MUSEUM REMPAH-REMPAH DAN MUSEUM PERANG SIPIL 19-1-1999 DI MALUKU

MUSEUM REMPAH-REMPAH DAN MUSEUM PERANG SIPIL 19-1-1999

DI MALUKU[1]

Oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[2]

Uraian singkat

1. Kepulauan Maluku tercatat dalam sejarah dunia sebagai kepulauan rempah-rempah dan kepulauan raja-raja. Untuk itu sejak abad ke-13 menurut catatan penelitian dari Valentijn (1724), tanah Maluku sudah dikunjungi oleh pedagang Arab dan Cina. Kemudian pada abad ke-16 didatangi oleh orang Eropa. Masuknya peradaban islam dan kristen di nusantara ini berawal di Kepulauan Maluku baru kemudian disebarkan ke daerah lainnya berkat perdagangan. Kedatangan pedagang Arab, Cina dan Eropa pada masa itu untuk berdagang komoditi cengkeh (Eugenia aromatica O.K., Myrtaceae) dan pala (Myristica fragrans Houtt, Myristicaceae) karena kedua komoditi dimaksud mempunyai nilai ekonomi dan estetika yang tinggi layaknya emas dan minyak bumi pada masa sekarang ini. Disamping pergaulan karena pertukaran nilai ekonomi dari rempah-rempah maka terjadi pula interaksi budaya. Sehingga boleh dikatakan bahwa kepulauan Maluku saat itu sangat ramai didatangi oleh orang luar. Pergaulan juga dijalin bersama masyarakat nusantara lainnya seperti dari kesultanan Buton, Bone, Melayu dan Jawa. Seiring dengan kepentingan ekonomi, pada periode itu pula perkembangan ilmu pengetahaun mulai berkembang dengan berbagai penelitian yang dilakukan baik oleh orang Arab, Cina maupun Eropa. Salah satu diantaranya yang sangat spektakuler dari bumi Maluku sekitar 1640-an tercatat Georgius Everhardus Rumphius, seorang Jerman yang bekerja pada Belanda, pernah hidup dan meneliti kekayaan biodiversitas tanaman. Tahun 1741 bukunya diterbitkan « Het Amboinsche Kruid-book ». Dari sini dunia ilmu pengetahuan tumbuhan mulai dikenal dunia dan sekaligus menambah referensi ilmu tumbuhan yang sangat dibutuhkan dunia pada masa itu hingga sekarang ini. Dengan demikian kalau berbicara klasifikasi tumbuhan maka konsep Rumphius dengan bumi Maluku akan menjadi rujukan ilmiah.

2. Begitu banyaknya pengaruh dan sentuhan kepentingan yang terjadi di bumi Maluku ini maka sejak zaman dahulu perang sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat di kepulauan ini. Hal ini bisa dilihat dari aktualisasi budayanya seperti tari-tarian yang didominasi oleh unsur peperangan. Sejarah juga mencatat bahwa perang yang terjadi bukan saja antara orang Maluku dengan para pendatang tetapi juga diantara orang Maluku sendiri. Jika penulis berbicara Maluku di sini termasuk didalamnya Maluku Utara dimana kerajaan Raja Ampat sangat tersohor dan pengaruh kesultanan Ternate sangat dominan pada masa itu. Daerah produksi rempah-rempah menjadi ajang pertarungan perang yang luar biasa sehingga terciptalah hubungan « pela-gandong ». Peperangan dan perdamaian terjadi secara terus menerus dalam kehidupan orang Maluku. Sehingga kita tiba pada perang sipil yang terjadi dalam abad 21 ini (1999-2003), kemudian kita melihat dengan begitu cepat mencapai perdamaian di bumi Seribu Pulau. Ini perlu mendapat perhatian serius karena selama perang sipil berlangsung di Maluku masalah ini telah menjadi konsumsi internasional bahkan banyak pengamat atau pemerhati sosial yang memprediksikan bahwa perdamaian akan semakin jauh terwujud dan kalaupun dipaksakan maka dibutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun lebih. Hal ini menjadi pertanyaan bangsa lain dimana kejadian tersebut sulit sekali ditemui di abad modern ini. Tentu ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah dan budaya dari orang Maluku sendiri bahkan tanpa sadar sebenarnya orang Maluku mempunyai peradaban manusia yang sangat tinggi. Pendapat semacam ini banyak kami peroleh selama pergaulan kami sewaktu menyelesaikan studi di Eropa Barat (Prancis). Jadi Maluku pada masa mendatang akan menjadi objek studi peperangan dan perdamaian.

3. Pembangunan museum rempah-rempah dan museum perang sipil dimaksudkan untuk menginformasikan kepada generasi kini dan generasi dimasa mendatang tentang harumnya Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah dan juga mengarsipkan catatan sejarah berperang orang Maluku dari abad ke abad pada satu sisi sedangkan di sisi yang lain ingin menunjukkan bahwa orang Maluku selalu mencintai perdamaian.

4. Wujud dari Museum Rempah-Rempah adalah koleksi fosil dari dua tanaman rempah utama daerah Maluku yaitu cengkeh dan pala. Disamping itu pula koleksi dari seluruh jenis tanaman rempah yang digunakan oleh masyarakat di Kepulauan Maluku. Sedangkan wujud dari Museum Perang Sipil 19-1-1999 adalah pada tahap awal hanyalah mengoleksi seluruh material yang diciptakan dan digunakan oleh masyarakat selama berlangsungnya perang sipil. Mulai dari digunakannya batu dan kayu hingga diciptakannya senjata rakitan. Perubahan setiap peralatan perang per periode dicatat dan dipertunjukkan sebagai suatu perubahan teknologi yang dikuasai oleh masyarakat. Koleksi dari museum ini harus menghindari perasaan emosional dari kedua belah pihak yang bertikai sehingga eksposisi dari koleksinya belum bisa secara langsung menampilkan gambar wajah para korban atau pelaku yang aktif di lapangan selama perang sipil berlangsung. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk bisa menampilkannya kepada umum, namun dokumen foto dan film sepanjang peristiwa perang sipil sudah harus disimpan dan diidentifikasi mulai saat ini.

5. Museum juga dapat difungsikan sebagai sarana wisata dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan sejarah, budaya dan lingkungan alam. Dengan kata lain museum bisa dijadikan objek wisata turis dan laboratorium pembelajaran kepada masyarakat umum dan masyarakat ilmiah pada semua level pendidikan dari sekolah dasar hingga universitas.

6. Seringkali mengunjungi museum memang bukan budaya orang yang tinggal di negara berkembang seperti di Indonesia, tetapi jika belajar dari perjalanan sejarah bangsa yang sudah maju maka perasaan untuk mencintai dan mengunjungi museum harus ditanamkan sejak awal apapun bentuknya bahkan penampilan koleksi museum yang sangat sederhana sekalipun. Dari situ pula akan mencerminkan kesadaran dan penghargaan suatu generasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

7. Pengamatan kami di lapangan terhadap Museum Siwalima Maluku yang berlokasi di Taman Makmur Ambon telah menunjukkan suatu langkah awal yang baik dan perlu penataan dan penanganan yang lebih serius. Kunjungan kami ke sana diperoleh informasi bahwa Museum Siwalima Maluku sangat kekurangan dana untuk penataan koleksi. Lokasi di Taman Makmur alangkah baiknya ditetapkan pemerintah daerah sebagai lokasi museum. Sehingga pembangunan museum rempah-rempah dan museum perang sipil 19-1-1999 bisa ditetapkan lokasinya di sana.

8. Prinsip ilmiah dari pembangunan museum harus bertolak pada koleksi material, identifikasi, dan klasifikasi. Prinsip yang lainnya adalah peragaan dan penataan dimana kedua prinsip ini harus disesuaikan dengan perkembangan lingkungan masyarakat. Artinya semua material di dalam museum harus dipamerkan secara bergiliran mengikuti jadwal kejadian penting yang berlaku di masyarakat, misalnya eksposisi material menyongsong hari besar nasional dan daerah. Yang kami saksikan selama ini di Museum Maluku Taman Makmur adalah koleksi yang ditampilkan secara monoton. Bahkan menurut hemat kami, koleksi pribadi masyarakat seperti koleksi peninggalan warisan keluarga atau koleksi lukisan dapat ditampilkan untuk dipertontonkan kepada khalayak. Juga koleksi sejarah dari desa, kabupaten, dan pulau dapat diperlihatkan secara bergilir menurut jadwal eksposisi. Dan jadwal dimaksud harus diumumkan secara periodik kepada masyarakat umum maupun masyarakat ilmiah dari SD hingga universitas. Dengan demikian rasa ingin mengunjungi museum akan dibangkitkan secara bertahap. Disekitar lokasi museum dapat juga dibangun taman dan tempat rekreasi khusus kepada anak-anak dan tempat bersantai ria dengan makanan ringan. Ide yang mau ditampilkan disini adalah ke gunung untuk wisata museum dan ke laut untuk wisata pantai dimana ada obyek wisata Batu Capeu. Kedua ide ini dapat ditangani secara terpadu, bahkan kami berpikir untuk lebih menambah menariknya kekhususan wilayah Maluku maka dapat pula dibangun Museum Kelautan yang dapat menampilkan seluruh aspek kekayaan laut Maluku seperti berbagai jenis ikan, siput, karang dan mutiara. Pekerjaan ini dapat melibatkan ahli-ahli kelautan yang potensial yang telah dimiliki oleh Fakultas Perikanan Universitas Pattimura Ambon. Pekerjaan koleksi, identifikasi dan klasifikasi dari setiap jenis harus dikerjakan dan diarsipkan dengan teliti, kemudian secara periodik dapat dipertontonkan kepada khalayak.

9. Pembangunan Museum ini tentu akan sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan itu sangat mustahil harus ditangani sendiri oleh Pemerintah Daerah baik Kota maupun Propinsi, sehingga kami dapat mengusulkan kepada Pemerintah Daerah agar membicarakan ide ini dengan pemerintah pusat di Jakarta khususnya dengan Kementrian Pariwisata dan Budaya, karena beberapa waktu yang lalu berdasarkan catatan kami bahwa Menteri Pariwisata dan Budaya Kabinet Indonesia Bersatu (=Jerro Wacik) pernah berbicara soal begitu pentingnya peranan museum saat ini. Kecenderungan yang sangat memprihatinkan menurut pandangan kami bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya telah dirasuki dengan pikiran konsumtif materialistis, itu bisa dilihat dengan makin suburnya pembangunan pusat perbelanjaan yang mewah (=Mall). Pembangunan sektor ini juga sangat diperlukan untuk memacu sektor perekonomian negara, tetapi harus diimbangi pula dengan pembangunan infrastruktur pendidikan seperti museum, sehingga kunjungan ke Mall herus seimbang dengan kunjungan ilmiah ke Museum. Kalau ini tidak dipikirkan sejak saat ini maka generasi yang akan datang akan semakin jauh memiliki jiwa dan tekad untuk menekuni pekerjaan ilmu pengetahuan. Ide pembangunan museum ini dapat dibicarakan pula dengan badan internasional yang sementara tertarik untuk memberikan dukungan dana kepada pembangunan pendidikan dan kebudayaan di Maluku.

10. Demikian pemikiran singkat kami tentang pembangunan museum rempah, museum perang sipil 19-1-1999, museum kelautan dan penataan kembali museum Daerah Maluku di Taman Makmur Ambon dengan lingkungan alam pegunungan dan pesisir pantai yang dibangun secara terpadu. Semua penanganan ini hendaknya direncanakan oleh Pemerintah Daerah Kota Ambon bersama Pemerintah Propinsi Maluku. Semoga pemikiran kami ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah demi pengembangan ilmu pengetahuan lewat museum di daerah seribu pulau ini.

 

Ambon, 1 September 2005

Marcus Jozef PATTINAMA


 

[1] Sumbangan pemikiran ini disampaikan kepada Gubernur Provinsi Maluku di Ambon tanggal 1 September 2005

 

[2] Dosen program studi sosial ekonomi pertanian Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon. Pendidikan : S1 Sosek Pertanian Unpatti, 1988. S2 (DEA) Etnobotani Université d’Orléans Prancis, 1998. S3 (DR) Etnobotani dari Laboratoire Ethnobiologie-Biogéographie Muséum National d’Histoire Naturelle (MNHN) Sorbonne Paris, Prancis 2005. Penerima penghargaan internasional Mahar SCHÜTZENBERGER tahun 2005 untuk penelitian di Pulau Buru, Maluku, Indonesia dari Institut Gaspard Monge, Université de Marne-la-Vallée Prancis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>