LIWIT LALEN, HAFAK LALEN, SNAFAT LAHIN BUTEMEN

pulau-buru

Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku

oleh

Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

I. PROLOG

Perkenankan saya pada kesempatan ini untuk menyampaikan sebuah pemikiran yang berangkat dari dasar konsep pikiran orang Bupolo dengan judul : Liwit Lalen, Hafak Lalen, Snafat Lahin Butemen : Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku. Judul ini saya pilih dengan alasan : (i) Mendukung tema besar dari Kongres Kebudayaan Maluku tahun 2016 di Pulau Buru ini yaitu Mengokohkan Identitas ke-Maluku-an dalam Perspektif Bupolo. Jadi kalimat di atas yang disajikan dalam Bahasa Buru dan sekaligus adalah judul dari artikel kami ini merupakan representasi pokok pikiran orang Bupolo yang sifatnya holistik, komprehensif dan sakral. Kalimat Liwit Lalen, Hafak Lalen. Snafat Lahin Butemen adalah juga pintu masuk untuk memahami manusia Buru yang menamakan dirinya Geba Bupolo secara totalitas dan coheren. (ii) Manusia tetap menjadi tema sentral dalam pembangunan, namun dibalik itu ada sosok manusia yang senantiasa dibungkus dengan “kepompong misterius” yang tidak mudah dipahami oleh manusia lain, artinya tema manusia merupakan masalah yang sangat sensitif, (iii) Diskusi tentang manusia dalam suatu pertemuan resmi ilmiah atau pertemuan informal seyogyanya dilakukan secara rutin seperti Kongres Kebudayaan Maluku 2016 dimana artikel ini ditulis pula untuk menjawab tujuan keempat yaitu identitas ke-Bupolo-an menjadi empowering dan pengokohan yang tidak terpisahkan dari identitas ke-Maluku-an.

 

II.   MAKNA FILSAFATI LIWIT LALEN HAFAK LALEN SNAFAT LAHIN BUTEMEN

Pernyataan liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen tidak dapat diterjemahkan utuh ke dalam Bahasa Indonesia karena akan memiliki ekspresi makna yang berbeda. Jadi terjemahan kata demi kata adalah : liwit lalen = keranjang tempat makanan yang terbuat dari kulit kayu meranti, Shorea sp, berbentuk silinder ukuran panjang satu meter dan diameter 50 cm. Hafak lalen= kain sarung yang dikenakan perempuan Buru. Snafat lahin = saringan air yang terbuat dari serat pelepah kelapa, istilah Melayu Ambon adalah runut kelapa. Sedangkan butemen = air pertama yang keluar. Dengan demikian secara harfiah artinya “keranjang laki-laki, sarung perempuan dan air pertama yang mengalir keluar”. Ini yang dimaksud dengan mengungkap konsep asli masyarakat berdasarkan bahasa mereka.

Pernyataan ini mengisahkan tentang kekeramatan yang ada di sentral Pulau Buru. Gunung Date disimbolkan dengan liwit lalen sekaligus representasi dari alat kelamin laki-laki (penis), Rana disimbolkan dengan sesuatu yang ada di dalam hafak lalen yaitu alat kelamin wanita (vagina). Pintu keluarnya air dari Rana (likusmolat) ke sungai Waenibe disimbolkan dengan snafat lahin sekaligus representasi dari selaput pada organ vagina. Air yang mengalir keluar dari danau menuju sungai Waenibe disebut butemen sekaligus representasi dari keluarnya cairan sexual ketika manusia bersetubuh untuk melanjutkan generasi. Secara totalitas pernyataan ini mengisahkan tentang penyatuan laki-laki dan perempuan yang sangat sacral yaitu kegiatan memproduksi/menghasilkan kehidupan. Terminologi butemen juga menunjuk pada pengambilan hasil pertama dari kegitan berkebun dan berburu.

Pernyataan itu tidak terbatas hanya mengisahkan kekeramatan di Rana lalen saja, namun pernyataan ini dapat menjelaskan bagaimana Orang Bupolo mengelola sumberdaya tanaman yang ada di sekitarnya seperti mengolah sagu, membuat kebun baru dan melakukan kegiatan berburu di hutan.

Kegiatan mengolah sagu, mulai dari menebang pohon, saat batang sagu rebah di atas tanah adalah eskohot mhana (laki-laki). Disini perempuan bisa berpartisipasi membersihkannya, namun ketika batang pohon sagu dibelah menjadi dua bagian disebut eskohot fina (perempuan), maka perempuan Bupolo dilarang (koin) mendekatinya. Dalam konsep pikir orang Bupolo saat laki-laki menokok empulur sagu disitu layaknya aktivitas persetubuhan hingga disaring dalam wadah yang diibaratkan seperti Rana. Pada waktu air bercampur pati sagu keluar melalui saringan itulah yang disebut butemen, seterusnya ditampung dalam goti yang diibaratkan seperti sungai Waenibe yang mengalirkan air dari Rana menuju laut.

Pohon sagu atau bialahin (Metroxylon sp) dalam pertumbuhan di alam juga merepresentasikan hubungan kekerabatan dalam noro yang disebut bialahin. Dalam satu bialahin biasanya mereka bermukim pada petuanannya dengan jumlah rumah hanya tiga sampai lima mengikuti rumpun sagu. (Perhatikan Gambar 1).

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan (pemimpin bialahin). Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung di antara mereka.

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah, penampilannya bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya,. dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa pati sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

rumpun-sagu

(Sumber : Louhenapessy 1992)

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu menurut kekerabatan bialahin. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

III.  LINGKUNGAN ALAM DI PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

 

PULAU-BURU-RANA-DATE

Sumber: Pattinama (2005)

Gambar 2. Pulau Buru dengan Rana dan Gunung Date

 

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

IV.    GEBA BUPOLO

Bupolo adalah nama awal (asli) pulau Buru, disebut pula Bupolo Waekolo. Waekolo adalah nama kelompok kekerabatan (noro atau soa) yang menyatakan diri sebagai penunggu atau Geba eptugu (geba=orang, eptugu=penunggu) di pusat pulau. Nama lain pusat pulau adalah Rana lalen, dimana dijumpai Rana dan Gunung Date. Kita mengenal Rana adalah nama Danau di Pulau Buru dan biasa ditulis Danau Rana, padahal dalam bahasa Buru kata rana artinya telaga atau danau. Oleh sebab itu Orang Bupolo hanya menyebut Rana saja atau Rana Waekollo. Rana lalen adalah milik seluruh orang Bupolo (Gambar 2). Luas Rana diperkirakan 75 Km² dan lebih besar dari Teluk Ambon serta terletak pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut.(Pattinama,2005).

Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Masing-masing soa/noro mempunyai dua sisi yaitu noro dan leit. Noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan leit dipakai dalam pergaulan ekternal. Contoh: noro Waekolo :: leit Waemese, noro Gebahain :: leit Seleki, noro Nalbesi :: leit Tomhisa, dan noro Mual :: leit Solisa. Di Rana lalen adalah pamali (koin) jika kita menyebut leit, karena itu identitas kepada orang di luar kelompok Bupolo.

Kesatuan hidup tingkat kedua di dalam noro adalah bialahin. Tercatat setiap noro/soa di Pulau Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu.

Data penduduk Pulau Buru menurut BPS Maluku tahun 2015 menunjukkan jumlah sebesar 187.199 jiwa dengan penyebaran di Kabupaten Buru 127.910 jiwa (68%) dan di Kabupaten Buru Selatan 59.289 jiwa (32%). Dari jumlah itu dijumpai hanya sekitar 15% adalah populasi masyarakat asli (autokton)

Penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang atau alokton (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 3).

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 3. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut pendapat Geba Bupolo

 

Gambar 3 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton.

V.  ETNOEKOLOGI BUPOLO DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN MALUKU

Mengungkapkan konsep berpikir Orang Bupolo tentang alam dan lingkungannya merupakan tugas saya selaku seorang peneliti Etnobotani  dengan memegang teguh prinsip dasar metodologi riset apalagi konsep tersebut diungkapkan secara lisan (konsep bertutur) dan ini merupakan pengalaman abadi yang tak ternilai. Tanpa disadari selama menjalani hidup sesehari di Rana lalen sebagaimana layaknya Orang Bupolo saya belajar banyak dari mereka. Untuk itu apa yang dipaparkan pada bagian ini adalah konsep murni yang bisa disumbangkan dalam pembangunan Maluku walaupun materinya hanya pada wilayah Pulau Buru.

 

V.1. Bupolo dalam Pengembangan Pendidikan

Bagaimana sumbangan yang bisa diberikan dari kekayaan konsep berpikir Orang Bupolo ini kepada sektor pendidikan ?

Menurut hemat kami bahwa akar permasalahan sistem pendidikan di negeri kita ini adalah karena sekolah dan universitas telah dipisahkan dari soal-soal kehidupan nyata sehari-hari yang sementara berkembang dalam masyarakat. Para murid dan mahasiswa kita telah kehilangan spirit kepekaan dan hal yang terjadi sebagai akibatnya, maka murid dan mahasiswa kita akan sangat sulit menangkap spirit keilmuan.

Pengalaman saya di Pulau Buru saat melakukan inventarisasi tanaman di hutan yang dimanfaatkan oleh Orang Bupolo dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak Bupolo baik yang belia maupun orang dewasa, dengan cekatan tahu nama-nama tumbuhan atau tanaman walaupun yang diungkapkan itu dalam bahasa lokal (vernaculaire). Mereka mendapat pengetahuan ini dari orangtua mereka saat kegiatan meramu hutan atau berburu. Ini harus diwariskan agar mereka tahu mana yang bisa dikonsumsi dan mana yang beracun. Inventarisasi tanaman selama riset di lapangan diperoleh bahwa orang Bupolo mengenal 94 jenis tanaman yang dibudidayakan dan 473 tanaman yang tumbuh secara liar namun bermanfaat dalam kehidupan mereka.

Jika ini saya bandingkan dengan mahasiswa yang setiap semester saya didik dan bina secara akademik pada jenjang pendidikan formal saat ini, mereka tidak peduli dengan tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Ini saya sebut sebagai buta literasi. Ada kecenderungan bahwa yang diajarkan ini nantinya tidak digunakan pada saat terjun ke masyarakat. Saya tidak dapat menyimpulkan itu karena belum ada penelitian yang dilakukan oleh saya untuk mendukung kesimpulan dimaksud.

Dalam hubungan dengan kemampuan literasi ini dapat saya kemukakan contoh seperti yang dialami oleh TNI (=ABRI) tahun 1973 saat mengejar 30 orang Tapol yang melarikan diri dari tahanan di Waeyapo dan mereka menghilang di hutan. Anggota TNI tidak mampu dan akhirnya operasi ini dibatalkan. Panglima Kodam XV Pattimura ketika itu Brigjend. Haroen Soewardi akhirnya datang menjumpai para kepala adat yang bermukim di pegunungan untuk meminta bantuan mencari mereka yang melarikan diri. Perintah yang diberikan saat itu tangkap hidup atau mati. Orang Bupolo dengan mudah bisa menemukan mereka hanya dengan mengandalkan pengetahuan lokal yaitu mereka menyusuri tapak jalan dan mengetahui jejak para pelarian dan dari melihat cara memotong pohon yang berbeda dengan cara orang Bupolo. Dengan bekal itu akhirnya Orang Bupolo sukses menemukan kembali para tapol yang masih hidup. Menurut cerita para Tapol banyak yang mati di hutan karena salah memakan tanaman yang ada, mereka mengkonsumsi tanaman yang beracun.

 

V.2. Bupolo dalam Pengembangan Ekonomi

Orang Bupolo akan mencapai siklus hidup yang sempurna apabila semua fase dalam kehidupan dikerjakan secara utuh. mulai dari kelahiran sampai kematian. Semua fase itu diikuti dengan upacara ritual dan untuk melaksanakannya dibutuhkan dukungan sumberdaya finansial. Dalam adat orang Bupolo jika itu dilakukan oleh suatu noro misalnya noro Gebahain, maka semua anggota noro yang hidup baik di Buru maupun Buru Selatan akan diberi tanggung jawab untuk menanggung apacara ritual tersebut secara bersama-sama. Menurut catatan kami bahwa keputusan itu sudah dirancangkan sejauh mungkin sehingga ada ruang untuk semua orang Bupolo bekerja. Ada yang bekerja meramu di hutan (rotan, uwa dan damar, kisi), menyuling minyak kayu putih (gelan), membuka kebun baru untuk menanam kacang tanah (warahe) dan pergi berburu di hutan (iko phaga).

Hasil dari aktivitas di atas ada yang disumbangkan secara natura dan ada pula yang diberikan dalam bentuk uang setelah hasilnya dijual di pasar. Jadi orang Bupolo mengerjakan sesuatu dalam perencanaan yang matang sehingga semua aktivitas dijalankan secara simultan.

Ilmu ekonomi dan pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini adalah tidak mampu menangkap sinyal bioregional dan biogeografi, karena hanya berada pada lingkaran jaring laba-laba antara demand dan supply dan pemikiran ekonomi tidak mampu keluar dari pemikiran abstraknya tentang pendapatan asli daerah, pendapatan nasional, dan laju pertumbuhan. Mungkin saja pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini oleh para pakarnya di negara-negara maju tidak cocok diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Namun demikian karakter ekonom yang ada saat ini seolah-olah negara ini sudah masuk dalam kategori negara maju dimana mobilisasi tenaga kerja diatur dalam rel ban berjalan. Bagaimana ilmu ekonomi bisa menangkap aktivitas ekonomi orang Bupolo yang nyata? Saya usulkan kepada para pakar ekonomi mencoba mengembangkan cabang ethnosciences untuk bidang ekonomi yaitu ethnoekonomi.

 

V.3. Bupolo dalam Pengembangan Pertanian

Dalam konsep masyarakat Buru tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Di Pulau Buru dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen) ; kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen) ; kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, meliputi Gunung Date (kaku Date), Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan (koin lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Pemimpin bialahin disebut Gebakuasan (atau juga disebut basafena) yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Orang Buru dalam menghadapi agresi pemegang HPH dalam ruang yang telah mereka atur dengan norma adat, hanya bisa membuat alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia. Alat ini disebut foron sbanat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Gambar 4). Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) masih tetap menandai musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara ritual dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, di sekeliling kebun ditebar tanaman hotong/feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Saat yang sama banyak tenaga kerja yang datang di suatu pemukiman dan mereka saling bantu membantu dalam kegiatan menanam. Efut ale (daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar) artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari : kegiatan menyiangi yang hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pada musim ini pula kaum laki-laki memulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Saat panen yaitu akhir dari efut ale dilaksanakan pula upacara kematian nitu wasin. Fase selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore hari hujan relatif besar : upacara meta di Rana dimana keluarnya morea (sidat) dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut Keith Philippe, cs (1999) bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Kepulauan Fiji di Pasifik Selatan. Setelah melakukan reproduksi maka induknya akan mati di Kepulauan Fiji dan larvanya akan menempuh perjalanan kembali ke Rana. Waktu yang dibutuhkan untuk kembali lagi ke Rana yaitu selama dua sampai tiga tahun. Menurut teori bahwa morea sebagaimana jenis ikan lainnya (= salmon) selalu menempuh perjalanan kembali ke habitat asalnya dengan cara melawan arus di laut dan di sungai. Jika morea tidak keluar dari Rana untuk pergi reproduksi dan tetap menetap di Rana maka usia hidupnya sampai 40 tahun setelah itu akan mati (Pattinama, 2005).

Kegiatan berikutnya orang Bupolo melakukan kegiatan berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat yang sama buah pohon meranti sangat banyak karena buah tersebut menjadi konsumsi bagi kedua hewan buruan di hutan yang letaknya relatif jauh yaitu di daerah gunung Kakupalatmada. Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan : kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang. Yang dimaksud dengan perang adalah melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

 

 ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 4. Organisasi waktu berkaitan dengan aktivitas Geba Bupolo

            Bagaimana semangat Orang Bupolo ini bisa memberi penguatan dalam pembangunan pertanian di Maluku? Pertanian yang dibangun pada aras regional di Indonesia pada umumnya tak bisa memisahkan diri dari politik pertanian nasional. Sepuluh tahun reformasi telah dilalui namun karakter kita masih belum berubah, karena reformasi tidak disertai dengan infrastruktur dan suprastruktur hukum yang kuat. Mau melakukan revitalisasi pertanian tapi fondasi tata birokrasi dan finansial tidak mengalami perubahan. Padahal awal reformasi berjalan kita cenderung menyalahkan rezim Orde Baru yang diduga melemahkan sistem keunikan bioregional. Pada waktu kini saat kita diberi otonomi mengatur diri kita dalam pembangunan pertanian nampaknya kita juga belum mendapat format yang sesuai. Kesibukan yang demikian ini tidak mempengaruhi Orang Bupolo untuk tetap menjalankan aktivitas produksi dengan jadwal yang sudah tersusun untuk satu tahun berjalan, karena apa yang dikerjakan ini adalah siklus ritual, sementara yang dikerjakan oleh aparat pemerintah adalah “siklus” proyek. Dengan demikian dalam pemahaman saya bahwa kedua kutub ini tidak akan pernah ketemu. Untuk menunjukkan rasa hormat kepada pemerintah maka Orang Bupolo seolah-olah patuh tetapi sebenarnya tidak mempraktekkan apa yang direkomendasikan dalam program “siklus” proyek.

 

VI.  EPILOG :

Ungkapan Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen yang dikemukakan dalam Kongres Kebudayaan Maluku 2016 di Bupolo pada kesempatan ini adalah suatu energi budaya dalam membangun dan memberdayakan masyarakat untuk bisa berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa di Maluku. Energi budaya Geba Bupolo ini pula akan memberdayakan masyarakat untuk membangun jati diri sebagai manusia yang utuh.

Orang Bupolo sebagai petani tradisional telah melakukan sendiri fungsi produksi (agronomi dan agroindustri) serta fungsi pemasaran (agroniaga). Mereka menguasai teknologi sederhana, salah satunya adalah teknologi menyuling daun kayu putih. Diharapkan semua ketrampilan yang dikuasai oleh Orang Bupolo seyogyanya dipahami pelaku ekonomi modern, dengan cara memberikan sedikit sentuhan inovasi teknologi baru tanpa mempengaruhi pengetahuan lokal yang sebelumnya telah mereka kuasai. Komponen agronomi, agroindustri dan agroniaga adalah komponen bebas, namun di dalam pertanian modern sudah dilakukan institusi khusus, seperti Perkenunan Negara, Industri BUMN dan Pasar Modal, yang keseluruhan dikendalikan oleh negara, sehingga pengelolaan telah ditata secara rapi. Dalam proses yang modern ini, maka perubahan di salah satu komponen akan memberi dampak kepada komponen yang lain. Demikianlah secara teoritis bahwa seluruh mata rantai itu disebut agribisnis. Disisi yang lain dan semestinya diakui bahwa pengetahuan lokal menguasai lingkungan alam yang dipraktekkan oleh Orang Bupolo dimana mereka telah berpartisipasi membangun dengan kokoh pilar pembangunan pertanian yang juga berwawasan agribisnis walaupun dalam skala yang sederhana.

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160 p/.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

 

Presentase Makalah pada Kongres Kebudayaan Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Buru. Namlea Tanggal 5-7 November 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>