API DALAM ETNOEKOLOGI DAN PRAKTEK SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL – (Adakah Ancaman Pada Pemanasan Global & Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?)

API-KEBAKARAN-HUTAN

Oleh:

Marcus J. PATTINAMA[1] (mjpattinama@gmail.com)

Irwanto[2] (irwantoshut@gmail.com)

 

ABSTRAK

Api memang mengandung makna yang dalam bagi manusia dan manajemen api akan menentukan manusia pada tingkat peradaban yang tinggi atau rendah. Api berhubungan erat dengan praktek pertanian yang dilakukan manusia untuk membuka lahan usahatani. Api memberikan makan dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Pada akhirnya api bisa membumihanguskan alam sekitar manusia termasuk didalamnya hutan produktif dan non produktif. Jika api tidak dikendalikan maka manusia bisa menggunakannya untuk memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Kata kunci : api, etnoekologi, pertanian tradisional, pulau-pulau kecil.

 

ABSTRACT

Fire gives deep meaning to people and fire management will determine the level of human civilization is high or low. Fire is closely related to farming practices to open up farming land. Fire will provide meals and passion for human beings. People who do not blow the fire well then he’ll just chew flour on his mouth. In the end, the fire could burn down around human nature including productive and non-productive forest. If the fire is not controlled well by humans, so he could use it to trigger global warming and climate change.

Keywords: fire, ethnoecology, traditional agriculture, small islands.

 

Prolog

Workshop ahli perubahan iklim regional Maluku dan Maluku Utara yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 3 Juni 2016 di Ambon, tepatnya dilaksanakan di Swiss-Belhotel, merupakan suatu forum diskusi yang sangat bermanfaat guna pertukaran informasi dan pengalaman ilmiah yang tujuannya mendukung program prioritas nasional tentang pengendalian perubahan iklim. Dalam hubungan itu pula workshop diadakan untuk mendesiminasi hasil riset, kajian dan pemikiran dalam upaya penanganan iklim di wilayah kepulauan.

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dan memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur yaitu pola Muson, Ekuatorial dan Lokal. Khusus untuk Maluku dan Maluku Utara banyak dipengaruhi oleh pola iklim Lokal dan Muson. Pola iklim Lokal paling banyak dijumpai di Maluku dan ternyata pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia (Koesmaryono, 2007). Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodiveritas tanaman dan hewan baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut.

Judul artikel kami ini memang sengaja ditampilkan demikian apa adanya sebagai hasil dari diskusi yang hangat dalam workshop tentang issue pemanasan global dan perubahan iklim. Kemudian yang kami paparkan ini pula adalah bersumber dari pengalaman kami selama karier sebagai guru sejati dan dalam proses mendidik para murid kami di jurusan Agribisnis dan jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon.

 

Api dalam Etnologi dan Ekologi Manusia

Sejak awal kita mempelajari perjalanan sejarah manusia dari zaman purba hingga modern dan memahami aspek kebutuhannya maka hal penting dalam kehidupan manusia adalah lingkungan sebagai tempat untuk hidup. Jika kondisi lingkungan tidak bersahabat dengan yang mereka harapkan, maka mereka tidak akan mau bertempat tinggal di lokasi tersebut. Manusia cenderung berpindah untuk memilih dan selalu berusaha untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik dan nyaman. Setelah manusia memperhatikan kondisi lingkungan, maka yang berikutnya adalah bagaimana penguasaan teknologi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu terdapat beberapa variabel yang berhubungan dengan kondisi lingkungan antara lain: tersedianya kebutuhan air, adanya tempat berteduh (=rumah), kondisi tanah yang tidak terlalu lembab dan tersedianya sumber makanan.

API-ETNOEKOLOGI

Hal berikutnya adalah seluruh variabel di atas hendaknya diramu agar manusia tetap bertahan hidup untuk menghasilkan karya sebagai expresi diri dari naluri dasar manusia. Expresi diri ini yang selanjutnya kita sebut sebagai seni atau karya budaya. Untuk bisa bertahan hidup maka manusia harus menemukan api dan proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat penting. Berdasarkan studi arkeologi, maka penemuan api diperkirakan pada 500.000 tahun yang lalu. Pertama kali api dikenal adalah pada zaman purba dimana secara tidak sengaja manusia melihat petir yaitu cahaya panas dilangit yang menyambar pohon-pohon disekitarnya, kemudian api itu pun muncul membakar pohon-pohon di hutan.

Dalam sejarah menemukan api, manusia purba membutuhkan proses yang sangat panjang. Proses ini dimulai dengan mencoba sesuatu tanpa tahu petunjuk atau cara kerjanya sehingga banyak mengalami kegagalan dan mereka terus mencoba walaupun gagal sampai pada akhirnya mereka menemukan hasil yang mereka inginkan. Setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya cara membuat api pun ditemukan yaitu dengan membenturkan dua buah batu atau dengan menggesekan dua buah kayu, sehingga akan menimbulkan panas diikuti dengan percikan api yang kemudian percikan itu ditempelkan pada daun kering atau objek lain yang sifatnya kering dan ringan, sehingga pada awal akan muncul asap lalu manusia membantu untuk meniup hingga pada akhirnya objek itu dapat menjadi pemicu munculnya api.

Ditemukannya api lebih mudah untuk memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanan dengan cara membakar atau menggunakan bumbu dengan ramuan tertentu. Selain itu api juga berfungsi untuk menghangatkan badan, sumber penerangan dan sebagai senjata untuk menghalau binatang buas yang menyerang. Api dipakai manusia untuk dapat menaklukan alam melalui pembakaran lahan yang umumnya terjadi di areal hutan, terutama pada aktifitas pertanian untuk membuka kebun baru. Kebiasaan bertani dengan cara menebang lalu membakar (agriculture sur brülis atau swidden agriculture) adalah tradisi praktek pertanian pada zaman purba atau kuno yang masih berkembang sampai sekarang ini.

Manajemen api akan menjadi ukuran tingkat peradaban manusia. Secara teoritis bahwa api dalam hutan adalah akibat ulah manusia dimana api tersebut dapat dikategorikan kedalam tiga jenis api atau kebakaran (Ensiklopedia Kehutanan Indonesia dalam Irwanto, 2015) yaitu : 1)Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang terjadi pada lantai hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman bawah. Sifat api permukaan cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun cepat padam. Dalam kenyataannya semua tipe kebakaran berasal dari api permukaan. 2)Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar seluruh tajuk tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya mudah terbakar. Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal ini tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak saling bersentuhan. 3)Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah lantai hutan. Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang terjadi tidak ditandai dengan adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan dalam waktu yang lama pada suatu tempat.

Jika melihat pemetaan penduduk Indonesia sebagai negara maritim yang tersebar pada pulau besar dan kecil, maka para peneliti diantaranya Clifford Geertz sejak tahun 1963 telah memberikan diskripsi umum tentang kategori penduduk Indonesia berdasarkan jenis-jenis pertanian yang dikerjakan yaitu antara ladang (berpindah-pindah, tebang dan bakar) disatu pihak, atau dan sawah (penanaman padi basah pada petak-petak yang dialiri air irigasi) di pihak lainnya. Aktivitas ini yang membuat Geertz membelah Indonesia sebagai Indonesia Dalam yaitu Jawa dan Bali yang involusi, sedangkan perladangan selanjutnya disebut Indonesia Luar (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) yang non-involusi.

Peta ekologi ini memiliki nilai keelokan dan kesederhanaan serta juga menuai banyak kritik dimana di Sumatera ada ditemui orang Minangkabau, Aceh dan Batak yang sudah lama mengerjakan lahan basah dengan persawahan beririgasi. Di Jawa dan Bali pun pemilik lahan basah sangat sedikit dibanding penduduknya, sehingga yang lain terpaksa harus masuk dan maramba hutan dengan api. Hal yang sama untuk wilayah Sumatera, kenyataannya masih banyak peladang kering yang masih menggunakan api terutama mereka yang bermukim disekitar Taman Nasional Kerinci di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan (Aumeeruddy, 1994). Hal yang sama dengan di Sulawesi dan di tempat lainnya di Indonesia Luar yang sudah mempraktekkan pertanian lahan basah beririgasi.

Jadi pemikiran Geertz pada periode itu hanya berkonsentrasi di Jawa dan Bali, padahal wilayah Indonesia Luar lainnya juga telah mempraktekkan pertanian lahan basah. Di Kairatu, Pulau Seram Maluku, sejak tahun 1954 dengan datangnya orang Jawa melalui proyek transmigrasi pada pemerintahan Orde Lama telah merubah vegetasi tanaman sagu untuk dijadikan areal persawahan. Ketika itu di Pulau Seram, pemerintah telah sukses mempraktekan pertanian padi lahan basah disusul program membangun bendungan untuk irigasi. Ide perpindahan penduduk secara massif terus berlangsung pada era pemerintahan Orde Baru dengan menyebarkan penduduk dari Pulau Jawa melalui program nasional Transmigrasi. Di Pulau Buru, Maluku pada tahun 1969 pemerintahan Orde Baru menempatkan 10.000 tahanan politik G30S/PKI untuk membangun pertanian lahan basah. Sekali lagi pemerintah melakukan alih fungsi lahan sagu menjadi areal persawahan. Dengan program transmigrasi itu dapat dikatakan bahwa sebagian besar lahan di Indonesia Luar telah beralih fungsi untuk pertanian padi lahan basah. Boleh dikatakan bahwa tujuan pemerintah untuk membina petani agar menjadi petani menetap hanya tersentuh pada sebagian kecil saja dan itupun baru menyentuh petani lahan basah saja sedangkan jutaan petani Indonesia lainnya masih terus mempraktekkan kegiatan pertanian dengan api pada areal kebun yang berlokasi dekat hutan atau areal kebun yang ada di dalam hutan.

 

Api dalam Sistem Bercocok Tanam Tradisional

Pertambahan penduduk dan tekanan lain seperti masalah pangan dan tata ruang pada abad terkini secara tidak langsung akan mangancam kelangsungan sistem pertanian yang sudah berabad-abad umurnya yaitu pertanian ladang berpindah atau tebang bakar. Praktek pertanian ini banyak dilakukan di daerah tropis beriklim sedang. Biarpun daerah dataran rendah tropis kaya akan hujan dan sinar matahari, tetapi sebenarnya daerah ini tidak terlalu produktif, yang sebagian besar akibat sulitnya pengolahan tanah dan gangguan gulma. Sebelumnya metode tebang dan bakar ini juga dipraktekkan secara meluas di daerah sub tropis dan daerah beriklim sedang. Seiring dengan kemajuan peradaban manusia akibat revolusi industri maka belahan sub tropis meninggalkan praktek tebang bakar karena sebagian besar penduduk beralih pekerjaan dalam industri yang dibangun negara. Dengan demikian pekerjaan petani dan buruh tani berpindah menjadi buruh industry pada pabrik-pabrik yang dibangun secara massif. Negara mulai merancang dan menata reforma agrarian dan diberikan kepada para petani yang dididik dan dibina sebagai petani menetap.

Di wilayah tropis seperti Indonesia sementara ini akan menuju ke tahap industrialisasi. Kenyataan terkini menyatakan bahwa masih ada jutaan petani dalam kategori miskin, gurem, dan petani kecil. Ada jutaan penduduk Indonesia yang hidup di desa menyatakan diri sebagai petani namun ironisnya mereka tidak memiliki tanah dan mereka ini lebih cocok disebut sebagai buruh tani dan ada yang tidak bekerja atau lebih tepat disebut pengangguran pedesaan.

Di Maluku sebagai wilayah kepulauan dengan gugusan pulau-pulau kecil masih ditemui kondisi yang umum terjadi pada pedasaan di Indonesia seperti yang kami gambarkan di atas. Yang membedakan dengan situasi di Maluku adalah petani umumnya bivalen yaitu bekerja sebagai petani dan nelayan dalam waktu yang sama. Namun demikian ini hanya terjadi pada petani yang bermukim pada daerah pesisir pantai. Jika petani bermukim pada wilayah pegunungan maka hanya memangku satu pekerjaan sebagai petani saja dan jumlahnya tidak lebih dari 10%. Dengan demikian hampir semua petani di Maluku (90%) adalah bivalen dan mereka masih mempraktekkan sistem bercocok tanam tradisional dengan menggunakan api untuk membuka lahan pertanian.

Hal yang unik terjadi pada wilayah Maluku Barat Daya tepatnya di Pulau Kisar, petani di sana tidak mengenal api untuk membuka lahan pertanian. Dalam sistem kemasyarakatan dan adat budaya telah tersusun suatu norma bahwa api dilarang untuk digunakan dalam membuka kebun baru. Mengapa ? Orang Kisar sebagaimana diketahui bermukim pada suatu wilayah dimana ekologi pulau tersebut didominasi oleh pegunungan yang berbatu dengan padang rumput yang luas (sabana) serta musim kering yang panjang. Manusia, ternak dan tanaman jagung serta biji-bijian yang lain (misalnya kacang) adalah suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Pulau Kisar telah menjadi pengekspor ternak ke wilayah lain di Maluku dan wilayah perbatasan seperti Nusa Tenggara dan Negara Timor Leste.

Di Pulau Buru dan Seram serta pulau lainnya di Maluku masih secara intensif mempraktekkan tebang dan bakar. Kearifan lokal masyarakat juga tak terpisahkan dalam melakukan praktek ini. Orang Bupolo, masyarakat asli di Pulau Buru sebelum membakar kebun baru mereka biasanya membuat batas dimana api tidak akan melewati pada areal yang ingin mereka bakar. Batas antara areal yang dibakar dengan areal yang lain selebar 1 (satu) meter dan ini disebut eskihik boli hawa. Pulau Buru sebagai penghasil minyak kayu putih, di sana terdapat hamparan pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies asli dan plasma nutfah pulau Buru (Pattinama, 2005).

Formasi pohon kayu putih yang luas pada wilayah pegunungan biasanya pada waktu tertentu dibakar secara sengaja oleh orang Bupolo, tujuannya untuk mendapatkan tunas atau daun yang masih muda. Jadi formasi kayu putih yang tumbuh pada pegunungan di Pulau Buru tumbuhnya tidak lebih dari 1 (satu) meter. Ini cara termudah agar mereka bisa memanen daun atau tunas yang masih muda dan selanjutnya disuling menjadi minyak kayu putih. Lapisan cambium pada batang kayu putih yang terbakar tidak mati karena dilapisi oleh kulit kayu putih yang tebal. Selain itu sistem perakaran pohon kayu putih sangat kokoh dalam tanah sehingga tidak akan mati walau terjadi pembakaran. Hal ini sama dengan tanaman Imperata cylindrica atau alang-alang. Pengetahuan lokal yang sama juga berlaku di pulau Saparua dimana petani saat mau membuka kebun baru selalu menggunakan api dan sebelum api dinyalakan, mereka juga membuat pemisah dengan areal yang diharapkan tidak boleh dilewati api. Ini disebut dengan istilah asalae.

Tentunya daerah yang lain di Maluku dan juga di Indonesia mempunyai pengetahuan dan kearifan lokal dalam hal penggunaan api untuk bercocok tanam secara tradisional. Secara ekologi penggunaan api tidak dapat dibenarkan, namun pada suku bangsa tertentu yang mendiami wilayah dengan tanaman yang khas seperti padang alang-alang, misalnya di daearh Batak, Sumatera Utara, para petani selalu menggunakan api untuk membuka lahan pertanian. Ini yang disebut dengan hidden rationality dari petani dengan sistem bercocok tanam tradisional.

 

Manusia dalam Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Yang menarik dari workshop ini adalah diskusi tentang peranan manusia dalam penciptaan pemanasan global dan perubahan iklim. Maluku dan Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan sangat rentan dalam setiap perubahan iklim. Namun yang tidak menjadi bahan diskusi secara mendalam adalah bagaimana kaitannya dengan iklim lokal yang mendominasi kepulauan Maluku ini. Kita sepakati bahwa bumi adalah sebuah rumah yang besar. Adanya ketidak-seimbangan pada satu sisi rumah maka secara total akan mempengaruhi kestabilan rumah tersebut. Untuk itu penghuni rumah harus memiliki kesadran yang tinggi untuk memanfaatkan setiap ruang yang ditempatinya. Jika setiap ruang diberi kebebasan untuk menggunakan api dan kayu bakar untuk menghangatkan badan kemudian tidak ada regulasi yang mengatur pembakaran pada setiap ruang dalam rumah besar itu, maka dapat dibayangkan bahwa asap dari pembakaran itu akan memenuhi rumah tersebut dan dari situ akan mempengaruhi manusia yang berdiam di dalamnya. Kami berpendapat bahwa terlalu sederhana memberi symbol rumah besar. Dalam alam yang nyata maka semua ruang dan waktu akan memberikan sumbangan menuju keseimbangan yang sempurna. Ada pepatah yang mengatakan bahwa relasi biotik dan abiotik di alam sangat sederhana diuraikan menuju kesetimbangan yang sempurna sedangkan jika dibandingkan dengan relasi antar manusia diibaratkan sangat kompleks dan pasti akan memberikan dampak pada penghancuran di alam.

Kami berpendapat bahwa Maluku dengan iklim lokal, maka keseimbangan pertukaran antara Oksigen dan Karbondioksida bukan saja diperoleh dari areal hutan atau darat namun demikian wilayah laut pun akan menyumbangkan pertukaran energi tersebut. Untuk itu ulah manusia seperti yang telah kami uraikan pada bagian terdahulu tentang manajemen api, maka seyogyanya harus mendapat perhatian yang serius.

Dalam workshop tersebut ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memperkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim. Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah. Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema workshop ini ?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah tidak mmebiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam worshop tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental.

Apakah api yang menyulut pemanasan global dan perubahan iklim masih dimainkan oleh mereka (92,54%) yang tidak memahami issue global ini ? Yang jelas bahwa yang menamatkan pendidikan tinggi mempunyai banyak kesempatan untuk meraih puncak karier dan kesuksesan memperoleh jabatan penting di birokrasi pemerintah dan swasta. Jika kesempatan di birokrasi itu tertutup, maka bisa saja yang menamatkan pendidikan tinggi itu menciptakan ruang baru untuk lebih memanusiakan manusia atau menciptakan ruang untuk menghancurkan manusia. Semua tindakan manusia di atas akan memberikan dampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Tidak berhenti sampai disitu, ternyata yang menamatkan pendidikan tinggi juga akan menciptakan pola hidup yang baru. Itu artinya akan diikuti dengan gaya hidup yang baru sehingga tuntutan pemenuhan hidup juga akan meningkat. Jumlah mobil yang dimiliki, rumah yang mewah dengan kelengkapan asesori pendingin ruangan dan berbagai macam pengharum tubuh dan ruangan yang harus tersedia. Jika diteliti dengan mendalam maka komponen ini juga memberikan sumbangan terbesar dalam pemanasan global dan perubahan iklim.

Di Indonesia kemacetan lalu lintas akibat berjubelnya kenderaan tidak mampu terurai dengan baik dan cenderung membangun infrastruktur jalan sebagai pemecah persoalan kemacetan. Padahal saat pembangunan jalan dituntaskan maka bertambah pula jumlah kenderaan yang setiap hari mengeluarkan gas beracun ke alam. Hal yang sama bahwa belum ada perencanaan nasional tentang struktur bangunan yang disyaratkan untuk hemat energi listrik. Kita yang hidup di wilayah kepulauan baik yang mendiami wilayah pesisir pantai maupun yang mendiami wilayah pegunungan telah dianugerahi energi angin dari alam yang berhembus setiap hari dan energi cahaya matahari, namun demikian yang terjadi adalah membangun konstruksi rumah yang tertutup sehingga perlu menggunakan energi listrik untuk cahaya dan untuk pendingin ruangan.

Secara tidak arif telunjuk kita akan mengarah kepada mereka yang hidup di pedesaan dengan pendidikan yang rendah bahwa mereka telah salah dalam manajemen api sehingga terjadi kebakaran hutan, walaupun itu dilakukan oleh para pengusaha perkebunan besar yang karena hitung untung dan rugi lebih dikedepankan maka menyulut api adalah jalan yang terbaik.

 

Epilog

Ada pepatah Perancis yang mengatakan bahwa « Les gens qui ne soufflent pas le feu bien alors il va juste mâchent la farine sur sa bouche », orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Ini sebuah gambaran hidup dengan analogi tiup api. Api adalah energi yang mengubah bahan mentah menjadi masakan enak. Api itulah yang mengubah tepung menjadi roti. Dari api, segala sesuatu dapat terhidang di meja makan. Singkatnya, untuk menikmati masakan yang enak atau roti yang matang maka harus meniup api agar tetap menyala.

Pada sisi yang lain api pun bisa membumihanguskan manusia dan sekitarnya. Manusia akan menjadi tak berdaya apabila lingkungan menjadi rusak dan yang fatal lagi akibat ulah manusia maka terjadi perubahan pemanasan global yang dampaknya pada perubahan iklim. Siklus manusia dan lingkungan akan cepat berubah seiring terjadinya perubahan iklim global.

Maluku dengan bertahtakan gugusan pulau-pulau kecil dan memiliki karakteristik yang unik dengan daerah lain di Indonesia dimana terdapat iklim lokal, maka perlu ada penelitian yang mendalam bahwa laut dan darat di Maluku bisa menyumbangkan perputaran energi yang harmoni antara oksigen dan karbondioksida.

 

Daftar Pustaka

Aumeeruddy Yildiz, 1994, Représentation et Gestion Paysannes des Agroforêts en Périphérie du Parc National Kerinci Seblat á Sumatra, Indonésie, UNESCO, Paris.

Dove Michael R. dan Martopo Sugeng, 1987, Manusia dan Alang-alang di Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogya.

Irwanto, 2015, Kebakaran Hutan dan Lahan, Makalah, Ambon.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus J. 2005. “Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen ” Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue “. Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle.” Pp. 354. Paris

Presentasi Makalah pada Workshop Ahli Perubahan Iklim Regional Maluku dan Maluku Utara, dengan thema :Perubahan Iklim dan Pulau-Pulau Kecil. Ambon 2 Juni 2016.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon

[2] Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon.

21 comments on “API DALAM ETNOEKOLOGI DAN PRAKTEK SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL – (Adakah Ancaman Pada Pemanasan Global & Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?)

  1. Michael Lisapaly nim 2014-81-037 on said:

    Met sore Prof. prof sebaiknya dalam penulisan ini prof juga harus mengisi kajian tentang peran generasi muda yang mempunyai jiwa ber api-api untuk bisa mempunyai pandangan yang hebat tentang pertanian tradisonal. agar generasi mudah bisa lebih peduli terhadap pertanian tradisional yang prof paparkan. karena generasi mudah sekarang ini yang saya tau mereka tidak peduli lagi tentang pertanian tradisional dan mereka sudah memandang sebelah mata tentang pertanian tradisional.dan ketika prof memasukan kajian tentang generasi mudah yang hebat dalam mempunyai ide berlian untuk pertanian tradisional. pasti generasi mudah sekarang ini akan tergiurkan tentang api yang membakar semangat jiwa muda, agar jiwa muda bisa mengembanagkan api dalam pertanian tradisional sebagai pertanian yang tangguh serta bisa berkelanjutan.

    karena api itu sangat panas ketika disentuh. dan juga bisa digunakan sebagai alat memasak hasil pertanian yang enak serta bergizi dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

    Menurut Arikunto (2002:135) metode dokumentasi merupakan suatu
    cara untuk memperoleh data informasi mengenai berbagai hal yang ada kaitannya
    dengan penelitian dengan jalan melihat kembali laporan-laporan tertulis, baik berupa
    angka ataupun keterangan (tulisan atau papan, tempat, kertas dan orang).

    harapan saya sebaiknya prof bisa memberikan beberapa gambar tentang api dan juga pertanian tradisional yang sudah dilahap api sehingga bisa memiliki hasil pertanian yang berkelanjutan. Terima kasih.

  2. Michael Lisapaly nim 2014-81-037 on said:

    generasi mudah sekarang ini juga merupakan ancaman yang mana api bisa menghanguskan mereka.
    api perlu juga di tambahkan air agar bisa menghilangkan rasa panas yang dibuat api, air juga bisa menyejukan generasi mudah prof. jika ada api harus ada air yang selalu memberikan kemurnian, supaya generasi mudah bisa lebih ulet dan termotifasi oleh api dan air yang memiliki peran yang sama untuk prospek masa depan yang cerah.

  3. Cotje.H. Maalalu Nim 2014-81-068 on said:

    Met sore Prof. menurut saya sebaiknya api itu harus mempunyai peran penting dalam mengolah hasil-hasil pertanian tradisional di pulau-pulau kecil. agar produk pertanian di pulau-pulau kecil bisa dideversivikasi dengan baik ketika menggunakan api tersebut.
    pertanian pulau-pulau kecil memerlukan jamahan dari Pemerintah agar hasil pertanian bisa berkelanjutan untuk prospek berkesinambungan yang baik.
    Lingkungan rusak berarti manusia belum mampu memberdayakan lingkungan yang ada. jadi manusia butuh pengetahuan yang baik agar pertanian tradisional rama lingkungan bisa diterapkan. jadi peran Prof dalam penulisan ini harus memberikan pengetahuan tentang EKOLOGI yang berkesinambungan karna Prof merupakan pakar dari bidang EKOLOGI. TERIMA KASIH.

  4. CITRA RANGULY 2014-81-064 on said:

    Selamat pagi Pak menurut saya artikel yang bapak tulis sudah sangat baik dan menarik sehubungan dengan API DALAM ETNOEKOLOGI DAN PRAKTEK SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL saya rasa api ini harus di digunakan dengan baik pada pertanian berkelanjutan mengingat bahwa api bisa membumihanguskan lahan pertanian oleh masyarakat sekitar dimana system pertanian yang disalahgunakan oleh manusia itu sendiri oleh karena itu api sangat berperan penting bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitar.dimana saya rasa Bapak harus menambah sedikit tentang Api dalam Pertanian berkelanjutan
    dimana pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan harus dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal,lestari dan menguntungkan sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang artinya pertanian tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya dan tidak menimbulkan bencana.
    Terima kasih . . . . TYB :)

  5. steven.e.paulud on said:

    slamat siang Pak.
    Api memberikan makan dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya.
    Seperti argumen yang talah bapak sampaikan di atas, maka dapat saya katakan banwa API merupakan cermin bagi manusia terutama generasi muda sekarang untuk lebih termotifasi untuk segala tanggung jawab yang telah diembankan di pudak mereka, dan sebagai generasi muda kita harus mampu memberikan contoh kapada orang bahwa kita adalah API atau semangat bagi negara indonesia.
    TERIMA KASIH

    NAMA: Steven e Paulus
    NIM: 2014-81-057

  6. meyneva.mey on said:

    slamat siang Pak.
    Api memberikan makan dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya.
    Seperti argumen yang talah bapak sampaikan di atas, maka dapat saya katakan banwa API merupakan cermin bagi manusia terutama generasi muda sekarang untuk lebih termotifasi untuk segala tanggung jawab yang telah diembankan di pudak mereka, dan sebagai generasi muda kita harus mampu memberikan contoh kapada orang bahwa kita adalah API atau semangat bagi negara indonesia.
    TERIMA KASIH

    NAMA: Steven e Paulus
    NIM: 2014-81-057

  7. martenci lerebulan on said:

    Slamat siang pak, saya sudah baca artikel yang bpk tulis dan ini sangat membantu saya.Di dalam tulisan bpk ada yang tertulis bahwa pada akhirnya api bisa membumihanguskan alam sekitar manusian termasuk di dalamnya hutan produktif dan non produktif.Saya sangat rertarik dengan tulisan ini.Yang ingin saya sampaikan kepada bpk dan ini hanya masukan saja bahwa bpk harusnya bercerita sedikit tentang air, dimana air sangat berperan penting ketika api bisa membumihanguskan alam maka air dapat membantu meredahkan api tersebut.Terima kasih.
    Nama: martenci lerebulan
    Nim: 2014-81-081

  8. steven.edwin on said:

    slamat siang Pak.
    Api memberikan makan dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya.
    Seperti argumen yang talah bapak sampaikan di atas, maka dapat saya katakan banwa API merupakan cermin bagi manusia terutama generasi muda sekarang untuk lebih termotifasi untuk segala tanggung jawab yang telah diembankan di pudak mereka, dan sebagai generasi muda kita harus mampu memberikan contoh kapada orang bahwa kita adalah API atau semangat bagi negara indonesia.
    TERIMA KASIH
    NAMA: Steven e Paulus
    NIM: 2014-81-057

  9. henderika on said:

    selamat sore prof tulisan prof mengenai api dalam etnoekologi dan praktek sistem pertanian sangat menarik. tetapi Bapak juga mengulas sedikit mengenai api dalam perspektif generasi muda dalam hal membangun pertanian berkelanjutan sehingga dengan jiwa muda yang menyala-nyala membangun sistem pertanian berkelanjutan kedepan.Terima kasih
    nama: Henderika R touwe
    nim : 2014-81-084

  10. Hapsa solissa on said:

    Slamat malam pak,
    Terkait artikel yang bapak paparkan diatas saya sangat terkesan dengan API.
    Karena Api memberikan makna dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya.
    Menurut saya :Api dalam kehidupan kita sehari-hari sangat diperlukan baik untuk memasak atau pun sekedar menghangatkan tubuh apabila kita,berada disuatu daerah yang dingin, dan Api juga bisa menjadi sahabat kita, dan juga menjadi musuh kita.
    Api menjadi sahabat adalah: api yang dapat dikendalikan oleh manusia baik besar kecil akan menjadi sahabat dan sangat menguntungkan dan menghasilkan.
    Sedangkan Api menjadi musuh kita adalah: Api yang tidak bisa dikendalikan baik besar kecilnya,sangat merugikan kita dan menjadi musuh kita.

    Hapsa solissa
    Nim 2014-81-015

  11. hapsa solissa on said:

    Slamat malam pak,
    Terkait artikel yang bapak paparkan diatas saya sangat terkesan dengan API.
    Karena Api memberikan makna dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya.
    Menurut saya :Api dalam kehidupan kita sehari-hari sangat diperlukan baik untuk memasak atau pun sekedar menghangatkan tubuh apabila kita,berada disuatu daerah yang dingin, dan Api juga bisa menjadi sahabat kita, dan juga menjadi musuh kita.
    Api menjadi sahabat adalah: api yang dapat dikendalikan oleh manusia baik besar kecil akan menjadi sahabat dan sangat menguntungkan dan menghasilkan.
    Sedangkan Api menjadi musuh kita adalah: Api yang tidak bisa dikendalikan baik besar kecilnya,sangatmerugikan kita dan menjadi musuh kita.

    Hapsa solissa
    Nim 2014-81-015

  12. hapsa solissa on said:

    selamat malam pak
    Terkait dengan artikel bapak paparkan diatas saya sangat terkesan dengan Api
    karena api memberikan makna dan semangat bagi manusia.Orang tidak yang meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya.

    Menurut saya :Api dalam kehidupan sehari hari sangat diperlukan baik untuk memasak atau pun sekedar menghangatkan tubuh apabila kita berada disuatu daerah yang sangat dingin,dan api juga bisa menjadi sahabat kita ,dan juga menjadi musuh kita.

    hapsa solissa
    Nim 2014-81-015

  13. AGNES SAPULETTE on said:

    Selamat malam Pa , terima kasih disini yang akan saya tanyakan
    1) Mengapa bapak tertarik untuk membahas atau membuat tulisan tentang Api dalam Sistem Bercocok Tanam Tradisional ? padahal masih banyak kearifan lokal lain yang dapat dilakukan oleh orang Maluku ( si pulau Buru dan pulau Seram )dalam system bercocok tanam tradisonal ?
    2) Dalam penulisan ini juga bisakan Bapak membahas tentang makna api dalam sistem bercocok tanam tradisional dalam berbagai aspek dan dampak dari masing-masing aspek yang dibahas
    3) orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya.
    Dari yang Bapak sudah jelaskan tentang kalimat di atas saya juga ingin mengatakan bahwa kalimat diatas mengajarkan kita untuk terus berjuang dan bekerja dengan keringat dan pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu dan menempuh tujuan . contoh dari yang bapak sudah berikan bahwa untuk mengubah bahan mentah menjadi masakan enak kita harus meniup api agar tetap menyala dan tepung/bahan mentah akan matang/masak namun jika kita biarkan api tidak menyala maka bahan mentah itu tidak akan masak . Begitu juga dengan kita sebagai Petani jika kita ingin mendapatkan hasil yang baik kita harus bekerja keras dengan melihat tanaman kita mulai dari pertama sampai panen . jika kita tidak memelihara dan memberantas gulma dan hama penyakit otomatis tanaman yang kita tanam tidak akan mendapat hasil yang memuaskan .

  14. sumnawati tamalene on said:

    selamat malam pa,saya suda baca artikel yang pa tuliskan tentang api dan saya sangat setuju karena api merupkan suatu zat yang dapat mengangatkan tubu di saat dingin api dapt di butuhkan ole manusia untuk memasak jadi menurut saya api dapat di kendalikan oleh kita dan dapat menguntungkan untuk kita suminawati tamalene nim 2014-81-042

  15. Agness Kayadoe on said:

    Selamat malam Prof,
    Saya telah membaca artikel yang prof tulis ini. Yang dapat saya pahami dri artikel ini yaitu bahwa api memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup, namun jika api itu disalah gunakan akan berdampak buruk bukan hanya untuk manusia saja tetapi untuk semua ekosistem yang ada.
    Pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang ini, para petani masih menggunakan cara tradisional seperti membuka lahan baru dengan cara membakarnya. Cara ini mungkin efektif bagi para petani yang ingin membuka lahan, namun mereka tidak sadar akan bahayanya yang dapat merusak ekosistem lingkungan dan terjadi pemanasan global diwaktu mendatang. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki para petani terbatas (masih minim). Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah dan orang2 yang berpendidikan tinggi untuk membuka wawasan para petani dan memberikan alternatif lain untuk membuka lahan baru. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari setiap orang agar dapat menjaga lingkungan dengan baik

  16. Agness Kayadoe on said:

    Selamat malam Prof,
    Saya telah membaca artikel yang prof tulis ini. Yang dapat saya pahami dri artikel ini yaitu bahwa api memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup, namun jika api itu disalah gunakan akan berdampak buruk bukan hanya untuk manusia saja tetapi untuk semua ekosistem yang ada.
    Pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang ini, para petani masih menggunakan cara tradisional seperti membuka lahan baru dengan cara membakarnya. Cara ini mungkin efektif bagi para petani yang ingin membuka lahan, namun mereka tidak sadar akan bahayanya yang dapat merusak ekosistem lingkungan dan terjadi pemanasan global diwaktu mendatang. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki para petani terbatas (masih minim). Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah dan orang2 yang berpendidikan tinggi untuk membuka wawasan para petani dan memberikan alternatif lain untuk membuka lahan baru. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari setiap orang agar dapat menjaga lingkungan dengan baik

    Agness Kayadoe (201481003)

  17. Agness Sarah Kayadoe (201481003) on said:

    Selamat malam Prof,
    Saya telah membaca artikel yang prof tulis ini. Yang dapat saya pahami dri artikel ini yaitu bahwa api memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup, namun jika api itu disalah gunakan akan berdampak buruk bukan hanya untuk manusia saja tetapi untuk semua ekosistem yang ada.
    Pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang ini, para petani masih menggunakan cara tradisional seperti membuka lahan baru dengan cara membakarnya. Cara ini mungkin efektif bagi para petani yang ingin membuka lahan, namun mereka tidak sadar akan bahayanya yang dapat merusak ekosistem lingkungan dan terjadi pemanasan global diwaktu mendatang. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki para petani terbatas (masih minim). Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah dan orang2 yang berpendidikan tinggi untuk membuka wawasan para petani dan memberikan alternatif lain untuk membuka lahan baru. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari setiap orang agar dapat menjaga lingkungan dengan baik

    Nama : Agness Kayadoe
    NIM : 2014 81 003

  18. Agness Sarah Kayadoe (201481003) on said:

    Selamat malam Prof,
    Saya telah membaca artikel yang prof tulis ini. Yang dapat saya pahami dri artikel ini yaitu bahwa api memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup, namun jika api itu disalah gunakan akan berdampak buruk bukan hanya untuk manusia saja tetapi untuk semua ekosistem yang ada.
    Pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang ini, para petani masih menggunakan cara tradisional seperti membuka lahan baru dengan cara membakarnya. Cara ini mungkin efektif bagi para petani yang ingin membuka lahan, namun mereka tidak sadar akan bahayanya yang dapat merusak ekosistem lingkungan dan terjadi pemanasan global diwaktu mendatang. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki para petani terbatas (masih minim). Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah dan orang2 yang berpendidikan tinggi untuk membuka wawasan para petani dan memberikan alternatif lain untuk membuka lahan baru. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari setiap orang agar dapat menjaga lingkungan dengan baik

    Agness Kayadoe
    2014-81-003

  19. Agness Sarah Kayadoe (201481003) on said:

    Selamat malam Prof,
    Saya telah membaca artikel yang prof tulis ini. Yang dapat saya pahami dri artikel ini yaitu bahwa api memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup, namun jika api itu disalah gunakan akan berdampak buruk bukan hanya untuk manusia saja tetapi untuk semua ekosistem yang ada.
    Pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang ini, para petani masih menggunakan cara tradisional seperti membuka lahan baru dengan cara membakarnya. Cara ini mungkin efektif bagi para petani yang ingin membuka lahan, namun mereka tidak sadar akan bahayanya yang dapat merusak ekosistem lingkungan dan terjadi pemanasan global diwaktu mendatang. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki para petani terbatas (masih minim). Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah dan orang2 yang berpendidikan tinggi untuk membuka wawasan para petani dan memberikan alternatif lain untuk membuka lahan baru. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari setiap orang agar dapat menjaga lingkungan dengan baik

  20. Agness Sarah Kayadoe on said:

    Selamat malam Prof,
    Saya telah membaca artikel yang prof tulis ini, yang dapat saya pahami dri artikel ini yaitu bahwa api memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup, namun jika api itu disalahgunakan akan berdampak buruk bukan hanya untuk manusia saja tetapi untuk semua ekosistem yang ada. Pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang ini, para petani masih menggunakan cara tradisional seperti membuka lahan baru dengan cara membakarnya. Cara ini mungkin efektif bagi para petani yang ingin membuka lahan, namun mereka tidak sadar akan bahayanya yang dapat merusak ekosistem lingkungan dan terjadi pemanasan global diwaktu mendatang. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki para petani terbatas (masih minim). Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah dan orang2 yang berpendidikan tinggi untuk membuka wawasan para petani dan memberikan alternatif lain untuk membuka lahan baru. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari setiap orang agar dapat menjaga lingkungan dengan baik.

  21. Agness Sarah Kayadoe on said:

    Selamat malam Prof,
    Saya telah membaca artikel yang prof tulis ini, yang dapat saya pahami dri artikel ini yaitu bahwa api memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melangsungkan hidup, namun jika api itu disalahgunakan akan berdampak buruk bukan hanya untuk manusia saja tetapi untuk semua ekosistem yang ada. Pada zaman dahulu dan mungkin sampai sekarang ini, para petani masih menggunakan cara tradisional seperti membuka lahan baru dengan cara membakarnya. Cara ini mungkin efektif bagi para petani yang ingin membuka lahan, namun mereka tidak sadar akan bahayanya yang dapat merusak ekosistem lingkungan dan terjadi pemanasan global diwaktu mendatang. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dimiliki para petani terbatas (masih minim). Untuk itu, perlu adanya perhatian dari pemerintah dan orang2 yang berpendidikan tinggi untuk membuka wawasan para petani dan memberikan alternatif lain untuk membuka lahan baru. Selain itu, perlu adanya kesadaran dari setiap orang agar dapat menjaga lingkungan dengan baik.

    Nama : Agness Kayadoe
    NIM : 201481003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>