Archive for LINGKUNGAN

BERDIRI DI DARAT DAN MEMANDANG KE LAUT

MEMANDANG-KE-LAUT

oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[1]

I. Prolog

Memuliakan Laut. Tema ini kembali digaungkan melalui pemaparan diversifikasi ide pada penerbitan buku ketika merayakan Dies Natalis Universitas Pattimura Ambon yang kini telah berusia 54 tahun pada April 2017. Jika boleh dapat kami sampaikan bahwa tema ini tidak dapat dipisahkan dari Pola Ilmiah Pokok Unpatti, Bina Mulia ke Lautan. Dengan demikian landasan berpikir yang hendak dikembangkan dalam tulisan ini adalah bagaimana sumbangan yang dapat diberikan oleh ilmu-ilmu pertanian dalam memberikan penguatan terhadap tema Memuliakan Laut yang pada gilirannya memberikan ciri dan identitas yang makin lengkap terhadap arah pengembangan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon ke depan.

Memuliakan laut sebagai derivatif Bina Mulia ke Lautan adalah konsep yang mengandung makna filosofi paling tinggi karena senantiasa berkohesi dengan dunia nyata dan dunia kosmologis orang Maluku. Dalam hidup sehari-hari orang Maluku sulit dipisahkan dari laut karena dari sanalah ada ladang hidup berkelanjutan. Sedangkan pandangan kosmologis juga tidak dapat dipisahkan dari laut sebagai suatu entitas. Ada hubungan totalitas antara ruang langit dan ruang bumi, dimana ruang bumi tidak hanya dibatasi pada zona darat namun demikian mencakup zona laut. Kemudian dalam tatanan bernegara, tema kelautan pada saat ini menjadi « à la mode » atau « up to date » bahkan menjadi tema dalam hubungan dengan issue Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dalam kalkulasi ekonomi makro, laut Indonesia akan menjadi sumber devisa negara terbesar dan Maluku adalah poros maritim Indonesia.

Ide memuliakan laut mengandung dua tataran makna yakni makna harafiah adalah menyempurnakan laut dengan penuh keluhuran dan makna filosofi adalah suatu tatanan cintarasa terhadap lautan dengan kesadaran dan penghayatan untuk senantiasa menjunjung tinggi lautan dengan segala harta kekayaannya sebagai sumber kehidupan yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Manusia

Menurut hemat penulis bahwa memuliakan laut adalah suatu falsafah pendidikan dan bukan merupakan suatu ilmu atau disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan pula bahwa memuliakan laut adalah suatu konsep inovasi yang mengandung orientasi dasar ilmiah dengan tujuan pengembangan dan kerjasama pendidikan pada level paling bawah hingga level paling tinggi.

 

II. Makna Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut

Memuliakan laut seyogyanya mendapat sentuhan makna aplikasi sehingga ada wujud nyata yang bisa dipahami dari bebagai bidang ilmu. Dengan kata lain memuliakan laut akan menjadi lengkap apabila ditopang dalam perspektif multidisiplin dan interdisipliner. Untuk itu disiplin ilmu pertanian memaknainya dengan Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.    Disiplin ilmu pertanian mencoba untuk mengembangkan pemikiran yang sangat sederhana dari memuliakan laut yaitu berdasarkan hubungan sebab-akibat. Pernyataan Berdiri di Darat bermakna bahwa pemahaman konsep ruang dimana seluruh aktifitas pertanian pada ekologi daratan adalah suatu ruang entitas dimana manusia berpijak untuk hidup. Sedangkan pernyataan Memandang ke Laut artinya bukan sebatas memandang dengan alat indera mata saja tetapi menunjuk pada konsep pembagian waktu kerja penuh untuk meramu wilayah daratan dimana semua aktivitas bekerja di darat tersebut tidak dapat dipisahkan dari ruang laut dengan segala ekologinya. Disini hubungan darat dan laut menjadi suatu entitas yang utuh. Dengan kata lain bahwa memandang ke laut memiliki bobot yang sama dengan berdiri di darat. Pendefinisian memandang ke laut ini berangkat dari pemahaman nyata dari masyarakat pertanian yang ada di Maluku dimana mereka mendiami hanya satu pulau besar (Seram) dan sisanya bermukim pada pulau kecil (< 10.000 km²) dimana laut dan pulau adalah rumah mereka yang sulit dipisahkan.

Seorang petani di Maluku selalu memangku dua profesi pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani yang mengelola ekologi daratan dan sebagai nelayan yang juga mengelola ekologi laut. Dengan demikian seorang petugas penyuluhan pertanian di suatu desa akan berhadapan dengan seorang petani dan juga merangkap sebagai seorang nelayan. Dengan kata lain ini berdampak pada saat kegiatan penyuluhan pertanian atau kegiatan penyuluhan perikanan maka petugas akan berhadapan dengan orang yang sama. Profesi bivalen yang dimiliki oleh petani di Maluku yang memberikan inspirasi pada disiplin ilmu pertanian untuk merumuskan falsafah pembangunan pertanian di Maluku : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.

Kenyataan lainnya yang mendukung falsafah ini adalah dalam hal penguasaan tanah di Maluku. Studi yang mendalam tentang organisasi teritorial menunjukkan bahwa penguasaan tanah di Maluku mempunyai batas-batas yang hanya ditandai secara alami, misalnya gunung, air, tanitan, dan tanaman (pohon) tertentu, akibatnya luas daerah yang menjadi hak milik tidak bisa diukur secara akurat ditambah pula dengan hak petuanan yang bersifat komunal. Penguasaan tanah juga menjangkau dalam wilayah sungai yang mengalir dari sumbernya pada daerah pegunungan hingga bermuara pada wilayah lautan. Untuk wilayah ini pendefinisian pemilikan akan terukur pada batas akhir saat air laut surut (meti). Oleh karena itu pada surat resmi kepemilikan tanah yang diakui oleh Negara sebagai Surat Dati juga mencantumkan batas-batas kepemilikan wilayah yang dicatat berdasarkan terminologi vernakuler.

 

III. Konsep Pertanian di Maluku

Dalam berbagai pertemuan ilmiah baik yang diselenggarakan pada intern Fakultas Pertanian maupun pada ekstern di level regional dan nasional, Fakultas Pertanian telah menetapkan arah bahwa konsep pembangunan pertanian yang hendak dikembangkan di Provinsi Maluku adalah Konsep Pertanian Kepulauan.

Konsep pertanian kepulauan seyogyanya dipandang dari tiga konsep ruang dimana organisme hidup termasuk manusia memilihnya sebagai suatu habitat yaitu gunung, pantai dan laut. Ketiga ruang ini harus dilihat secara holistik. Jika kita mau membangun manusia, dalam hal ini memanusiakan manusia, maka harus dimulai dari habitat dimana manusia berada yaitu ruang yang memungkinkan manusia bisa berkarya sepanjang hidup dengan curahan waktu kerja penuh. Itu berarti manusia hanya bisa menggunakan ruang gunung dan pantai. Sedangkan ruang laut atau lautan adalah tempat hydroorganisma. Ruang laut tidak bisa menjadi pemukiman manusia dan lebih cenderung dijadikan sebagai ruang untuk menghidupi manusia, dimana kondisi laut tidak bisa ramah sepanjang waktu. Kondisi yang ramah itu hanya bisa diketahui oleh manusia yang mengelolanya. Contohnya : pergerakan arah angin di darat akan menjadi indikator bagi manusia untuk memprediksi situasi di laut.

Pertanian kepulauan tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah kepulauan itu sendiri dimana situasi dan kondisi akan sangat berbeda dengan wilayah kontinental, terutama bila dilihat dari sisi luasan ketersediaan lahan untuk mengembangkan suatu usaha pertanian yang intensif. Kemudian iklim yang beragam dan cuaca yang fluktuatif dari pulau ke pulau, serta jenis tanah dengan sifat erodible dan tingkat kesuburan tanah yang rendah, mudah tercuci pada bagian top-soil dengan ketebalan tanah yang rendah merupakan faktor-faktor pembatas pembangunan sistem pertanian kepulauan.

Dengan segala keterbatasan sumbaerdaya alam maka untuk menerapkan pola pertanian di wilayah kepulauan diharapkan mempertimbangkan faktor ekosistem wilayah tersebut sehingga dapat mengembangkan suatu model dengan pola yang sifatnya berkelanjutan. Ciri utama dari wilayah kepulauan adalah terbatasnya lahan datar dengan kondisi kepulauan yang terisolasi satu dengan yang lain memberi peluang untuk mengembangkan pola pertanian lahan kering dengan komoditi unggulan yang kompetitif seperti yang sudah dipraktekkan oleh petani Maluku yaitu mengembangkan sistem agroforestry tradisional. Berikut ini beberapa nama lokal dari sistem agroforestry tradisional adalah dusung (Pulau Ambon dan Lease), lusun (Pulau Seram), wasilalen (Pulau Buru) dan atuvun (Pulau Kei). Model ini merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika kita bayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani dari tanaman campuran antara tanaman hutan dan tanaman pertanian (agrisilvikultur) ke pola usahatani tanaman pangan dengan sistem monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai sehingga akibatnya terjadi pengrusakan vegetasi tanaman daerah pantai (=mangrove) dan yang tidak kalah penting adalah rusaknya daerah terumbu karang. Kerusakan ekosistem daerah pantai akan memberi dampak pada siklus hidup plankton dan jenis biota laut lainnya.

Jadi tindakan merubah ekologi daerah pegunungan akan memberikan indikasi bahwa nilai cinta-rasa memuliakan laut sudah pudar. Amati dan bandingkan dengan tindakan « illegal logging » yang pernah dipraktekkan oleh para pemegang konsesi hutan, akibatnya yang dirasakan saat ini adalah ekosistem daerah pegunungan sangat cepat berubah.

Selanjutnya, sistem pertanian di pulau-pulau kecil selayaknya mengadopsi konsep pertanian dengan input luar rendah dan agroekologi. Konsep LEISA (Low external input sustainable agriculture) merupakan suatu pilihan yang layak bagi petani dan bisa melengkapi bentuk-bentuk lain produksi pertanian. Konsep ini selanjutnya menekankan prinsip-prinsip ekologi dalam pertanian dengan menempatkan usahatani sebagai relung ekologi yang mirip dengan alam yang berupaya mencapai keanekaragaman fungsional dengan mengkombinasikan spesies tanaman dan hewan (agrosilvopastura) dimana hal ini sudah dipraktekkan oleh petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang disebut lutur. Konsep pertanian lutur adalah yang saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergetik dan positif, sehingga kestabilan bisa diperbaiki, dan produktifitas sistem pertanian dengan input rendah.

 

IV. Epilog

Pandangan yang diberikan ini adalah tidak lain bersumber dari pengalaman kami sebagai guru di kampus dan peneliti di lapangan serta laboratorium, dimana kesemuanya diperoleh dari interaksi yang dinamis dengan penuh kerendahan hati mau mendengar, mancatat dan mempelajari semua informasi dan pengetahuan lokal yang dipraktekkan oleh petani dalam mengelola alam serta interaksi harmonis antar manusia dengan alam yang harus mereka ciptakan untuk bisa bertahan hidup. Sistem pertanian yang dijalani adalah gambaran linier dari sistem peradaban manusia karena memang pertanian adalah peta peradaban manusia.

Konsep memuliakan laut yang dijabarkan dalam konsep berdiri di darat dan memandang ke laut adalah landasan sistem pertanian berkelanjutan yang memiliki lima dimensi pandang, yaitu dimensi nuansa ekologis, dimensi kelayakan ekonomis, dimensi kepantasan budaya, dimensi kesadaran sosial, dan dimensi pendekatan holistik. Penguatan kelima dimensi tersebut di atas adalah bertujuan untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan, meningkatkan mutu sumber daya manusia, meningkatkan kualitas hidup, serta menjaga kelestarian sumber daya melalui strategi kerja keras proaktif, pengalaman nyata, partisipatif, dan dinamis.

Artikel dalam Buku Pandangan Guru Besar tentang tema Memuliakan Laut untuk Dies Natalis UNPATTI Ambon ke-54, Tanggal 23 April 2017.

 



[1] Guru Besar Ethnoekologi dan Staf PengajarJurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti Ambon.

LA MAIN Á LA PÄTE SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN INSTITUSI INTERNASIONAL

LA MAIN Á LA PÄTE

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

 Prolog

La Main à la pâte adalah suatu konsep pengembangan ilmu pendidikan berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan dari pendidikan pada level sekolah dasar dan perguruan tinggi. La Main à la pâte sangat sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tetapi secara umum dapat disebut sebagai “TANGAN DALAM ADONAN”.

La Main à la pâte adalah konsep yang memiliki filosofi yang sangat tinggi yang dibangun pada tahun 1996 oleh Georges CHARPAK, pemenang Nobel Fisika dari Prancis. Kemudian tahun 2012 ditetapkan sebagai landasan kerjasama ilmiah oleh institusi teknik yang bergengsi di Prancis seperti  Ecole Normale Superieure de Paris dan École Normale Supérieure de Lyon. Selanjutnya La Main à la pâte telah menjadi suatu yayasan yang punya pengaruh di Perancis dan di dunia.

Siapa Georges CHARPAK ?

Georges-Charpak

Lahir pada tahun 1924 di Ukraina, Georges Charpak tiba di Perancis dengan orang tuanya pada usia 7 tahun. Kemudian dia harus cepat belajar bahasa Prancis yang akan menjadi lidah baru baginya. Oleh karenanya dia selalu merasa berhutang budi kepada sekolah yang mendidik dia. Sebagai seorang mahasiswa brilian, ia membahas pendidikan tinggi pada saat perang. Bergabung dengan Perlawanan, ia ditangkap dan dideportasi dengan nama palsu Charpentier ke kamp konsentrasi Dachau.

Setelah dibebaskan pada tahun 1945 ia memasuki Ecole des Mines de Paris dan kemudian bekerja sebagai peneliti pada laboratorium fisika nuklir Frédéric Joliot-Curie. Setelah itu dia tertarik dengan fisika partikel elementer, mengantarnya untuk bergabung CERN (le Centre Européen de Recherche Nucléaire), Pusat Riset Nuklir Eropa yang berkedudukan di Jenewa. Tahun 1992 Georges CHARPAK adalah pemenang Penghargaan Nobel dalam Fisika. Tahun1996 mempopulerkan konsep la Main à la pâte untuk melawan kegagalan akademis dan kekerasan di lingkungan miskin. Tahun 2010 Georges CHARPAK meninggal dunia.

 

Manusia Prancis dan Ilmu Pengetahuan

Kami cenderung melihat sesuatu dari dasarnya dalam hubungan kerjasama yaitu manusia seutuhnya sebagai sumbernya. Kami tidak ingin membandingkan antara manusia Prancis dan manusia Indonesia, tetapi ingin mensejajarkan kedua manusia dan budaya tersebut, sehingga dapat terlihat bagaimana kita sampai pada hubungan yang ada sekarang.

Manusianya kami lihat dari segi pembentukannya melalui pendidikan formal (modern) yang terutama mendasari sikap pikir dan pandangnya dalam ilmu pengetahuanya itu. Pendidikan manusia Prancis bertumpu pada ajaran Descartes (lihat : Discours de la méthode) ; dimana akal budi adalah alat yang dipakai untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah, berarti mencari apa yang sebenarnya, sehingga manusia itu mendapat keyakinan penuh dari apa yang disimak di luar dirinya. Mereka dididik untuk menemukan sendiri, sehingga mencapai keyakinan yang kokoh atas kebenaran objek yang disimak. Dengan kata lain tiap manusia itu yakin akan kebenaran pandangannya. Demikianlah dikenal ungkapan “autant de têtes, autant d’avis”.

Oleh karena itu mulai dari bangku sekolah mereka sudah dilatih untuk mengembangkan observasi, menganalisis apa yang diamati untuk menilai kebenarannya (l’objet des etudes doit être de diriger l’esprit jusqu’à le rendre capable d’énoncer des jugements solides et vrais sur tout ce qui se présente à lui). Mereka selalu mempertanyakan « kenapa dan bagaimana » (le pourquoi et le comment) untuk meyakinkan kebenaran pandangannya. Maka dapatlah dimengerti bila pada umumnya mereka kurang terbuka dalam arti bahwa kebenaran pandangannya menjadi keyakinannya yang akan dipegang teguh sampai ada pembuktian lain yang menunjukkan ketidakbenarannya.

Di sini dapat dilihat bahwa ide atau pendapatlah yang dikembangkan dan dihargai. Selain itu cara pemaparan penalarannya pun harus jelas dan beruntun dalam hubungan sebab akibat. Oleh karena itu penilaian dan ide yang tepat dan bersifat subjektif itu menjadi ukuran keunggulan seseorang. Perdebatan pendapat dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi manusia Prancis itu. Seseorang yang tidak mengemukakan pendapat tidak menarik. Ide orisinal selalu dicari. Ini tampak dalam pencarian mereka atas dasar ingin tahu akan hal-hal yang khas, istimewa, atau tidak umum. Wajar pula bila mereka memupuk pengetahuan yang luas dan ungkapan « memiliki kepala yang penuh pengetahuan » menjadi tujuan manusia yang berpendidikan. Dan pengetahuan yang didapat berdasarkan rasa ingin tahuakan apa yang ada di luar dirinya itu berarti hasil dari hubungan antara subjek dan objek, Manusia yang demikian akan selalu melihat apa yang di luar dirinya.

Dengan sikap pandang tersebut, kami melihat bahwa selama mereka berada dalam konteks dunianya, terutama bila objeknya dari duania Prancis sendiri, tidak kami rasa ada keganjilan pada pandangan mereka. Keganjilan itu akan timbul bila objek pandangnya adalah fenomena Indonesia atau dari budaya “asing”. Maka pandangan mereka kurang mengena (sebenarnya adalah fenomena universal).

Pertanyaan lain timbul, bagaimana dampak tulisan mereka yang menjadi acuan bagi mereka yang belum mengenal realitasnya ? Pemaparan yang disampaikan dengan nada yang meyakinkan sikap yang tertanam pada manusianya akan mudah diterima sebagai kebenaran realitas objeknya. Terlebih lagi pakar dianggap sebagai orang yang memahami objeknya. Bagaimanapun para pakar itu sedikit banyak menyadari bahwa pandangan mereka itu suatu interpretasi.

 

Manusia Indonesia dan Ilmu Pengetahuan

Dalam mengenal lahan Indonesia dimana tumbuh ilmu pengetahuan modern ini, kita menyadari bahwa suatu sistem budaya tradisional dan modern berjalan bersama dan ilmu pengetahuan itu di sini tumbuh di atas akar budaya tradisional tersebut.

Bagaimana akar budaya tradisional ini ? Sebenarnya sudah kita pahami bahwa ilmu yang tumbuhdari akar tradisional ini berbeda. Ilmu di sini merupakan ajaran hidup dan menuntun manusia untuk menjadi “manusia utama”. Di sini ilmu tidak dipelajari sebagai pengetahuan yang didasari oleh rasa ingin tahu, tetapi harus diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi memang tidak dapat disebut ilmu pengetahuan. Dalam ilmu ini manusianya dituntun untuk menyimak ke dalam dirinya dan meresapi apa yang ada di luar dirinya tanpa memberi pendapat. Sedang yang disebut manusia itu adalah manusia seutuhnya yaitu lahir dan batin. Sikap pandangnya pun menyeluruh (Global) dan manusia itu sendiri adalah bagian dari alam raya ini.

Dengan demikian mereka ini tidak didorong untuk mengemukakan pandangan atau ide mereka, perdebatan pun tidak mudah timbul. Mereka lebih cenderung mengikuti sikap seperti dalam ungkapan ilmu padi : makin berisi makin merunduk. Diam adalah sikap “manusia utama”, manusia yang sempurna lahir batin. Pendidikan tradisonal menuntun manusianya manuju sikap tersebut.

Ilmu pengetahuan yang kemudian tumbuh di atas lahan tradisional ini tentu tidak berproses sama seperti pada lahan aslinya. Dengan masuknya pendidikan BARAT kadar unsur tradisional dalam diri manusianya memudar tergantung dari penyerapan modern tersebut. Akan tetapi sadar atau tidak, unsur-unsur tradisional itu tidak akan lenyap dan pada kondisi tertentu akan muncul juga.

 

Strategi Membangun Kerjasama

Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Orang lain akan menutupi kelemahan atau menambah kekuatan kita. Namun untuk membangun hubungan kerjasama apalagi kerjasama internasional dengan pihak lain bukanlah perkara mudah. Tidak jarang kita gagal membangun hubungan karena kita tidak siap.

Berikut ini beberapa cara membangun hubungan kerjasama dengan pihak lain berdasarkan pengelaman kami :

1.Tentukan Tujuan

Tentukan dengan jelas mengapa harus bekerjasama. Apa yang bisa didapatkan? Apa yang bisa diberikan? Saat kita bisa menjawab pertanyaan ini, maka kita bisa mencari pihak yang tepat untuk diajak kerjasama. Hal ini akan membuat kita lebih efektif dan fokus pada tujuan dari kerjasama dimaksud.

2.Siapkan Profil

Siapkan beberapa materi tentang institusi ini. gali latar belakangnya dan buat menjadi sebuah cerita (atau organisasi yang dimiliki). temukan hal-hal menarik. Pihak luar biasanya menyukai cerita. Hal ini cukup menarik ketika kita mulai menceritakan “Unpatti itu siapa” (diskripsi diri).

3.Buat Kesan Positif

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda” begitu kiranya sebuah tagline sebuah brand terkenal. Kesan pertama memang sangat penting. Banyak orang tidak punya banyak waktu. Berikan kesan positif yang apa adanya. Jangan berlebih-lebihan. Hal ini bisa merusak hubungan dikemudian hari.

4.Fokus pada Kualitas bukan Kuantitas

Kita boleh membuat sebanyak mungkin jaringan kerjasama. Namun kita harus bisa memlih prioritas mana yang bisa kita bangun kualitas hubungannya. Cari yang benar-benar kita butuhkan dan memberikan manfaat lebih banyak. Sesuaikan juga dengan kondisi Unpatti yang sebenarnya.

5.Hargai Pendapat dan Kebiasaan

Setiap orang (atau organisasi) mempunyai kebiasaan dan budaya sendiri. Hargai pendapat atau kebiasaan pihak yang diajak untuk bekerjasama. Jangan pernah membandingkan dengan orang atau organisasi lain yang kita anggap lebih baik. Sadarilah setiap orang atau organisasi mempunyai keunikan sendiri.

6.Tunjukkan Antusiasme

Tunjukan bahwa kita sangat senang bisa mengenal orang atau institusi yang diajak untuk bekerjasama. Lakukan dengan TULUS. Cobalah untuk memahami dan mengenal mereka secara mendalam lebih dahulu. Orang akan lebih senang bila orang lain mengenal dan mau memahami mereka.

7.Tawarkan Bantuan

Jangan ragu untuk menawarkan bantuan. Jika Unpatti memang merasa sanggup untuk membantu, mengapa harus menunggu sampai pihak yang diajak kerjasama meminta? Bersikaplah proaktif. Bantuan yang kita berikan pasti kembali pada generasi berikutnya di suatu saat nanti.

Epilog

Apa yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional dan modern, jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas, untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Indonesia seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana pada lahan aslinya. Dalam pandangan kami, seminar sehari ini ingin Unpatti menuju pada kelas internasional maka yang bisa kami katakan adalah pikiran itu akan bermuara pada :

  • Pemerian pengalaman pribadi
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek pada objeknya
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek yang berada sekaligus dalam objeknya, dengan memakai disiplin ilmu yang mengharuskan keluar dan berdiri di luar objeknya.

 

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi LA MAIN Á LA PÄTE di Warung Prancis (French Corner) Universitas Pattimura Ambon, 12 April 2017.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon

 

PENELITIAN DAN PENGAJARAN ETNOBOTANI UNTUK IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI KEPULAUAN MALUKU

PERUBAHAN-IKLIM

Ethnobotany Research and Teaching towards Adaptation and Implementation of Climate Change in the Maluku Archipelago

 Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

ABSTRACT

Climate change, an increased average global temperature, has resulted in the emission of greenhouse effects surrounding hot earth temperature. It is predicted that the earth temperature is one degree warmer. Even though this number is relatively small, however, globally, it has the potential to destroy the earth, and finally influences the livelihood of millions people on earth. Due to the fact that Indonesia is the biggest maritime country in the world possessing three climate types from the east to the west, including tropical muson, equatorial and local, Indonesia has been recorded to contribute to the world climate change. In particular, Maluku is only affected by local and tropical muson climate. Climate experts suggest that the majority of areas in Maluku is covered with local climate where this climate is not found in any other places in Indonesia. Local climate characteristics strongly influence animal and plant biodiversity, which can only be found in Maluku, living in the land as well as water including river, lake and ocean. Global warming will have significant impacts on archipelago, so that plan development concept in Maluku should consider this local climate pattern. Consequently, basic plan should start with accurate research data synthesis. Ethnobotany research is strongly associated with human activities and the environment. Ethnobotany study provides comprehensive analysis about human, culture and every aspect of natural resources. Besides, this analysis needs to be disseminated in the form of structured teaching for non-formal and formal education. Ethnobotany teaching will be presented in more accurate and replicable according to the view, regulation, and culture appreciation in acknowledging, understanding and harnessing natural resources in the culture environment. The role of human and specific natural environment as well as its culture, in turn will become strategic references in implementing and adapting global climate change.

Key words : Ethnobotany, climate change, Maluku archipelago, local climate.

ABSTRAK

Perubahan iklim, dengan meningkatnya suhu global rata-rata, mengakibatkan emisi gas rumah kaca di atmosfer telah mengepung suhu panas bumi. Suhu dunia diperkirakan satu derajat Celsius lebih hangat. Angka suhu ini walau mungkin terdengar relatif tidak terlalu besar, akan tetapi secara global berpotensi menghancurkan planet bumi, dan akhirnya dapat mempengaruhi mata pencaharian jutaan penduduk di muka bumi. Karena Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur, yakni pola iklim muson, ekuatorial dan lokal, maka Indonesia tercatat pula berkontribusi dalam perubahan iklim dunia. Maluku secara spesifik hanya dipengaruhi oleh pola iklim lokal dan muson. Pakar iklim mencatat bahwa mayoritas wilayah Maluku diselimuti oleh iklim lokal dimana pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodivesitas tanaman dan hewan yang hanya dijumpai di Maluku baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut. Kenaikan panas bumi akan berimplikasi signifikan pada wilayah kepulauan, sehingga konsep perencanaan pembangunan daerah di Maluku seyogyanya memerhitungkan pola iklim lokal ini. Karena itu, dasar perencanaan harus dimulai dengan sintesis data penelitian yang akurat. Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyumbangkan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam. Selain itu, diseminasi dari kajian ini perlu disampaikan dalam bentuk pengajaran terstruktur pada strata pendidikan formal dan non formal. Pengajaran etnobotani akan disajikan lebih akurat dan replikabel seturut pandangan, penataan, dan penghayatan budaya dalam mengenali, memaknai dan memanfaatkan sumberdaya alam di lingkungan budayanya. Peran manusia Maluku dan lingkungan alam yang khas serta budayanya pada gilirannya akan menjadi acuan strategis dalam implementasi dan adaptasi perubahan iklim global.

Kata Kunci : Etnobotani, Perubahan iklim, Kepulauan Maluku, Iklim lokal.

PENDAHULUAN

Seminar Nasional APIKI (Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia) pada akhir Agustus 2016 ini di Jakarta mempunyai tema besar yang menarik yakni penguatan pengajaran dan penelitian perubahan iklim. Kalimat selanjutnya dalam tema tersebut, (Bridging gap implementasi kebijakan mitigasi dan adaptasi di tingkat nasional dan subnasional), bagi kami adalah sasaran yang ingin dicapai apabila pengajaran dan penelitian telah dilakukan dengan baik. Hal ini berarti bahwa pengalaman kita berbangsa dan bernegara selama ini untuk membangun masyarakat ternyata masih ada “sisa” yang belum kita selesaikan yaitu adanya masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam jurang pemisah baik yang besar maupun yang kecil. Artinya bahwa jurang pemisah yang besar jika sudah terlalu jauh dari sentrum kekuasaan Jakarta, begitupun sebaliknya jurang pemisah yang kecil jika berdekatan dengan sentrum kekuasaan Jakarta.

Mengapa ada jurang pemisah yang kecil? Hal ini terjadi karena akses sangat sulit dicapai akibat tirani kekuasaan yang rapuh dengan mendirikan tembok penguasa yang tinggi. Situasi ini bisa menjerumuskan masyarakat Indonesia makin terpisah dari kebijakan pembangunan negara. Kemudian akan ada penetapan keputusan secara sepihak dimana dibangun persepsi bahwa masyarakat secara sengaja mengambil posisi terisoler atau mengisolasi diri karena tidak mampu berkompetisi. Akibatnya struktur masyarakat ini sudah dipastikan identik dengan kemiskinan, kelaparan dan rawan gizi.

Pertanyaan menarik yang bisa diajukan adalah bagaimana mereka akan maksimal berpartisipasi dalam pembangunan negara untuk menyelesaikan isu strategis seperti perencanaan pembangunan untuk perubahan iklim, mitigasi bencana, REDD+ dan Paris Agreement ?

Masalah keterisolasian nyata (fisik) dan keterisolasian tersembunyi (psikis) ini terjadi bukan kemauan masyarakat mengisolasi diri mereka namun menunjuk pada jatah kue pembangunan yang tidak sempat mereka rasakan secara merata. Hal ini bukan disebabkan karena pemerintah mengabaikan mereka dalam prioritas pembangunan, akan tetapi harus jujur diungkapkan bahwa sumber dana pembangunan bangsa Indonesia yang sangat terbatas. Mungkin saja dana pembangunan itu melimpah ruah namun efek tetesannya tidak merembes kepada masyarakat terisolir tadi. Secara jujur harus diungkapkan bahwa masalah korupsi dana masyarakat yang belum tuntas tertangani.

Kita boleh bangga dengan sumberdaya alam yang sangat kaya tetapi kita lupa bahwa kita sendirilah yang harus mengolahnya dan pada saat yang sama kita dihadapi dengan persoalan kualitas sumberdaya manusia.

Uraian saya pada bagian pendahuluan ini bukan secara sengaja dimulai dengan mendeskripsikan posisi kita sebagai masyarakat yang hidup di negara kepulauan terbesar di dunia penuh dengan kelemahan dan tidak memiliki wawasan yang prospektif. Namun demikian ini adalah realita yang selama ini kita saksikan.

 

TEBAH-TELAAH ETNOBOTANI DAN PERUBAHAN IKLIM

            Perkembangan etnobotani sebagai suatu ilmu tak lepas dari latar belakang filsafati dan sejarah yang melahirkannya. Terminologi filsafati merujuk pada roh dari ilmu dimaksud, dalam bahasa Prancis disebut “l’esprit de la science”. Sedangkan sejarah akan mengungkapkan catatan-catatan penting atau peristiwa dimana ilmu tersebut mendapat pengaruh sesuai periode waktu berjalan.

Sebelum mengemukakan konsep dasar etnobotani, maka saya akan mengemukakan pandangan atau aliran penelitian yang menghubungkan masyarakat dengan lingkungannya dimana pada relasi tersebut masyarakat senantiasa berasosiasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan :

  • Penelusuran yang pertama, yakni pada periode penjajahan. Pada fase ini kita mencatat bahwa negara-negara Eropa Barat melakukan ekspansi untuk menguasai wilayah dengan sumberdaya alamnya. Pada saat yang sama sudah ada tradisi yang dikenal sebagai botani ekonomi (economic botany) yaitu mulai memfokuskan eksplorasi penelitian pada penggunaan tanaman, khususnya untuk mendapatkan spesies baru yang berpotensi ekonomi. Aliran penelitian semacam ini banyak dikerjakan oleh para ahli dari negara-negara kolonial seperti Belanda, Prancis dan negara Eropa Barat lainnya. Dari sini lahir ahli botani yang kita kenal yaitu Rumphius, Heyne dan Ochse.
  • Penelusuran yang kedua, yakni periode pasca kemerdekaan. Indonesia mulai mengurangi pengaruh Belanda dan berkiprah ke Amerika Serikat. Langkah pertama dengan menyekolahkan kaum terpelajar dan peneliti ke sana dan pada saat yang sama ada pengaruh aliran ekologi budaya (cultural ecology) dan ekologi manusia (human ecology). Aliran ini tidak terlepas dari roh keilmuan yang dikembangkan pada fase penjajahan hanya mulai mengalami metamorfosis dengan menggabungkan pesatnya kemajuan ilmu botani yang disebut biologi. Jadi aliran ini mulai menganalisis proses hidup suatu masyarakat serta hubungannya dengan lingkungan, tetapi menggunakan konsep kerja para ahli biologi yang dipakai untuk mempelajari ekosistem. Pada periode ini kita mengenal peneliti dan ilmuwan terkenal seperti Clifford Geertz, Conklin, Vayda, Michael Dove dan Rambo yang memakai pendekatan ekologi budaya.

Dua pengalaman dalam aliran berpikir ini semuanya bermuara pada objek penelitian yang menganalisis ketergantungan manusia pada dunia tumbuh-tumbuhan. Aliran pertama telah mencatat hasil yang fantastik dengan menyajikan motede penelitian yang terstruktur yang dimulai dari koleksi hingga identifikasi dan klasifikasi ilmiah. Herbarium merupakan hasil penemuan ilmiah yang sangat luar biasa manfaatnya dan dipakai hingga saat ini untuk mengidentifikasi dunia tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian etnobotani adalah fondasi ilmu untuk lebih memahami pengembangan ilmu lain yang menerangkan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Gambar 1. Berikut ini lebih jelas menggambarkan hubungan asosiasi ilmu alam, masyarakat dan sains dimana hasil interseksi adalah etnobotani.

RUANG-LINGKUP-ETNOBOTANI Gambar 1. Ruang Lingkup Etnobotani

 

Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka etnobotani secara etimologi terdiri dari dua kata yaitu ethno berarti bangsa atau kelompok etnis atau masyarakat, sedangkan botani merujuk pada dunia tumbuh-tumbuhan. Disatukan dalam terminologi etnobotani untuk memberikan gambaran tentang keutuhan pendekatan, Etno dengan etnologi dalam ethnoscience diperlukan untuk mengungkapkan sistem pengetahuan yang dimiliki suatu suku bangsa.

Beberapa pakar berpendapat bahwa ethnoscience sinonim dengan folkscience yang bertumpu pada sistem kognitif terutama dalam mengungkapkan aspek klasifikasi dan nomenklatur dalam relasi dengan alam (Barrau, 1985). Disamping ethnoscience mereka juga mengemukakan adanya ethnosciences dalam bentuk jamak yang mengarah pada sekumpulan disiplin ilmu yang berkorelasi dengan alam termasuk di dalamnya etnobotani sedangkan yang lain adalah etnozoologi, etnobiologi, etnoekologi, etnomineralogi, etnofarmakologi, etnomedisin dan sebagainya. Setelah pemahaman komprehensif tentang etnobotani, maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan pemahaman tentang apa itu perubahan iklim?

Perubahan iklim secara harfiah adalah iklim yang berubah akibat suhu global rata-rata meningkat. Peningkatan emisi gas rumah kaca, khususnya CO2, telah memerangkap suhu panas di atmosfer bumi. Hal tersebut berdampak pada sistem cuaca global yang menyebabkan segala sesuatu mulai dari curah hujan yang tak terduga hingga gelombang panas yang ekstrim. Bumi telah melalui periode pemanasan dan pendinginan yang terkait dengan perubahan iklim berkali-kali. Hal yang saat ini menjadi perhatian utama dan disetujui oleh para ilmuwan adalah bahwa proses pemanasan yang terjadi jauh lebih cepat daripada yang telah dilakukan sebelumnya, dan bahwa pemanasan yang cepat disebabkan oleh peningkatan tingkat emisi buatan manusia.

Kita membayangkan saat ini dunia sudah satu derajat Celsius lebih hangat daripada di masa pra-industri. Ini mungkin tidak terdengar terlalu signifikan tetapi dapat berpotensi menghancurkan planet ini dan juga mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia.

Perubahan iklim akan menyebabkan beberapa daerah menjadi basah, dan daerah lainnya menjadi lebih hangat. Permukaan air laut akan naik akibat dari gletser yang mencair, sementara beberapa daerah akan lebih berisiko terkena gelombang panas, kekeringan, banjir, dan bencana alam. Perubahan iklim bisa merusak rantai makanan dan ekosistem, menempatkan seluruh spesies pada terancam kepunahan.

Indonesia dengan potensi hutan yang ada ditetapkan sebagai paru-paru dunia, dengan demikian perlu ada tindakan nyata untuk melindungi satu juta pohon dengan berfokus untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan, mengembalikan kawasan hutan, mempromosikan pengelolaan hutan yang berkelanjutan atau lestari, dan meningkatkan persediaan pohon di lahan pertanian.

METODE RISET ETNOBOTANI

            Pengembangan etnobotani sebagai suatu disiplin ilmu tidak dapat dipisahkan dari metodologi yang dikembangkan dengan memandang masyarakat dan ekosistemnya sebagai sesuatu keseluruhan atau totalitas, sebagaimana apa yang sering dikatakan oleh para pakar antropologi yaitu konsep holistik. Menurut Friedberg (2002) diperlukan sistem kerja dalam etnobotani seperti berikut ini:

  • Analisis Dalam yaitu pentingnya menganalisis sudut pandang masyarakat berdasarkan konsep asli seperti yang terungkap dalam bahasa mereka
  • Analisis Luar yaitu pentingnya pendekatan interdisipliner, yang memungkinkan peneliti memadukan berbagai faktor yang terlibat baik dari bidang biologi maupun dari bidang sosial budaya.

Waluyo, Wijaya dan Rifai (1991) serta Waluyo (1988, 2009), mengatakan bahwa etnobotani harus mampu mengungkapkan keterkaitan hubungan budaya masyarakat terutama tentang persepsi dan konsepsi masyarakat dalam memahami sumberdaya nabati di sekitar tempat mereka bermukim.

Data etnobotani adalah data tentang pengetahuan botani masyarakat dan organisasi sosialnya. Dengan kata lain data etnobotani bukan terdiri dari data botani, taksonomi, dan bukan pula data botani ekonomi atau cabang botani lainnya. Sasarannya adalah membuat pemaparan etnobotani menjadi lebih akurat dan lebih replikabel dalam kerangka memproduksi realitas budaya seturut pandangan, penataan, dan penghayatan masyarakat dalam mengenali, mamaknai, dan memanfaatkan sumberdaya nabati di lingkungan budayanya. Ini berarti bahwa pemaparan etnobotani harus diungkapkan sehubungan dengan kaidah konseptual, kategori, kode, dan aturan kognitif “tempat” (emik) untuk kemudian secara taat asas dibuktikan sehubungan dengan kategori konseptual yang diperoleh dari latar belakang ilmiah (etik).

Sekalipun emik dan etik itu dibedakan atas dasar epistemologi, keduanya tidak ada kaitan dengan metode penelitian, melainkan dengan struktur penelitian. Dengan demikian maka pengujian emik dan etik bukanlah bagaimana pengetahuan itu diperoleh, melainkan bagaimana pengetahuan itu divalidasi.

Penelitian etnobotani merupakan studi multidisiplin yang tidak hanya menyangkut disiplin botani murni, seperti taksonomi, ekologi, sitologi, biokimia, fisiologi, tetapi juga aspek lain dari pertanian, kehutanan maupun hortikultura, yang banyak memerhatikan persoalan perbanyakan, budidaya, pemanenan, pengolahan, ekonomi produksi, efek pasar dan agribisnis.

Dalam perkembangan terakhir ini etnobotani sudah berkembang lebih jauh lagi berkat metode penelitian dalam ilmu ini yang senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan penelitian di lapangan.

Penelitian etnobotani sangat erat berasosiasi dengan aktivitas manusia dan lingkungannya. Studi etnobotani menyajikan kajian yang komprehensif tentang manusia, budaya dan seluruh aspek sumberdaya alam.

Metode riset etnobotani tidak terbatas pada metode yang klasik kualitatif berupa pengamatan yang mendalam tetapi sudah menggunakan metode kuantitatif. Metode ini banyak digunakan di bidang kehutanan untuk mengamati skala produksi dari hasil hutan non kayu.(Wong, Thornber dan Baker, 2001).

 

PENGAJARAN ETNOBOTANI

            Apa arti pengajaran dalam tulisan ini? Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Dalam mencari ilmu, seorang mahasiswa bisa belajar dari beberapa dosen karena hanya ilmu yang dipelajari. Ada dosen yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada mahasiswa yang belajar. Hasilnya mahasiswa tersebut menjadi pandai dan berilmu pengetahuan. Pengajaran khusus ditujukan pada akal. Oleh karena itu mudah (straight forward).

Penulis mencoba untuk memahami tema seminar nasional APIKI 2016 yang menggunakan terminologi “pengajaran”, mengingat pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara penting di dalam membina manusia, namun pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berbeda.

Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh akan dicoba untuk difahami dan dihayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak sedangkan pengajaran lebih menyentuh akal saja.

Dalam konsep masyarakat tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Pada saat belajar dengan masyarakat, maka dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman, kebun, hutan berburu atau meramu, hutan tanaman kayu dan non kayu dan tempat memancing. Kemudian kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun dan padang alang-alang. Akhirnya ada kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, seperti contoh gunung, sungai dan tempat keramat di hutan.

Dengan masyarakat pula kita belajar tentang pola pemukiman pada dusun atau kampung dan peranan dari setiap pemimpin adat yang ada dalam kawasan pemukiman dimaksud. Sebenarnya yang mau dipelajari adalah penguasaan teritorial dari suatu masyarakat yang diteliti.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memeroleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang Ijin Usaha Pengolahan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman masyarakat tradisional senantiasa disesuaikan menurut fenomena alam dari pohon tertentu seperti misalnya kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Pattinama 1998, 2005).

Konsep alam, lingkungan dan budaya masyarakat seperti yang dielaborasi di atas menunjukkan bahwa pengetahuan lokal itu memang menyatu dalam siklus kehidupan masyarakat baik tradisional maupun modern, dan pengetahuan dimaksud diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi dengan hanya mengandalkan konsep bertutur dan bukan pewarisan secara tertulis. Akibatnya banyak narasi cerita yang hilang. Bagi seorang peneliti etnobotani, maka untuk memahami konsep masyarakat ini secara utuh dibutuhkan waktu meneliti yang panjang di lapangan.

 

IMPLEMENTASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI MALUKU

            Kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia sungguh sangat unik dan memiliki tingkat keberagaman tinggi. Persoalan implementasi dan adaptasi konsep perubahan iklim adalah fase yang terakhir setelah adanya pemantapan yang baik terhadap struktur pengajaran dan penelitian.

Pengajaran dan penelitian seyogyanya berbanding lurus pula dengan tingkat pendidikan penduduk. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tentang thema pulau-pulau kecil, ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memerkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim, walaupun dalam studi etnobotani mencatat bahwa pengetahuan lokal masyarakat tradisional dimana mereka rata-rata berpendidikan rendah tercatat lebih memahami pelestarian lingkungan dan alam serta budaya dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendidikan tinggi.

Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah (Pattinama dan Irwanto, 2016). Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema pengajaran dan penelitian?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah sangat sulit membiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam workshop APIKI 3 Juni 2016 di Ambon tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental (Pattinama dan Irwanto, 2016). Bagaimana program implementasi dan adaptasi perubahan iklim di Maluku?

Di Kepulauan Maluku dengan kekayaan biodiversitas tumbuhan yang tinggi dan unik pada pulau-pulau kecil serta tercatat ada sekitar 117 bahasa (90 bahasa di Maluku dan 27 bahasa di Maluku Utara). Data tentang bahasa juga bisa menggambarkan jumlah etnis di Kepulauan Maluku (Pattinama, 2005). Ini merupakan lapangan riset dengan tema menarik yang bisa dieksplorasi untuk melengkapi informasi ilmiah tentang Maluku secara komprehensif.

Cerita lama tentang kepulauan Maluku (Mollucas archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices), bunga cengkeh dan buah pala serta awal sejarah kolonisasi orang Eropa di Nusantara. Sedangkan cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia.

Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial (lihat Gambar 2 di bawah ini). Karakteristik iklim lokal sangat memengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku.

Keunikan ini bisa dilihat pula dari kondisi geografis Maluku yang terdiri dari pulau besar dan pulau-pulau kecil serta penduduk yang mendiami pulau tersebut bukan saja bermukim di pesisir pantai namun menempati pula wilayah pedalaman.

Secara umum di Maluku dijumpai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.  Curah hujan di selatan Kepulauan Maluku lebih tinggi dari daerah sebelah utara. Perbedaan iklim demikian dapat dilihat dari penyebaran formasi biodiversitas tanaman.

Vegetasi yang dijumpai pada daerah pesisir pantai adalah Barringtonia asiatica Kurz dan Terminalia catappa L, serta tanaman kelapa dan pisang yang diusahakan oleh penduduk. Selain itu beberapa tanaman yang umum dijumpai pada daerah pantai diantaranya Musa acuminata Colla, Ipomoea pescaprae, Sesuvium portulacastrum, Ischaemum muticum dan Fimbristylis. Jenis pohon yang tumbuh secara alami dan juga diusahakan oleh manusia adalah Canarium amboinense HOCHR, Anthocephalus macrophyllus Havil, Vitex cofassus Reinw,  dan Pandanus tectorius.  Vegetasi yang ada pada altitude lebih tinggi didominasi oleh Shorea, Agathis, Pometia, Celtis, Pterocarpus, Ficus, Dracontomelon, Vitex, Canarium, Paraserianthes, Alstonia dan Guioa. (Pattinama, 2005)

PETA-POLA-IKLIM-MALUKU

Sumber : Koesmaryono, 2007

             Gambar 2. Peta Iklim Maluku yang khas dalam Pola Iklim Indonesia

 

Keanekaragaman hayati lain yang cukup potensial adalah fauna yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari vegetasi tanaman yang tumbuh. Misalnya pembungaan dari pohon meranti (Shorea spp) akan menambah jumlah populasi dari babi hutan dan kusu (Phallanger dendrolagus) serta satwa lainnya.

Beberapa riset yang dilakukan terhadap kekayaan hayati satwa dan binatang hutan lainnya di Maluku oleh lembaga riset nasional dan internasional menunjukkan bahwa masih ada fauna endemik yang bisa dijumpai dan populasi hewan tersebut dari tahun ke tahun menunjukkan jumlah yang menurun akibat dari gangguan yang sifatnya sistemik seperti eksploitasi hutan dan pembakaran lahan yang tidak terkendali.

 

KESIMPULAN

            Orang Maluku sebagian besar hidup mendiami pulau-pulau kecil dan terisolir pada wilayah pedalaman dengan topografinya yang bergunung. Mereka adalah masyarakat peladang yang mempraktikkan sistem pertanian berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan dan hidup sepenuhnya tergantung dari kemurahan alam. Di sisi lain, alam adalah laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Maluku hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan deskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumberdaya serta interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut yang sulit dan bahkan tidak dapat dipisahkan. Konsep hidup ini yang bisa melestarikan lingkungan sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim.

Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang atau lahan yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa orang Maluku memiliki kearifan dalam mengelola sumberdaya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Maluku menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu, umbi-umbian dan singkong), protein (ayam kampung, kambing lakor, domba kisar, kerbau moa, babi hutan, kusu, rusa, udang, sidat dan ikan) serta tambahan vitamin lain (buah dan sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Maluku bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Maluku sebagai autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Maluku, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Maluku relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan mengingat orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan yang hakiki dengan alam semesta.

Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Maluku makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pelayan negara yang bernama pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Maluku sehingga akses mereka untuk memeroleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memeroleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

Pangajaran saja tidak cukup namun demikian masyarakat seyogyanya dibekali pula dengan pendidikan yang terstruktur sehingga akal dan akhlak juga akan dibentuk dan dibangun demi melestarikan lingkungan yang selalu mereka pandang sebagai ruang yang holistik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barrau, Jacques, 1985. Les savoirs naturalistes populaires, Actes du seminaire de sommieres, Editions de la Maison des sciences de l’homme.

Friedberg, Claudine, 2002. L’anthropologie face à la question de l’appropriation de la biodiversité : la biodiversité est-elle appropriable ?, in : Franck-Dominique Vivien (Ed.), Biodiversité et appropriation, les droits de propriété en question : 163-176

Jonge, Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Koesmaryono, Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama, Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama, Marcus J dan Irwanto, 2016, Api dalam Etnoekologi dan Praktek Sistem Pertanian Tradisional (Adakah Ancaman pada Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?), Artikel untuk Prosiding Seminar Nasional APIKI 3 Juni 2016 di Ambon, (dalam proses).

Walujo, Eko Baroto, 1988. Les écosystèmes domestiques par l’homme dans l’ancien royaume Insana-Timor (Indonésie). Thèse de Doctorat de l’Université Paris VI, Paris, 267 p.

Waluyo, E.B., E.A. Wijaya, M.A. Rifai, 1991, Penguasaan Etnoekologi Secuplikan Masyarakat Etnis di Indonesia, Makalah Utama pada KIPNAS V, LIPI 1991.

Waluyo, E.B., 2009, Etnobotani: Memfasilitasi Penghayatan, Pemutakhiran Pengetahuan, dan Kearifan Lokal dengan Menggunakan Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Pengetahuan, Makalah Utama dalam Seminar Nasional Etnobotani IV, Prosiding.

Wong, Jennifer L.G, Kristi Thomber, Nell Baker, 2001, Resource assesement of non-wood forest product (Ethnobotany), FAO, p 58-61.

 

Presentase Makalah pada Seminar Nasional APIKI 31 Agustus – 1 September 2016, Artikel ini sudah diterbitkan oleh Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia Pusat bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. ISBN: 978-602-73376-2-6. Tahun 2016.

API DALAM ETNOEKOLOGI DAN PRAKTEK SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL – (Adakah Ancaman Pada Pemanasan Global & Perubahan Iklim Pulau-Pulau Kecil ?)

API-KEBAKARAN-HUTAN

Oleh:

Marcus J. PATTINAMA[1] (mjpattinama@gmail.com)

Irwanto[2] (irwantoshut@gmail.com)

 

ABSTRAK

Api memang mengandung makna yang dalam bagi manusia dan manajemen api akan menentukan manusia pada tingkat peradaban yang tinggi atau rendah. Api berhubungan erat dengan praktek pertanian yang dilakukan manusia untuk membuka lahan usahatani. Api memberikan makan dan semangat bagi manusia. Orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Pada akhirnya api bisa membumihanguskan alam sekitar manusia termasuk didalamnya hutan produktif dan non produktif. Jika api tidak dikendalikan maka manusia bisa menggunakannya untuk memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Kata kunci : api, etnoekologi, pertanian tradisional, pulau-pulau kecil.

 

ABSTRACT

Fire gives deep meaning to people and fire management will determine the level of human civilization is high or low. Fire is closely related to farming practices to open up farming land. Fire will provide meals and passion for human beings. People who do not blow the fire well then he’ll just chew flour on his mouth. In the end, the fire could burn down around human nature including productive and non-productive forest. If the fire is not controlled well by humans, so he could use it to trigger global warming and climate change.

Keywords: fire, ethnoecology, traditional agriculture, small islands.

 

Prolog

Workshop ahli perubahan iklim regional Maluku dan Maluku Utara yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 3 Juni 2016 di Ambon, tepatnya dilaksanakan di Swiss-Belhotel, merupakan suatu forum diskusi yang sangat bermanfaat guna pertukaran informasi dan pengalaman ilmiah yang tujuannya mendukung program prioritas nasional tentang pengendalian perubahan iklim. Dalam hubungan itu pula workshop diadakan untuk mendesiminasi hasil riset, kajian dan pemikiran dalam upaya penanganan iklim di wilayah kepulauan.

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dan memiliki tiga pola iklim yang membentang dari barat ke timur yaitu pola Muson, Ekuatorial dan Lokal. Khusus untuk Maluku dan Maluku Utara banyak dipengaruhi oleh pola iklim Lokal dan Muson. Pola iklim Lokal paling banyak dijumpai di Maluku dan ternyata pola ini tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia (Koesmaryono, 2007). Karakteristik iklim lokal pada gilirannya sangat mempengaruhi keberadaan biodiveritas tanaman dan hewan baik yang hidup di darat maupun di wilayah perairan termasuk sungai, danau dan laut.

Judul artikel kami ini memang sengaja ditampilkan demikian apa adanya sebagai hasil dari diskusi yang hangat dalam workshop tentang issue pemanasan global dan perubahan iklim. Kemudian yang kami paparkan ini pula adalah bersumber dari pengalaman kami selama karier sebagai guru sejati dan dalam proses mendidik para murid kami di jurusan Agribisnis dan jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon.

 

Api dalam Etnologi dan Ekologi Manusia

Sejak awal kita mempelajari perjalanan sejarah manusia dari zaman purba hingga modern dan memahami aspek kebutuhannya maka hal penting dalam kehidupan manusia adalah lingkungan sebagai tempat untuk hidup. Jika kondisi lingkungan tidak bersahabat dengan yang mereka harapkan, maka mereka tidak akan mau bertempat tinggal di lokasi tersebut. Manusia cenderung berpindah untuk memilih dan selalu berusaha untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik dan nyaman. Setelah manusia memperhatikan kondisi lingkungan, maka yang berikutnya adalah bagaimana penguasaan teknologi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu terdapat beberapa variabel yang berhubungan dengan kondisi lingkungan antara lain: tersedianya kebutuhan air, adanya tempat berteduh (=rumah), kondisi tanah yang tidak terlalu lembab dan tersedianya sumber makanan.

API-ETNOEKOLOGI

Hal berikutnya adalah seluruh variabel di atas hendaknya diramu agar manusia tetap bertahan hidup untuk menghasilkan karya sebagai expresi diri dari naluri dasar manusia. Expresi diri ini yang selanjutnya kita sebut sebagai seni atau karya budaya. Untuk bisa bertahan hidup maka manusia harus menemukan api dan proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat penting. Berdasarkan studi arkeologi, maka penemuan api diperkirakan pada 500.000 tahun yang lalu. Pertama kali api dikenal adalah pada zaman purba dimana secara tidak sengaja manusia melihat petir yaitu cahaya panas dilangit yang menyambar pohon-pohon disekitarnya, kemudian api itu pun muncul membakar pohon-pohon di hutan.

Dalam sejarah menemukan api, manusia purba membutuhkan proses yang sangat panjang. Proses ini dimulai dengan mencoba sesuatu tanpa tahu petunjuk atau cara kerjanya sehingga banyak mengalami kegagalan dan mereka terus mencoba walaupun gagal sampai pada akhirnya mereka menemukan hasil yang mereka inginkan. Setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya cara membuat api pun ditemukan yaitu dengan membenturkan dua buah batu atau dengan menggesekan dua buah kayu, sehingga akan menimbulkan panas diikuti dengan percikan api yang kemudian percikan itu ditempelkan pada daun kering atau objek lain yang sifatnya kering dan ringan, sehingga pada awal akan muncul asap lalu manusia membantu untuk meniup hingga pada akhirnya objek itu dapat menjadi pemicu munculnya api.

Ditemukannya api lebih mudah untuk memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanan dengan cara membakar atau menggunakan bumbu dengan ramuan tertentu. Selain itu api juga berfungsi untuk menghangatkan badan, sumber penerangan dan sebagai senjata untuk menghalau binatang buas yang menyerang. Api dipakai manusia untuk dapat menaklukan alam melalui pembakaran lahan yang umumnya terjadi di areal hutan, terutama pada aktifitas pertanian untuk membuka kebun baru. Kebiasaan bertani dengan cara menebang lalu membakar (agriculture sur brülis atau swidden agriculture) adalah tradisi praktek pertanian pada zaman purba atau kuno yang masih berkembang sampai sekarang ini.

Manajemen api akan menjadi ukuran tingkat peradaban manusia. Secara teoritis bahwa api dalam hutan adalah akibat ulah manusia dimana api tersebut dapat dikategorikan kedalam tiga jenis api atau kebakaran (Ensiklopedia Kehutanan Indonesia dalam Irwanto, 2015) yaitu : 1)Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang terjadi pada lantai hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman bawah. Sifat api permukaan cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun cepat padam. Dalam kenyataannya semua tipe kebakaran berasal dari api permukaan. 2)Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar seluruh tajuk tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya mudah terbakar. Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal ini tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak saling bersentuhan. 3)Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah lantai hutan. Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang terjadi tidak ditandai dengan adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan dalam waktu yang lama pada suatu tempat.

Jika melihat pemetaan penduduk Indonesia sebagai negara maritim yang tersebar pada pulau besar dan kecil, maka para peneliti diantaranya Clifford Geertz sejak tahun 1963 telah memberikan diskripsi umum tentang kategori penduduk Indonesia berdasarkan jenis-jenis pertanian yang dikerjakan yaitu antara ladang (berpindah-pindah, tebang dan bakar) disatu pihak, atau dan sawah (penanaman padi basah pada petak-petak yang dialiri air irigasi) di pihak lainnya. Aktivitas ini yang membuat Geertz membelah Indonesia sebagai Indonesia Dalam yaitu Jawa dan Bali yang involusi, sedangkan perladangan selanjutnya disebut Indonesia Luar (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) yang non-involusi.

Peta ekologi ini memiliki nilai keelokan dan kesederhanaan serta juga menuai banyak kritik dimana di Sumatera ada ditemui orang Minangkabau, Aceh dan Batak yang sudah lama mengerjakan lahan basah dengan persawahan beririgasi. Di Jawa dan Bali pun pemilik lahan basah sangat sedikit dibanding penduduknya, sehingga yang lain terpaksa harus masuk dan maramba hutan dengan api. Hal yang sama untuk wilayah Sumatera, kenyataannya masih banyak peladang kering yang masih menggunakan api terutama mereka yang bermukim disekitar Taman Nasional Kerinci di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan (Aumeeruddy, 1994). Hal yang sama dengan di Sulawesi dan di tempat lainnya di Indonesia Luar yang sudah mempraktekkan pertanian lahan basah beririgasi.

Jadi pemikiran Geertz pada periode itu hanya berkonsentrasi di Jawa dan Bali, padahal wilayah Indonesia Luar lainnya juga telah mempraktekkan pertanian lahan basah. Di Kairatu, Pulau Seram Maluku, sejak tahun 1954 dengan datangnya orang Jawa melalui proyek transmigrasi pada pemerintahan Orde Lama telah merubah vegetasi tanaman sagu untuk dijadikan areal persawahan. Ketika itu di Pulau Seram, pemerintah telah sukses mempraktekan pertanian padi lahan basah disusul program membangun bendungan untuk irigasi. Ide perpindahan penduduk secara massif terus berlangsung pada era pemerintahan Orde Baru dengan menyebarkan penduduk dari Pulau Jawa melalui program nasional Transmigrasi. Di Pulau Buru, Maluku pada tahun 1969 pemerintahan Orde Baru menempatkan 10.000 tahanan politik G30S/PKI untuk membangun pertanian lahan basah. Sekali lagi pemerintah melakukan alih fungsi lahan sagu menjadi areal persawahan. Dengan program transmigrasi itu dapat dikatakan bahwa sebagian besar lahan di Indonesia Luar telah beralih fungsi untuk pertanian padi lahan basah. Boleh dikatakan bahwa tujuan pemerintah untuk membina petani agar menjadi petani menetap hanya tersentuh pada sebagian kecil saja dan itupun baru menyentuh petani lahan basah saja sedangkan jutaan petani Indonesia lainnya masih terus mempraktekkan kegiatan pertanian dengan api pada areal kebun yang berlokasi dekat hutan atau areal kebun yang ada di dalam hutan.

 

Api dalam Sistem Bercocok Tanam Tradisional

Pertambahan penduduk dan tekanan lain seperti masalah pangan dan tata ruang pada abad terkini secara tidak langsung akan mangancam kelangsungan sistem pertanian yang sudah berabad-abad umurnya yaitu pertanian ladang berpindah atau tebang bakar. Praktek pertanian ini banyak dilakukan di daerah tropis beriklim sedang. Biarpun daerah dataran rendah tropis kaya akan hujan dan sinar matahari, tetapi sebenarnya daerah ini tidak terlalu produktif, yang sebagian besar akibat sulitnya pengolahan tanah dan gangguan gulma. Sebelumnya metode tebang dan bakar ini juga dipraktekkan secara meluas di daerah sub tropis dan daerah beriklim sedang. Seiring dengan kemajuan peradaban manusia akibat revolusi industri maka belahan sub tropis meninggalkan praktek tebang bakar karena sebagian besar penduduk beralih pekerjaan dalam industri yang dibangun negara. Dengan demikian pekerjaan petani dan buruh tani berpindah menjadi buruh industry pada pabrik-pabrik yang dibangun secara massif. Negara mulai merancang dan menata reforma agrarian dan diberikan kepada para petani yang dididik dan dibina sebagai petani menetap.

Di wilayah tropis seperti Indonesia sementara ini akan menuju ke tahap industrialisasi. Kenyataan terkini menyatakan bahwa masih ada jutaan petani dalam kategori miskin, gurem, dan petani kecil. Ada jutaan penduduk Indonesia yang hidup di desa menyatakan diri sebagai petani namun ironisnya mereka tidak memiliki tanah dan mereka ini lebih cocok disebut sebagai buruh tani dan ada yang tidak bekerja atau lebih tepat disebut pengangguran pedesaan.

Di Maluku sebagai wilayah kepulauan dengan gugusan pulau-pulau kecil masih ditemui kondisi yang umum terjadi pada pedasaan di Indonesia seperti yang kami gambarkan di atas. Yang membedakan dengan situasi di Maluku adalah petani umumnya bivalen yaitu bekerja sebagai petani dan nelayan dalam waktu yang sama. Namun demikian ini hanya terjadi pada petani yang bermukim pada daerah pesisir pantai. Jika petani bermukim pada wilayah pegunungan maka hanya memangku satu pekerjaan sebagai petani saja dan jumlahnya tidak lebih dari 10%. Dengan demikian hampir semua petani di Maluku (90%) adalah bivalen dan mereka masih mempraktekkan sistem bercocok tanam tradisional dengan menggunakan api untuk membuka lahan pertanian.

Hal yang unik terjadi pada wilayah Maluku Barat Daya tepatnya di Pulau Kisar, petani di sana tidak mengenal api untuk membuka lahan pertanian. Dalam sistem kemasyarakatan dan adat budaya telah tersusun suatu norma bahwa api dilarang untuk digunakan dalam membuka kebun baru. Mengapa ? Orang Kisar sebagaimana diketahui bermukim pada suatu wilayah dimana ekologi pulau tersebut didominasi oleh pegunungan yang berbatu dengan padang rumput yang luas (sabana) serta musim kering yang panjang. Manusia, ternak dan tanaman jagung serta biji-bijian yang lain (misalnya kacang) adalah suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Pulau Kisar telah menjadi pengekspor ternak ke wilayah lain di Maluku dan wilayah perbatasan seperti Nusa Tenggara dan Negara Timor Leste.

Di Pulau Buru dan Seram serta pulau lainnya di Maluku masih secara intensif mempraktekkan tebang dan bakar. Kearifan lokal masyarakat juga tak terpisahkan dalam melakukan praktek ini. Orang Bupolo, masyarakat asli di Pulau Buru sebelum membakar kebun baru mereka biasanya membuat batas dimana api tidak akan melewati pada areal yang ingin mereka bakar. Batas antara areal yang dibakar dengan areal yang lain selebar 1 (satu) meter dan ini disebut eskihik boli hawa. Pulau Buru sebagai penghasil minyak kayu putih, di sana terdapat hamparan pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies asli dan plasma nutfah pulau Buru (Pattinama, 2005).

Formasi pohon kayu putih yang luas pada wilayah pegunungan biasanya pada waktu tertentu dibakar secara sengaja oleh orang Bupolo, tujuannya untuk mendapatkan tunas atau daun yang masih muda. Jadi formasi kayu putih yang tumbuh pada pegunungan di Pulau Buru tumbuhnya tidak lebih dari 1 (satu) meter. Ini cara termudah agar mereka bisa memanen daun atau tunas yang masih muda dan selanjutnya disuling menjadi minyak kayu putih. Lapisan cambium pada batang kayu putih yang terbakar tidak mati karena dilapisi oleh kulit kayu putih yang tebal. Selain itu sistem perakaran pohon kayu putih sangat kokoh dalam tanah sehingga tidak akan mati walau terjadi pembakaran. Hal ini sama dengan tanaman Imperata cylindrica atau alang-alang. Pengetahuan lokal yang sama juga berlaku di pulau Saparua dimana petani saat mau membuka kebun baru selalu menggunakan api dan sebelum api dinyalakan, mereka juga membuat pemisah dengan areal yang diharapkan tidak boleh dilewati api. Ini disebut dengan istilah asalae.

Tentunya daerah yang lain di Maluku dan juga di Indonesia mempunyai pengetahuan dan kearifan lokal dalam hal penggunaan api untuk bercocok tanam secara tradisional. Secara ekologi penggunaan api tidak dapat dibenarkan, namun pada suku bangsa tertentu yang mendiami wilayah dengan tanaman yang khas seperti padang alang-alang, misalnya di daearh Batak, Sumatera Utara, para petani selalu menggunakan api untuk membuka lahan pertanian. Ini yang disebut dengan hidden rationality dari petani dengan sistem bercocok tanam tradisional.

 

Manusia dalam Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Yang menarik dari workshop ini adalah diskusi tentang peranan manusia dalam penciptaan pemanasan global dan perubahan iklim. Maluku dan Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan sangat rentan dalam setiap perubahan iklim. Namun yang tidak menjadi bahan diskusi secara mendalam adalah bagaimana kaitannya dengan iklim lokal yang mendominasi kepulauan Maluku ini. Kita sepakati bahwa bumi adalah sebuah rumah yang besar. Adanya ketidak-seimbangan pada satu sisi rumah maka secara total akan mempengaruhi kestabilan rumah tersebut. Untuk itu penghuni rumah harus memiliki kesadran yang tinggi untuk memanfaatkan setiap ruang yang ditempatinya. Jika setiap ruang diberi kebebasan untuk menggunakan api dan kayu bakar untuk menghangatkan badan kemudian tidak ada regulasi yang mengatur pembakaran pada setiap ruang dalam rumah besar itu, maka dapat dibayangkan bahwa asap dari pembakaran itu akan memenuhi rumah tersebut dan dari situ akan mempengaruhi manusia yang berdiam di dalamnya. Kami berpendapat bahwa terlalu sederhana memberi symbol rumah besar. Dalam alam yang nyata maka semua ruang dan waktu akan memberikan sumbangan menuju keseimbangan yang sempurna. Ada pepatah yang mengatakan bahwa relasi biotik dan abiotik di alam sangat sederhana diuraikan menuju kesetimbangan yang sempurna sedangkan jika dibandingkan dengan relasi antar manusia diibaratkan sangat kompleks dan pasti akan memberikan dampak pada penghancuran di alam.

Kami berpendapat bahwa Maluku dengan iklim lokal, maka keseimbangan pertukaran antara Oksigen dan Karbondioksida bukan saja diperoleh dari areal hutan atau darat namun demikian wilayah laut pun akan menyumbangkan pertukaran energi tersebut. Untuk itu ulah manusia seperti yang telah kami uraikan pada bagian terdahulu tentang manajemen api, maka seyogyanya harus mendapat perhatian yang serius.

Dalam workshop tersebut ada diskusi yang menarik tentang data tingkat pendidikan penduduk di Indonesia. Data ini disajikan untuk memperkenalkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan yang ditamatkan dengan pengetahuan untuk melestarikan bumi sehingga diharapkan Indonesia bisa terhindar dari pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim. Menurut data yang diukur pada usia di atas 15 tahun dengan jenjang pendidikan yang ditamatkan, maka diperoleh data bahwa orang Indonesia (perkotaan+pedesaan) yang belum pernah sekolah ada 5,47%, tidak tamat SD 13,67%, tamat pendidikan dasar 27,41%, tamat pendidikan menengah pertama 20,82%, tamat pendidikan menengah atas 25,18%, dan tamat perguruan tinggi 7,46%. Data ini bagi kami, sangat menarik untuk dibahas karena data ini langsung bisa disimpulkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat rendah. Tetapi apakah jenjang pendidikan manusia Indonesia punya hubungan yang signifikan dengan tema workshop ini ?

Data ini juga bisa mengatakan bahwa partisipasi orang Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi sangat rendah. Ini akibat dari kurangnya kesempatan untuk meraihnya akibat dari kurang berminat ataukah tidak mmebiayai diri untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kemudian adakah jaminan bahwa mereka yang 7,46% yang berhasil lulus pada setiap jenjang pendidikan tinggi (S1, S2, dan S3) mampu memberikan efek tetesan ke bawah sehingga bisa menyadarkan mereka yang tidak mampu melewati jenjang itu. Jika tidak ada maka pendidikan tinggi tidak bisa disalahkan dan itu terpulang pada manusia Indonesia itu sendiri yang dikategorikan intelek tersebut. Dalam worshop tersebut disepakati bahwa ini adalah persoalan sikap dan mental dari 7,46% tersebut, sehingga memang perlu ada revolusi mental.

Apakah api yang menyulut pemanasan global dan perubahan iklim masih dimainkan oleh mereka (92,54%) yang tidak memahami issue global ini ? Yang jelas bahwa yang menamatkan pendidikan tinggi mempunyai banyak kesempatan untuk meraih puncak karier dan kesuksesan memperoleh jabatan penting di birokrasi pemerintah dan swasta. Jika kesempatan di birokrasi itu tertutup, maka bisa saja yang menamatkan pendidikan tinggi itu menciptakan ruang baru untuk lebih memanusiakan manusia atau menciptakan ruang untuk menghancurkan manusia. Semua tindakan manusia di atas akan memberikan dampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Tidak berhenti sampai disitu, ternyata yang menamatkan pendidikan tinggi juga akan menciptakan pola hidup yang baru. Itu artinya akan diikuti dengan gaya hidup yang baru sehingga tuntutan pemenuhan hidup juga akan meningkat. Jumlah mobil yang dimiliki, rumah yang mewah dengan kelengkapan asesori pendingin ruangan dan berbagai macam pengharum tubuh dan ruangan yang harus tersedia. Jika diteliti dengan mendalam maka komponen ini juga memberikan sumbangan terbesar dalam pemanasan global dan perubahan iklim.

Di Indonesia kemacetan lalu lintas akibat berjubelnya kenderaan tidak mampu terurai dengan baik dan cenderung membangun infrastruktur jalan sebagai pemecah persoalan kemacetan. Padahal saat pembangunan jalan dituntaskan maka bertambah pula jumlah kenderaan yang setiap hari mengeluarkan gas beracun ke alam. Hal yang sama bahwa belum ada perencanaan nasional tentang struktur bangunan yang disyaratkan untuk hemat energi listrik. Kita yang hidup di wilayah kepulauan baik yang mendiami wilayah pesisir pantai maupun yang mendiami wilayah pegunungan telah dianugerahi energi angin dari alam yang berhembus setiap hari dan energi cahaya matahari, namun demikian yang terjadi adalah membangun konstruksi rumah yang tertutup sehingga perlu menggunakan energi listrik untuk cahaya dan untuk pendingin ruangan.

Secara tidak arif telunjuk kita akan mengarah kepada mereka yang hidup di pedesaan dengan pendidikan yang rendah bahwa mereka telah salah dalam manajemen api sehingga terjadi kebakaran hutan, walaupun itu dilakukan oleh para pengusaha perkebunan besar yang karena hitung untung dan rugi lebih dikedepankan maka menyulut api adalah jalan yang terbaik.

 

Epilog

Ada pepatah Perancis yang mengatakan bahwa « Les gens qui ne soufflent pas le feu bien alors il va juste mâchent la farine sur sa bouche », orang yang tidak meniup api dengan baik akan mengunyah tepung dimulutnya. Ini sebuah gambaran hidup dengan analogi tiup api. Api adalah energi yang mengubah bahan mentah menjadi masakan enak. Api itulah yang mengubah tepung menjadi roti. Dari api, segala sesuatu dapat terhidang di meja makan. Singkatnya, untuk menikmati masakan yang enak atau roti yang matang maka harus meniup api agar tetap menyala.

Pada sisi yang lain api pun bisa membumihanguskan manusia dan sekitarnya. Manusia akan menjadi tak berdaya apabila lingkungan menjadi rusak dan yang fatal lagi akibat ulah manusia maka terjadi perubahan pemanasan global yang dampaknya pada perubahan iklim. Siklus manusia dan lingkungan akan cepat berubah seiring terjadinya perubahan iklim global.

Maluku dengan bertahtakan gugusan pulau-pulau kecil dan memiliki karakteristik yang unik dengan daerah lain di Indonesia dimana terdapat iklim lokal, maka perlu ada penelitian yang mendalam bahwa laut dan darat di Maluku bisa menyumbangkan perputaran energi yang harmoni antara oksigen dan karbondioksida.

 

Daftar Pustaka

Aumeeruddy Yildiz, 1994, Représentation et Gestion Paysannes des Agroforêts en Périphérie du Parc National Kerinci Seblat á Sumatra, Indonésie, UNESCO, Paris.

Dove Michael R. dan Martopo Sugeng, 1987, Manusia dan Alang-alang di Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogya.

Irwanto, 2015, Kebakaran Hutan dan Lahan, Makalah, Ambon.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Pattinama, Marcus J. 2005. “Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen ” Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue “. Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle.” Pp. 354. Paris

Presentasi Makalah pada Workshop Ahli Perubahan Iklim Regional Maluku dan Maluku Utara, dengan thema :Perubahan Iklim dan Pulau-Pulau Kecil. Ambon 2 Juni 2016.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon

[2] Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon.