Archive for ETHNOBOTANY

MUA LALEN DAN ORGANISASI TERITORIAL MENURUT KONSEP GEBA BUPOLO

Orang Buru

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA

Profesor Etnoekologi

ABSTRACT

Geba Bupolo are autochtone of the Buru island. The forest area is a great house for Geba Bupolo (Bupolo people). This view gives meaning also that the forest is an area that has an owner. Hunting activities are taking forest products and also fought against evil spirits which dwell in the forest. So the forest is a sacred area and the full value of sanctity. To understand the Bupolo people, I should start from how we understand the way they divide their life space in association with the environment, namely by understanding the territorial organization of the Bupolo. This understanding will then give a good direction to the understanding of their social organization. Complex division of space in Bupolo people’s lives is something interesting to study.  Ethnobotany approach is one of the most suitable methods to be used to describe to complexity. This paper attempts to describe how the Bupolo people in Buru Island, Maluku Province, organize their territory and life spaces.

Key words : Bupolo, Buru Island, Forest, Territorial organization, Ethnobotany

 

1.Prolog

Perkenankan saya untuk mempresentasekan makalah saya dengan judul : Mua Lalen dan Organisasi Teritorial menurut Konsep Geba Bupolo dalam forum lokakarya yang dilaksanakan oleh CIFOR dan UNPATTI di Kota Namlea pada tanggal 21 November 2016. Sering terjadi ketidakcocokan antara Geba Bupolo yang menyatakan diri sebagai penduduk asli (autokton) Pulau Buru dengan para pendatang (alokton) dimana alokton belum paham atau mungkin secara sengaja tidak mau memahami adat dan budaya Geba Bupolo. Ada juga yang mengatakan bahwa para peneliti dan ilmuwan juga turut memberikan andil dalam memelihara ketidakcocokan ini, akibat dari hasil riset atau sintesis pengamatan tidak diinformasikan secara meluas di kalangan masyarakat umum. Saya yakin sungguh bahwa tidak ada kata terlambat untuk mau memahami adat dan budaya manusia, karena tema ini memang sangat menarik untuk didiskusikan.

Wilayah hutan (mua lalen) yang berada disekitar kehidupan Geba Bupolo adalah rumah besar dimana wilayah dimaksud adalah tempat mereka berteduh dan mengelola kehidupan di masa lalu dan masa depan. Kemudian untuk memasuki rumah besar tersebut telah ada siklus waktu yang sudah ditetapkan dan harus mendapat izin dari pemangku adat.

Lokakarya ini akan berujung untuk menghasilkan suatu konsep pemahaman Geba Bupolo, sehingga diharapkan program Pemerintah Kabupaten Buru akan bersinergi dengan kajian yang dibuat oleh CIFOR dan UNPATTI atau sebaliknya dimana manfaat positif dan dampak langsung akan diperoleh masyarakat Pulau Buru pada umumnya. Masalah lahan atau tanah adalah masalah semua manusia sehingga penyelesaian hak atas lahan atau tanah harus diselesaikan secara kemanusiaan menurut tatanan adat dan budaya Pulau Buru.

Pulau Buru sejak dahulu hanya dikenal sebagai tempat penampungan tahanan politik dimana ketika itu ditetapkan oleh rezim Presiden Suharto, “Orde Baru”. Selain itu Pulau Buru adalah pulau yang memproduksikan minyak kayu putih, yaitu suatu minyak yang diekstraksi dari daun pohon yang bernama kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies dari famili Myrtaceae. Selain hamparan tanaman kayu putih, maka saat ini Pulau Buru juga menjadi daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai lumbung pangan nasional mengingat sebagian besar wilayah Kayeli ditemui hamparan sawah yang dibangun selama periode tahun 1969-1979 oleh para tahanan politik dengan sistem kerja paksa. Kegiatan yang berikutnya adalah ternyata areal hutan Pulau Buru ditetapkan sebagai wilayah konsesi pertama untuk eksploitasi hutan secara besar-besaran melalui sistem HPH.

 

2. INFORMASI SINGKAT PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

3. DISKRIPSI PENDUDUK OLEH GEBA BUPOLO

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Buru.

Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu, noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain, adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam atau marga. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin berarti pohon sagu.

Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

 

4. DUNIA KOSMOLOGI GEBA BUPOLO

Tempat pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo. Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 1 berikut ini.

 

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 1. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan seorang Laki-laki (Pattinama,2005).

 

Jika diperhatikan Gambar 1 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

5. DUNIA NYATA GEBA BUPOLO

 

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yaitu penduduk autokton, relasi dagang dilakukan dengan pedagang yang menetap di daerah pantai yakni keturunan Cina dan Arab. Penduduk autokton berada pada posisi lemah karena hubungan dengan pedagang terjadi satu arah.  Artinya posisi pedagang sangat kuat. Hal ini sangat berbeda dengan pedagang antar pulau dengan penduduk yang mendiami daerah pesisir pantai. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate.

Geba Bupolo mengusahakan tanaman sagu (=bialahin, Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsinya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, Geba Bupolo secara rasional memilih singkong (=kasbit, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan tepung. Mereka juga mengkonsumsi protein hewani bersumber dari daging babi (fafu), rusa (mjangan) dan kusu (=blafen, Phalanger dendrolagus) dan ikan air tawar (mujair) dan morea (=mloko, Anguilla marmorata). Orang pendatang (Geba Misnit) yang tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan singkong. Di samping itu, mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

Mengenai eksploitasi hutan di Pulau Buru, maka pemerintah Orde Baru untuk pertama kali memberikan izin eksploitasi hutan secara besar-besaran dengan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada PT. Gema Sanubari, suatu perusahaan swasta berafiliasi dengan BAKIN (sekarang BIN). Perusahaan ini memiliki luas HPH terbesar di Pulau Buru (305.000 Ha).

Perkembangan selanjutnya dari kegiatan eksploitasi hutan, maka sekitar tahun 1980 PT. Gema Sanubari mendirikan industri kayu lapis di Buru Utara Barat. Penyerapan tenaga kerja lebih banyak didominasi oleh penduduk alokton sedangkan penduduk autoton mendapat porsi yang sangat sedikit. Mereka tidak diberi kesempatan karena tidak memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang diperlukan perusahaan.

 

6. DUNIA KEARIFAN GEBA BUPOLO

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

 

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana.

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 2. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

d. Organisasi Ruang

Masyarakat Buru mempunyai konsep pembagian batas-batas lingkungan alam yang tegas. Mereka memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri.  Pendatang memerlukan waktu lama untuk memahaminya.

Masyarakat Buru membagi ruang pulau Buru atas tiga bagian :

Pertama, mua lalen yang dilindungi karena nilai kekeramatannya. Wilayah ini termasuk Gunung Date (kaku Date), Danau Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan primer (koin lalen).

Kedua, mua lalen yang dikelola, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen).

Ketiga, mua lalen yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu.

Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsepsi dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas yang harus dipertahankan. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara (HPH), telah terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam hubungan dengan pemanfaatan ruang untuk aktivitas pertanian, maka ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh orang Bupolo yaitu dimulai dengan membuat:

-Hawa fehut atau fehur (kebun baru) yang terdiri dari tanaman: warahe (Arachis hypogaea), feten (Setaria itallica), dan hala (Oryza sativa).

-Hawa (kebun yang akan dipanen) : hawa hala, hawa magat, dan hawa kasbit.

-Hawa wasi (kebun yang belum selesai dipanen dan masih ada tanaman seperti pisang, nenas, dan ketela pohon).

-Wasi (kebun yang mau ditinggalkan), mereka menyebutnya pula wasa-wasi, ada tanaman seperti nakan (Arthocarpus integraifolia), nakan dengen (Arthocarpus champeden), waplane (Mangifera indica), hosi roit (Citrus nobilis), hosi hat (Citrus grandis), kopi (Coffea spp), warian (Durio zybethinus), biafolo (Arenga pinnata), pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Eugenia aromatica).

-Wasilalen (kebun yang ditinggalkan selama 8-9 tahun)

Orang Buru memiliki norma-norma adat untuk melindungi hutan primer yang mereka anggap sakral. Mereka melarang agresi pemegang HPH masuk ke hutan primer dengan cara membuat foron sbanat, yakni alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia.

 

e. Organisasi Waktu

Organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo disesuaikan menurut phenomena alam dari dua jenis pohon: Kautefu (Pisonia umbellifera) dan Emteda (Terminalia sp.) (Pattinama 2005). Untuk pohon yang pertama (kautefu), jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Pohon yang kedua (emteda) lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun.

Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) artinya tetap musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, disekeliling kebun ditebar tanaman hotong atau feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Mereka selalu saling bekerjasama dalam kegiatan menanam.

Efut ale adalah masa ketika daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar.  Artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari. Pada musim ini kegiatan menyiang hanya dilakukan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum lelaki mulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini hanya dilaksanakan pada masa Efut ale yang dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Akhir dari efut ale adalah masa panen yang dilaksanakan pula dengan upacara kematian nitu wasin. Selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore dimana hari hujan relatif besar. Pada masa ini diadakan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga morea itu seolah mabuk. Dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Menurut Keith Philippe (1999), sebenarnya morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi. Umumnya morea di Indonesia melakukan kegiatan reproduksi menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Kegiatan berikutnya orang Bupolo adalah berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat ini buah pohon meranti sangat banyak.  Buah ini merupakan sumber makanan bagi kedua hewan buruan tersebut. Lokasi berburu di hutan relatif jauh, yaitu di daerah gunung Kakupalatmada.

Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan.  Pada masa ini kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 3. Organisasi waktu menurut Geba Bupolo (Pattinama, 2005).

 

f. Berburu

Aktivitas ini dilakukan secara rutin dan merupakan pekerjaan yang hanya digeluti oleh kaum laki-laki. Orang Bupolo menggunakan istilah berburu adalah iko ephaga atau iko lodi. Berburu bagi orang Bupolo bukan sekedar hanya masuk areal hutan untuk menangkap atau membunuh binatang buruan. Tetapi bisa diintepretasikan sebagai kegiatan berperang melawan roh-roh jahat dalam hutan rimba yang lebat (hutan primer). Oleh sebab itu persiapan untuk kegiatan ini penuh dengan ritual yang sangat sakral (koin). Jadi ada upacara adat yang mendahului kegiatan berburu.

Saat pelaksanaan kegiatan berburu di hutan maka seorang pemburu tidak boleh semena-mena melakukan eksploitasi terhadap areal hutan yang dijadikan medan perburuan, misalnya menebang pohon dengan sembarangan atau merusak areal yang sudah ditetapkan secara adat sebagai wilayah yang terlarang untuk masuk dan melakukan aktivitas lain. Semua larangan itu diberi tanda atau dalam bahasa Bupolo mengatakan sebagai sihit.

Binatang yang dijadikan sasaran dalam kegiatan ini adalah babi, rusa dan kusu. Ketiga binatang buruan ini hanya bisa diperoleh pada saat meranti (Shorea spp) berbuah, karena buah dari pohon tersebut adalah makanan utama dari kettiga binatang tersebut. Buah meranti dalam bahasa Buru adalah kalodi.

 

g. Meramu Hutan

Kegiatan meramu hutan adalah kegiatan yang dilakukan secara bersamaan pada saat aktivitas berburu dilaksanakan. Meramu hutan dalam bahasa Buru adalah iko mualalen. Saat Orang Bupolo melakukan perburuan binatang di hutan primer maka kegiatan meramu damar (kisi) dan rotan (uwa) dilaksanakan secara bersamaan.

 

7. EPILOG

Orang Bupolo di pedalaman Pulau Buru merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Bupolo hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Barraud, Cécile and Friedberg, Claudine, 1996. Life-Giving Relationships in Bunaq and Kei Societies, in : Signe Howell (Ed.), For the Sake of Our Future (Sacrificing in Eastern Indonesia), Research School CNWS, Leiden, The Netherlands : 374-383.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.

Pattinama Marcus Jozef, 2014. Territorial Organization by Bupolo People in Buru Island. A New Horizon of Island Studies in the Asia Pacific Region, Kagoshima University Research Center. P.79-87.

 


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi Hasil Penelitian di Pulau Buru Kerjasama antara CIFOR Bogor dengan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, UNPATTI Ambon, Tanggal 21 November 2016 di Kota Namlea, Kabupaten Buru.

LIWIT LALEN, HAFAK LALEN, SNAFAT LAHIN BUTEMEN

pulau-buru

Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku

oleh

Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

I. PROLOG

Perkenankan saya pada kesempatan ini untuk menyampaikan sebuah pemikiran yang berangkat dari dasar konsep pikiran orang Bupolo dengan judul : Liwit Lalen, Hafak Lalen, Snafat Lahin Butemen : Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku. Judul ini saya pilih dengan alasan : (i) Mendukung tema besar dari Kongres Kebudayaan Maluku tahun 2016 di Pulau Buru ini yaitu Mengokohkan Identitas ke-Maluku-an dalam Perspektif Bupolo. Jadi kalimat di atas yang disajikan dalam Bahasa Buru dan sekaligus adalah judul dari artikel kami ini merupakan representasi pokok pikiran orang Bupolo yang sifatnya holistik, komprehensif dan sakral. Kalimat Liwit Lalen, Hafak Lalen. Snafat Lahin Butemen adalah juga pintu masuk untuk memahami manusia Buru yang menamakan dirinya Geba Bupolo secara totalitas dan coheren. (ii) Manusia tetap menjadi tema sentral dalam pembangunan, namun dibalik itu ada sosok manusia yang senantiasa dibungkus dengan “kepompong misterius” yang tidak mudah dipahami oleh manusia lain, artinya tema manusia merupakan masalah yang sangat sensitif, (iii) Diskusi tentang manusia dalam suatu pertemuan resmi ilmiah atau pertemuan informal seyogyanya dilakukan secara rutin seperti Kongres Kebudayaan Maluku 2016 dimana artikel ini ditulis pula untuk menjawab tujuan keempat yaitu identitas ke-Bupolo-an menjadi empowering dan pengokohan yang tidak terpisahkan dari identitas ke-Maluku-an.

 

II.   MAKNA FILSAFATI LIWIT LALEN HAFAK LALEN SNAFAT LAHIN BUTEMEN

Pernyataan liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen tidak dapat diterjemahkan utuh ke dalam Bahasa Indonesia karena akan memiliki ekspresi makna yang berbeda. Jadi terjemahan kata demi kata adalah : liwit lalen = keranjang tempat makanan yang terbuat dari kulit kayu meranti, Shorea sp, berbentuk silinder ukuran panjang satu meter dan diameter 50 cm. Hafak lalen= kain sarung yang dikenakan perempuan Buru. Snafat lahin = saringan air yang terbuat dari serat pelepah kelapa, istilah Melayu Ambon adalah runut kelapa. Sedangkan butemen = air pertama yang keluar. Dengan demikian secara harfiah artinya “keranjang laki-laki, sarung perempuan dan air pertama yang mengalir keluar”. Ini yang dimaksud dengan mengungkap konsep asli masyarakat berdasarkan bahasa mereka.

Pernyataan ini mengisahkan tentang kekeramatan yang ada di sentral Pulau Buru. Gunung Date disimbolkan dengan liwit lalen sekaligus representasi dari alat kelamin laki-laki (penis), Rana disimbolkan dengan sesuatu yang ada di dalam hafak lalen yaitu alat kelamin wanita (vagina). Pintu keluarnya air dari Rana (likusmolat) ke sungai Waenibe disimbolkan dengan snafat lahin sekaligus representasi dari selaput pada organ vagina. Air yang mengalir keluar dari danau menuju sungai Waenibe disebut butemen sekaligus representasi dari keluarnya cairan sexual ketika manusia bersetubuh untuk melanjutkan generasi. Secara totalitas pernyataan ini mengisahkan tentang penyatuan laki-laki dan perempuan yang sangat sacral yaitu kegiatan memproduksi/menghasilkan kehidupan. Terminologi butemen juga menunjuk pada pengambilan hasil pertama dari kegitan berkebun dan berburu.

Pernyataan itu tidak terbatas hanya mengisahkan kekeramatan di Rana lalen saja, namun pernyataan ini dapat menjelaskan bagaimana Orang Bupolo mengelola sumberdaya tanaman yang ada di sekitarnya seperti mengolah sagu, membuat kebun baru dan melakukan kegiatan berburu di hutan.

Kegiatan mengolah sagu, mulai dari menebang pohon, saat batang sagu rebah di atas tanah adalah eskohot mhana (laki-laki). Disini perempuan bisa berpartisipasi membersihkannya, namun ketika batang pohon sagu dibelah menjadi dua bagian disebut eskohot fina (perempuan), maka perempuan Bupolo dilarang (koin) mendekatinya. Dalam konsep pikir orang Bupolo saat laki-laki menokok empulur sagu disitu layaknya aktivitas persetubuhan hingga disaring dalam wadah yang diibaratkan seperti Rana. Pada waktu air bercampur pati sagu keluar melalui saringan itulah yang disebut butemen, seterusnya ditampung dalam goti yang diibaratkan seperti sungai Waenibe yang mengalirkan air dari Rana menuju laut.

Pohon sagu atau bialahin (Metroxylon sp) dalam pertumbuhan di alam juga merepresentasikan hubungan kekerabatan dalam noro yang disebut bialahin. Dalam satu bialahin biasanya mereka bermukim pada petuanannya dengan jumlah rumah hanya tiga sampai lima mengikuti rumpun sagu. (Perhatikan Gambar 1).

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan (pemimpin bialahin). Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung di antara mereka.

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah, penampilannya bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya,. dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa pati sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

rumpun-sagu

(Sumber : Louhenapessy 1992)

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu menurut kekerabatan bialahin. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

III.  LINGKUNGAN ALAM DI PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

 

PULAU-BURU-RANA-DATE

Sumber: Pattinama (2005)

Gambar 2. Pulau Buru dengan Rana dan Gunung Date

 

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

IV.    GEBA BUPOLO

Bupolo adalah nama awal (asli) pulau Buru, disebut pula Bupolo Waekolo. Waekolo adalah nama kelompok kekerabatan (noro atau soa) yang menyatakan diri sebagai penunggu atau Geba eptugu (geba=orang, eptugu=penunggu) di pusat pulau. Nama lain pusat pulau adalah Rana lalen, dimana dijumpai Rana dan Gunung Date. Kita mengenal Rana adalah nama Danau di Pulau Buru dan biasa ditulis Danau Rana, padahal dalam bahasa Buru kata rana artinya telaga atau danau. Oleh sebab itu Orang Bupolo hanya menyebut Rana saja atau Rana Waekollo. Rana lalen adalah milik seluruh orang Bupolo (Gambar 2). Luas Rana diperkirakan 75 Km² dan lebih besar dari Teluk Ambon serta terletak pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut.(Pattinama,2005).

Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Masing-masing soa/noro mempunyai dua sisi yaitu noro dan leit. Noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan leit dipakai dalam pergaulan ekternal. Contoh: noro Waekolo :: leit Waemese, noro Gebahain :: leit Seleki, noro Nalbesi :: leit Tomhisa, dan noro Mual :: leit Solisa. Di Rana lalen adalah pamali (koin) jika kita menyebut leit, karena itu identitas kepada orang di luar kelompok Bupolo.

Kesatuan hidup tingkat kedua di dalam noro adalah bialahin. Tercatat setiap noro/soa di Pulau Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu.

Data penduduk Pulau Buru menurut BPS Maluku tahun 2015 menunjukkan jumlah sebesar 187.199 jiwa dengan penyebaran di Kabupaten Buru 127.910 jiwa (68%) dan di Kabupaten Buru Selatan 59.289 jiwa (32%). Dari jumlah itu dijumpai hanya sekitar 15% adalah populasi masyarakat asli (autokton)

Penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang atau alokton (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 3).

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 3. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut pendapat Geba Bupolo

 

Gambar 3 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton.

V.  ETNOEKOLOGI BUPOLO DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN MALUKU

Mengungkapkan konsep berpikir Orang Bupolo tentang alam dan lingkungannya merupakan tugas saya selaku seorang peneliti Etnobotani  dengan memegang teguh prinsip dasar metodologi riset apalagi konsep tersebut diungkapkan secara lisan (konsep bertutur) dan ini merupakan pengalaman abadi yang tak ternilai. Tanpa disadari selama menjalani hidup sesehari di Rana lalen sebagaimana layaknya Orang Bupolo saya belajar banyak dari mereka. Untuk itu apa yang dipaparkan pada bagian ini adalah konsep murni yang bisa disumbangkan dalam pembangunan Maluku walaupun materinya hanya pada wilayah Pulau Buru.

 

V.1. Bupolo dalam Pengembangan Pendidikan

Bagaimana sumbangan yang bisa diberikan dari kekayaan konsep berpikir Orang Bupolo ini kepada sektor pendidikan ?

Menurut hemat kami bahwa akar permasalahan sistem pendidikan di negeri kita ini adalah karena sekolah dan universitas telah dipisahkan dari soal-soal kehidupan nyata sehari-hari yang sementara berkembang dalam masyarakat. Para murid dan mahasiswa kita telah kehilangan spirit kepekaan dan hal yang terjadi sebagai akibatnya, maka murid dan mahasiswa kita akan sangat sulit menangkap spirit keilmuan.

Pengalaman saya di Pulau Buru saat melakukan inventarisasi tanaman di hutan yang dimanfaatkan oleh Orang Bupolo dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak Bupolo baik yang belia maupun orang dewasa, dengan cekatan tahu nama-nama tumbuhan atau tanaman walaupun yang diungkapkan itu dalam bahasa lokal (vernaculaire). Mereka mendapat pengetahuan ini dari orangtua mereka saat kegiatan meramu hutan atau berburu. Ini harus diwariskan agar mereka tahu mana yang bisa dikonsumsi dan mana yang beracun. Inventarisasi tanaman selama riset di lapangan diperoleh bahwa orang Bupolo mengenal 94 jenis tanaman yang dibudidayakan dan 473 tanaman yang tumbuh secara liar namun bermanfaat dalam kehidupan mereka.

Jika ini saya bandingkan dengan mahasiswa yang setiap semester saya didik dan bina secara akademik pada jenjang pendidikan formal saat ini, mereka tidak peduli dengan tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Ini saya sebut sebagai buta literasi. Ada kecenderungan bahwa yang diajarkan ini nantinya tidak digunakan pada saat terjun ke masyarakat. Saya tidak dapat menyimpulkan itu karena belum ada penelitian yang dilakukan oleh saya untuk mendukung kesimpulan dimaksud.

Dalam hubungan dengan kemampuan literasi ini dapat saya kemukakan contoh seperti yang dialami oleh TNI (=ABRI) tahun 1973 saat mengejar 30 orang Tapol yang melarikan diri dari tahanan di Waeyapo dan mereka menghilang di hutan. Anggota TNI tidak mampu dan akhirnya operasi ini dibatalkan. Panglima Kodam XV Pattimura ketika itu Brigjend. Haroen Soewardi akhirnya datang menjumpai para kepala adat yang bermukim di pegunungan untuk meminta bantuan mencari mereka yang melarikan diri. Perintah yang diberikan saat itu tangkap hidup atau mati. Orang Bupolo dengan mudah bisa menemukan mereka hanya dengan mengandalkan pengetahuan lokal yaitu mereka menyusuri tapak jalan dan mengetahui jejak para pelarian dan dari melihat cara memotong pohon yang berbeda dengan cara orang Bupolo. Dengan bekal itu akhirnya Orang Bupolo sukses menemukan kembali para tapol yang masih hidup. Menurut cerita para Tapol banyak yang mati di hutan karena salah memakan tanaman yang ada, mereka mengkonsumsi tanaman yang beracun.

 

V.2. Bupolo dalam Pengembangan Ekonomi

Orang Bupolo akan mencapai siklus hidup yang sempurna apabila semua fase dalam kehidupan dikerjakan secara utuh. mulai dari kelahiran sampai kematian. Semua fase itu diikuti dengan upacara ritual dan untuk melaksanakannya dibutuhkan dukungan sumberdaya finansial. Dalam adat orang Bupolo jika itu dilakukan oleh suatu noro misalnya noro Gebahain, maka semua anggota noro yang hidup baik di Buru maupun Buru Selatan akan diberi tanggung jawab untuk menanggung apacara ritual tersebut secara bersama-sama. Menurut catatan kami bahwa keputusan itu sudah dirancangkan sejauh mungkin sehingga ada ruang untuk semua orang Bupolo bekerja. Ada yang bekerja meramu di hutan (rotan, uwa dan damar, kisi), menyuling minyak kayu putih (gelan), membuka kebun baru untuk menanam kacang tanah (warahe) dan pergi berburu di hutan (iko phaga).

Hasil dari aktivitas di atas ada yang disumbangkan secara natura dan ada pula yang diberikan dalam bentuk uang setelah hasilnya dijual di pasar. Jadi orang Bupolo mengerjakan sesuatu dalam perencanaan yang matang sehingga semua aktivitas dijalankan secara simultan.

Ilmu ekonomi dan pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini adalah tidak mampu menangkap sinyal bioregional dan biogeografi, karena hanya berada pada lingkaran jaring laba-laba antara demand dan supply dan pemikiran ekonomi tidak mampu keluar dari pemikiran abstraknya tentang pendapatan asli daerah, pendapatan nasional, dan laju pertumbuhan. Mungkin saja pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini oleh para pakarnya di negara-negara maju tidak cocok diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Namun demikian karakter ekonom yang ada saat ini seolah-olah negara ini sudah masuk dalam kategori negara maju dimana mobilisasi tenaga kerja diatur dalam rel ban berjalan. Bagaimana ilmu ekonomi bisa menangkap aktivitas ekonomi orang Bupolo yang nyata? Saya usulkan kepada para pakar ekonomi mencoba mengembangkan cabang ethnosciences untuk bidang ekonomi yaitu ethnoekonomi.

 

V.3. Bupolo dalam Pengembangan Pertanian

Dalam konsep masyarakat Buru tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Di Pulau Buru dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen) ; kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen) ; kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, meliputi Gunung Date (kaku Date), Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan (koin lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Pemimpin bialahin disebut Gebakuasan (atau juga disebut basafena) yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Orang Buru dalam menghadapi agresi pemegang HPH dalam ruang yang telah mereka atur dengan norma adat, hanya bisa membuat alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia. Alat ini disebut foron sbanat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Gambar 4). Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) masih tetap menandai musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara ritual dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, di sekeliling kebun ditebar tanaman hotong/feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Saat yang sama banyak tenaga kerja yang datang di suatu pemukiman dan mereka saling bantu membantu dalam kegiatan menanam. Efut ale (daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar) artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari : kegiatan menyiangi yang hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pada musim ini pula kaum laki-laki memulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Saat panen yaitu akhir dari efut ale dilaksanakan pula upacara kematian nitu wasin. Fase selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore hari hujan relatif besar : upacara meta di Rana dimana keluarnya morea (sidat) dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut Keith Philippe, cs (1999) bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Kepulauan Fiji di Pasifik Selatan. Setelah melakukan reproduksi maka induknya akan mati di Kepulauan Fiji dan larvanya akan menempuh perjalanan kembali ke Rana. Waktu yang dibutuhkan untuk kembali lagi ke Rana yaitu selama dua sampai tiga tahun. Menurut teori bahwa morea sebagaimana jenis ikan lainnya (= salmon) selalu menempuh perjalanan kembali ke habitat asalnya dengan cara melawan arus di laut dan di sungai. Jika morea tidak keluar dari Rana untuk pergi reproduksi dan tetap menetap di Rana maka usia hidupnya sampai 40 tahun setelah itu akan mati (Pattinama, 2005).

Kegiatan berikutnya orang Bupolo melakukan kegiatan berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat yang sama buah pohon meranti sangat banyak karena buah tersebut menjadi konsumsi bagi kedua hewan buruan di hutan yang letaknya relatif jauh yaitu di daerah gunung Kakupalatmada. Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan : kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang. Yang dimaksud dengan perang adalah melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

 

 ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 4. Organisasi waktu berkaitan dengan aktivitas Geba Bupolo

            Bagaimana semangat Orang Bupolo ini bisa memberi penguatan dalam pembangunan pertanian di Maluku? Pertanian yang dibangun pada aras regional di Indonesia pada umumnya tak bisa memisahkan diri dari politik pertanian nasional. Sepuluh tahun reformasi telah dilalui namun karakter kita masih belum berubah, karena reformasi tidak disertai dengan infrastruktur dan suprastruktur hukum yang kuat. Mau melakukan revitalisasi pertanian tapi fondasi tata birokrasi dan finansial tidak mengalami perubahan. Padahal awal reformasi berjalan kita cenderung menyalahkan rezim Orde Baru yang diduga melemahkan sistem keunikan bioregional. Pada waktu kini saat kita diberi otonomi mengatur diri kita dalam pembangunan pertanian nampaknya kita juga belum mendapat format yang sesuai. Kesibukan yang demikian ini tidak mempengaruhi Orang Bupolo untuk tetap menjalankan aktivitas produksi dengan jadwal yang sudah tersusun untuk satu tahun berjalan, karena apa yang dikerjakan ini adalah siklus ritual, sementara yang dikerjakan oleh aparat pemerintah adalah “siklus” proyek. Dengan demikian dalam pemahaman saya bahwa kedua kutub ini tidak akan pernah ketemu. Untuk menunjukkan rasa hormat kepada pemerintah maka Orang Bupolo seolah-olah patuh tetapi sebenarnya tidak mempraktekkan apa yang direkomendasikan dalam program “siklus” proyek.

 

VI.  EPILOG :

Ungkapan Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen yang dikemukakan dalam Kongres Kebudayaan Maluku 2016 di Bupolo pada kesempatan ini adalah suatu energi budaya dalam membangun dan memberdayakan masyarakat untuk bisa berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa di Maluku. Energi budaya Geba Bupolo ini pula akan memberdayakan masyarakat untuk membangun jati diri sebagai manusia yang utuh.

Orang Bupolo sebagai petani tradisional telah melakukan sendiri fungsi produksi (agronomi dan agroindustri) serta fungsi pemasaran (agroniaga). Mereka menguasai teknologi sederhana, salah satunya adalah teknologi menyuling daun kayu putih. Diharapkan semua ketrampilan yang dikuasai oleh Orang Bupolo seyogyanya dipahami pelaku ekonomi modern, dengan cara memberikan sedikit sentuhan inovasi teknologi baru tanpa mempengaruhi pengetahuan lokal yang sebelumnya telah mereka kuasai. Komponen agronomi, agroindustri dan agroniaga adalah komponen bebas, namun di dalam pertanian modern sudah dilakukan institusi khusus, seperti Perkenunan Negara, Industri BUMN dan Pasar Modal, yang keseluruhan dikendalikan oleh negara, sehingga pengelolaan telah ditata secara rapi. Dalam proses yang modern ini, maka perubahan di salah satu komponen akan memberi dampak kepada komponen yang lain. Demikianlah secara teoritis bahwa seluruh mata rantai itu disebut agribisnis. Disisi yang lain dan semestinya diakui bahwa pengetahuan lokal menguasai lingkungan alam yang dipraktekkan oleh Orang Bupolo dimana mereka telah berpartisipasi membangun dengan kokoh pilar pembangunan pertanian yang juga berwawasan agribisnis walaupun dalam skala yang sederhana.

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160 p/.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

 

Presentase Makalah pada Kongres Kebudayaan Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Buru. Namlea Tanggal 5-7 November 2016

PENELITIAN DAN PENGAJARAN ETNOBOTANI UNTUK IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KEPULAUAN MALUKU

PERUBAHAN-IKLIM

Ethnobotany Research and Teaching towards Adaptation and Implementation of Climate Change in the Maluku Archipelago

 Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

ABSTRACT

Climate change, an increased average global temperature, has resulted in the emission of greenhouse effects surrounding hot earth temperature. It is predicted that the earth temperature is one degree warmer. Even though this number is relatively small, however, globally, it has the potential to destroy the earth, and finally influences the livelihood of millions people on earth. Due to the fact that Indonesia is the biggest maritime country in the world possessing three climate types from the east to the west, including tropical muson, equatorial and local, Indonesia has been recorded to contribute to the world climate change. In particular, Maluku is only affected by local and tropical muson climate. Climate experts suggest that the majority of areas in Maluku is covered with local climate where this climate is not found in any other places in Indonesia. Local climate characteristics strongly influence animal and plant biodiversity, which can only be found in Maluku, living in the land as well as water including river, lake and ocean. Global warming will have significant impacts on archipelago, so that plan development concept in Maluku should consider this local climate pattern. Consequently, basic plan should start with accurate research data synthesis. Ethnobotany research is strongly associated with human activities and the environment. Ethnobotany study provides comprehensive analysis about human, culture and every aspect of natural resources. Besides, this analysis needs to be disseminated in the form of structured teaching for non-formal and formal education. Ethnobotany teaching will be presented in more accurate and replicable according to the view, regulation, and culture appreciation in acknowledging, understanding and harnessing natural resources in the culture environment. The role of human and specific natural environment as well as its culture, in turn will become strategic references in implementing and adapting global climate change.

Key words : Ethnobotany, climate change, Maluku archipelago, local climate.

ABSTRAK

Perubahan iklim, dengan meningkatnya suhu global rata-rata, mengakibatkan emisi gas rumah kaca di atmosfer telah mengepung suhu panas bumi. Suhu dunia diperkirakan satu derajat Celsius lebih hangat. Angka suhu ini walau mungkin terdengar relatif tidak terlalu besar, akan tetapi secara global berpotensi menghancurkan planet bumi, dan akhirnya dapat mempengaruhi mata pencaharian jutaan penduduk di muka bumi. Karena Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur, yakni pola iklim muson, ekuatorial dan lokal, maka Indonesia tercatat pula berkontribusi dalam perubahan iklim dunia. Maluku secara spesifik hanya dipengaruhi oleh pola iklim lokal dan muson. Pakar iklim mencatat bahwa mayoritas wilayah Maluku diselimuti oleh iklim lokal dimana pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodivesitas tanaman dan hewan yang hanya dijumpai di Maluku baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut. Kenaikan panas bumi akan berimplikasi signifikan pada wilayah kepulauan, sehingga konsep perencanaan pembangunan daerah di Maluku seyogyanya memerhitungkan pola iklim lokal ini. Karena itu, dasar perencanaan harus dimulai dengan sintesis data penelitian yang akurat. Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyumbangkan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam. Selain itu, diseminasi dari kajian ini perlu disampaikan dalam bentuk pengajaran terstruktur pada strata pendidikan formal dan non formal. Pengajaran etnobotani akan disajikan lebih akurat dan replikabel seturut pandangan, penataan, dan penghayatan budaya dalam mengenali, memaknai dan memanfaatkan sumberdaya alam di lingkungan budayanya. Peran manusia Maluku dan lingkungan alam yang khas serta budayanya pada gilirannya akan menjadi acuan strategis dalam implementasi dan adaptasi perubahan iklim global.

Kata Kunci : Etnobotani, Perubahan iklim, Kepulauan Maluku, Iklim lokal.

PENDAHULUAN

Seminar Nasional APIKI (Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia) pada akhir Agustus 2016 ini di Jakarta mempunyai tema besar yang menarik yakni penguatan pengajaran dan penelitian perubahan iklim. Kalimat selanjutnya dalam tema tersebut, (Bridging gap implementasi kebijakan mitigasi dan adaptasi di tingkat nasional dan subnasional), bagi kami adalah sasaran yang ingin dicapai apabila pengajaran dan penelitian telah dilakukan dengan baik. Hal ini berarti bahwa pengalaman kita berbangsa dan bernegara selama ini untuk membangun masyarakat ternyata masih ada “sisa” yang belum kita selesaikan yaitu adanya masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam jurang pemisah baik yang besar maupun yang kecil. Artinya bahwa jurang pemisah yang besar jika sudah terlalu jauh dari sentrum kekuasaan Jakarta, begitupun sebaliknya jurang pemisah yang kecil jika berdekatan dengan sentrum kekuasaan Jakarta.

Mengapa ada jurang pemisah yang kecil? Hal ini terjadi karena akses sangat sulit dicapai akibat tirani kekuasaan yang rapuh dengan mendirikan tembok penguasa yang tinggi. Situasi ini bisa menjerumuskan masyarakat Indonesia makin terpisah dari kebijakan pembangunan negara. Kemudian akan ada penetapan keputusan secara sepihak dimana dibangun persepsi bahwa masyarakat secara sengaja mengambil posisi terisoler atau mengisolasi diri karena tidak mampu berkompetisi. Akibatnya struktur masyarakat ini sudah dipastikan identik dengan kemiskinan, kelaparan dan rawan gizi.

Pertanyaan menarik yang bisa diajukan adalah bagaimana mereka akan maksimal berpartisipasi dalam pembangunan negara untuk menyelesaikan isu strategis seperti perencanaan pembangunan untuk perubahan iklim, mitigasi bencana, REDD+ dan Paris Agreement ?

Masalah keterisolasian nyata (fisik) dan keterisolasian tersembunyi (psikis) ini terjadi bukan kemauan masyarakat mengisolasi diri mereka namun menunjuk pada jatah kue pembangunan yang tidak sempat mereka rasakan secara merata. Hal ini bukan disebabkan karena pemerintah mengabaikan mereka dalam prioritas pembangunan, akan tetapi harus jujur diungkapkan bahwa sumber dana pembangunan bangsa Indonesia yang sangat terbatas. Mungkin saja dana pembangunan itu melimpah ruah namun efek tetesannya tidak merembes kepada masyarakat terisolir tadi. Secara jujur harus diungkapkan bahwa masalah korupsi dana masyarakat yang belum tuntas tertangani.

Kita boleh bangga dengan sumberdaya alam yang sangat kaya tetapi kita lupa bahwa kita sendirilah yang harus mengolahnya dan pada saat yang sama kita dihadapi dengan persoalan kualitas sumberdaya manusia.

Uraian saya pada bagian pendahuluan ini bukan secara sengaja dimulai dengan mendeskripsikan posisi kita sebagai masyarakat yang hidup di negara kepulauan terbesar di dunia penuh dengan kelemahan dan tidak memiliki wawasan yang prospektif. Namun demikian ini adalah realita yang selama ini kita saksikan.

 

TEBAH-TELAAH ETNOBOTANI DAN PERUBAHAN IKLIM

            Perkembangan etnobotani sebagai suatu ilmu tak lepas dari latar belakang filsafati dan sejarah yang melahirkannya. Terminologi filsafati merujuk pada roh dari ilmu dimaksud, dalam bahasa Prancis disebut “l’esprit de la science”. Sedangkan sejarah akan mengungkapkan catatan-catatan penting atau peristiwa dimana ilmu tersebut mendapat pengaruh sesuai periode waktu berjalan.

Sebelum mengemukakan konsep dasar etnobotani, maka saya akan mengemukakan pandangan atau aliran penelitian yang menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya dimana pada relasi tersebut masyarakat senantiasa berasosiasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan :

  • Penelusuran yang pertama, yakni pada periode penjajahan. Pada fase ini kita mencatat bahwa negara-negara Eropa Barat melakukan ekspansi untuk menguasai wilayah dengan sumberdaya alamnya. Pada saat yang sama sudah ada tradisi yang dikenal sebagai botani ekonomi (economic botany) yaitu mulai memfokuskan eksplorasi penelitian pada penggunaan tanaman, khususnya untuk mendapatkan spesies baru yang berpotensi ekonomi. Aliran penelitian semacam ini banyak dikerjakan oleh para ahli dari negara-negara kolonial seperti Belanda, Prancis dan negara Eropa Barat lainnya. Dari sini lahir ahli botani yang kita kenal yaitu Rumphius, Heyne dan Ochse.
  • Penelusuran yang kedua, yakni periode pasca kemerdekaan. Indonesia mulai mengurangi pengaruh Belanda dan berkiprah ke Amerika Serikat. Langkah pertama dengan menyekolahkan kaum terpelajar dan peneliti ke sana dan pada saat yang sama ada pengaruh aliran ekologi budaya (cultural ecology) dan ekologi manusia (human ecology). Aliran ini tidak terlepas dari roh keilmuan yang dikembangkan pada fase penjajahan hanya mulai mengalami metamorfosis dengan menggabungkan pesatnya kemajuan ilmu botani yang disebut biologi. Jadi aliran ini mulai menganalisis proses hidup suatu masyarakat serta hubungannya dengan lingkungan, tetapi menggunakan konsep kerja para ahli biologi yang dipakai untuk mempelajari ekosistem. Pada periode ini kita mengenal peneliti dan ilmuwan terkenal seperti Clifford Geertz, Conklin, Vayda, Michael Dove dan Rambo yang memakai pendekatan ekologi budaya.

Dua pengalaman dalam aliran berpikir ini semuanya bermuara pada objek penelitian yang menganalisis ketergantungan manusia pada dunia tumbuh-tumbuhan. Aliran pertama telah mencatat hasil yang fantastik dengan menyajikan motede penelitian yang terstruktur yang dimulai dari koleksi hingga identifikasi dan klasifikasi ilmiah. Herbarium merupakan hasil penemuan ilmiah yang sangat luar biasa manfaatnya dan dipakai hingga saat ini untuk mengidentifikasi dunia tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian etnobotani adalah fondasi ilmu untuk lebih memahami pengembangan ilmu lain yang menerangkan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Gambar 1. Berikut ini lebih jelas menggambarkan hubungan asosiasi ilmu alam, masyarakat dan sains dimana hasil interseksi adalah etnobotani.

RUANG-LINGKUP-ETNOBOTANI Gambar 1. Ruang Lingkup Etnobotani

 

Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka etnobotani secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu ethno berarti bangsa atau kelompok etnis atau masyarakat, sedangkan botani merujuk pada dunia tumbuh-tumbuhan. Disatukan dalam terminologi etnobotani untuk memberikan gambaran tentang keutuhan pendekatan, Etno dengan etnologi dalam ethnoscience diperlukan untuk mengungkapkan sistem pengetahuan yang dimiliki suatu suku bangsa.

Beberapa pakar berpendapat bahwa ethnoscience sinonim dengan folkscience yang bertumpu pada sistem kognitif terutama dalam mengungkapkan aspek klasifikasi dan nomenklatur dalam relasi dengan alam (Barrau, 1985). Disamping ethnoscience mereka juga mengemukakan adanya ethnosciences dalam bentuk jamak yang mengarah pada sekumpulan disiplin ilmu yang berkorelasi dengan alam termasuk di dalamnya etnobotani sedangkan yang lain adalah etnozoologi, etnobiologi, etnoekologi, etnomineralogi, etnofarmakologi, etnomedisin dan sebagainya. Setelah pemahaman komprehensif tentang etnobotani, maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan pemahaman tentang apa itu perubahan iklim?

Perubahan iklim secara harfiah adalah iklim yang berubah akibat suhu global rata-rata meningkat. Peningkatan emisi gas rumah kaca, khususnya CO2, telah memerangkap suhu panas di atmosfer bumi. Hal tersebut berdampak pada sistem cuaca global yang menyebabkan segala sesuatu mulai dari curah hujan yang tak terduga hingga gelombang panas yang ekstrim. Bumi telah melalui periode pemanasan dan pendinginan yang terkait dengan perubahan iklim berkali-kali. Hal yang saat ini menjadi perhatian utama dan disetujui oleh para ilmuwan adalah bahwa proses pemanasan yang terjadi jauh lebih cepat daripada yang telah dilakukan sebelumnya, dan bahwa pemanasan yang cepat disebabkan oleh peningkatan tingkat emisi buatan manusia.

Kita membayangkan saat ini dunia sudah satu derajat Celsius lebih hangat daripada di masa pra-industri. Ini mungkin tidak terdengar terlalu signifikan tetapi dapat berpotensi menghancurkan planet ini dan juga mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia.

Perubahan iklim akan menyebabkan beberapa daerah menjadi basah, dan daerah lainnya menjadi lebih hangat. Permukaan air laut akan naik akibat dari gletser yang mencair, sementara beberapa daerah akan lebih berisiko terkena gelombang panas, kekeringan, banjir, dan bencana alam. Perubahan iklim bisa merusak rantai makanan dan ekosistem, menempatkan seluruh spesies pada terancam kepunahan.

Indonesia dengan potensi hutan yang ada ditetapkan sebagai paru-paru dunia, dengan demikian perlu ada tindakan nyata untuk melindungi satu juta pohon dengan berfokus untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan, mengembalikan kawasan hutan, mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan atau lestari, dan meningkatkan persediaan pohon di lahan pertanian.

METODE RISET ETNOBOTANI

            Pengembangan etnobotani sebagai suatu disiplin ilmu tidak dapat dipisahkan dari metodologi yang dikembangkan dengan memandang masyarakat dan ekosistemnya sebagai sesuatu keseluruhan atau totalitas, sebagaimana apa yang sering dikatakan oleh para pakar antropologi yaitu konsep holistik. Menurut Friedberg (2002) diperlukan sistem kerja dalam etnobotani seperti berikut ini:

  • Analisis Dalam yaitu pentingnya menganalisis sudut pandang masyarakat berdasarkan konsep asli seperti yang terungkap dalam bahasa mereka
  • Analisis Luar yaitu pentingnya pendekatan interdisipliner, yang memungkinkan peneliti memadukan berbagai faktor yang terlibat baik dari bidang biologi maupun dari bidang sosial budaya.

Waluyo, Wijaya dan Rifai (1991) serta Waluyo (1988, 2009), mengatakan bahwa etnobotani harus mampu mengungkapkan keterkaitan hubungan budaya masyarakat terutama tentang persepsi dan konsepsi masyarakat dalam memahami sumberdaya nabati di sekitar tempat mereka bermukim.

Data etnobotani adalah data tentang pengetahuan botani masyarakat dan organisasi sosialnya. Dengan kata lain data etnobotani bukan terdiri dari data botani, taksonomi, dan bukan pula data botani ekonomi atau cabang botani lainnya. Sasarannya adalah membuat pemaparan etnobotani menjadi lebih akurat dan lebih replikabel dalam kerangka memproduksi realitas budaya seturut pandangan, penataan, dan penghayatan masyarakat dalam mengenali, mamaknai, dan memanfaatkan sumberdaya nabati di lingkungan budayanya. Ini berarti bahwa pemaparan etnobotani harus diungkapkan sehubungan dengan kaidah konseptual, kategori, kode, dan aturan kognitif “tempat” (emik) untuk kemudian secara taat asas dibuktikan sehubungan dengan kategori konseptual yang diperoleh dari latar belakang ilmiah (etik).

Sekalipun emik dan etik itu dibedakan atas dasar epistemologi, keduanya tidak ada kaitan dengan metode penelitian, melainkan dengan struktur penelitian. Dengan demikian maka pengujian emik dan etik bukanlah bagaimana pengetahuan itu diperoleh, melainkan bagaimana pengetahuan itu divalidasi.

Penelitian etnobotani merupakan studi multidisiplin yang tidak hanya menyangkut disiplin botani murni, seperti taksonomi, ekologi, sitologi, biokimia, fisiologi, tetapi juga aspek lain dari pertanian, kehutanan maupun hortikultura, yang banyak memerhatikan persoalan perbanyakan, budidaya, pemanenan, pengolahan, ekonomi produksi, efek pasar dan agribisnis.

Dalam perkembangan terakhir ini etnobotani sudah berkembang lebih jauh lagi berkat metode penelitian dalam ilmu ini yang senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan penelitian di lapangan.

Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyajikan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam.

Metode riset etnobotani tidak terbatas pada metode yang klasik kualitatif berupa pengamatan yang mendalam tetapi sudah menggunakan metode kuantitatif. Metode ini banyak digunakan di bidang kehutanan untuk mengamati skala produksi dari hasil hutan non kayu.(Wong, Thornber dan Baker, 2001).

 

PENGAJARAN ETNOBOTANI

            Apa arti pengajaran dalam tulisan ini? Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Dalam mencari ilmu, seorang mahasiswa bisa belajar dari beberapa dosen karena hanya ilmu yang dipelajari. Ada dosen yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada mahasiswa yang belajar. Hasilnya mahasiswa tersebut menjadi pandai dan berilmu pengetahuan. Pengajaran khusus ditujukan pada akal. Oleh karena itu mudah (straight forward).

Penulis mencoba untuk memahami tema seminar nasional APIKI 2016 yang menggunakan terminologi “pengajaran”, mengingat pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara penting di dalam membina manusia, namun pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berbeda.

Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh akan dicoba untuk difahami dan dihayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak sedangkan pengajaran lebih menyentuh akal saja.

Dalam konsep masyarakat tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Pada saat belajar dengan masyarakat, maka dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman, kebun, hutan berburu atau meramu, hutan tanaman kayu dan non kayu dan tempat memancing. Kemudian kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun dan padang alang-alang. Akhirnya ada kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, seperti contoh gunung, sungai dan tempat keramat di hutan.

Dengan masyarakat pula kita belajar tentang pola pemukiman pada dusun atau kampung dan peranan dari setiap pemimpin adat yang ada dalam kawasan pemukiman dimaksud. Sebenarnya yang mau dipelajari adalah penguasaan teritorial dari suatu masyarakat yang diteliti.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memeroleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang Ijin Usaha Pengolahan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman masyarakat tradisional senantiasa disesuaikan menurut fenomena alam dari pohon tertentu seperti misalnya kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Pattinama 1998, 2005).

Konsep alam, lingkungan dan budaya masyarakat seperti yang dielaborasi di atas menunjukkan bahwa pengetahuan lokal itu memang menyatu dalam siklus kehidupan masyarakat baik tradisional maupun modern, dan pengetahuan dimaksud diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi dengan hanya mengandalkan konsep bertutur dan bukan pewarisan secara tertulis. Akibatnya banyak narasi cerita yang hilang. Bagi seorang peneliti etnobotani, maka untuk memahami konsep masyarakat ini secara utuh dibutuhkan waktu meneliti yang panjang di lapangan.

 

IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI MALUKU

            Kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia sungguh sangat unik dan memiliki tingkat keberagaman tinggi. Persoalan implementasi dan adaptasi konsep perubahan iklim adalah fase yang terakhir setelah adanya pemantapan yang baik terhadap struktur pengajaran dan penelitian.

Pengajaran dan penelitian seyogyanya berbanding lurus pula dengan tingkat pendidikan penduduk. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tentang thema pulau-pulau kecil, ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memerkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim, walaupun dalam studi etnobotani mencatat bahwa pengetahuan lokal masyarakat tradisional dimana mereka rata-rata berpendidikan rendah tercatat lebih memahami pelestarian lingkungan dan alam serta budaya dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendidikan tinggi.

Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah (Pattinama dan Irwanto, 2016). Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema pengajaran dan penelitian?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah sangat sulit membiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental (Pattinama dan Irwanto, 2016). Bagaimana program implementasi dan adaptasi perubahan iklim di Maluku?

Di Kepulauan Maluku dengan kekayaan biodiversitas tumbuhan yang tinggi dan unik pada pulau-pulau kecil serta tercatat ada sekitar 117 bahasa (90 bahasa di Maluku dan 27 bahasa di Maluku Utara). Data tentang bahasa juga bisa menggambarkan jumlah etnis di Kepulauan Maluku (Pattinama, 2005). Ini merupakan lapangan riset dengan tema menarik yang bisa dieksplorasi untuk melengkapi informasi ilmiah tentang Maluku secara komprehensif.

Cerita lama tentang kepulauan Maluku (Mollucas archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices), bunga cengkeh dan buah pala serta awal sejarah kolonisasi orang Eropa di Nusantara. Sedangkan cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia.

Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial (lihat Gambar 2 di bawah ini). Karakteristik iklim lokal sangat memengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku.

Keunikan ini bisa dilihat pula dari kondisi geografis Maluku yang terdiri dari pulau besar dan pulau-pulau kecil serta penduduk yang mendiami pulau tersebut bukan saja bermukim di pesisir pantai namun menempati pula wilayah pedalaman.

Secara umum di Maluku dijumpai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.  Curah hujan di selatan Kepulauan Maluku lebih tinggi dari daerah sebelah utara. Perbedaan iklim demikian dapat dilihat dari penyebaran formasi biodiversitas tanaman.

Vegetasi yang dijumpai pada daerah pesisir pantai adalah Barringtonia asiatica Kurz dan Terminalia catappa L, serta tanaman kelapa dan pisang yang diusahakan oleh penduduk. Selain itu beberapa tanaman yang umum dijumpai pada daerah pantai diantaranya Musa acuminata Colla, Ipomoea pescaprae, Sesuvium portulacastrum, Ischaemum muticum dan Fimbristylis. Jenis pohon yang tumbuh secara alami dan juga diusahakan oleh manusia adalah Canarium amboinense HOCHR, Anthocephalus macrophyllus Havil, Vitex cofassus Reinw,  dan Pandanus tectorius.  Vegetasi yang ada pada altitude lebih tinggi didominasi oleh Shorea, Agathis, Pometia, Celtis, Pterocarpus, Ficus, Dracontomelon, Vitex, Canarium, Paraserianthes, Alstonia dan Guioa. (Pattinama, 2005)

PETA-POLA-IKLIM-MALUKU

Sumber : Koesmaryono, 2007

             Gambar 2. Peta Iklim Maluku yang khas dalam Pola Iklim Indonesia

 

Keanekaragaman hayati lain yang cukup potensial adalah fauna yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari vegetasi tanaman yang tumbuh. Misalnya pembungaan dari pohon meranti (Shorea spp) akan menambah jumlah populasi dari babi hutan dan kusu (Phallanger dendrolagus) serta satwa lainnya.

Beberapa riset yang dilakukan terhadap kekayaan hayati satwa dan binatang hutan lainnya di Maluku oleh lembaga riset nasional dan internasional menunjukkan bahwa masih ada fauna endemik yang bisa dijumpai dan populasi hewan tersebut dari tahun ke tahun menunjukkan jumlah yang menurun akibat dari gangguan yang sifatnya sistemik seperti eksploitasi hutan dan pembakaran lahan yang tidak terkendali.

 

KESIMPULAN

            Orang Maluku sebagian besar hidup mendiami pulau-pulau kecil dan terisolir pada wilayah pedalaman dengan topografinya yang bergunung. Mereka adalah masyarakat peladang yang mempraktikkan sistem pertanian berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan dan hidup sepenuhnya tergantung dari kemurahan alam. Di sisi lain, alam adalah laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Maluku hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan deskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumberdaya serta interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut yang sulit dan bahkan tidak dapat dipisahkan. Konsep hidup ini yang bisa melestarikan lingkungan sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim.

Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang atau lahan yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa orang Maluku memiliki kearifan dalam mengelola sumberdaya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Maluku menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu, umbi-umbian dan singkong), protein (ayam kampung, kambing lakor, domba kisar, kerbau moa, babi hutan, kusu, rusa, udang, sidat dan ikan) serta tambahan vitamin lain (buah dan sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Maluku bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Maluku sebagai autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Maluku, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Maluku relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan mengingat orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan yang hakiki dengan alam semesta.

Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Maluku makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pelayan negara yang bernama pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Maluku sehingga akses mereka untuk memeroleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memeroleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

Pangajaran saja tidak cukup namun demikian masyarakat seyogyanya dibekali pula dengan pendidikan yang terstruktur sehingga akal dan akhlak juga akan dibentuk dan dibangun demi melestarikan lingkungan yang selalu mereka pandang sebagai ruang yang holistik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barrau, Jacques, 1985. Les savoirs naturalistes populaires, Actes du seminaire de sommieres, Editions de la Maison des sciences de l’homme.

Friedberg, Claudine, 2002. L’anthropologie face à la question de l’appropriation de la biodiversité : la biodiversité est-elle appropriable ?, in : Franck-Dominique Vivien (Ed.), Biodiversité et appropriation, les droits de propriété en question : 163-176

Jonge, Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Koesmaryono, Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama, Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama, Marcus J dan Irwanto, 2016, Api dalam Etnoekologi dan Praktek Sistem Pertanian Tradisional (Adakah Ancaman pada Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?), Artikel untuk Prosiding Seminar Nasional APIKI 3 Juni 2016 di Ambon, (dalam proses).

Walujo, Eko Baroto, 1988. Les écosystèmes domestiques par l’homme dans l’ancien royaume Insana-Timor (Indonésie). Thèse de Doctorat de l’Université Paris VI, Paris, 267 p.

Waluyo, E.B., E.A. Wijaya, M.A. Rifai, 1991, Penguasaan Etnoekologi Secuplikan Masyarakat Etnis di Indonesia, Makalah Utama pada KIPNAS V, LIPI 1991.

Waluyo, E.B., 2009, Etnobotani: Memfasilitasi Penghayatan, Pemutakhiran Pengetahuan, dan Kearifan Lokal dengan Menggunakan Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Pengetahuan, Makalah Utama dalam Seminar Nasional Etnobotani IV, Prosiding.

Wong, Jennifer L.G, Kristi Thomber, Nell Baker, 2001, Resource assesement of non-wood forest product (Ethnobotany), FAO, p 58-61.

 

Presentase Makalah pada Seminar Nasional APIKI 31 Agustus – 1 September 2016, Artikel ini sudah diterbitkan oleh Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia Pusat bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. ISBN: 978-602-73376-2-6. Tahun 2016.

API DALAM ETNOEKOLOGI DAN PRAKTEK SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL – (Adakah Ancaman Pada Pemanasan Global & Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?)

API-KEBAKARAN-HUTAN

Oleh:

Marcus J. PATTINAMA[1] (mjpattinama@gmail.com)

Irwanto[2] (irwantoshut@gmail.com)

 

ABSTRAK

Api memang mengandung makna yang dalam bagi manusia dan manajemen api akan menentukan manusia pada tingkat peradaban yang tinggi atau rendah. Api berhubungan erat dengan praktek pertanian yang dilakukan manusia untuk membuka lahan usahatani. Api memberikan makan dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Pada akhirnya api bisa membumihanguskan alam sekitar manusia termasuk didalamnya hutan produktif dan non produktif. Jika api tidak dikendalikan maka manusia bisa menggunakannya untuk memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Kata kunci : api, etnoekologi, pertanian tradisional, pulau-pulau kecil.

 

ABSTRACT

Fire gives deep meaning to people and fire management will determine the level of human civilization is high or low. Fire is closely related to farming practices to open up farming land. Fire will provide meals and passion for human beings. People who do not blow the fire well then he’ll just chew flour on his mouth. In the end, the fire could burn down around human nature including productive and non-productive forest. If the fire is not controlled well by humans, so he could use it to trigger global warming and climate change.

Keywords: fire, ethnoecology, traditional agriculture, small islands.

 

Prolog

Workshop ahli perubahan iklim regional Maluku dan Maluku Utara yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 3 Juni 2016 di Ambon, tepatnya dilaksanakan di Swiss-Belhotel, merupakan suatu forum diskusi yang sangat bermanfaat guna pertukaran informasi dan pengalaman ilmiah yang tujuannya mendukung program prioritas nasional tentang pengendalian perubahan iklim. Dalam hubungan itu pula workshop diadakan untuk mendesiminasi hasil riset, kajian dan pemikiran dalam upaya penanganan iklim di wilayah kepulauan.

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dan memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur yaitu pola Muson, Ekuatorial dan Lokal. Khusus untuk Maluku dan Maluku Utara banyak dipengaruhi oleh pola iklim Lokal dan Muson. Pola iklim Lokal paling banyak dijumpai di Maluku dan ternyata pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia (Koesmaryono, 2007). Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodiveritas tanaman dan hewan baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut.

Judul artikel kami ini memang sengaja ditampilkan demikian apa adanya sebagai hasil dari diskusi yang hangat dalam workshop tentang issue pemanasan global dan perubahan iklim. Kemudian yang kami paparkan ini pula adalah bersumber dari pengalaman kami selama karier sebagai guru sejati dan dalam proses mendidik para murid kami di jurusan Agribisnis dan jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon.

 

Api dalam Etnologi dan Ekologi Manusia

Sejak awal kita mempelajari perjalanan sejarah manusia dari zaman purba hingga modern dan memahami aspek kebutuhannya maka hal penting dalam kehidupan manusia adalah lingkungan sebagai tempat untuk hidup. Jika kondisi lingkungan tidak bersahabat dengan yang mereka harapkan, maka mereka tidak akan mau bertempat tinggal di lokasi tersebut. Manusia cenderung berpindah untuk memilih dan selalu berusaha untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik dan nyaman. Setelah manusia memperhatikan kondisi lingkungan, maka yang berikutnya adalah bagaimana penguasaan teknologi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu terdapat beberapa variabel yang berhubungan dengan kondisi lingkungan antara lain: tersedianya kebutuhan air, adanya tempat berteduh (=rumah), kondisi tanah yang tidak terlalu lembab dan tersedianya sumber makanan.

API-ETNOEKOLOGI

Hal berikutnya adalah seluruh variabel di atas hendaknya diramu agar manusia tetap bertahan hidup untuk menghasilkan karya sebagai expresi diri dari naluri dasar manusia. Expresi diri ini yang selanjutnya kita sebut sebagai seni atau karya budaya. Untuk bisa bertahan hidup maka manusia harus menemukan api dan proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat penting. Berdasarkan studi arkeologi, maka penemuan api diperkirakan pada 500.000 tahun yang lalu. Pertama kali api dikenal adalah pada zaman purba dimana secara tidak sengaja manusia melihat petir yaitu cahaya panas dilangit yang menyambar pohon-pohon disekitarnya, kemudian api itu pun muncul membakar pohon-pohon di hutan.

Dalam sejarah menemukan api, manusia purba membutuhkan proses yang sangat panjang. Proses ini dimulai dengan mencoba sesuatu tanpa tahu petunjuk atau cara kerjanya sehingga banyak mengalami kegagalan dan mereka terus mencoba walaupun gagal sampai pada akhirnya mereka menemukan hasil yang mereka inginkan. Setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya cara membuat api pun ditemukan yaitu dengan membenturkan dua buah batu atau dengan menggesekan dua buah kayu, sehingga akan menimbulkan panas diikuti dengan percikan api yang kemudian percikan itu ditempelkan pada daun kering atau objek lain yang sifatnya kering dan ringan, sehingga pada awal akan muncul asap lalu manusia membantu untuk meniup hingga pada akhirnya objek itu dapat menjadi pemicu munculnya api.

Ditemukannya api lebih mudah untuk memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanan dengan cara membakar atau menggunakan bumbu dengan ramuan tertentu. Selain itu api juga berfungsi untuk menghangatkan badan, sumber penerangan dan sebagai senjata untuk menghalau binatang buas yang menyerang. Api dipakai manusia untuk dapat menaklukan alam melalui pembakaran lahan yang umumnya terjadi di areal hutan, terutama pada aktifitas pertanian untuk membuka kebun baru. Kebiasaan bertani dengan cara menebang lalu membakar (agriculture sur brülis atau swidden agriculture) adalah tradisi praktek pertanian pada zaman purba atau kuno yang masih berkembang sampai sekarang ini.

Manajemen api akan menjadi ukuran tingkat peradaban manusia. Secara teoritis bahwa api dalam hutan adalah akibat ulah manusia dimana api tersebut dapat dikategorikan kedalam tiga jenis api atau kebakaran (Ensiklopedia Kehutanan Indonesia dalam Irwanto, 2015) yaitu : 1)Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang terjadi pada lantai hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman bawah. Sifat api permukaan cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun cepat padam. Dalam kenyataannya semua tipe kebakaran berasal dari api permukaan. 2)Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar seluruh tajuk tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya mudah terbakar. Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal ini tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak saling bersentuhan. 3)Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah lantai hutan. Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang terjadi tidak ditandai dengan adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan dalam waktu yang lama pada suatu tempat.

Jika melihat pemetaan penduduk Indonesia sebagai negara maritim yang tersebar pada pulau besar dan kecil, maka para peneliti diantaranya Clifford Geertz sejak tahun 1963 telah memberikan diskripsi umum tentang kategori penduduk Indonesia berdasarkan jenis-jenis pertanian yang dikerjakan yaitu antara ladang (berpindah-pindah, tebang dan bakar) disatu pihak, atau dan sawah (penanaman padi basah pada petak-petak yang dialiri air irigasi) di pihak lainnya. Aktivitas ini yang membuat Geertz membelah Indonesia sebagai Indonesia Dalam yaitu Jawa dan Bali yang involusi, sedangkan perladangan selanjutnya disebut Indonesia Luar (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) yang non-involusi.

Peta ekologi ini memiliki nilai keelokan dan kesederhanaan serta juga menuai banyak kritik dimana di Sumatera ada ditemui orang Minangkabau, Aceh dan Batak yang sudah lama mengerjakan lahan basah dengan persawahan beririgasi. Di Jawa dan Bali pun pemilik lahan basah sangat sedikit dibanding penduduknya, sehingga yang lain terpaksa harus masuk dan maramba hutan dengan api. Hal yang sama untuk wilayah Sumatera, kenyataannya masih banyak peladang kering yang masih menggunakan api terutama mereka yang bermukim disekitar Taman Nasional Kerinci di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan (Aumeeruddy, 1994). Hal yang sama dengan di Sulawesi dan di tempat lainnya di Indonesia Luar yang sudah mempraktekkan pertanian lahan basah beririgasi.

Jadi pemikiran Geertz pada periode itu hanya berkonsentrasi di Jawa dan Bali, padahal wilayah Indonesia Luar lainnya juga telah mempraktekkan pertanian lahan basah. Di Kairatu, Pulau Seram Maluku, sejak tahun 1954 dengan datangnya orang Jawa melalui proyek transmigrasi pada pemerintahan Orde Lama telah merubah vegetasi tanaman sagu untuk dijadikan areal persawahan. Ketika itu di Pulau Seram, pemerintah telah sukses mempraktekan pertanian padi lahan basah disusul program membangun bendungan untuk irigasi. Ide perpindahan penduduk secara massif terus berlangsung pada era pemerintahan Orde Baru dengan menyebarkan penduduk dari Pulau Jawa melalui program nasional Transmigrasi. Di Pulau Buru, Maluku pada tahun 1969 pemerintahan Orde Baru menempatkan 10.000 tahanan politik G30S/PKI untuk membangun pertanian lahan basah. Sekali lagi pemerintah melakukan alih fungsi lahan sagu menjadi areal persawahan. Dengan program transmigrasi itu dapat dikatakan bahwa sebagian besar lahan di Indonesia Luar telah beralih fungsi untuk pertanian padi lahan basah. Boleh dikatakan bahwa tujuan pemerintah untuk membina petani agar menjadi petani menetap hanya tersentuh pada sebagian kecil saja dan itupun baru menyentuh petani lahan basah saja sedangkan jutaan petani Indonesia lainnya masih terus mempraktekkan kegiatan pertanian dengan api pada areal kebun yang berlokasi dekat hutan atau areal kebun yang ada di dalam hutan.

 

Api dalam Sistem Bercocok Tanam Tradisional

Pertambahan penduduk dan tekanan lain seperti masalah pangan dan tata ruang pada abad terkini secara tidak langsung akan mangancam kelangsungan sistem pertanian yang sudah berabad-abad umurnya yaitu pertanian ladang berpindah atau tebang bakar. Praktek pertanian ini banyak dilakukan di daerah tropis beriklim sedang. Biarpun daerah dataran rendah tropis kaya akan hujan dan sinar matahari, tetapi sebenarnya daerah ini tidak terlalu produktif, yang sebagian besar akibat sulitnya pengolahan tanah dan gangguan gulma. Sebelumnya metode tebang dan bakar ini juga dipraktekkan secara meluas di daerah sub tropis dan daerah beriklim sedang. Seiring dengan kemajuan peradaban manusia akibat revolusi industri maka belahan sub tropis meninggalkan praktek tebang bakar karena sebagian besar penduduk beralih pekerjaan dalam industri yang dibangun negara. Dengan demikian pekerjaan petani dan buruh tani berpindah menjadi buruh industry pada pabrik-pabrik yang dibangun secara massif. Negara mulai merancang dan menata reforma agrarian dan diberikan kepada para petani yang dididik dan dibina sebagai petani menetap.

Di wilayah tropis seperti Indonesia sementara ini akan menuju ke tahap industrialisasi. Kenyataan terkini menyatakan bahwa masih ada jutaan petani dalam kategori miskin, gurem, dan petani kecil. Ada jutaan penduduk Indonesia yang hidup di desa menyatakan diri sebagai petani namun ironisnya mereka tidak memiliki tanah dan mereka ini lebih cocok disebut sebagai buruh tani dan ada yang tidak bekerja atau lebih tepat disebut pengangguran pedesaan.

Di Maluku sebagai wilayah kepulauan dengan gugusan pulau-pulau kecil masih ditemui kondisi yang umum terjadi pada pedasaan di Indonesia seperti yang kami gambarkan di atas. Yang membedakan dengan situasi di Maluku adalah petani umumnya bivalen yaitu bekerja sebagai petani dan nelayan dalam waktu yang sama. Namun demikian ini hanya terjadi pada petani yang bermukim pada daerah pesisir pantai. Jika petani bermukim pada wilayah pegunungan maka hanya memangku satu pekerjaan sebagai petani saja dan jumlahnya tidak lebih dari 10%. Dengan demikian hampir semua petani di Maluku (90%) adalah bivalen dan mereka masih mempraktekkan sistem bercocok tanam tradisional dengan menggunakan api untuk membuka lahan pertanian.

Hal yang unik terjadi pada wilayah Maluku Barat Daya tepatnya di Pulau Kisar, petani di sana tidak mengenal api untuk membuka lahan pertanian. Dalam sistem kemasyarakatan dan adat budaya telah tersusun suatu norma bahwa api dilarang untuk digunakan dalam membuka kebun baru. Mengapa ? Orang Kisar sebagaimana diketahui bermukim pada suatu wilayah dimana ekologi pulau tersebut didominasi oleh pegunungan yang berbatu dengan padang rumput yang luas (sabana) serta musim kering yang panjang. Manusia, ternak dan tanaman jagung serta biji-bijian yang lain (misalnya kacang) adalah suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Pulau Kisar telah menjadi pengekspor ternak ke wilayah lain di Maluku dan wilayah perbatasan seperti Nusa Tenggara dan Negara Timor Leste.

Di Pulau Buru dan Seram serta pulau lainnya di Maluku masih secara intensif mempraktekkan tebang dan bakar. Kearifan lokal masyarakat juga tak terpisahkan dalam melakukan praktek ini. Orang Bupolo, masyarakat asli di Pulau Buru sebelum membakar kebun baru mereka biasanya membuat batas dimana api tidak akan melewati pada areal yang ingin mereka bakar. Batas antara areal yang dibakar dengan areal yang lain selebar 1 (satu) meter dan ini disebut eskihik boli hawa. Pulau Buru sebagai penghasil minyak kayu putih, di sana terdapat hamparan pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies asli dan plasma nutfah pulau Buru (Pattinama, 2005).

Formasi pohon kayu putih yang luas pada wilayah pegunungan biasanya pada waktu tertentu dibakar secara sengaja oleh orang Bupolo, tujuannya untuk mendapatkan tunas atau daun yang masih muda. Jadi formasi kayu putih yang tumbuh pada pegunungan di Pulau Buru tumbuhnya tidak lebih dari 1 (satu) meter. Ini cara termudah agar mereka bisa memanen daun atau tunas yang masih muda dan selanjutnya disuling menjadi minyak kayu putih. Lapisan cambium pada batang kayu putih yang terbakar tidak mati karena dilapisi oleh kulit kayu putih yang tebal. Selain itu sistem perakaran pohon kayu putih sangat kokoh dalam tanah sehingga tidak akan mati walau terjadi pembakaran. Hal ini sama dengan tanaman Imperata cylindrica atau alang-alang. Pengetahuan lokal yang sama juga berlaku di pulau Saparua dimana petani saat mau membuka kebun baru selalu menggunakan api dan sebelum api dinyalakan, mereka juga membuat pemisah dengan areal yang diharapkan tidak boleh dilewati api. Ini disebut dengan istilah asalae.

Tentunya daerah yang lain di Maluku dan juga di Indonesia mempunyai pengetahuan dan kearifan lokal dalam hal penggunaan api untuk bercocok tanam secara tradisional. Secara ekologi penggunaan api tidak dapat dibenarkan, namun pada suku bangsa tertentu yang mendiami wilayah dengan tanaman yang khas seperti padang alang-alang, misalnya di daearh Batak, Sumatera Utara, para petani selalu menggunakan api untuk membuka lahan pertanian. Ini yang disebut dengan hidden rationality dari petani dengan sistem bercocok tanam tradisional.

 

Manusia dalam Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Yang menarik dari workshop ini adalah diskusi tentang peranan manusia dalam penciptaan pemanasan global dan perubahan iklim. Maluku dan Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan sangat rentan dalam setiap perubahan iklim. Namun yang tidak menjadi bahan diskusi secara mendalam adalah bagaimana kaitannya dengan iklim lokal yang mendominasi kepulauan Maluku ini. Kita sepakati bahwa bumi adalah sebuah rumah yang besar. Adanya ketidak-seimbangan pada satu sisi rumah maka secara total akan mempengaruhi kestabilan rumah tersebut. Untuk itu penghuni rumah harus memiliki kesadran yang tinggi untuk memanfaatkan setiap ruang yang ditempatinya. Jika setiap ruang diberi kebebasan untuk menggunakan api dan kayu bakar untuk menghangatkan badan kemudian tidak ada regulasi yang mengatur pembakaran pada setiap ruang dalam rumah besar itu, maka dapat dibayangkan bahwa asap dari pembakaran itu akan memenuhi rumah tersebut dan dari situ akan mempengaruhi manusia yang berdiam di dalamnya. Kami berpendapat bahwa terlalu sederhana memberi symbol rumah besar. Dalam alam yang nyata maka semua ruang dan waktu akan memberikan sumbangan menuju keseimbangan yang sempurna. Ada pepatah yang mengatakan bahwa relasi biotik dan abiotik di alam sangat sederhana diuraikan menuju kesetimbangan yang sempurna sedangkan jika dibandingkan dengan relasi antar manusia diibaratkan sangat kompleks dan pasti akan memberikan dampak pada penghancuran di alam.

Kami berpendapat bahwa Maluku dengan iklim lokal, maka keseimbangan pertukaran antara Oksigen dan Karbondioksida bukan saja diperoleh dari areal hutan atau darat namun demikian wilayah laut pun akan menyumbangkan pertukaran energi tersebut. Untuk itu ulah manusia seperti yang telah kami uraikan pada bagian terdahulu tentang manajemen api, maka seyogyanya harus mendapat perhatian yang serius.

Dalam workshop tersebut ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memperkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim. Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah. Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema workshop ini ?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah tidak mmebiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam worshop tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental.

Apakah api yang menyulut pemanasan global dan perubahan iklim masih dimainkan oleh mereka (92,54%) yang tidak memahami issue global ini ? Yang jelas bahwa yang menamatkan pendidikan tinggi mempunyai banyak kesempatan untuk meraih puncak karier dan kesuksesan memperoleh jabatan penting di birokrasi pemerintah dan swasta. Jika kesempatan di birokrasi itu tertutup, maka bisa saja yang menamatkan pendidikan tinggi itu menciptakan ruang baru untuk lebih memanusiakan manusia atau menciptakan ruang untuk menghancurkan manusia. Semua tindakan manusia di atas akan memberikan dampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Tidak berhenti sampai disitu, ternyata yang menamatkan pendidikan tinggi juga akan menciptakan pola hidup yang baru. Itu artinya akan diikuti dengan gaya hidup yang baru sehingga tuntutan pemenuhan hidup juga akan meningkat. Jumlah mobil yang dimiliki, rumah yang mewah dengan kelengkapan asesori pendingin ruangan dan berbagai macam pengharum tubuh dan ruangan yang harus tersedia. Jika diteliti dengan mendalam maka komponen ini juga memberikan sumbangan terbesar dalam pemanasan global dan perubahan iklim.

Di Indonesia kemacetan lalu lintas akibat berjubelnya kenderaan tidak mampu terurai dengan baik dan cenderung membangun infrastruktur jalan sebagai pemecah persoalan kemacetan. Padahal saat pembangunan jalan dituntaskan maka bertambah pula jumlah kenderaan yang setiap hari mengeluarkan gas beracun ke alam. Hal yang sama bahwa belum ada perencanaan nasional tentang struktur bangunan yang disyaratkan untuk hemat energi listrik. Kita yang hidup di wilayah kepulauan baik yang mendiami wilayah pesisir pantai maupun yang mendiami wilayah pegunungan telah dianugerahi energi angin dari alam yang berhembus setiap hari dan energi cahaya matahari, namun demikian yang terjadi adalah membangun konstruksi rumah yang tertutup sehingga perlu menggunakan energi listrik untuk cahaya dan untuk pendingin ruangan.

Secara tidak arif telunjuk kita akan mengarah kepada mereka yang hidup di pedesaan dengan pendidikan yang rendah bahwa mereka telah salah dalam manajemen api sehingga terjadi kebakaran hutan, walaupun itu dilakukan oleh para pengusaha perkebunan besar yang karena hitung untung dan rugi lebih dikedepankan maka menyulut api adalah jalan yang terbaik.

 

Epilog

Ada pepatah Perancis yang mengatakan bahwa « Les gens qui ne soufflent pas le feu bien alors il va juste mâchent la farine sur sa bouche », orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Ini sebuah gambaran hidup dengan analogi tiup api. Api adalah energi yang mengubah bahan mentah menjadi masakan enak. Api itulah yang mengubah tepung menjadi roti. Dari api, segala sesuatu dapat terhidang di meja makan. Singkatnya, untuk menikmati masakan yang enak atau roti yang matang maka harus meniup api agar tetap menyala.

Pada sisi yang lain api pun bisa membumihanguskan manusia dan sekitarnya. Manusia akan menjadi tak berdaya apabila lingkungan menjadi rusak dan yang fatal lagi akibat ulah manusia maka terjadi perubahan pemanasan global yang dampaknya pada perubahan iklim. Siklus manusia dan lingkungan akan cepat berubah seiring terjadinya perubahan iklim global.

Maluku dengan bertahtakan gugusan pulau-pulau kecil dan memiliki karakteristik yang unik dengan daerah lain di Indonesia dimana terdapat iklim lokal, maka perlu ada penelitian yang mendalam bahwa laut dan darat di Maluku bisa menyumbangkan perputaran energi yang harmoni antara oksigen dan karbondioksida.

 

Daftar Pustaka

Aumeeruddy Yildiz, 1994, Représentation et Gestion Paysannes des Agroforêts en Périphérie du Parc National Kerinci Seblat á Sumatra, Indonésie, UNESCO, Paris.

Dove Michael R. dan Martopo Sugeng, 1987, Manusia dan Alang-alang di Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogya.

Irwanto, 2015, Kebakaran Hutan dan Lahan, Makalah, Ambon.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus J. 2005. “Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen ” Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue “. Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle.” Pp. 354. Paris

Presentasi Makalah pada Workshop Ahli Perubahan Iklim Regional Maluku dan Maluku Utara, dengan thema :Perubahan Iklim dan Pulau-Pulau Kecil. Ambon 2 Juni 2016.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon

[2] Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon.

Resource Potential Of Snake Fruit (Salacca zalacca var Amboinensis) And Canary (Canarium Amboinense) In The Life Of Seram Island Society, Moluccas

salak-kenari

Marcus J. Pattinama1*), Aryanto Boreel1), Jane K. J. Laisina1), and Handy E.P. Leimena2)

1) Faculty of Agriculture, Pattimura University, Ambon, Indonesia

2) Faculty of Science, Pattimura University, Ambon, Indonesia

*) Corresponding author:mjpattinama@gmail.com

 

 

AbstractStrategic issues in this research are food security and poverty alleviation in the life of society in Ceram island who called themselves Alune People and Wemale People. They stated that snake plant and canary are endemic and native plants in this region. This is because both of these commodities have been around since ancient times can not be separated in their lives and  cultures. Thus the potential of the plant needs to be known for the economic development of this region, but also the tradition of community life should be studied in relation to both commodities through traced study in ethnobotany. Found in the field in addition to the ivory-colored snake fruit fruits, is also red snake fruit. The issue of food security and poverty alleviation can then be solved by strengthening the development of agribusiness basis of snake fruit and canary, where the idea is an effort to strengthen the bargaining position of the society in Ceram Island in Maluku where traditional farming systems are still being practiced. This means that this two commodities is growing through the mediation of the animals in the forest and there is no action by human cultivation. Snake fruit commodity in Ceram island has been established by the Decree of the Minister of Agriculture republic of Indonesia in 2003 as National Superior variety, but the fact is that the development of the cultivation is poor  and production  could not be relied upon as an industrial raw material. The objectives of this research was to make both commodities as superior commodities which have economic added-value that deserved by Ceram communities.

Keywords—food security, snakefruits, canary, seram island

I.     INTRODUCTION

1.1.  BACKGROUND

Society as dynamic social problems continue to be influenced by both external and internal factors . Case study in ceram island tried to present how  resistanc of indigineous people (Alune and Wemale People ) reacts to enclose  various external influences, starting with the presence of migrants from Java island in 1954 at Kairatu . On the other hand, Ceram people feel threatened because their property right to their land  had been deprived due to geopolitical issues that are not necessarily well understood by neither the migrants nor by the Ceram people. Later on, the presence of forest exploitation by logging companies and plywood mills . Are there benefits to Ceram people ? They have not been able to work in this industrial sector, and eventually  ceram people become isolated and inferior.

Understanding society and solving social problems is not a simple concept . This means that participation of universities as Unpatti is needed to give more significantly contribution through  research and community service  that is well planned and aplicable.

Ceram people who live in the mountains have abundant natural resources such as canary and snake fruit commodities.  Both of these plants grow wild in the forest. Although in 2003 the Ministry of Agriculture Republic of Indonesia has been given an official certificate to “Salak Riring” as national superior variety, however what does it mean to them? if it does not provide a significant economic impact. All Ceram people have a dream that when canary and snake fruit became famous for having a distinctive flavor with good packaging. Pillar agribusiness from upstream to downstream must be built to ensure the stock of market demand, good product quality and guarantee of an open market for their products.  The emergence of supermarkets in Ambon city and soon will be reaching Ceram island is an economic opportunity that  must be anticipated. It will be linked to the concept and model of community empowerment that should be pursued seriously.

 

1.2. OBJECTIVES AND ADVANTAGEOUS OF THE RESEARCH

                Recently multidisciplinary research is needed to solve many environmental problems which intersect with social problems. Issues that has not been completely addressed until now are the problems of poverty and food security. Both of these issues will greatly affect the pattern of environmental management in both rural and urban areas.  The objectives of this research was to find a package of technologies that able to improve the productivity and product quality, such as the appropriate technologies to unshelled canary fruit  and how to make snake fruit commodity towards snake fruit chips industry.  Then build agribusiness pillar of canary and snake fruit  that start by managing the upstream production of raw materials as well as setting up downstream  with the post-harvest technologies based on domestic industry.

This study was expected to provide benefits for building families economic and poverty alleviation. In addition it will also provide reinforcement to the concept of food security in the community so that snake fruit and canary can provide energy to the community to sustainthe level of food sufficiency.

I.     methods

This research is a review of participatory acts (participatory action research). In this case, this research used a systemic approach with focused discussion, field observation and in-depth interviews. Questionnaire instruments were used in the survey.  Focussed discussions was conducted by interviewing government officials , traditional leaders and key respondents in each  kinship group.  This was done to look for information related to customs and land tenure which generally not certified yet customarily recognized as well as  social economic  capitals which are  still subsistence. Aspects being observed this research were Ethnobotany, Culture techniques  (Land Systems , Plant Cultivation , Agroclimate ) and  Post Harvest Technology. Observations were also done on Economic and Social aspects and  data collection of  the potencial of commodities

II.     data analyses and interpretation

These five research areas (Uweth , Buria , Riring , Rumahsoal and Lohiasapalewa villages)  included in the District  Taniwel, West Seram Regency, Maluku Province. Located in the mainland and only separated by a river and mountains. The research area is  located in isolated mountainous areas.

 

 

 peta-maluku

 

Figure 1. Map of Moluccas; Field Study Seram Island

 

Accesibility of a region is  affected the region development significantly, where regions with high levels of accessibility has a faster rate of development compare to  the region with lower accessibility. Accessibility to the research site is difficult since it should be reach by walking in long distance, except for Uweth village which located on the coast within 3 ( three ) Km to the capital of the Taniwel District.

Population in the study area are mostly natives of the Alune tribe. Data of  registered population in 2011, with a population density of 18.98 people per km2.

TABLE I.

POPULATION DENSITY IN RESEARCH AREA IN 2011

Village

Household

Number of population

Total

Male

Female

Uweth

75

205

167

372

Buria

120

312

350

662

Riring

172

393

352

745

Rumahsoal

47

134

127

261

Lohiasapalewa

58

157

137

294

Based on the observed data in the field in the village monograph, the percentage of the working age population in the Buria village showed the highest number followed by Riring, Uweth , Rumahsoal and Lohiasapalewa villages . The population of productive age in the study area is very large , however it can not be denied that not all residents of this age are working or have a job . Education of the head of family in the region dominated by the primary school level . Agriculture is the main livelihood of the population in the study area , while the non-agricultural sector occupied only by a small portion of the population in the region (Pattinama, dkk, 2013).

Social relations in the society is still well established, it could be seen from the culture of helping each other, which is still maintained until now. Traditional institutions in the form of local knowledge in the study area which are still carried from generation to generation is environmental ”SASI”. In practice, the opening of SASI by farmers is marked by a splash of water fortified with prayers by religious leaders ( pastors ) with rules that have been agreed institutionaly. Thus the people in the study area generally have awareness of and benefit from the natural resources available. This does not mean that society / the locals closed to the presence of technology or changes comes from outside, but the people believe the natural environment should be maintained  for the sustainability of  biological resources for future generations (Pattinama, 2007)

                Canary is one of native commodity in Maluku province with huge potency. The problems encountered today is the unavailability of sufficient data to describe the distribution of  its potential in the Maluku . This research was conducted as  an effort to develop a  canary potential in a few villages in the mountainous region in the district of Taniwel, West Seram  Regency.

Data collection of canary potential  was done by purposive sampling based on the distribution of canary found at the reseacrh sites.  Lines of observations was made and adjusted to the local topography . In those lines of observations  a plot size of 20 meters x 20 meters was made and the dimensions of canary tree including diameter and height were measured and recorded.

Based on the results of an inventory conducted at the research site, it was found that  the most canaries tree was found in Riring village as many as 81 trees/ha, followed by 57trees/ha in  Uweth village.  Distribution of the least canary trees was found in the village of Rumahsoal as much as 23 trees / ha. Distribution of tree diameter measured on research site ranged from 11.5 cm to 134.4 cm and the height of tree without branches can reach 30 meters. The calculation of the volume of canary trees showed that volume of tree without branches ranged from 36.621 m3/ha to 298.882 m3/ha. Data inventory of potential locations of canary trees in the study area was presented in Table 2.

TABLE II.

INVENTORY OF POTENCY OF CANARY TREE IN RESEARCH AREA

No

Village

Number of Tree (N/ha)

Diameter

(cm)

Heihgt

(m)

Volume*)

(m3/ha)

1.

Uweth

57

11,5 – 122,5

10 – 30,4

79,011

2.

Buria

28

20 – 105

9 – 25

36,621

3.

Lohiasapalewa

50

21,5 – 63,5

5,5 – 12,6

44,309

4.

Rumahsoal

23

54,2 – 149,8

7,3 – 22,5

232,265

5.

Riring

81

42,5 – 134,4

10,6 – 22,7

298,882

*) Tree volume without branches.

It had been shown in table 2 that the canary trees found  in research areas  have a large  size, so that the utilization of timber and fruit will be very valuable (Djandjouma, dkk, 2006). However,  the sustainability of results and continuity of production should be maintained , through silvicultural measures in accordance with the carrying capacity of the land.

 salak-kenari

         (a)                                                        (b)

Figures 2. Canary (a) and Snake Fruit (b)

Snake fruit is one of essential commodity for mountain communities in the study areas. Data collection of snake fruit potency was collected using purposive sampling by considering the presence of plant distribution at the study site. In the areas where snake fruit tree were found Lae plots of 20 meters x 20 meters or 400 m2 was made and observations was done on the trees.

From the results of the inventory of snake fruit in research area, the highest number of trees of 293 clumps was found in Rumahsoal village , followed by  225 clumps in  Buria village. The lowest number of trees of 48 clumps was found in Lohiasapalewa village  in Uweth village snake fruit trees were not found. When viewed from the average number of clumps per hectare , Riring village had the highest number which was 3450 and 4000 clumps / ha , followed by Rumahsoal village as  many as 1465  clumps / ha . Lowest number of clumps found in the village of Lohiasapalewa  which was 415 clumps/ha . Inventory data of potency of snake fruit tree at the study site is shown in Table 3 (Pattinama, dkk. 2012)

TABLE III.

INVENTORY OF POTENCY OF SNAKE FRUIT TREE IN RESEARCH AREA

No

Village

Number of Tree

(Clumps)

Number of Clumps per Plot*)

Average Number of Clumps

(R/ha)

1.

Uweth

 

 

 

2.

Buria

225

20 – 100

1406

3.

Lohiasapalewa

48

1 – 79

415

4.

Rumahsoal

293

42 – 73

1465

5.

Riring

138**); 160***)

138**; 160***)

3450**); 4000***)

*) Size of sample plot (20 x 20) m, **) Red Snake Fruit, ***) Ivory Snake fruit

Potency of snake fruit tree in Lohiasapalewa village was low due to the distribution of plants which was very few , and only owned by a few farmers which were parents or ancestral heritage. On the other hand, most people have not been interested in planting and cultivating of  snake fruit crop (Sudaryono, 1993).

III.     Conclusion

Ceram People in inland of Ceram island is a shifting  land communities, who are forest gatherers, living isolated and completely depend on nature. Nature is a laboratory of their lives in the past ,  present and in the future .

Ceram people living in harmony with nature . Knowledge to manage environment was carried on from generation to generation by verbal description only.  Obedience to nature form point of view that the universe is something which gave inspiration to deliver the concept of holistic and concept of totality in managing resources and their interactions with other living things. That means that the whole concept of the life space that mountain , beach and the sea are inseparable . This understanding begins with their very strong views to the concept of mountain and wate , which deliver  the concept of an orderly way of life and to continue to be believed from one generation to the next.

From long fallow cultivation, it appears that they have the wisdom to manage natural resources as a source of food for life.  The diet of Ceram people describe that they are relatively not lack of food . Even the type of food consumed  have  high carbohydrate (sago) , protein ( pork , Kusu , deer , shrimp and fish ) as well as other vitamins ( vegetables) .

If the measure of poverty used is based on the ability to fulfill family food consumption , then the ceram people is not included in the category of the poor. Poverty of Ceram people  as a autcton resident and so did other alokton population residing on the island of Seram, is a  feeling of isolated due to  mechanisms , systems , and regional and national government policies which in turn makes them shackled in that isolation . Yet the reality on the field proves both autocton and alocton  residents are people who are not isolated , because they are always in touch with the outsider because of the trade . For example, they can communicate regularly with inter-island traders and other migrants who came freely use sea transportation.

So the traditional economic pillars of Ceram people is relatively strong and indigenous kinship system is still maintained because of their orientation to the cosmology world. Ceram island in the shape of a woman body and all of her organs is representatived by territory which is clearly divided and controlled by each kinship . That way it will ensure the orderly of their lives for the sake of exhausting work to the life of  the island called Ceram . Obedience to the tradition because there is a strong accord that is the orientation of the whole universe and not partial so all must be protected simultaneously and at the same time also constructed system of norms to regulate the whole order of life . Therefore, the traditional economic pillars of Ceram people  increasingly strengthened so that they become obedient to the their customs.

References

[1]     A.K.A. Dandjouma, C. Tchiegang, J. Fanni and M. Parmentier, Changes in Canarium schweinfurthii Engl. oil quality during microwave heating . Resecrah Paper.  European Journal of Lipid Science and Technology.  108 (5): 429-433, 2006.

[2]     E. Kriswiyanti, I. K. Muksin, L. Watiniasih Dan M. Suartini, Pola Reproduksi Pada Salak Bali (Salacca zalacca Var. Amboinensis (Becc.) Mogea). Jurnal Biologi XI (2): 78-82. 2008

[3]     M.J. Pattinama, dkk, Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku : Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti. 2007.

[4]     T. Sudaryono, S. Purnomo, M,. Cultivar distribution and estimation of area development of Salacca (in Indonesian). Penel. Hort., 5, 1-4. 1993

[5]     M.J. Pattinama, H.E.P. Leimena, A. Boreel and J.K.J. Laisina, Pengembangan Agribisnis Komoditas Kenari (Canarium amboinense) dan Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Sebagai Upaya Memantapkan Posisi Tawar Ekonomi Serta Memperkuat Ketahanan Pangan Bagi Masyarakat Wilayah Pegunungan di Maluku. Laporan Penelitian Penprinas MP3EI. 2012

[6]     M.J. Pattinama, A. Boreel, H.E.P. Leimena, and J.K.J. Laisina, Pengembangan Agribisnis Komoditas Kenari (Canarium amboinense) dan Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Sebagai Upaya Memantapkan Posisi Tawar Ekonomi Serta Memperkuat Ketahanan Pangan Bagi Masyarakat Wilayah Pegunungan di Maluku. Laporan Penelitian Penprinas MP3EI. 2013.


 

The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities

SALAK

The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities to Strengthen the Bargaining Position of the Economy as well as Efforts to Enhance the Food Security Program for Alune Society in Seram Island

Marcus J. Pattinama, Aryanto Boreel, Jane K.J. Laisina, Handy E.P. Leimena

 Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon

 Email: mjpattinama@voila.fr

 

 Abstract

The concept of management and conservation of natural resources, developed by researchers, academics and intellectuals often produce a complex definition. The concept is increasingly biased if there are particular interests and often manipulated by politicians and capitalists. The fact that the concept of a traditional society in the utilization and preservation of the environment is a very simple concept to understand. The concept was developed from generation to generation and we call local wisdom. Academically should be recognized that local knowledge can not be kept in a museum but it should be more social capital for improving society. The combination of local wisdom or traditional knowledge will have an impact on social engineering without leaving sovereign rights to the resources. Advances in technology and concepts of modern economics in agribusiness aimed at the competitive and negotiated with the external world. This is to reduce poverty and isolation. If this is realized, they will have the economic bargaining power, as a result of an increase in human resources through education.

 

Introduction

Memahami masyarakat dan memecahkan permasalahan sosial bukanlah suatu konsep yang sederhana. Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh orang Alune sejak dahulu hingga saat ini yaitu masalah tanah yang diperuntukkan untuk program nasional transmigrasi guna memindahkan penduduk dari pulau Jawa ke dataran Kairatu sejak tahun 1954. Program pembangunan ini telah memberi dampak ekologi yakni berkurangnya areal tanaman sagu karena telah berubah fungsi lahan menjadi sawah. Kemudian persoalan berikutnya adalah hadirnya perusahaan eksploitasi hutan untuk mengambil kayu. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya rehabilitasi hutan yang gagal dilakukan sehingga yang terjadi adalah makin menurunnya vegetasi pohon di hutan. Persoalan terkini yang terjadi adalah aktivitas eksploitasi tambang untuk mengambil nikel dan emas. Dampak yang akan terjadi adalah dimulai dari pencemaran air, baik di sungai maupun air dalam tanah, oleh aktivitas tambang rakyat yang menggunakan bahan kimia secara tidak terkontrol. Bersamaan dengan aktivitas pertambangan,maka terjadi pula penggalian tanah secara besar-besaran sehingga mengurangi lahan produktif untuk aktivitas pertanian.

Harus jujur dikatakan bahwa aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini belum melibatkan orang Alune yang tinggal di wilayah pegunungan pulau Seram. Fasilitas transportasi darat belum maksimal, akibatnya habitat tempat tinggal mereka menjadi wilayah yang terisolir. Orang Alune melakukan aktivitas pertanian skala subsisten dan aktif meramu hutan untuk mencari damar (Agathis dammara), rotan (Daemonorops spp) dan kemiri (Aleurites moluccana).

Orang Alune juga memiliki sumberdaya alam yang lain seperti komoditas kenari dan salak. Umumnya kenari tumbuh secara liar di hutan tanpa campur tangan manusia. Hewan yang hidup secara bebas di hutan misalnya babi hutan, burung dan kelelawar yang menjadi perantara untuk penyebaran bibit kenari. Sedangkan komoditas salak dibudidayakan oleh orang Alune dan formasi tanaman ini selalu dibawah naungan pohon kenari. Secara alamiah orang Alune paham bahwa tanaman salak akan tumbuh dengan baik diantara tanaman–tanaman lain yang mempunyai strata tajuk lebih tinggi. Salak juga tumbuh dan menyebar pada daerah – daerah aliran sungai. Jadi di lokasi pengamatan ditemui bahwa salak lebih banyak ditanam di bawah pohon kenari, durian (Durio zibethinus) dan salawaku (Paraserianthes falcataria, L).

Tahun 2007 tim riset dari Fakultas Pertanian Unpatti Ambon mengamati perkembangan tanaman salak pada empat desa (Riring, Rumahsoal, Lohiasapalewa dan Manusa) yang berlokasi di wilayah pegunungan pada kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat. Luas tanaman salak di desa Riring adalah 301 hektar. Luas areal yang hampir sama dengan Riring adalah Manusa. Dua desa lain miliki luas lahan salak di bawah 100 hektar.

Salak dibudidayakan di beberapa daerah di Maluku seperti di pulau Ambon (Soya, Hatalai, Wakal, Amahusus dan Hative Besar) dan pulau Seram. Salak Riring (Salacca zalacca var Amboinensis) merupakan salah satu kultivar salak yang diduga merupakan tanaman asli di Maluku. Salak ini masih satu varietas dengan salak Soya dan salak Bali (Leatemia, dkk. 2007). Varietas ini dibedakan dari salak Jawa (Salacca zalacca var. Salacca) berdasarkan ukuran buah, bentuk buah, pola sisik pada kulit buah, ketebalan daging buah, tekstur buah, rasa buah, bentuk vegetatif tanaman (khususnya daun). Dinamakan salak Riring karena kultivar ini banyak tumbuh di desa Riring.

Tahun 2003 Menteri Pertanian RI memberikan penghargaan berupa surat akte atau sertifikat kepada Salak Riring sebagai varitas unggul nasional. Penghargaan ini diberikan untuk menyatakan bahwa salak ini memiliki sifat khas secara botanis dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di Maluku penghargaan yang sama tahun 1989 juga diberikan kepada tanaman durian Soya (Durio zibethinus) dan jeruk Kisar (Citrus nobilis).

Bagi masyarakat tradisional yang mendiami wilayah kepulauan Maluku, termasuk didalamnya orang Alune, dalam kehidupannya sehari-hari memiliki hubungan yang erat dengan alam di sekitarnya. Hubungan tersebut tercermin dalam pola hidup adaptasi dengan kondisi lingkungannya, misalnya cara berburu, memancing dan bertani. Teknik adaptasi tersebut tentu saja coraknya akan berbeda dari satu habitat ke habitat lain, dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Semua perbedaan tersebut disebabkan oleh kondisi lingkungan alam dan aspek sosial budaya yang berbeda.

Penelitian orang Alune dimulai dengan memahami konsep pertanian yang mereka praktekkan yaitu sistem pertanian campuran antara tanaman hutan (buahan – non buah) dan tanaman pertanian lain (pangan dan hortikultura). Model ini yang kita sebut sebagai agroforestry tradisional. Nama lokal dari system ini di pulau Seram disebut lusun, sedangkan di wilayah lain mengatakan dusung (Pulau Ambon dan Lease), wasilalen (Pulau Buru) dan etuvun (Pulau Kei). Model agroforestri (wanatani) tradisional yaitu merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika dibayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani campuran ke pola usahatani monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai, rusaknya tanaman daerah pantai (=mangrove) dan rusaknya daerah terumbu karang.

Kita harus akui bahwa apa yang telah dipraktekan masyarakat dalam berusahatani adalah pilihan yang sangat rasional, maka untuk memberdayakan ekonomi masyarakat seyogyanya dimulai dari konsep yang telah mereka kerjakan dan telah teruji dalam praktek mereka sehari-hari. Hal penting yang harus dilakukan oleh para peneliti adalah membantu petani untuk mengidentifikasi potensi yang mereka miliki. Potensi dimaksud adalah berapa banyak varitas pohon kenari, jumlah tegakan pohon kenari dalam hutan dan bagaimana interaksi antara kenari dan salak. Menurut Leatemia cs, 2007 bahwa tanaman salak di Pulau Seram adalah varitas yang berumah satu. Ini berarti hermaphrodit dimana bunga jantan dan betina berada pada satu rumpun. Jadi tidak perlu dilakukan perkawinan pembungaan dengan bantuan manusia. Secara alami salak Riring akan berbunga dan berbuah.

Jika kedua komoditas ini memiliki keunggulan yang luar biasa maka hal penting berikutnya adalah harus memahami dengan benar status pemilikan tanah yang berlaku di masyarakat. Tanah adalah bukan milik perorangan, tetapi dikuasai secara komunal dalam sistem kelompok kekerabatan (clan). Data ini harus akurat di lapangan karena ada kaitannya dengan perluasan pertanaman jika ingin membenahi bagian hulu dari sistem agribisnis.

Permasalahan pada bagian hilir agribisnis dari kenari dan salak adalah kurangnya aspek introduksi teknologi dan aspek pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan komoditas spesifik. Hal itu berarti bahwa kenari dan salak adalah komoditas andalan bagi suatu daerah. Komoditas andalan bermakna hanya tumbuh dan berkembang dengan baik karena dukungan kondisi tanah dan iklim lokal di daerah tersebut. Produktivitas dan mutu hasil sangat spesifik lokal yang tidak dijumpai di daerah lain.

Masyarakat pegunungan di Pulau Seram harus memiliki kedaulatan pangan pada komoditas kenari dan salak. Kedaulatan pangan dimaksud akan mengangkat tingkat kehidupan mereka dan itu hanya dapat dicapai apabila ada nilai tambah dari komoditas tersebut dalam hidup mereka. Kedaulatan pangan sebenarnya ada kaitannya dengan hak asasi manusia. Jadi pengembangan komoditas pertanian tidak dapat dipisahkan dari pengembangan peradaban manusia. Jika ini semua tercapai maka kita telah menciptakan program kecukupan pangan bagi masyarakat yang hidup disekeliling sumbaerdaya alam yang melimpah dimana selama ini belum dioptimalkan untuk diberdayakan. Apa artinya memperoleh piagam penghargaan sertifikat nasional untuk mengkategorikan salak sebagai komoditas nasional ? Begitupun kenari adalah tanaman asli dari Maluku ? Untuk itu pendekatan yang konvensional tidak bisa diandalkan dalam memberdayakan orang Alune. Dibutuhkan pendekatan etnobotani untuk bisa memahami rasionalitas tersembunyi dari orang Alune, sehingga suatu saat nanti komoditas kenari dan salak akan memberikan kontribusi bagi pendidikan generasi muda orang Alune. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat orang Alune tidak merasa inferior dalam perkembangan teknologi saat ini.

 

Informasi Lokasi Riset dan Demografi

Riset ini dilaksanakan di desa Uweth, Buria, Riring, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Secara administratif termasuk dalam kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku (Map 1). Kelima desa ini berada dalam satu daratan dan hanya dipisahkan oleh sungai dan gunung. Akses transportasi ke lokasi studi masih sulit, karena harus ditempuh dengan berjalaan kaki dalam jarak yang cukup jauh, kecuali Desa Uweth yang letaknya di pesisir pantai yang berjarak 3 (tiga) Km ke ibukota Kecamatan Taniwel.

Wilayah studi memiliki fisiografi bergunung dengan ketinggian rata-rata 400 – 725 m dpl dengan kemiringan lereng dominan > 45 %. Namun terdapat areal yang memiliki kemiringan lereng < 30 % dengan luasan yang sempit dan tersebar secara sporadis terutama pada punggung atau puncak gunung serta pada dataran sepanjang dekat aliran sungai.

Pulau Seram mempunyai pola iklim  dengan karakteristik yang berbeda–beda menurut ruang dan waktu, terutama sebaran dan jumlah curah hujan. Curah hujan pada musim basah tercatat > 200 mm dan bulan kering < 100 mm.

Penduduk di wilayah studi sebagian besar adalah penduduk asli dari suku Alune. Data registrasi penduduk tahun 2011 pada wilayah riset disajikan pada tabel 1, dengan tingkat kepadatan penduduk 18.98 jiwa per km2.

 

Tabel 1.  Keadaan Penduduk di Wilayah Studi Tahun 2011

Desa

KK

Jumlah Penduduk

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

Uweth

75

205

167

372

Buria

120

312

350

662

Riring

172

393

352

745

Rumahsoal

47

134

127

261

Lohiasapalewa

58

157

137

294

 

            Berdasarkan data yang diobservasi di lapangan pada data monografi desa, maka persentase jumlah penduduk usia kerja di desa Buria menunjukkan jumlah terbanyak disusul desa Riring, Uweth, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Jumlah penduduk usia produktif di wilayah studi sangat besar, namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa tidaklah semuanya penduduk usia ini sudah bekerja atau memiliki pekerjaan. Pendidikan terakhir kepala keluarga pada wilayah didominasi oleh tingkat sekolah dasar. Sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama penduduk di wilayah studi, sedangkan sektor non pertanian hanya ditekuni oleh sebagian kecil dari jumlah penduduk pada wilayah tersebut.

 

Pulau Seram

 

Map 1 . Pulau Seram dan Teritorial Alune di Kecamatan Taniwel

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Seram, dapat dibedakan antara penduduk asli (Alifuru Seram) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang yang sebagian besar di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah penduduk pendatang dilaporkan relatif lebih banyak dari Alifuru Seram. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Seram (Gambar 1). Kesatuan hidup dari orang Seram adalah soa (clan). Masing-masing soa mempunyai nama yang diwariskan secara patrilineal.

Gambar 1, menyajikan bagan tentang bagaimana Alifuru Seram membagi penduduk dari sisi pandang mereka. Alifuru Seram adalah mereka yang mengaku penduduk asli dan pemilik Pulau Seram. Sebagian besar dari mereka mendiami daerah pegunungan. Kelompok autokton ini terbagi atas dua kelompok yaitu Alifuru Gunung dan Seram Pantai. Penyebutan gunung dan pantai adalah wilayah tempat tinggal mereka. Ada ciri pembeda dari kelompok ini yaitu yang tetap mempertahankan garis perkawinan dalam internal Alifuru Seram menyandang gelar Alifuru Gunung yang terbagi dalam Orang Alune dan Orang Wemale. Sedangkan memilih kawin di luar kelompok mereka disebut Seram Pantai.

Penduduk alokton (Pendatang) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Seram beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Seram karena perdagangan rempah dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh pedagang Cina. Suku Buton tinggal di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Suku Jawa dan Bali bermukim karena adanya program nasional transmigrasi.

 

orang-seram

 

Figure 1. Penggolongan Penduduk Pulau Seram menurut Orang Alifuru Seram

 

Pendekatan Etnobotani dan Koleksi Data

Penelitian etnobotani yang dikembangkan oleh penulis merupakan suatu konsep pendekatan permasalahan dari segi etnologi dan botani dimana pendekatan ini sudah banyak dilakukan di Indonesia terutama oleh pakar etnologi-antropologi dan botani. (lihat penelitian dari Roy Ellen untuk masyarakat Nuaulu dan Dyah Maria Suharno untuk masyarakat Alune di Lumoli).

Yang banyak terjadi saat ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing pakar tersebut dan lebih cenderung terpisah-pisah sesuai domain ilmunya. Padahal kalau dilakukan secara interdisipliner tentu akan sangat menarik dimana segi etnologi akan menjelaskan bagaimana hubungan yang erat antara kehidupan suatu kelompok masyarakat dengan sumberdaya alam tumbuhan yang ada di lingkungannya, termasuk didalamnya menjelaskan tentang persepsi dan konsepsi masyarakat itu terhadap dunia tumbuhan yang dikenalnya, cara pengelolaan dan sejarah pemanfaatan. Sedangkan dari segi botani akan menjelaskan penyebaran jenis-jenis tanaman, taksonomi dan klasifikasi tanaman. serta sistem pengetahuan suatu kelompok masyarakat terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan, dan yang utama adalah mengungkapkan perannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya analisis yang digunakan dalam studi etnobotani adalah menggunakan « analisis dalam » dan « analisis luar ». Artinya bahwa analisis dalam akan lebih difokuskan untuk menjelaskan karakteristik dengan mengembangkan konsep yang sudah ada dalam suatu masyarakat sedangkan analisis luar akan menganalisis hubungan antara aspek sosial dan aspek teknik secara interdisipliner.

Penelitian interdisipliner dimulai dengan mewawancarai petani dan melakukan diskusi focus dan pengamatan lapangan dan menggunakan kuesioner. Diskusi fokus dilakukan dengan aparat pemerintah, tokoh adat dan responden kunci pada setiap kelompok kekerabatan. Hal ini untuk mencari informasi terkait dengan adat istiadat dan penguasaan tanah. Data yang dikoleksi terdiri atas :

  1. a.      Aspek Etnologi Botani (Pilar Etnobotani dalam Agribisnis) : Data tema ini dimulai dengan melakukan pendekatan etnobotani yang menjelaskan bagaimana hubungan erat antara adat dan budaya masyarakat dengan sumberdaya alam flora-fauna serta cara memperoleh dan memanfaatkannya, khususnya yang terkait dengan tanaman kenari dan salak.
  1. Aspek Kultur Teknis (Pilar Agronomi dalam Agribisnis)

b.1. Sistem Lahan : data tentang penggunaan lahan untuk kenari dan salak.

b.2. Usahatani, Budidaya Tanaman dan Agroklimat : Data dari aspek ini adalah pola usahatani, sistem budidaya dan potensi tanaman kenari dan salak). Data tentang jumlah tanaman kenari yang dimiliki oleh tiap responden petani. Untuk tanaman salak akan dilakukan sensus untuk mendapatkan data jumlah rumpun salak. Data agroklimat menggunakan data sekunder meliputi data iklim: curah hujan, suhu, lama penyinaran, dan kelembaban udara.

  1. c.       Aspek Teknologi Pasca Panen (Pilar Agroteknologi dalam Agribisnis) : Teknologi mesin pemecah kulit buah kenari. Untuk salak telah ditemui mesin untuk membuat keripik salak.
  2. d.      Aspek Sosial Ekonomi (Pilar Agroniaga dalam Agribisnis) :Dalam analisis aspek pasar data yang diperlukan antara lain : kecenderungan konsumsi atau permintaan masa lalu dan sekarang, dan variabel-variabel yang berpengaruh yang dapat dijadikan dasar perumusan model peramalan pasar potensial di masa yang akan datang. Selain itu pula tingkah laku, motivasi, kebiasaan, dan prevalensi konsumen; serta pemilihan “marketing efforts” yang akan dilakukan dan pemilihan skala prioritas dari marketing mix yang tersedia.
    1. e.       Teknik Pengumpulan Data Potensi Komoditas

Dalam tahap pengambilan data potensi kenari dan salak di lapangan dilakukan secara purposive sampling  dengan mempertimbangkan kondisi topografi dan penyebaran tanaman kenari dan salak. Untuk pengambilan data potensi kenari dibuat jalur-jalur pengamatan dimana pada setiap jalur pengamatan dibuat petak contoh untuk pengamatan tingkat pohon. Sedangkan untuk pengamatan tanaman salak dilakukan dengan rumpun tanaman salak.

 

Urgensi Riset

Penelitian multidisiplin saat ini sangat diperlukan untuk memecahkan permasalahan lingkungan yang banyak bersinggungan dengan persoalan manusia. Salah satu persoalan yang belum tuntas ditangani hingga saat ini adalah masalah kemiskinan dan masalah ketahanan pangan. Kedua masalah ini akan sangat mempengaruhi pola pengelolaan lingkungan. Langkah strategis yang ditempuh adalah :

  • Menemukan komponen teknologi maupun paket teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan mutu hasil seperti misalnya teknologi tepat guna untuk memecahkan buah kenari serta bagaimana menjadikan komoditi salak menuju industri ?.
  • Membangun pilar agribisnis kenari dan salak yang dimulai dengan menata bagian hulu produksi bahan baku yakni memecahkan masalah budidaya kenari dan salak dimana saat ini masyarakat masih mempraktekkan budidaya tradisional dan tanpa perawatan. Bibit atau benih yang tumbuh lebih dominan tanpa campur tangan manusia. Selain itu riset ini juga menyiapkan bagian hilir dengan teknologi pasca panen yang berbasis pada industri rumah tangga.
  • Mengidentifikasi aspek jejaring usaha dalam hal ini pasar, selanjutnya membuka kerjasama kemitraan dengan Pemerintah sebagai penjamin regulasi, pengusaha untuk informasi agribisnis dan sekaligus penataan rantai distribusi (Supply Chain Management / SCM) serta mitra akademisi yang selalu mencari terobosan rekayasa teknologi.

 

Penelitian yang dilaksanakan untuk memahami masyarakat dengan lingkungannya akan memberikan kontribusi sebagai berikut :

  • Menjadi pedoman dalam dokumen perencanaan dan pengelolaan pengembangan wilayah Kecamatan Taniwel di Kabupaten Seram Bagian Barat. Pada hakekatnya dokumen ini akan bermanfaat saat masyarakat merancang pembangunan desa dalam forum perencanaan level desa hingga ke forum yang sama pada level kabupaten. Dokumen dimaksud akan berisi data dan peta potensi komoditas unggulan kenari dan salak serta introduksi teknologi tepat guna berbasis industri rumah tangga.
  • Membangun pilar agribisnis pada bagian hulu dan hilir dengan terlebih dahulu menyajikan secara detail informasi sosial dan ekonomi masyarakat, karena informasi ini sangat penting bagi investor yang ingin menanamkan modalnya.
  • Perkembangan ekonomi keluarga yang cenderung meningkat akan memberikan dampak bagi perspektif masyarakat untuk lebih serius menangani pendidikan dan kesehatan. Jika ini berhasil maka persoalan pengentasan kemiskinan akan sukses dilaksanakan.
  • Memberikan penguatan kepada konsep ketahanan pangan dalam masyarakat sehingga kedua komoditas ini memberikan energi kepada masyarakat untuk tetap pada level kecukupan pangan.

 

Hasil Riset

1.Potensi Salak dan Kenari

Salak Riring memiliki keragaman jenis yang cukup besar. Tanaman salak yang dibudidaya di wilayah studi  diduga ada empat jenis yang dapat dibedakan berdasarkan karakter morfologi, karakter  agronomi, warna daging buah dan cita rasa. Tiga jenis telah diidentifikasi yaitu salak merah atau lebih dikenal dalam bahasa Alune : salaka lalakwe. Daging buah  salak ini berwarna merah dan cita rasanya manis, berair serta tekstur dagingnya renyah. Jenis ini mulai dibudidayakan pada tahun 1960 dan mulai berproduksi tahun 1966. Perkembangan budidaya jenis salak ini terlambat, karena masyarakat takut mengkonsumsinya,  dengan alasan warna buahnya tidak lazim bagi mereka. Salak putih bahasa Alune : salaka putile dan salak berwarna gading bahasa Alune : salaka porole. Jenis yang lain adalah salak coklat bahasa Alune : salaka cokale. Jenis ini warna daging buah adalah kecoklatan. Salak ini masih dalam observasi, sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Berdasarkan karakter morfologi, warna daging buah dan selaput daging buah serta cita rasa hampir tidak jauh berbeda dengan salaka lalakwe (Leatemia et al, 2007, Pattinama et al, 2012).

SALAK

Figure 2. Kondisi areal tanaman salak dan produksi buah salak merah

 

Dari hasil identifikasi maka taksonomi salak Riring sebagai berikut :

Kingdom         :           Plantae

Divisi               :           Spermatophyta

Sub Divisi       :           Angiospermae

Kelas               :           Monocotyledon

Ordo                :           Arecales/Spadiciflorae

Family             :           Arecaceae/Palmae

Genus              :           Salacca

Spesies            :           Salacca zalacca var. amboinensis

 

Inventarisasi terhadap tanaman salak di lokasi penelitian ditemukan jumlah individu tertinggi terdapat di desa Rumahsoal adalah 293 rumpun, diikuti dengan desa Buria sebanyak 225 rumpun. Jumlah individu yang terendah ditemukan pada desa Lohiasapalewa sebanyak 48 rumpun sedangkan pada desa Uweth tidak dijumpai adanya tanaman salak. Jika dilihat dari rata-rata jumlah rumpun tiap hektar, maka desa Riring memiliki rata-rata jumlah rumpun tiap hektar yang tertinggi yaitu 3450 dan 4000 rumpun/ha, diikuti oleh desa Rumahsoal sebanyak 1465 rumpun/ha. Jumlah rumpun terendah terdapat pada desa Lohiasapalewa sebanyak 415 rumpun/ha.

Data hasil inventarisasi potensi salak di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 2 .

 

Tabel 2. Hasil inventarisasi potensi tanaman salak di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Individu (Rumpun)

Sebaran Jumlah Rumpun Per Plot *)

Rata-rata Jumlah Rumpun (R/ha)

1.

Uweth

2.

Buria

225

20 – 100

1406

3.

Lohiasapalewa

48

1 – 79

415

4.

Rumahsoal

293

42 – 73

1465

5.

Riring

138**); 160***)

138**; 160***)

3450**); 4000***)

Keterangan : *) ukuran plot contoh (20 x 20) m, **) Salak Merah, ***) salak putih

 

Komoditas kenari dari famili Burseraceae diindikasikan merupakan plasma nutfah yang tumbuh dan berkembang dengan sangat baik di Kepulauan Maluku yang terbentang dari utara (Maluku Utara) hingga ke daerah sebelah selatan (Maluku). Hingga saat ini belum ada suatu riset yang mendalam tentang tanaman ini. Tanaman ini sering dibawa oleh kolonial Belanda untuk menjadi tanamn pelindung pada sejumlah daerah di Indonesia. Yang dimakan dari buah ini adalah dagingnya yang dibungkus oleh kulit buah yang sangat keras dan kokoh. Untuk mendapatkan daging buah secara konvensional masyarakat di Pulau Seram memecahkannya dengan menggunakan parang dan sebagian lagi menggunakan batu atau palu.

Proses pemecahan secara konvensional ini mempunyai kelemahan yaitu laju produksi rendah dan kualitas daging buah kenari yang dihasilkan tidak seragam. Berdasarkan pengalaman di industri rumahan 1 (satu) orang dalam sehari (= 8 jam) hanya mampu memisahkan daging buah kenari dari cangkangnya sebanyak 1(satu) kg. Padahal di hutan Pulau Seram tersedia buah kenari dalam jumlah yang banyak dan itu semua terbuang sebagai limbah di hutan. Babi hutan akan makan buah kenari yang masih utuh. Yang dimakan adalah lapisan kulit yang membungkus cangkang dan seterusnya akan dikeluarkan sebagai kotoran dan ini adalah penyebaran bibit kenari secara alami di hutan. Selain itu jenis burung tertentu juga mempunyai andil menyebar buah kenari dan kemudian tumbuh sebagai bibit.

POHON-KENARI

Figure 3. Pohon kenari yang ditemukan di lokasi penelitian

 

Hasil identifikasi menyatakan bahwa semua kenari yang berada di 5 desa di Kecamatan Taniwel adalah Canarium indicum L. Dari hasil identifikasi tersebut maka taksonomi kenari adalah sebagai berikut :

Kingdom                     : Plantae

Divisi                           : Magnoliophyta

Kelas                           : Dicotyledon

Ordo                            : Sapindales

Famili                          : Burseraceae

Genus                          : Canarium

Spesies                        : Canarium indicum L

 

Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan di lokasi penelitian, ditemukan bahwa potensi kenari banyak ditemukan pada desa Riring sebanyak   81 pohon/ha, diikuti oleh desa Uweth sebanyak 57 pohon/ha seperti disajikan dalam Tabel 3. Selanjutnya, Sebaran potensi kenari yang paling sedikit dijumpai pada desa Rumahsoal sebanyak 23 pohon/ha. Sebaran diameter pohon kenari yang diukur di lokasi penelitian berkisar antara 11,5 cm sampai 149,8 cm  dan tinggi bebas cabang dapat mencapai sekitar 30 meter. Hasil perhitungan volume pohon kenari di dapatkan volume pohon bebas cabangnya berkisar antara 36,621 m3/ha sampai 298,882 m3/ha.

 

Tabel 3. Hasil inventarisasi potensi pohon kenari di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Pohon (n/ha)

Sebaran Diameter (cm)

Tinggi

(m)

Volume*)

(m3/ha)

1.

Uweth

57

11,5 – 122,5

10 – 30,4

79,011

2.

Buria

28

20 – 105

9 – 25

36,621

3.

Lohiasapalewa

50

21,5 – 63,5

5,5 – 12,6

44,309

4.

Rumahsoal

23

54,2 – 149,8

7,3 – 22,5

232,265

5.

Riring

81

42,5 – 134,4

10,6 – 22,7

298,882

Keterangan *) Volume pohon bebas cabang

 

2.Dunia Kosmologi Orang Alune

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Seram umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Alifuru Seram.

Pemikiran yang kuat dari Orang Alifuru Seram dalam memandang pulaunya adalah Nusa Ina (Pulau Ibu) yakni pulau yang melahirkan semua suku bangsa Maluku. Seram adalah tanah yang luas dan subur laksana suburnya seorang perempuan yang melahirkan generasi baru.

Kehidupan awal manusia bermula di Nunusaku. Kata ini mengandung dua kata yakni nunue artinya beringin dan saku artinya air. Jadi Nunusaku adalah beringin yang mengluarkan air. Dari pohon itu keluarlah tiga dahan pohon dimana setiap dahan mengeluarkan air hingga membentuk sungai yang sakral di Pulau Seram yaitu Tala, Eti dan Sapalewa.

 

3.Pola Makan

Orang Seram akan mengorganiser makanan sesuai dengan aktivitas mereka yang berbeda yakni pada saat di dalam rumah dan di luar rumah. Orang Seram mengusahakan tanaman sagu (Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsi-nya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, orang Seram secara rasional memilih singkong (=kasbi, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan pati singkong, kemudian diolah untuk menjadi papeda. Mereka juga mengkonsumsi selain protein hewani seperti daging babi, rusa dan kusu (Phalanger dendrolagus) juga ikan air tawar (mujair) dan udang pada habitat sungai atau kali. Masyarakat alokton (Pendatang) yang sebagian besar tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan juga singkong. Mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

sagu

Figure 4. Proses Pengolahan Sagu,Pati sagu dalam Tumang dan Makanan Papeda (Foto:Pattinama, 2012).

 

Conclusion

Orang Seram di pedalaman Pulau Seram merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Seram hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Seram menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Bahkan jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu), protein (babi, kusu, rusa, udang dan ikan) serta vitamin lain (sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Seram bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Seram sebagai penduduk autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Pulau Seram, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Seram relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan karena orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Pulau Seram yang berbentuk seorang perempuan dan seluruh organ badan direpresentasekan pada teritorial yang sudah jelas dibagi untuk dikuasai oleh setiap kelompok kekerabatan. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan kepada pulau yang bernama Seram. Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Seram makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Seram sehingga akses mereka untuk memperoleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memperoleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

MAPSARA TU KOINLALEN OTO FADAE RANALALEN, BUPOLO, MALUKU

Orang Buru

fili kamipa na

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Geba Keda Etnoekologi oto Faperta Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

Roger Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

 

Lien na Leu

Neten na dapsara tu na lien humalolin geba Bupolo oto neten mua lalen tu geba lalen. Kapsara lien hangina ni sapan geba, gamdo tu neten ni oto leu ?. Gamdo katine geba Bupolo oto neten hangina na ? Gamdo tu neten geba Bupolo da suba hai fili Ranalalen seponi dafango neten fehut oto na elet dikat ? Kapsara lien na gosa tirin gamdo geba na da defo oto na elet fehut sepuna da suba oto ranalalen ? Lien ranalalen mapsara neten fadae rana Waekolo tu kaku Date neten oto nelat Bupolo.

Gamdo kami huke lienkasen na oto ni kitahalu mapsara lienkasen akilalen geba Bupolo oto neten fenalalen tu humalolin.

 

Humalolin Geba Bupolo

Fenalalen mapsara neten humalolin da defo emsian noro ba. Neten na da defo humartelo eta humarlima. Eta geba Bupolo mapsara fenalalen Waekolo oto ni humalolin da defo geba fili noro Waekolo ba. Geba dikat mo da defo oto nete di tu sira ba. Sepo ni humaelet oto fenalalen da defo geba sa warot mo udu humarlima ba.

Akilalen fenalalen ma dufa kai wai sira tu ina ama. Kai na anat da bagut hai sepu ni na anat mhana na da mau hama fina oto ni gebaromtuan dufango humafehut na laha yako anat mhana. Eta kamipa toho oto neten Bupolo, kami tine gebaromtuan na anat mhana da bagut hai oto ni da fango huma fehut hai da bina laha anat mhana sepu ni kae hama fina pa kae kaweng beka.

Oto neten fenalalen, noro dikat da kadu pa da defo tu kami akilalen pa da fango huma fehut oto ni kami bina humalolin. Eta ni kami na wali duba kadu da defo taga yako oto fenalalen.

Oto elet leu geba Bupolo da bina fenafafan, neten oto Ranalalen. Oto fenafafan gebaromtuan duba newe tu anatcia ba. Fili neten di geba Bupolo du defo oto neten dikat-dikat gamdo tu gebaromtuan du huke sa sa tu na neten kadefo.

Fenafafan hangina na geba defo mohe, ma tewa tu neten na neten koin. Da defo oto neten na noro Waekolo ba oto Waereman, noro dikat sabeta mo. Sira du defo oto kaminteang na ni kai wai fili humalolin dikat gebaromtuan du huke neten laha sira ni pa du defo pa du jaga neten nesa-nesa (Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, Aerdapa) tu noro Waekolo.

 

Koinlalen oto Bupolo

Eta ngei si fenafafan ma sea fili gebaromtuan Waekolo oto humalolin Waereman. Ma sea fili gebaromtuan Portelo tu Mrimu du defo oto neten na. Portelo na geba bagut fili noro Waekolo du jaga neten koin oto ranalalen. Hulu geba Bupolo, sira ba noro Waekolo pese Portelo du defo oto ranalalen tu Mrimu Waekolo.

Eta kamipa toho oto fenafafan, ma linga fili wae na kadan suba eta na ulun humalolin Waereman. Ma kaba waeolon neten na kadan oto waenibenangan. Wae na da suba fili rana du bajaga wae na fili noro Waekolo.

Waeolon da nei oto rana fafan da suba fili rana fafan daiko ngei buru slatan da suba beta mo ina da bastela kaku oto namnelat pa da simsubah wai tinan pa da mano oto waenibe  lienkasen do bina ni waenibenangan, oto Waemala da dufa ior- ior teman gamdo gebaromtuan ro do dufa oto wae ni, eta do ngei ngan Waemala. eta mapsara lienkasen fili Waenibenangan dasuba ngan Waeniba ba, eta wae na da suba fili kaku oto rana fafan gamdo Waekolo do defo oto wae na ulun.

Gamdo ma bina Waenibe olon mo.? Mapsara oto waenibe ni geba Bupolo na ngan waenibenangan ni na ngan remat. Waenibe ni na ulun da dufa oto Waekolo ulun Waenibe na da dufa oto na kadan kwanat, wae ni da suba oto likunsmola. Wae ni da nei oto neten ni geba Bupolo du nei ngan wae Waenibe. Wae na da suba fili ranalalen lienkasen bina rana olon (koin ). Lien dikat likunsmola ma bina neten ni ma dufa wae na leman, oto nelat eta da leman mo fili rana Waekolo, sepu ni wae damano fili Waekolo pa da suba oto neten Waenibenangan. Eta geba Bupolo, likunsmola ni elet wae na du dufa mloko hat oto rana Waekolo, mloko hat stefo da suba giwan fili oto Waenibenangan. Ma tine eta da suba mloko da defo oto likunsmola eta da suba geba Bupolo iko tine pa du seka emdau tu dapan pa du oli tuha oto huma pa du mapo tuha pa du ka. Mloko da suba fili rana da iko msian mo po da iko warot da taga wae na na kadan eta da suba oto Waenibenangan, lien fili geba Bupolo ba mloko na da suba hulut oto masin. Elet na da dufa hangan msian oto fulan permede oto fulan Oktober eta fulan fehut. Geba Bupolo du tine fulan na pa du seka warahe. Eta geba Bupolo bina rana na da rakik hai, mloko hat da sefen pa da loa ahut bagut ni ma dufa oto likunsmola.

Eta ma iko oto fenafafan maliho oto rana Waekolo ma egu waga ngei geba Bupolo fili humalolin Waereman, eta geba Bupolo Waereman du iko kadan fili kaku Date ngei kaku sa. Oto fenafafan geba nyosot pi geba masin du liho oto tuhung na mo. Eta du liho oto neten na ni du difu,. Kamipa iko na po ma dufa liho roit fili gebaromtuan sira du huke . kamipa na jamtelo pa ma iko tine elet gebaromtuan teman sira ba defo

Eta Geba Bupolo sira mau iko tine elet ka defo gebaromtuan teman sira na elet ka defo ni ma egu fua dalu pa huke laha geba Bupolo dae Waereman fafan. gebaromtuan pa ma kala ina tu ama tu kai wai sira ma defo pa ma ka fua tu dalu na mnesa-mnesa tu sira. Ni ma egu fua tu dalu ba.ma egu matan ni pa ma huke laha anat Bupolo oto Waereman pa duhuke oto neten koin ni ma iko oto fenafafan ma egu lastare la ma iko na, ma egu gebaromtuan sira oto kaku Waereman, gamdo du bajaga fenafafan ma pipolon tu sirah pa  maiko mnesa –nesa tu sira pa du tu elet ka defo gebaromtuan teman sira elet kadefo oto fenafafan. Eta geba nyosot do mau si oto neten koin na, ni da egu lastare tu dalufua tu matan goban ni utun lima ba ni naraman laha geba nyosot. Eta geba Bupolo. gebaromtuan dusi oto rine lalen.

Eta ma liho oto fenafafan, kamipa ma dufa mrimu Waekolo. Ringe ma loa adat beto nelat ma kala opolastala tu gebaromtuan, rana tu date fafan. Ma iko pa ma suba oto huma. Dalua huma mo po dalua gama kaulahin, miat tu fafu na elet kafoi tu na kadan oto rahe.

Fenafafan di na elet kadefo gebaromtuan teman. Mrimu da bina neten ni warot ior-ior teman gama todo, gomi, gong bagut tu gong roit, nhero, kwani, balanga tu ior-ior bakan. Ior-ior halu na duba nei oto pau rahe. Geba Bupolo sira lua fefa da bina liang lahin. Da lua fefa ni da langa miat pa da nei akilalen mrapa-mrapa. Da lua fefa akilalen bagut mo, halu ni msian dafu. Na bagut ni msian dafut, na remat ni polone dafut, na leman goa pau sa da remat mo.

Mrimu tu Portelo du defo oto humalolin Waereman du tine huma oto fenafafan. Geba Bupolo oto masinlalen jaga keha tine gebaromtuan fili kaku fenafafan bara sa sia ba pei eta fenafafan, eta sa ba pei du jaga iko oto humakoin pa du jaga tine huma bara daraki. seponi du huke mahun laha geba bupolo bara du pei.

Kamipa na toho oto fenafafan ma tine oto neten di fenafafan warot ni kaku –kaku oto fenafafan, geba Bupolo oto fenafafan du jaga gei kaku tu wae tinan bagut oto fenafafan, kamipa nika gemtuan mrmu eta gamdo tu wae oto fenafafan na ? Gemtuan mrimu bina wae na koin, wae tu kaku na du bina neten koin, noro fili Wakolo di du tine fenafafan bara noro dikat tu bara darogo akilalen oto koinlalen.

Eta kamipa toho oto ranalalen, kamipa tine seget fili fanabo, waili tu Waekolo halu ni sa sa tu ringe nake neten – neten sa sa ?, halu ni kamipa tewa fili gemtuan mrimu, na halu ni bagut tu remat. Gamdo gebaromtuan halu ni ma tewa fili gemtuan mrimun oto Fenafafan,Dabina halu fili marga pila na ni sa sa tu ringe nake neten–neten, gamdo eta geba Bupolo sa da tewa rine nake neten mo,ni gamdo beka gemtuan ee? eta manika fili Gemtuan mrimun da bina gamanga ? Halu ni oto neten geba Bupolo halu, ma sia pa mapsara tu neten na, ina ama kai wai sira kimi bara loat tu neten na eta ma loa epsalah oto seget na.

 

Lien na Sepu

Mapsara lien oto refafan na da bina tu lalen-lalen oto adat geba Bupolo, lepak foni oto na elet ka defo oto sa an a neten-neten noro oto mualalen. Koinlalen oto Bupolo iha na :

a.Ranalalen, b. Mua Garan, c. Waekoit, d. Kakukoit, e. Liang lahin, f. Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h. Seget, i. Sufen.

Ina ama kai wai sira kimi bara loat lalen tu kamipa na. Kamipa tewa lalen-lalen hai fili lien koin na, kamipa fili lolik lalen fedak fena tu retemena bara sehe.

CERITA TENTANG TEMPAT KERAMAT DI DATARAN RANA, PULAU BURU, MALUKU

Danau Rana

oleh :

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Guru Besar Etnoekologi Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

Roger Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

 

Pengantar

Bagian ini ingin menjelaskan keadaan tempat pemukiman tradisional orang Bupolo dalam hubungan dengan lingkungan alam dan kehidupan sosial.  Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bentuk pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal ?  Bagaimana pandangan orang Bupolo terhadap pemukiman tradisional dibandingkan dengan perkembangan pemukiman saat ini ? Bagaimana bentuk pemukiman orang Bupolo yang telah keluar dari ranalalen kemudian membangun pemukiman baru di tempat lain ?  Pertanyaan berikut yang sangat penting adalah bagaimana cara mereka memilih tempat tinggal yang baru setelah keluar dari ranalalen ?  Istilah ranalalen artinya daerah sekitar rana Waekolo dan gunung Date yang terletak di tengah pulau Buru.

Untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kami ingin menjelaskan terminologi yang selalu digunakan orang Bupolo untuk daerah pemukiman yaitu fenalalen dan humalolin.

 

Pemukiman Orang Bupolo

Istilah fenalalen artinya tempat pemukiman yang hanya terdiri dari satu kelompok noro atau soa (clan).  Jumlah rumah dalam satu fenalalen adalah antara tiga sampai lima buah.  Kalau orang Bupolo mengatakan fenalalen Waekolo maka pada daerah pemukiman dimaksud hanya dihuni oleh mereka yang berasal dari noro atau soa Waekolo.  Tidak ada orang Bupolo dari noro lain yang hidup bersama dengan mereka.  Oleh sebab itu jumlah rumah yang dijumpai tidak akan lebih dari lima buah rumah.

Dalam fenalalen biasanya kita jumpai hanya kehidupan antara mereka yang mempunyai hubungan keluarga sekandung bersama istri dan anak-anak mereka.  Kalau anak mereka sudah dewasa dan suatu saat ada rencana untuk menikahkan anak tersebut, maka sebelum yang bersangkutan menikah biasanya orangtua akan membangun rumah baru. Selama penelitian di lapangan, kami mengamati bahwa orangtua yang mempunyai anak laki-laki dewasa dan anak tersebut belum juga menikah maka dengan dibangunnya rumah baru yang terpisah dari orangtua adalah sebuah pesan untuk yang bersangkutan harus segera mencari jodoh untuk menikah.

Sedangkan dalam satu fenalalen, jika ada noro (soa atau clan) yang lain datang untuk tinggal bersama dan membangun rumah baru dalam fenalalen maka daerah pemukiman itu disebut humalolin.  Hal yang umum dijumpai adalah keluarga dari istri yang datang untuk tinggal bersama dalam satu fenalalen tersebut.

Tempat pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal disebut fenafafan, yaitu suatu daerah yang terletak disekitar ranalalen.  Di fenafafan hidup leluhur pertama orang Bupolo bersama sembilan orang anak.  Dari fenafafan (fena=clan, desa ; fafan=tertinggi) orang Bupolo menyebar ke berbagai tempat, sesuai dengan pembagian wilayah yang diperoleh dari leluhur mereka.

Fenafafan saat ini tidak dihuni lagi oleh orang Bupolo, tetapi daerah ini tetap dianggap sangat sakral dan terus dilindungi oleh orang dari noro Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman.  Tidak hanya orang Bupolo yang tinggal di Waereman yang melindungi fenafafan, namun orang Bupolo lain yang tinggal di humalolin lainnya di seputar ranalalen, misalnya Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, dan Aerdapa.

 

Tempat Keramat di Pulau Buru

Untuk memasuki fenafafan harus meminta izin orang Bupolo dari noro Waekolo di humalolin Waereman.  Orang yang berhak memberi izin adalah mereka yang menjadi pemimpin adat seperti Portelo dan Mrimu.  Portelo adalah jabatan adat tertinggi dalam noro Waekolo yang bertugas menjaga seluruh daerah sakral di ranalalen.  Dari semua noro orang Bupolo, hanya dalam noro Waekolo yang dijumpai jabatan adat Portelo.  Portelo harus tinggal di ranalalen bersama Mrimu.

Dari pengamatan kami selama berkunjung ke fenafafan (lihat peta), kedudukannya berada diantara waeolon (wae=air ;olon=kepala) dan humalolin Waereman.  Kita menyebut waeolon karena daerah itu adalah merupakan kepala dari sungai Waenibe.  Salah satu sungai dimana sumber airnya berasal dari rana Waekolo.

Istilah waeolon dalam bahasa Buru hanya disebut untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai Waenibe.  Sedangkan untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai-sungai lain yang ada di pulau Buru kita langsung menyebut nama sungai tertentu dan diikuti dengan kata olon, misalnya sungai Waemala kita sebut Waemalaolon artinya kepala/sumber dari sungai Waemala.  Untuk itu kalau menyebut waeolon maka semua orang Bupolo akan tahu bahwa yang dimaksud adalah kepala air Waenibe di rana Waekolo.

Mengapa kita tidak dapat mengatakan Waenibeolon ?  Menurut pikiran orang Bupolo bahwa air yang keluar dari rana Waekolo tidak langsung menuju sungai Waenibe namun melewati suatu tempat yang bernama likunsmola.  Orang Buru saat menyebut kata ini untuk pertama kali bagi saya sebagai orang luar dan sebagai peneliti dicatat hanya sebagai suatu nama tempat, padahal kata ini setelah dicari makna yang sebenarnya dan dari diskusi dengan banyak informan di lapangan diperoleh bahwa likunsmola terdiri dari likun esmohok laan (likun=bagian air yang dalam atau deep in english, esmohok=bagian yang rendah, laan=tempat untuk membagi).  Dengan kata lain likunsmola artinya suatu tempat dimana terdapat air yang sangat dalam, letaknya sangat rendah dari rana Waekolo dan dari situ air dialirkan ke sungai Waenibe.  Bagi orang Bupolo, likunsmola adalah tempat yang sangat penting karena menurut mitos jika mloko ha (morea besar) yang hidup di rana Waekolo kencing (mloko ha stefo) maka semua mloko yang ada di dalam rana Waekolo akan lari keluar meninggalkan rana Waekolo.  Sebelum keluar maka morea-morea tersebut berkumpul di likunsmolat dan dengan sangat mudah orang Bupolo dapat mengambilnya untuk dimakan. Mereka keluar dari rana Waekolo dalam jumlah yang sangat banyak menuju sungai Waenibe dan menurut orang Bupolo morea-morea tersebut pergi keluar menuju air laut yaitu tempat asal mereka.  Peristiwa ini berlangsung satu kali dalam setahun yaitu pada saat bulan gelap yaitu sekitar bulan oktober saat mulai akan menanam kacang.  Orang Bupolo katakan kalau rana Waekolo sudah kotor maka mloko ha akan marah dan kemarahannya yaitu mloko ha akan kencing (mloko ha stefo) dan itu hanya dapat ditandai dengan banyaknya morea yang terdapat di likunsmola.

Kalau menuju ke fenafafan melewati rana Waekolo dengan pakai perahu hanya diperuntukkan bagi orang Bupolo yang datang dari luar humalolin Waereman, sedangkan bagi orang Bupolo di Waereman biasanya mereka melewati jalan gunung Date dengan berjalan kaki.  Fenafafan tidak diijinkan bagi orang luar.  Saya mendapat izin ke fenafafan hanya satu kali dan kunjungannya sangat singkat dalam waktu tiga jam saja.  Saya hanya mau melihat apakah masih terdapat bangunan rumah seperti yang diceritakan oleh orang Bupolo di humalolin Waereman kepada saya.

Tidak ada syarat khusus yang mereka minta dari saya jika ingin berkunjung ke fenafafan, misalnya harus membayar uang sedekah di humapuji atau humakoin.  Huma puji atau disebut juga humakoin adalah tempat dimana orang Bupolo di Waereman atau orang Bupolo lainnya dapat berbicara (babeto) dengan para leluhur mereka (opolastala).

Pada umumnya orang luar (geba nyosot) yang ingin berkunjung ke tempat-tempat sakral di rana lalen diwajibkan untuk membayar jiwanya dengan sekeping uang di humakoin. Ini sebagai suatu tanda bahwa opolastala dan semua jiwa orangtua dari orang Bupolo yang telah meninggal dunia telah dihormati dan jika melewati tempat sakral, maka jiwa dari orang tersebut akan selamat dan tidak akan membawa kematian.

Saat berkunjung ke fenafafan, saya ditemani oleh mrimu Waekolo.  Setelah tiba di tempat tersebut, mrimu Waekolo berbicara (babeto) untuk minta izin dari opolastala, rana, dan date.  Kemudian kita memasuki suatu tempat yang disebut huma (rumah).  Tempat dimaksud tidak berbentuk rumah secara fisik namun ada beberapa buah batu yang tersusun secara rapih.

Tempat itu adalah rumah pertama dari leluhur mereka.  Menurut mrimu di tempat itu juga tersimpan seluruh harta para leluhur, seperti peralatan untuk berkebun, peralatan berburu, alat untuk masak dan makan.  Semua alat tersebut disimpan di dalam tanah.  Mereka membuat tempat khusus yang dinamakan liang lahin.  Cara membuat liang lahin yaitu mereka membuat sebuah lubang di dalam tanah dan dilapisi dengan batu pada seluruh dinding lubang tersebut. Umumnya ukuran liang lahin yang dibuat tidak terlalu besar, rata-rata berukuran panjang satu meter, lebar 60 sentimeter dan ukuran kedalaman lubang tidak lebih dari satu meter.

Semua barang dimasukkan ke dalam liang lahin dan bagian atas disusun piring yang terbuat dari porselen kemudian ditutup dengan tanah.  Semua peralatan yang terdapat di fenafafan saat ini telah diganti dengan peralatan yang terbuat dari porselen seperti piring dan gelas.  Saya tidak melihat seluruh obyek tersebut hanya diketahui berdasarkan cerita lisan dari mrimu Waekolo.

Mrimu dan portelo Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman secara bergantian mempunyai tugas yang rutin untuk membersihkan rumah di fenafafan.  Tidak ada jadwal yang pasti untuk kegiatan tersebut, jika ada yang sakit di dalam humalolin Waereman atau orang Bupolo yang tinggal di luar ranalalen hendak mengunjungi fenafafan, dari situ baru mereka membersihkan tempat rumah leluhur mereka dan memberi makan.

Pembagian daerah pemukiman baru ini tidak berdasarkan atas luas tanah tetapi berdasarkan pada gunung dan sungai.  Oleh sebab itu setiap noro dari orang Bupolo memiliki gunung dan sungai yang menurut mereka sangat sakral. Gunung dan sungai dimaksud masing-masing mempunyai nama.  Jadi tanah yang ada diantara atau disekitar gunung dan sungai tersebut adalah milik dari noro yang bersangkutan.

Selama penelitian di lapangan, saya mencoba untuk mengetahui batas-batas teritorial dari suatu noro, namun hal itu sangat sulit karena daerah yang terlalu luas dan jawaban dari informan di lapangan hanya menyebutkan bahwa : tanah milik kami terletak pada gunung dan sungai sebagaimana yang telah ditentukan oleh leluhur kami.  Dan semua orang Bupolo telah mengetahuinya.  Jika ada orang Bupolo yang tidak mengetahui maka yang harus menjelaskan kepadanya adalah para pemimpin adat (geba ha) dan orang-orang tua (gebaro emkeda).

 

Penutup

Kesimpulan dari cerita di atas ingin menyatakan bahwa daerah keramat di Pulau Buru merupakan tempat yang menyimpan identitas Orang Bupolo yang selalu menyatu dengan lingkungan alam. Daerah keramat yang dikenal oleh Orang Bupolo terdiri dari :

a.Ranalalen, b.Garan, c.Waekoit, d.Kakukoit, e.Liang lahin, f.Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h.Seget, i.Sufen

KEKUATAN BAHASA DALAM RASA, KARYA DAN KARSA

(Suatu Ajakan untuk Revitalisasi Bahasa Buru sebagai Mata Ajaran Mulok)

Oleh :

Prof. Dr. Ir. Max Marcus J. PATTINAMA, DEA.

(Guru Besar Etnoekologi Unpatti Ambon)

 

Prolog

Kami diminta oleh Kantor Bahasa di Ambon untuk menyampaikan pokok pembicaraan pada Kegiatan Klinik Bahasa tentang “Situasi Kebahasaan di Kabupaten Buru”. Untuk itu kami ingin menyampaikan pokok pikiran kami seperti judul di atas dan sub judul yang kami paparkan ini bukan usulan yang baru, sebab kami yakin sudah ada gagasan ini sebelumnya yang telah dipikirkan oleh PemKab Buru. Jadi diskusi ini hanyalah sebagai upaya merevitalisasi gagasan Bahasa Buru sebagai pengantar dalam program Mulok. Dengan demikian materi pembicaraan ini diambil dari pengalaman pribadi selama hidup sebagai Geba Bupolo di Rana Lalen. Disamping itu pula relasi sosial juga dibangun dengan semua orang atau manusia yang menyebut dirinya Orang Buru di Lisaboli Lisela, Masa Mesirete dan Lacalua Kayeli serta Regenschap Ambalau.

 

Klasifikasi Manusia Buru

Penduduk di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli, autokton, (Geba Bupolo) yang hidup di pegunungan dan penduduk pendatang, alokton, (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 1).

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton..

Dalam catatan botani dunia, ditemukan bahwa tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) adalah tanaman asli Pulau Buru. Tahun 1925, kolonial Belanda membawa spesies ini dari Buru sebagai tanaman penghijauan di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Pada masa kejayaan perdagangan rempah-rempah, penduduk pulau ini telah bersinggungan dengan bangsa Eropa, sehingga Belanda menamakan suatu tempat di Pulau ini dengan sebutan Kayeli (Kayoe poetih olie).

Pulau Buru atau Bupolo mengalami lima periode pengaruh pendudukan (okupasi) yaitu periode Sultan Ternate, Portugis, Belanda, Jepang dan Indonesia. Periode Sultan Ternate, selain perdagangan juga ada mobilisasi penduduk dari Sula dan Sanana untuk menanam pohon kelapa. Perdagangan kayu putih dan damar dilakukan melalui hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan Sultan Buton dan Sultan Bone. Kemudian Portugis membuat instabilitas perdagangan antara Sultan Ternate dengan pedagang Arab dan Cina di dataran Kayeli. (Pattinama, 2005). Gambar 1 di bawah ini juga menjelaskan pertemuan puncak-puncak budaya antar suku dan bahasa yang digunakan dalam relasi sosial.

 

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Sejak zaman kolonial hingga kini masyarakat asli Pulau Buru (Geba Bupolo) disebut sebagai suku terasing, tidak beragama, pemalas dan alifuru[1]. Istilah „burro“ (yang kemudian menjadi Buru) diberikan kepada pulau ini dan kata ini ditemukan pada peta Indonesia yang dipublikasi tahun 1613 oleh misi dagang Portugis. Kata Burro (bahasa Portugis) mengandung dua arti yaitu keledai dan bodoh. Ada dua hipotesis dapat penulis kemukakan, pertama, kata burro untuk menamakan babi rusa (Babyrousa babyrussa) dimana untuk pertama kali Portugis melihatnya di pulau ini. Kedua, kata burro dialamatkan kepada masyarakat Bupolo, karena mereka selalu menolak kehadiran Portugis di setiap kampung (humalolin). Cara menolak adalah semua penduduk meninggalkan kampung dan masuk ke hutan. Setelah periode Portugis, maka berikutnya masa penjajahan Belanda, kata Burro tidak digunakan dan ditulis Boeroe atau Buru dalam Bahasa Indonesia.

Selanjutnya periode Jepang membuat wilayah ini semakin terisolir. Saat Jepang harus meninggalkan Pulau Buru tahun 1945, mereka terpaksa harus berpisah dengan budak sex jugun ianfu yang berasal dari Korea dan Pulau Jawa. Para perempuan yang terpaksa harus menjadi budak sex ini terpaksa dipelihara oleh para kepala adat dan akhirnya dijadikan istri. hingga saat ini.    Tahun 1969, Pemerintah Indonesia menetapkan pulau ini khususnya di dataran Waeyapo sebagai kamp konsentrasi tahanan politik G30S/PKI.

Kehadiran HPH sebagai sosok ekonomi modern di tengah hutan belantara Pulau Buru memberikan dampak besar kepada autokton yang masih hidup nomaden. Ciri kehidupan terasing (baca: sederhana) dan terisolir pada daerah pegunungan serta merta diperhadapkan dengan pilihan antara menunggu (menjaga) daerah sakral yaitu tempat bersemayam nenek moyang mereka atau hak membabat hutan yang sudah resmi diberikan negara kepada pengusaha HPH. Posisi autokton sangat jelas menjadi lemah dan inferior baik di hadapan hukum negara maupun pelaku ekonomi modern. Yang terjadi adalah kompetisi disekuilibrium. Hal yang sama akan terjadi dengan ditemukannya tambang emas di Pulau Buru.

 

Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen

Ini adalah pernyataan filsafati dari Geba Bupolo yang sakral di Rana Lalen. Maknanya sangat holistik yang menghubungkan manusia dengan alam raya, juga antara manusia dengan manusia dan manusia dengan sang khalik. Untuk memahami pernyataan filsafati tersebut, selama pengalaman kami di lapangan, tidak dapat diperoleh melalui hasil wawancara baik dengan responden masyarakat maupun responden kunci. Jadi pemahaman akan diperoleh jika kita terlibat dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Jelaslah bahwa kami sangat yakin dengan judul makalah ini bahwa kekuatan bahasa akan mengandung sesuatu nilai berharga dalam rasa. karya dan karsa.

 

Epilog

Apa yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional di Rana Lalen dan hasilnya dianalisis dan diintepretasi dalam dunia modern. Jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas. Untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Pulau Buru seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan, misalnya kajian Bahasa Buru akan mendapatkan bentuk yang sempurna dalam Klinik Bahasa dari Kantor Bahasa Ambon.

Semoga ada manfaat dari diskusi kami yang sangat singkat ini.


[1]Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

UPAYA PENYELAMATAN BAHASA-BAHASA DAERAH TERANCAM PUNAH

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Upaya Penyelamatan Bahasa-Bahasa Daerah Terancam Punah [1])

(Suatu Pendekatan Etnoekologi Mengandalkan Kekuatan Bahasa dalam Rasa, Karya dan Karsa)

Oleh :

Prof. Dr. Ir. Max Marcus J. Pattinama, DEA [2])

Prolog

Kantor Bahasa Provinsi Maluku mengajak kami, selaku pemerhati bahasa di Maluku, berpartisipasi mengemukakan pendapat tentang keprihatinan mereka mengenai terancam punahnya bahasa daerah di Maluku. Bagi kami, pengamatan ini mempunyai dasar yang kuat dan terukur berdasarkan penelitian yang dilakukan selama dua tahun Kantor Bahasa hadir di Maluku.

Kami selaku anak negeri dan semua pemangku kepentingan yang hadir pada acara Seminar Revitalisasi Bahasa-Bahasa Daerah di Maluku seyogyanya mencari jalan keluar tentang bagaimana mengatasi bahasa daerah yang hampir punah. Secara khusus bahasa yang sudah punah kita harus berusaha untuk memberikan informasi apakah ada penutur asli yang masih menggunakan atau menguasai bahasa tersebut ?, sebagai contoh Bahasa Garan dan Bahasa Kayeli di Pulau Buru. Kami yakin peserta seminar punya informasi tentang bahasa daerah yang hampir punah di wilayah ini, selain kedua bahasa yang kami sebut di atas.

Judul makalah kami di atas diberikan oleh Kantor Bahasa sebagai pelengkap materi pembahasan pada seminar hari ini. Yang menarik adalah kata « penyelamatan ». Mengingat kami adalah bukan ahli bahasa, namun kami banyak memahami bidang ilmu kami (etnobotani) di lapangan riset melalui bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Dengan demikian kami berpendapat bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk mengungkapkan pikiran manusia mulai pada taraf yang paling sederhana hingga kompleks. Maksud dari kalimat yang terakhir disebut adalah makna filsafati dari bahasa yang diungkapkan sangat berbeda untuk memaknai suatu objek. Jadi bagi kami istilah “penyelamatan” adalah tugas para pemerhati bahasa sedangkan tugas “pelestarian” bahasa dibebankan kepada ahli bahasa. Makalah ini mengharuskan kami menuliskan sub judul seperti di atas, mengingat pengalaman sebagai etnobotanist sangat mengandalkan bahasa sebagai alat analisis.

 

1. Perkembangan Penelitian Bahasa Nasional

Bahasa Indonesia yang berakar pada Bahasa Melayu telah ditetapkan sebagai bahasa nasional dalam keputusan geopolitik yang sudah matang. Kami menyebut keputusan geopolitik untuk mengatakan bahwa Presiden Soekarno sangat paham betul bahwa ini adalah satu-satunya bahasa yang bisa mempersatukan Nusantara diantara ratusan bahasa daerah (sekitar 530 bahasa daerah : Pattinama, 2005a) yang dipakai oleh anak bangsa ketika itu. Kita dapat membayangkan suasana pada periode itu dimana ada kelompok yang menggunakan bahasa asing (Belanda) kemudian menyatakan diri mereka pada kelas atas dan kelompok masyarakat kelas bawah yang masih berbicara dalam bahasa daerah sesuai habitat hidup. Dalam konteks ketika itu ada kelompok transisi berada di tengah yang bisa menguasai bahasa asing tetapi juga penutur bahasa daerah secara aktif.

Presiden Soekarno saat itu juga menguasai beberapa bahasa asing dan penutur aktif Bahasa Jawa dan Bali sudah yakin bahwa penetapan Bahasa Indonesia akan lebih diterima. Sebagian besar wilayah Indonesia menguasai Bahasa Melayu sebagai bahasa yang dipilih dalam perdagangan dan Belanda pun menggunakan bahasa dimaksud untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal selama ratusan tahun. Kami tidak dapat membayangkan bagaimana jika Presiden Soekarno menetapkan Bahasa Jawa dengan huruf non latin sebagai Bahasa Nasional mengingat jumlah penduduk Nusantara yang mayoritas adalah suku Jawa.

Dalam seminar ini kami mau mengajak para peserta untuk mengakui bahwa Soekarno bukan saja menunjukkan sikap nasionalis tetapi yang paling utama adalah beliau sangat paham tentang ilmu bahasa. Penguasaan bahasa memberi peluang kepada Soekarno mengangkat derajat Bangsa Indonesia pada posisi tawar yang tinggi karena semua ideologi yang ditulis dalam berbagai bahasa dan dikuasai secara benar. Artinya bahwa penguasaan bahasa asing bukan hanya ditunjukkan oleh pemimpin bangsa dalam berkomunikasi diplomatik tetapi seyogyanya digunakan untuk memahami akan struktur budaya dan pikiran bangsa lain dalam pergaulan dengan Indonesia.

Kami harus cepat mengatakan hal ini karena ada kecenderungan saat ini bahwa anak bangsa dipaksa untuk menguasai bahasa asing tetapi tidak ada arahan yang jelas. Apakah hanya untuk bisa mengikuti pendidikan di luar negeri ? atau ingin menciptakan kelas sosial seperti yang terjadi di masa lampau. Menurut hemat kami penguasaan bahasa asing ditujukan untuk menguasai teknologi dan perkembangan ilmu lainnya dalam konstelasi pendidikan global. Berbarengan dengan itu ditetapkan kebijakan bahwa anak bangsa harus menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pada saat Indonesia mencapai kemajuan dalam ekonomi dan peradaban maka akan menyusul bangsa lain untuk datang mempelajari Indonesia dan disini peran Bahasa Indonesia menjadi penting.

Kita mencatat pada jaman penjajahan penelitian bahasa hampir menjadi monopoli para sarjana Belanda saja. Para sarjana Indonesia yang tersangkut dalam penelitian biasanya hanya menjadi tenaga pembantu lapangan atau informan. Jumlah sarjana Indonesia yang mendapat didikan ilmiah dalam penelitian bahasa terlalu kecil.

Dalam laporan tentang perkembangan penelitian bahasa perlu dilakukan pembatasan bidang yang diteliti. Yang dipilih ialah bidang yang paling penting yakni bidang penelitian bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Tema lain yang menarik adalah penyelamatan dan pelestarian bahasa daerah dari ancaman kepunahan. Justru karena bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus menjadi milik bersama semua warga negara Indonesia, maka pilihan sejarah penelitian bahasa nasional itu tidak berpihak dan menyangkut kepentingan umum pula. Bidang bahasa nasional itu terlalu luas, sehingga tidak semua segi dapat dilaporkan secara lengkap. Oleh karena itu harus ada payung penelitian yang dirancang secara nasional dan implementasi juga menyentuh regional misalnya penelitian asal bangsa Nusantara, bahasa Sriwijaya sebagai bentuk bahasa Melayu/Indonesia, bahasa Indonesia dari segi perkamusan, peristilahan, ejaan, dan tatabahasa serta segi kesusasteraan. Disini peranan Kantor Bahasa menjadi sangat penting untuk mengkomunikasikan tema riset yang menjadi fokus kajian. Program Studi Bahasa di universitas diharapkan pula memberikan dukungan kerja sama sehingga kajian yang terfokus tadi dapat tuntas diselesaikan. Hasilnya akan lengkap setelah ada tim yang merangkum semua hasil penelitian. Indonesia menjadi negara dengan kualitas penelitian bahasa dan bidang lain yang rendah, sebenarnya bermula pada minimnya kegiatan kompilasi hasil-hasil penelitian.

Setelah Indonesia mendapat pengakuan sebagai bahasa nasional, peminat bahasa Indonesia bergerak serentak dalam pelbagai bidang, terdorong oleh kesadaran nasionalnya, meskipun sampai saat ini hasil penelitiannya belum seperti yang diharapkan. Ini suatu kesimpulan sepihak dari kami sebagai pemerhati bahasa karena bahasa Indonesia belum masuk dalam jajaran bahasa ilmiah yang diakui secara global. Kami menilai bahwa penelitian bahasa Indonesia belum atau bahkan tidak mendapat prioritas, karena tidak langsung diperlukan oleh rakyat saat ini yang sedang sibuk dengan hingar-bingar politik yakni kekuasaan dan otonomi daerah. Jadi kita kembali lagi seperti zaman Orde Lama yang sibuk dengan penyelesaian revolusi. Dengan kata lain, kini kita sibuk dengan menata reformasi dan demokrasi. Kader-kader peneliti bahasa tidak banyak jumlahnya, karena pekerjaan itu tidak memberikan keuntungan material. Meskipun demikian, para kader yang telah terdidik saat ini memberikan harapan baik untuk kemajuan penelitian bahasa di masa yang akan datang. Kader peneliti yang sudah ada saat ini harus mendapat dorongan yang layak dengan mendapat bimbingan dan insentif hidup yang sesuai, agar mereka tidak beralih bidang hanya karena desakan kesulitan hidup.

 

2. Perkembangan Penelitian Bahasa di Maluku

Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia hingga pemberlakuan otonomi daerah saat ini, peranan pemerintah pusat masih terasa dominan. Daerah otonom yang kekurangan SDM akan menjadi sangat tergantung pada pusat pemerintahan baik pada level Jakarta maupun level provinsi. Persoalan ekonomi dan ketersediaan SDA menjadi tema yang selalu mendapat prioritas untuk diteliti. Kami tidak mempunyai data yang akurat tentang kontribusi pemerintah daerah dalam membiayai penelitian bahasa.

Untuk daerah Maluku sebagai wilayah kepulauan ini berbeda-beda bahasanya dan sesungguhnya tidak semua penduduk di pulau-pulau itu menggunakan bahasa yang sama dan berbagai desa menggunakan dialek yang berlainan pula. Namun, semua mengerti bahasa Melayu, karena perdagangan.

Bahasa di Maluku adalah bahasa tanpa tulisan atau kepustakaan. Bahasa di Seram (Alune dan Wemale) terbagi atas 35 dialek yang berlainan dan jelas serumpun dengan bahasa asli Amboina (Cooley,1987). Data tersebut menunjukkan betapa rumitnya bahasa di daerah iniyang menurut para ahli bahasa termasuk dalam kelompok Ambon-Timor (salah satu dari 16 kelompok) dari anak rumpun Indonesia dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia. (Cooley, 1987).

Peneliti bahasa yang umumnya para sarjana barat yang dipakai oleh colonial Belanda untuk memetakan bahasa daerah di Maluku, menyimpulkan bahwa awalnya penduduk menggunakan satu bahasa asli dari Seram (bahasa Alune atau Wemale). Perbedaan kecil mulai terjadi dalam berbahasa akibat banyaknya pendatang dan terpencarnya penduduk ke pulau-pulau lain di Maluku. Akibat dari lemahnya bahasa asli yang digunakan penduduk pada awal tersebut dimana bahasa dimaksud tidak memiliki tulisan atau kepustakaan. Penduduk pada periode itu semua sibuk dengan perdagangan dan tentu ada perebutan wilayah dimana perang terus berlangsung diantara penduduk. Jadi mereka kehilangan waktu untuk mendokumentasikan bahasanya dalam tulisan dan kepustakaan yang asli. akibatnya untuk menuliskan bahasa mereka digunakan tulisan Arab dalam lingkungan pemeluk Islam, sebaliknya tulisan Latin untuk lingkungan Kristen.

Dalam perkembangan selanjutnya tercatat bahwa lingkungan Kristen dimana desa mereka sebagian besar pada pesisir pantai mengalami punahnya penguasaan bahasa daerah lebih cepat, hal ini karena Bahasa Melayu dengan cepat diterima secara sistematis dan luas yakni pada lembaga gereja dan sekolah. Penutur asli bahasa hanya terpelihara pada mereka yang berusia tua sedangkan anak-anak muda mencoba menghindar untuk menggunakannya. Lebih parah lagi gereja ingin membaharui konsep pandang anggotanya dari penyembahan adat yang menggunakan bahasa daerah dengan penyebaran teologi yang lebih terbuka dengan bahasa Melayu. Bisa terjadi salah paham antara yang mau menggunakan bahasa daerah setempat dengan para fungsionaris gereja yang menentang adat dalam ritual gerejawi. Akhirnya pemangku adat menyerah dan posisi pemimpin gereja dalam lingkungan pemeluk Kristen lebih tinggi dan sangat dihormati daripada seorang pemimpin adat atau kepala desa. Oleh sebab itu di Maluku kita mencatat bahwa wilayah yang memeluk Agama Islam tetap mempertahankan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari, bahkan para pemimpin khotbah di Mesjid menggunakan Bahasa Arab dan bahasa daerah.

Hal yang berbeda untuk desa atau pemukiman penduduk beragama Kristen yang menetap di wilayah pegunungan di Pulau Seram dan Buru. Mereka tetap menggunakan bahasa daerah, karena kebanyakan pemimpin gereja berasal dari anak negeri setempat. Gereja tidak akan mengirimkan orang di luar kelompok untuk bertugas pada wilayah yang sulit dan jauh hanya ditujukan pada mereka yang punya jiwa pengabdian yang tinggi. Lain halnya dengan di pedalaman Pulau Buru, pendeta yang bertugas pada umumnya (Maaf ini hanya pendapat pribadi Penulis), adalah orang dalam status dihukum karena kesalahan penggunaan wewenang sebagai pemimpin umat di suatu wilayah tertentu. Orang gunung di Seram dan Buru sangat memahami strategi tersebut, sehingga baik guru sekolah atau pemimpin gereja yang tiba di wilayah mereka harus menguasai bahasa daerah setempat. Hal ini berbanding terbalik dengan mereka yang hidup di wilayah pesisir pantai. Pengalaman kami di Pulau Seram dan Pulau Buru menunjukkan bahwa ada ide untuk mempertahankan bahasa daerah setempat yang dilakukan oleh peneliti Summer Institute of Linguistic (SIL) yakni menerjemahkan kitab suci agama Kristen (Alkitab) kedalam Bahasa Alune dan Bahasa Buru. Informasi tentang kegiatan ini pada Bahasa Wemale belum kami ketahui secara pasti.

 

3. Pendekatan Etnoekologi dan Studi Kebahasaan

Pendekatan etnoekologi yang dikembangkan sebagai disiplin ilmu seyogyanya bermula dari penguasaan etnologi sebagai ilmu yang membicarakan suku bangsa. Pada level berikutnya penguasaan pada habitat manusia di alam. Relasi manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa dipandang tunggal namun bersifat multidisiplin. Untuk itu penguasaan berikutnya pada level etnobotani. Perkembangan etnobotani sebagai suatu ilmu tak lepas dari latar belakang filsafati dan sejarah yang melahirkannya. Terminologi filsafati merujuk pada roh dari ilmu dimaksud, dalam bahasa Prancis disebut “l’esprit de la science”. Sedangkan sejarah akan mengungkapkan catatan-catatan penting atau peristiwa dimana ilmu tersebut mendapat pengaruh sesuai periode waktu berjalan.

Sebelum mengemukakan konsep dasar etnobotani, maka saya akan mengemukakan pandangan atau aliran penelitian yang menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya dimana pada relasi tersebut masyarakat senantiasa berasosiasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan :

  • Penelusuran yang pertama, yakni pada periode penjajahan. Pada fase ini kita mencatat bahwa negara-negara Eropa Barat melakukan expansi untuk menguasai wilayah dengan sumberdaya alamnya. Pada saat yang sama sudah ada tradisi yang dikenal sebagai botani ekonomi (economic botany) yaitu mulai memfokuskan eksplorasi penelitian pada penggunaan tanaman, khususnya untuk mendapatkan spesies baru yang berpotensi ekonomi. Aliran penelitian semacam ini banyak dikerjakan oleh para ahli dari negara-negara kolonial seperti Belanda, Prancis dan negara Eropa Barat lainnya. Dari sini lahir ahli botani yang kita kenal yaitu Rumphius, Heyne dan Ochse.
  • Penelusuran yang kedua, yakni periode pasca kemerdekaan. Indonesia mulai mengurangi pengaruh Belanda dan berkiprah ke Amerika Serikat. Langkah pertama dengan menyekolahkan kaum terpelajar dan peneliti ke sana dan pada saat yang sama ada pengaruh aliran ekologi budaya (cultural ecology) dan ekologi manusia (human ecology). Aliran ini tidak terlepas dari roh keilmuan yang dikembangkan pada fase penjajahan hanya mulai mengalami metamorphosis dengan menggabungkan pesatnya kemajuan ilmu botani yang disebut biologi. Jadi aliran ini mulai menganalisis proses hidup suatu masyarakat serta hubungannya dengan lingkungan, tetapi menggunakan konsep kerja para ahli biologi yang dipakai untuk mempelajari ekosistem. Pada periode ini kita mengenal peneliti dan ilmuwan terkenal seperti Clifford Geertz, Conklin, Vayda, Michael Dove dan Rambo yang memakai pendekatan ekologi budaya.

Dua pengalaman dalam aliran berpikir ini semuanya bermuara pada objek penelitian yang menganalisis ketergantungan manusia pada dunia tumbuh-tumbuhan. Aliran pertama telah mencatat hasil yang fantastik dengan menyajikan motede penelitian yang terstruktur yang dimulai dari koleksi hingga identifikasi dan klasifikasi ilmiah. Herbarium merupakan hasil penemuan ilmiah yang sangat luar biasa manfaatnya dan dipakai hingga saat ini untuk mengidentifikasi dunia tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian etnobotani adalah fondasi ilmu untuk lebih memahami pengembangan ilmu lain yang menerangkan hubungan masyarakat dengan lingkungannya.

Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka etnobotani secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu ethno berarti bangsa atau kelompok etnis atau masyarakat, sedangkan botani merujuk pada dunia tumbuh-tumbuhan. Disatukan dalam terminologi etnobotani untuk memberikan gambaran tentang keutuhan pendekatan, Etno dengan etnologi dalam ethnoscience diperlukan untuk mengungkapkan sistem pengetahuan yang dimiliki suatu suku bangsa. Beberapa pakar berpendapat bahwa ethnoscience sinonim dengan folkscience yang bertumpu pada sistem kogniftif terutama dalam mengungkapkan aspek klasifikasi dan nomenklatur dalam relasi dengan alam (Barrau, 1985). Disamping ethnoscience mereka juga mengemukakan adanya ethnosciences dalam bentuk jamak yang mengarah pada sekumpulan disiplin ilmu yang berkorelasi dengan alam termasuk didalamnya etnobotani sedangkan yang lain adalah etnozoologi, etnobiologi, etnoekologi, etnomineralogi, etnofarmakologi, etnomedisin dan sebagainya.

Pengembangan etnobotani sebagai suatu disiplin ilmu tidak dapat dipisahkan dari metodologi yang dikembangkan dengan memandang masyarakat dan ekosistemnya sebagai sesuatu keseluruhan atau totalitas, sebagaimana apa yang sering dikatakan oleh para pakar antropologi yaitu konsep holistik, maka diperlukan sistem kerja dalam etnobotani seperti berikut ini (Friedberg, 2002) :

  • Pentingnya menganalisis sudut pandang masyarakat berdasarkan konsep asli seperti yang terungkap dalam bahasa mereka
  • Pentingnya pendekatan interdisipliner, yang memungkinkan peneliti memadukan berbagai faktor yang terlibat baik dari bidang biologi maupun dari bidang sosial budaya.

Di Kepulauan Maluku dengan kekayaan biodiversitas tanaman yang tinggi dan unik pada pulau-pulau kecil serta tercatat ada sekitar 117 bahasa (90 bahasa di Maluku dan 27 bahasa di Maluku Utara). Data tentang bahasa juga bisa menggambarkan jumlah etnis di Kepulauan Maluku (Pattinama, 2005a). Ini merupakan lapangan riset dengan tema menarik yang bisa dieksplorasi untuk melengkapi informasi ilmiah tentang Maluku secara komprehensif.

 

4. Kekuatan Bahasa dalam Rasa, Karya dan Karsa: Pengalaman di Pulau Buru

Kami ingin membagi pengalaman selama penelitian di Pulau Buru yang diawali dengan keputusan untuk belajar dan menguasai Bahasa Buru selama setahun. Dengan demikian materi pembicaraan ini diambil dari pengalaman pribadi selama hidup sebagai Geba Bupolo di Rana Lalen. Disamping itu pula relasi sosial juga dibangun dengan semua orang atau manusia yang menyebut dirinya Orang Buru di Lisaboli Lisela, Masa Mesirete dan Lacalua Kayeli serta Regenschap Ambalau.

Langkah berikutnya setelah menguasai Bahasa Buru adalah mengenal manusia yang hidup di Pulau tersebut. Penduduk di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli, autokton, (Geba Bupolo) yang hidup di pegunungan dan penduduk pendatang, alokton, (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005a dan 2005b). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 1).

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton.

Dalam catatan botani dunia, ditemukan bahwa tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) adalah tanaman asli Pulau Buru. Tahun 1925, kolonial Belanda membawa spesies ini dari Buru sebagai tanaman penghijauan di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Pada masa kejayaan perdagangan rempah-rempah, penduduk pulau ini telah bersinggungan dengan bangsa Eropa, sehingga Belanda menamakan suatu tempat di Pulau ini dengan sebutan Kayeli (Kayoe poetih olie).

Pulau Buru atau Bupolo mengalami lima periode pengaruh pendudukan (okupasi) yaitu periode Sultan Ternate, Portugis, Belanda, Jepang dan Indonesia. Periode Sultan Ternate, selain perdagangan juga ada mobilisasi penduduk dari Sula dan Sanana untuk menanam pohon kelapa. Perdagangan kayu putih dan damar dilakukan melalui hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan Sultan Buton dan Sultan Bone. Kemudian Portugis membuat instabilitas perdagangan antara Sultan Ternate dengan pedagang Arab dan Cina di dataran Kayeli. (Pattinama, 2005a). Gambar 1 di bawah ini juga menjelaskan pertemuan puncak-puncak budaya antar suku dan bahasa yang digunakan dalam relasi sosial.

 

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Sejak zaman kolonial hingga kini masyarakat asli Pulau Buru (Geba Bupolo) disebut sebagai suku terasing, tidak beragama, pemalas dan alifuru[3]. Istilah „burro“ (yang kemudian menjadi Buru) diberikan kepada pulau ini dan kata ini ditemukan pada peta Indonesia yang dipublikasi tahun 1613 oleh misi dagang Portugis. Kata Burro (bahasa Portugis) mengandung dua arti yaitu keledai dan bodoh. Ada dua hipotesis dapat penulis kemukakan, pertama, kata burro untuk menamakan babi rusa (Babyrousa babyrussa) dimana untuk pertama kali Portugis melihatnya di pulau ini. Kedua, kata burro dialamatkan kepada masyarakat Bupolo, karena mereka selalu menolak kehadiran Portugis di setiap kampung (humalolin). Cara menolak adalah semua penduduk meninggalkan kampung dan masuk ke hutan. Setelah periode Portugis, maka berikutnya masa penjajahan Belanda, kata Burro tidak digunakan dan ditulis Boeroe atau Buru dalam Bahasa Indonesia.

Selanjutnya periode Jepang membuat wilayah ini semakin terisolir. Saat Jepang harus meninggalkan Pulau Buru tahun 1945, mereka terpaksa harus berpisah dengan budak sex jugun ianfu yang berasal dari Korea dan Pulau Jawa. Para perempuan yang terpaksa harus menjadi budak sex ini terpaksa dipelihara oleh para kepala adat dan akhirnya dijadikan istri. hingga saat ini.         Tahun 1969, Pemerintah Indonesia menetapkan pulau ini khususnya di dataran Waeyapo sebagai kamp konsentrasi tahanan politik G30S/PKI.

Kehadiran HPH sebagai sosok ekonomi modern di tengah hutan belantara Pulau Buru memberikan dampak besar kepada autokton yang masih hidup nomaden. Ciri kehidupan terasing (baca: sederhana) dan terisolir pada daerah pegunungan serta merta diperhadapkan dengan pilihan antara menunggu (menjaga) daerah sakral yaitu tempat bersemayam nenek moyang mereka atau hak membabat hutan yang sudah resmi diberikan negara kepada pengusaha HPH. Posisi autokton sangat jelas menjadi lemah dan inferior baik di hadapan hukum negara maupun pelaku ekonomi modern. Yang terjadi adalah kompetisi disekuilibrium. Hal yang sama akan terjadi dengan ditemukannya tambang emas di Pulau Buru.

Apa arti Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen bagi orang Bupolo ? Ini adalah pernyataan filsafati dari Geba Bupolo yang sakral di Rana Lalen. Maknanya sangat holistik yang menghubungkan manusia dengan alam raya, juga antara manusia dengan manusia dan manusia dengan sang khalik. Untuk memahami pernyataan filsafati tersebut, selama pengalaman kami di lapangan, tidak dapat diperoleh melalui hasil wawancara baik dengan responden masyarakat maupun responden kunci. Jadi pemahaman akan diperoleh jika kita terlibat dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Jelaslah bahwa kami sangat yakin dengan sub judul makalah ini bahwa kekuatan bahasa akan mengandung sesuatu nilai berharga dalam rasa. karya dan karsa.

 

5. Upaya Pengembangan Bahasa Daerah di Maluku

Selaku pemerhati Bahasa Daerah di Maluku dan terlepas dari bidang kajian kami yang sangat spesifik untuk Pulau Buru, maka fungsi kami selaku pendidik mengamati dengan cermat bahwa pemicu punahnya bahasa daerah sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang terjadi beberapa ratus tahun yang lampau seperti yang kami kemukakan di atas. Hal ini berarti bahwa proses yang terjadfi saat ini hanya mengalami metamorphosis sesuai periode dan waktu berjalan. Dengan demikian pemicu saat ini lebih banyak pada alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat seperti televisi, radio dan alat elektronika lainnya yang menghubungkan satu dan lain tempat dengan tanpa batas.

Untuk itu saran yang bisa kami sampaikan untuk upaya pengembangan bahasa daerah tetap dari ancaman kepunahan adalah sebagai berikut :

  • Mempopulerkan kembali cerita rakyat dalam tradisi lisan dalam bahasa daerah setempat dalam suatu kompetisi guna merayakan Hari Ulang Tahun Provinsi Maluku.
  • Peran orangtua harus tetap memelihara bahasa daerah di rumah dalam membangun komunikasi dengan anak-anak. Harus diberi pemahaman yang holistic bahwa bahasa daerah sangat penting dalam melestarikan budaya dan membangun jati diri.
  • Program pembelajaran bermuatan local harus disertai dengan buku yang ditulis dalam bahasa daerah yang ditetapkan sebagai bahasa lokal setempat. Seperti contoh di Pulau Ambon ini ditetapkan Bahasa Hitu sebagai bahasa yang harus dikuasai oleh seluruh murid SD daripada mereka harus dipaksa untuk menguasai Bahasa Inggris.
  • Dalam hubungan dengan pengaruh teknologi televisi dan radio, maka Pemerintah Daerah Maluku harus menetapkan penyiaran mata acara tertentu harus menggunakan bahasa daerah.
  • Pada tahun 2006 yang lalu kami sempat melontarkan sebuah ide di Kantor Gubernur Maluku ini untuk memberi nama dengan bahasa lokal pada setiap ruangan. Kami pikirkan pada waktu itu memberi nama sagu yang berasal dari beberapa bahasa daerah di Maluku.

 

Epilog

Upaya penyelamatan bahasa-bahasa daerah yang terancam punah seyogyanya diteliti kembali dan hal ini bukan menjadi tugas dari Kantor Bahasa Provinsi Maluku, tetapi bisa membangun mitra penelitian dengan perguruan tinggi yang ada di Maluku sehingga deteksi dini terhadap bahasa yang hampir punah bisa lebih cepat. Kami yakin masih ada penutur asli yang bisa dikonservasi dalam laboratorium bahasa untuk mendata kosa kata serta seluruh aspek kesusasteraan dari bahasa tersebut.

Materi yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional di Rana Lalen dan hasilnya dianalisis dan diintepretasi dalam dunia modern. Jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas. Untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Maluku seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan, misalnya kajian Bahasa Daerah di Maluku akan mendapatkan bentuk yang sempurna dalam program revitalisasi bahasa daerah dari Kantor Bahasa Provinsi Maluku.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barrau, Jacques, 1985. Les savoirs naturalistes populaires, Actes du seminaire de sommieres, Editions de la Maison des sciences de l’homme.

Cooley, Frank L, 1987, Mimbar dan Tahta, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Friedberg, Claudine, 2002. L’anthropologie face à la question de l’appropriation de la biodiversité : la biodiversité est-elle appropriable ?, in : Franck-Dominique Vivien (Ed.), Biodiversité et appropriation, les droits de propriété en question : 163-176

Pattinama Marcus Jozef, 2005a. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005b. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.



[1]Disampaikan pada Seminar Revitalisasi Bahasa-Bahasa Daerah di Maluku. Kerjasama Kantor Bahasa Provinsi Maluku dengan Pemerintah Provinsi Maluku, di Ambon, pada tanggal 12 November 2012.

[2]Guru Besar Etnoekologi Universitas Pattimura Ambon, Dosen pada PS. Agribisnis Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon.

[3]Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.