BURU DALAM KONTEKS IDENTITAS KE-MALUKU-AN (PERSPEKTIF PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM)

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Oleh:

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

Email : mjpattinama@gmail.com

Blog : maxmjpattinama.unpatti.org

 

BURAT[2]

Pulau Buru dalam era modern ini masih mengisahkan cerita kelam tentang Orang Bupolo yang masih hidup terisolir di wilayah pegunungan dan Pulau Buru yang pernah menjadi tempat penampungan Tahanan Politik G30S PKI pada tahun 1969 sampai dengan tahun 1979. Dalam Temu Buudaya yang digagas oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku ini tema Orang Bupolo ingin ditampilkan dalam gaya penulisan mengelola sumberdaya alam dan dunia Orang Bupolo. Cara pandang alam akan memberikan informasi yang menarik untuk disimak dalam bingkai identitas orang Maluku. Kenyataan membuktikan bahwa ada proses perlambatan dalam membangun wilayah ini dan manusianya. Hal ini mungkin disebabkan karena kita belum mampu menangkap dan mencium wilayah Pulau Buru dan Maluku dengan baik. Maluku memang dikenal sebagai “Indonesia Mini”. Lalu apa yang harus dilakukan ? Jawabannya adalah hanya orang Buru dan orang Maluku sendiri yang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya. Semua wilayah administratif pemerintahan di Maluku telah dikuasai dan dipimpin oleh orang Maluku. Jadi kalau ada istilah perlambatan dalam membangun Maluku, kemudian ada kesulitan mengenal dan memahami identitas ke-Maluku-annya, maka yang harus disalahkan adalah orang Maluku itu sendiri.

 

PROLOG : IDENTITAS KE-MALUKU-AN

Harus diakui bahwa wilayah Maluku sebagai suatu provinsi memang sangat luas (perbandingan lautan dan daratan  adalah 13 :1) dan selanjutnya tidak dapat dibayangkan pula secara logika bahwa seluruh untaian pulau besar dan kecil semuanya dapat dipersatukan sebagai suatu wilayah administrasi. Maluku disebut juga sebagai « Indonesia Mini ». Dari sisi pandang biogeografis ini maka Maluku bisa disebut sebagai provinsi kepulauan dengan sentrum pemerintahan di Pulau Ambon dan tepatnya pada Kota Ambon.

Pada sisi pandang eco-etnografi, maka akan semakin kompleks lagi yaitu mempersatukan seluruh adat, budaya dan bahasa dalam suatu untaian perekat yakni budaya Maluku. Pada saat diskursus budaya orang Maluku, maka di dalamnya ada orang Lease, orang Buru, orang Banda, orang Seram, orang Kei, orang Dobo dan orang Tenggara Jauh. Kesemua orang Maluku yang disebut ini memiliki identitas sebagai orang pulau.

Sisi pandang socio-economica sangatlah tidak efisien mengelola provinsi yang maha luas ini. Yang dirasakan adalah perkembangan kemajuan masyarakat relatif sangat lambat apalagi diikuti dengan rendahnya perkembangan penguasaan teknologi oleh masyarakat akibat perkembangan kemajuan pendidikan yang tidak merata. Pada tahun 1980-an ketika Prof. Habibie sebagai Menristek pernah mengatakan bahwa “kita jual saja Kepulauan Kei kepada Jerman agar ada percepatan kemajuan”. Pernyataan ini kalau dianalisis maka beliau ada dalam kegumaman dan kegemasan tentang penguasaan teknologi yang rendah ketika itu. Masyarakat memang bukan mesin yang dapat digerakkan dengan mudah dan kekompleksan manusia itulah yang menjadi semakin menarik untuk dipahami. Jadi pergerakan manusia tidak dapat diintepretasi dalam skala untung atau rugi. Ada sesuatu alasan yang sulit diungkapkan, sehingga para etnolog sering katakan itu adalah bagian dari rasionalitas yang tersembunyi (hidden rationality). Nilai identitas diri memang sangat sulit diintepretasi secara rasional. Itulah hakekat kemanusiaan yang nilainya sangat tinggi.

Apabila tinjauannya pada sisi eco-policy, maka Maluku tak dapat dipisahkan dari kebijakan politik nasional dan global. Isu tentang konsep keutuhan wilayah merupakan dimensi pertahanan keamanan. Makna identitas sering dihubungkan dengan isu dimaksud karena berkohesi dengan apresiasi diri demi menjunjung tinggi jati diri dan ciri-ciri seseorang atau masyarakat. Apabila dimensi pertahanan keamanan terusik itu sama halnya dengan terusiknya identitas. Mengupas tema identitas, kami lebih condong menempelkannya dengan terminologi orang (man) dan masyarakat (society). Mengapa ? Orang mewakili individu dan masyarakat mewakili kelompok orang. Kami memang sengaja menghindar menggunakan terminologi suku, etnis dan pribumi atau non pribumi. Terminologi itu lebih banyak digunakan pada era kolonial dimana masyarakat belum berkembang dan masih hidup dalam sekat-sekat superior dan inferior.

Orang Maluku yang tinggal di Pulau Enu, Pulau Kisar dan Pulau Leti Moa Lakor (Lemola), yang kesemuanya adalah pulau kecil 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) di Maluku, mungkin saja sangat jauh dari konsep perubahan bernegara yang sementara terjadi di sentrum pemerintahan di Pulau Jawa, tetapi mereka tetap tahu dan sangat setia sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air satu dan berbahasa satu.

Cerita lama dan elok tentang kepulauan Maluku (Mollucas Archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices): bunga cengkeh dan buah pala, serta awal sejarah kolonisasi oleh orang Eropa di Nusantara. Pesona rempah sangat luar biasa ditulis oleh  Jack Turner, 2011 (Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme). Kemudian tulisan lainnya yang menarik berjudul Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan (Penulis : Giles Milton, 2015). Ini adalah bukti sejarah bahwa orang Maluku sudah menapaki dunia modialisasi ekonomi dan globalisasi peradaban.

Cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia. Cerita dan pengalaman globalisasi dan mondialisasi telah dialami oleh orang pulau di Maluku sejak zaman dahulu. Daya tarik-menarik itu hanya bersimpul pada satu persoalan klasik saja yaitu eksploitasi sumberdaya alam yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi.

Pada cerita lama dimana zaman itu eksotik rempah-rempah bagaikan sumberdaya minyak bumi dan emas di masa kini. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat mempengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku. Keunikan ini bisa dilihat dari kondisi geografis Maluku yang banyak didominasi pulau-pulau kecil.

Membangun Maluku dengan identitas pulau kecil seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Jika selama ini kita melihat Maluku dari pulau-pulau dengan bentangan laut di sekitarnya maka ke depan lebih arif jika sudut pandang itu diubah yaitu melihat lautan yang bertatakan pulau-pulau. Dengan cara pandang demikian, laut dan darat akan menjadi satu kesatuan yang disebut konsep laut-pulau dimana dalam merumuskan konsep pembangunan di Maluku seyogyanya mengandung makna filosofi bahwa segala aktivitas di darat sekaligus untuk memuliakan lautan.

Secara antropologi-sosiologi, orang pulau adalah bukan orang yang terisolir. Mereka senantiasa terbuka (welcome) menerima para tamu. Jika ada kapal atau perahu yang singgah di suatu pulau, maka secara spontan mereka akan menyambutnya dengan gembira bahkan semua penduduk akan berlari menuju tepi pantai untuk melihat siapakah gerangan tamu yang datang itu? Kontak sosial mereka dengan orang luar terjadi tanpa batas.

Orang Maluku senang mengungkapkan pokok pikirannya dalam lirik lagu dan mari kita telaah ide tentang Maluku dari lagu yang berjudul Maluku Tanah Pusaka.

 

Maluku Tanah Pusaka

Sio… Maluku tampa beta putus pusa e

Paser putih alus e

Gunung deng tanjong

Beta seng lupa e

Ina ama lama lawang seng baku dapa e

Sio… biar jauh bagini e

Tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera

Sampe Tenggara Jauh

Katong samua basudara

Nusa Ina …sio …..

Katong samua dari sana

Biar jauh bagini e

Beta seng bisa lupa

Maluku tanah pusaka

Satu nama satu gandong

sio… satu suku

Maluku manis e, ..

 

Lagu ini memaparkan ide tentang Maluku dan manusianya dan menurut interpretasi penulis inilah identitas ke-Maluku-an yang hakiki. Syair ini adalah nasihat yang ditujukan untuk anak Maluku yang telah merantau ke luar Maluku atau anak Maluku yang ada di Maluku tapi belum paham betul tentang Maluku. Orang Maluku mempresentasikan wilayahnya yang indah dan elok dengan “paser putih alus”. Dalam pikiran orang Maluku hanya mengenal dua ruang yaitu gunung dan pantai yang sering disebut « kadara dan kalao ». Kata Ina Ama bukan saja rasa hormat pada kedua orangtua tetapi juga ada ungkapan rasa puja dan puji kepada para leluhur.

Yang disebut orang Maluku itu dalam kawasan Kepulauan Maluku. Jadi tidak ada beda antara orang di utara dan orang di selatan. Konsep itu tidak ada dalam pikiran orang Maluku sehingga secara administratif pemerintahan boleh terbelah tapi pikirannya satu sebagai Tanah Raja-Raja. Maluku saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan Raja Ampat Moloko Kieraha (Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan). Bagaikan air yang mengalir dari “dara” ka “kalao” maka semua dipertemukan di Nusa Ina (Pulau Seram) sebagai pulau terbesar dalam struktur Kepulauan Maluku. Untuk itu semua memang berasal dari Nusa Ina (Seram).

Kata “manise” dari dulu hanya ditempelkan dalam ungkapan yang dialamatkan kepada Pulau Ambon menjadi Ambon Manise, mengapa ? Ini ada kaitannya dengan “paser putih alus e”. Everhardus Georgius Rumphius tahun 1741 dalam bukunya Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense) melaporkan bahwa struktur vegetasi tanaman terlengkap di dunia ada di Pulau Ambon. Dan memang pada zamannya itu pulau Ambon dibungkus dengan vegetasi tanaman yang sangat indah. Bagi seorang ilmuwan botani Eropa yang berkebangsaan Jerman dan bekerja untuk kolonial Belanda, maka vegetasi hutan tropis demikian bagaikan sebuah surga sehingga ungkapan Ambon Manise berulang-ulang dituturkan. Rumphius memang sangat menikmati hidup yang panjang di Pulau Ambon hingga dia harus kehilangan anggota keluarganya (istri dan anaknya) pada tsunami dahsyat di Pulau Ambon di medio abad ke-18. Jadi kata Maluku Manise hanya transformasi dari kata Ambon Manise.

Pertanyaan yang bisa diajukan adalah katalisator apakah yang menyatukan seluruh pulau, baik besar maupun kecil bahkan yang telah eksis memiliki nama dan yang anonim, menjadi suatu kesatuan yang utuh ?

Pemahaman yang komprehensif tentang pulau-pulau kecil terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang ada di Maluku dengan segala komponen di dalamnya merupakan suatu cara untuk bisa memahami makna keutuhan wilayah di samping pemahaman tentang etno-antropologi dari setiap wilayah di Maluku. Beranda depan pulau-pulau kecil itu adalah suatu tempat dimana lalu lintas manusia lalu-lalang dengan segala peristiwa pertukaran budaya yang berlangsung.

 

IDENTITAS SEBAGAI ORANG BUPOLO DI PULAU BURU

Orang Bupolo adalah masyarakat asli Pulau Buru yang tinggal terisolir di daerah pegunungan. Mereka juga tidak tahu bahwa siapa itu Gubernur Maluku atau Presiden RI, tetapi mereka tahu bahwa ini bumi Maluku dan Indonesia, dimana cerita itu diperolehnya dari orang Buton dan Bugis saat mereka melakukan transaksi dagang dengan pedagang antar pulau yang secara reguler datang di Pulau Buru. Kisah masyarakat yang hidup terisolir di Maluku yang menempati habitat gunung atau pulau kecil masih banyak yang belum terungkap. Jika arah pembangunan yang dimulai dari wilayah pinggiran maka selain wilayah 3T sebagaimana disebutkan di atas maka keterisolasian penduduk pada wilayah pegunungan juga seyogyanya menjadi perhatian untuk didiskusikan pemecahannya.

Harus diakui bahwa Pulau Buru menyimpan kisah kelam yang sangat tidak manusiawi yang dialami para tahanan politik (tapol) sejak penempatan mereka yang pertama di tahun 1969. Kawasan penahanan mereka untuk pertama kali disebut Tefaat (=Tempat Pemanfaatan). Sesuai namanya Tefaat, maka para tapol sangat menderita karena benar-benar dimanfaatkan untuk pekerjaan membuka lahan pertanian menjadi sawah dan juga membabat hutan kayu untuk perdagangan kayu gelondongan.

Beberapa tahun kemudian cara Indonesia dalam menangani para Tapol mendapat protes dan kritik dari masyarakat internasional, akhirnya Tefaat dirubah nama menjadi Inrehab (=Instalasi Rehabilitasi). Namun praktek penanganan dan pembinaan kepada para Tapol tetap tidak berubah karena militer senantiasa memakai pendekatan kekerasan. Untuk itu masyarakat internasional lebih mengenal Pulau Buru sebagai « le goulag des mers du sud (bahasa Perancis) » yang berarti: Goulag[3] di Laut Selatan.

Berbicara tentang identitas orang Bupolo maka kami ingin memperkenalkan bagaimana cara pandang mereka tentang masyarakat lain yang hidup secara bersama-sama di Pulau Buru ini. Cara pandang itu dapat dilihat pada penjelasan skema manusia dalam gambar berikut ini.

 

GEBA-BURU

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo (masyarakat autokton) membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

Hadirnya para tahanan politik G30S/PKI dimana Pemerintah Orde Baru saat itu memanfaatkan dataran Waeyapo di sebelah utara timur Pulau Buru untuk dijadikan kamp konsentrasi tahanan politik. Tahun 1980 kawasan ini ditetapkan sebagai daerah pemukiman program transmigrasi nasional yang diperuntukkan untuk dua kelompok yaitu kelompok pertama kepada para tapol G30S/PKI yang dinyatakan bebas dan tidak kembali ke Pulau Jawa, sedangkan kelompok kedua adalah transmigran dari masyarakat Pulau Jawa termasuk di dalamnya para pensiunan militer. Yang terakhir disebut dimaksudkan untuk pembinaan teritorial kepada mantan tahanan politik. Jadi status bebas telah disandang oleh para tapol namun dalam kesehariannya tetap dikontrol oleh pensiunan militer. Di era reformasi ini sekat-sekat kecurigaan telah lenyap secara perlahan-lahan dengan berubahnya waktu dan cara pandang geopolitik.

 

DUNIA ORANG BUPOLO

Kuatnya ikatan orang Bupolo dengan ruang kosmologi adalah adanya cerita mitos yang sekaligus pula menjadi perekat diantara mereka, misalnya gunung dan air adalah dua kekuatan yang memberikan banyak inspirasi hidup bagi orang Bupolo untuk tetap bertahan pada wilayah pegunungan yang sangat terisolir. Oleh sebab itu dalam keseharian Gunung Date adalah tempat berdiam para leluhur. Dengan demikian Gunung Date tetap harus dijaga dengan tatanan adat yang kuat dari pengaruh orang luar, misalnya dilarang membawa orang luar mengunjungi dan melintasi Gunung Date. Mereka konsisten mempertahankan daerah itu dengan melarang hadirnya perusahaan yang eksploitasi hutan dengan izin HPH.

Orang Bupolo masih sangat yakin pula bahwa hingga saat ini leluhur mereka yang dipresentasekan dengan seekor morea besar (= eel, anguille, Anguilla marmorata) itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana seluas 75 Km² tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat.

Rana lalen artinya daerah diseputar Danau Rana dan Gunung Date yang terletak di tengah pulau. Orang Bupolo mengibaratkan daerah seputar Danau Rana dan Gunung Date sebagai surga yang perlu dipelihara kelestariannya. Konsep konservasi sumberdaya alam telah mereka kuasai dan melakukannya demi kebesaran leluhur (Opo Lastala) yang selalu mengontrol mereka dari singgasananya di Gunung Date.

Orang Bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan sebenarnya mereka juga sangat curiga dengan orang Bupolo sendiri yang sudah mengenal peradaban baru (agama). Diseputar Rana lalen, hanya ada dua kampung (Waereman dan Waegrahi) yang tetap hidup dengan mempraktekkan ritual adat. Sisanya yaitu sebanyak lima kampung telah menerima agama protestan (Aerdapa, Kakutuan, Warujawa, Wamanboli, dan Waemiting).

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo.

Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 2 berikut ini.

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 2. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan Manusia

 

Jika diperhatikan Gambar 2 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

 

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

Orang Bupolo memiliki nilai dan norma-norma untuk melindungi lautan, air, danau, gunung, tanaman tahunan (sagu dan minyak kayu putih serta pohon lainnya) dan tanman pangan. Hutan primer merupakan tempat tinggal roh nenek moyang memelihara kelangsungan manusia dan alam. Oleh karena itu, orang Bupolo malarang pengusaha kayu yang memiliki hak pengusahaan hutan (HPH) untuk beroperasi di hutan primer.   Wilayah utara Pulau Buru didominasi iklim yang kering dengan sedikit curah hujan. Di daerah ini komoditas kayu putih, gelan, (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) sangat dominan penyebarannya bersama-sama dengan alang-alang, mehet, (Imperata sp) sampai pada altitude 500 meter. Pada altitude yang lebih tinggi akan ditemui hutan tropis basah. Sedangkan wilayah selatan pada altitude 0 – 100 banyak diselimuti oleh daerah batuan dan karang. Variasi biodiversitas akan terlihat pada altitude lebih dari 100 meter hingga altitude yang lebih tinggi.

Di daerah selatan hutan tropis basah sangat dominan dengan tegakan pohon Shorea (biahut) dan Agathis (kisi) yang sangat rapat. Dengan demikian jika kita berada di daerah pesisir pantai utara maupun selatan seolah-olah ada kesan bahwa pulau ini sangat gersang padahal di dalamnya ada terdapat hutan dengan biodiversitas yang tinggi dan diikuti dengan jenis fauna yang sangat unik dan ada beberapa fauna yang sifatnya sangat khas. Seperti misalnya terdapat babi rusa. Akhir-akhir ini tingkat eksploitasi hutan yang tinggi oleh para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) sangat mempengaruhi keseimbangan lingkungan.

Hutan primer adalah tempat orang Bupolo meramu damar dan berburu binatang hutan seperti babi (fafu), babi rusa (fafu boti), rusa (mjangan), dan kusu (blafen, Phalanger dendrolagus). Untuk berburu harus menunggu musim buah dari pohon meranti (biahut, Shorea sp), karena buah dari pohon tersebut akan menjadi makanan bagi binatang hutan tersebut.

Pada kawasan hutan sekunder mereka lebih banyak melakukan kegiatan pertanian. yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua, akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun dengan melihat gejala perubahan pada daun.

Setelah menanam kacang tanah pada kebun baru, orang Bupolo melakukan kegiatan mengolah minyak kayu putih atau mereka sebut pula urut daun, yang banyak dilakukan di daerah sebelah utara Pulau Buru, karena disini banyak dijumpai formasi pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae) yang tercatat sebagai tanaman asli Pulau Buru.

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Umumnya tidak ada masalah gender dalam hubungan laki-laki dan perempuan Bupolo. Perempuan juga mempunyai peranan yang besar dalam setiap keputusan keluarga maupun peranannya dalam upacara ritual atau adat. Orang Bupolo menempatkan perempuan dalam posisi sesuai kodrat mereka.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

Keturunan adalah tujuan utama berkumpulnya laki-laki dan perempuan. Jika keturunan tidak diperoleh dari kelompok kecil tadi maka perempuan harus rela pasangan laki-laki mengambil perempuan yang lain dan tinggal serumah dengannya. Untuk itu dalam suatu rumah bisa kita jumpai seorang laki-laki hidup dengan lebih dari satu perempuan. Catatan kami memperlihatkan bahwa seorang laki-laki bisa hidup serumah dengan minimum dua perempuan dan maksimum empat perempuan. Sedangkan rata-rata jumlah anak dari suatu perkawinan adalah empat.

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana (Gambar 3).

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Gambar 3.  Konstruksi rumah orang Bupolo (Foto: Pattinama, 2005)

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

Tanaman sagu adalah merupakan kemurahan Sang Pencipta yang diberi kesempatan hanya tumbuh sebagai tanaman asli di Maluku dan Papua, namun dari yang mengkonsumsinya hanyalah orang Bupolo yang mampu memaknainya dalam kesatuan hidup mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 4. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Untuk jelasnya mari kita lihat Gambar 4 (Louhenapessy, 1992), dimana interpretasi etnobotani bisa dijelaskan sesuai tradisi yang dipraktekan oleh orang Bupolo.   Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah (fase pohon sagu dipanen), penampilan bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya. Dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak. Hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul. Ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Ciri khas yang akan ditonjolkan adalah bertubuh tegar, berkulit hitam, dada dibelah putih bersih indikator suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa tepung sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan sama sekali tidak berarti.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

Dalam kesederhanaan berpikir orang Bupolo jika seorang Gebakuasan sudah tua dan tidak mampu lagi berjalan maka sebagian energi kekuasaannya telah dilimpahkan kepada yang akan menggantikannya secara perlahan-lahan dan pada saat dia meninggal maka penggantinya sudah mampu melanjutkan peranannya untuk memimpin kelompok bialahin tersebut. Orang Bupolo juga sudah mengerti suatu proses suksesi kekuasaan yang tenang, berlanjut dan tidak saling membunuh. Sebab jika pohon itu ditebang pun harus punya perhitungan yang sangat matang. Ketika ditebang tidak jatuh menimpa pohon yang lain sehingga kelanjutan generasi itupun tidak akan terputus. Untuk itu mereka cenderung memilih suatu proses yang alami dengan suatu kaderisasi yang telah diatur menurut kebiasaan hidup mereka.

Landasan berpikir yang bersandar pada tanaman sagu ini kalau dimiliki oleh semua orang di kepulauan Maluku dan Papua apalagi yang telah dinobatkan sebagai pemimpin seperti pohon (1), seharusnya dia mampu membagi energi yang merata dan dia sendiri yang harus berani memutuskan kapan harus ada kesempatan hidup kepada yang lainnya. Pohon (1) memiliki sikap menang sendiri dan mau tetap berdiri hingga pohon (5) muncul. Pada saat yang sama itu jika yang berikutnya yaitu pohon (2) juga tidak berada dalam etika kesabaran untuk harus bersabar menerima kenyataan karena memang pohon (5) itu telah muncul, maka tindakan tergesa-gesa di luar etika hidup terpaksa harus ditempuh, bisa memberi dampak kepada yang lainnya. Bisa saja terjadi pohon (2) sendiri yang harus menerima akibatnya dari ulahnya sendiri. Dengan kata lain pemahaman hidup terhadap pohon sagu telah menunjukkan arah sebenarnya harus hidup taat asas dalam tatanan etika hidup yang teratur. Dan penulis banyak mengamati sebagian besar orang Maluku terkadang mau menyalahkan landasan berpikir ini karena menganggap bahwa tanaman sagu telah salah memberi arti sebenarnya bagi pandangan hidup mereka. Untuk itu kualitas dari pohon (1) sebagai pemimpin harus diperhitungkan dengan matang jika tidak maka dapat dipastikan dia akan menjadi penghalang distribusi energi kepada pohon yang lainnya.

Metroxylon sagu adalah tanaman asli di kepulauan Maluku dan Papua (termasuk PNG) kemudian menyebar ke Pasifik Selatan dan seterusnya beberapa spesies dikembangkan ke arah barat Indonesia menuju Malaysia sampai ke India. Namun yang memilihnya sebagai makanan pokok adalah orang di kepulauan Maluku dan di Papua.

Dari orang Bupolo kita dapat mengerti tentang bagaimana pendekatannya kepada kelompok masyarakat di pulau lain. Pada prinsipnya orang pulau tidak pernah terisolir hidupnya dan orang Bupolo sendiri telah mencatat sejarah perjalanan mereka sebagai bukti bahwa mereka mampu bersinggungan dalam pergaulan di level nasional dan internasional. Untuk itu studi tentang etnobotani yang penulis tekuni hanya mau membuat suatu pendekatan guna mendalami masyarakat dari tanaman yang ada disekitar habitat dimana manusia hidup, dengan begitu kita dapat mengerti hubungan timbal balik antara masyarakat dan lingkungannya.

Gambar 5 berikut ini menyajikan rumpun sagu yang dibudidayakan. Dalam satu rumpun idealnya hanya ada lima pohon sagu. Louhenapessy (1992) mengatakan bahwa dalam areal hutan dimana tanaman sagu tumbuh secara liar, maka ditemui ada sekitar 90 pohon sagu dalam satu rumpun. Tanaman sagu mengalami proses perkecambahan tunas untuk melahirkan pohon yang baru melalui akar. Pohon sagu yang tumbuh secara liar akan menghasilkan jumlah pati sagu yang sedikit bila dibandingkan dengan pohon dalam rumpun sagu yang mendapat perlakuan pemeliharaan yang intensif. Hal ini berhubungan dengan kompetisi energi dalam rumpun tersebut.

Secara ekologi, pohon sagu menciptakan kondisi hidromorfis, artinya akan tercipta areal basah atau berair pada habitat tanaman tersebut, sehingga apabila pohon sagu tumbuh secara liar dalam hamparan yang luas maka secara otomatis akan menciptakan daerah rawa-rawa.

 

EPILOG : PULAU BURU DAN KEMAJUANNYA

Daoed Joesoef penulis buku Emak (2005) dalam diskusi lisan dengan penulis pada forum alumni Prancis di Jakarta tahun 2011 pernah mengatakan bahwa Maluku dan Papua adalah sebuah kubangan yang didalamnya tersimpan harta bumi alami yang masih terpendam. Jika harta itu diolah maka kedua wilayah ini akan menjadi benua ke-enam.

Pesan di atas sebenarnya memberikan sinyal yang kuat bahwa masa depan Indonesia ada di Papua dan Maluku. Untuk itu Maluku dengan otonomi daerah dan ditambah lagi kepemimpinan dan kekuasaan daerah provinsi, kabupaten dan kota saat ini ada dalam genggaman orang Maluku, maka sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun Maluku. Jangan lagi pikirkan soal jatah kepemimpinan nasional karena itu akan membuang waktu dan energi.

Terobosan pertama menurut hemat penulis seyogyanya dimulai dengan melakukan rekayasa sosial yang akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya ketahanan masyarakat menghadapi setiap perubahan, Inovasi teknologi akan diterima dengan baik apabila masyarakat dipersiapkan dengan segala informasi yang lengkap dan materi penyuluhan yang bisa dipahami. Dengan demikian informasi sosial yang lengkap akan mendukung penerapan teknologi dengan tepat sasaran dan tepat tujuan.

Terobosan yang berikut adalah pulau Buru ke depan bisa membangun museum alam tentang “Goulag di Pantai Selatan” sebagai peringatan atas tragedi kemanusiaan yang paling mengenaskan dalam sejarah manusia. Selain digunakan sebagai obyek wisata maka pembangunan museum ini pula bisa menggambarkan sejarah pembangunan pertanian yang sawah yang tidak dapat dibayangkan bahwa bisa dibangun pada wilayah formasi tanaman sagu sebagai biodiversitas awal pada areal tersebut. Pengalihan fungsi lahan juga bisa menjadi suatu laboratorium alami dalam mempelajari evolusi tanaman dimana lingkungan akan berubah seturut dengan perubahan vegetasi tanaman.

Penulis tiba pada usulan yang konkrit untuk memperkuat identitas ke-Maluku-an yaitu mensinergikan setiap komponen interdisipliner yang diilustrasikan bagaikan rangka seekor ikan yang menyusun struktur anatomi ikan.

Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat baik yang menghuni pulau-pulau kecil di wilayah 3T maupun yang menghuni wilayah terisolir di pegunungan adalah teknologi nutrisi dan pakan ternak, bioteknologi komoditas unggulan, dan rekayasa sosial.

Tiga komponen ini menempati bagian rangka ikan yang paling peka yaitu pada bagian kepala hingga rongga insang. Artinya bahwa komponen teknologi sangat diperlukan bagi orang pulau, jika tidak ada terobosan teknologi maka seluruh hasil produksi akan terbuang karena membutuhkan jalur pemasaran yang relatif panjang. Komponen pendukung dan juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan adalah ekologi kepulauan dan etnobotani dimana struktur ini bisa menjadi konsep holistik dalam membangun identitas orang Maluku.

diagram-ikan

Gambar 5. Diagram Ikan Konsep Pikiran Orang Maluku pada Pulau Kecil Terdepan dan Terluar

 

DAFTAR PUSTAKA

1.Joesoef Daoed, 2005, Emak, Kompas, Jakarta

2.Jonge de Nico and van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonesia, Perplus, Singapore.

3.Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

4.Milton Giles, 2015, Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan, Pustaka Alvabet, Banten.

5.Pattinama, Marcus J. dkk, 2007. Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku: Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti.

6.Pattinama, Marcus J. 2015. Identitas Maluku dalam Konteks Nasional. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional STAKPN Maluku di Ambon pada tanggal 24-25 November 2015.

7.Rumphius Everhardus Georgius, 1741, Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense),

8.Turner Jack, 2011, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme,Komunitas Bambu, Jakarta.

 



[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon dan Ethnobotanist Pulau Buru.

[2] Burat atau Sareat (Bahasa Buru) adalah adat makan sirih pinang orang Bupolo yang diadakan sebelum dimulainya suatu pertemuan atau diskusi adat.

[3] Goulag singkatan dalam bahasa Rusia « Glavnoïe Oupravlenie Laguereï » artinya « Menuju Tempat Penampungan (baca : kamp konsentrasi) ». Kamp konsentrasi Goulag disebut pula Kepulauan Goulag, dibangun di lahan terbuka yang sangat luas, tidak berpenghuni (kira-kira sebesar Pulau Borneo : Kalimantan + Serawak, Malaisia) di Rusia Utara-Timur (dulu : Uni Soviet). Sebenarnya Goulag telah dibangun sejak rejim Tsar dan dilanjutkan pada rejim Joseph Stalin hingga Brejnev dan baru dinyatakan dibubarkan pada rejim Perestroïka (Gorbachev). Kekuatan ekonomi Uni Soviet kala itu dibangun dengan memanfaatkan tenaga para tahanan yaitu mereka yang beroposisi dengan rejim berkuasa, para bandit kriminal dan pembunuh. Di Goulag, mereka harus menjalani kerja paksa untuk negara (baca : rejim berkuasa). Tentu banyak korban manusia yang mati sia-sia setiap harinya karena pekerjaan berat yang harus dijalani, kondisi sanitasi kamp konsentrasi yang sangat jelek dan suhu yang sangat dingin kadang mencapai -45° C saat musim dingin. Kerja paksa yang mereka lakukan merupakan sebagian sumbangan yang pada gilirannya menjadikan Uni Soviet sebagai negara adi-daya dan tandingan bagi Amerika Serikat, namun akhirnya kekuatan itu tumbang pada 1991 dan selanjutnya disebut Rusia.

Makalah dipresentasikan pada Temu Budaya Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku, di Namlea Tanggal 5 Desember 2015

12 comments on “BURU DALAM KONTEKS IDENTITAS KE-MALUKU-AN (PERSPEKTIF PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM)

  1. Mey Laukon on said:

    saya sangat mengapresiasi tulisan bapak ini. Namun ada hal yg ingin saya tanyakan yakni, di tengah-tengah perkembangan zaman seperti sekarang ini apakah masyarakat Bupolo masih tetap mempertahankan sistem dan kebudayaannya ? kalau masih di pertahankan apa saja faktor yg menyebabkan mereka (masyarakat Bupolo) untuk tetap bertahan ?

    sekian dan terimakasih pak :)

    Mey Laukon (2014-81-009)

  2. Paramitha Makalua on said:

    Selamat malam, tulisan bapak ini sudah sangat bagus, menarik, dan membuat orang yang membaca menjadi tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang tulisan bapak. tapi ada yang ingin saya tanyakan, karena menurut saya tulisan bapak ada yg belum terlalu jelas, yang (1). Orang Bupolo masih sangat yakin pula bahwa hingga saat ini leluhur mereka yang dipresentasekan dengan seekor morea besar (= eel, anguille, Anguilla marmorata) itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana seluas 75 Km² tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat. yang ingin saya tanyakan adalah, aturan adat seperti apa yang mereka lakukan terkait dengan morea besar ini.
    (2). Humanati (membentuk keluarga). disitu dijelaskan bahwa seorang laki-laki yang mau menikah harus berburu, menyuling minyak kayu putih dan lain-lain. lalu jika laki-laki tersebut merupakan penduduk setempat, namun ia telah keluar dari tempat itu, mungkin untuk urusan pekerjaan dan lain-lain, dan telah menetap di tempat lain. apakah ia harus tetap melakukan pernikahan berdasarkan aturan yang ada? lalu menyangkut wanita yang tidak memiliki anak, apakah suaminya yang mengambil wanita lain untuk tinggal serumah dengan istrinya itu merupakan suatu keharusan untuk masing0masing keluarga baru, ataukah semua terpulang pada keluarga masing-masing? mungkin itu yang ingin saya komentari untuk bapak, agar kedepannya tulisan ini dapat lebih jelas, sehingga untuk orang yang bukan orang buru, ketika membaca tulisan bapak juga bisa mengetahui segala hal tentang orang buru tanpa harus pergi ke tempat tersebut. sekian dan terimakasih pak …
    Paramitha Makalua (2014-81-010)

  3. Salman Alfarisi on said:

    Selamat malam pak, saya sangat mengapresiasi tulisan bapak ini menurut saya tulisan bapak ini sangat baik dan membuat orang yang membaca menjadi tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang orang bupolo dan bagaimana kehidupan mereka sampai saat ini. Namun ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai tulisan bapak yaitu konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan masyarakat bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur strategi politik. Dari tulisan ini yang jadi pertanyaan saya yakni apa itu valeur strategi politik? dan apa kaitannya dengan konsep perkawinan masyarakat bupolo? Itu saja hal yang ingin saya tanyakan, terima kasih pak.
    SALMAN ALFARISI (2014-81-001).

  4. Salman Alfarisi on said:

    Selamat malam pak, saya sangat mengapresiasi tulisan bapak ini menurut saya tulisan bapak ini sangat baik dan membuat orang yang membaca menjadi tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang orang bupolo dan bagaimana kehidupan mereka sampai saat ini. Namun ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai tulisan bapak yaitu konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan masyarakat bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur strategi politik. Dari tulisan ini yang jadi pertanyaan saya yakni apa itu valeur strategi politik? Dan apa kaitannya dengan konsep perkawinan masyarakat bupolo? Itu saja hal yang ingin saya tanyakan, terima kasih pak.
    SALMAN ALFARISI (2014-81-001)

  5. Isna Vania Karepesina on said:

    Selamat malam pak. Saya sangat mengapresiasi tulisan bapak buru. saya merupakan seorang yang pernah hidup di pulau buru kurang lebih 6 tahun dan berkat tulisan dari bapak ini saya lebih mengetahui tentang masyarakat lokal asli buru ( orang bupolo ).

  6. Isna Vania Karepesina on said:

    Selamat malam pak. Saya sangat mengapresiasi tulisan bapak buru. saya merupakan seorang yang pernah hidup di pulau buru kurang lebih 6 tahun dan berkat tulisan dari bapak ini saya lebih mengetahui tentang masyarakat lokal asli buru ( orang bupolo ). Ada beberapa point yang ingin saya komentari yaitu :
    1. Saya setuju dengan pernyataan yang bapak kemukakan bahwa seharusnya bukan saja masyarakat yang berada di wilayah 3T yang harus di perhatikan tetapi juga seharusnya masyarakat lokal yang tinggal di wilayah pegunungan juga harusnya diperhatikan. Untuk kasus orang bupolo sangat di sayangkan sekali mereka bahkan tidak mengetahui mereka merupakan warga Indonesia jika tidak diberitahukan oleh pedagang. Ini benar-benar fakta yang sangat miris di era modern sekarang ini bisa dikatakan bahwa mereka sangatlah tertinggal. Hal ini menunjukan bahwa IPTEK belum menyentuh warga disana. Sehingga seharusnya menjadi pr untuk pemerintah kabupaten buru agar segera memusatkan perhatiannya kepada orang bupolo yang kalah bersaing dari segi IPTEK dengan pendatang yang mendiami wilayah mereka. Tenaga pengajar seharusnya ditempatkan di wilayah Gunung Date tempat pemukiman orang bupolo. Walau saya rasa hal ini sangatlah sulit mengingat sifat orang bupolo yang sangat mencurigai pendatang baru. Maka dari itu tenaga pengajar juga harus yang profesional yang dapat tau cara menempatkan dirinya di tengah-tengah orang bupolo.
    2. Saya sangat terkagum dengan konsep biahlin yang bapak kemukakan. Seharusnya negara ini memakai konsep tersebut dalam sistem pemilihan pemimpin. Hal ini karena dalam memilih seorang pemimpin, haruslah melihat apakah pemimpin tersebut mempunyai sifat seperti pohon sagu yang dapat memberi kehidupan atau akan menyalurkan energi yang merata bagi anakannya ? Bukan karena kekuatan serangan fajar atau karena permainan politik semata yang mengakibatkan tidak merata energi yang didapatkan oleh tiap daerah akibat pemimpin yang salah. Sehingga saya dapat menyimpulkan bahwa orang bupolo dalam hal memilih pemimpin lebih cerdas dibandingkan kita yang penguasaan terhadap IPTEK jauh lebih maju dari mereka.
    3. Maluku merupakan negri harta karun yang terkenal dari dulu hingga sekarang . Maha baik Tuhan YME menganugerahkan Maluku dengan segala kekayaaan alam di daratan maupun lautan. Setuju yang dikatakan oleh Pak Daoed Joesoef bahwa jika harta yang Maluku punya dikelolah dengan baik maka kita akan dapat membentuk benua ke-enam. Hal ini seharusnya menjadi tantangan untuk kita bahwa yang bukan orang Maluku saja telah melihat peluang yang kita punya. Tinggal bagaimana kita sebagai orang Maluku terkhususnya anak muda yang harus bekerja keras untuk mengelola harta yang ada. Karena tak ada yang sempurna, kita punya sumberdaya alam yang melimpah tapi tak di imbangi dengan sumberdaya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, mari anak muda Maluku agar menengok kembali anugerah tuhan ini jangan sampai kita miskin di tanah yang di agungkan oleh orang-orang non Maluku dengan sebutan negri kaya raya. Kita harus belajar dengan giat, tingkatkan kualitas diri kita, kelolah semua sumberdaya alam yang kita punya jangan biarkan warga non Maluku menikmati harta kita. Jadikan setiap sumberdaya alam yang ada menjadi peluang usaha. Harumkan Maluku dengan pala cengkeh yang membuat kita dijajah oleh negara lain. Ambil ahli seluruh tambang emas, gas dan hasil mineral lainnya dari warga asing. Jadikan diri kita sebagai negri yang kaya akan sumber daya alam dan manusia juga kaya akan sosial ekonomi dan budaya.
    Nama : Isna Vania Karepesina
    NIM : 201481067

    • Moilena Unitly on said:

      Selamat malam Pak.
      Menurut saya penulisan bapak sudah bagus,jelas,menarik.dan dapat menjadi masukan bagi saya.saya juga sangat mengapresiasi tulisan bapak.namun ada yang ingin saya tanyakan mengapa orang Bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan mengapa mereka juga sangat curiga dengan orang Bupolo yang sudah mengenal peradaban baru (Agama).
      Terima Kasih Pak ????

  7. Meyneva Sohilait on said:

    Selamat malam Prof,
    Tulisan prof sudah sangat bagus. ada beberapa pertanyaan yang mau saya tanyakan :
    1. Berkaitan dengan gambar rumah masyarakat Bupolo yang prof tampilkan, apakah sampai sekarang ini semua masyarakat Bupolo rumahnya sedemikian rupa ataukah ada rumah yg sudah berubah seperti rumah-rumah moderen?
    2. Berdasarkan skema yang prof paparkan itu mengenai pembagian golongan (geba) jika dikaitkan dengan Humanati (membentuk keluarga) apakah pernikahan yang di lakukan masyarakat Bupolo harus berdasarkan geba ataukah bertolak belakang dalam artian dapat menikah dengan sembarang geba?

    Sekian dan terima kasih Prof
    Meyneva Sohilait (2014-81-079)

  8. Ayu Lessy on said:

    Saya sangat mengapresiasi tulisan bapak ini sangat baik, menarik dan membuat orang yang membaca tertarik. untuk mengetahui lebih dalam tentang orang bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan sebenarnya mereka juga sangat curiga dengan orang bupolo sendiri yang sudah mengenal peradaban baru ( agama ).yang tidak saya dapat pahami, saya tanyakan mengapa orang bupolo diseputar kampung waerama dan waegrahi masih mempercayai ritual adat sedangkan 5 kampung lainnya ( aerdapa, kakutuan, warujawa,wamanboli,dan waemiting ) telah menerima agama protestan.
    Itu saja yang yang saya tanyakan, trimakasih pak.

  9. Meyneva Sohilait on said:

    Selamat pagi prof , tulisan prof sudah sangat bagus ada beberapa pertanyaan yang mau saya tanyakan
    1 berkaitan dengan gambar rumah masyarakat bupolo yang prof tampilkan,apakah sampai sekarang ini semua masyarakat bupolo rumahnnya sedemikian rupa ataukah ada rumah-rumah yg sudah berubah seperti rumh moderen?
    2 berdasarkan skema yang prof paparkan itu mengenai pembagian golongan atu (geba ) jika dikaitkan dengan humanati (membentuk kelurga) apakah perikahan yang dilakukan masyarakat bupolo harus berdasarkan geba ataukah bertolak belakang dalam artian dapat menikah dengan sembarang geba ?

    Sekian dan terima kasih prof .
    Meineva Sohilait
    (2014-81-079)

  10. M Kahar S Saliu on said:

    Salamat siang pak mohon maaf saya terlambatvmengirim komen ke pak karena email yang saya gunakan tidak jadi sampai sekaran ini baru bisa saya mengirim menggunakan email teman saya pak.
    Saya suda membaca tulisan bapak mengenai kehidupan masyarakat bupolo yang terisolasir. disini yang menjadi pertanyaan saya apakah masyarakat di bupolo yang 2 kampung yang tidak beragama yaitu kampung waereman dan waegrahi, yaitu apakah dua kampung ini sampai sekaran masih berpegan tegu sampai sekaran atau gimana pak.
    Mohon maaf atas keterlambatannya pak.
    Nama. M kahar s saliu
    Nim. 2014 81 026

  11. M Kahar S Saliu on said:

    Slamat malam prof, saya sangat terkesan dengan tulisan yang prof tulis ini. Dalam tulisan ini sangat terlihat prof begitu mengenal dengan baik tentang pulau buru. Saya setuju dengan yang prof katakan bahwa maluku disebut juga indonesia mini, dilihat dari luasnya Provinsi maluku ini. Menurut saya tulisan ini sangat baik dan harus di baca oleh semua kalangan prof. Karna mereka bisa mengetahui bahwa di daerah pulau buru masih ada masyarakat yang hidup di pegunungan yang bahkan tidak mengetahui presdien mereka saat ini.
    Nama :Irzal Tualeka
    NIM : 201481028

Leave a Reply to Paramitha Makalua Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>