dimana lingkungan akan berubah seturut dengan perubahan vegetasi tanaman.

Penulis tiba pada usulan yang konkrit untuk memperkuat identitas ke-Maluku-an yaitu mensinergikan setiap komponen interdisipliner yang diilustrasikan bagaikan rangka seekor ikan yang menyusun struktur anatomi ikan.

Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat baik yang menghuni pulau-pulau kecil di wilayah 3T maupun yang menghuni wilayah terisolir di pegunungan adalah teknologi nutrisi dan pakan ternak, bioteknologi komoditas unggulan, dan rekayasa sosial.

Tiga komponen ini menempati bagian rangka ikan yang paling peka yaitu pada bagian kepala hingga rongga insang. Artinya bahwa komponen teknologi sangat diperlukan bagi orang pulau, jika tidak ada terobosan teknologi maka seluruh hasil produksi akan terbuang karena membutuhkan jalur pemasaran yang relatif panjang. Komponen pendukung dan juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan adalah ekologi kepulauan dan etnobotani dimana struktur ini bisa menjadi konsep holistik dalam membangun identitas orang Maluku.

diagram-ikan

Gambar 5. Diagram Ikan Konsep Pikiran Orang Maluku pada Pulau Kecil Terdepan dan Terluar

 

DAFTAR PUSTAKA

1.Joesoef Daoed, 2005, Emak, Kompas, Jakarta

2.Jonge de Nico and van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonesia, Perplus, Singapore.

3.Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

4.Milton Giles, 2015, Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan, Pustaka Alvabet, Banten.

5.Pattinama, Marcus J. dkk, 2007. Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku: Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti.

6.Pattinama, Marcus J. 2015. Identitas Maluku dalam Konteks Nasional. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional STAKPN Maluku di Ambon pada tanggal 24-25 November 2015.

7.Rumphius Everhardus Georgius, 1741, Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense),

8.Turner Jack, 2011, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme,Komunitas Bambu, Jakarta.

 



[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon dan Ethnobotanist Pulau Buru.

[2] Burat atau Sareat (Bahasa Buru) adalah adat makan sirih pinang orang Bupolo yang diadakan sebelum dimulainya suatu pertemuan atau diskusi adat.

[3] Goulag singkatan dalam bahasa Rusia « Glavnoïe Oupravlenie Laguereï » artinya « Menuju Tempat Penampungan (baca : kamp konsentrasi) ». Kamp konsentrasi Goulag disebut pula Kepulauan Goulag, dibangun di lahan terbuka yang sangat luas, tidak berpenghuni (kira-kira sebesar Pulau Borneo : Kalimantan + Serawak, Malaisia) di Rusia Utara-Timur (dulu : Uni Soviet). Sebenarnya Goulag telah dibangun sejak rejim Tsar dan dilanjutkan pada rejim Joseph Stalin hingga Brejnev dan baru dinyatakan dibubarkan pada rejim Perestroïka (Gorbachev). Kekuatan ekonomi Uni Soviet kala itu dibangun dengan memanfaatkan tenaga para tahanan yaitu mereka yang beroposisi dengan rejim berkuasa, para bandit kriminal dan pembunuh. Di Goulag, mereka harus menjalani kerja paksa untuk negara (baca : rejim berkuasa). Tentu banyak korban manusia yang mati sia-sia setiap harinya karena pekerjaan berat yang harus dijalani, kondisi sanitasi kamp konsentrasi yang sangat jelek dan suhu yang sangat dingin kadang mencapai -45° C saat musim dingin. Kerja paksa yang mereka lakukan merupakan sebagian sumbangan yang pada gilirannya menjadikan Uni Soviet sebagai negara adi-daya dan tandingan bagi Amerika Serikat, namun akhirnya kekuatan itu tumbang pada 1991 dan selanjutnya disebut Rusia.

Makalah dipresentasikan pada Temu Budaya Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku, di Namlea Tanggal 5 Desember 2015

IDENTITAS MALUKU DALAM KONTEKS NASIONAL

peta-maluku

Max Marcus J. PATTINAMA

Email : mjpattinama@gmail.com

SEKAPUR SIRIH

Mengenal, memahami dan membangun Kepulauan Maluku dengan seluruh identitas ke-Maluku-an, dimana penduduknya mayoritas mendiami pulau-pulau kecil, seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Itu berarti orang Maluku kekinian bukan menuntut diperlakukan khusus atau istimewa, karena orang Maluku sadar betul bahwa mereka bukanlah spesies unik. Kenyataan membuktikan bahwa ada proses perlambatan dalam membangun wilayah ini dan manusianya. Hal ini mungkin disebabkan karena wilayah Maluku yang sangat luas. Maluku memang dikenal sebagai “Indonesia Mini”. Lalu apa yang harus dilakukan ? Jawabannya adalah hanya orang Maluku sendiri yang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya. Semua wilayah administratif pemerintahan di Maluku telah dikuasai dan dipimpin oleh orang Maluku. Jadi kalau ada istilah perlambatan dalam membangun Maluku, kemudian ada kesulitan mengenal dan memahami identitas ke-Maluku-annya, maka yang harus disalahkan adalah orang Maluku itu sendiri.

PROLOG : IDENTITAS SEBAGAI BANGSA INDONESIA

Indonesia sebagai suatu negara memang cukup luas dan itu tidak dapat dibayangkan secara logika bahwa seluruh untaian pulau besar dan kecil semuanya dapat dipersatukan sebagai suatu Negara Kepulauan yang semenjak dahulu disebut Nusantara. Semangat Nusantara dengan profil manusia maritim adalah modal sosial yang bisa merekatkan seluruh pulau itu bagaikan magnet dengan sentrum pemerintahan Jakarta di Pulau Jawa. Hal ini berarti  memandang Indonesia hanya baru dari satu aspek saja yaitu geografis.

Pada aspek eco-etnografi, maka akan semakin kompleks lagi yaitu mempersatukan seluruh adat, budaya dan bahasa dalam suatu untaian perekat yakni budaya Indonesia. Walaupun dalam prakteknya yang disebut budaya Indonesia mendapat pengaruh yang besar pada sentrum pemerintahan di Pulau Jawa. Jadi kalau menyatakan diri sebagai orang Indonesia nampaknya masih pada tataran konsep yang abstrak. Alangkah lebih bangga menyatakan diri sebagai orang Sumatra, orang Jawa, orang Kalimantan, orang Sulawesi, orang Maluku atau orang Papua. Dalam kesatuan orang yang disebutkan itupun masih akan ditemui kelompok kekerabatan yang khas dan sangat beragam, misalnya diskursus[1] orang Sumatra di dalamnya ada orang Aceh, orang Batak atau orang Padang. Diskursus orang Jawa di dalamnya ada orang Sunda, orang Jawa tulen atau orang Betawi. Begitupun dengan diskursus orang Maluku di dalamnya ada orang Ambon, orang Lease, orang Buru, orang Banda, orang Seram atau orang Kei serta orang Tenggara Jauh.

Bagaimana dengan pengungkapan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia? Jika menyebut identitas demikian mungkin saja lebih konkrit maknanya. Berbeda misalnya dengan masyarakat Amerika atau Eropa yang menyatakan diri sebagai orang Amerika atau orang Eropa (I am American atau Je suis européen). Perhatikan orang Inggris yang kemudian bermigrasi bersatu dengan bangsa lain menjadi orang Amerika lalu menyatakan diri pribadi atau saya dengan “I” (=ai). Kata “I” ini mulai ditulis pada bagian depan, tengah dan akhir kalimat harus ditulis dengan huruf kapital. Negara Inggris adalah sebuah negara kepulauan di Eropa. Kata saya dalam bahasa Eropa lainnya tidak menganut aturan ini. Ini berarti bahwa orang pulau cenderung lebih bayak menonjolkan diri pribadi.

Dari uraian di atas jelas bahwa mengungkapkan identitas diri ada kaitannya dengan kondisi geografis. Masyarakat di wilayah kontinental adalah lebih konkrit menyatakan identitas diri dengan terminologi orang, sedangkan Indonesia sebagai wilayah kepulauan yang terdiri dari pulau besar dan lebih dominan pulau-pulau kecil, akan menyatakan identitas berdasarkan pulau sebagai habitat hidupnya. Istilah orang juga harus dibedakan dengan istilah masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu mengatakan masyarakat Indonesia sebagai Bangsa Indonesia akan lebih kuat dan lebih bermakna dari pada menyebut diri sebagai orang Indonesia. Keunikan Indonesia yang demikian akan lebih menambah bobot pandangan bangsa lain terhadap Nusantara khususnya pada aspek tata pengelolaan sosial pemerintahan yang diterapkan untuk dapat menyatukan bangsa Indonesia dari ufuk Barat hingga ufuk Timur atau dari Sabang sampai Merauke. Orang asing (bukan Orang Indonesia) akan menjadi heran dan makin tidak paham bahwa Indonesia yang besar ini bisa dipersatukan hingga pada saat ini.

Pada sudut pandang socio-economica sangatlah tidak efisien mengelola negara yang sangat luas ini. Akibatnya perkembangan kemajuan masyarakat akan sangat lambat apalagi diikuti dengan lambannya perkembangan penguasaan teknologi. Jelaslah hal itu akan memerlukan anggaran negara yang relatif tidak kecil. Jika pendapat ini dibenarkan tanpa diungkapkan dengan suatu data atau pengalaman berdasarkan riset, maka mungkin kesimpulan prematur yang diambil adalah “Indonesia Bubar”. Secara historis telah diungkapkan bahwa pengalaman bernegara kita sudah membuktikan dimana ketika itu sistem politik pemerintahan pernah berganti-ganti, hingga akhirnya tiba pada keputusan “harga mati” yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi berkumpulnya manusia tidak dapat diintepretasi dalam skala untung atau rugi. Ada sesuatu alasan yang sulit diungkapkan dan para etnolog sering katakan itu adalah bagian dari rasionalitas yang tersembunyi (hidden rationality). Masyarakat Indonesia menganut filosofi “mangan ora mangan asal ngumpul”,”yang penting mudik” dan “bakumpul orang basudara” adalah nilai identitas diri yang sangat sulit diintepretasi secara rasional. Itulah hakekat hubungan kemanusiaan yang nilainya sangat tinggi.

Apabila tinjauannya pada aspek eco-policy, maka Indonesia adalah Negara Kepulauan terbesar telah sukses melakukan agenda reformasi politik. Bayangkan saja dari negara dengan pemimpin yang “diktatorial” selama dua rezim kekuasaan (Orde Lama dan Orde Baru) ke negara yang sukses melakukan reformasi infra dan supra struktur politik menuju sistem negara demokrasi. Modal sosial lainnya yang dimiliki Indonesia adalah masyarakat yang plural, baik etnis maupun agama. Kemudian konflik sosial bisa tuntas diselesaikan dengan sangat santun dan beradab, misalnya persoalan Aceh dan Papua, serta tragedi kemanusiaan di Maluku dan Poso. Bandingkan saja dengan persoalan geopolitik lainnya yang terjadi di beberapa belahan dunia yang tidak tuntas diselesaikan hingga masih menyisakan dendam kesumat. Katakanlah persoalan di Timur Tengah dan persoalan religius di Irlandia Utara. Jadi dalam tatanan pergaulan diplomasi politik global dengan menyelesaikan reformasi politik dan konflik sosial, maka Indonesia sangat disegani karena dianggap telah melakukan loncatan politik yang berhasil. Dalam beberapa analisis dikemukakan bahwa demokrasi hanya bisa terwujud apabila pilar ekonomi negara telah kuat. Pendapat itu bisa saja benar atau salah, tetapi yang pasti bahwa penguatan pilar ekonomi negara ini hanya bisa terwujud dengan terobosan rekayasa teknologi yang ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian pulau-pulau kecil yang sangat dominan di Nusantara.

Pertanyaan yang bisa diajukan adalah katalisator apakah yang menyatukan seluruh pulau, baik besar maupun kecil bahkan yang telah eksis memiliki nama dan yang belum ada nama, menjadi suatu kesatuan yang utuh? Pemahaman yang komprehensif tentang pulau-pulau kecil terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang ada di Indonesia dengan segala komponen di dalamnya merupakan suatu cara untuk bisa memahami makna keutuhan wilayah di samping pemahaman tentang etno-antropologi dari setiap wilayah.

 

IDENTITAS SEBAGAI ORANG MALUKU

Isu tentang konsep keutuhan wilayah merupakan dimensi pertahanan keamanan dan sesungguhnya makna identitas sering dihubungkan dengan isu dimaksud karena berkohesi dengan apresiasi diri demi menjunjung tinggi jati diri dan ciri-ciri seseorang atau masyarakat. Pertahanan keamanan terusik itu sama halnya dengan terusiknya identitas. Mengupas tema identitas, kami lebih condong menempelkannya dengan terminologi orang (man) dan masyarakat (society). Mengapa ? Orang mewakili individu dan masyarakat mewakili kelompok orang. Kami memang sengaja menghindar menggunakan terminologi suku, etnis dan pribumi atau non pribumi. Terminologi itu lebih banyak digunakan pada era kolonial dimana masyarakat belum berkembang dan masih hidup dalam sekat-sekat superior dan inferior.

Orang Maluku yang tinggal di Pulau Enu, Pulau Kisar dan Pulau Leti Moa Lakor (Lemola), yang kesemuanya adalah pulau kecil 3T di Maluku, mungkin saja sangat jauh dari konsep perubahan bernegara yang sementara terjadi di sentrum pemerintahan di Pulau Jawa, tetapi mereka tetap tahu dan sangat setia sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air satu dan berbahasa satu. Orang Bupolo adalah masyarakat asli Pulau Buru yang tinggal terisolir di daerah pegunungan tidak tahu bahwa siapa itu Gubernur Maluku atau Presiden RI, tetapi mereka tahu bahwa ini bumi Indonesia, dimana cerita itu diperolehnya dari orang Buton atau Bugis saat mereka melakukan transaksi dagang dengan pedagang antar pulau yang secara reguler datang di Pulau Buru. Kisah masyarakat yang hidup terisolir di Indonesia yang menempati habitat gunung atau pulau kecil masih banyak yang belum terungkap.

Cerita lama dan elok tentang kepulauan Maluku (Mollucas Archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices): bunga cengkeh dan buah pala, serta awal sejarah kolonisasi oleh orang Eropa di Nusantara. Pesona rempah sangat luar biasa ditulis oleh  Jack Turner, 2011 (Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme). Kemudian tulisan lainnya yang menarik berjudul Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan (Penulis : Giles Milton, 2015). Ini adalah bukti sejarah bahwa orang Maluku sudah menapaki dunia modialisasi ekonomi dan globalisasi peradaban.

Cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia. Cerita dan pengalaman globalisasi dan mondialisasi telah dialami oleh orang pulau di Maluku sejak zaman dahulu. Daya tarik-menarik itu hanya bersimpul pada satu persoalan klasik saja yaitu eksploitasi sumberdaya alam yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi.

Pada zaman itu, eksotik rempah-rempah bagaikan sumberdaya minyak bumi dan emas. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat mempengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku. Keunikan ini bisa dilihat dari kondisi geografis Maluku yang banyak didominasi pulau-pulau kecil dan penduduk tersebar menempati pulau tersebut.

Membangun Maluku dengan ciri-ciri pulau kecil seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Jika selama ini kita melihat Maluku dari pulau-pulau dengan bentangan laut di sekitarnya maka ke depan lebih arif jika sudut pandang itu diubah yaitu melihat lautan yang bertatakan pulau-pulau. Dengan cara pandang demikian, laut dan darat akan menjadi satu kesatuan yang disebut konsep laut-pulau dimana dalam merumuskan konsep pembangunan di Maluku seyogyanya mengandung makna filosofi bahwa segala aktivitas di darat sekaligus untuk memuliakan lautan.

Orang Maluku yang mendiami pulau kecil 3T inilah yang sebenarnya hidup dalam Beranda NKRI. Beranda adalah ruang beratap yang terbuka dan tidak berdinding di bagian samping atau depan rumah. Pemahaman kita tentang pembagian ruang dalam suatu “rumah” dimana ada manusia sebagai penghuninya, mau menyatakan bahwa pembagian ruang telah menunjukkan strata atau pelapisan. Hal ini dapat dilihat juga di dalam masyarakat dan sering kita sebut stratifikasi sosial. Beranda merepresentasikan fungsi sosial yang penting. Jadi orang yang menempati beranda rumah sebenarnya adalah wajah dari seluruh isi rumah tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa kita menganggap mereka yang hidup di pulau kecil terluar sebagai daerah terpencil dan terisolir serta seluruh masyarakatnya tergolong miskin dan tak berdaya?

Secara antropologi-sosiologi, orang pulau adalah bukan orang yang terisolir. Mereka senantiasa terbuka (welcome) menerima para tamu. Jika ada kapal atau perahu yang singgah di suatu pulau, maka secara spontan mereka akan menyambutnya dengan gembira bahkan semua penduduk akan berlari menuju tepi pantai untuk melihat siapakah gerangan tamu yang datang itu? Kontak sosial mereka dengan orang luar terjadi tanpa batas.

Orang Maluku senang mengungkapkan pokok pikirannya dalam lirik lagu dan mari kita telaah ide tentang Maluku dari lagu yang berjudul Maluku Tanah Pusaka.

Maluku Tanah Pusaka

Sio… Maluku tampa beta putus pusa e

Paser putih alus e

Gunung deng tanjong

Beta seng lupa e

Ina ama lama lawang seng baku dapa e

Sio… biar jauh bagini e

Tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera

Sampe Tenggara Jauh

Katong samua basudara

Nusa Ina …sio …..

Katong samua dari sana

Biar jauh bagini e

Beta seng bisa lupa

Maluku tanah pusaka

Satu nama satu gandong

sio… satu suku

Maluku manis e, ..

 

Lagu ini memaparkan ide tentang Maluku dan manusianya. Ini nasihat untuk anak Maluku yang telah merantau ke luar Maluku atau mereka yang ada di Maluku tapi belum paham betul tentang Maluku. Orang Maluku mempresentasikan wilayahnya yang indah dan elok dengan “paser putih alus”. Dalam pikiran orang Maluku hanya mengenal dua ruang yaitu gunung dan pantai yang sering disebut « kadara dan kalao ». Kata Ina Ama bukan saja rasa hormat pada kedua orangtua tetapi juga ada ungkapan rasa puja dan puji kepada para leluhur.

Yang disebut orang Maluku itu dalam kawasan Kepulauan Maluku. Jadi tidak ada beda antara orang di utara dan orang di selatan. Konsep itu tidak ada dalam pikiran orang Maluku sehingga secara administratif pemerintahan boleh terbelah tapi pikirannya satu sebagai Tanah Raja-Raja. Maluku saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan Raja Ampat Moloko Kieraha (Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan). Bagaikan air yang mengalir dari “dara” ka “kalao” maka semua dipertemukan di Nusa Ina (Pulau Seram) sebagai pulau terbesar dalam struktur Kepulauan Maluku. Untuk itu semua memang berasal dari Nusa Ina (Seram).

Kata “manise” dari dulu hanya ditempelkan dalam ungkapan yang dialamatkan kepada Pulau Ambon menjadi Ambon Manise, mengapa ? Ini ada kaitannya dengan “paser putih alus e”. Everhardus Georgius Rumphius tahun 1741 dalam bukunya Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense) melaporkan bahwa struktur vegetasi tanaman terlengkap di dunia ada di Pulau Ambon. Dan memang pada zamannya itu pulau Ambon dibungkus dengan vegetasi tanaman yang sangat indah. Bagi seorang ilmuwan botani Eropa yang berkebangsaan Jerman dan bekerja untuk kolonial Belanda, maka vegetasi hutan tropis demikian bagaikan sebuah surga sehingga ungkapan Ambon Manise berulang-ulang dituturkan. Rumphius memang sangat menikmati hidup yang panjang di Pulau Ambon hingga dia harus kehilangan anggota keluarganya (istri dan anaknya) pada tsunami dahsyat di Pulau Ambon di medio abad ke-18. Jadi kata Maluku Manise hanya transformasi dari kata Ambon Manise.

 

MALUKU DALAM TATARAN KEBIJAKAN NASIONAL

Provinsi Maluku menurut catatan Departemen Kelautan dan Perikanan RI memiliki 16 pulau di perbatasan. Perbatasan yang dimaksud adalah batas negara dengan Timor Leste dan Australia. Sebenarnya hanya cara pandang dan ukuran penilaian ekonomi modern semata yang mengakibatkan kita terjebak dalam memandang orang Maluku atau masyarakat Indonesia lainnya yang mendiami Beranda RI adalah warga negara pinggiran yang hidup di “ketiak” RI. Kita sebagai Bangsa Indonesia pada saatnya akan menjadi terusik, marah dan pasti merasa terhina apabila peristiwa Sipadan dan Ligitan yang saat ini telah dikuasai Malaysia akan kembali terjadi untuk pulau kecil terluar di Maluku mungkin ketika Timor Leste atau Australia melakukan invasi yang sistematik dan permanen untuk menguasai pulau kecil yang menyimpan banyak potensi. Itulah identitas yang harus dijunjung tinggi.

Konsep identitas wilayah dalam era milenium ini tidak dapat dimaknai dengan suatu kekuatan yang mekanik yaitu peralatan militer yang sofistikasi tetapi kelemahan suprastruktur sosial dimana pada pulau kecil terluar dengan angka kemiskinan yang relatif tinggi mencapai 56% juga bisa mengancam identitas negara. Oleh karena itu rekayasa sosial dalam hal pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas untuk dilaksanakan agar Beranda NKRI menjadi lebih kokoh.

Jika Maluku tetap tidak bersuara dan tidak mengambil langkah-langkah radikal dalam membangun pulau-pulau kecil dan membangun wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal), maka sulit diharapkan masyarakat Maluku akan lebih baik. Sebagian besar rakyat Maluku hanya bisa tidur memeluk kekayaan sumberdaya alam yang melimpah saja tanpa bisa berbuat banyak untuk keluar dari ketertinggalan itu. Maluku bukan saja Kota Ambon atau Lease tetapi Maluku adalah pulau-pulau kecil dan wilayah 3T.

Semua rakyat Maluku harus berada dalam kegumaman untuk memastikan bahwa wilayah pulau-pulau kecil terluar di Maluku itu bukan suatu wilayah kutukan kepada masyarakat yang menempatinya. Pandangan bahwa pulau kecil terluar adalah wilayah terisolir atau daerah yang termarjinalkan, inferior, dan daerah pinggiran serta ditambah dengan stigmatisasi kepada masyarakatnya yang sering dinobatkan dengan istilah-istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang atau alifuru[2], sebenarnya hanya karena persepsi orang luar saja yang belum tentu benar dan belum memahami mereka. Pikiran dan konsep membangun Maluku tidak semata-mata berbasis pada persoalan mengungkapkan potensi dalam kegiatan yang klasik dilakukan yaitu eksplorasi tetapi pendekatan yang harus bermuatan suatu terobosan baik rekayasa sosial maupun terobosan teknologi.

Konsep peningkatan identitas diri yang berbasis pada sistem hankamrata[3] merupakan suatu kekuatan penting terutama pada wilayah Indonesia terluar yang terdiri atas pulau-pulau yang berbatasan dengan negara lain, seperti sejumlah pulau di provinsi Maluku, khususnya pada Kabupaten Maluku Barat Daya, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Kepulauan Aru. Pengertian membangun identitas diri secara gamblang dapat didefenisikan sebagai suatu kemampuan masyarakat untuk memberdayakan sumberdaya alamnya sehingga mampu mendiami tempat tertentu sebagai masyarakat suatu negara berdaulat. Pulau-pulau kecil terluar memiliki karakteristik khas pada aspek geostrategis, historis, budaya sosioantropologis, potensi alam unggulan, hak ulayat, dan lainnya. Pulau-pulau kecil terluar juga memiliki masalah yang sistematis dan kompleks.

Keterisolasian pulau-pulau kecil terluar merupakan masalah sistematis masyarakat yang perlu dipecahkan dan diberdayakan. Sebuah pulau yang terisolasi dapat diartikan sebagai kurangnya aktivitas masyarakat, barang, jasa, hasil alam, dan lainnya dari dan ke pulau yang dimaksud. Keterisolasian bagi sebagaian orang mungkin dapat diasumsikan sebagai sebuah kutukan Sang Pencipta, namun keterisolasian yang telah melewati ranah sejarah dan waktu dapat menjadi keunggulan yang masih tersembunyi.

Pengamatan pada masyarakat pulau-pulau kecil terluar dapat diamati dengan mengikuti rangkaian hubungan antar faktor guna pekerjaan rekayasa sosial dimana saling berhubungan seluruh faktor yang bermuara pada pemanfaatan sumberdaya baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Hubungan antar faktor tersebut dapat diikuti dalam Gambar 1.

Nampaknya hubungan antar faktor tersebut di atas adalah saling terkait satu sama lain dan ternyata faktor sejarah lebih dominan untuk mempengaruhi faktor yang lain. Faktor pengelolaan sumberdaya yang menjadi basis untuk menopang keterkaitan kepada faktor yang lain. Dengan demikian arah dari pokok pikiran membangun Maluku akan dimulai dengan pemahaman akan manajemen sumberdaya di wilayah 3T, setelah itu baru diurutkan hingga menuju pada faktor kelompok kepentingan atau faktor perorangan.

Masalah kompleks lain pada pulau-pulau kecil terluar adalah kemiskinan dan ketertinggalan karena terkait oleh berbagai faktor kritis yang terintegrasi. Ada banyak faktor penentu kompleksitas masalah yang dihadapi misalnya angka partisipasi pendidikan, dunia kerja dan usaha, ekonomi masyarakat, otonomi daerah, paternal model, infrastruktur dan suprastruktur, dan lainnya.

hubungan-rekayasa-nasional

Gambar 1. Hubungan antar Faktor dalam Rekayasa Sosial

 

 

MALUKU DALAM PUSARAN KEKUASAAN NASIONAL

  1. a.      Periode Kolonialisme

Sejarah harus mencatat dengan benar bahwa kolonialisme mulai eksist untuk pertama kalinya dari Kepulauan Maluku dan tepatnya di wilayah Raja Ampat Moloko Kieraha. Setelah itu bangsa Eropa silih berganti datang untuk melakukan kolonisasi ke wilayah Nusantara lainnya. Orang Maluku sangat militan melawan penjajah, namun pada suatu masa tertentu orang Maluku ternyata bisa diajak kompromi untuk membantu Belanda melakukan kolonisasi di wilayah lainnya. Istilah « orang Belanda Hitam » dialamatkan kepada orang Maluku. Artinya orang Maluku sudah bisa menyatu dengan orang Belanda. Salah satu cirinya adalah orang Maluku bisa mencapai posisi jabatan penting dalam birokrasi kolonialisme. Orang Maluku disekolahkan oleh para penjajah Eropa agar bisa mendapat pengakuan dalam birokrasi pemerintahan kolonial.

Orang Maluku dipercaya masuk dalam garda pertahanan dan keamanan Belanda dan itu semakin memperkuat stigma Belanda bahwa orang yang makan makanan seperti anjing pasti punya kesetiaan yang tinggi. Artinya cara makan orang Maluku menyantap makanan papeda dengan cara membungkukan badan dengan mulut menyentuh papeda dalam piring adalah identik dengan cara makan seekor anjing. Analoginya menurut pikiran Belanda bahwa orang Maluku pasti punya tabiat dan kesetiaan seperti seekor binatang piaraan anjing.

Belanda menggunakan orang Maluku untuk mengawasi pembangunan perkebunan di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra serta di wilayah jajahan Belanda di Suriname. Penjajah Belanda tahu betul filosofi sagu dari orang Maluku bahwa tidak boleh melakukan pendekatan yang keras, harus didekati secara halus dengan menepuk pundaknya maka akan luluh pula hatinya. Ibaratnya sagu salempeng yang keras akan menjadi lunak setelah dicelup dalam air, teh atau kopi. Pendekatan phsikologi yang tepat dilakukan oleh Belanda untuk dapat menguasai orang Maluku.

Pada masa berakhirnya era kolonial Belanda di Nusantara maka orang-orang Maluku yang setia kepada Belanda terpaksa harus dievakuasi ke Eropa di Negara Belanda dengan sejumlah janji manis mengingat penyerahan kedaulatan ke Republik Indonesia pasti akan berakibat buruk kepada orang Maluku yang setia kepada penjajah Belanda. Peristiwa ini dalam bahasa Perancis dikenal dengan nama « coup de têtê ».

 

  1. b.      Periode Kemerdekaan RI

b.1. Orde Lama

Pada masa itu diplomasi Belanda masih kuat kepada Negara Republik Indonesia sebagai negara yang baru mendapat kedaulatan sebagai negara merdeka. Tentunya orang Maluku yang pernah mendapat didikan Belanda masih dipakai oleh rezim Orde Lama karena kemampuannya yang masih dianggap baik dan selain itu pula Presiden Soekarno yang juga adalah hasil didikan Belanda masih memerlukan sosok orang Maluku untuk bisa berdiplomasi dengan Belanda.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ternyata perjuangan dengan Belanda belum usai mengingat ada wilayah yang masih mau diklaim oleh Belanda sebagai wilayah jajahannya, misalnya Papua yang ketika itu bernama Hollandia. Belanda masih berkolaborasi dengan orang Maluku dalam menancapkan kekuasaannya di Hollandia (=baca buku Leontine E.Visser berjudul : Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda – Indonesia). Ketika Papua resmi masuk kedalam kedaulatan RI, maka evakuasi besar-besaran orang Maluku ke negara Belanda mencapai puncaknya. Seiring dengan hal tersebut maka ada lagu Maluku yang berjudul Hela Rotan e. Penulis tidak mengatakan bahwa lagu ini khusus diciptakan untuk situasi politik ketika itu, namun ini hanya interprestasi penulis dengan melihat syair lagu tersebut.

Hela Rotan e

Hela hela rotan e

Rotan e tifa Jawa

Jawa e babunyi

Rotan, rotan sudah putus

Sudah putus ujung dua

Dua baku dapa e

Rotan, rotan sudah putus

Sudah putus ujung dua

Dua baku dapa e

 

Kita membayangkan bahwa memang dahulu kala ketika belum ada alat tali temali yang terbuat dari plastik atau bahan sejenisnya maka dalam permainan adu kekuatan antara dua kelompok selalu menggunakan rotan yang dirangkai khusus untuk perlombaan tersebut. Dalam realita rotan tidak mungkin putus karena memang sangat kuat. Makna filsafati bahwa antara dua kekuatan politik (=Belanda dan RI) yang bertaruh sudah selesai mengingat semua wilayah telah ada dalam kedaulatan RI. Itu berarti pula hubungan Belanda dan orang Maluku yang setia ketika itu telah terputus. Peranan yang akan diambil sesuai syair lagu itu adalah orang Jawa. Tifa Jawa mempunyai nilai filsafati yang tinggi. Tabuh gendang Jawa terus melantun hingga saat ini.

Posisi Maluku bukan berarti terus membangkang untuk mendirikan RI, namun Maluku dengan para tokohnya seperti diantaranya Mr. J. Latuharhary berkontribusi untuk mendirikan RI. Yang mau dikatakan bahwa ada tokoh orang Maluku yang rasional dan tahu persis tentang sejarah kolonialisme terus berjuang untuk terwujudnya Negara Kesatuan RI (NKRI). Jadi kalau ada yang menuduh Maluku tidak nasionalis maka sejarah dengan jelas membantah tuduhan itu dan NKRI harga mati tidak etis terus menerus dikumandangkan di kuping orang Maluku. Lagu Hela Rotan e memang ada dan eksist hingga saat ini tetapi itu suatu ide seni yang memang harus diakui keberadaannya.

Identitas orang Maluku yang berkiprah secara nasional dan mempunyai sumbangan yang sangat besar kepada negara RI adalah dr. J. Leimena, Prof. Dr. G.A. Siwabessy dan Komodor AU Leo Wattimena. Tentunya masih ada banyak tokoh orang Maluku yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Yang jelas bahwa masa lalu penjajahan dan kesetiaan orang Maluku kepada penjajah Belanda telah selesai dan hanya sejarah yang boleh mencatatnya.

 

b.2. Orde Baru

Rezim ini memang sangat panjang dalam berkuasa sekitar 32 tahun. Orde lama hanya berkuasa selama 20 tahun. Tentunya sejarah RI juga mencatat banyak kelebihan dan kesuksesan yang dicapai oleh Orde Baru. Orde ini adalah orde pembangunan dan merupakan koreksi terhadap orde sebelumnya (Orde Lama) yang hanya terkungkung dengan isu dan rumor politik. Kita sebagai ilmuwan dan akademisi tidak boleh dengan gampang menyalahkan orde kepemimpinan bangsa dengan periode dan zamannya tersendiri. Hal ini tentu sudah dipelajari dan mempunyai dasar yang kuat dalam metode pendekatan riset (Observasi, Problematik Riset dan Kerangka Analisis)

Tokoh orang Maluku dengan mempresentasikan identitas orang Maluku juga masih dilibatkan dalam pembangunan bangsa ini seperti Prof.Dr. G.A. Siwabessy yang mempunyai ide untuk membangun Puskesmas diseluruh tanah air dan ide untuk mendirikan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Selain itu ada tokoh orang Maluku seperti Mayjend TNI J. Muskitta dan Leo Lopulissa.

Orde Baru mempunyai cerita yang panjang dalam membangun bangsa ini dan tidak semua yang dikerjakan mencapai kepuasan dan kesempurnaan hakiki dimata manusia Indonesia, namun sejarah juga mencatat lembaran hitam manajemen bernegara dari Orde Baru sehingga pada akhirnya diruntuhkan oleh semangat mahasiswa dan masyarakat yang meminta adanya pergantian pemerintahan pada tahun 1998.

 

b.3. Orde Reformasi

Tahun 1998 muncul Orde Reformasi yang menghendaki diberlakukannya sistem demokrasi dalam manajemen bernegara. Ini suatu perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang berani memilih paham demokrasi yang lahir di Prancis setelah adanya revolusi Prancis tahun 1789.

Ini pilihan yang sudah diputuskan oleh bangsa Indonesia dan kini telah melewati satu dasawarsa dan nampaknya ada banyak kritikan yang dilontarkan oleh masyarakat tentang perjalanan orde ini.

Orang Maluku juga sadar bahwa mereka harus berkontribusi dalam orde ini. Pikiran mereka sangat sederhana saja bahwa orde boleh silih berganti tetapi NKRI tidak boleh dikoyak-koyak sebab orang Maluku juga berkontribusi dalam organisasi Jong Ambon untuk mendirikan NKRI.

Tokoh orang Maluku yang berperan dalam orde ini diantaranya Alex Litaay, Ali Mochtar Ngabalin, Nono Sampono, Suaidy Marasabessy dan Alex Retraubun serta Max Yohuzua Yoltuwu. Sekali lagi penulis memohon maaf untuk tidak bisa menyebutkan rentetan peran tokoh orang Maluku dengan identitas masing-masing dalam periode enam rezim kekuasaan sejak Presiden Habibi hingga Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY).

Di era rezim yang ke-tujuh ini dengan Presiden Joko Widodo nampaknya ada niat gugatan orang Maluku karena merasa TIDAK dilibatkan dalam kepemimpinan nasional. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah tidak ada tokoh Maluku dalam kepemimpinan nasional seolah-olah Maluku telah dilupakan oleh RI ?

Saya berharap sungguh bahwa semainar nasional ini diadakan bukan menjadi basis untuk menuntut jatah itu. Sebab kalau sejarah dipelajari maka keterlibatan tokoh Maluku dengan membawa iderntitas wilayahnya adalah berkat kemampuan baik soft skill maupun hard skill, jadi bukan duduk di singgasana kekuasaan karena desakan demo khusus yang diadakan untuk itu.

 

EPILOG : MALUKU PASTI MAJU

Daoed Joesoef penulis buku Emak (2005) dalam diskusi lisan dengan penulis dalam forum alumni Prancis di Jakarta tahun 2011 pernah mengatakan bahwa Maluku dan Papua adalah sebuah kubangan yang didalamnya tersimpan harta bumi alami yang masih terpendam. Jika harta itu diolah maka kedua wilayah ini akan menjadi benua ke-enam.

Dalam diskusi isu strategis di Lemhanas RI tanggal 9 September 2015, penulis kemukakan bahwa isu strategis yang harus mendapat perhatian negara adalah isu Melanesia. Para TAJI (Tim Ahli Pengkaji) dan TAJAR (Tim Ahli Pengajar) Lemhanas RI mengatakan bahwa ada pesan dari Gubernur Lemhanas RI agar isu Melanesia tidak boleh dibahas karena itu masih menjadi kajian yang mendalam dari Lemhanas RI. Akhirnya isu yang kami usulkan itu tidak dicatat sebagai isu strategis nasional.

Kedua pesan di atas sebenarnya memberikan sinyal yang kuat bahwa masa depan Indonesia ada di Papua dan Maluku. Untuk itu Maluku dengan otonomi daerah dan ditambah lagi kepemimpinan dan kekuasaan daerah provinsi, kabupaten dan kota saat ini ada dalam genggaman orang Maluku, maka sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun Maluku. Jangan lagi pikirkan soal jatah kepemimpinan nasional karena itu akan membuang waktu dan energi.

Terobosan pertama menurut hemat penulis seyogyanya dimulai dengan melakukan rekayasa sosial yang akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya ketahanan masyarakat menghadapi setiap perubahan, Inovasi teknologi akan diterima dengan baik apabila masyarakat dipersiapkan dengan segala informasi yang lengkap dan materi penyuluhan yang bisa dipahami. Dengan demikian informasi sosial yang lengkap akan mendukung penerapan teknologi dengan tepat sasaran dan tepat tujuan.

Keterisolasian juga bisa menjauhkan masyarakat untuk berakses dengan mudah pada infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah. Akibatnya mereka semakin jauh dari sentuhan pembangunan. Keterisolasian masyarakat sesuai habitat bisa ditemui pada wilayah pegunungan atau wilayah pulau-pulau kecil. Kita tidak dapat mengatakan bahwa masyarakat pulau-pulau kecil terluar yang terisolir disebabkan karena pilihan habitat hidup yang keliru atau bahkan secara ekstrim suatu kutukan kepada mereka. Setiap masyarakat dengan pilihannya senantiasa mempunyai alasan yang rasional untuk menempati wilayah tersebut. Kita berharap pemerintah daerah mempersiapkan daerah ini untuk bisa berkoneksi dengan tol laut yang digagas oleh Presiden Joko Widodo.

Pulau-pulau kecil terluar dan terdepan di Maluku umumnya menyimpan potensi alam yang cukup banyak dan sangat unik, terutama komoditas yang sudah merupakan plasma nutfah. Katakanlah jeruk kisar yang hanya bisa tumbuh dan berbuah dengan sempurna pada habitatnya di pulau Kisar. Jika komoditas ini ditanam di luar pulau tersebut maka kualitasnya akan berbeda. Itu berarti pertumbuhan dari buah tersebut mendapat pengaruh iklim mikro dari benua Australia, karena jeruk tersebut hampir mirip dengan jenis jeruk sunkist Begitupun dengan jenis ternak ruminansia yang sangat berpotensi. Seluruh catatan keunikan komoditas ini tidak sebanding dengan keberadaan masyarakat yang mempunyai posisi yang lemah saat melakukan transaksi perdagangan. Potensi yang melimpah itu bukan saja terdapat di wilayah daratan tetapi juga tersimpan di wilayah pesisir.

Sebenarnya mereka harus mempunyai posisi tawar menawar yang kuat jika produksi hasil sumberdaya alam mendapat sentuhan terobosan teknologi. Hal ini bisa menambah keawetan produk untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga produk dimaksud akan menjadi aman pada saat diantar-pulaukan menuju pasar akhir.

Jika kondisi ini terus dibiarkan maka taraf kehidupan mereka akan semakin menurun kualitasnya, akibatnya mereka terjerembab dalam lembah kemiskinan. Saat yang sama mereka akan meninggalkan pekerjaan sebagai petani atau nelayan. Hal ini bisa mengakibatkan terbengkalainya sumberdaya alam tersebut dan keinginan yang kuat dari mereka untuk meninggalkan daerah pedesaan menuju perkotaan. Hal lain yang bisa terjadi yaitu mereka tetap tinggal di desa dengan pasrah dan hilang harapan. Pada saat bersamaan mereka akan melakukan atau menerima tawaran apa saja dari para pedagang antar pulau yang bisa berasal dari dalam Indonesia atau dari luar Indonesia.

Dengan demikian permasalahan sistematis dan kompleks dapat diantisipasi dengan pemberdayaan masyarakat, peningkatan produk unggulan, peningkatan pengetahuan kewirausahaan yang berbasis daerah pulau kecil terluar sebagai suatu dimensi pertahanan dan keamanan demi memuliakan identitas diri sebagai orang pulau dan masyarakat pulau.

Penulis tiba pada usulan yang konkrit untuk memperkuat identitas ke-Maluku-an yaitu mensinergikan setiap komponen interdisipliner yang diilustrasikan bagaikan rangka seekor ikan yang menyusun struktur anatomi ikan.

Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat pulau-pulau kecil di wilayah 3T adalah teknologi nutrisi dan pakan ternak, bioteknologi komoditas unggulan, dan rekayasa sosial. Tiga komponen ini menempati bagian rangka ikan yang paling peka yaitu pada bagian kepala hingga rongga insang. Artinya bahwa komponen teknologi sangat diperlukan bagi orang pulau, jika tidak ada terobosan teknologi maka seluruh hasil produksi akan terbuang karena membutuhkan jalur pemasaran yang relatif panjang. Komponen pendukung dan juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan adalah ekologi kepulauan dan etnobotani dimana struktur ini bisa menjadi konsep holistik dalam membangun identitas orang Maluku.

  diagram-ikan

Gambar 2. Diagram Ikan Konsep Pikiran Orang Maluku pada Pulau Kecil Terdepan dan Terluar

 

DAFTAR PUSTAKA

1.Joesoef Daoed, 2005, Emak, Kompas, Jakarta

2.Jonge de Nico and van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonesia, Perplus, Singapore.

3.Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas

Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate

Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab.

Agrometeorologi, IPB, Bogor.

4.Milton Giles, 2015, Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan

Manhattan, Pustaka Alvabet, Banten.

5.Nikijuluw dan Rachman (editor), 2014, Sang Upuleru, Gramedia, Jakarta.

6.Pattinama, Marcus J. dkk, 2007. Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku: Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti.

7.Paulus J. Mr.Dr, 1917. Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie. Tweede druk, p.31.

8.Rumphius Everhardus Georgius, 1741, Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense),

9.Turner Jack, 2011, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme,Komunitas Bambu, Jakarta.

10.Visser Leontine E., 2009, Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda – Indonesia, Penerbit Kompas, Jakarta.



[1] Diskursus adalah suatu aktivitas diskusi pada suatu tema yang berlangsung secara berkala baik secara lisan maupun tertulis.

[2] Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

[3] Hankamrata adalah sistem pertahanan keamanan rakyat semesta.

NILAI BUDAYA MELANESIA : PROSPEK dan PEMBERDAYAAN

peta-melanesia

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

Email : mjpattinama@gmail.com

Prolog

Kegiatan fasilitasi dialog nilai budaya dengan tema : Tidore dalam Jaringan Wilayah Budaya Melanesia Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemendikbud RI di wilayah Kesultanan Ternate, bagi kami pribadi, ini adalah momentum yang sangat strategis bagi kebangkitan identitas orang Melanesia Indonesia dengan fokus diskusi kejayaan Kesultanan Tidore.

Kebangkitan identitas ini bukan untuk menempatkannya sebagai hal yang utama dan sangat terpenting sedangkan yang lain dianggap inferior. Tentu tidak, namun ini era kebangkitan untuk menyentak dan mengajak para generasi muda Melanesia Indonesia agar lebih mengenal identitas diri dengan benar dan beretika. Menurut pengamatan kami pribadi bahwa anak bangsa Indonesia saat ini menjadi tidak tenang dan menjurus pada tatanan ketidakaturan karena mereka tidak peduli lagi untuk mau berusaha mengenal identitas diri dan ada indikasi mereka sangat jauh dari etika berbangsa dan bernegara. Dengan demikian acara dialog pada kesempatan ini seyogyanya dipandang sebagai forum untuk kita bisa mengenal dan memahami identitas diri, disamping forum untuk berbagi ilmu dalam memberikan kontribusi ilmiah kepada dunia pendidikan dan penelitian orang Melanesia Indonesia.

Ketika kami dihubungi oleh panitia pelaksana fasilitasi dialog ini untuk menulis tentang Nilai Budaya Melanesia ; Prospek dan Pemberdayaan, kemudian kami menelisik tentative skedul forum diskusi ini ternyata kami dijadwalkan sebagai pembicara terakhir dengan topik tersebut. Judul ini bagi kami cukup menarik dan memberikan sinyal bahwa paparan ide seyogyanya menyentuh nilai budaya dalam konteks kekinian tanpa meninggalkan substansi nilai budaya orang Melanesia Indonesia pada zaman prehistori. Ada dua kata dalam topik makalah kami yang menarik yaitu Prospek dan Pemberdayaan.

Jadi elaborasi ide dalam makalah ini kiranya bisa memberikan suatu harapan baru bahwa nilai budaya orang Melanesia Indonesia pada konteks kekinian dapat memberikan energi atau kekuatan prima untuk memperteguh kapasitas mereka agar bisa berlayar dan sekaligus secara mandiri bisa mengemudikan perahu menuju pulau yang berkeadilan dan sejahtera. Simbol perahu dan pulau digunakan mengingat perjalanan nenek moyang orang Melanesia Indonesia selalu menggunakan alat transportasi perahu untuk menyebar dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dan wilayah itu adalah pulau-pulau kecil.

 

Identifikasi

Negara Kepulauan terbesar di dunia yang bernama Indonesia menjadi lebih menarik karena ternyata dicatat dalam sejarah sebagai tempat persinggahan berbagai suku bangsa. Salah satu suku bangsa yang akan dibahas pada forum ini adalah Melanesia Indonesia. Hal ini berarti orang Melanesia yang hidup di Kepulauan Indonesia.

Melanesia (dalam bahasa Prancis La Mélanésie) secara literal artinya « pulau hitam » atau « les îles noires » tersebar memanjang dari Pasifik barat sampai ke Laut Arafura, utara dan timur laut Australia. Negara-negara yang termasuk ke dalam Melanesia yaitu:Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru dan Timor Leste serta Indonesia. Peta kawasan orang Melanesia di Indonesia adalah wilayah Papua, Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Dari catatan Antropologi menyebutkan bahwa untuk wilayah Maluku dan Nusa Tenggara Timur termasuk dalam mikronesia. Perhatikan peta penyebaran orang Melanesia yang dikutip dari Wikipedia Indonesia :

 peta-melanesia

Peta Kawasan Orang Melanesia

Nilai Masa Lalu Melanesia

Tema Tidore memang menarik karena semangat perdagangan rempah mengarungi hampir diseantero jagat, tetapi harus jujur dikatakan bahwa semangat itu menjadi porak poranda karena ada segregasi internal yang kuat diantara keempat kesultanan, Moloko Kieraha, dimana secara tidak langsung ada proses kanibalisme peran satu dengan yang lain. Hal ini tidak terlalu menonjol ketika hubungan dagang masih terjalin dengan bangsa alokton Cina dan Arab. Kedua bangsa ini masih menerapkan asas pembagian perdagangan yang seimbang. Keseimbangan itu bukan saja pada nilai tanaman yang diperdagangkan tetapi menyentuh pada hakekat manusia. Artinya itu dibuktikan dengan kedua bangsa ini masih mau berasimilasi dengan budaya setempat dan ada terjadi perkawinan diantara mereka, walaupun itu masih terbatas pada masyarakat kelas menengah ke atas.

Prahara mulai muncul ketika datangnya bangsa Eropa. Mengapa ? Mereka masih berpikir tentang superior dan inferior dalam komunikasi dengan autokton. Pada masa itu bangsa Eropa memang masih membangun habitat hidupnya dalam tembok-tembok besar dan membentuk perkampungan kecil (Prancis = hameau). Jadi hubungan asimetris berlangsung dalam perdagangan rempah. Ironisnya keempat kesultanan menjadi terlibat untuk berkolaborasi dengan mereka untuk saling menghancurkan.

Mari kita simak tentang terminologi Melanesia. Walaupun ada beda intepretasi diantara para pakar namun seyogyanya dianggap sebagai bahan untuk memperkaya khasanah sintesis dan analitis ilmu pengetahuan orang Melanesia Indonesia.

Pertanyaannya adalah mengapa para etnolog dan antropolog Eropa bisa menyebut Melanesia sebagai “pulau hitam” ? Tentu ini ada alasan yang kuat berdasarkan pengalaman mereka dalam perjalanan pelayaran mengarungi pulau di belahan timur Nusantara ini.

Pengalaman kami meneliti di Pulau Buru terungkap nama pulau itu oleh autokton diberi nama Bupolo. Diinformasikan lagi bahwa datangnya orang Portugis menyebutnya “Burro”. Ini adalah informasi lisan dari lapangan riset oleh para responden. Informasi ini harus diolah dan diintepretasi berdasarkan data yang akurat. Kami menelusuri di perpustakaan Leiden dan Lisabon. Ditemukan peta yang dibuat oleh Portugis pada tahun 1613. Burro dalam bahasa Portugis artinya keledai dan expresi orang Eropa kepada orang bodoh disetarakan dengan binatang keledai. Hal ini terjadi karena Portugis selalu mendapat penolakan saat mereka ingin berkomunikasi dengan masyarakat. Orang Bupolo ketika itu lebih memilih menutup diri dengan menghilangkan jejak dan masuk ke hutan. Akibatnya pemukiman kosong dan gersang yang senantiasa menyambut kedatangan Portugis dan pasti dialami pula oleh orang Eropa lainnya.

Milieu yang kosong dan gersang seperti ini menginspirasi mereka menyebutnya sebagai l’île noire. Itu beda jika orang Prancis menyebutkan « le noir », karena itu dialamatkan kepada warna kulit manusia yang hitam, tetapi jika disebutkan « les gens noir » berarti manusia tahyul dan jahat.

Tanaman Melaleuca, yang mengandung cineol seperti kayu putih dan merupakan tanaman asli yang tumbuh di Pulau Buru, terdiri dari dua kata dalam bahasa Yunani : melas noir (hitam) dan leuco blanc (putih). Mengapa diberi nama demikian padahal lapisan kulit tanaman kayu putih berwarna putih. Hal ini karena ritual kayu putih di Pulau Buru harus dibakar untuk kemudian mereka bisa dapatkan tunas muda setelah dibakar tadi. Tentunya hamparan kayu putih setelah dibakar maka akan tampak berditi kokoh batang tanaman yang berwarna hitam. Mengingat kambium tanaman ini dibungkus dengan kulit pohon yang tebal maka setelah dibakar pada tahap berikutnya akan muncul tunas muda.

Hal yang sama sekali tidak boleh dikesampingkan adalah catatan sejarah dalam zaman prehistori, persebaran manusia hanya bisa diidentifikasi pada bekas perkampungan. Orang Melanesia memiliki ciri perkampungan yang khas dan para ahli antropologi menyebut sebagai “tempat-tempat perlindungan di bawah karang” (abris sous rôches). Tempat-tempat itu merupakan karang-karang atau gua-gua dengan himpunan tanah pada dasarnya dan selalu mengandung bekas-bekas peralatan. Beberapa kelompok orang Melanesia juga memilih pohon sebagai tempat perlindungan tubuh.

Sisi lain dari orang Melanesia adalah masih melakukan praktek berburu dan meramu hutan. Para etnolog menyimpulkan bahwa orang Melanesia belum mengenal sistem bercocok tanam. Hampir semua flora yang tumbuh adalah atas kehendak alam. Jadi hamparan hutan belum ada campur tangan manusia. Tanaman rempah pada umumnya tumbuh secara alami. Adanya anthropophise (campur tangan manusia) saat perdagangan rempah mulai dicari oleh para pedagang dan terjadilah pertukaran tanaman yang dibawa oleh para pedagang dan momentum ini diikuti dengan saling membagi pengetahuan bercocok tanam, baik tanaman setahun maupun tanaman tahunan.

Sistem kekerabatan orang Melanesia sangat terbuka dan ini merupakan ciri khas orang pulau yang senang menerima tamu yang tiba di pesisir pantai. Sistem yang dibangun berdasarkan konsep rumah atau tempat tinggal, abris sous rôches .

Sistem kemasyarakatan yang dibangun masih berorientasi pada nilai hubungan dengan alam. Kami tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup salah satu kelompok orang Melanesia yang mendiami Pulau Buru di Maluku dan juga merupakan bagian dalam jaringan Kesultanan Tidore. Mereka adalah orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru rata-rata memiliki minimum dua bialahin dan maksimum sembilan bialahin. Masing-masing bialahin hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu. Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

Tanaman sagu merupakan kemurahan Sang Pencipta yang diberi kesempatan hanya tumbuh sebagai tanaman asli di Maluku selanjutnya berkembang ke Papua, namun dari yang mengkonsumsinya hanyalah orang Bupolo yang mampu memaknainya dalam kesatuan hidup mereka.

Untuk jelasnya mari kita lihat Gambar 1 berikut ini :

rumpun-sagu

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah penampilan bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya. Dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa tepung sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti lagi. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

Nilai Orientasi Kekinian dan Masa Depan

Harus disadari secepat mungkin bahwa perkembangan ilmu humaniora di Indonesia khususnya antropologi budaya, etnologi, dan ilmu sosial lainnya (ilmu hukum dan sejarah) dimana ilmu tersebut disajikan untuk mempelajari dan menganalisis kehidupan suku bangsa, manusia dan masyarakat; dilakukan oleh orang Belanda dan untuk kepentingan orang Belanda. Dalam analisisnya masyarakat Indonesia diposisikan sebagai masyarakat yang primitif. Hal ini berarti bahwa ilmu itu tidak lain adalah ilmu orang penjajah untuk mengenal cirri-ciri orang yang dijajah.

Persoalan menjajah dan dijajah pada masa kini mengalami metamorphosis tetapi substansinya dan spiritnya tetap sama yaitu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Jika orang Melanesia Indonesia merasa belum merdeka dan tetap dijajah dalam seluruh aspek dan relung kehidupannya maka seyogyanya diurai bagaikan mengurai benang kusut, dengan terlebih dahulu memeriksa simpul yang ada didalam orang Melanesia Indonesia sendiri. Kita hanya bergumul dengan dua isu besar yaitu (1) masalah ketegangan antara suku bangsa Melanesia Indonesia, dan (2) masalah minoritet.

Masalah ketegangan masyarakat sebagai akibat akulturasi atau perubahan kebudayaan itu merupakan suatu masalah yang amat kompleks. Dalam proses sosial dewasa ini sebenarnya kehidupan dari suatu kebudayaan dikacaukan oleh unsur-unsur kebudayaan baru dan asing. Proses perubahan ini menyebabkan bahwa norma dan nilai lama dalam kebudayaan Melanesia yang terbentuk sejak awal tidak lagi berguna dalam zaman modern ini. Orang-orang yang hidup berdasarkan nilai-nilai lama tersebut akan mengalami frustasi, kebingungan dan penuh keraguan akibatnya tindakan-tindakannya akan menimbulkan berbagai macam ketegangan dalam masyarakat.

Dialog hari ini seyogyanya menghasilkan sesuatu yang penting dan dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat. Untuk maksud itu kami ingin mengajukan beberapa pendapat yang pada gilirannya akan membawa orang Melanesia Indonesia menjadi orang yang mengerti dan memahami budayanya.

(a)    Dibentuk suatu forum pakar Melanesia Indonesia. Forum ini untuk menghimpun para pakar Melanesia Indonesia yang bisa mengembangkan topik riset sehingga nantinya akan bermanfaat mengembangkan masyarakat kea rah hidup yang lebih sejahtera.

(b)   Mendirikan Pusat Kebudayaan Melanesia dimana pusat tersebut berada pada koordinasi pemerintah kabupaten/kota diIndonesia dan untuk negara-negara Melanesia pusat kebudayaan berada dibawah koordinasi Kementerian Luar Negeri setempat. Dalam pusat ini akan dikembangkan pula sastra dan bahasa Melanesia.

(c)    Mendirikan Museum Melanesia Indonesia pada setiap provinsi.

(d)   Menyukseskan program Maritim Nasional, maka seyogyanya dibangun perusahaan pelayaran Melanesia yang bisa terkoneksi dengan Toll Laut.

 

Epilog

Orang Melanesia Indonesia sejak dahulu telah salah menempatkan posisi dirinya. Di satu sisi negara ini disebut Negara Kepulauan (Archipelago) tetapi di sisi lain tidak mau mengakui identitas sebagai orang pulau. Itu akibat dari kungkungan berpikir yang dengan tegas membagi Indonesia atas dua pola usaha pertanian yaitu « Inner Indonesia » dan « Outer Indonesia ». Kawasan Barat Indonesia dikelompokkan dalam Inner Indonesia cirinya pertanian menetap dengan komoditas padi sawah. Sedangkan Outer Indonesia untuk Kawasan Timur dengan pola usaha ladang berpindah dan berburu. Yang lebih parah adalah kawasan barat menyatakan diri sebagai wilayah kontinental dan dari sanalah keputusan politik semua sektor dirancangkan. Tidak heran kalau hasil keputusan akan mengabaikan ciri khas wilayah di luar kawasan barat, seperti misalnya keunikan wilayah Provinsi Maluku sebagai wilayah yang bertahtakan gugusan pulau-pulau kecil.

Dari keadaan fisik alam Melanesia Indonesia dan yang memiliki ciri kepulauan, dapat kita lihat bahwa pulau-pulau bertebaran dan laut yang menghubungkan satu pulau dengan pulau yang lain. Padahal jika kita bandingkan dengan wilayah Papua, walaupun hanya satu pulau saja tetapi yang memisahkan pola pemukiman orang Papua adalah ruang gunung, lembah dan sungai dimana keadaan ketiga ruang ini tak pernah ramah. Orang Papua melihat ketiga ruang tersebut layaknya orang Maluku memandang laut.

Jendela pandang Orang Pulau adalah laut dimana bertahtakan pulau-pulau sehingga konsep yang dikembangkan adalah konsep laut-pulau. Artinya keduanya tidak dapat dipisahkan. Ciri khas pulau yang ada di Maluku yaitu memiliki garis pantai yang panjang dengan luas dataran yang sempit.

Ciri orang pulau adalah selalu menerima orang luar dengan senang hati, karena setiap pendatang yang singgah di pantai adalah tamu yang harus disambut (welcome). Jika ada yang tidak berkenan maka biasanya orang pulau akan menyembunyikan diri di hutan. Ini adalah bentuk penolakan. Oleh sebab itu orang pulau sering dinobatkan dengan istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang dan alifuru[2]. Aktivitas orang pulau di darat selalu dilakukan mengikuti fenomena alam dan kearifan ini adalah untuk memuliakan ruang pesisir dan laut.

Berdasarkan kondisi nyata geografis wilayah Melanesia, seyogyanya menjadi pertimbangan kuat dalam menetapkan pembangunan politik pertanian di daerah ini. Ide untuk « membangun Maluku dan Indonesia dari laut » harus diikuti dengan studi monografi yang sangat mendalam menyangkut lingkungan, waktu, ruang dan masyarakatnya. Seperti misalnya studi yang kami lakukan di Pulau Buru menunjukkan bahwa orang Buru tidak 100% menggantungkan hidupnya dari laut. Mereka adalah orang gunung yang bermukim di pesisir pantai. Mereka menyandang profesi bivalen sebagai petani dan nelayan, bahkan kegiatan meramu hutan lebih banyak dikerjakan. Ini pilihan yang sangat rasional karena keadaan laut di Maluku senantiasa tidak pernah ramah pada periode tertentu. Untuk itu keberadaan ekologi daratan harus menjadi prioritas pelestarian, yang pada gilirannya bisa memberi dampak langsung yang positif terhadap ekologi laut.

Otonomi daerah harus dilihat sebagai suatu kesempatan untuk mengangkat daerah dari keterbelakangan dan ketertinggalan supaya mampu bersaing secara maksimal dan global. Dalam dunia bebas ini saingan bukan lagi « The survival of the fittest » ,tetapi « The survival of the innovater ». Karena itu sangat diperlukan « innovator » dari anak bangsa yang mampu mengangkat asset unggulan lokal baik asset komoditas maupun asset teknologi masyarakat (indegenous technology) dan pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) menjadi unggulan nasional dan global. Pembangunan ekonomi wilayah harus didasarkan atas keunggulan yang dimiliki daerah, maka ekonomi yang terbangun akan memiliki kemampuan daya bersaing dan berdaya guna bagi seluruh rakyat. Innovator itu harus bertindak sebagai burung elang mencari buruan yaitu dengan visi yang jelas dan tajam, bertindak cepat dan tepat sasaran (jelas, tajam, cepat, tepat).

 

Daftar Pustaka

1. FRIEDBERG, Claudine, 1996. Forêts tropicales et populations forestières: quelques repères. Natures – Sciences – Sociétés 4(2). Elsevier, Paris, pp.155-167.

2. PATTINAMA Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.



[1] Etnobotanist dan Guru Besar Ekologi Manusia Universitas Pattimura Ambon.

[2] Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

Resource Potential Of Snake Fruit (Salacca zalacca var Amboinensis) And Canary (Canarium Amboinense) In The Life Of Seram Island Society, Moluccas

salak-kenari

Marcus J. Pattinama1*), Aryanto Boreel1), Jane K. J. Laisina1), and Handy E.P. Leimena2)

1) Faculty of Agriculture, Pattimura University, Ambon, Indonesia

2) Faculty of Science, Pattimura University, Ambon, Indonesia

*) Corresponding author:mjpattinama@gmail.com

 

 

AbstractStrategic issues in this research are food security and poverty alleviation in the life of society in Ceram island who called themselves Alune People and Wemale People. They stated that snake plant and canary are endemic and native plants in this region. This is because both of these commodities have been around since ancient times can not be separated in their lives and  cultures. Thus the potential of the plant needs to be known for the economic development of this region, but also the tradition of community life should be studied in relation to both commodities through traced study in ethnobotany. Found in the field in addition to the ivory-colored snake fruit fruits, is also red snake fruit. The issue of food security and poverty alleviation can then be solved by strengthening the development of agribusiness basis of snake fruit and canary, where the idea is an effort to strengthen the bargaining position of the society in Ceram Island in Maluku where traditional farming systems are still being practiced. This means that this two commodities is growing through the mediation of the animals in the forest and there is no action by human cultivation. Snake fruit commodity in Ceram island has been established by the Decree of the Minister of Agriculture republic of Indonesia in 2003 as National Superior variety, but the fact is that the development of the cultivation is poor  and production  could not be relied upon as an industrial raw material. The objectives of this research was to make both commodities as superior commodities which have economic added-value that deserved by Ceram communities.

Keywords—food security, snakefruits, canary, seram island

I.     INTRODUCTION

1.1.  BACKGROUND

Society as dynamic social problems continue to be influenced by both external and internal factors . Case study in ceram island tried to present how  resistanc of indigineous people (Alune and Wemale People ) reacts to enclose  various external influences, starting with the presence of migrants from Java island in 1954 at Kairatu . On the other hand, Ceram people feel threatened because their property right to their land  had been deprived due to geopolitical issues that are not necessarily well understood by neither the migrants nor by the Ceram people. Later on, the presence of forest exploitation by logging companies and plywood mills . Are there benefits to Ceram people ? They have not been able to work in this industrial sector, and eventually  ceram people become isolated and inferior.

Understanding society and solving social problems is not a simple concept . This means that participation of universities as Unpatti is needed to give more significantly contribution through  research and community service  that is well planned and aplicable.

Ceram people who live in the mountains have abundant natural resources such as canary and snake fruit commodities.  Both of these plants grow wild in the forest. Although in 2003 the Ministry of Agriculture Republic of Indonesia has been given an official certificate to “Salak Riring” as national superior variety, however what does it mean to them? if it does not provide a significant economic impact. All Ceram people have a dream that when canary and snake fruit became famous for having a distinctive flavor with good packaging. Pillar agribusiness from upstream to downstream must be built to ensure the stock of market demand, good product quality and guarantee of an open market for their products.  The emergence of supermarkets in Ambon city and soon will be reaching Ceram island is an economic opportunity that  must be anticipated. It will be linked to the concept and model of community empowerment that should be pursued seriously.

 

1.2. OBJECTIVES AND ADVANTAGEOUS OF THE RESEARCH

                Recently multidisciplinary research is needed to solve many environmental problems which intersect with social problems. Issues that has not been completely addressed until now are the problems of poverty and food security. Both of these issues will greatly affect the pattern of environmental management in both rural and urban areas.  The objectives of this research was to find a package of technologies that able to improve the productivity and product quality, such as the appropriate technologies to unshelled canary fruit  and how to make snake fruit commodity towards snake fruit chips industry.  Then build agribusiness pillar of canary and snake fruit  that start by managing the upstream production of raw materials as well as setting up downstream  with the post-harvest technologies based on domestic industry.

This study was expected to provide benefits for building families economic and poverty alleviation. In addition it will also provide reinforcement to the concept of food security in the community so that snake fruit and canary can provide energy to the community to sustainthe level of food sufficiency.

I.     methods

This research is a review of participatory acts (participatory action research). In this case, this research used a systemic approach with focused discussion, field observation and in-depth interviews. Questionnaire instruments were used in the survey.  Focussed discussions was conducted by interviewing government officials , traditional leaders and key respondents in each  kinship group.  This was done to look for information related to customs and land tenure which generally not certified yet customarily recognized as well as  social economic  capitals which are  still subsistence. Aspects being observed this research were Ethnobotany, Culture techniques  (Land Systems , Plant Cultivation , Agroclimate ) and  Post Harvest Technology. Observations were also done on Economic and Social aspects and  data collection of  the potencial of commodities

II.     data analyses and interpretation

These five research areas (Uweth , Buria , Riring , Rumahsoal and Lohiasapalewa villages)  included in the District  Taniwel, West Seram Regency, Maluku Province. Located in the mainland and only separated by a river and mountains. The research area is  located in isolated mountainous areas.

 

 

 peta-maluku

 

Figure 1. Map of Moluccas; Field Study Seram Island

 

Accesibility of a region is  affected the region development significantly, where regions with high levels of accessibility has a faster rate of development compare to  the region with lower accessibility. Accessibility to the research site is difficult since it should be reach by walking in long distance, except for Uweth village which located on the coast within 3 ( three ) Km to the capital of the Taniwel District.

Population in the study area are mostly natives of the Alune tribe. Data of  registered population in 2011, with a population density of 18.98 people per km2.

TABLE I.

POPULATION DENSITY IN RESEARCH AREA IN 2011

Village

Household

Number of population

Total

Male

Female

Uweth

75

205

167

372

Buria

120

312

350

662

Riring

172

393

352

745

Rumahsoal

47

134

127

261

Lohiasapalewa

58

157

137

294

Based on the observed data in the field in the village monograph, the percentage of the working age population in the Buria village showed the highest number followed by Riring, Uweth , Rumahsoal and Lohiasapalewa villages . The population of productive age in the study area is very large , however it can not be denied that not all residents of this age are working or have a job . Education of the head of family in the region dominated by the primary school level . Agriculture is the main livelihood of the population in the study area , while the non-agricultural sector occupied only by a small portion of the population in the region (Pattinama, dkk, 2013).

Social relations in the society is still well established, it could be seen from the culture of helping each other, which is still maintained until now. Traditional institutions in the form of local knowledge in the study area which are still carried from generation to generation is environmental ”SASI”. In practice, the opening of SASI by farmers is marked by a splash of water fortified with prayers by religious leaders ( pastors ) with rules that have been agreed institutionaly. Thus the people in the study area generally have awareness of and benefit from the natural resources available. This does not mean that society / the locals closed to the presence of technology or changes comes from outside, but the people believe the natural environment should be maintained  for the sustainability of  biological resources for future generations (Pattinama, 2007)

                Canary is one of native commodity in Maluku province with huge potency. The problems encountered today is the unavailability of sufficient data to describe the distribution of  its potential in the Maluku . This research was conducted as  an effort to develop a  canary potential in a few villages in the mountainous region in the district of Taniwel, West Seram  Regency.

Data collection of canary potential  was done by purposive sampling based on the distribution of canary found at the reseacrh sites.  Lines of observations was made and adjusted to the local topography . In those lines of observations  a plot size of 20 meters x 20 meters was made and the dimensions of canary tree including diameter and height were measured and recorded.

Based on the results of an inventory conducted at the research site, it was found that  the most canaries tree was found in Riring village as many as 81 trees/ha, followed by 57trees/ha in  Uweth village.  Distribution of the least canary trees was found in the village of Rumahsoal as much as 23 trees / ha. Distribution of tree diameter measured on research site ranged from 11.5 cm to 134.4 cm and the height of tree without branches can reach 30 meters. The calculation of the volume of canary trees showed that volume of tree without branches ranged from 36.621 m3/ha to 298.882 m3/ha. Data inventory of potential locations of canary trees in the study area was presented in Table 2.

TABLE II.

INVENTORY OF POTENCY OF CANARY TREE IN RESEARCH AREA

No

Village

Number of Tree (N/ha)

Diameter

(cm)

Heihgt

(m)

Volume*)

(m3/ha)

1.

Uweth

57

11,5 – 122,5

10 – 30,4

79,011

2.

Buria

28

20 – 105

9 – 25

36,621

3.

Lohiasapalewa

50

21,5 – 63,5

5,5 – 12,6

44,309

4.

Rumahsoal

23

54,2 – 149,8

7,3 – 22,5

232,265

5.

Riring

81

42,5 – 134,4

10,6 – 22,7

298,882

*) Tree volume without branches.

It had been shown in table 2 that the canary trees found  in research areas  have a large  size, so that the utilization of timber and fruit will be very valuable (Djandjouma, dkk, 2006). However,  the sustainability of results and continuity of production should be maintained , through silvicultural measures in accordance with the carrying capacity of the land.

 salak-kenari

         (a)                                                        (b)

Figures 2. Canary (a) and Snake Fruit (b)

Snake fruit is one of essential commodity for mountain communities in the study areas. Data collection of snake fruit potency was collected using purposive sampling by considering the presence of plant distribution at the study site. In the areas where snake fruit tree were found Lae plots of 20 meters x 20 meters or 400 m2 was made and observations was done on the trees.

From the results of the inventory of snake fruit in research area, the highest number of trees of 293 clumps was found in Rumahsoal village , followed by  225 clumps in  Buria village. The lowest number of trees of 48 clumps was found in Lohiasapalewa village  in Uweth village snake fruit trees were not found. When viewed from the average number of clumps per hectare , Riring village had the highest number which was 3450 and 4000 clumps / ha , followed by Rumahsoal village as  many as 1465  clumps / ha . Lowest number of clumps found in the village of Lohiasapalewa  which was 415 clumps/ha . Inventory data of potency of snake fruit tree at the study site is shown in Table 3 (Pattinama, dkk. 2012)

TABLE III.

INVENTORY OF POTENCY OF SNAKE FRUIT TREE IN RESEARCH AREA

No

Village

Number of Tree

(Clumps)

Number of Clumps per Plot*)

Average Number of Clumps

(R/ha)

1.

Uweth

 

 

 

2.

Buria

225

20 – 100

1406

3.

Lohiasapalewa

48

1 – 79

415

4.

Rumahsoal

293

42 – 73

1465

5.

Riring

138**); 160***)

138**; 160***)

3450**); 4000***)

*) Size of sample plot (20 x 20) m, **) Red Snake Fruit, ***) Ivory Snake fruit

Potency of snake fruit tree in Lohiasapalewa village was low due to the distribution of plants which was very few , and only owned by a few farmers which were parents or ancestral heritage. On the other hand, most people have not been interested in planting and cultivating of  snake fruit crop (Sudaryono, 1993).

III.     Conclusion

Ceram People in inland of Ceram island is a shifting  land communities, who are forest gatherers, living isolated and completely depend on nature. Nature is a laboratory of their lives in the past ,  present and in the future .

Ceram people living in harmony with nature . Knowledge to manage environment was carried on from generation to generation by verbal description only.  Obedience to nature form point of view that the universe is something which gave inspiration to deliver the concept of holistic and concept of totality in managing resources and their interactions with other living things. That means that the whole concept of the life space that mountain , beach and the sea are inseparable . This understanding begins with their very strong views to the concept of mountain and wate , which deliver  the concept of an orderly way of life and to continue to be believed from one generation to the next.

From long fallow cultivation, it appears that they have the wisdom to manage natural resources as a source of food for life.  The diet of Ceram people describe that they are relatively not lack of food . Even the type of food consumed  have  high carbohydrate (sago) , protein ( pork , Kusu , deer , shrimp and fish ) as well as other vitamins ( vegetables) .

If the measure of poverty used is based on the ability to fulfill family food consumption , then the ceram people is not included in the category of the poor. Poverty of Ceram people  as a autcton resident and so did other alokton population residing on the island of Seram, is a  feeling of isolated due to  mechanisms , systems , and regional and national government policies which in turn makes them shackled in that isolation . Yet the reality on the field proves both autocton and alocton  residents are people who are not isolated , because they are always in touch with the outsider because of the trade . For example, they can communicate regularly with inter-island traders and other migrants who came freely use sea transportation.

So the traditional economic pillars of Ceram people is relatively strong and indigenous kinship system is still maintained because of their orientation to the cosmology world. Ceram island in the shape of a woman body and all of her organs is representatived by territory which is clearly divided and controlled by each kinship . That way it will ensure the orderly of their lives for the sake of exhausting work to the life of  the island called Ceram . Obedience to the tradition because there is a strong accord that is the orientation of the whole universe and not partial so all must be protected simultaneously and at the same time also constructed system of norms to regulate the whole order of life . Therefore, the traditional economic pillars of Ceram people  increasingly strengthened so that they become obedient to the their customs.

References

[1]     A.K.A. Dandjouma, C. Tchiegang, J. Fanni and M. Parmentier, Changes in Canarium schweinfurthii Engl. oil quality during microwave heating . Resecrah Paper.  European Journal of Lipid Science and Technology.  108 (5): 429-433, 2006.

[2]     E. Kriswiyanti, I. K. Muksin, L. Watiniasih Dan M. Suartini, Pola Reproduksi Pada Salak Bali (Salacca zalacca Var. Amboinensis (Becc.) Mogea). Jurnal Biologi XI (2): 78-82. 2008

[3]     M.J. Pattinama, dkk, Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku : Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti. 2007.

[4]     T. Sudaryono, S. Purnomo, M,. Cultivar distribution and estimation of area development of Salacca (in Indonesian). Penel. Hort., 5, 1-4. 1993

[5]     M.J. Pattinama, H.E.P. Leimena, A. Boreel and J.K.J. Laisina, Pengembangan Agribisnis Komoditas Kenari (Canarium amboinense) dan Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Sebagai Upaya Memantapkan Posisi Tawar Ekonomi Serta Memperkuat Ketahanan Pangan Bagi Masyarakat Wilayah Pegunungan di Maluku. Laporan Penelitian Penprinas MP3EI. 2012

[6]     M.J. Pattinama, A. Boreel, H.E.P. Leimena, and J.K.J. Laisina, Pengembangan Agribisnis Komoditas Kenari (Canarium amboinense) dan Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Sebagai Upaya Memantapkan Posisi Tawar Ekonomi Serta Memperkuat Ketahanan Pangan Bagi Masyarakat Wilayah Pegunungan di Maluku. Laporan Penelitian Penprinas MP3EI. 2013.


 

CDM REDD FOREST FISIOLOGI POHON EKOLOGI HUTAN MATERI KULIAH SIG KEHUTANAN SILVIKULTUR KOTA AMBON