PENELITIAN DAN PENGAJARAN ETNOBOTANI UNTUK IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KEPULAUAN MALUKU

PERUBAHAN-IKLIM

Ethnobotany Research and Teaching towards Adaptation and Implementation of Climate Change in the Maluku Archipelago

 Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

ABSTRACT

Climate change, an increased average global temperature, has resulted in the emission of greenhouse effects surrounding hot earth temperature. It is predicted that the earth temperature is one degree warmer. Even though this number is relatively small, however, globally, it has the potential to destroy the earth, and finally influences the livelihood of millions people on earth. Due to the fact that Indonesia is the biggest maritime country in the world possessing three climate types from the east to the west, including tropical muson, equatorial and local, Indonesia has been recorded to contribute to the world climate change. In particular, Maluku is only affected by local and tropical muson climate. Climate experts suggest that the majority of areas in Maluku is covered with local climate where this climate is not found in any other places in Indonesia. Local climate characteristics strongly influence animal and plant biodiversity, which can only be found in Maluku, living in the land as well as water including river, lake and ocean. Global warming will have significant impacts on archipelago, so that plan development concept in Maluku should consider this local climate pattern. Consequently, basic plan should start with accurate research data synthesis. Ethnobotany research is strongly associated with human activities and the environment. Ethnobotany study provides comprehensive analysis about human, culture and every aspect of natural resources. Besides, this analysis needs to be disseminated in the form of structured teaching for non-formal and formal education. Ethnobotany teaching will be presented in more accurate and replicable according to the view, regulation, and culture appreciation in acknowledging, understanding and harnessing natural resources in the culture environment. The role of human and specific natural environment as well as its culture, in turn will become strategic references in implementing and adapting global climate change.

Key words : Ethnobotany, climate change, Maluku archipelago, local climate.

ABSTRAK

Perubahan iklim, dengan meningkatnya suhu global rata-rata, mengakibatkan emisi gas rumah kaca di atmosfer telah mengepung suhu panas bumi. Suhu dunia diperkirakan satu derajat Celsius lebih hangat. Angka suhu ini walau mungkin terdengar relatif tidak terlalu besar, akan tetapi secara global berpotensi menghancurkan planet bumi, dan akhirnya dapat mempengaruhi mata pencaharian jutaan penduduk di muka bumi. Karena Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur, yakni pola iklim muson, ekuatorial dan lokal, maka Indonesia tercatat pula berkontribusi dalam perubahan iklim dunia. Maluku secara spesifik hanya dipengaruhi oleh pola iklim lokal dan muson. Pakar iklim mencatat bahwa mayoritas wilayah Maluku diselimuti oleh iklim lokal dimana pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodivesitas tanaman dan hewan yang hanya dijumpai di Maluku baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut. Kenaikan panas bumi akan berimplikasi signifikan pada wilayah kepulauan, sehingga konsep perencanaan pembangunan daerah di Maluku seyogyanya memerhitungkan pola iklim lokal ini. Karena itu, dasar perencanaan harus dimulai dengan sintesis data penelitian yang akurat. Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyumbangkan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam. Selain itu, diseminasi dari kajian ini perlu disampaikan dalam bentuk pengajaran terstruktur pada strata pendidikan formal dan non formal. Pengajaran etnobotani akan disajikan lebih akurat dan replikabel seturut pandangan, penataan, dan penghayatan budaya dalam mengenali, memaknai dan memanfaatkan sumberdaya alam di lingkungan budayanya. Peran manusia Maluku dan lingkungan alam yang khas serta budayanya pada gilirannya akan menjadi acuan strategis dalam implementasi dan adaptasi perubahan iklim global.

Kata Kunci : Etnobotani, Perubahan iklim, Kepulauan Maluku, Iklim lokal.

PENDAHULUAN

Seminar Nasional APIKI (Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia) pada akhir Agustus 2016 ini di Jakarta mempunyai tema besar yang menarik yakni penguatan pengajaran dan penelitian perubahan iklim. Kalimat selanjutnya dalam tema tersebut, (Bridging gap implementasi kebijakan mitigasi dan adaptasi di tingkat nasional dan subnasional), bagi kami adalah sasaran yang ingin dicapai apabila pengajaran dan penelitian telah dilakukan dengan baik. Hal ini berarti bahwa pengalaman kita berbangsa dan bernegara selama ini untuk membangun masyarakat ternyata masih ada “sisa” yang belum kita selesaikan yaitu adanya masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam jurang pemisah baik yang besar maupun yang kecil. Artinya bahwa jurang pemisah yang besar jika sudah terlalu jauh dari sentrum kekuasaan Jakarta, begitupun sebaliknya jurang pemisah yang kecil jika berdekatan dengan sentrum kekuasaan Jakarta.

Mengapa ada jurang pemisah yang kecil? Hal ini terjadi karena akses sangat sulit dicapai akibat tirani kekuasaan yang rapuh dengan mendirikan tembok penguasa yang tinggi. Situasi ini bisa menjerumuskan masyarakat Indonesia makin terpisah dari kebijakan pembangunan negara. Kemudian akan ada penetapan keputusan secara sepihak dimana dibangun persepsi bahwa masyarakat secara sengaja mengambil posisi terisoler atau mengisolasi diri karena tidak mampu berkompetisi. Akibatnya struktur masyarakat ini sudah dipastikan identik dengan kemiskinan, kelaparan dan rawan gizi.

Pertanyaan menarik yang bisa diajukan adalah bagaimana mereka akan maksimal berpartisipasi dalam pembangunan negara untuk menyelesaikan isu strategis seperti perencanaan pembangunan untuk perubahan iklim, mitigasi bencana, REDD+ dan Paris Agreement ?

Masalah keterisolasian nyata (fisik) dan keterisolasian tersembunyi (psikis) ini terjadi bukan kemauan masyarakat mengisolasi diri mereka namun menunjuk pada jatah kue pembangunan yang tidak sempat mereka rasakan secara merata. Hal ini bukan disebabkan karena pemerintah mengabaikan mereka dalam prioritas pembangunan, akan tetapi harus jujur diungkapkan bahwa sumber dana pembangunan bangsa Indonesia yang sangat terbatas. Mungkin saja dana pembangunan itu melimpah ruah namun efek tetesannya tidak merembes kepada masyarakat terisolir tadi. Secara jujur harus diungkapkan bahwa masalah korupsi dana masyarakat yang belum tuntas tertangani.

Kita boleh bangga dengan sumberdaya alam yang sangat kaya tetapi kita lupa bahwa kita sendirilah yang harus mengolahnya dan pada saat yang sama kita dihadapi dengan persoalan kualitas sumberdaya manusia.

Uraian saya pada bagian pendahuluan ini bukan secara sengaja dimulai dengan mendeskripsikan posisi kita sebagai masyarakat yang hidup di negara kepulauan terbesar di dunia penuh dengan kelemahan dan tidak memiliki wawasan yang prospektif. Namun demikian ini adalah realita yang selama ini kita saksikan.

 

TEBAH-TELAAH ETNOBOTANI DAN PERUBAHAN IKLIM

            Perkembangan etnobotani sebagai suatu ilmu tak lepas dari latar belakang filsafati dan sejarah yang melahirkannya. Terminologi filsafati merujuk pada roh dari ilmu dimaksud, dalam bahasa Prancis disebut “l’esprit de la science”. Sedangkan sejarah akan mengungkapkan catatan-catatan penting atau peristiwa dimana ilmu tersebut mendapat pengaruh sesuai periode waktu berjalan.

Sebelum mengemukakan konsep dasar etnobotani, maka saya akan mengemukakan pandangan atau aliran penelitian yang menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya dimana pada relasi tersebut masyarakat senantiasa berasosiasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan :

  • Penelusuran yang pertama, yakni pada periode penjajahan. Pada fase ini kita mencatat bahwa negara-negara Eropa Barat melakukan ekspansi untuk menguasai wilayah dengan sumberdaya alamnya. Pada saat yang sama sudah ada tradisi yang dikenal sebagai botani ekonomi (economic botany) yaitu mulai memfokuskan eksplorasi penelitian pada penggunaan tanaman, khususnya untuk mendapatkan spesies baru yang berpotensi ekonomi. Aliran penelitian semacam ini banyak dikerjakan oleh para ahli dari negara-negara kolonial seperti Belanda, Prancis dan negara Eropa Barat lainnya. Dari sini lahir ahli botani yang kita kenal yaitu Rumphius, Heyne dan Ochse.
  • Penelusuran yang kedua, yakni periode pasca kemerdekaan. Indonesia mulai mengurangi pengaruh Belanda dan berkiprah ke Amerika Serikat. Langkah pertama dengan menyekolahkan kaum terpelajar dan peneliti ke sana dan pada saat yang sama ada pengaruh aliran ekologi budaya (cultural ecology) dan ekologi manusia (human ecology). Aliran ini tidak terlepas dari roh keilmuan yang dikembangkan pada fase penjajahan hanya mulai mengalami metamorfosis dengan menggabungkan pesatnya kemajuan ilmu botani yang disebut biologi. Jadi aliran ini mulai menganalisis proses hidup suatu masyarakat serta hubungannya dengan lingkungan, tetapi menggunakan konsep kerja para ahli biologi yang dipakai untuk mempelajari ekosistem. Pada periode ini kita mengenal peneliti dan ilmuwan terkenal seperti Clifford Geertz, Conklin, Vayda, Michael Dove dan Rambo yang memakai pendekatan ekologi budaya.

Dua pengalaman dalam aliran berpikir ini semuanya bermuara pada objek penelitian yang menganalisis ketergantungan manusia pada dunia tumbuh-tumbuhan. Aliran pertama telah mencatat hasil yang fantastik dengan menyajikan motede penelitian yang terstruktur yang dimulai dari koleksi hingga identifikasi dan klasifikasi ilmiah. Herbarium merupakan hasil penemuan ilmiah yang sangat luar biasa manfaatnya dan dipakai hingga saat ini untuk mengidentifikasi dunia tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian etnobotani adalah fondasi ilmu untuk lebih memahami pengembangan ilmu lain yang menerangkan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Gambar 1. Berikut ini lebih jelas menggambarkan hubungan asosiasi ilmu alam, masyarakat dan sains dimana hasil interseksi adalah etnobotani.

RUANG-LINGKUP-ETNOBOTANI Gambar 1. Ruang Lingkup Etnobotani

 

Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka etnobotani secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu ethno berarti bangsa atau kelompok etnis atau masyarakat, sedangkan botani merujuk pada dunia tumbuh-tumbuhan. Disatukan dalam terminologi etnobotani untuk memberikan gambaran tentang keutuhan pendekatan, Etno dengan etnologi dalam ethnoscience diperlukan untuk mengungkapkan sistem pengetahuan yang dimiliki suatu suku bangsa.

Beberapa pakar berpendapat bahwa ethnoscience sinonim dengan folkscience yang bertumpu pada sistem kognitif terutama dalam mengungkapkan aspek klasifikasi dan nomenklatur dalam relasi dengan alam (Barrau, 1985). Disamping ethnoscience mereka juga mengemukakan adanya ethnosciences dalam bentuk jamak yang mengarah pada sekumpulan disiplin ilmu yang berkorelasi dengan alam termasuk di dalamnya etnobotani sedangkan yang lain adalah etnozoologi, etnobiologi, etnoekologi, etnomineralogi, etnofarmakologi, etnomedisin dan sebagainya. Setelah pemahaman komprehensif tentang etnobotani, maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan pemahaman tentang apa itu perubahan iklim?

Perubahan iklim secara harfiah adalah iklim yang berubah akibat suhu global rata-rata meningkat. Peningkatan emisi gas rumah kaca, khususnya CO2, telah memerangkap suhu panas di atmosfer bumi. Hal tersebut berdampak pada sistem cuaca global yang menyebabkan segala sesuatu mulai dari curah hujan yang tak terduga hingga gelombang panas yang ekstrim. Bumi telah melalui periode pemanasan dan pendinginan yang terkait dengan perubahan iklim berkali-kali. Hal yang saat ini menjadi perhatian utama dan disetujui oleh para ilmuwan adalah bahwa proses pemanasan yang terjadi jauh lebih cepat daripada yang telah dilakukan sebelumnya, dan bahwa pemanasan yang cepat disebabkan oleh peningkatan tingkat emisi buatan manusia.

Kita membayangkan saat ini dunia sudah satu derajat Celsius lebih hangat daripada di masa pra-industri. Ini mungkin tidak terdengar terlalu signifikan tetapi dapat berpotensi menghancurkan planet ini dan juga mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia.

Perubahan iklim akan menyebabkan beberapa daerah menjadi basah, dan daerah lainnya menjadi lebih hangat. Permukaan air laut akan naik akibat dari gletser yang mencair, sementara beberapa daerah akan lebih berisiko terkena gelombang panas, kekeringan, banjir, dan bencana alam. Perubahan iklim bisa merusak rantai makanan dan ekosistem, menempatkan seluruh spesies pada terancam kepunahan.

Indonesia dengan potensi hutan yang ada ditetapkan sebagai paru-paru dunia, dengan demikian perlu ada tindakan nyata untuk melindungi satu juta pohon dengan berfokus untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan, mengembalikan kawasan hutan, mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan atau lestari, dan meningkatkan persediaan pohon di lahan pertanian.

METODE RISET ETNOBOTANI

            Pengembangan etnobotani sebagai suatu disiplin ilmu tidak dapat dipisahkan dari metodologi yang dikembangkan dengan memandang masyarakat dan ekosistemnya sebagai sesuatu keseluruhan atau totalitas, sebagaimana apa yang sering dikatakan oleh para pakar antropologi yaitu konsep holistik. Menurut Friedberg (2002) diperlukan sistem kerja dalam etnobotani seperti berikut ini:

  • Analisis Dalam yaitu pentingnya menganalisis sudut pandang masyarakat berdasarkan konsep asli seperti yang terungkap dalam bahasa mereka
  • Analisis Luar yaitu pentingnya pendekatan interdisipliner, yang memungkinkan peneliti memadukan berbagai faktor yang terlibat baik dari bidang biologi maupun dari bidang sosial budaya.

Waluyo, Wijaya dan Rifai (1991) serta Waluyo (1988, 2009), mengatakan bahwa etnobotani harus mampu mengungkapkan keterkaitan hubungan budaya masyarakat terutama tentang persepsi dan konsepsi masyarakat dalam memahami sumberdaya nabati di sekitar tempat mereka bermukim.

Data etnobotani adalah data tentang pengetahuan botani masyarakat dan organisasi sosialnya. Dengan kata lain data etnobotani bukan terdiri dari data botani, taksonomi, dan bukan pula data botani ekonomi atau cabang botani lainnya. Sasarannya adalah membuat pemaparan etnobotani menjadi lebih akurat dan lebih replikabel dalam kerangka memproduksi realitas budaya seturut pandangan, penataan, dan penghayatan masyarakat dalam mengenali, mamaknai, dan memanfaatkan sumberdaya nabati di lingkungan budayanya. Ini berarti bahwa pemaparan etnobotani harus diungkapkan sehubungan dengan kaidah konseptual, kategori, kode, dan aturan kognitif “tempat” (emik) untuk kemudian secara taat asas dibuktikan sehubungan dengan kategori konseptual yang diperoleh dari latar belakang ilmiah (etik).

Sekalipun emik dan etik itu dibedakan atas dasar epistemologi, keduanya tidak ada kaitan dengan metode penelitian, melainkan dengan struktur penelitian. Dengan demikian maka pengujian emik dan etik bukanlah bagaimana pengetahuan itu diperoleh, melainkan bagaimana pengetahuan itu divalidasi.

Penelitian etnobotani merupakan studi multidisiplin yang tidak hanya menyangkut disiplin botani murni, seperti taksonomi, ekologi, sitologi, biokimia, fisiologi, tetapi juga aspek lain dari pertanian, kehutanan maupun hortikultura, yang banyak memerhatikan persoalan perbanyakan, budidaya, pemanenan, pengolahan, ekonomi produksi, efek pasar dan agribisnis.

Dalam perkembangan terakhir ini etnobotani sudah berkembang lebih jauh lagi berkat metode penelitian dalam ilmu ini yang senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan penelitian di lapangan.

Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyajikan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam.

Metode riset etnobotani tidak terbatas pada metode yang klasik kualitatif berupa pengamatan yang mendalam tetapi sudah menggunakan metode kuantitatif. Metode ini banyak digunakan di bidang kehutanan untuk mengamati skala produksi dari hasil hutan non kayu.(Wong, Thornber dan Baker, 2001).

 

PENGAJARAN ETNOBOTANI

            Apa arti pengajaran dalam tulisan ini? Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Dalam mencari ilmu, seorang mahasiswa bisa belajar dari beberapa dosen karena hanya ilmu yang dipelajari. Ada dosen yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada mahasiswa yang belajar. Hasilnya mahasiswa tersebut menjadi pandai dan berilmu pengetahuan. Pengajaran khusus ditujukan pada akal. Oleh karena itu mudah (straight forward).

Penulis mencoba untuk memahami tema seminar nasional APIKI 2016 yang menggunakan terminologi “pengajaran”, mengingat pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara penting di dalam membina manusia, namun pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berbeda.

Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh akan dicoba untuk difahami dan dihayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak sedangkan pengajaran lebih menyentuh akal saja.

Dalam konsep masyarakat tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Pada saat belajar dengan masyarakat, maka dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman, kebun, hutan berburu atau meramu, hutan tanaman kayu dan non kayu dan tempat memancing. Kemudian kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun dan padang alang-alang. Akhirnya ada kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, seperti contoh gunung, sungai dan tempat keramat di hutan.

Dengan masyarakat pula kita belajar tentang pola pemukiman pada dusun atau kampung dan peranan dari setiap pemimpin adat yang ada dalam kawasan pemukiman dimaksud. Sebenarnya yang mau dipelajari adalah penguasaan teritorial dari suatu masyarakat yang diteliti.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memeroleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang Ijin Usaha Pengolahan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman masyarakat tradisional senantiasa disesuaikan menurut fenomena alam dari pohon tertentu seperti misalnya kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Pattinama 1998, 2005).

Konsep alam, lingkungan dan budaya masyarakat seperti yang dielaborasi di atas menunjukkan bahwa pengetahuan lokal itu memang menyatu dalam siklus kehidupan masyarakat baik tradisional maupun modern, dan pengetahuan dimaksud diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi dengan hanya mengandalkan konsep bertutur dan bukan pewarisan secara tertulis. Akibatnya banyak narasi cerita yang hilang. Bagi seorang peneliti etnobotani, maka untuk memahami konsep masyarakat ini secara utuh dibutuhkan waktu meneliti yang panjang di lapangan.

 

IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI MALUKU

            Kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia sungguh sangat unik dan memiliki tingkat keberagaman tinggi. Persoalan implementasi dan adaptasi konsep perubahan iklim adalah fase yang terakhir setelah adanya pemantapan yang baik terhadap struktur pengajaran dan penelitian.

Pengajaran dan penelitian seyogyanya berbanding lurus pula dengan tingkat pendidikan penduduk. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tentang thema pulau-pulau kecil, ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memerkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim, walaupun dalam studi etnobotani mencatat bahwa pengetahuan lokal masyarakat tradisional dimana mereka rata-rata berpendidikan rendah tercatat lebih memahami pelestarian lingkungan dan alam serta budaya dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendidikan tinggi.

Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah (Pattinama dan Irwanto, 2016). Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema pengajaran dan penelitian?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah sangat sulit membiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental (Pattinama dan Irwanto, 2016). Bagaimana program implementasi dan adaptasi perubahan iklim di Maluku?

Di Kepulauan Maluku dengan kekayaan biodiversitas tumbuhan yang tinggi dan unik pada pulau-pulau kecil serta tercatat ada sekitar 117 bahasa (90 bahasa di Maluku dan 27 bahasa di Maluku Utara). Data tentang bahasa juga bisa menggambarkan jumlah etnis di Kepulauan Maluku (Pattinama, 2005). Ini merupakan lapangan riset dengan tema menarik yang bisa dieksplorasi untuk melengkapi informasi ilmiah tentang Maluku secara komprehensif.

Cerita lama tentang kepulauan Maluku (Mollucas archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices), bunga cengkeh dan buah pala serta awal sejarah kolonisasi orang Eropa di Nusantara. Sedangkan cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia.

Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial (lihat Gambar 2 di bawah ini). Karakteristik iklim lokal sangat memengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku.

Keunikan ini bisa dilihat pula dari kondisi geografis Maluku yang terdiri dari pulau besar dan pulau-pulau kecil serta penduduk yang mendiami pulau tersebut bukan saja bermukim di pesisir pantai namun menempati pula wilayah pedalaman.

Secara umum di Maluku dijumpai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.  Curah hujan di selatan Kepulauan Maluku lebih tinggi dari daerah sebelah utara. Perbedaan iklim demikian dapat dilihat dari penyebaran formasi biodiversitas tanaman.

Vegetasi yang dijumpai pada daerah pesisir pantai adalah Barringtonia asiatica Kurz dan Terminalia catappa L, serta tanaman kelapa dan pisang yang diusahakan oleh penduduk. Selain itu beberapa tanaman yang umum dijumpai pada daerah pantai diantaranya Musa acuminata Colla, Ipomoea pescaprae, Sesuvium portulacastrum, Ischaemum muticum dan Fimbristylis. Jenis pohon yang tumbuh secara alami dan juga diusahakan oleh manusia adalah Canarium amboinense HOCHR, Anthocephalus macrophyllus Havil, Vitex cofassus Reinw,  dan Pandanus tectorius.  Vegetasi yang ada pada altitude lebih tinggi didominasi oleh Shorea, Agathis, Pometia, Celtis, Pterocarpus, Ficus, Dracontomelon, Vitex, Canarium, Paraserianthes, Alstonia dan Guioa. (Pattinama, 2005)

PETA-POLA-IKLIM-MALUKU

Sumber : Koesmaryono, 2007

             Gambar 2. Peta Iklim Maluku yang khas dalam Pola Iklim Indonesia

 

Keanekaragaman hayati lain yang cukup potensial adalah fauna yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari vegetasi tanaman yang tumbuh. Misalnya pembungaan dari pohon meranti (Shorea spp) akan menambah jumlah populasi dari babi hutan dan kusu (Phallanger dendrolagus) serta satwa lainnya.

Beberapa riset yang dilakukan terhadap kekayaan hayati satwa dan binatang hutan lainnya di Maluku oleh lembaga riset nasional dan internasional menunjukkan bahwa masih ada fauna endemik yang bisa dijumpai dan populasi hewan tersebut dari tahun ke tahun menunjukkan jumlah yang menurun akibat dari gangguan yang sifatnya sistemik seperti eksploitasi hutan dan pembakaran lahan yang tidak terkendali.

 

KESIMPULAN

            Orang Maluku sebagian besar hidup mendiami pulau-pulau kecil dan terisolir pada wilayah pedalaman dengan topografinya yang bergunung. Mereka adalah masyarakat peladang yang mempraktikkan sistem pertanian berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan dan hidup sepenuhnya tergantung dari kemurahan alam. Di sisi lain, alam adalah laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Maluku hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan deskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumberdaya serta interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut yang sulit dan bahkan tidak dapat dipisahkan. Konsep hidup ini yang bisa melestarikan lingkungan sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim.

Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang atau lahan yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa orang Maluku memiliki kearifan dalam mengelola sumberdaya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Maluku menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu, umbi-umbian dan singkong), protein (ayam kampung, kambing lakor, domba kisar, kerbau moa, babi hutan, kusu, rusa, udang, sidat dan ikan) serta tambahan vitamin lain (buah dan sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Maluku bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Maluku sebagai autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Maluku, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Maluku relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan mengingat orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan yang hakiki dengan alam semesta.

Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Maluku makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pelayan negara yang bernama pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Maluku sehingga akses mereka untuk memeroleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memeroleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

Pangajaran saja tidak cukup namun demikian masyarakat seyogyanya dibekali pula dengan pendidikan yang terstruktur sehingga akal dan akhlak juga akan dibentuk dan dibangun demi melestarikan lingkungan yang selalu mereka pandang sebagai ruang yang holistik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barrau, Jacques, 1985. Les savoirs naturalistes populaires, Actes du seminaire de sommieres, Editions de la Maison des sciences de l’homme.

Friedberg, Claudine, 2002. L’anthropologie face à la question de l’appropriation de la biodiversité : la biodiversité est-elle appropriable ?, in : Franck-Dominique Vivien (Ed.), Biodiversité et appropriation, les droits de propriété en question : 163-176

Jonge, Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Koesmaryono, Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama, Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama, Marcus J dan Irwanto, 2016, Api dalam Etnoekologi dan Praktek Sistem Pertanian Tradisional (Adakah Ancaman pada Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?), Artikel untuk Prosiding Seminar Nasional APIKI 3 Juni 2016 di Ambon, (dalam proses).

Walujo, Eko Baroto, 1988. Les écosystèmes domestiques par l’homme dans l’ancien royaume Insana-Timor (Indonésie). Thèse de Doctorat de l’Université Paris VI, Paris, 267 p.

Waluyo, E.B., E.A. Wijaya, M.A. Rifai, 1991, Penguasaan Etnoekologi Secuplikan Masyarakat Etnis di Indonesia, Makalah Utama pada KIPNAS V, LIPI 1991.

Waluyo, E.B., 2009, Etnobotani: Memfasilitasi Penghayatan, Pemutakhiran Pengetahuan, dan Kearifan Lokal dengan Menggunakan Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Pengetahuan, Makalah Utama dalam Seminar Nasional Etnobotani IV, Prosiding.

Wong, Jennifer L.G, Kristi Thomber, Nell Baker, 2001, Resource assesement of non-wood forest product (Ethnobotany), FAO, p 58-61.

 

Presentase Makalah pada Seminar Nasional APIKI 31 Agustus – 1 September 2016, Artikel ini sudah diterbitkan oleh Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia Pusat bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. ISBN: 978-602-73376-2-6. Tahun 2016.

8 comments on “PENELITIAN DAN PENGAJARAN ETNOBOTANI UNTUK IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KEPULAUAN MALUKU

  1. Jeniffer Hukom (2014-81-013) on said:

    Selamat malam prof. sy sangat setuju dengan tulisan yang prof buat semua itu sangatlah menarik. Hanya ada tambahan sedikit dari saya.
    Kini ilmu etnobotani mengarah kepada sasaran untuk mengembangkan sistem pengetahuan masyarakat lokal terhadap tanaman obat sehingga dapat menemukan senyawa kimia baru yang berguna dalam pembuatan obat-obatan modern untuk menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker, AIDS, dan jenis penyakit lainnya.
    Orang maluku sebagian besar hidup mendiami pulau-pulau kecil dan terisolir pada wilayah pedalaman dengan topografinya yang bergunung, kemungkinan elevansinya kurang lebih 200 sampai 600 meter diatas permukaan laut.
    Orang maluku hidup sangat menyatuh dengan alam entah di gunung, lereng pegunungan atau di pesisir pantai atau marine. Tekstur tanah pada daerah sangat bagus sehingga tanaman pada daerah tersebut sangat subur karena maluku merupakan daerah dengan pegunungan yang tua yang sudah terkena eksogen sehingga daerah tersebut sudah mengalami pengikisan. Contoh maluku merupakan daerah pegunungan dengan adanya hot spring atau air panas itu penciri dimana dulunya maluku merupakan adanya gungung merapi sehingga saat gunung itu tidak berfungsi lagi maka tanah tersebut mulai lapuk yang dulunya adalah batuan andesit yang kaya akan besi sehingga membuat tanaman subur, itulah mengapa maluku menjadi provinsi yang kaya akan tanaman-tanaman dan warga maluku sangat nyaman dengan hasil alam tersebut.
    Itu saja Prof. terima kasih
    Nama : jeniffer Hukom
    Nim : 2014-81-013

  2. NAMA : Saskia setiani wasahua NIM : 2014-81-002 on said:

    Terlihat dari blog tersebut yang menjelaskan tentang perubahan iklim di daerah maluku, menurut saya hal tersebut terjadi juga karena adanya kurang kepedulian masyarakat tersendiri terhadap lingkungan,dengan membuang sampah memakai ac dengan berlebihan hal tersebut dapat membuat pemanasan global dan membuat iklim menjadi tidak menentun, makan dari dengan panas terus menerus membuat orang kekeringan serta hujan yang terus menerus membuat banjir di berbagai tempat karena tidak selarasnya pergantian cuaca di maluku. Maka dari itu mungkin masyarakat harus lebih banyak memperhatikan lingkungam sekitar agar iklim di daerah setempat lebih baik dan tidak merusaki lingkungan. Terima kasih.

  3. Saskia wasahua on said:

    Selamat Malam Prof. Tulisan prof sudah sangat bagus. ada beberapa pertanyaan yang sy mau tambahkan disini.
    1. berkaitan dengan perubahan iklim di maluku, apakah hal tersebut bisa di cegah agar cuaca di daerah lokal bisa teratasi dengan baik? Karena bisa di lihat bahwa intuk sekarang ini pemanasan global sangat tidak teratasi lagi.
    2. Berdasarkan dari paparan di atas pada tulisan implementasi dan adaptasi iklim di maluku, apakah pendidikan yang di bilang rendah itu, apa setiap tahunnya tidak pernah ada peningkatan dan bagamaina campur tangan pemerintah untuk hal itu?

    Sekian dan terima kasih Prof
    Saskia Wasahua (2014-81-002)

  4. Saskia Wasahua on said:

    Selamat Malam Prof. Tulisan Prof sudah sangat bagus. karena itu ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan/tambahkan disini.
    1. Berkaiktan dengan perubahan iklim di Maluku, apakah hal tersebut bisa di cegah agar perubahan iklim lokal tidak separah sekarang dan dapat di atasi, karena bisa di lihat untuk sekarang sajah pemanasan global sangat heboh-hebohnya
    2. Berdasarkan dari paparan tulisan di atas ‘Implementasi dan adaptasi perubahan iklim di maluku. terdapat pernyataan bahwa tingkat pendidikan sangatlah rendah, apakah hal tersebut tidak ada peningkatan sama sekali. dan solusi apa yang di buat oleh pemerintah.

    Sekian dan Terima Kasih Prof
    Saskia Wasahua (2014-81-002)

  5. Eklesia Pattipeilohy 2014-81-036 on said:

    Selamat Pagi Pak
    Menurut saya artikel yang Bpk tulis sangat baik dan menginspirasi banyak orang. Dalam artikel Bpk dengan judul : Penelitian Etnobotani untuk implementasi dan adaptasi perubahan iklim di Kepulauan Maluku. Saya setuju dengan pernyataan Bpk bahwa Maluku terdiri dari pulau-pulau kecil dan Orang Maluku juga hidup menyatu dengan alam, oleh sebab itu untuk mengelolah SDA baik darat, udara dan laut diperoleh secara turun temurun secara deskripsi lisan. Namun, dari pengetahuan secara lisan tersebutlah mereka tidak kekurangan bahan pangan.
    Kemudian dari artikel Bpk saya ingin bertanya:
    1) Menurut Bpk, bagaimana cara mengurangi pemanasan global ? Sedangkan saat ini kebanyakan Orang Maluku menjual tanah mereka dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan dialihfungsikan sebagai bangunan mulai dari perkantoran, mall, perumahan dll
    2) Menurut Bpk, apakah metode riset etnobotani dapat dilakukan di daerah perkotaan ? Karena dalam tulisan Bpk mengatakan bahwa : Penelitian Etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungan. Studi etnobotani menyajikan kajian yang komperhensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek SDA
    3) Menurut Bpk, bagaimana untuk mempertahankan nilai keberadaan dari suatu kawasan yang sudah merupakan suatu identitas? Sedangkan Orang Maluku lebih tergiur untuk menjual lahan mereka dan dialihfungsikan.

    Demikian komentar saya, Terima Kasih…
    Maaf Pak, saya sudah kirim dari jam 8 malam tetapi jaringan kurang baik

  6. junus junior watttimena on said:

    Selamat sore bapak prof pattinama , saya telah membaca tulisan bapak dan saya setuju deng bapak. Orang Maluku sebagian besar hidup mendiami pulau-pulau kecil dan terisolir pada wilayah pedalaman dengan topografinya yang bergunung. Mereka adalah masyarakat peladang yang mempraktikkan sistem pertanian berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan dan hidup sepenuhnya tergantung dari kemurahan alam. Di sisi lain, alam adalah laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat memengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku, Jadi peran iklim sangat penting bagi petani di maluku . yang ingin saya tanyakan kepada bapak sebagi ahli etnobotani , bagaimana langkah untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi saat ini khusus di maluku yang di kenal deng provinsi seribu pulau dan bagemana petani mengantisipasi hal tersebut. Itu saya yang bisa saya commet bapak nama saya junus junior wattimena nim 2014-81-005.Maaf kalau ada salah kata yang kurang berkenan di hati bapak. Tuhan berkati

  7. Cinthya Batkormbawa on said:

    Selamat Siang Pak.
    Saya sangat setuju dengan tulisan bapak. Dengan Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumberdaya serta interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut yang sulit dan bahkan tidak dapat dipisahkan. Orang Maluku sebagian besar hidup mendiami pulau-pulau kecil dan terisolir pada wilayah pedalaman dengan topografinya yang bergunung. Mereka adalah masyarakat peladang yang mempraktikkan sistem pertanian berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan dan hidup sepenuhnya tergantung dari kemurahan alam. 

  8. Maggie Lekatompessy on said:

    Selamat Malam Pa
    Menurut saya artikel yang Bpk tulis sangat baik dan menginspirasi banyak orang. Dalam artikel Bpk dengan judul : Penelitian Etnobotani untuk implementasi dan adaptasi perubahan iklim di Kepulauan Maluku.
    yang menjadi persoalan sekarang apakah pemerintah mampu melihat kondisi Maluku sebagai provinsi kepulauan bukan saja Riau, sehingga kebijakan – kebijakan yang diambil pun benar benar tepat sasaran dan merata bagi masyarakat Maluku,sehingga konsep hidup masyarakat Maluku juga dapat berubah dan mampu melestarikan lingkungan mulai dari gunung, pantai sampai laut sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim.terima kasih pa mohon maaf kalau ada salah kata dalam komentar saya ini.

    Maggie Lekatompessy
    136 91617 014

Leave a Reply to Saskia Wasahua Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>