IDENTITAS MALUKU DALAM KONTEKS NASIONAL

peta-maluku

Max Marcus J. PATTINAMA

Email : mjpattinama@gmail.com

SEKAPUR SIRIH

Mengenal, memahami dan membangun Kepulauan Maluku dengan seluruh identitas ke-Maluku-an, dimana penduduknya mayoritas mendiami pulau-pulau kecil, seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Itu berarti orang Maluku kekinian bukan menuntut diperlakukan khusus atau istimewa, karena orang Maluku sadar betul bahwa mereka bukanlah spesies unik. Kenyataan membuktikan bahwa ada proses perlambatan dalam membangun wilayah ini dan manusianya. Hal ini mungkin disebabkan karena wilayah Maluku yang sangat luas. Maluku memang dikenal sebagai “Indonesia Mini”. Lalu apa yang harus dilakukan ? Jawabannya adalah hanya orang Maluku sendiri yang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya. Semua wilayah administratif pemerintahan di Maluku telah dikuasai dan dipimpin oleh orang Maluku. Jadi kalau ada istilah perlambatan dalam membangun Maluku, kemudian ada kesulitan mengenal dan memahami identitas ke-Maluku-annya, maka yang harus disalahkan adalah orang Maluku itu sendiri.

PROLOG : IDENTITAS SEBAGAI BANGSA INDONESIA

Indonesia sebagai suatu negara memang cukup luas dan itu tidak dapat dibayangkan secara logika bahwa seluruh untaian pulau besar dan kecil semuanya dapat dipersatukan sebagai suatu Negara Kepulauan yang semenjak dahulu disebut Nusantara. Semangat Nusantara dengan profil manusia maritim adalah modal sosial yang bisa merekatkan seluruh pulau itu bagaikan magnet dengan sentrum pemerintahan Jakarta di Pulau Jawa. Hal ini berarti  memandang Indonesia hanya baru dari satu aspek saja yaitu geografis.

Pada aspek eco-etnografi, maka akan semakin kompleks lagi yaitu mempersatukan seluruh adat, budaya dan bahasa dalam suatu untaian perekat yakni budaya Indonesia. Walaupun dalam prakteknya yang disebut budaya Indonesia mendapat pengaruh yang besar pada sentrum pemerintahan di Pulau Jawa. Jadi kalau menyatakan diri sebagai orang Indonesia nampaknya masih pada tataran konsep yang abstrak. Alangkah lebih bangga menyatakan diri sebagai orang Sumatra, orang Jawa, orang Kalimantan, orang Sulawesi, orang Maluku atau orang Papua. Dalam kesatuan orang yang disebutkan itupun masih akan ditemui kelompok kekerabatan yang khas dan sangat beragam, misalnya diskursus[1] orang Sumatra di dalamnya ada orang Aceh, orang Batak atau orang Padang. Diskursus orang Jawa di dalamnya ada orang Sunda, orang Jawa tulen atau orang Betawi. Begitupun dengan diskursus orang Maluku di dalamnya ada orang Ambon, orang Lease, orang Buru, orang Banda, orang Seram atau orang Kei serta orang Tenggara Jauh.

Bagaimana dengan pengungkapan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia? Jika menyebut identitas demikian mungkin saja lebih konkrit maknanya. Berbeda misalnya dengan masyarakat Amerika atau Eropa yang menyatakan diri sebagai orang Amerika atau orang Eropa (I am American atau Je suis européen). Perhatikan orang Inggris yang kemudian bermigrasi bersatu dengan bangsa lain menjadi orang Amerika lalu menyatakan diri pribadi atau saya dengan “I” (=ai). Kata “I” ini mulai ditulis pada bagian depan, tengah dan akhir kalimat harus ditulis dengan huruf kapital. Negara Inggris adalah sebuah negara kepulauan di Eropa. Kata saya dalam bahasa Eropa lainnya tidak menganut aturan ini. Ini berarti bahwa orang pulau cenderung lebih bayak menonjolkan diri pribadi.

Dari uraian di atas jelas bahwa mengungkapkan identitas diri ada kaitannya dengan kondisi geografis. Masyarakat di wilayah kontinental adalah lebih konkrit menyatakan identitas diri dengan terminologi orang, sedangkan Indonesia sebagai wilayah kepulauan yang terdiri dari pulau besar dan lebih dominan pulau-pulau kecil, akan menyatakan identitas berdasarkan pulau sebagai habitat hidupnya. Istilah orang juga harus dibedakan dengan istilah masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu mengatakan masyarakat Indonesia sebagai Bangsa Indonesia akan lebih kuat dan lebih bermakna dari pada menyebut diri sebagai orang Indonesia. Keunikan Indonesia yang demikian akan lebih menambah bobot pandangan bangsa lain terhadap Nusantara khususnya pada aspek tata pengelolaan sosial pemerintahan yang diterapkan untuk dapat menyatukan bangsa Indonesia dari ufuk Barat hingga ufuk Timur atau dari Sabang sampai Merauke. Orang asing (bukan Orang Indonesia) akan menjadi heran dan makin tidak paham bahwa Indonesia yang besar ini bisa dipersatukan hingga pada saat ini.

Pada sudut pandang socio-economica sangatlah tidak efisien mengelola negara yang sangat luas ini. Akibatnya perkembangan kemajuan masyarakat akan sangat lambat apalagi diikuti dengan lambannya perkembangan penguasaan teknologi. Jelaslah hal itu akan memerlukan anggaran negara yang relatif tidak kecil. Jika pendapat ini dibenarkan tanpa diungkapkan dengan suatu data atau pengalaman berdasarkan riset, maka mungkin kesimpulan prematur yang diambil adalah “Indonesia Bubar”. Secara historis telah diungkapkan bahwa pengalaman bernegara kita sudah membuktikan dimana ketika itu sistem politik pemerintahan pernah berganti-ganti, hingga akhirnya tiba pada keputusan “harga mati” yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi berkumpulnya manusia tidak dapat diintepretasi dalam skala untung atau rugi. Ada sesuatu alasan yang sulit diungkapkan dan para etnolog sering katakan itu adalah bagian dari rasionalitas yang tersembunyi (hidden rationality). Masyarakat Indonesia menganut filosofi “mangan ora mangan asal ngumpul”,”yang penting mudik” dan “bakumpul orang basudara” adalah nilai identitas diri yang sangat sulit diintepretasi secara rasional. Itulah hakekat hubungan kemanusiaan yang nilainya sangat tinggi.

Apabila tinjauannya pada aspek eco-policy, maka Indonesia adalah Negara Kepulauan terbesar telah sukses melakukan agenda reformasi politik. Bayangkan saja dari negara dengan pemimpin yang “diktatorial” selama dua rezim kekuasaan (Orde Lama dan Orde Baru) ke negara yang sukses melakukan reformasi infra dan supra struktur politik menuju sistem negara demokrasi. Modal sosial lainnya yang dimiliki Indonesia adalah masyarakat yang plural, baik etnis maupun agama. Kemudian konflik sosial bisa tuntas diselesaikan dengan sangat santun dan beradab, misalnya persoalan Aceh dan Papua, serta tragedi kemanusiaan di Maluku dan Poso. Bandingkan saja dengan persoalan geopolitik lainnya yang terjadi di beberapa belahan dunia yang tidak tuntas diselesaikan hingga masih menyisakan dendam kesumat. Katakanlah persoalan di Timur Tengah dan persoalan religius di Irlandia Utara. Jadi dalam tatanan pergaulan diplomasi politik global dengan menyelesaikan reformasi politik dan konflik sosial, maka Indonesia sangat disegani karena dianggap telah melakukan loncatan politik yang berhasil. Dalam beberapa analisis dikemukakan bahwa demokrasi hanya bisa terwujud apabila pilar ekonomi negara telah kuat. Pendapat itu bisa saja benar atau salah, tetapi yang pasti bahwa penguatan pilar ekonomi negara ini hanya bisa terwujud dengan terobosan rekayasa teknologi yang ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian pulau-pulau kecil yang sangat dominan di Nusantara.

Pertanyaan yang bisa diajukan adalah katalisator apakah yang menyatukan seluruh pulau, baik besar maupun kecil bahkan yang telah eksis memiliki nama dan yang belum ada nama, menjadi suatu kesatuan yang utuh? Pemahaman yang komprehensif tentang pulau-pulau kecil terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang ada di Indonesia dengan segala komponen di dalamnya merupakan suatu cara untuk bisa memahami makna keutuhan wilayah di samping pemahaman tentang etno-antropologi dari setiap wilayah.

 

IDENTITAS SEBAGAI ORANG MALUKU

Isu tentang konsep keutuhan wilayah merupakan dimensi pertahanan keamanan dan sesungguhnya makna identitas sering dihubungkan dengan isu dimaksud karena berkohesi dengan apresiasi diri demi menjunjung tinggi jati diri dan ciri-ciri seseorang atau masyarakat. Pertahanan keamanan terusik itu sama halnya dengan terusiknya identitas. Mengupas tema identitas, kami lebih condong menempelkannya dengan terminologi orang (man) dan masyarakat (society). Mengapa ? Orang mewakili individu dan masyarakat mewakili kelompok orang. Kami memang sengaja menghindar menggunakan terminologi suku, etnis dan pribumi atau non pribumi. Terminologi itu lebih banyak digunakan pada era kolonial dimana masyarakat belum berkembang dan masih hidup dalam sekat-sekat superior dan inferior.

Orang Maluku yang tinggal di Pulau Enu, Pulau Kisar dan Pulau Leti Moa Lakor (Lemola), yang kesemuanya adalah pulau kecil 3T di Maluku, mungkin saja sangat jauh dari konsep perubahan bernegara yang sementara terjadi di sentrum pemerintahan di Pulau Jawa, tetapi mereka tetap tahu dan sangat setia sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air satu dan berbahasa satu. Orang Bupolo adalah masyarakat asli Pulau Buru yang tinggal terisolir di daerah pegunungan tidak tahu bahwa siapa itu Gubernur Maluku atau Presiden RI, tetapi mereka tahu bahwa ini bumi Indonesia, dimana cerita itu diperolehnya dari orang Buton atau Bugis saat mereka melakukan transaksi dagang dengan pedagang antar pulau yang secara reguler datang di Pulau Buru. Kisah masyarakat yang hidup terisolir di Indonesia yang menempati habitat gunung atau pulau kecil masih banyak yang belum terungkap.

Cerita lama dan elok tentang kepulauan Maluku (Mollucas Archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices): bunga cengkeh dan buah pala, serta awal sejarah kolonisasi oleh orang Eropa di Nusantara. Pesona rempah sangat luar biasa ditulis oleh  Jack Turner, 2011 (Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme). Kemudian tulisan lainnya yang menarik berjudul Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan (Penulis : Giles Milton, 2015). Ini adalah bukti sejarah bahwa orang Maluku sudah menapaki dunia modialisasi ekonomi dan globalisasi peradaban.

Cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia. Cerita dan pengalaman globalisasi dan mondialisasi telah dialami oleh orang pulau di Maluku sejak zaman dahulu. Daya tarik-menarik itu hanya bersimpul pada satu persoalan klasik saja yaitu eksploitasi sumberdaya alam yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi.

Pada zaman itu, eksotik rempah-rempah bagaikan sumberdaya minyak bumi dan emas. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat mempengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku. Keunikan ini bisa dilihat dari kondisi geografis Maluku yang banyak didominasi pulau-pulau kecil dan penduduk tersebar menempati pulau tersebut.

Membangun Maluku dengan ciri-ciri pulau kecil seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Jika selama ini kita melihat Maluku dari pulau-pulau dengan bentangan laut di sekitarnya maka ke depan lebih arif jika sudut pandang itu diubah yaitu melihat lautan yang bertatakan pulau-pulau. Dengan cara pandang demikian, laut dan darat akan menjadi satu kesatuan yang disebut konsep laut-pulau dimana dalam merumuskan konsep pembangunan di Maluku seyogyanya mengandung makna filosofi bahwa segala aktivitas di darat sekaligus untuk memuliakan lautan.

Orang Maluku yang mendiami pulau kecil 3T inilah yang sebenarnya hidup dalam Beranda NKRI. Beranda adalah ruang beratap yang terbuka dan tidak berdinding di bagian samping atau depan rumah. Pemahaman kita tentang pembagian ruang dalam suatu “rumah” dimana ada manusia sebagai penghuninya, mau menyatakan bahwa pembagian ruang telah menunjukkan strata atau pelapisan. Hal ini dapat dilihat juga di dalam masyarakat dan sering kita sebut stratifikasi sosial. Beranda merepresentasikan fungsi sosial yang penting. Jadi orang yang menempati beranda rumah sebenarnya adalah wajah dari seluruh isi rumah tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa kita menganggap mereka yang hidup di pulau kecil terluar sebagai daerah terpencil dan terisolir serta seluruh masyarakatnya tergolong miskin dan tak berdaya?

Secara antropologi-sosiologi, orang pulau adalah bukan orang yang terisolir. Mereka senantiasa terbuka (welcome) menerima para tamu. Jika ada kapal atau perahu yang singgah di suatu pulau, maka secara spontan mereka akan menyambutnya dengan gembira bahkan semua penduduk akan berlari menuju tepi pantai untuk melihat siapakah gerangan tamu yang datang itu? Kontak sosial mereka dengan orang luar terjadi tanpa batas.

Orang Maluku senang mengungkapkan pokok pikirannya dalam lirik lagu dan mari kita telaah ide tentang Maluku dari lagu yang berjudul Maluku Tanah Pusaka.

Maluku Tanah Pusaka

Sio… Maluku tampa beta putus pusa e

Paser putih alus e

Gunung deng tanjong

Beta seng lupa e

Ina ama lama lawang seng baku dapa e

Sio… biar jauh bagini e

Tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera

Sampe Tenggara Jauh

Katong samua basudara

Nusa Ina …sio …..

Katong samua dari sana

Biar jauh bagini e

Beta seng bisa lupa

Maluku tanah pusaka

Satu nama satu gandong

sio… satu suku

Maluku manis e, ..

 

Lagu ini memaparkan ide tentang Maluku dan manusianya. Ini nasihat untuk anak Maluku yang telah merantau ke luar Maluku atau mereka yang ada di Maluku tapi belum paham betul tentang Maluku. Orang Maluku mempresentasikan wilayahnya yang indah dan elok dengan “paser putih alus”. Dalam pikiran orang Maluku hanya mengenal dua ruang yaitu gunung dan pantai yang sering disebut « kadara dan kalao ». Kata Ina Ama bukan saja rasa hormat pada kedua orangtua tetapi juga ada ungkapan rasa puja dan puji kepada para leluhur.

Yang disebut orang Maluku itu dalam kawasan Kepulauan Maluku. Jadi tidak ada beda antara orang di utara dan orang di selatan. Konsep itu tidak ada dalam pikiran orang Maluku sehingga secara administratif pemerintahan boleh terbelah tapi pikirannya satu sebagai Tanah Raja-Raja. Maluku saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan Raja Ampat Moloko Kieraha (Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan). Bagaikan air yang mengalir dari “dara” ka “kalao” maka semua dipertemukan di Nusa Ina (Pulau Seram) sebagai pulau terbesar dalam struktur Kepulauan Maluku. Untuk itu semua memang berasal dari Nusa Ina (Seram).

Kata “manise” dari dulu hanya ditempelkan dalam ungkapan yang dialamatkan kepada Pulau Ambon menjadi Ambon Manise, mengapa ? Ini ada kaitannya dengan “paser putih alus e”. Everhardus Georgius Rumphius tahun 1741 dalam bukunya Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense) melaporkan bahwa struktur vegetasi tanaman terlengkap di dunia ada di Pulau Ambon. Dan memang pada zamannya itu pulau Ambon dibungkus dengan vegetasi tanaman yang sangat indah. Bagi seorang ilmuwan botani Eropa yang berkebangsaan Jerman dan bekerja untuk kolonial Belanda, maka vegetasi hutan tropis demikian bagaikan sebuah surga sehingga ungkapan Ambon Manise berulang-ulang dituturkan. Rumphius memang sangat menikmati hidup yang panjang di Pulau Ambon hingga dia harus kehilangan anggota keluarganya (istri dan anaknya) pada tsunami dahsyat di Pulau Ambon di medio abad ke-18. Jadi kata Maluku Manise hanya transformasi dari kata Ambon Manise.

 

MALUKU DALAM TATARAN KEBIJAKAN NASIONAL

Provinsi Maluku menurut catatan Departemen Kelautan dan Perikanan RI memiliki 16 pulau di perbatasan. Perbatasan yang dimaksud adalah batas negara dengan Timor Leste dan Australia. Sebenarnya hanya cara pandang dan ukuran penilaian ekonomi modern semata yang mengakibatkan kita terjebak dalam memandang orang Maluku atau masyarakat Indonesia lainnya yang mendiami Beranda RI adalah warga negara pinggiran yang hidup di “ketiak” RI. Kita sebagai Bangsa Indonesia pada saatnya akan menjadi terusik, marah dan pasti merasa terhina apabila peristiwa Sipadan dan Ligitan yang saat ini telah dikuasai Malaysia akan kembali terjadi untuk pulau kecil terluar di Maluku mungkin ketika Timor Leste atau Australia melakukan invasi yang sistematik dan permanen untuk menguasai pulau kecil yang menyimpan banyak potensi. Itulah identitas yang harus dijunjung tinggi.

Konsep identitas wilayah dalam era milenium ini tidak dapat dimaknai dengan suatu kekuatan yang mekanik yaitu peralatan militer yang sofistikasi tetapi kelemahan suprastruktur sosial dimana pada pulau kecil terluar dengan angka kemiskinan yang relatif tinggi mencapai 56% juga bisa mengancam identitas negara. Oleh karena itu rekayasa sosial dalam hal pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas untuk dilaksanakan agar Beranda NKRI menjadi lebih kokoh.

Jika Maluku tetap tidak bersuara dan tidak mengambil langkah-langkah radikal dalam membangun pulau-pulau kecil dan membangun wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal), maka sulit diharapkan masyarakat Maluku akan lebih baik. Sebagian besar rakyat Maluku hanya bisa tidur memeluk kekayaan sumberdaya alam yang melimpah saja tanpa bisa berbuat banyak untuk keluar dari ketertinggalan itu. Maluku bukan saja Kota Ambon atau Lease tetapi Maluku adalah pulau-pulau kecil dan wilayah 3T.

Semua rakyat Maluku harus berada dalam kegumaman untuk memastikan bahwa wilayah pulau-pulau kecil terluar di Maluku itu bukan suatu wilayah kutukan kepada masyarakat yang menempatinya. Pandangan bahwa pulau kecil terluar adalah wilayah terisolir atau daerah yang termarjinalkan, inferior, dan daerah pinggiran serta ditambah dengan stigmatisasi kepada masyarakatnya yang sering dinobatkan dengan istilah-istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang atau alifuru[2], sebenarnya hanya karena persepsi orang luar saja yang belum tentu benar dan belum memahami mereka. Pikiran dan konsep membangun Maluku tidak semata-mata berbasis pada persoalan mengungkapkan potensi dalam kegiatan yang klasik dilakukan yaitu eksplorasi tetapi pendekatan yang harus bermuatan suatu terobosan baik rekayasa sosial maupun terobosan teknologi.

Konsep peningkatan identitas diri yang berbasis pada sistem hankamrata[3] merupakan suatu kekuatan penting terutama pada wilayah Indonesia terluar yang terdiri atas pulau-pulau yang berbatasan dengan negara lain, seperti sejumlah pulau di provinsi Maluku, khususnya pada Kabupaten Maluku Barat Daya, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Kepulauan Aru. Pengertian membangun identitas diri secara gamblang dapat didefenisikan sebagai suatu kemampuan masyarakat untuk memberdayakan sumberdaya alamnya sehingga mampu mendiami tempat tertentu sebagai masyarakat suatu negara berdaulat. Pulau-pulau kecil terluar memiliki karakteristik khas pada aspek geostrategis, historis, budaya sosioantropologis, potensi alam unggulan, hak ulayat, dan lainnya. Pulau-pulau kecil terluar juga memiliki masalah yang sistematis dan kompleks.

Keterisolasian pulau-pulau kecil terluar merupakan masalah sistematis masyarakat yang perlu dipecahkan dan diberdayakan. Sebuah pulau yang terisolasi dapat diartikan sebagai kurangnya aktivitas masyarakat, barang, jasa, hasil alam, dan lainnya dari dan ke pulau yang dimaksud. Keterisolasian bagi sebagaian orang mungkin dapat diasumsikan sebagai sebuah kutukan Sang Pencipta, namun keterisolasian yang telah melewati ranah sejarah dan waktu dapat menjadi keunggulan yang masih tersembunyi.

Pengamatan pada masyarakat pulau-pulau kecil terluar dapat diamati dengan mengikuti rangkaian hubungan antar faktor guna pekerjaan rekayasa sosial dimana saling berhubungan seluruh faktor yang bermuara pada pemanfaatan sumberdaya baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Hubungan antar faktor tersebut dapat diikuti dalam Gambar 1.

Nampaknya hubungan antar faktor tersebut di atas adalah saling terkait satu sama lain dan ternyata faktor sejarah lebih dominan untuk mempengaruhi faktor yang lain. Faktor pengelolaan sumberdaya yang menjadi basis untuk menopang keterkaitan kepada faktor yang lain. Dengan demikian arah dari pokok pikiran membangun Maluku akan dimulai dengan pemahaman akan manajemen sumberdaya di wilayah 3T, setelah itu baru diurutkan hingga menuju pada faktor kelompok kepentingan atau faktor perorangan.

Masalah kompleks lain pada pulau-pulau kecil terluar adalah kemiskinan dan ketertinggalan karena terkait oleh berbagai faktor kritis yang terintegrasi. Ada banyak faktor penentu kompleksitas masalah yang dihadapi misalnya angka partisipasi pendidikan, dunia kerja dan usaha, ekonomi masyarakat, otonomi daerah, paternal model, infrastruktur dan suprastruktur, dan lainnya.

hubungan-rekayasa-nasional

Gambar 1. Hubungan antar Faktor dalam Rekayasa Sosial

 

 

MALUKU DALAM PUSARAN KEKUASAAN NASIONAL

  1. a.      Periode Kolonialisme

Sejarah harus mencatat dengan benar bahwa kolonialisme mulai eksist untuk pertama kalinya dari Kepulauan Maluku dan tepatnya di wilayah Raja Ampat Moloko Kieraha. Setelah itu bangsa Eropa silih berganti datang untuk melakukan kolonisasi ke wilayah Nusantara lainnya. Orang Maluku sangat militan melawan penjajah, namun pada suatu masa tertentu orang Maluku ternyata bisa diajak kompromi untuk membantu Belanda melakukan kolonisasi di wilayah lainnya. Istilah « orang Belanda Hitam » dialamatkan kepada orang Maluku. Artinya orang Maluku sudah bisa menyatu dengan orang Belanda. Salah satu cirinya adalah orang Maluku bisa mencapai posisi jabatan penting dalam birokrasi kolonialisme. Orang Maluku disekolahkan oleh para penjajah Eropa agar bisa mendapat pengakuan dalam birokrasi pemerintahan kolonial.

Orang Maluku dipercaya masuk dalam garda pertahanan dan keamanan Belanda dan itu semakin memperkuat stigma Belanda bahwa orang yang makan makanan seperti anjing pasti punya kesetiaan yang tinggi. Artinya cara makan orang Maluku menyantap makanan papeda dengan cara membungkukan badan dengan mulut menyentuh papeda dalam piring adalah identik dengan cara makan seekor anjing. Analoginya menurut pikiran Belanda bahwa orang Maluku pasti punya tabiat dan kesetiaan seperti seekor binatang piaraan anjing.

Belanda menggunakan orang Maluku untuk mengawasi pembangunan perkebunan di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra serta di wilayah jajahan Belanda di Suriname. Penjajah Belanda tahu betul filosofi sagu dari orang Maluku bahwa tidak boleh melakukan pendekatan yang keras, harus didekati secara halus dengan menepuk pundaknya maka akan luluh pula hatinya. Ibaratnya sagu salempeng yang keras akan menjadi lunak setelah dicelup dalam air, teh atau kopi. Pendekatan phsikologi yang tepat dilakukan oleh Belanda untuk dapat menguasai orang Maluku.

Pada masa berakhirnya era kolonial Belanda di Nusantara maka orang-orang Maluku yang setia kepada Belanda terpaksa harus dievakuasi ke Eropa di Negara Belanda dengan sejumlah janji manis mengingat penyerahan kedaulatan ke Republik Indonesia pasti akan berakibat buruk kepada orang Maluku yang setia kepada penjajah Belanda. Peristiwa ini dalam bahasa Perancis dikenal dengan nama « coup de têtê ».

 

  1. b.      Periode Kemerdekaan RI

b.1. Orde Lama

Pada masa itu diplomasi Belanda masih kuat kepada Negara Republik Indonesia sebagai negara yang baru mendapat kedaulatan sebagai negara merdeka. Tentunya orang Maluku yang pernah mendapat didikan Belanda masih dipakai oleh rezim Orde Lama karena kemampuannya yang masih dianggap baik dan selain itu pula Presiden Soekarno yang juga adalah hasil didikan Belanda masih memerlukan sosok orang Maluku untuk bisa berdiplomasi dengan Belanda.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ternyata perjuangan dengan Belanda belum usai mengingat ada wilayah yang masih mau diklaim oleh Belanda sebagai wilayah jajahannya, misalnya Papua yang ketika itu bernama Hollandia. Belanda masih berkolaborasi dengan orang Maluku dalam menancapkan kekuasaannya di Hollandia (=baca buku Leontine E.Visser berjudul : Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda – Indonesia). Ketika Papua resmi masuk kedalam kedaulatan RI, maka evakuasi besar-besaran orang Maluku ke negara Belanda mencapai puncaknya. Seiring dengan hal tersebut maka ada lagu Maluku yang berjudul Hela Rotan e. Penulis tidak mengatakan bahwa lagu ini khusus diciptakan untuk situasi politik ketika itu, namun ini hanya interprestasi penulis dengan melihat syair lagu tersebut.

Hela Rotan e

Hela hela rotan e

Rotan e tifa Jawa

Jawa e babunyi

Rotan, rotan sudah putus

Sudah putus ujung dua

Dua baku dapa e

Rotan, rotan sudah putus

Sudah putus ujung dua

Dua baku dapa e

 

Kita membayangkan bahwa memang dahulu kala ketika belum ada alat tali temali yang terbuat dari plastik atau bahan sejenisnya maka dalam permainan adu kekuatan antara dua kelompok selalu menggunakan rotan yang dirangkai khusus untuk perlombaan tersebut. Dalam realita rotan tidak mungkin putus karena memang sangat kuat. Makna filsafati bahwa antara dua kekuatan politik (=Belanda dan RI) yang bertaruh sudah selesai mengingat semua wilayah telah ada dalam kedaulatan RI. Itu berarti pula hubungan Belanda dan orang Maluku yang setia ketika itu telah terputus. Peranan yang akan diambil sesuai syair lagu itu adalah orang Jawa. Tifa Jawa mempunyai nilai filsafati yang tinggi. Tabuh gendang Jawa terus melantun hingga saat ini.

Posisi Maluku bukan berarti terus membangkang untuk mendirikan RI, namun Maluku dengan para tokohnya seperti diantaranya Mr. J. Latuharhary berkontribusi untuk mendirikan RI. Yang mau dikatakan bahwa ada tokoh orang Maluku yang rasional dan tahu persis tentang sejarah kolonialisme terus berjuang untuk terwujudnya Negara Kesatuan RI (NKRI). Jadi kalau ada yang menuduh Maluku tidak nasionalis maka sejarah dengan jelas membantah tuduhan itu dan NKRI harga mati tidak etis terus menerus dikumandangkan di kuping orang Maluku. Lagu Hela Rotan e memang ada dan eksist hingga saat ini tetapi itu suatu ide seni yang memang harus diakui keberadaannya.

Identitas orang Maluku yang berkiprah secara nasional dan mempunyai sumbangan yang sangat besar kepada negara RI adalah dr. J. Leimena, Prof. Dr. G.A. Siwabessy dan Komodor AU Leo Wattimena. Tentunya masih ada banyak tokoh orang Maluku yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Yang jelas bahwa masa lalu penjajahan dan kesetiaan orang Maluku kepada penjajah Belanda telah selesai dan hanya sejarah yang boleh mencatatnya.

 

b.2. Orde Baru

Rezim ini memang sangat panjang dalam berkuasa sekitar 32 tahun. Orde lama hanya berkuasa selama 20 tahun. Tentunya sejarah RI juga mencatat banyak kelebihan dan kesuksesan yang dicapai oleh Orde Baru. Orde ini adalah orde pembangunan dan merupakan koreksi terhadap orde sebelumnya (Orde Lama) yang hanya terkungkung dengan isu dan rumor politik. Kita sebagai ilmuwan dan akademisi tidak boleh dengan gampang menyalahkan orde kepemimpinan bangsa dengan periode dan zamannya tersendiri. Hal ini tentu sudah dipelajari dan mempunyai dasar yang kuat dalam metode pendekatan riset (Observasi, Problematik Riset dan Kerangka Analisis)

Tokoh orang Maluku dengan mempresentasikan identitas orang Maluku juga masih dilibatkan dalam pembangunan bangsa ini seperti Prof.Dr. G.A. Siwabessy yang mempunyai ide untuk membangun Puskesmas diseluruh tanah air dan ide untuk mendirikan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Selain itu ada tokoh orang Maluku seperti Mayjend TNI J. Muskitta dan Leo Lopulissa.

Orde Baru mempunyai cerita yang panjang dalam membangun bangsa ini dan tidak semua yang dikerjakan mencapai kepuasan dan kesempurnaan hakiki dimata manusia Indonesia, namun sejarah juga mencatat lembaran hitam manajemen bernegara dari Orde Baru sehingga pada akhirnya diruntuhkan oleh semangat mahasiswa dan masyarakat yang meminta adanya pergantian pemerintahan pada tahun 1998.

 

b.3. Orde Reformasi

Tahun 1998 muncul Orde Reformasi yang menghendaki diberlakukannya sistem demokrasi dalam manajemen bernegara. Ini suatu perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang berani memilih paham demokrasi yang lahir di Prancis setelah adanya revolusi Prancis tahun 1789.

Ini pilihan yang sudah diputuskan oleh bangsa Indonesia dan kini telah melewati satu dasawarsa dan nampaknya ada banyak kritikan yang dilontarkan oleh masyarakat tentang perjalanan orde ini.

Orang Maluku juga sadar bahwa mereka harus berkontribusi dalam orde ini. Pikiran mereka sangat sederhana saja bahwa orde boleh silih berganti tetapi NKRI tidak boleh dikoyak-koyak sebab orang Maluku juga berkontribusi dalam organisasi Jong Ambon untuk mendirikan NKRI.

Tokoh orang Maluku yang berperan dalam orde ini diantaranya Alex Litaay, Ali Mochtar Ngabalin, Nono Sampono, Suaidy Marasabessy dan Alex Retraubun serta Max Yohuzua Yoltuwu. Sekali lagi penulis memohon maaf untuk tidak bisa menyebutkan rentetan peran tokoh orang Maluku dengan identitas masing-masing dalam periode enam rezim kekuasaan sejak Presiden Habibi hingga Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY).

Di era rezim yang ke-tujuh ini dengan Presiden Joko Widodo nampaknya ada niat gugatan orang Maluku karena merasa TIDAK dilibatkan dalam kepemimpinan nasional. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah tidak ada tokoh Maluku dalam kepemimpinan nasional seolah-olah Maluku telah dilupakan oleh RI ?

Saya berharap sungguh bahwa semainar nasional ini diadakan bukan menjadi basis untuk menuntut jatah itu. Sebab kalau sejarah dipelajari maka keterlibatan tokoh Maluku dengan membawa iderntitas wilayahnya adalah berkat kemampuan baik soft skill maupun hard skill, jadi bukan duduk di singgasana kekuasaan karena desakan demo khusus yang diadakan untuk itu.

 

EPILOG : MALUKU PASTI MAJU

Daoed Joesoef penulis buku Emak (2005) dalam diskusi lisan dengan penulis dalam forum alumni Prancis di Jakarta tahun 2011 pernah mengatakan bahwa Maluku dan Papua adalah sebuah kubangan yang didalamnya tersimpan harta bumi alami yang masih terpendam. Jika harta itu diolah maka kedua wilayah ini akan menjadi benua ke-enam.

Dalam diskusi isu strategis di Lemhanas RI tanggal 9 September 2015, penulis kemukakan bahwa isu strategis yang harus mendapat perhatian negara adalah isu Melanesia. Para TAJI (Tim Ahli Pengkaji) dan TAJAR (Tim Ahli Pengajar) Lemhanas RI mengatakan bahwa ada pesan dari Gubernur Lemhanas RI agar isu Melanesia tidak boleh dibahas karena itu masih menjadi kajian yang mendalam dari Lemhanas RI. Akhirnya isu yang kami usulkan itu tidak dicatat sebagai isu strategis nasional.

Kedua pesan di atas sebenarnya memberikan sinyal yang kuat bahwa masa depan Indonesia ada di Papua dan Maluku. Untuk itu Maluku dengan otonomi daerah dan ditambah lagi kepemimpinan dan kekuasaan daerah provinsi, kabupaten dan kota saat ini ada dalam genggaman orang Maluku, maka sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun Maluku. Jangan lagi pikirkan soal jatah kepemimpinan nasional karena itu akan membuang waktu dan energi.

Terobosan pertama menurut hemat penulis seyogyanya dimulai dengan melakukan rekayasa sosial yang akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya ketahanan masyarakat menghadapi setiap perubahan, Inovasi teknologi akan diterima dengan baik apabila masyarakat dipersiapkan dengan segala informasi yang lengkap dan materi penyuluhan yang bisa dipahami. Dengan demikian informasi sosial yang lengkap akan mendukung penerapan teknologi dengan tepat sasaran dan tepat tujuan.

Keterisolasian juga bisa menjauhkan masyarakat untuk berakses dengan mudah pada infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah. Akibatnya mereka semakin jauh dari sentuhan pembangunan. Keterisolasian masyarakat sesuai habitat bisa ditemui pada wilayah pegunungan atau wilayah pulau-pulau kecil. Kita tidak dapat mengatakan bahwa masyarakat pulau-pulau kecil terluar yang terisolir disebabkan karena pilihan habitat hidup yang keliru atau bahkan secara ekstrim suatu kutukan kepada mereka. Setiap masyarakat dengan pilihannya senantiasa mempunyai alasan yang rasional untuk menempati wilayah tersebut. Kita berharap pemerintah daerah mempersiapkan daerah ini untuk bisa berkoneksi dengan tol laut yang digagas oleh Presiden Joko Widodo.

Pulau-pulau kecil terluar dan terdepan di Maluku umumnya menyimpan potensi alam yang cukup banyak dan sangat unik, terutama komoditas yang sudah merupakan plasma nutfah. Katakanlah jeruk kisar yang hanya bisa tumbuh dan berbuah dengan sempurna pada habitatnya di pulau Kisar. Jika komoditas ini ditanam di luar pulau tersebut maka kualitasnya akan berbeda. Itu berarti pertumbuhan dari buah tersebut mendapat pengaruh iklim mikro dari benua Australia, karena jeruk tersebut hampir mirip dengan jenis jeruk sunkist Begitupun dengan jenis ternak ruminansia yang sangat berpotensi. Seluruh catatan keunikan komoditas ini tidak sebanding dengan keberadaan masyarakat yang mempunyai posisi yang lemah saat melakukan transaksi perdagangan. Potensi yang melimpah itu bukan saja terdapat di wilayah daratan tetapi juga tersimpan di wilayah pesisir.

Sebenarnya mereka harus mempunyai posisi tawar menawar yang kuat jika produksi hasil sumberdaya alam mendapat sentuhan terobosan teknologi. Hal ini bisa menambah keawetan produk untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga produk dimaksud akan menjadi aman pada saat diantar-pulaukan menuju pasar akhir.

Jika kondisi ini terus dibiarkan maka taraf kehidupan mereka akan semakin menurun kualitasnya, akibatnya mereka terjerembab dalam lembah kemiskinan. Saat yang sama mereka akan meninggalkan pekerjaan sebagai petani atau nelayan. Hal ini bisa mengakibatkan terbengkalainya sumberdaya alam tersebut dan keinginan yang kuat dari mereka untuk meninggalkan daerah pedesaan menuju perkotaan. Hal lain yang bisa terjadi yaitu mereka tetap tinggal di desa dengan pasrah dan hilang harapan. Pada saat bersamaan mereka akan melakukan atau menerima tawaran apa saja dari para pedagang antar pulau yang bisa berasal dari dalam Indonesia atau dari luar Indonesia.

Dengan demikian permasalahan sistematis dan kompleks dapat diantisipasi dengan pemberdayaan masyarakat, peningkatan produk unggulan, peningkatan pengetahuan kewirausahaan yang berbasis daerah pulau kecil terluar sebagai suatu dimensi pertahanan dan keamanan demi memuliakan identitas diri sebagai orang pulau dan masyarakat pulau.

Penulis tiba pada usulan yang konkrit untuk memperkuat identitas ke-Maluku-an yaitu mensinergikan setiap komponen interdisipliner yang diilustrasikan bagaikan rangka seekor ikan yang menyusun struktur anatomi ikan.

Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat pulau-pulau kecil di wilayah 3T adalah teknologi nutrisi dan pakan ternak, bioteknologi komoditas unggulan, dan rekayasa sosial. Tiga komponen ini menempati bagian rangka ikan yang paling peka yaitu pada bagian kepala hingga rongga insang. Artinya bahwa komponen teknologi sangat diperlukan bagi orang pulau, jika tidak ada terobosan teknologi maka seluruh hasil produksi akan terbuang karena membutuhkan jalur pemasaran yang relatif panjang. Komponen pendukung dan juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan adalah ekologi kepulauan dan etnobotani dimana struktur ini bisa menjadi konsep holistik dalam membangun identitas orang Maluku.

  diagram-ikan

Gambar 2. Diagram Ikan Konsep Pikiran Orang Maluku pada Pulau Kecil Terdepan dan Terluar

 

DAFTAR PUSTAKA

1.Joesoef Daoed, 2005, Emak, Kompas, Jakarta

2.Jonge de Nico and van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonesia, Perplus, Singapore.

3.Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas

Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate

Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab.

Agrometeorologi, IPB, Bogor.

4.Milton Giles, 2015, Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan

Manhattan, Pustaka Alvabet, Banten.

5.Nikijuluw dan Rachman (editor), 2014, Sang Upuleru, Gramedia, Jakarta.

6.Pattinama, Marcus J. dkk, 2007. Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku: Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti.

7.Paulus J. Mr.Dr, 1917. Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie. Tweede druk, p.31.

8.Rumphius Everhardus Georgius, 1741, Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense),

9.Turner Jack, 2011, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme,Komunitas Bambu, Jakarta.

10.Visser Leontine E., 2009, Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda – Indonesia, Penerbit Kompas, Jakarta.



[1] Diskursus adalah suatu aktivitas diskusi pada suatu tema yang berlangsung secara berkala baik secara lisan maupun tertulis.

[2] Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

[3] Hankamrata adalah sistem pertahanan keamanan rakyat semesta.

10 comments on “IDENTITAS MALUKU DALAM KONTEKS NASIONAL

  1. Andre paays on said:

    saya senang membaca tulisan ini,, tapi harus adanya rekomendasi kepada pemerintah,, karena kita tahu bahwa maluku adalah wilayah yang berbasis kepulauan. kenapa saya berkata demikian?? agar adanya pemerataan wilayah yang baik,, terkususnya pasar harus tersedia seperti apa yang ada pada wilayah perkotaan agar bukan hanya wilayah kota yang merasakan kemajuan,, tapi juga wilayah belakang terkususnya pada wilayah pemasok SDA bagi wilayah kota. mungkin ini komentar saya jika ada yang salah dari komentar saya, saya minta maaf. TABEA

  2. Saraswati Puteri Utami on said:

    Selamat pagi pak.
    Tulisan mengenai Identitas Maluku Dalam Konteks Nasional sangat menarik tetapi untuk melengkapinya menurut saya bagaimana menggunakan metode analisis naratif mengenai masyarakat dimana peranan anak-anak muda maluku saat ini untuk mengelola sumberdaya daerahnya khususnya mahasiswa dengan informasi/pengetahuan yang telah didapat. Agar dapat menunjukan bahwa orang Maluku masih memiliki eksistensi dalam pembangunan dimulai dari daerahnya.
    Saraswati P. Utami (2014-81-008).

  3. Sulastri Rumasilan on said:

    Selamat malam pak….
    Tulisan mengenai “IDENTITAS MALUKU DALAM KONTEKS NASIONAL” sangat menarik pak kita banyak mengetahui maluku yang di mana merupakan wilayah kepulauan dan bagaimana membangun maluku dari laut bukan hanya di fokuskan pembangunan di darat agar maluku lebih baik lagi kedepannya serta mengetahui bagaimna masyarakat yg hidup di kepulauan. Namun pak menurut saya perlu di tekankan kepada generasi muda agar tidak malu mengakui bahwa mereka berasal dari maluku dan dari kepulauan yg tidak terlalu di kenal banyak orang, dan juga pak ada perhatian lebih dari pemerintah daerah agar lebih memperhatikan wilayah kepulauan dan mengatasi masalah2 yang ada di wilayah kepulauan guna mewujudkan maluku yg labih baik kedepannya. Terimakasih pak…

    Nama : Sulastri Rumasilan
    Nim : 2014-81-074

  4. Dian Tuankotta on said:

    Selamat malam pak.
    Saya sangat setuju dengan tulisan bapak ini. Tulisan ini saya rasa harus di bukukan atau lebih di sebarluaskan lagi pak. Agar semua orang tau bagaimana orang maluku yang identik dengan masyarakat kepulauan bukan masyarakat terbelakang. Dan juga untuk generasi muda khususnya generasi muda maluku untuk lebih menghargai identitas mereka sebagai Maluku. Dan untuk pemerintah juga agar tidak mengesampingkan urusan masyarakat kepulauan dari segi manapun.
    Dian Tuankotta (2014-81-058)

  5. AGNES SAPULETTE on said:

    Selamat malam Pak, dari tulisan Bapak saya sangat setuju karena dari tuliasn ini dapat memacu anak anak Maluku untuk memperkenalkan identitas-identitas mereka dengan berbagai keanekaragaman dan kearifan lokal yang dimiliki dari berbagai pulau-pulau yang ada di daerah Maluku Karena masih banyak daerah/pulau-pulau yang da di Maluku yang masih terbelakang namun belum terlalu dikenal sehingga dengan adanya tulisan ini diharapan bukan saja pada pulai kecil 3T yang dibahas tetapi berbagai daerah/pulau pulau kecil lainnya yang memiliki potensi alam yang dapat memperkenalkan identitas Maluku dalam konteks nasional maupun internasional

  6. agnes sapulette on said:

    Selamat malam Pak, dari tulisan Bapak saya sangat setuju karena dari tuliasn ini dapat memacu anak anak Maluku untuk memperkenalkan identitas-identitas mereka dengan berbagai keanekaragaman dan kearifan lokal yang dimiliki dari berbagai pulau-pulau yang ada di daerah Maluku Karena masih banyak pulau-pulau yang da di Maluku yang masih terbelakang namun belum terlalu dikenal sehingga dengan adanya tulisan ini diharapan bukan saja pada pulai kecil 3T yang dibahas tetapi berbagai pulau pulau kecil lainnya yang memiliki potensi alam yang dapat memperkenalkan identitas Maluku dalam konteks nasional maupun internasional

  7. Fadila Naila Lulun on said:

    Selamat malam Pak …
    Mengenai tulisan Bapak yaitu “Identitas Maluku Dalam Konteks Nasional” ini sangat mengapresiasikan kami sebagai anak cucu Maluku dan saya sangat setuju dengan tulisan ini. Karna untuk membangun kepulauan maluku dengan seluruh identitas ke-maluku-annya kita sebagai orang maluku harus mengenal dan memahami identitas diri kita sebagai orang maluku. Maka
    dari itu sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun maluku yang lebih baik kedepannya. Agar identitas orang maluku juga masih dilibatkan dalam pembangunan bangsa ini.
    Terimakasih Pak. Mohon maaf Pak jika ada yang salah dari komentar saya
    Fadila N Lulun (2014-81-053)

  8. RISNA RIDJAYANTI 2014-81-014 on said:

    menurut saya, masyarakat dan pemerintah harus sama-sama saling membantu dalam membangun maluku agar dikenal lebih luas. harus bisa membangun pulau-pulau kecil, memperhatikan maluku dari daratan maupun lautan, harus bisa melihat sumber daya yang ada dan memanfaatkannya. jangan sampai seperti yang tertulis di atas masyarakat buru yang berada di pedalaman tidak tahu gubernur maluku dan presiden RI dan hanya mendengar dari orang lain

  9. Nina apriliani weda on said:

    Selamat malam profesor
    Sebelumnya saya mengucapkan rasa Terima Kasih saya yang sangat besar karena prof. Telah mengizinkan saya untuk mengomentari tulisan ini dan saya sangat mengapresiasi karya dari profesor …
    “IDENTITAS MALUKU DALAM KONTEKS NASIONAL”
    Saya rasa ini judul yang sangat menarik dari tulisan-tulisan lainnya karena berbicara tentang IDENTITAS maka bersangkut paut juga dengan JATI DIRI. Bagi saya, bagaimana orang lain akan mengenal identitas diri kita jika kita sendiri pun tidak mengenal identitas tersebut. Karena orang lain akan mengetahui informasi tentang identitas diri kita tentulah dari kita sendiri agar informasi itu ada kebenarannya, lain pula jika orang lain hanya menerka-nerka identitas diri kita.
    Identitas ke-maluku-an bagi saya sangatlah besar dan banyak apabila dijabarkan. Tetapi yang saya ketahui dari beberapa referensi bahwa arti kata Maluku berasal dari sebuah kata dalam al-qur-an yaitu Al-mulk yang berarti Negeri para raja/ Negeri raja-raja, maknanya seperti yang saya ketahui bahwa maluku memang merupakan sebuah kepulauan yang dikenal sebagai bumi raja-raja. Provinsi maluku merupkan salah satu provinsi tertua dan wilayah kepulauan terbesar di Indonesia. Provinsi maluku dan maluku utara menyusun sebuah big islands yang dinamai kepulauan maluku. Provinsi maluku juga dikenal sebagai bumi raja-raja karena sistem pemerintahan desa yang dijalankan di setiap desa atau negeri di provinsi maluku umumnya dipimpin oleh seorang raja. Banyak pulau yang saling terpisah satu dengan yang lain memgakibatkan semakin beragamnya suku, ras, kebudayaan, dan tentunya bahasa yang pergunakan di bumi raja-raja ini yakni bahasa tana (bahasa ibu orang maluku yang dimiliki secara berbeda oleh setiap daerah di maluku) tetapi bahasa yang umumnya digunakan oleh masyarakat maluku untuk berinteraksi yaitu bahasa indonesia, bahasa daerah (bahasa tana) dan bahasa melayu-ambon.
    Identitas malulu dalam konteks nasional sejauh ini yang saya ketahui di luar sana katakanlah daerah-daerah yang jauh dari kepulauan maluku atau yang hanya sesekali mendengar nama maluku pasti akan teringat bahwa maluku adalah sebuah kepulauan atau provinsi maluku hang beribu kota-kan Ambon ini dikenal sebagai pulau memiliki SMA yang melimpah ruah terutama rempah-rempah. Meskipun banyak komoditi unggulan dan SDA lainnya yang ada di maluku tetapi rasanya yang diingat adalah rempah Cengkeh-pala karena sudah tercatat dalam buku sejarah bahwa indonesia pernah dijajah 3,5 abad oleh belanda yang tentunya mengincar cengkeh-pala milik maluku tersebut. Sehingga banyak juga orang asing yang mengabadikan kisah cengkeh-pala dalam beberapa tulisan mereka seperti jack Tuner dan Giles Milton. Tentunya papeda juga sangat dikenal di kancah Nasional tidak terpungkiri juga kancah internasional yang mengenal salah satu makanan khas Maluku yang satu ini bahkan saya saya boleh berkata bahwa “jangan katakan pernah datang ke Maluku jika belum menyantap papeda”. ikan juga merupakan komoditi andalan di maluku karena maluku memiliki laut yang sangat luas jika dibandingkan dengan daratan bahkan sempat saya dengar bahwa maluku akan dicanangkan sebagai lumbung ikan nasional dan saya juga sangat setuju dengan konsep diagram ikan konsep pikiran orang maluku dalam tulisan profesor ini. Selain kuliner, maluku atau ambon juga dikenal dengan gelar ambon city of music tentunya tidak heran lagi karena maluku adalah bagian dari indonesia yang memiliki beraneka ragam budaya. Sagu sebagai makanan pokok di maluku tentunya juga sangat dikenal apalagi ada filosofi tentang kepribadian orang maluku yang mirip seperti pohon sagu yang berdiri begitu kokoh walau diterpa hujan badai sekalipun tetapi jika dibelah pohon sagu tersebut terlihatlah daging pohon sagu yang berisikan pati sagu yang begitu putih besih, sama halnya dengan orang maluku yang begitu keras, teguh pendirian tetapi hatinya seputih pati sagu. jika di ilustrasikan dengan sagu lempeng yang begitu keras tetapi sekali dicelupkan dalam kopi/teh maka seketika akan lembek juga, sama halnya dengan pribadi orang maluku yang dikenal sangat ramah kepada apalagi kepada tamu yang datang berkunjung bahkan penjajah pun dianggap sebagai tamu dan dilayani sebaik mungkin ibarat raja karena bagi orang maluku kata “katong samua basudara” sangatlah berarti bagi setiap jiwa orang maluku.
    Kita patutnya bersyukur dan berterima kasih sebab para sejarawan masih mengenalkan maluku dalam peta ke-sejarah-an nasional hingga sampai saat ini maluku masih dikenal. Di luaran sana jika ditanya tentang sejarah apa yang mereka kenal dari maluku maka mereka hanya mengenal pahlawan kita yaitu kapitan Pattimura dan Christina M Tiahahu, dari sekian banyaknya pahlawan dari maluku kurang lebih hanya itu saja yang mereka kenal bahkan lebih miris lagi ketika orang hanga mengenal pahlawan Pattimura itu hanya melalui selembar uang kertas yang bernilai sangat rendah. Padahal jika dihitung dari zaman orde lama, orde baru, reformasi hingga zaman sekarang ini tidak terhitunglah berapa banyak pahlawan dari maluku bahkan tidak terukur juga pengorbanan dari mereka. Bahkan sekarang ini saya katakan bahwa maluku krisis pahlawan yang bertempur dalam pembangunan indonesia dalam kepemimpinan nasional.
    Pertanyaan saya “apakah maluku terlalu kecil dibandingkan kepulauan lainnya sehingga tidak terlihat ?”… tidak diperhatikan ! Bahkan jika iya pun saya rasa itu bukan maksud untuk memajukan makulu melainkan kepentingan pribadi/politik yang mengatas namakan NASIONAL. maluku dikenal sebagai provinsi dengan banyak kelemahan dan kekurangan dari berlimpahnya sumber daya alam yang dimiliki diantaranya minimnya akses Teknologi dan pemakaiannya serta sumber daya manusia yang boleh dikatakan kurang berpontesi kalau iya pun hanya beberapa saja yang masih mementingkan kemajuan maluku dan yang lainnya hanya mengenyangkan isi perut dengan kursi yang diduduki. Bagi saya jika kita sendiri sebagai orang maluku yang tidak memprioritaskan ke-maluku-an yang ada pada diri kita dan memajukan pembangunan makuku saya rasa tidak ada orang lain yang mampu setia melayani negeri tercinta kita ini. Mulailah dari kita karena akan berakhir untuk kita. Banyak yang bisa kita lakukan untuk memajukan maluku diantaranya kita bisa meningkatkan SDM kita , teknologi, pendidikan, kesehatan, pangan, infrastuktur, serta mulailah melakukan kebijakan yang berdampak positif bagi maluku karena maluku terlalu kaya dengan SDA-nya dan tidak perlu berbagi anugrah itu kepada orang lain yang tidak mencintai maluku dan hanya ingin merampas apa yang menjadi milik kita. karena ada yang mengatakan bahwa maluku dan papua memiliki Harta bumi alami yang jika dipadukan akan menjadi benua ke-6 .
    Bagi saya kenalilah diri kita sebelum mengenal orang lain dan jangan tanya apa yang negeri ini berikan untuk kita , tetapi apa yang akan kita berikan untuk negeri ini
    Sekali lagi terima kasih profesor dan mohon maaf jika dalam komentar saya ada kata-kata yang tidak berkenan karena saya juga tidak memandang hal ini dari berbagai aspek dan dari sisi manapun karena hal ini dari pada saya sendiri
    Selamat malam profesor …
    Sukses untuk kita semua
    NAMA : NINA APRILIANI WEDA
    NIM : 2016-81-018

Leave a Reply to agnes sapulette Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>