The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities

SALAK

The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities to Strengthen the Bargaining Position of the Economy as well as Efforts to Enhance the Food Security Program for Alune Society in Seram Island

Marcus J. Pattinama, Aryanto Boreel, Jane K.J. Laisina, Handy E.P. Leimena

 Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon

 Email: mjpattinama@voila.fr

 

 Abstract

The concept of management and conservation of natural resources, developed by researchers, academics and intellectuals often produce a complex definition. The concept is increasingly biased if there are particular interests and often manipulated by politicians and capitalists. The fact that the concept of a traditional society in the utilization and preservation of the environment is a very simple concept to understand. The concept was developed from generation to generation and we call local wisdom. Academically should be recognized that local knowledge can not be kept in a museum but it should be more social capital for improving society. The combination of local wisdom or traditional knowledge will have an impact on social engineering without leaving sovereign rights to the resources. Advances in technology and concepts of modern economics in agribusiness aimed at the competitive and negotiated with the external world. This is to reduce poverty and isolation. If this is realized, they will have the economic bargaining power, as a result of an increase in human resources through education.

 

Introduction

Memahami masyarakat dan memecahkan permasalahan sosial bukanlah suatu konsep yang sederhana. Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh orang Alune sejak dahulu hingga saat ini yaitu masalah tanah yang diperuntukkan untuk program nasional transmigrasi guna memindahkan penduduk dari pulau Jawa ke dataran Kairatu sejak tahun 1954. Program pembangunan ini telah memberi dampak ekologi yakni berkurangnya areal tanaman sagu karena telah berubah fungsi lahan menjadi sawah. Kemudian persoalan berikutnya adalah hadirnya perusahaan eksploitasi hutan untuk mengambil kayu. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya rehabilitasi hutan yang gagal dilakukan sehingga yang terjadi adalah makin menurunnya vegetasi pohon di hutan. Persoalan terkini yang terjadi adalah aktivitas eksploitasi tambang untuk mengambil nikel dan emas. Dampak yang akan terjadi adalah dimulai dari pencemaran air, baik di sungai maupun air dalam tanah, oleh aktivitas tambang rakyat yang menggunakan bahan kimia secara tidak terkontrol. Bersamaan dengan aktivitas pertambangan,maka terjadi pula penggalian tanah secara besar-besaran sehingga mengurangi lahan produktif untuk aktivitas pertanian.

Harus jujur dikatakan bahwa aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini belum melibatkan orang Alune yang tinggal di wilayah pegunungan pulau Seram. Fasilitas transportasi darat belum maksimal, akibatnya habitat tempat tinggal mereka menjadi wilayah yang terisolir. Orang Alune melakukan aktivitas pertanian skala subsisten dan aktif meramu hutan untuk mencari damar (Agathis dammara), rotan (Daemonorops spp) dan kemiri (Aleurites moluccana).

Orang Alune juga memiliki sumberdaya alam yang lain seperti komoditas kenari dan salak. Umumnya kenari tumbuh secara liar di hutan tanpa campur tangan manusia. Hewan yang hidup secara bebas di hutan misalnya babi hutan, burung dan kelelawar yang menjadi perantara untuk penyebaran bibit kenari. Sedangkan komoditas salak dibudidayakan oleh orang Alune dan formasi tanaman ini selalu dibawah naungan pohon kenari. Secara alamiah orang Alune paham bahwa tanaman salak akan tumbuh dengan baik diantara tanaman–tanaman lain yang mempunyai strata tajuk lebih tinggi. Salak juga tumbuh dan menyebar pada daerah – daerah aliran sungai. Jadi di lokasi pengamatan ditemui bahwa salak lebih banyak ditanam di bawah pohon kenari, durian (Durio zibethinus) dan salawaku (Paraserianthes falcataria, L).

Tahun 2007 tim riset dari Fakultas Pertanian Unpatti Ambon mengamati perkembangan tanaman salak pada empat desa (Riring, Rumahsoal, Lohiasapalewa dan Manusa) yang berlokasi di wilayah pegunungan pada kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat. Luas tanaman salak di desa Riring adalah 301 hektar. Luas areal yang hampir sama dengan Riring adalah Manusa. Dua desa lain miliki luas lahan salak di bawah 100 hektar.

Salak dibudidayakan di beberapa daerah di Maluku seperti di pulau Ambon (Soya, Hatalai, Wakal, Amahusus dan Hative Besar) dan pulau Seram. Salak Riring (Salacca zalacca var Amboinensis) merupakan salah satu kultivar salak yang diduga merupakan tanaman asli di Maluku. Salak ini masih satu varietas dengan salak Soya dan salak Bali (Leatemia, dkk. 2007). Varietas ini dibedakan dari salak Jawa (Salacca zalacca var. Salacca) berdasarkan ukuran buah, bentuk buah, pola sisik pada kulit buah, ketebalan daging buah, tekstur buah, rasa buah, bentuk vegetatif tanaman (khususnya daun). Dinamakan salak Riring karena kultivar ini banyak tumbuh di desa Riring.

Tahun 2003 Menteri Pertanian RI memberikan penghargaan berupa surat akte atau sertifikat kepada Salak Riring sebagai varitas unggul nasional. Penghargaan ini diberikan untuk menyatakan bahwa salak ini memiliki sifat khas secara botanis dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di Maluku penghargaan yang sama tahun 1989 juga diberikan kepada tanaman durian Soya (Durio zibethinus) dan jeruk Kisar (Citrus nobilis).

Bagi masyarakat tradisional yang mendiami wilayah kepulauan Maluku, termasuk didalamnya orang Alune, dalam kehidupannya sehari-hari memiliki hubungan yang erat dengan alam di sekitarnya. Hubungan tersebut tercermin dalam pola hidup adaptasi dengan kondisi lingkungannya, misalnya cara berburu, memancing dan bertani. Teknik adaptasi tersebut tentu saja coraknya akan berbeda dari satu habitat ke habitat lain, dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Semua perbedaan tersebut disebabkan oleh kondisi lingkungan alam dan aspek sosial budaya yang berbeda.

Penelitian orang Alune dimulai dengan memahami konsep pertanian yang mereka praktekkan yaitu sistem pertanian campuran antara tanaman hutan (buahan – non buah) dan tanaman pertanian lain (pangan dan hortikultura). Model ini yang kita sebut sebagai agroforestry tradisional. Nama lokal dari system ini di pulau Seram disebut lusun, sedangkan di wilayah lain mengatakan dusung (Pulau Ambon dan Lease), wasilalen (Pulau Buru) dan etuvun (Pulau Kei). Model agroforestri (wanatani) tradisional yaitu merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika dibayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani campuran ke pola usahatani monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai, rusaknya tanaman daerah pantai (=mangrove) dan rusaknya daerah terumbu karang.

Kita harus akui bahwa apa yang telah dipraktekan masyarakat dalam berusahatani adalah pilihan yang sangat rasional, maka untuk memberdayakan ekonomi masyarakat seyogyanya dimulai dari konsep yang telah mereka kerjakan dan telah teruji dalam praktek mereka sehari-hari. Hal penting yang harus dilakukan oleh para peneliti adalah membantu petani untuk mengidentifikasi potensi yang mereka miliki. Potensi dimaksud adalah berapa banyak varitas pohon kenari, jumlah tegakan pohon kenari dalam hutan dan bagaimana interaksi antara kenari dan salak. Menurut Leatemia cs, 2007 bahwa tanaman salak di Pulau Seram adalah varitas yang berumah satu. Ini berarti hermaphrodit dimana bunga jantan dan betina berada pada satu rumpun. Jadi tidak perlu dilakukan perkawinan pembungaan dengan bantuan manusia. Secara alami salak Riring akan berbunga dan berbuah.

Jika kedua komoditas ini memiliki keunggulan yang luar biasa maka hal penting berikutnya adalah harus memahami dengan benar status pemilikan tanah yang berlaku di masyarakat. Tanah adalah bukan milik perorangan, tetapi dikuasai secara komunal dalam sistem kelompok kekerabatan (clan). Data ini harus akurat di lapangan karena ada kaitannya dengan perluasan pertanaman jika ingin membenahi bagian hulu dari sistem agribisnis.

Permasalahan pada bagian hilir agribisnis dari kenari dan salak adalah kurangnya aspek introduksi teknologi dan aspek pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan komoditas spesifik. Hal itu berarti bahwa kenari dan salak adalah komoditas andalan bagi suatu daerah. Komoditas andalan bermakna hanya tumbuh dan berkembang dengan baik karena dukungan kondisi tanah dan iklim lokal di daerah tersebut. Produktivitas dan mutu hasil sangat spesifik lokal yang tidak dijumpai di daerah lain.

Masyarakat pegunungan di Pulau Seram harus memiliki kedaulatan pangan pada komoditas kenari dan salak. Kedaulatan pangan dimaksud akan mengangkat tingkat kehidupan mereka dan itu hanya dapat dicapai apabila ada nilai tambah dari komoditas tersebut dalam hidup mereka. Kedaulatan pangan sebenarnya ada kaitannya dengan hak asasi manusia. Jadi pengembangan komoditas pertanian tidak dapat dipisahkan dari pengembangan peradaban manusia. Jika ini semua tercapai maka kita telah menciptakan program kecukupan pangan bagi masyarakat yang hidup disekeliling sumbaerdaya alam yang melimpah dimana selama ini belum dioptimalkan untuk diberdayakan. Apa artinya memperoleh piagam penghargaan sertifikat nasional untuk mengkategorikan salak sebagai komoditas nasional ? Begitupun kenari adalah tanaman asli dari Maluku ? Untuk itu pendekatan yang konvensional tidak bisa diandalkan dalam memberdayakan orang Alune. Dibutuhkan pendekatan etnobotani untuk bisa memahami rasionalitas tersembunyi dari orang Alune, sehingga suatu saat nanti komoditas kenari dan salak akan memberikan kontribusi bagi pendidikan generasi muda orang Alune. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat orang Alune tidak merasa inferior dalam perkembangan teknologi saat ini.

 

Informasi Lokasi Riset dan Demografi

Riset ini dilaksanakan di desa Uweth, Buria, Riring, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Secara administratif termasuk dalam kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku (Map 1). Kelima desa ini berada dalam satu daratan dan hanya dipisahkan oleh sungai dan gunung. Akses transportasi ke lokasi studi masih sulit, karena harus ditempuh dengan berjalaan kaki dalam jarak yang cukup jauh, kecuali Desa Uweth yang letaknya di pesisir pantai yang berjarak 3 (tiga) Km ke ibukota Kecamatan Taniwel.

Wilayah studi memiliki fisiografi bergunung dengan ketinggian rata-rata 400 – 725 m dpl dengan kemiringan lereng dominan > 45 %. Namun terdapat areal yang memiliki kemiringan lereng < 30 % dengan luasan yang sempit dan tersebar secara sporadis terutama pada punggung atau puncak gunung serta pada dataran sepanjang dekat aliran sungai.

Pulau Seram mempunyai pola iklim  dengan karakteristik yang berbeda–beda menurut ruang dan waktu, terutama sebaran dan jumlah curah hujan. Curah hujan pada musim basah tercatat > 200 mm dan bulan kering < 100 mm.

Penduduk di wilayah studi sebagian besar adalah penduduk asli dari suku Alune. Data registrasi penduduk tahun 2011 pada wilayah riset disajikan pada tabel 1, dengan tingkat kepadatan penduduk 18.98 jiwa per km2.

 

Tabel 1.  Keadaan Penduduk di Wilayah Studi Tahun 2011

Desa

KK

Jumlah Penduduk

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

Uweth

75

205

167

372

Buria

120

312

350

662

Riring

172

393

352

745

Rumahsoal

47

134

127

261

Lohiasapalewa

58

157

137

294

 

            Berdasarkan data yang diobservasi di lapangan pada data monografi desa, maka persentase jumlah penduduk usia kerja di desa Buria menunjukkan jumlah terbanyak disusul desa Riring, Uweth, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Jumlah penduduk usia produktif di wilayah studi sangat besar, namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa tidaklah semuanya penduduk usia ini sudah bekerja atau memiliki pekerjaan. Pendidikan terakhir kepala keluarga pada wilayah didominasi oleh tingkat sekolah dasar. Sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama penduduk di wilayah studi, sedangkan sektor non pertanian hanya ditekuni oleh sebagian kecil dari jumlah penduduk pada wilayah tersebut.

 

Pulau Seram

 

Map 1 . Pulau Seram dan Teritorial Alune di Kecamatan Taniwel

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Seram, dapat dibedakan antara penduduk asli (Alifuru Seram) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang yang sebagian besar di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah penduduk pendatang dilaporkan relatif lebih banyak dari Alifuru Seram. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Seram (Gambar 1). Kesatuan hidup dari orang Seram adalah soa (clan). Masing-masing soa mempunyai nama yang diwariskan secara patrilineal.

Gambar 1, menyajikan bagan tentang bagaimana Alifuru Seram membagi penduduk dari sisi pandang mereka. Alifuru Seram adalah mereka yang mengaku penduduk asli dan pemilik Pulau Seram. Sebagian besar dari mereka mendiami daerah pegunungan. Kelompok autokton ini terbagi atas dua kelompok yaitu Alifuru Gunung dan Seram Pantai. Penyebutan gunung dan pantai adalah wilayah tempat tinggal mereka. Ada ciri pembeda dari kelompok ini yaitu yang tetap mempertahankan garis perkawinan dalam internal Alifuru Seram menyandang gelar Alifuru Gunung yang terbagi dalam Orang Alune dan Orang Wemale. Sedangkan memilih kawin di luar kelompok mereka disebut Seram Pantai.

Penduduk alokton (Pendatang) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Seram beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Seram karena perdagangan rempah dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh pedagang Cina. Suku Buton tinggal di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Suku Jawa dan Bali bermukim karena adanya program nasional transmigrasi.

 

orang-seram

 

Figure 1. Penggolongan Penduduk Pulau Seram menurut Orang Alifuru Seram

 

Pendekatan Etnobotani dan Koleksi Data

Penelitian etnobotani yang dikembangkan oleh penulis merupakan suatu konsep pendekatan permasalahan dari segi etnologi dan botani dimana pendekatan ini sudah banyak dilakukan di Indonesia terutama oleh pakar etnologi-antropologi dan botani. (lihat penelitian dari Roy Ellen untuk masyarakat Nuaulu dan Dyah Maria Suharno untuk masyarakat Alune di Lumoli).

Yang banyak terjadi saat ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing pakar tersebut dan lebih cenderung terpisah-pisah sesuai domain ilmunya. Padahal kalau dilakukan secara interdisipliner tentu akan sangat menarik dimana segi etnologi akan menjelaskan bagaimana hubungan yang erat antara kehidupan suatu kelompok masyarakat dengan sumberdaya alam tumbuhan yang ada di lingkungannya, termasuk didalamnya menjelaskan tentang persepsi dan konsepsi masyarakat itu terhadap dunia tumbuhan yang dikenalnya, cara pengelolaan dan sejarah pemanfaatan. Sedangkan dari segi botani akan menjelaskan penyebaran jenis-jenis tanaman, taksonomi dan klasifikasi tanaman. serta sistem pengetahuan suatu kelompok masyarakat terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan, dan yang utama adalah mengungkapkan perannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya analisis yang digunakan dalam studi etnobotani adalah menggunakan « analisis dalam » dan « analisis luar ». Artinya bahwa analisis dalam akan lebih difokuskan untuk menjelaskan karakteristik dengan mengembangkan konsep yang sudah ada dalam suatu masyarakat sedangkan analisis luar akan menganalisis hubungan antara aspek sosial dan aspek teknik secara interdisipliner.

Penelitian interdisipliner dimulai dengan mewawancarai petani dan melakukan diskusi focus dan pengamatan lapangan dan menggunakan kuesioner. Diskusi fokus dilakukan dengan aparat pemerintah, tokoh adat dan responden kunci pada setiap kelompok kekerabatan. Hal ini untuk mencari informasi terkait dengan adat istiadat dan penguasaan tanah. Data yang dikoleksi terdiri atas :

  1. a.      Aspek Etnologi Botani (Pilar Etnobotani dalam Agribisnis) : Data tema ini dimulai dengan melakukan pendekatan etnobotani yang menjelaskan bagaimana hubungan erat antara adat dan budaya masyarakat dengan sumberdaya alam flora-fauna serta cara memperoleh dan memanfaatkannya, khususnya yang terkait dengan tanaman kenari dan salak.
  1. Aspek Kultur Teknis (Pilar Agronomi dalam Agribisnis)

b.1. Sistem Lahan : data tentang penggunaan lahan untuk kenari dan salak.

b.2. Usahatani, Budidaya Tanaman dan Agroklimat : Data dari aspek ini adalah pola usahatani, sistem budidaya dan potensi tanaman kenari dan salak). Data tentang jumlah tanaman kenari yang dimiliki oleh tiap responden petani. Untuk tanaman salak akan dilakukan sensus untuk mendapatkan data jumlah rumpun salak. Data agroklimat menggunakan data sekunder meliputi data iklim: curah hujan, suhu, lama penyinaran, dan kelembaban udara.

  1. c.       Aspek Teknologi Pasca Panen (Pilar Agroteknologi dalam Agribisnis) : Teknologi mesin pemecah kulit buah kenari. Untuk salak telah ditemui mesin untuk membuat keripik salak.
  2. d.      Aspek Sosial Ekonomi (Pilar Agroniaga dalam Agribisnis) :Dalam analisis aspek pasar data yang diperlukan antara lain : kecenderungan konsumsi atau permintaan masa lalu dan sekarang, dan variabel-variabel yang berpengaruh yang dapat dijadikan dasar perumusan model peramalan pasar potensial di masa yang akan datang. Selain itu pula tingkah laku, motivasi, kebiasaan, dan prevalensi konsumen; serta pemilihan “marketing efforts” yang akan dilakukan dan pemilihan skala prioritas dari marketing mix yang tersedia.
    1. e.       Teknik Pengumpulan Data Potensi Komoditas

Dalam tahap pengambilan data potensi kenari dan salak di lapangan dilakukan secara purposive sampling  dengan mempertimbangkan kondisi topografi dan penyebaran tanaman kenari dan salak. Untuk pengambilan data potensi kenari dibuat jalur-jalur pengamatan dimana pada setiap jalur pengamatan dibuat petak contoh untuk pengamatan tingkat pohon. Sedangkan untuk pengamatan tanaman salak dilakukan dengan rumpun tanaman salak.

 

Urgensi Riset

Penelitian multidisiplin saat ini sangat diperlukan untuk memecahkan permasalahan lingkungan yang banyak bersinggungan dengan persoalan manusia. Salah satu persoalan yang belum tuntas ditangani hingga saat ini adalah masalah kemiskinan dan masalah ketahanan pangan. Kedua masalah ini akan sangat mempengaruhi pola pengelolaan lingkungan. Langkah strategis yang ditempuh adalah :

  • Menemukan komponen teknologi maupun paket teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan mutu hasil seperti misalnya teknologi tepat guna untuk memecahkan buah kenari serta bagaimana menjadikan komoditi salak menuju industri ?.
  • Membangun pilar agribisnis kenari dan salak yang dimulai dengan menata bagian hulu produksi bahan baku yakni memecahkan masalah budidaya kenari dan salak dimana saat ini masyarakat masih mempraktekkan budidaya tradisional dan tanpa perawatan. Bibit atau benih yang tumbuh lebih dominan tanpa campur tangan manusia. Selain itu riset ini juga menyiapkan bagian hilir dengan teknologi pasca panen yang berbasis pada industri rumah tangga.
  • Mengidentifikasi aspek jejaring usaha dalam hal ini pasar, selanjutnya membuka kerjasama kemitraan dengan Pemerintah sebagai penjamin regulasi, pengusaha untuk informasi agribisnis dan sekaligus penataan rantai distribusi (Supply Chain Management / SCM) serta mitra akademisi yang selalu mencari terobosan rekayasa teknologi.

 

Penelitian yang dilaksanakan untuk memahami masyarakat dengan lingkungannya akan memberikan kontribusi sebagai berikut :

  • Menjadi pedoman dalam dokumen perencanaan dan pengelolaan pengembangan wilayah Kecamatan Taniwel di Kabupaten Seram Bagian Barat. Pada hakekatnya dokumen ini akan bermanfaat saat masyarakat merancang pembangunan desa dalam forum perencanaan level desa hingga ke forum yang sama pada level kabupaten. Dokumen dimaksud akan berisi data dan peta potensi komoditas unggulan kenari dan salak serta introduksi teknologi tepat guna berbasis industri rumah tangga.
  • Membangun pilar agribisnis pada bagian hulu dan hilir dengan terlebih dahulu menyajikan secara detail informasi sosial dan ekonomi masyarakat, karena informasi ini sangat penting bagi investor yang ingin menanamkan modalnya.
  • Perkembangan ekonomi keluarga yang cenderung meningkat akan memberikan dampak bagi perspektif masyarakat untuk lebih serius menangani pendidikan dan kesehatan. Jika ini berhasil maka persoalan pengentasan kemiskinan akan sukses dilaksanakan.
  • Memberikan penguatan kepada konsep ketahanan pangan dalam masyarakat sehingga kedua komoditas ini memberikan energi kepada masyarakat untuk tetap pada level kecukupan pangan.

 

Hasil Riset

1.Potensi Salak dan Kenari

Salak Riring memiliki keragaman jenis yang cukup besar. Tanaman salak yang dibudidaya di wilayah studi  diduga ada empat jenis yang dapat dibedakan berdasarkan karakter morfologi, karakter  agronomi, warna daging buah dan cita rasa. Tiga jenis telah diidentifikasi yaitu salak merah atau lebih dikenal dalam bahasa Alune : salaka lalakwe. Daging buah  salak ini berwarna merah dan cita rasanya manis, berair serta tekstur dagingnya renyah. Jenis ini mulai dibudidayakan pada tahun 1960 dan mulai berproduksi tahun 1966. Perkembangan budidaya jenis salak ini terlambat, karena masyarakat takut mengkonsumsinya,  dengan alasan warna buahnya tidak lazim bagi mereka. Salak putih bahasa Alune : salaka putile dan salak berwarna gading bahasa Alune : salaka porole. Jenis yang lain adalah salak coklat bahasa Alune : salaka cokale. Jenis ini warna daging buah adalah kecoklatan. Salak ini masih dalam observasi, sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Berdasarkan karakter morfologi, warna daging buah dan selaput daging buah serta cita rasa hampir tidak jauh berbeda dengan salaka lalakwe (Leatemia et al, 2007, Pattinama et al, 2012).

SALAK

Figure 2. Kondisi areal tanaman salak dan produksi buah salak merah

 

Dari hasil identifikasi maka taksonomi salak Riring sebagai berikut :

Kingdom         :           Plantae

Divisi               :           Spermatophyta

Sub Divisi       :           Angiospermae

Kelas               :           Monocotyledon

Ordo                :           Arecales/Spadiciflorae

Family             :           Arecaceae/Palmae

Genus              :           Salacca

Spesies            :           Salacca zalacca var. amboinensis

 

Inventarisasi terhadap tanaman salak di lokasi penelitian ditemukan jumlah individu tertinggi terdapat di desa Rumahsoal adalah 293 rumpun, diikuti dengan desa Buria sebanyak 225 rumpun. Jumlah individu yang terendah ditemukan pada desa Lohiasapalewa sebanyak 48 rumpun sedangkan pada desa Uweth tidak dijumpai adanya tanaman salak. Jika dilihat dari rata-rata jumlah rumpun tiap hektar, maka desa Riring memiliki rata-rata jumlah rumpun tiap hektar yang tertinggi yaitu 3450 dan 4000 rumpun/ha, diikuti oleh desa Rumahsoal sebanyak 1465 rumpun/ha. Jumlah rumpun terendah terdapat pada desa Lohiasapalewa sebanyak 415 rumpun/ha.

Data hasil inventarisasi potensi salak di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 2 .

 

Tabel 2. Hasil inventarisasi potensi tanaman salak di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Individu (Rumpun)

Sebaran Jumlah Rumpun Per Plot *)

Rata-rata Jumlah Rumpun (R/ha)

1.

Uweth

2.

Buria

225

20 – 100

1406

3.

Lohiasapalewa

48

1 – 79

415

4.

Rumahsoal

293

42 – 73

1465

5.

Riring

138**); 160***)

138**; 160***)

3450**); 4000***)

Keterangan : *) ukuran plot contoh (20 x 20) m, **) Salak Merah, ***) salak putih

 

Komoditas kenari dari famili Burseraceae diindikasikan merupakan plasma nutfah yang tumbuh dan berkembang dengan sangat baik di Kepulauan Maluku yang terbentang dari utara (Maluku Utara) hingga ke daerah sebelah selatan (Maluku). Hingga saat ini belum ada suatu riset yang mendalam tentang tanaman ini. Tanaman ini sering dibawa oleh kolonial Belanda untuk menjadi tanamn pelindung pada sejumlah daerah di Indonesia. Yang dimakan dari buah ini adalah dagingnya yang dibungkus oleh kulit buah yang sangat keras dan kokoh. Untuk mendapatkan daging buah secara konvensional masyarakat di Pulau Seram memecahkannya dengan menggunakan parang dan sebagian lagi menggunakan batu atau palu.

Proses pemecahan secara konvensional ini mempunyai kelemahan yaitu laju produksi rendah dan kualitas daging buah kenari yang dihasilkan tidak seragam. Berdasarkan pengalaman di industri rumahan 1 (satu) orang dalam sehari (= 8 jam) hanya mampu memisahkan daging buah kenari dari cangkangnya sebanyak 1(satu) kg. Padahal di hutan Pulau Seram tersedia buah kenari dalam jumlah yang banyak dan itu semua terbuang sebagai limbah di hutan. Babi hutan akan makan buah kenari yang masih utuh. Yang dimakan adalah lapisan kulit yang membungkus cangkang dan seterusnya akan dikeluarkan sebagai kotoran dan ini adalah penyebaran bibit kenari secara alami di hutan. Selain itu jenis burung tertentu juga mempunyai andil menyebar buah kenari dan kemudian tumbuh sebagai bibit.

POHON-KENARI

Figure 3. Pohon kenari yang ditemukan di lokasi penelitian

 

Hasil identifikasi menyatakan bahwa semua kenari yang berada di 5 desa di Kecamatan Taniwel adalah Canarium indicum L. Dari hasil identifikasi tersebut maka taksonomi kenari adalah sebagai berikut :

Kingdom                     : Plantae

Divisi                           : Magnoliophyta

Kelas                           : Dicotyledon

Ordo                            : Sapindales

Famili                          : Burseraceae

Genus                          : Canarium

Spesies                        : Canarium indicum L

 

Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan di lokasi penelitian, ditemukan bahwa potensi kenari banyak ditemukan pada desa Riring sebanyak   81 pohon/ha, diikuti oleh desa Uweth sebanyak 57 pohon/ha seperti disajikan dalam Tabel 3. Selanjutnya, Sebaran potensi kenari yang paling sedikit dijumpai pada desa Rumahsoal sebanyak 23 pohon/ha. Sebaran diameter pohon kenari yang diukur di lokasi penelitian berkisar antara 11,5 cm sampai 149,8 cm  dan tinggi bebas cabang dapat mencapai sekitar 30 meter. Hasil perhitungan volume pohon kenari di dapatkan volume pohon bebas cabangnya berkisar antara 36,621 m3/ha sampai 298,882 m3/ha.

 

Tabel 3. Hasil inventarisasi potensi pohon kenari di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Pohon (n/ha)

Sebaran Diameter (cm)

Tinggi

(m)

Volume*)

(m3/ha)

1.

Uweth

57

11,5 – 122,5

10 – 30,4

79,011

2.

Buria

28

20 – 105

9 – 25

36,621

3.

Lohiasapalewa

50

21,5 – 63,5

5,5 – 12,6

44,309

4.

Rumahsoal

23

54,2 – 149,8

7,3 – 22,5

232,265

5.

Riring

81

42,5 – 134,4

10,6 – 22,7

298,882

Keterangan *) Volume pohon bebas cabang

 

2.Dunia Kosmologi Orang Alune

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Seram umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Alifuru Seram.

Pemikiran yang kuat dari Orang Alifuru Seram dalam memandang pulaunya adalah Nusa Ina (Pulau Ibu) yakni pulau yang melahirkan semua suku bangsa Maluku. Seram adalah tanah yang luas dan subur laksana suburnya seorang perempuan yang melahirkan generasi baru.

Kehidupan awal manusia bermula di Nunusaku. Kata ini mengandung dua kata yakni nunue artinya beringin dan saku artinya air. Jadi Nunusaku adalah beringin yang mengluarkan air. Dari pohon itu keluarlah tiga dahan pohon dimana setiap dahan mengeluarkan air hingga membentuk sungai yang sakral di Pulau Seram yaitu Tala, Eti dan Sapalewa.

 

3.Pola Makan

Orang Seram akan mengorganiser makanan sesuai dengan aktivitas mereka yang berbeda yakni pada saat di dalam rumah dan di luar rumah. Orang Seram mengusahakan tanaman sagu (Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsi-nya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, orang Seram secara rasional memilih singkong (=kasbi, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan pati singkong, kemudian diolah untuk menjadi papeda. Mereka juga mengkonsumsi selain protein hewani seperti daging babi, rusa dan kusu (Phalanger dendrolagus) juga ikan air tawar (mujair) dan udang pada habitat sungai atau kali. Masyarakat alokton (Pendatang) yang sebagian besar tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan juga singkong. Mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

sagu

Figure 4. Proses Pengolahan Sagu,Pati sagu dalam Tumang dan Makanan Papeda (Foto:Pattinama, 2012).

 

Conclusion

Orang Seram di pedalaman Pulau Seram merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Seram hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Seram menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Bahkan jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu), protein (babi, kusu, rusa, udang dan ikan) serta vitamin lain (sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Seram bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Seram sebagai penduduk autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Pulau Seram, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Seram relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan karena orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Pulau Seram yang berbentuk seorang perempuan dan seluruh organ badan direpresentasekan pada teritorial yang sudah jelas dibagi untuk dikuasai oleh setiap kelompok kekerabatan. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan kepada pulau yang bernama Seram. Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Seram makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Seram sehingga akses mereka untuk memperoleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memperoleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

3 comments on “The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities

  1. johanes on said:

    selamat siang, saya tertarik membeli buah kenari dengan harga tinggi..jika berminat hubungi whats app saya di 081217536928

  2. BEATRIX D.LATUE(2014-81-033) on said:

    Selamat siang pak,setelah saya membaca riset yang pak lakukan di desa riring kecamatan taniwel,sayang sangat tertarik,namun yang ingin saya sampaikan yaitu apa yang membuat sehingga bapak harus melakukan riset di daerah yang kondisi iklimnya begitu dingin,jarak yang ditempuh sangat jauh dari temapat tinggal bapak,dan tidak ada transportasi yang baik untuk menempuh lokasi riset tersebut…?
    kemudian yang berikutnya,setelah bapak melakukan riset tersebut yang pasti bapak sudah banyak mengetahui tentang kondisi desa tersebut,yang mana kehidupan masyarakat di desa tersebut sangat tergantung pada berbagai habitat yang ada,namun untuk kegiatan pemasaran tidak begitu baik sehingga banyak hasil-hasil alam yang tidak bias dipasarkan dengan baik.hal ini mungkin bias saja membuat masyarakat di desa tersebut cenderung menurun untuk tetap membudidayakan komoditi yang sangat dominana di minati oleh masayarakat seperti komoditi salak dan kenari.sehingga harapan saya,bapak sebagai seorang pakar ekologi tolong berikan saran kepada pemerintah agar mereka dapat melihat kondisi desa di mana bapak melakukan riset tersebut,agar pengembangan komoditas pertanian di desa tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik.
    Terima kasih…:)

  3. Lifta Telapary on said:

    selamat siang Bapak, dari sekian artikel yang Bapak tulis, saya sangat tertarik dengan artikel ini.Tulisan yang ditulis sangat membantu dan bermanfaat, mengapa saya katakan demikian, karena dalam tulisan Bapak ini telah menceritakan banyak tentang daerah Seram, terkususnya orang bahasa Alune yang mendiami daerah taniwel pegunungan, dan pada intinya tulisan Bapak ini sangat bermanfaat bagi kehidupan orang taniwel gunung pada umumnya, Pada akhirnya dunia lebih mengetahui bagaimana karakteristik daerah mereka disana.dalam tulisan ini secara ringkas menjelaskan tentang nasyarakat alune yang tinggal di pegunungan dengan sumber daya alam yang berlimpah, terkususnya sumber daya alam kenari dan salak, dan saya selaku orang seram sangat berterimakasih kepada Bapak, kerena telah menulis artikel ini, Semoga lebih lanjutnya tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, terimah kasih.
    Nama: Lifta.Telapary
    Nim:2014-81-047

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>