UPAYA PENYELAMATAN BAHASA-BAHASA DAERAH TERANCAM PUNAH

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Upaya Penyelamatan Bahasa-Bahasa Daerah Terancam Punah [1])

(Suatu Pendekatan Etnoekologi Mengandalkan Kekuatan Bahasa dalam Rasa, Karya dan Karsa)

Oleh :

Prof. Dr. Ir. Max Marcus J. Pattinama, DEA [2])

Prolog

Kantor Bahasa Provinsi Maluku mengajak kami, selaku pemerhati bahasa di Maluku, berpartisipasi mengemukakan pendapat tentang keprihatinan mereka mengenai terancam punahnya bahasa daerah di Maluku. Bagi kami, pengamatan ini mempunyai dasar yang kuat dan terukur berdasarkan penelitian yang dilakukan selama dua tahun Kantor Bahasa hadir di Maluku.

Kami selaku anak negeri dan semua pemangku kepentingan yang hadir pada acara Seminar Revitalisasi Bahasa-Bahasa Daerah di Maluku seyogyanya mencari jalan keluar tentang bagaimana mengatasi bahasa daerah yang hampir punah. Secara khusus bahasa yang sudah punah kita harus berusaha untuk memberikan informasi apakah ada penutur asli yang masih menggunakan atau menguasai bahasa tersebut ?, sebagai contoh Bahasa Garan dan Bahasa Kayeli di Pulau Buru. Kami yakin peserta seminar punya informasi tentang bahasa daerah yang hampir punah di wilayah ini, selain kedua bahasa yang kami sebut di atas.

Judul makalah kami di atas diberikan oleh Kantor Bahasa sebagai pelengkap materi pembahasan pada seminar hari ini. Yang menarik adalah kata « penyelamatan ». Mengingat kami adalah bukan ahli bahasa, namun kami banyak memahami bidang ilmu kami (etnobotani) di lapangan riset melalui bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Dengan demikian kami berpendapat bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk mengungkapkan pikiran manusia mulai pada taraf yang paling sederhana hingga kompleks. Maksud dari kalimat yang terakhir disebut adalah makna filsafati dari bahasa yang diungkapkan sangat berbeda untuk memaknai suatu objek. Jadi bagi kami istilah “penyelamatan” adalah tugas para pemerhati bahasa sedangkan tugas “pelestarian” bahasa dibebankan kepada ahli bahasa. Makalah ini mengharuskan kami menuliskan sub judul seperti di atas, mengingat pengalaman sebagai etnobotanist sangat mengandalkan bahasa sebagai alat analisis.

 

1. Perkembangan Penelitian Bahasa Nasional

Bahasa Indonesia yang berakar pada Bahasa Melayu telah ditetapkan sebagai bahasa nasional dalam keputusan geopolitik yang sudah matang. Kami menyebut keputusan geopolitik untuk mengatakan bahwa Presiden Soekarno sangat paham betul bahwa ini adalah satu-satunya bahasa yang bisa mempersatukan Nusantara diantara ratusan bahasa daerah (sekitar 530 bahasa daerah : Pattinama, 2005a) yang dipakai oleh anak bangsa ketika itu. Kita dapat membayangkan suasana pada periode itu dimana ada kelompok yang menggunakan bahasa asing (Belanda) kemudian menyatakan diri mereka pada kelas atas dan kelompok masyarakat kelas bawah yang masih berbicara dalam bahasa daerah sesuai habitat hidup. Dalam konteks ketika itu ada kelompok transisi berada di tengah yang bisa menguasai bahasa asing tetapi juga penutur bahasa daerah secara aktif.

Presiden Soekarno saat itu juga menguasai beberapa bahasa asing dan penutur aktif Bahasa Jawa dan Bali sudah yakin bahwa penetapan Bahasa Indonesia akan lebih diterima. Sebagian besar wilayah Indonesia menguasai Bahasa Melayu sebagai bahasa yang dipilih dalam perdagangan dan Belanda pun menggunakan bahasa dimaksud untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal selama ratusan tahun. Kami tidak dapat membayangkan bagaimana jika Presiden Soekarno menetapkan Bahasa Jawa dengan huruf non latin sebagai Bahasa Nasional mengingat jumlah penduduk Nusantara yang mayoritas adalah suku Jawa.

Dalam seminar ini kami mau mengajak para peserta untuk mengakui bahwa Soekarno bukan saja menunjukkan sikap nasionalis tetapi yang paling utama adalah beliau sangat paham tentang ilmu bahasa. Penguasaan bahasa memberi peluang kepada Soekarno mengangkat derajat Bangsa Indonesia pada posisi tawar yang tinggi karena semua ideologi yang ditulis dalam berbagai bahasa dan dikuasai secara benar. Artinya bahwa penguasaan bahasa asing bukan hanya ditunjukkan oleh pemimpin bangsa dalam berkomunikasi diplomatik tetapi seyogyanya digunakan untuk memahami akan struktur budaya dan pikiran bangsa lain dalam pergaulan dengan Indonesia.

Kami harus cepat mengatakan hal ini karena ada kecenderungan saat ini bahwa anak bangsa dipaksa untuk menguasai bahasa asing tetapi tidak ada arahan yang jelas. Apakah hanya untuk bisa mengikuti pendidikan di luar negeri ? atau ingin menciptakan kelas sosial seperti yang terjadi di masa lampau. Menurut hemat kami penguasaan bahasa asing ditujukan untuk menguasai teknologi dan perkembangan ilmu lainnya dalam konstelasi pendidikan global. Berbarengan dengan itu ditetapkan kebijakan bahwa anak bangsa harus menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pada saat Indonesia mencapai kemajuan dalam ekonomi dan peradaban maka akan menyusul bangsa lain untuk datang mempelajari Indonesia dan disini peran Bahasa Indonesia menjadi penting.

Kita mencatat pada jaman penjajahan penelitian bahasa hampir menjadi monopoli para sarjana Belanda saja. Para sarjana Indonesia yang tersangkut dalam penelitian biasanya hanya menjadi tenaga pembantu lapangan atau informan. Jumlah sarjana Indonesia yang mendapat didikan ilmiah dalam penelitian bahasa terlalu kecil.

Dalam laporan tentang perkembangan penelitian bahasa perlu dilakukan pembatasan bidang yang diteliti. Yang dipilih ialah bidang yang paling penting yakni bidang penelitian bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Tema lain yang menarik adalah penyelamatan dan pelestarian bahasa daerah dari ancaman kepunahan. Justru karena bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus menjadi milik bersama semua warga negara Indonesia, maka pilihan sejarah penelitian bahasa nasional itu tidak berpihak dan menyangkut kepentingan umum pula. Bidang bahasa nasional itu terlalu luas, sehingga tidak semua segi dapat dilaporkan secara lengkap. Oleh karena itu harus ada payung penelitian yang dirancang secara nasional dan implementasi juga menyentuh regional misalnya penelitian asal bangsa Nusantara, bahasa Sriwijaya sebagai bentuk bahasa Melayu/Indonesia, bahasa Indonesia dari segi perkamusan, peristilahan, ejaan, dan tatabahasa serta segi kesusasteraan. Disini peranan Kantor Bahasa menjadi sangat penting untuk mengkomunikasikan tema riset yang menjadi fokus kajian. Program Studi Bahasa di universitas diharapkan pula memberikan dukungan kerja sama sehingga kajian yang terfokus tadi dapat tuntas diselesaikan. Hasilnya akan lengkap setelah ada tim yang merangkum semua hasil penelitian. Indonesia menjadi negara dengan kualitas penelitian bahasa dan bidang lain yang rendah, sebenarnya bermula pada minimnya kegiatan kompilasi hasil-hasil penelitian.

Setelah Indonesia mendapat pengakuan sebagai bahasa nasional, peminat bahasa Indonesia bergerak serentak dalam pelbagai bidang, terdorong oleh kesadaran nasionalnya, meskipun sampai saat ini hasil penelitiannya belum seperti yang diharapkan. Ini suatu kesimpulan sepihak dari kami sebagai pemerhati bahasa karena bahasa Indonesia belum masuk dalam jajaran bahasa ilmiah yang diakui secara global. Kami menilai bahwa penelitian bahasa Indonesia belum atau bahkan tidak mendapat prioritas, karena tidak langsung diperlukan oleh rakyat saat ini yang sedang sibuk dengan hingar-bingar politik yakni kekuasaan dan otonomi daerah. Jadi kita kembali lagi seperti zaman Orde Lama yang sibuk dengan penyelesaian revolusi. Dengan kata lain, kini kita sibuk dengan menata reformasi dan demokrasi. Kader-kader peneliti bahasa tidak banyak jumlahnya, karena pekerjaan itu tidak memberikan keuntungan material. Meskipun demikian, para kader yang telah terdidik saat ini memberikan harapan baik untuk kemajuan penelitian bahasa di masa yang akan datang. Kader peneliti yang sudah ada saat ini harus mendapat dorongan yang layak dengan mendapat bimbingan dan insentif hidup yang sesuai, agar mereka tidak beralih bidang hanya karena desakan kesulitan hidup.

 

2. Perkembangan Penelitian Bahasa di Maluku

Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia hingga pemberlakuan otonomi daerah saat ini, peranan pemerintah pusat masih terasa dominan. Daerah otonom yang kekurangan SDM akan menjadi sangat tergantung pada pusat pemerintahan baik pada level Jakarta maupun level provinsi. Persoalan ekonomi dan ketersediaan SDA menjadi tema yang selalu mendapat prioritas untuk diteliti. Kami tidak mempunyai data yang akurat tentang kontribusi pemerintah daerah dalam membiayai penelitian bahasa.

Untuk daerah Maluku sebagai wilayah kepulauan ini berbeda-beda bahasanya dan sesungguhnya tidak semua penduduk di pulau-pulau itu menggunakan bahasa yang sama dan berbagai desa menggunakan dialek yang berlainan pula. Namun, semua mengerti bahasa Melayu, karena perdagangan.

Bahasa di Maluku adalah bahasa tanpa tulisan atau kepustakaan. Bahasa di Seram (Alune dan Wemale) terbagi atas 35 dialek yang berlainan dan jelas serumpun dengan bahasa asli Amboina (Cooley,1987). Data tersebut menunjukkan betapa rumitnya bahasa di daerah iniyang menurut para ahli bahasa termasuk dalam kelompok Ambon-Timor (salah satu dari 16 kelompok) dari anak rumpun Indonesia dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia. (Cooley, 1987).

Peneliti bahasa yang umumnya para sarjana barat yang dipakai oleh colonial Belanda untuk memetakan bahasa daerah di Maluku, menyimpulkan bahwa awalnya penduduk menggunakan satu bahasa asli dari Seram (bahasa Alune atau Wemale). Perbedaan kecil mulai terjadi dalam berbahasa akibat banyaknya pendatang dan terpencarnya penduduk ke pulau-pulau lain di Maluku. Akibat dari lemahnya bahasa asli yang digunakan penduduk pada awal tersebut dimana bahasa dimaksud tidak memiliki tulisan atau kepustakaan. Penduduk pada periode itu semua sibuk dengan perdagangan dan tentu ada perebutan wilayah dimana perang terus berlangsung diantara penduduk. Jadi mereka kehilangan waktu untuk mendokumentasikan bahasanya dalam tulisan dan kepustakaan yang asli. akibatnya untuk menuliskan bahasa mereka digunakan tulisan Arab dalam lingkungan pemeluk Islam, sebaliknya tulisan Latin untuk lingkungan Kristen.

Dalam perkembangan selanjutnya tercatat bahwa lingkungan Kristen dimana desa mereka sebagian besar pada pesisir pantai mengalami punahnya penguasaan bahasa daerah lebih cepat, hal ini karena Bahasa Melayu dengan cepat diterima secara sistematis dan luas yakni pada lembaga gereja dan sekolah. Penutur asli bahasa hanya terpelihara pada mereka yang berusia tua sedangkan anak-anak muda mencoba menghindar untuk menggunakannya. Lebih parah lagi gereja ingin membaharui konsep pandang anggotanya dari penyembahan adat yang menggunakan bahasa daerah dengan penyebaran teologi yang lebih terbuka dengan bahasa Melayu. Bisa terjadi salah paham antara yang mau menggunakan bahasa daerah setempat dengan para fungsionaris gereja yang menentang adat dalam ritual gerejawi. Akhirnya pemangku adat menyerah dan posisi pemimpin gereja dalam lingkungan pemeluk Kristen lebih tinggi dan sangat dihormati daripada seorang pemimpin adat atau kepala desa. Oleh sebab itu di Maluku kita mencatat bahwa wilayah yang memeluk Agama Islam tetap mempertahankan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari, bahkan para pemimpin khotbah di Mesjid menggunakan Bahasa Arab dan bahasa daerah.

Hal yang berbeda untuk desa atau pemukiman penduduk beragama Kristen yang menetap di wilayah pegunungan di Pulau Seram dan Buru. Mereka tetap menggunakan bahasa daerah, karena kebanyakan pemimpin gereja berasal dari anak negeri setempat. Gereja tidak akan mengirimkan orang di luar kelompok untuk bertugas pada wilayah yang sulit dan jauh hanya ditujukan pada mereka yang punya jiwa pengabdian yang tinggi. Lain halnya dengan di pedalaman Pulau Buru, pendeta yang bertugas pada umumnya (Maaf ini hanya pendapat pribadi Penulis), adalah orang dalam status dihukum karena kesalahan penggunaan wewenang sebagai pemimpin umat di suatu wilayah tertentu. Orang gunung di Seram dan Buru sangat memahami strategi tersebut, sehingga baik guru sekolah atau pemimpin gereja yang tiba di wilayah mereka harus menguasai bahasa daerah setempat. Hal ini berbanding terbalik dengan mereka yang hidup di wilayah pesisir pantai. Pengalaman kami di Pulau Seram dan Pulau Buru menunjukkan bahwa ada ide untuk mempertahankan bahasa daerah setempat yang dilakukan oleh peneliti Summer Institute of Linguistic (SIL) yakni menerjemahkan kitab suci agama Kristen (Alkitab) kedalam Bahasa Alune dan Bahasa Buru. Informasi tentang kegiatan ini pada Bahasa Wemale belum kami ketahui secara pasti.

 

3. Pendekatan Etnoekologi dan Studi Kebahasaan

Pendekatan etnoekologi yang dikembangkan sebagai disiplin ilmu seyogyanya bermula dari penguasaan etnologi sebagai ilmu yang membicarakan suku bangsa. Pada level berikutnya penguasaan pada habitat manusia di alam. Relasi manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa dipandang tunggal namun bersifat multidisiplin. Untuk itu penguasaan berikutnya pada level etnobotani. Perkembangan etnobotani sebagai suatu ilmu tak lepas dari latar belakang filsafati dan sejarah yang melahirkannya. Terminologi filsafati merujuk pada roh dari ilmu dimaksud, dalam bahasa Prancis disebut “l’esprit de la science”. Sedangkan sejarah akan mengungkapkan catatan-catatan penting atau peristiwa dimana ilmu tersebut mendapat pengaruh sesuai periode waktu berjalan.

Sebelum mengemukakan konsep dasar etnobotani, maka saya akan mengemukakan pandangan atau aliran penelitian yang menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya dimana pada relasi tersebut masyarakat senantiasa berasosiasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan :

  • Penelusuran yang pertama, yakni pada periode penjajahan. Pada fase ini kita mencatat bahwa negara-negara Eropa Barat melakukan expansi untuk menguasai wilayah dengan sumberdaya alamnya. Pada saat yang sama sudah ada tradisi yang dikenal sebagai botani ekonomi (economic botany) yaitu mulai memfokuskan eksplorasi penelitian pada penggunaan tanaman, khususnya untuk mendapatkan spesies baru yang berpotensi ekonomi. Aliran penelitian semacam ini banyak dikerjakan oleh para ahli dari negara-negara kolonial seperti Belanda, Prancis dan negara Eropa Barat lainnya. Dari sini lahir ahli botani yang kita kenal yaitu Rumphius, Heyne dan Ochse.
  • Penelusuran yang kedua, yakni periode pasca kemerdekaan. Indonesia mulai mengurangi pengaruh Belanda dan berkiprah ke Amerika Serikat. Langkah pertama dengan menyekolahkan kaum terpelajar dan peneliti ke sana dan pada saat yang sama ada pengaruh aliran ekologi budaya (cultural ecology) dan ekologi manusia (human ecology). Aliran ini tidak terlepas dari roh keilmuan yang dikembangkan pada fase penjajahan hanya mulai mengalami metamorphosis dengan menggabungkan pesatnya kemajuan ilmu botani yang disebut biologi. Jadi aliran ini mulai menganalisis proses hidup suatu masyarakat serta hubungannya dengan lingkungan, tetapi menggunakan konsep kerja para ahli biologi yang dipakai untuk mempelajari ekosistem. Pada periode ini kita mengenal peneliti dan ilmuwan terkenal seperti Clifford Geertz, Conklin, Vayda, Michael Dove dan Rambo yang memakai pendekatan ekologi budaya.

Dua pengalaman dalam aliran berpikir ini semuanya bermuara pada objek penelitian yang menganalisis ketergantungan manusia pada dunia tumbuh-tumbuhan. Aliran pertama telah mencatat hasil yang fantastik dengan menyajikan motede penelitian yang terstruktur yang dimulai dari koleksi hingga identifikasi dan klasifikasi ilmiah. Herbarium merupakan hasil penemuan ilmiah yang sangat luar biasa manfaatnya dan dipakai hingga saat ini untuk mengidentifikasi dunia tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian etnobotani adalah fondasi ilmu untuk lebih memahami pengembangan ilmu lain yang menerangkan hubungan masyarakat dengan lingkungannya.

Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka etnobotani secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu ethno berarti bangsa atau kelompok etnis atau masyarakat, sedangkan botani merujuk pada dunia tumbuh-tumbuhan. Disatukan dalam terminologi etnobotani untuk memberikan gambaran tentang keutuhan pendekatan, Etno dengan etnologi dalam ethnoscience diperlukan untuk mengungkapkan sistem pengetahuan yang dimiliki suatu suku bangsa. Beberapa pakar berpendapat bahwa ethnoscience sinonim dengan folkscience yang bertumpu pada sistem kogniftif terutama dalam mengungkapkan aspek klasifikasi dan nomenklatur dalam relasi dengan alam (Barrau, 1985). Disamping ethnoscience mereka juga mengemukakan adanya ethnosciences dalam bentuk jamak yang mengarah pada sekumpulan disiplin ilmu yang berkorelasi dengan alam termasuk didalamnya etnobotani sedangkan yang lain adalah etnozoologi, etnobiologi, etnoekologi, etnomineralogi, etnofarmakologi, etnomedisin dan sebagainya.

Pengembangan etnobotani sebagai suatu disiplin ilmu tidak dapat dipisahkan dari metodologi yang dikembangkan dengan memandang masyarakat dan ekosistemnya sebagai sesuatu keseluruhan atau totalitas, sebagaimana apa yang sering dikatakan oleh para pakar antropologi yaitu konsep holistik, maka diperlukan sistem kerja dalam etnobotani seperti berikut ini (Friedberg, 2002) :

  • Pentingnya menganalisis sudut pandang masyarakat berdasarkan konsep asli seperti yang terungkap dalam bahasa mereka
  • Pentingnya pendekatan interdisipliner, yang memungkinkan peneliti memadukan berbagai faktor yang terlibat baik dari bidang biologi maupun dari bidang sosial budaya.

Di Kepulauan Maluku dengan kekayaan biodiversitas tanaman yang tinggi dan unik pada pulau-pulau kecil serta tercatat ada sekitar 117 bahasa (90 bahasa di Maluku dan 27 bahasa di Maluku Utara). Data tentang bahasa juga bisa menggambarkan jumlah etnis di Kepulauan Maluku (Pattinama, 2005a). Ini merupakan lapangan riset dengan tema menarik yang bisa dieksplorasi untuk melengkapi informasi ilmiah tentang Maluku secara komprehensif.

 

4. Kekuatan Bahasa dalam Rasa, Karya dan Karsa: Pengalaman di Pulau Buru

Kami ingin membagi pengalaman selama penelitian di Pulau Buru yang diawali dengan keputusan untuk belajar dan menguasai Bahasa Buru selama setahun. Dengan demikian materi pembicaraan ini diambil dari pengalaman pribadi selama hidup sebagai Geba Bupolo di Rana Lalen. Disamping itu pula relasi sosial juga dibangun dengan semua orang atau manusia yang menyebut dirinya Orang Buru di Lisaboli Lisela, Masa Mesirete dan Lacalua Kayeli serta Regenschap Ambalau.

Langkah berikutnya setelah menguasai Bahasa Buru adalah mengenal manusia yang hidup di Pulau tersebut. Penduduk di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli, autokton, (Geba Bupolo) yang hidup di pegunungan dan penduduk pendatang, alokton, (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005a dan 2005b). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 1).

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton.

Dalam catatan botani dunia, ditemukan bahwa tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) adalah tanaman asli Pulau Buru. Tahun 1925, kolonial Belanda membawa spesies ini dari Buru sebagai tanaman penghijauan di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Pada masa kejayaan perdagangan rempah-rempah, penduduk pulau ini telah bersinggungan dengan bangsa Eropa, sehingga Belanda menamakan suatu tempat di Pulau ini dengan sebutan Kayeli (Kayoe poetih olie).

Pulau Buru atau Bupolo mengalami lima periode pengaruh pendudukan (okupasi) yaitu periode Sultan Ternate, Portugis, Belanda, Jepang dan Indonesia. Periode Sultan Ternate, selain perdagangan juga ada mobilisasi penduduk dari Sula dan Sanana untuk menanam pohon kelapa. Perdagangan kayu putih dan damar dilakukan melalui hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan Sultan Buton dan Sultan Bone. Kemudian Portugis membuat instabilitas perdagangan antara Sultan Ternate dengan pedagang Arab dan Cina di dataran Kayeli. (Pattinama, 2005a). Gambar 1 di bawah ini juga menjelaskan pertemuan puncak-puncak budaya antar suku dan bahasa yang digunakan dalam relasi sosial.

 

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Sejak zaman kolonial hingga kini masyarakat asli Pulau Buru (Geba Bupolo) disebut sebagai suku terasing, tidak beragama, pemalas dan alifuru[3]. Istilah „burro“ (yang kemudian menjadi Buru) diberikan kepada pulau ini dan kata ini ditemukan pada peta Indonesia yang dipublikasi tahun 1613 oleh misi dagang Portugis. Kata Burro (bahasa Portugis) mengandung dua arti yaitu keledai dan bodoh. Ada dua hipotesis dapat penulis kemukakan, pertama, kata burro untuk menamakan babi rusa (Babyrousa babyrussa) dimana untuk pertama kali Portugis melihatnya di pulau ini. Kedua, kata burro dialamatkan kepada masyarakat Bupolo, karena mereka selalu menolak kehadiran Portugis di setiap kampung (humalolin). Cara menolak adalah semua penduduk meninggalkan kampung dan masuk ke hutan. Setelah periode Portugis, maka berikutnya masa penjajahan Belanda, kata Burro tidak digunakan dan ditulis Boeroe atau Buru dalam Bahasa Indonesia.

Selanjutnya periode Jepang membuat wilayah ini semakin terisolir. Saat Jepang harus meninggalkan Pulau Buru tahun 1945, mereka terpaksa harus berpisah dengan budak sex jugun ianfu yang berasal dari Korea dan Pulau Jawa. Para perempuan yang terpaksa harus menjadi budak sex ini terpaksa dipelihara oleh para kepala adat dan akhirnya dijadikan istri. hingga saat ini.         Tahun 1969, Pemerintah Indonesia menetapkan pulau ini khususnya di dataran Waeyapo sebagai kamp konsentrasi tahanan politik G30S/PKI.

Kehadiran HPH sebagai sosok ekonomi modern di tengah hutan belantara Pulau Buru memberikan dampak besar kepada autokton yang masih hidup nomaden. Ciri kehidupan terasing (baca: sederhana) dan terisolir pada daerah pegunungan serta merta diperhadapkan dengan pilihan antara menunggu (menjaga) daerah sakral yaitu tempat bersemayam nenek moyang mereka atau hak membabat hutan yang sudah resmi diberikan negara kepada pengusaha HPH. Posisi autokton sangat jelas menjadi lemah dan inferior baik di hadapan hukum negara maupun pelaku ekonomi modern. Yang terjadi adalah kompetisi disekuilibrium. Hal yang sama akan terjadi dengan ditemukannya tambang emas di Pulau Buru.

Apa arti Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen bagi orang Bupolo ? Ini adalah pernyataan filsafati dari Geba Bupolo yang sakral di Rana Lalen. Maknanya sangat holistik yang menghubungkan manusia dengan alam raya, juga antara manusia dengan manusia dan manusia dengan sang khalik. Untuk memahami pernyataan filsafati tersebut, selama pengalaman kami di lapangan, tidak dapat diperoleh melalui hasil wawancara baik dengan responden masyarakat maupun responden kunci. Jadi pemahaman akan diperoleh jika kita terlibat dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Jelaslah bahwa kami sangat yakin dengan sub judul makalah ini bahwa kekuatan bahasa akan mengandung sesuatu nilai berharga dalam rasa. karya dan karsa.

 

5. Upaya Pengembangan Bahasa Daerah di Maluku

Selaku pemerhati Bahasa Daerah di Maluku dan terlepas dari bidang kajian kami yang sangat spesifik untuk Pulau Buru, maka fungsi kami selaku pendidik mengamati dengan cermat bahwa pemicu punahnya bahasa daerah sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang terjadi beberapa ratus tahun yang lampau seperti yang kami kemukakan di atas. Hal ini berarti bahwa proses yang terjadfi saat ini hanya mengalami metamorphosis sesuai periode dan waktu berjalan. Dengan demikian pemicu saat ini lebih banyak pada alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat seperti televisi, radio dan alat elektronika lainnya yang menghubungkan satu dan lain tempat dengan tanpa batas.

Untuk itu saran yang bisa kami sampaikan untuk upaya pengembangan bahasa daerah tetap dari ancaman kepunahan adalah sebagai berikut :

  • Mempopulerkan kembali cerita rakyat dalam tradisi lisan dalam bahasa daerah setempat dalam suatu kompetisi guna merayakan Hari Ulang Tahun Provinsi Maluku.
  • Peran orangtua harus tetap memelihara bahasa daerah di rumah dalam membangun komunikasi dengan anak-anak. Harus diberi pemahaman yang holistic bahwa bahasa daerah sangat penting dalam melestarikan budaya dan membangun jati diri.
  • Program pembelajaran bermuatan local harus disertai dengan buku yang ditulis dalam bahasa daerah yang ditetapkan sebagai bahasa lokal setempat. Seperti contoh di Pulau Ambon ini ditetapkan Bahasa Hitu sebagai bahasa yang harus dikuasai oleh seluruh murid SD daripada mereka harus dipaksa untuk menguasai Bahasa Inggris.
  • Dalam hubungan dengan pengaruh teknologi televisi dan radio, maka Pemerintah Daerah Maluku harus menetapkan penyiaran mata acara tertentu harus menggunakan bahasa daerah.
  • Pada tahun 2006 yang lalu kami sempat melontarkan sebuah ide di Kantor Gubernur Maluku ini untuk memberi nama dengan bahasa lokal pada setiap ruangan. Kami pikirkan pada waktu itu memberi nama sagu yang berasal dari beberapa bahasa daerah di Maluku.

 

Epilog

Upaya penyelamatan bahasa-bahasa daerah yang terancam punah seyogyanya diteliti kembali dan hal ini bukan menjadi tugas dari Kantor Bahasa Provinsi Maluku, tetapi bisa membangun mitra penelitian dengan perguruan tinggi yang ada di Maluku sehingga deteksi dini terhadap bahasa yang hampir punah bisa lebih cepat. Kami yakin masih ada penutur asli yang bisa dikonservasi dalam laboratorium bahasa untuk mendata kosa kata serta seluruh aspek kesusasteraan dari bahasa tersebut.

Materi yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional di Rana Lalen dan hasilnya dianalisis dan diintepretasi dalam dunia modern. Jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas. Untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Maluku seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan, misalnya kajian Bahasa Daerah di Maluku akan mendapatkan bentuk yang sempurna dalam program revitalisasi bahasa daerah dari Kantor Bahasa Provinsi Maluku.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barrau, Jacques, 1985. Les savoirs naturalistes populaires, Actes du seminaire de sommieres, Editions de la Maison des sciences de l’homme.

Cooley, Frank L, 1987, Mimbar dan Tahta, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Friedberg, Claudine, 2002. L’anthropologie face à la question de l’appropriation de la biodiversité : la biodiversité est-elle appropriable ?, in : Franck-Dominique Vivien (Ed.), Biodiversité et appropriation, les droits de propriété en question : 163-176

Pattinama Marcus Jozef, 2005a. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005b. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.



[1]Disampaikan pada Seminar Revitalisasi Bahasa-Bahasa Daerah di Maluku. Kerjasama Kantor Bahasa Provinsi Maluku dengan Pemerintah Provinsi Maluku, di Ambon, pada tanggal 12 November 2012.

[2]Guru Besar Etnoekologi Universitas Pattimura Ambon, Dosen pada PS. Agribisnis Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon.

[3]Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

One comment on “UPAYA PENYELAMATAN BAHASA-BAHASA DAERAH TERANCAM PUNAH

  1. Aulia Rahma on said:

    thanks a lot for your knowledge sir,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>