BERDIRI DI DARAT DAN MEMANDANG KE LAUT

MEMANDANG-KE-LAUT

oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[1]

I. Prolog

Memuliakan Laut. Tema ini kembali digaungkan melalui pemaparan diversifikasi ide pada penerbitan buku ketika merayakan Dies Natalis Universitas Pattimura Ambon yang kini telah berusia 54 tahun pada April 2017. Jika boleh dapat kami sampaikan bahwa tema ini tidak dapat dipisahkan dari Pola Ilmiah Pokok Unpatti, Bina Mulia ke Lautan. Dengan demikian landasan berpikir yang hendak dikembangkan dalam tulisan ini adalah bagaimana sumbangan yang dapat diberikan oleh ilmu-ilmu pertanian dalam memberikan penguatan terhadap tema Memuliakan Laut yang pada gilirannya memberikan ciri dan identitas yang makin lengkap terhadap arah pengembangan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon ke depan.

Memuliakan laut sebagai derivatif Bina Mulia ke Lautan adalah konsep yang mengandung makna filosofi paling tinggi karena senantiasa berkohesi dengan dunia nyata dan dunia kosmologis orang Maluku. Dalam hidup sehari-hari orang Maluku sulit dipisahkan dari laut karena dari sanalah ada ladang hidup berkelanjutan. Sedangkan pandangan kosmologis juga tidak dapat dipisahkan dari laut sebagai suatu entitas. Ada hubungan totalitas antara ruang langit dan ruang bumi, dimana ruang bumi tidak hanya dibatasi pada zona darat namun demikian mencakup zona laut. Kemudian dalam tatanan bernegara, tema kelautan pada saat ini menjadi « à la mode » atau « up to date » bahkan menjadi tema dalam hubungan dengan issue Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dalam kalkulasi ekonomi makro, laut Indonesia akan menjadi sumber devisa negara terbesar dan Maluku adalah poros maritim Indonesia.

Ide memuliakan laut mengandung dua tataran makna yakni makna harafiah adalah menyempurnakan laut dengan penuh keluhuran dan makna filosofi adalah suatu tatanan cintarasa terhadap lautan dengan kesadaran dan penghayatan untuk senantiasa menjunjung tinggi lautan dengan segala harta kekayaannya sebagai sumber kehidupan yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Manusia

Menurut hemat penulis bahwa memuliakan laut adalah suatu falsafah pendidikan dan bukan merupakan suatu ilmu atau disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan pula bahwa memuliakan laut adalah suatu konsep inovasi yang mengandung orientasi dasar ilmiah dengan tujuan pengembangan dan kerjasama pendidikan pada level paling bawah hingga level paling tinggi.

 

II. Makna Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut

Memuliakan laut seyogyanya mendapat sentuhan makna aplikasi sehingga ada wujud nyata yang bisa dipahami dari bebagai bidang ilmu. Dengan kata lain memuliakan laut akan menjadi lengkap apabila ditopang dalam perspektif multidisiplin dan interdisipliner. Untuk itu disiplin ilmu pertanian memaknainya dengan Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.    Disiplin ilmu pertanian mencoba untuk mengembangkan pemikiran yang sangat sederhana dari memuliakan laut yaitu berdasarkan hubungan sebab-akibat. Pernyataan Berdiri di Darat bermakna bahwa pemahaman konsep ruang dimana seluruh aktifitas pertanian pada ekologi daratan adalah suatu ruang entitas dimana manusia berpijak untuk hidup. Sedangkan pernyataan Memandang ke Laut artinya bukan sebatas memandang dengan alat indera mata saja tetapi menunjuk pada konsep pembagian waktu kerja penuh untuk meramu wilayah daratan dimana semua aktivitas bekerja di darat tersebut tidak dapat dipisahkan dari ruang laut dengan segala ekologinya. Disini hubungan darat dan laut menjadi suatu entitas yang utuh. Dengan kata lain bahwa memandang ke laut memiliki bobot yang sama dengan berdiri di darat. Pendefinisian memandang ke laut ini berangkat dari pemahaman nyata dari masyarakat pertanian yang ada di Maluku dimana mereka mendiami hanya satu pulau besar (Seram) dan sisanya bermukim pada pulau kecil (< 10.000 km²) dimana laut dan pulau adalah rumah mereka yang sulit dipisahkan.

Seorang petani di Maluku selalu memangku dua profesi pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani yang mengelola ekologi daratan dan sebagai nelayan yang juga mengelola ekologi laut. Dengan demikian seorang petugas penyuluhan pertanian di suatu desa akan berhadapan dengan seorang petani dan juga merangkap sebagai seorang nelayan. Dengan kata lain ini berdampak pada saat kegiatan penyuluhan pertanian atau kegiatan penyuluhan perikanan maka petugas akan berhadapan dengan orang yang sama. Profesi bivalen yang dimiliki oleh petani di Maluku yang memberikan inspirasi pada disiplin ilmu pertanian untuk merumuskan falsafah pembangunan pertanian di Maluku : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.

Kenyataan lainnya yang mendukung falsafah ini adalah dalam hal penguasaan tanah di Maluku. Studi yang mendalam tentang organisasi teritorial menunjukkan bahwa penguasaan tanah di Maluku mempunyai batas-batas yang hanya ditandai secara alami, misalnya gunung, air, tanitan, dan tanaman (pohon) tertentu, akibatnya luas daerah yang menjadi hak milik tidak bisa diukur secara akurat ditambah pula dengan hak petuanan yang bersifat komunal. Penguasaan tanah juga menjangkau dalam wilayah sungai yang mengalir dari sumbernya pada daerah pegunungan hingga bermuara pada wilayah lautan. Untuk wilayah ini pendefinisian pemilikan akan terukur pada batas akhir saat air laut surut (meti). Oleh karena itu pada surat resmi kepemilikan tanah yang diakui oleh Negara sebagai Surat Dati juga mencantumkan batas-batas kepemilikan wilayah yang dicatat berdasarkan terminologi vernakuler.

 

III. Konsep Pertanian di Maluku

Dalam berbagai pertemuan ilmiah baik yang diselenggarakan pada intern Fakultas Pertanian maupun pada ekstern di level regional dan nasional, Fakultas Pertanian telah menetapkan arah bahwa konsep pembangunan pertanian yang hendak dikembangkan di Provinsi Maluku adalah Konsep Pertanian Kepulauan.

Konsep pertanian kepulauan seyogyanya dipandang dari tiga konsep ruang dimana organisme hidup termasuk manusia memilihnya sebagai suatu habitat yaitu gunung, pantai dan laut. Ketiga ruang ini harus dilihat secara holistik. Jika kita mau membangun manusia, dalam hal ini memanusiakan manusia, maka harus dimulai dari habitat dimana manusia berada yaitu ruang yang memungkinkan manusia bisa berkarya sepanjang hidup dengan curahan waktu kerja penuh. Itu berarti manusia hanya bisa menggunakan ruang gunung dan pantai. Sedangkan ruang laut atau lautan adalah tempat hydroorganisma. Ruang laut tidak bisa menjadi pemukiman manusia dan lebih cenderung dijadikan sebagai ruang untuk menghidupi manusia, dimana kondisi laut tidak bisa ramah sepanjang waktu. Kondisi yang ramah itu hanya bisa diketahui oleh manusia yang mengelolanya. Contohnya : pergerakan arah angin di darat akan menjadi indikator bagi manusia untuk memprediksi situasi di laut.

Pertanian kepulauan tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah kepulauan itu sendiri dimana situasi dan kondisi akan sangat berbeda dengan wilayah kontinental, terutama bila dilihat dari sisi luasan ketersediaan lahan untuk mengembangkan suatu usaha pertanian yang intensif. Kemudian iklim yang beragam dan cuaca yang fluktuatif dari pulau ke pulau, serta jenis tanah dengan sifat erodible dan tingkat kesuburan tanah yang rendah, mudah tercuci pada bagian top-soil dengan ketebalan tanah yang rendah merupakan faktor-faktor pembatas pembangunan sistem pertanian kepulauan.

Dengan segala keterbatasan sumbaerdaya alam maka untuk menerapkan pola pertanian di wilayah kepulauan diharapkan mempertimbangkan faktor ekosistem wilayah tersebut sehingga dapat mengembangkan suatu model dengan pola yang sifatnya berkelanjutan. Ciri utama dari wilayah kepulauan adalah terbatasnya lahan datar dengan kondisi kepulauan yang terisolasi satu dengan yang lain memberi peluang untuk mengembangkan pola pertanian lahan kering dengan komoditi unggulan yang kompetitif seperti yang sudah dipraktekkan oleh petani Maluku yaitu mengembangkan sistem agroforestry tradisional. Berikut ini beberapa nama lokal dari sistem agroforestry tradisional adalah dusung (Pulau Ambon dan Lease), lusun (Pulau Seram), wasilalen (Pulau Buru) dan atuvun (Pulau Kei). Model ini merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika kita bayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani dari tanaman campuran antara tanaman hutan dan tanaman pertanian (agrisilvikultur) ke pola usahatani tanaman pangan dengan sistem monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai sehingga akibatnya terjadi pengrusakan vegetasi tanaman daerah pantai (=mangrove) dan yang tidak kalah penting adalah rusaknya daerah terumbu karang. Kerusakan ekosistem daerah pantai akan memberi dampak pada siklus hidup plankton dan jenis biota laut lainnya.

Jadi tindakan merubah ekologi daerah pegunungan akan memberikan indikasi bahwa nilai cinta-rasa memuliakan laut sudah pudar. Amati dan bandingkan dengan tindakan « illegal logging » yang pernah dipraktekkan oleh para pemegang konsesi hutan, akibatnya yang dirasakan saat ini adalah ekosistem daerah pegunungan sangat cepat berubah.

Selanjutnya, sistem pertanian di pulau-pulau kecil selayaknya mengadopsi konsep pertanian dengan input luar rendah dan agroekologi. Konsep LEISA (Low external input sustainable agriculture) merupakan suatu pilihan yang layak bagi petani dan bisa melengkapi bentuk-bentuk lain produksi pertanian. Konsep ini selanjutnya menekankan prinsip-prinsip ekologi dalam pertanian dengan menempatkan usahatani sebagai relung ekologi yang mirip dengan alam yang berupaya mencapai keanekaragaman fungsional dengan mengkombinasikan spesies tanaman dan hewan (agrosilvopastura) dimana hal ini sudah dipraktekkan oleh petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang disebut lutur. Konsep pertanian lutur adalah yang saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergetik dan positif, sehingga kestabilan bisa diperbaiki, dan produktifitas sistem pertanian dengan input rendah.

 

IV. Epilog

Pandangan yang diberikan ini adalah tidak lain bersumber dari pengalaman kami sebagai guru di kampus dan peneliti di lapangan serta laboratorium, dimana kesemuanya diperoleh dari interaksi yang dinamis dengan penuh kerendahan hati mau mendengar, mancatat dan mempelajari semua informasi dan pengetahuan lokal yang dipraktekkan oleh petani dalam mengelola alam serta interaksi harmonis antar manusia dengan alam yang harus mereka ciptakan untuk bisa bertahan hidup. Sistem pertanian yang dijalani adalah gambaran linier dari sistem peradaban manusia karena memang pertanian adalah peta peradaban manusia.

Konsep memuliakan laut yang dijabarkan dalam konsep berdiri di darat dan memandang ke laut adalah landasan sistem pertanian berkelanjutan yang memiliki lima dimensi pandang, yaitu dimensi nuansa ekologis, dimensi kelayakan ekonomis, dimensi kepantasan budaya, dimensi kesadaran sosial, dan dimensi pendekatan holistik. Penguatan kelima dimensi tersebut di atas adalah bertujuan untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan, meningkatkan mutu sumber daya manusia, meningkatkan kualitas hidup, serta menjaga kelestarian sumber daya melalui strategi kerja keras proaktif, pengalaman nyata, partisipatif, dan dinamis.

Artikel dalam Buku Pandangan Guru Besar tentang tema Memuliakan Laut untuk Dies Natalis UNPATTI Ambon ke-54, Tanggal 23 April 2017.

 



[1] Guru Besar Ethnoekologi dan Staf PengajarJurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti Ambon.

6 comments on “BERDIRI DI DARAT DAN MEMANDANG KE LAUT

  1. Yantiana kareth on said:

    Berdiri di Darat bermakna bahwa pemahaman konsep ruang dimana seluruh aktifitas pertanian pada ekologi daratan adalah suatu ruang entitas dimana manusia berpijak untuk hidup
    Memandang ke Laut artinya bukan sebatas memandang dengan alat indera mata saja tetapi menunjuk pada konsep pembagian waktu kerja penuh untuk meramu wilayah daratan dimana semua aktivitas bekerja di darat tersebut tidak dapat dipisahkan dari ruang laut dengan segala ekologinya
    Saya sangat sejutuju dengan apa yang di katakan di atas bahwa Berdiri di darat memandang kelaut artinya bahwa seorang yang berperang di laut dan darat ini dia bukan saja mencari nafkah di darat tetapi di lautpun dia mencari nafkah itu mungkin suda jadi kehidupan dia seperti contoh Seorang petani di Maluku selalu memangku dua profesi pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani yang mengelola ekologi daratan dan sebagai nelayan yang juga mengelola ekologi laut.
    Terima kasih

  2. Zanetha J Huwae on said:

    Dari tulisan BERDIRI DI DARAT DAN MEMANDANG KE LAUT,dapat dikatakan bahwa kehidupan didunia selalu memiliki hubungan interaksi dan saling membutuhkan baik kehidupan masyarakat maupun perspektif multidisiplin ilmu. Sehingga daripada itu dapat dikatakan bahwa sejauh mata memandang,seluas itu pula harapan terbentang untuk diraih.

  3. Elisabeth Tan on said:

    Di Provinsi Maluku terdapat 8(delapan) kabupaten yang masuk sebagai daerah tertinggal yakni Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Tengah, Buru, Kepulauan Aru, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Maluku Barat Daya dan Buru yang disebabkan oleh (a) perekonomian masyarakat; (b) . sumber daya manusia; (c) sarana dan prasarana; (d) kemampuan keuangan daerah; (e) aksesibilitas; dan (f) karakteristik daerah. Jika kita mengkaji secara mendalam tulisan Prof Max Pattinama maka kita akan menemukan banyak solusi terhadap berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi wilayah ini, Tulisan dengan judul berdiri didarat dan memandang ke laut akan melihat keutuhan atau entitas wilayah dari semua aspek tata ruang baik di darat maupun di daratan. Konsep berdiri di darat dan memandang ke laut menggambarkan landasan sistem pertanian berkelanjutan untuk membangun ketahanan pangan dan mewujudkan kedaulatan pangan melalui penguatan dimensi nuansa ekologis, dimensi kelayakan ekonomis, dimensi kepantasan budaya, dimensi kesadaran sosial, dan dimensi pendekatan holistik. Dengan demikian penyelesaian beberapa masalah baik kesenjangan dan kemiskinan mestinya dapat dilihat secara holistik dalam lima dimensi tersebut . Konsep berdiri didarat dan memandang dilaut perlu didorong melalui dukungan terhadap riset dan teknologi terhadap suatu kawasan yang memandang daratan dan lautan sebagai suatu potensi. Saya sungguh mengapresiasi tulisan Prof Max Pattinama. Sukses selalu Pak Prof Max.

  4. Elisabeth Tan on said:

    8(delapan) kabupaten yang masuk sebagai daerah tertinggal yakni Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Tengah, Buru, Kepulauan Aru, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Maluku Barat Daya dan Buru yang disebabkan oleh (a) perekonomian masyarakat; (b) . sumber daya manusia; (c) sarana dan prasarana; (d) kemampuan keuangan daerah; (e) aksesibilitas; dan (f) karakteristik daerah. Jika kita mengkaji secara mendalam < tulisan Prof Max Pattinama maka kita akan menemukan banyak solusi terhadap berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi wilayah ini, Tulisan dengan judul berdiri didarat dan memandang ke laut akan melihat keutuhan atau entitas wilayah dari semua aspek tata ruang baik di darat maupun di daratan. Konsep berdiri di darat dan memandang ke laut menggambarkan landasan sistem pertanian berkelanjutan untuk membangun ketahanan pangan dan mewujudkan kedaulatan pangan melalui penguatan dimensi nuansa ekologis, dimensi kelayakan ekonomis, dimensi kepantasan budaya, dimensi kesadaran sosial, dan dimensi pendekatan holistik. Dengan demikian penyelesaian beberapa masalah baik kesenjangan dan kemiskinan mestinya dapat dilihat secara holistik dalam lima dimensi tersebut. Konsep berdiri didarat dan memandang dilaut perlu didorong melalui dukungan terhadap riset dan teknologi terhadap suatu kawasan yang memandang daratan dan lautan sebagai suatu potensi. Saya sungguh mengapresiasi tulisan Prof Max Pattinama. Sukses selalu Pak Prof Max.

  5. Cinthya Batkormbawa on said:

    Dari tulisan Berdiri di darat dan memandang ke laut memiliki arti bahwa sebagai suatu habitat yaitu gunung pantai dan laut ketika ketiga konsep ini kemudian menyatu maka manusia mampu berkarya dengan memanfaatkan hasil-hasil dari alam. Memuliakan laut berarti kita sebagai manusia harus menjaga dan melestarikan alam kita.

  6. Henry Rutumalessy on said:

    Saya memohon maaf kepada bapak karena komentar ini baru bisa di post akibat kebndala teknis pada akun Email saya pa !

    Saya merasa bersyukur dan beruntung membaca tulisan/artikel bapak “Berdiri di Darat dan Memandang Ke Laut” sebab tulisan ini sarat filosofi hidup. Apa yang bapak utarakan mengenai makna “Berdiri di Darat dan Memandang Ke Laut” adalah kedalaman pencindraan tentang hakikat hidup orang maluku, dimana manusia Maluku tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan laut. Walau kesehariannya ia bekerja sebagai petani namun ia juga melakukan aktivitas sebagai nelayan. Jadi saya sepakat dengan kesimpulan bapak bahwa seorang manusia Maluku memandang Darat dan laut sebagai suatu entitas yang utuh, tak terpisahkan.

Leave a Reply to Elisabeth Tan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>