Archive for October 2, 2019

VIVERE PERICOLOSO : Membedah Buku “Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan”

COVER LAGU KEBANGSAAN

Bedah Buku, Tanggal 17 September 2019

          Judul bedah buku ini kami sebut Vivere Pericoloso, karena sesuai dengan contenu dari 73 essai yang termuat dalam buku berjudul Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan, karya Prof. HAKA (Hariadi Kartodihardjo).

Buku setebal 375 halaman ini memiliki nuansa kebebasan berpikir dan kebebasan menuangkan ide, yang dirangkum secara lengkap oleh tim editor
(3 0rang : Eko, Soelthon dan Amalya), dengan seorang penyelaras bahasa sdri Brigitta, serta penerbit Forest Watch Indonesia.

Saya mencoba untuk membedah pikiran penulis dalam buku ini, sekaligus mengingatkan saya pada Pidato Bung Karno pada HUT RI ke-19, 17 Agustus 1964 dengan judul Vivere pericoloso (Hidup dalam bahaya atau menyerempet-nyerempet bahaya). Kita seyogyanya telah selesai dengan masalah kebangsaan kita, namun diusia 74 tahun ini ada saja goncangan-goncangan yang ingin menghancurkan kohesi kebangsaan ini, sehingga rimbawan harus terpukul mundur mengenang lagi sejarah kebangsaan yang tertuang dalam 3 stanza lagu Indonesia Raya.

Penulis punya pengalaman yang panjang tentang hakekat manusia dengan alam semestanya. Hidup selaras alam adalah sesuatu yang sangat simple dibandingkan dengan hidup selaras manusia yang mengandung banyak friksi dan misterius. Itu artinya relasi di alam semesta begitu sederhana dan mudah dipahami, sedangkan relasi antar manusia selalu dibungkus dengan kepompong misterius. Olehnya itu Bung Karno telah memberi isyarat hati-hati terhadap dua relasi manusia yang berujung eksploitasi yaitu : Exploitation l’homme par l’hommme dan Exploitation de la nation par la nation. Hal ini bukan saja suara sakti Bung Karno pada masyarakat di era itu tapi ditujukan pada masyaralat kekinian.

Saya selalu katakan kepada Prof. Agus Kastanya bahwa Engkaulah yang mengakhiri dan Engkaulah yang memulai. Catatan kami ketika akan dididik sebagai seorang Ethnobotanist dengan lapangan riset di Pulau Buru, pulau yang angker pada zaman selesai ORLA dan awal mula sejarah rezim ORBA. Pulau Buru menyimpan banyak duka, derita dan nestapa anak manusia. Ide eksploitasi hutan ditangkap saat para tentara dengan paksa menyuruh para tapol menebang kayu dan dijual kepada para pedagang antar pulau yang datang dari Sulawesi. Ternyata membawa keuntungan besar yang dirasakan oleh para tentara, sehingga PT. Gema Sanubari yang tidak lain milik para soldadu berbintang mulai berbisnis kayu dan akhirnya mendirikan pabrik plywood di desa Waenibe Pulau Buru. Kita harus mencatat bahwa kayu log dari Buru bukan untuk bahan baku di Buru namun dibawa keluar Indonesia sedangkan kayu log dari Afrika dan negara2 ASEAN akan masuk ke Waenibe sebagai bahan baku. Mengapa demikian ??? tanyakanlah kepada rumput yang bergoyang. Ketika para rimbawan menari-nari, sebenarnya kita jugalah yang bersalah tidak mau memberi peringatan keras kepada mereka dan atau mungkin juga kita ikut menari-nari bersama rimbawan.

Kini pada hari ini para rimbawan kembali datang membawa kibaran bendera merah putih dengan 3 stanza lagu Indonesia Raya dengan 73 essai yang disajikan dalam lima lantai (penulis Prof HAKA menyebutnya selasar refleksi). Padahal pukulan demi pukulan telah saya alamatkan kepada Prof. Agus Kastanya setiap kali mengundang saya berdiskusi tentang emisi Karbon hingga pada tema diskusi tentang Climate Change dengan memakai sinisme Engkaulah yang mengakhiri dan Engkaulah yang memulai.

Disisi lain sebagai Ethnobotanist, saya selalu katakan bahwa alam dengan mudah akan merenovasi dirinya dan manusia paling sulit merenovasi diri manusia karena kalau manusia sudah Vivere pericoloso pada Tuhan, maka manusia lebih cenderung menciptakan Tuhan (l’Homme crea le Dieu). Pernyataan saya ini selalu dibantah oleh Prof Agus Kastanya tanpa memberikan bukti akademis yang memuaskan kami hingga detik ini.

Buku karangan Prof. HAKA hari ini sedikit memberi jawaban kepada saya bahwa memang segala sesuatu harus dimulai dari pikiran manusia. Penguasaan SDA yang mengarah pada eksploitasi dua arah ala BungKarno menurut hemat kami sementara dipraktekkan oleh Bangsa ini. Dan jika upacara bendera dinyanyikan sampai Stanza ketiga maka saya yakin sungguh banyak peserta upacara yang pingsan dan atau “smaput”. Padahal gelora pikiran yang murni akan tercermin dari kata2 yang tulus keluar dari mulut yang berbau harum semerbak bau Cengkeh dan Pala. Itu dikisahkan dengan gamblang oleh Penulis pada Prolog. Dan seterusnya kami temui pula suatu essai berjudul Koruptor Rasional dan “Jujur”. Ini sama saja dengan orang Ambon bilang “dia Jahat tetapi baik”. Pertanyaan kami adakah seorang koruptor itu jujur ? dan adakah seorang yang jahat itu baik adanya ?. Ini hanyalah sifat inferior bangsa ini kalau boleh saya sebut dan mungkin saja tidak klop dengan pemikiran Prof. HAKA. Seharusnya kita merasa malu jika melakukan eksploitasi, tetapi kadangkala kita juga bangga karena kita bisa lakukan eksploitasi. Selanjutnya saya boleh sebut judul essei yang menarik untuk disimak oleh pembaca adalah :

-      Soal Stigma Bisnis Hutan: Mengkritisi Dalil tanpa Fakta,

-      Politik Pangan untuk Siapa ?,

-      Tirani para Ahli,

-      Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan.

 

Untuk mengakhiri bedah buku ini kami berpesan kepada para mahasiswa S1, S2 dn S3 serta para dosen di Univeristas Pattimura ini bahwa seyogyanya 73 Essei ini bisa menjadi tema riset atau kajian bidang SDA dan politik kebijakan Pertanian dalam arti yang luas. Dengan kejadian KARHUTLA (kebakaran hutan dan lahan) dan fitnah nestapa kepada pemerintah yang sah saat ini adalah kejadian yang bukan disebabkan saja oleh alam tetapi manusia turut menjamah sebagai aktor utama, sehingga belajar dari pengalaman Mexico yang telah merdeka sejak abad ke-17, namun demikian baru melaksanakan pembangunan pada abad ke-20, hal ini akibat dari energi negative yang dipakai selama 3 abad perjalanan bangsa Mexico. Semoga Indonesia vivere pericoloso seiring dengan jalan yang dikehendaki KHALIK Pencipta Alam Semesta.

 

Terima kasih.

Pembedah : Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan,

Prof. Max Marcus J. Pattinama, DEA, Etnobotanist

COVER LAGU KEBANGSAAN

DOWNLOAD BUKU : MERANGKAI STANZA LAGU KEBANGSAAN