ORANG BUPOLO DI WAEKEN

pulau-buru

Orang Bupolo di Waeken[1]

Oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[2]

Uraian singkat

1) Tulisan ini dikerjakan sebagai pemaparan ide dan pemikiran dalam suatu diskusi yang diselenggarakan oleh suatu lembaga swadaya masyarakat yang punya peduli ingin memberdayakan masyarakat di Pulau Buru, khususnya di selatan pulau tersebut. Di satu sisi, kami sangat menghargai maksud dan tujuannya karena memang masyarakat di sana sangat membutuhkan sentuhan program pembangunan agar mereka juga dapat merasakan pembagian kue pembangunan nasional yang juga setara seperti yang dirasakan oleh kelompok masyarakat lainnya di nusantara ini. Apalagi orang Bupolo pada umumnya hidup pada habitat di daerah pegunungan yang relatif sulit dijangkau untuk berkomunikasi. Sedangkan di sisi lain, kami ingin memberikan sebuah gagasan yang diperoleh berdasarkan pengalaman kami hidup bersama orang Bupolo selama kurang lebih dua tahun dalam rangka merampung studi kami dalam bidang ethnobotani.

2) Kami menggunakan terminologi orang Bupolo untuk menamakan masyarakat yang mengaku sebagai orang asli dan pemilik Pulau Buru. Istilah Bupolo sendiri adalah nama mula-mula dari Pulau Buru. Ada sejarah yang mengisahkan perubahan nama ini dan orang Bupolo mampu menceritakannya dalam cerita da bapoloh dan Bupolo Waekolo. Boleh disebut sebagai mitos tetapi yang paling penting sebagai peneliti adalah bobot pesan yang terkandung di balik kisah tersebut, sehingga analisis ilmiah terhadap masyarakat ini akan lebih lengkap dan utuh. Dengan begitu kita akan lebih memahami pikiran masyarakat dan kebijakan apa yang dapat diterapkan untuk lebih mendekatkan orang Bupolo berpartisipasi dalam program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Untuk itu kami putuskan menyebut masyarakat asli Pulau Buru sebagai orang Bupolo.

3) Pulau seluas 10.000 km² setara Pulau Bali, dahulu tiga kecamatan dengan administrasi pemerintahan dibawah Kabupaten Maluku Tengah. Kemudian hembusan angin reformasi menjadikannya Kabupaten Buru dengan ibukota Namlea. Kabupaten Buru saat ini terdiri dari 10 kecamatan di pesisir pantai dan direncanakan menambah lagi satu kecamatan untuk melayani administrasi pemerintahan di daerah pegunungan. Dan punya Bupati pertama (Hentihu = henatihu, yang terakhir, bongso) dari keturunan Raja Lisaboli Lisela.

4) Pengalaman kami hidup dengan orang Bupolo di sentral Pulau Buru yaitu di suatu tempat yang mereka sebut Rana lalen yaitu daerah seputar danau Rana Waekolo dimana terdapat danau itu sendiri dan Gunung Date. Kedua tempat yang sangat sakral ini dipelihara utuh karena disinilah letak jati diri orang Bupolo. Mereka yang tinggal di situ dengan jujur selalu mengatakan bahwa tempat ini adalah milik semua orang Bupolo, kami hanya sebagai penunggu bahkan orang pendatang yang telah menyebut diri sebagai orang Buru juga memiliki tempat ini, karena mereka turut berpartisipasi dalam memelihara kesakralan Rana dan Date. Istilah rana sebenarnya berarti telaga sehingga kalau kita menyebut danau rana sebetulnya mengandung arti « redundant ». Oleh sebab itu orang Bupolo selalu menyebutnya Rana saja atau Rana Waekolo. Melewati masa tinggal yang relatif panjang diantara kehidupan orang Bupolo, suatu ketika ada seorang pemangku jabatan adat (Mrimu Waekolo dan Porwisi Waekolo) datang berdiskusi dengan kami, tentunya menggunakan bahasa Buru yang telah kami terjemahkan seperti tertulis ini. Beliau mengatakan demikian : « Céciletama, kenapa orang di lao itu selalu mengatakan katong orang Buru ini kafir dan dorang bilang katong selalu jahat ». Kata sapaan dalam internal pergaulan sesama orang Bupolo maupun dengan orang luar yang sudah dianggap dekat dengan ritme pergaulan mereka maka istilah untuk menyapa orang akan menggunakan « tahin tama » artinya menyapa orang berdasarkan nama anak yang tertua kemudian diikuti kata tama untuk laki-laki dan tina untuk wanita, jadi karena anak kami yang tertua bernama Cécile, sehingga disapa Céciletama sedangkan istri kami akan disapa dengan Céciletina. Ini hanya baru satu aspek saja yaitu soal kata sapa-menyapa yang ingin kami kemukakan sebagai contoh dari pernyataan mereka di atas. Orang di lao berarti orang luar yaitu mereka yang pendatang baik yang sudah lama menetap maupun yang baru datang. Orang Bupolo menyebut kelompok ini dalam bahasa mereka adalah Geba misnit atau Geba nyosot. Jadi yang menarik bagi kami dan ingin disampaikan adalah bahwa orang Bupolo sangat mengerti apa reaksi orang luar tentang kehidupan mereka. Intinya bahwa sebenarnya orang luar mau menilai mereka dengan ukuran yang dipakai oleh orang luar padahal dan memang sangat paradoksal bahwa orang Bupolo sendiri memahami orang luar bukan dengan konsep mereka tetapi mencoba untuk menggunakan konsep orang luar tersebut dan memahaminya. Seperti kata « kafir » dan « jahat » adalah suatu kata yang menurut pandangan kami sudah menghakimi dan menyudutkan orang Bupolo. Seolah-olah kita mengganggap mereka sudah tidak manusiawi lagi bahkan bodoh. Kata-kata yang lain seperti terasing, pemalas, belakang tanah, alifuru … adalah kata-kata yang sering orang luar alamatkan kepada orang Bupolo.

5) Tidak hanya terbatas pada cara dan pandangan hidup orang Bupolo yang sama sekali tidak mau dimengerti oleh orang luar tetapi sampai pada cara mengolah sumberdaya alam yang mereka praktekkan misalnya sistem pertanian yang dikerjakan orang Bupolo. Kadang kita lupa bahwa apapun yang dikerjakan oleh seorang peladang atau petani adalah merupakan suatu keputusan yang rasional. Artinya bahwa kita harus memahami bahwa apapun sistem dan cara kerja yang dilakukan oleh orang Bupolo haruslah kita terima sebagai suatu keputusan yang rasional pula. Sebagai lembaga pendidikan tinggi katakanlah lembaga pendidikan tinggi pertanian sering kita juga tidak mampu memahami dan tidak mau memahami apa yang dikerjakan oleh peladang dan petani. Kita selalu berasumsi bahwa nanti kita yang datang untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada peladang atau petani. Sehingga metode kerja seperti demostrasi plot yang selama ini dianut oleh lembaga penyuluhan pertanian dan lembaga pendidikan tinggi pertanian adalah cerminan bahwa kita hanya memposisikan diri kita bahwa yang paling benar dan paling tahu. Kita lupa bahwa peladang dan petani mempunyai ketrampilan yang sangat luar biasa. Yang seharusnya kita belajar dari peladang atau petani kemudian mengkaji, menganalisis dan mengadakan penelitian ; baru setelah itu kita dapat memberikan rekomendasi yang tepat kepada peladang atau petani. Ini prinsip ilmiah yang ingin kami berikan sebagai pedoman kerja berdasarkan pengalaman kerja kami di Pulau Buru dan juga berdasarkan pengalaman kami selama bertahun-tahun mengikuti pendidikan, dimana perbandingannya kami juga peroleh dengan belajar bagaimana cara yang digunakan oleh Pemerintah Perancis dalam membangun masyarakat pada beberapa negara seperti negara-negara di Afrika, Korea Selatan, Thailand, India, Indocina, dan negara-negara di Amerika Selatan. Konsep barat misalnya R & D (Research and Development) menurut hemat kami sering salah diterapkan oleh para pakar di Indonesia (=mudah-mudahan kami tidak menghakimi). Ini suatu konsep yang sangat mahal karena harus melakukan penelitian yang mendalam baik mandiri maupun institusi. Mengapa kami katakan demikian karena bagi kita di Indonesia R&D ini kita pikirkan sebagai suatu proyek yang dapat mendatangkan keuntungan. Kami juga pikir ini ciri khas berpikir orang di Negara Berkembang dan itu juga suatu bagian dari cara berpikir yang rasional. Sehingga watak dan perilaku kita yang begini menjadi inferior dimata orang asing (=barat) dimana motivasi kerja mereka untuk hal yang satu ini sangat jauh berbeda yang ditampilkan oleh kita. Mengapa berbeda?, kami tidak banyak mengulas pertanyaan ini tetapi yang ingin kami tegaskan bahwa suatu penelitian adalah suatu penelitian saja. Dimana kegiatan dimaksud harus serius dilaksanakan.

6) Pada akhir dari kegiatan penelitian, peneliti mampu menyajikan suatu rekomendasi dan pihak yang paling banyak membutuhkan rekomendasi itu adalah pemerintah dan pihak swasta. Tugas pemerintah hanya satu yaitu membangun infrastruktur dan setelah itu baru pihak swasta yang diminta untuk berinvestasi. Ini suatu siklus yang sudah mapan berlangsung dan merupakan suatu sistem yang hanya dipraktekkan oleh Negara Maju. Jadi sistem mereka sudah seperti rangkaian roda gila. Sekarang bagaimana kenyataan di Negara Berkembang seperti Indonesia ini bahkan bagaimana di Pulau Buru ? Rangkaian itu belum tersusun sehingga kita harus bangun dan bagaimana caranya ? Menyimak apa yang ingin dikerjakan oleh Lembaga Pengabdian pada Masyarakat UNPATTI di Buru Selatan maka ingin kami usulkan bahwa alangkah bijaksana jika kegiatan tersebut dipusatkan di suatu tempat yang bernama Waeken. Untuk lebih jelas tentang lokasi dimaksud bisa dilihat pada peta yang kami sajikan berikut ini.

Peta-Pulau-Buru

Peta Pulau Buru dengan Waeken (Sumber peta: Pattinama, 2004)

7) Mengapa Waeken ? Kami pernah diundang oleh Klasis GPM Buru Selatan untuk memaparkan ide membangun masyarakat di Buru Selatan. Kami tidak tahu harus mulai dari mana. Saat Sidang Klasis kami mengajukan pertanyaan kepada 20 peserta tentang bagaimana pengalaman mereka berusaha untuk hidup dan dimana daerah yang baik untuk dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan pengembangan ? Akhirnya kami berupaya untuk membuat kuesioner yang sederhana agar mereka bisa mengisinya hanya untuk mengetahui tanaman apa yang telah mereka usahakan dan tanaman apa yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang? Mereka sepakat untuk Waeken ditetapkan sebagai titik pengembangan. Jadi lokasi itu ditentukan oleh mereka. Kemudian kami sendiri berinisiatif untuk datang ke Waeken dan hidup diantara masyarakat di sana. Waeken saat ini hanya dihuni oleh 10 rumah (Data primer tahun 2003). Setelah kami menelusurinya ternyata dahulu (sekitar tahun 1950-an) kampung ini dihuni oleh 100 lebih rumah. Dan ini kampung milik orang dari marga Biloro. Mereka terpaksa harus meninggalkan Waeken karena menurut cerita bahwa dahulu warga kampung ini terserang penyakit kutukan yang telah membunuh banyak orang. Penyakit itu berasal katanya dari Tuhan karena mereka pernah mengusir seorang pendeta yang berasal dari Ambon dan sebelum meninggalkan kampung ini pendeta tersebut berdoa. Untuk itu dalam pikiran mereka usir pendeta dan doanyalah yang membuat mereka sebagai orang-orang yang dikutuk. Bahkan Waeken dijadikan sebagai contoh dalam pelayanan misi gereja bahwa kalau usir pendeta akan dikutuk. Ini yang membuat posisi pendeta makin kuat sekali bahkan masyarakat akan lebih mendengar suara pendeta daripada seorang kepala adat. Nilai peradaban Kristen di Buru Selatan lebih dominan, namun demikian kalau kita hidup diantara mereka sedikit lebih lama maka tetap saja kita jumpai ada sekelompok orang yang tetap hidup mempertahankan tradisi dan adat orang Bupolo. Mereka sebenarnya beroposisi dengan misi gereja. Sikap mereka tidak terang-terangan menentang misi gereja, hanya diam dan tetap mengontrol sikap warganya agar tidak boleh melupakan tradisi dan adat walaupun telah menerima peradaban Kristen. Jadi mereka harapkan agar Waeken dapat dipulihkan kembali. Ini suatu kekalahan orang Bupolo dalam percaturan dengan peradaban baru. Saya sendiri tidak tahu apakah Klasis GPM Buru Selatan dapat mengerti situasi ini ?

8) Menuju Waeken hanya butuh waktu empat jam berjalan kaki dengan tidak terburu-buru dari Tifu melewati kampung Nusarua. Saat ini dengan bantuan fasilitas transportasi dari Perusahaan HPH yang bermarkas di Tifu maka dipastikan waktu akan lebih singkat untuk mencapai Weken. Dataran cukup luas dan di bagian belakang kampung melewati sebuah sungai (wae) masyarakat telah menyiapkan lahan untuk digunakan sebagai lahan usaha pertanian. Kami tidak tahu secara pasti berapa luasnya. Dari sungai (wae) tersebut kita dapat menemukan jenis udang air tawar yang cukup banyak dan Waeken sangat terkenal dengan udangnya. Daerah sekitar Waeken perlu mendapat sentuhan program penghijauan, dengan dataran yang relatif luas maka daerah tersebut bisa dijadikan tempat penggembalaan ternak. Di situ kami berpikir untuk diupayakan menjadi tempat pemeliharaan ternak kuda dan keledai kemudian suatu saat bisa didistribusikan kepada setiap warga yang mendiami kampung di daerah pegunungan karena dengan hewan tersebut pada masa depan dapat dijadikan sarana transportasi agar masyarakat di pegunungan bisa menggunakannya mengangkut hasil pertanian mereka ke pusat pemasaran. Kami sarankan agar tidak menggunakan istilah desa binaan. Suatu konsep yang menurut hemat kami dapat menimbulkan kecemburuan sosial terhadap yang lainnya. Artinya siapa yang dibina dan siapa yang menjadi penonton ? Waeken hanya dijadikan tempat penelitian ternak dan usaha pertanian. Agar semua penyuluhan pertanian dan peternakan dapat diselenggarakan secara terpusat di daerah tersebut. Dan program penyuluhan harus menggunakan masyarakat sebagai agen/penyuluh. Konsep penyuluhan dengan petugas penyuluh harus ditinjau lagi. Yang seharusnya terjadi adalah masyarakat harus dididik menjadi penyuluh bukan petugas dari instansi seperti konsep yang selama ini digunakan. Karena penyuluh tidak akan pernah tinggal di kampung dalam jangka waktu yang lama dengan masyarakat. Yang terjadi selama ini dia hanya datang untuk membagi bantuan dan brosur setelah itu pergi meninggalkan sasaran yang akan disuluh. Oleh karena itu kalau Buru Selatan mau dikembangkan maka kegiatannya tidak boleh terpisah dengan kegiatan Klasis GPM Buru Selatan, karena disitulah kekuatan untuk mengembangkan masyarakat. Pada tahap awal para perangkat misi gereja bisa dijadikan ujung tombak. Dengan demikian seluruh kegiatan di Waeken akan diselaraskan dengan kegiatan pelayanan gereja. Jika ini tidak terorganiser secara selaras maka bisa saja misi gereja yang dapat menghambat seluruh kegiatan lapangan dengan program-program yang mereka rancangkan. Misalnya suatu saat kita mendapat jawaban bahwa sibuk karena ada kegiatan ibadah dan rapat di gereja.

9) Program pemberdayaan. Ini suatu istilah yang kita jumpai dimana-mana sekarang ini. Seperti istilah revitalisasi pertanian yang dicetuskan oleh Presiden RI, SB Yudoyono. Akhirnya semua sektor seolah-olah ingin menggunakan istilah revitalisasi. Bagi saya ini latah. Kalau sektor pertanian benar-benar harus diberikan kembali energi yang baru (revitaliser) karena saat ini sektor pertanian memang gagal dan kegagalan itu bisa dilihat dengan meningkatnya orang miskin yang menggeluti sektor pertanian dan bencana kelaparan yang kronis. Mengapa ? karena infrastruktur pertanian yang lemah. Di Pulau Buru misalnya apakah program perberdayaan hanya datang dengan membagi bibit dan uang ? Ini tidak mungkin dan pasti kita akan melihat kegagalan kembali di masa yang akan datang. Orang di Pulau Buru tidak membutuhkan orang luar datang untuk mengajar mereka cara bercocok tanam yang baik karena itulah pekerjaan mereka. Yang harus dijalankan adalah kita mendorong pemerintah membangun pasar dan jalan. Dan untuk Pulau Buru ini sangat berat karena butuh dana yang besar, oleh sebab itu tahap sekarang ini kami lebih cenderung menyarankan gunakan terobosan dengan transportasi kuda atau keledai. Dan Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Unpatti hanya menciptakan terobosan dengan menghubungkan peladang atau petani di Pulau Buru dengan pusat pemasaran hasil pertanian. Jika ini tercipta maka peladang atau petani di Pulau Buru akan aktif untuk berusaha di sektor pertanian secara mandiri karena ada jaminan pasar hasil pertanian mereka. Menurut hemat kami disinilah inti dari pemberdayaan masyarakat. Kalau kita mampu memangkas jalur pemasaran yang tidak resmi dan merugikan orang Bupolo maka disitulah masyarakat akan diberdaya sebab ketidakberdayaan mereka hanya terletak pada tidak mampu menerobos jalur pemasaran yang dikuasi oleh mereka yang sebenarnya punya watak yang sama dengan koruptor kelas kakap. Permainan harga yang hanya mau melakukan barter dan timbangan yang tidak pernah dikontrol atau ditera oleh pihak Dinas Perdagangan (=bagian metrologi). Orang Bupolo pasti memerlukan dana produksi sehingga peranan lembaga keuangan non bank yang mengembang misi simpan pinjam harus diciptakan. Kalau bank akan sangat sulit mereka terobos sebab tidak ada jaminan yang dapat mereka berikan. Tanah mereka semua tidak ada sertifikat dan administrasi formal bank akan sulit mereka penuhi. Kami tidak menyebutnya sebagai koperasi sebab institusi ini juga sangat jauh dari konsep mereka. Entah apa nama yang cocok namun kami lebih cenderung menyebut sebagai lembaga non bank.

10) Demikianlah paparan ide yang singkat ini dan semoga bisa menjadi pertimbangan dalam kiprah lembaga swadaya masyarakat yang ingin membangun harga diri suatu kelompok masyarakat sehingga mereka mempunyai daya tawar-menawar dalam pergaulan dengan kelompok masyarakat lainnya. Semoga Kacang Buru, warahe (Arachis hypogaea L, Fabaceae), Hotong Buru, feten (Setaria itallica, Poaceae) dan Kentang Buru, mangsafut (Solanum tuberosum L, Solanaceae) dapat kembali mengangkat masa keemasan orang Bupolo seperti yang dicapai pada masa dulu. Orang Bupolo benar-benar kalah dalam pertarungan di abad moderen ini.



[1]  Sumbangan pemikiran ini disampaikan dihadapan kelompok diskusi lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada pemberdayaan masyarakat Bupolo, diselenggarakan di Ambon, 31 Januari 2006.

[2] Dosen program studi sosial ekonomi pertanian Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon dan Ethnobotanist dari Laboratoire Ethnobiologie-Biogéographie Muséum National d’Histoire Naturelle (MNHN) Sorbonne Paris, Prancis. Penerima penghargaan internasional Mahar SCHÜTZENBERGER tahun 2005 untuk penelitian di Pulau Buru, Maluku, Indonesia dari Institut Gaspard Monge, Université de Marne-la-Vallée, Perancis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>