Archive for POLA ILMIAH POKOK

FAKULTAS PERTANIAN DALAM POLA ILMIAH POKOK UNIVERSITAS PATTIMURA : BINA MULIA KE LAUTAN

LOGO-UNPATTI-2013

Fakultas Pertanian dalam Pola Ilmiah Pokok Universitas Pattimura[1] : BINA MULIA KE LAUTAN, oleh :

DR. Ir. Marcus Jozef Pattinama, DEA[2]

I. Pendahuluan

            Landasan berpikir yang hendak dikembangkan dalam tulisan ini adalah bagaimana sumbangan yang dapat diberikan oleh ilmu-ilmu pertanian dalam memberikan penguatan terhadap Pola Ilmiah Pokok Universitas Pattimura, yang pada gilirannya memberikan ciri dan identitas yang tepat terhadap arah pengembangan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon ke depan.

            Landasan berpikir inipun seharusnya tidak boleh terlepas jauh dari latar belakang sejarah lahirnya Unpatti, karena lembaga pendidikan tinggi ini lahir dari niat dan cita-cita yang tulus dari tokoh-tokoh masyarakat Maluku ketika itu, dimana mereka hanya mempunyai satu tekad saja yaitu agar di waktu mendatang anak cucu bumi Maluku bisa bersekolah mencapai level pendidikan yang lebih tinggi. Tahap yang berikutnya adalah memahami motto Unpatti Hotu Mese (= Maju bersama-sama).

            Dalam tulisan ini tidak diuraikan secara detail latar belakang sejarah dan motto dimaksud, kami hanya mau mengingatkan saja bahwa pada saat membicarakan suatu konsep baru yang memberi penguatan kepada lembaga penddikan tinggi ini seperti konsep Pola Ilmiah Pokok (PIP), Bina Mulia ke Lautan, maka seyogyanya rangkaian peristiwa sebelumnya harus turut dipertimbangkan. Sebagai universitas yang masih dikategorikan berkembang (=identik dengan negara berkembang) misalnya Unpatti, maka konsep pemikiran untuk memajukan lembaga ini selalu mendapat muatan energi yang sangat besar pada satu sisi, sedangkan di sisi yang lain berhadapan dengan sistem tata-laksana yang boleh dikatakan masih tradisional. Artinya bahwa akselerasi pemikiran akan sangat rentan sekali pada ide-ide pengembangan yang baru dimana ide tersebut selalu dibungkus dengan menggunakan terminologi yang juga baru, pada akhirnya patut diwaspadai. Akibatnya, bisa lebih menjauhkan kita dari spirit awal yang murni. Contohnya, Hotu Mese (Maju Bersama-sama). Pada tahap perkembangan selanjutnya dimana Unpatti menghadapi tantangan lingkungan sekitarnya, maka muncullah suatu ide untuk menafsirkan Hotu Mese yaitu « Maju Bersama-sama dalam Tantangan ». Pengamatan kami yang lebih jauh lagi adalah pada saat kita mengunjungi dunia maya (internet) dan membuka website Unpatti, maka di sana jelas tertera istilah yang lain lagi yakni Berkembang dalam Tantangan. Contoh yang lain, akhir-akhir ini juga ada pikiran lain yang sementara berkembang untuk menuliskan Bina Mulia Kelautan. Padahal penulis sangat yakin bahwa konsep yang ingin dikembangkan adalah Bina Mulia ke Lautan.

            Kata « kelautan » pada saat sekarang ini sementara « à la mode » atau « up to date » bahkan menjadi tema yang hangat untuk dibicarakan. Hal ini disebabkan Indonesia sebagai negara kepulauan, kemudian ada provinsi yang berciri kepulauan, namun kenyataannya belum mempunyai konsep yang mapan dan aplikatif dalam pengembangan potensi kelautan. Yang tersedia dan disajikan dalam berbagai kesempatan seminar hanyalah « wacana » : berupa konsep-konsep yang belum didasarkan pada suatu penelitian yang komprehensif ataupun suatu penelitian monografi. Contohnya, pada tataran nasional belum ada data yang akurat tentang jumlah pulau yang tersusun untuk merangkaikan wilayah nusantara ini. Laporan terakhir dari Dewan Keamanan PBB (Kompas, Agustus 2005) menunjukkan bahwa masih ada 10.000 pulau anonim di Indonesia. Untuk itu, badan Internasional tersebut mendesak Indonesia untuk segera memberi nama atas pulau-pulau tersebut, yang pada gilirannya dapat disebut sebagai bukti pemilikan yang sah dari Pemerintah Republik Indonesia. Pada tataran regional, Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara (sebagai dua provinsi kepulauan di kawasan timur Indonesia) juga menghadapi persoalan yang sama. Kenyataan menunjukkan bahwa data jumlah pulau di Provinsi Maluku pada suatu kesempatan Seminar akan berbeda dipaparkan pada setiap makalah yang disajikan. (Seminar Nasional BPTP Maluku di Ambon, 21-22 November 2005).

            Dengan demikian saya mau mengajak kita sekalian supaya kembali berpikir pada konsep yang asli, seperti tema kita pada forum yang resmi ini yaitu konsep Pola Ilmiah Pokok : Bina Mulia ke Lautan. Itu berarti bahwa Bina Mulia ke Lautan harus dimengerti dan dipahami secara utuh dengan tidak memberi bobot pada kata tertentu.

            Kemudian yang berikutnya saya ingin mengajukan pertanyaan : bagaimana hubungan filosofi antara motto Unpatti Hotu Mese dan konsep PIP Bina Mulia ke Lautan ? Apakah kedua konsep ini saling menjiwai ? Jika tidak, bagaimana kita mampu memaknai kedua filosofi yang berbeda ini. Jika sebaliknya, bagaimana kita memposisikan ciri dan identitas kita pada kedua konsep tersebut. Pertanyaan yang terakhir, apakah dengan motto belum cukup memberikan makna ilmiah kepada lembaga ini, lalu mengapa harus muncul lagi konsep PIP ?

            Maksud dari pertanyaan di atas adalah hanya ingin memberikan suatu catatan untuk mengingatkan kita sekalian, civitas akademika, dan tidak bermaksud untuk membuat suatu polemik terhadap konsep motto dan PIP yang sudah ada, dimana kedua konsep ini secara legal telah dikukuhkan dengan Surat Keputusan Rektor Unpatti[3]. Dengan demikian konsep filosofi dari motto dan PIP seyogyanya dipahami oleh seluruh civitas akademika sehingga dapat diimplementasikan dalam kerjasama ilmiah antar disiplin ilmu di Unpatti.

 

II. Bina Mulia ke Lautan

1. Catatan Literatur

            Pola Ilmiah Pokok adalah suatu falsafah pendidikan dan bukan merupakan suatu ilmu atau disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan pula bahwa PIP adalah suatu konsep inovasi yang mengandung orientasi dasar ilmiah dengan tujuan pengembangan dan kerjasama pendidikan tinggi.

            Tidak tersedia bahan bacaan yang cukup untuk membuat suatu kajian yang komprehensif tentang implementasi PIP. Kami mendapatkan hanya dua sumber bahan yang bisa digunakan sebagai materi penuntun dalam mengemukakan gagasan kami tentang bagaimana sumbangan Fakultas Pertanian dalam kebijakan implementasi PIP.

            Kedua sumber bahan dimaksud adalah :

  1. Makalah berjudul : Universitas Pattimura dan Pola Ilmiah Pokoknya, Dari Ide Menuju Implementasi (Suatu Pendekatan Strategis), oleh Drs. J.E. Sitanala, Januari 1987.
  2. Makalah berjudul : BINA MULIA KE LAUTAN, oleh Prof. Mr. Steven Munadjat Danusaputro, April 1988.

            Makalah Almarhum Drs. J.E. Sitanala (JES) yang ditulis 10 tahun setelah SK Rektor Unpatti N°20 tahun 1977 merupakan makalah pertama yang menulis tentang pokok pikiran bagaimana mengimplementasi PIP Unpatti. Dari makalah setebal 55 halaman, dapat kami membuat suatu catatan penting bahwa JES tidak pernah menyebut PIP Unpatti adalah Bina Mulia ke Lautan, artinya bahwa JES hanya menyebut bahwa PIP Unpatti adalah Pengembangan Ilmu dan Teknologi Kelautan (pada Kata Pengantar dan halaman 32).

            JES secara jelas sekali memaparkan latar belakang ditetapkannya PIP yang merupakan wujud realisasi dari Kebijaksanaan Pengembangan Pendidikan Tinggi Tahun 1975 oleh Mendikbud RI, kemudian oleh Dirjen Dikti pada tahun 1977 menetapkan Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPT-JP) yang didalamnya terkandung strategi penataan pendidikan tinggi nasional, diantaranya Orientasi Pengembangan dan PIP.

            Jika kembali lagi pada makalah JES, pada halaman 41a disajikan Pola Tatanan Peran Universitas Pattimura, yang menurut hemat kami adalah suatu ilustrasi yang sangat kompleks dan sangat sulit akan mengerti dalam waktu singkat. Namun demikian, JES telah menuangkan ide cemerlang untuk memprediksi begitu rumitnya rangkaian itu dalam pengembangan Unpatti ke depan.

            Pada halaman yang lain, 41b, dijumpai Pola Tatanan PIP Universitas Pattimura. Pada gambar dimaksud tidak dijumpai kata Bina Mulia ke Lautan sebagai PIP Unpatti. Walau begitu, JES sudah membagi peranan yang harus dimainkan oleh Fakultas yang berbasis kelautan dan interaksinya dengan fakultas berbasis non kelautan.

            Makalah JES lebih banyak mengulas langkah-langkah strategi yang harus dimainkan oleh Unpatti dalam mengimplementasi kebijakan Mendikbud melalui PIP. Dan pada halaman 43 dipaparkan bagian khusus berjudul ; Menuju Implementasi. Kami berpendapat bahwa beliau lebih banyak mengulas peranan dari Pengembangan Ilmu Kelautan dan Teknologi Kelautan. Pada bagian penutup (halaman 54), JES ingin mengingatkan kita begini : Cita-cita dan perjuangan kita untuk menegakkan dan mengembangkan PIP Unpatti adalah sesuatu yang berat tetapi juga ambisius dan dalam seluruh perjalanan kita akan menghadapi satu dari dua kemungkinan Unpatti Rules The Waves or Rules by The Waves. JES menutup makalah dengan mengatakan (mengutip kalimat dari ahli manajemen Corrigan) : There is no way standing still, you go either forward or backward. Kalimat penutup tertulis : Marilah Tantangan ini kita jawab dengan motto kita : Hotu Mese (Berkembang Dalam Tantangan). Dengan demikian menurut hemat kami bahwa Unpatti tetap saja menghadapi tantangan dan belum maksimal mencari jalan terbaik untuk menjawab tantangan itu hingga saat ini (19 tahun setelah makalah Almarhum Drs. J.E. Sitanala).

            Makalah Prof. Mr. Steven Munadjat Danusaputro (StMD), ditulis satu tahun setelah makalah JES yaitu April 1988. Kami mendapatkan ada dua makalah beliau dengan judul yang sama (BINA MULIA KE LAUTAN), dipresentasikan dalam dua kesempatan yang berbeda. Pertama, pada saat seminar jurusan Hukum Internasional Fakultas Hukum Unpatti tanggal 21-23 April 1988. Kedua, Seminar Hukum Internasional dan Hukum Tata Pengelolaan Lingkungan Laut dalam menyongsong Dies Natalis ke-25 Unpatti pada tanggal 27 April 1988.

            Makalah StMD ini diawali dengan suatu penjelasan bahwa beliau pertama kali menyentuh tema Bina Mulia ke Lautan pada tanggal 7-8 Februari 1982 untuk memberikan ceramah di Unpatti dalam program Penyebar-luasan Wawasan Nusantara atas inisiatif dari Kementerian Depdikbud dan upaya sosialisasi konvensi PBB tentang Hukum Laut.. Jadi tema ini sudah tiga kali beliau himbau dalam forum diskusi yang berbeda kepada civitas akademika Unpatti. Himbauan ini berkenaan dengan cita-cita beliau agar Unpatti yang harus menjadi pelopor pengembangan Era Kelautan Baru dan Era Kelautan Asia Pasifik di Kawasan Timur Indonesia. Namun himbauan ini tidak langsung dikaji secara serius oleh Unpatti pada masa itu.

            Pada tahun 1988, saat seminar menyongsong Dies Natalis Unpatti yang ke-25, Fakultas Hukum Unpatti kembali mengambil peran utama untuk mengundang kembali StMD untuk kesempatan yang keemat berbicara tentang tema Bina Mulia ke Lautan. Dengan demikian Fakultas Hukum kembali mengangkat tema : Bina Mulia ke Lautan, yang pada gilirannya diterima sebagai judul dari PIP Unpatti Ambon.

            Jika menelusuri alur berpikir dari StMD dalam makalahnya maka beliau memulai analisis dengan memaparkan latar belakang sejarah daerah Maluku sebagai Pulau Rempah-Rempah (The spices islands atau L’île des épices), dimana saat itu rempah-rempah mempunyai daya tarik yang identik dengan minyak bumi saat sekarang ini. Sejarah mencatat bahwa dari komoditi ini era penjajahan (masa kolonisasi) di bumi nusantara berawal dari bumi Maloko (=Maluku) oleh ekspedisi dagang Portugis. Saat berbicara tema ini, maka sejarah kita di Provinsi Maluku seyogyanya tidak dapat dipisahkan dengan Provinsi Maluku Utara (Sejarah kerajaan Raja Ampat : Ternate, Tobelo, Bacan dan Jailolo).

            Sosok imperialisme dan kapitalisme dengan cara menghancurkan secara sistematis tatanan social yang dimiliki oleh masyarakat pribumi kelihatannya sudah berlangsung sejak lama (contohnya: hongi cengkeh dan pala di bumi Kepulauan Maluku, kemudian politik tanam paksa dan kerja paksa untuk membangun perkebunan besar di Pulau Sumatera dan Jawa, serta politik perbudakan yang ekspansinya sampai ke Suriname, Madagaskar dan Pretoria). Dengan demikian imperialisme dan kapitalisme di abad modern ini hanyalah mengalami suatu proses metamosfosis yang tujuan akhir adalah sama seperti yang dilakukan berabad-abad yang lalu, caranya masih sama adalah menebar provokasi, lancarkan politik adu domba, menghancurkan, membunuh dan akhirnya menjajah: tujuannya menguasai sektor ekonomi rakyat. Bandingkan dengan politik invasi Amerika Serikat dan sekutu di kawasan Timur Tengah pada abad modern ini.

            StMD sebagai seorang Guru Besar hukum lingkungan dari Universitas Pajajaran Bandung sangat memahami betul bahwa pada saat membicarakan ide memuliakan lautan maka pemahamannya harus dimulai dari lingkungan darat. Oleh sebab itu beliau mengemukakan alur pikir dengan menerangkan ketertarikan Maluku oleh Rumphius saat melakukan eksplorasi Flora dan Fauna hingga kekayaan alam laut Maluku dengan mendiskripsikan potensi laut yang bisa tetap lestari jika potensi Flora dan Fauna dipelihara. Penguasaan ilmu secara interdisipliner yang dimiliki oleh Prof. StMD, mengantar beliau secara jernih mampu mengemukakan falsafah dari Bina Mulia ke Lautan.

 

2. Definisi Terminologi

            Arti setiap kata di bawah ini menurut J.S.Badudu dan Sutan Mohammad Zain (1996)[4]. :

- Bina       : mendirikan, membangun

                  : memelihara, mengembangkan dan menyempurnakan

- Mulia (Sansekerta), lawan arti adalah hina (Sansekerta).

                                                : tinggi (kedudukan, pangkat, jabatan)

                                                : bermutu (barang)

                                                : luhur (ucapan kepada nabi)

                                                : luhur (budi)

                                                : Yang Mulia (Duta Besar, Presiden)

- ke                                         : (kata depan) penunjuk arah ; pergi menuju

- Lautan                    : laut = kumpulan air asin yang luas sekali di permukaan bumi, memisahkan pulau dengan pulau, benua dengan benua.  Lautan adalah laut yang luas sekali, contoh :Lautan Pasifik (Lautan Teduh)  Lautan Atlantik

Sedangkan : Kelautan adalah gugusan (kumpulan) laut . artinya : hal-hal yang berhubungan dengan laut.

 

3. Makna Harfiah

            Dari definisi istilah kata di atas dapat dikemukakan bahwa bina (kata kerja), mulia (kata sifat), ke (kata depan) lautan (kata benda).

            Dengan demikian Bina Mulia ke Lautan adalah membangun sesuatu dengan penuh keluhuran menuju lautan.

 

4. Makna Filosofi

            Menurut Prof. Mr. Steven Munadjat Danusaputro, Bina Mulia ke Lautan didefinisikan sebagai Tata-bina Cintarasa untuk Memuliakan Lautan. Konsep ini dikemukakan dalam memasuki Era Kelautan Baru setelah Indonesia menerima konvensi PBB tentang Hukum Laut pada tahun 1982.

            Makna filosofi lain dari Bina Mulia ke Lautan adalah : Suatu tatanan yang berisikan pola pembinaan ke arah tumbuhnya cintarasa terhadap lautan dengan kesadaran dan penghayatan untuk senantiasa menjunjung tinggi dan memuliakan lautan dengan segala harta kekayaannya sebagai sumber kehidupan yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Manusia (Danusaputro, 1988, p.4).

 

5. Makna Aplikasi dari Sudut Pandang Fakultas Pertanian

            Dalam suatu forum diskusi untuk membahas makalah ini di Fakultas Pertanian, disepakati bahwa penulisan PIP haruslah pada konsep yang orisinal yaitu Bina Mulia ke Lautan, dengan makna falsafah adalah : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut. (lihat pula : Penuntun Pengembangan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, 2003, p.2).

            Fakultas Pertanian mencoba untuk mengembangkan pemikiran yang sangat sederhana dari PIP yaitu berdasarkan hubungan sebab-akibat. Pernyataan Berdiri di Darat bermakna pada pemahaman konsep ruang dimana seluruh aktifitas pertanian pada ekologi daratan, suatu ruang dimana manusia berpijak untuk hidup. Sedangkan pernyataan Memandang ke Laut artinya bukan sebatas memandang dengan alat indera penglihatan saja tetapi menunjukkan adanya konsep pembagian waktu yang penuh untuk meramu daerah daratan sehingga ruang dan ekologi laut tetap saja dipandang dari sudut kajian ruang dan ekologi daratan. Kami yakin bahwa jika Fakultas Pertanian merumuskan pernyataan Menyelam ke Laut pasti akan mempunyai makna filosofi yang berbeda. Itu berarti bahwa civitas akademika Fakultas Pertanian menyadari bahwa hanya Memandang ke Laut sehingga secara tegas pula ingin memberi batas kajian ilmu pertanian supaya tetap berada pada bingkai yang didefinisikan menurut ruang dan waktu pada daerah daratan. Pendefinisian ini berangkat dari pemahaman nyata dari masyarakat pertanian yang ada di Maluku dimana mereka mendiami hanya satu pulau besar (Seram) dan sisanya bermukim pada pulau kecil (< 10.000 km²).

            Seorang petani di Maluku selalu memangku dua profesi pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani yang mengolah ekologi daratan dan sebagai nelayan. Dengan demikian jika seorang petugas penyuluhan pertanian di suatu desa berhadapan dengan seorang petani dan pada kesempatan lain dimana meteri penyuluhan perikanan diberikan, maka penyuluh akan tetap berhadapan dengan orang yang sama. Profesi bivalen yang dimiliki oleh petani di Maluku yang memberikan inspirasi pada Fakultas Pertanian untuk merumuskan falsafah pembangunan pertanian di Maluku : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.

            Kenyataan lainnya yang mendukung falsafah ini adalah dalam hal penguasaan tanah di Maluku. Studi yang mendalam tentang organisasi teritorial menunjukkan bahwa penguasaan tanah di Maluku mempunyai batas-batas yang hanya ditandai secara alami, misalnya gunung, air, tanitan, dan tanaman (pohon) tertentu, akibatnya luas daerah yang menjadi hak milik tidak bisa diukur secara akurat ditambah pula dengan hak petuanan yang bersifat komunal. Penguasaan tanah juga menjangkau dalam wilayah sungai yang mengalir dari sumbernya pada daerah pegunungan hingga bermuara pada wilayah lautan. Untuk wilayah ini pendefinisian pemilikan akan terukur pada batas akhir saat air laut surut (meti). Oleh karena itu pada surat resmi kepemilikan tanah yang diakui oleh Negara sebagai Surat Dati juga mencantumkan batas-batas kepemilikan wilayah yang dicatat berdasarkan terminologi vernakuler.

 

III. Konsep Pertanian di Maluku

            Dalam berbagai kesempatan pertemuan ilmiah baik yang diselenggarakan pada intern Fakultas Pertanian maupun pada ekstern di level regional dan nasional, Fakultas Pertanian telah menetapkan arah bahwa konsep pembangunan pertanian yang hendak dikembangkan di Provinsi Maluku adalah Konsep Pertanian Kepulauan.

            Secara objektif boleh dikatakan bahwa disatu sisi Fakultas Pertanian ingin mengembangkan konsep ini, namun pada sisi yang lain Fakultas Pertanian sendiri belum secara serius mengadakan kompilasi dari hasil penelitian dan kajian yang sudah dilakukan oleh para staf dosennya dalam berbagai acara ilmiah yang telah disajikan dalam bentuk makalah seminar, makalah orasi Dies Natalis Universitas dan konsep pidato pengukuhan Guru Besar. Kesemuanya itu boleh dikatakan telah memuat gagasan metodologi penelitian ilmiah yang dapat mendukung konsep Pertanian Kepulauan. Aplikasinya adalah merencanakan suatu metedologi penelitian yang seyogyanya mulai dicoba dalam penelitian-penelitian mahasiswa guna mengakhiri masa studi mereka. Akhirnya yang kita amati bahwa konsep Pertanian Kepulauan bisa dikatakan sebagai « wacana » saja. Pekerjaan berikutnya adalah belum lagi melakukan suatu pengkajian yang komprehensif tentang kedudukan konsep Fakultas Pertanian tersebut dalam Pola Ilmiah Pokok Universitas Pattimura. Yang ingin saya kemukakan disini adalah kita belum terlatih untuk secara tekun mengadakan kegiatan inventarisasi dan identifikasi terhadap seluruh materi kegiatan ilmiah di Fakultas Pertanian baik yang dilakukan dosen saat melaksanakan kegiatan penelitian, pengajaran dan pengabdian masyarakat maupun evaluasi ilmiah terhadap skripsi atau makalah yang ditulis oleh mahasiswa. Apakah semua kegiatan ilmiah dimaksud telah mendukung konsep falsafah PIP yang menurut Fakultas Pertanian : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut ?

            Konsep PIP Bina Mulia ke Lautan harus dipandang dari tiga konsep ruang dimana organisme hidup termasuk manusia memilihnya sebagai suatu habitat yaitu gunung, pantai dan laut. Ketiga ruang ini harus dilihat secara holistik. Jika kita mau membangun manusia, dalam hal ini memanusiakan manusia, maka harus dimulai dari habitat dimana manusia berada yaitu ruang yang memungkinkan manusia bisa berkarya sepanjang hidup dengan curahan waktu yang lama. Itu berarti manusia hanya bisa menggunakan ruang gunung dan pantai. Sedangkan ruang laut atau lautan adalah tempat hydroorganisma. Ruang laut tidak bisa menjadi pemukiman manusia dan lebih cenderung dijadikan sebagai ruang untuk menghidupi manusia, dimana kondisinya tidak bisa ramah sepanjang waktu. Dan kondisi yang ramah itu hanya bisa diketahui oleh manusia yang mengelolanya. Contohnya : pergerakan arah angin di darat akan menjadi indikator tentang kondisi lautan.

            Jepang dan Prancis pernah (=sekitar tahun 1980-an) melakukan riset untuk menguasai laut agar bisa dijadikan tempat pemukiman manusia, namun riset itu menghasilkan suatu kesimpulan yang sangat tidak ekonomis, biaya yang sangat mahal, atau dengan kata lain ruang laut tidak cocok untuk pemukiman manusia. Riset yang sama juga dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia untuk mempersiapkan suatu ruang pada planet selain bumi di ruang angkasa.

            Ruang gunung dan pantai yang harus menjadi sentral pembicaraan. Segala kegiatan manusia dalam ruang gunung dan pantai akan sangat mempengaruhi lautan. Untuk itu konsep berpikir sederhana dari Bina Mulia ke Lautan sebenarnya adalah tindakan pelestarian pada ruang gunung dan pantai harus dilakukan untuk melindungi kehidupan habitat laut yang hidup pada ruangnya.

            Konsep PIP yang ingin diimplementasikan jangan dilihat dari keunggulan sektoral apalagi ada kecenderungan arogan akan pentingnya satu sektor pada satu sisi dan di sisi lain sektor lain hanya sebagai pelengkap jika diperlukan seperti yang selama ini menjadi model pembangunan yang kita anut dalam Negara Indonesia.

            Saya mengajak kita semua untuk mari kita belajar dari konsep yang dikembangkan oleh masyarakat tradisional yang hidup di Pulau Buru. Orang Bupolo atau orang Buru melihat ruang gunung, pantai dan laut adalah sesuatu yang utuh (holistik). Latar belakang berpikir mereka sangat sederhana sekali : danau Rana adalah tempat hidup morea (Anguilla marmorata), kemudian sungai Waenibe adalah satu-satunya sungai yang keluar dari Danau Rana dan bermuara di laut bagian utara Pulau Buru. Sungai Waenibe di daerah pantai adalah sungai yang memisahkan dua desa yaitu Waekose dan Waenibe. Sungai Waenibe mengitari daerah pegunungan dan bermuara di pantai sekaligus juga sebagai sumber air minum pada pemukiman yang ada di sepanjang bentangan gunung hingga pesisir pantai.

            Orang Bupolo sangat yakin bahwa hingga saat ini morea besar itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat. Danau seluas 75 Km² ini terdapat banyak sekali morea dan pada akhir panen kacang tanah mereka melakukan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe. Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing (mloko hat stefo) sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut peneliti Prancis, Keith Philippe, cs (1999)[5] bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Menariknya bahwa setelah reproduksi maka morea dewasa akan mati di laut Fiji dan larvanya akan kembali lagi ke habitat asal di Danau Rana dengan perjalanan lebih dari dua tahun. Ini proses hidup yang berlangsung sepanjang tahun dan sepanjang masa. Secara tradisional orang Buru mengenalnya, untuk itu tindakan melindungi ruang itu harus dijaga dan diatur dengan norma adat.

            Konsep pertanian masyarakat yang sudah kita kenal adalah sistem pertanian campuran antara tanaman hutan (buahan – non buah) dan tanaman pertanian (pangan dan hortikultura). Model ini yang kita sebut sebagai dusung (Pulau Ambon dan Lease), lusun (Pulau Seram), wasilalen (Pulau Buru) dan atuvun (Pulau Kei). Model ini merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika dibayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani dari tanaman campuran antara tanaman hutan dan tanaman pertanian ke pola usahatani tanaman pangan bahkan mengarah pada komoditi monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai, rusaknya tanaman daerah pantai (=mangrove) dan rusaknya daerah terumbu karang.

            Kerusakan ekosistem daerah pantai akan memberi dampak pada siklus hidup plankton dan jenis biota laut lainnya. Tentunya tindakan merubah ekologi daerah pegunungan akan memberikan indikasi bahwa nilai cinta-rasa memuliakan lautan sudah pudar. Amati dan bandingkan dengan tindakan « illegal logging » saat ini, akibatnya ekosistem daerah pegunungan sangat cepat berubah.

 

IV. Implementasi PIP

            Jika kita berbicara implementasi PIP di Unpatti, maka yang harus diperhatikan adalah adanya pemahaman yang baik tentang konsep PIP Bina Mulia ke Lautan bagi seluruh elemen Unpatti dan tentu implementasinya menjadi wewenang penuh pada tiap Fakultas.

            Untuk menuju pada implementasi, maka ingin saya katakan bahwa sebenarnya Fakultas Pertanian telah merumuskan konsep implementasi dari PIP Unpatti seperti yang saya uraikan dalam bagian II.5 Makna Aplikasi dari Sudut Pandang Fakultas Pertanian dan bagian III Konsep Pertanian di Maluku. Bagi saya sebenarnya bagian itu masih pada tataran konsep sedangkan yang ingin saya kemukakan berikut ini adalah implementasi yang harus terukur dalam kegiatan akademis Fakultas Pertanian. Untuk itu langkah awal yang ingin saya sampaikan adalah tentang profil Fakultas Pertanian.

            Fakultas Pertanian adalah bagian integral dari pendidikan tinggi nasional dan khususnya Pendidikan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian di Indonesia, melandasi seluruh pengembangan akademisnya pada tujuan dasar pendidikan tinggi dan dengan profesonalisme bidang kehutanan, bidang peternakan dan bidang pertanian.

            Fakultas Pertanian menyelenggarakan tiga bidang ilmu pertanian dengan status kelembagaan sebagai berikut :

 

  1. Jurusan Kehutanan membawahi tiga (3) Program Studi : Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Teknologi Hasil Hutan.
  2. Jurusan Peternakan membawahi dua (2) Program Studi : Produksi Ternak dan Makanan Ternak. Saat ini untuk program KBK, Jurusan Peternakan hanya mengembangkan satu Program Studi : Ilmu Ternak.
  3. Jurusan Budidaya Pertanian membawahi lima (5) Program Studi : Agronomi, Hama Penyakit Tanaman, Tanah, Sosial Ekonomi Pertanian, dan Teknologi Hasil Pertanian.

 

            Ketiga Jurusan ini harus selalu mengevaluasi diri untuk menyelaraskan kurikulum pendidikannya dengan realita kehidupan masyarakat yang terus berkembang dan berubah, serta tanggap terhadap dinamika pembangunan baik pada level lokal, regional maupun internasional. Untuk itu Fakultas Pertanian Unpatti harus dilihat dalam bentuk abstrak pohon ilmu yang mempunyai tiga akar yaitu :

 

(i)                 ilmu yang berkaitan dengan sumberdaya alam dan hayati

(ii)               ilmu yang berkaitan dengan sumberdaya manusia

(iii)             ilmu yang berkaitan dengan lingkungan biofisik.

 

Dengan demikian ketiga jurusan pada Fakultas Pertanian perlu dilihat sebagai batang ilmu atau disebut juga bidang ilmu dan bukan sebagai cabang ilmu, walaupun status kelembagaan adalah jurusan, karena ilmu yang dicirikan oleh kurikulum inti sama dengan batang ilmu yang dicirikannya dan penyebutan gelar kesarjanaannya sesuai dengan batang ilmu yaitu : Sarjana Pertanian (S.P) untuk Jurusan Budidaya Pertanian, Sarjana Kehutanan untuk Jurusan Kehutanan (S.Hut) dan Sarjana Peternakan (S.Pt) untuk Jurusan Peternakan.

            Program Studi pada Fakultas Pertanian Unpatti jangan dilihat dalam arti sempit yaitu status kelembagaan. Sesungguhnya Program Studi yang menyelenggarakan cabang ilmu yang mencirikan namanya, sehingga perlu dilihat dalam konteks keilmuan walaupun status kelembagaannya adalah program studi.

            Fakultas Pertanian sebagai lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi seyogyanya berperan aktif :

(1)    Dalam bidang penelitian dan pengabdian sebagai upaya menguasai, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kehutanan, peternaka dan pertanian.

(2)    Memberikan solusi bagi masyarakat pulau/gugus pulau, maupun pemerintah daerah serta lembaga swasta dalam memecahkan berbagai masalah menyangkut pemanfaatan lahan pulau atau gugus pulau dengan tetap mempertahankan kelestarian kawasan.

(3)    Memberdayakan sumberdaya manusia kepulauan untuk dapat mengembangkan kemampuan diri di dalam mengelola sumberdaya lingkungan yang ada sehingga terbangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat sebagai konsumen terhadap produk yang dihasilkan.

 

            Setelah pemaparan profil Fakultas Pertanian seperti yang diuraikan di atas, maka implementasi PIP akan terukur dalam penerapan kurikulum yang dikembangkan oleh Fakultas Pertanian, sehingga pada bagian ini hanya kami sebutkan beberapa kelompok mata kuliah yang telah ditetapkan oleh Fakultas Pertanian dalam mendukung konsep falsafah PIP maupun konsep model Pertanian di Maluku. Itu bukan berarti bahwa mata kuliah yang lain sama sekali tidak mendukung konsep di atas, kenyataan membuktikan bahwa setiap dosen yang mengasuh mata kuliah kurikulum inti dan mata kuliah kurikulum institusional serta persiapan penerapan kurikulum berbasis kompetensi, dalam berinteraksi dengan mahasiswa saat proses perkuliahan berlangsung, para dosen telah melakukan upaya maksimal untuk mendekatkan mahasiswa pada kenyataan lapangan di daerah ini dan komparasi dengan kasus lainnya pada level regional antar kabupaten/kota, nasional maupun internasional. Sebagai contoh dalam Mata Kuliah Wajib Nasional diambil dua mata kuliah saja seperti : m.k. Ilmu Alamiah Dasar dan m.k. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Kedua mata kuliah ini telah menumbuhkan benih kecintaan pada masalah sosial dan budaya serta memberikan bekal kepada mahasiswa dalam membentuk konstruksi berpikir yang berorintasi ciri khas daerah secara nasional maupun regional.

            Mata kuliah lainnya yang berciri khas wilayah diantaranya adalah mata kuliah Ekologi Kepulauan dan mata kuliah agroforestry. Istilah agroforestry sebenarnya bermakna pada model pertanian dusung.

            Walaupun dalam makalah ini secara detail tidak kami cantumkan mata kuliah dengan sistem penyusunan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dimana dengan pemaparan perangkat teknis tersebut akan lebih mudah dipahami arah dan kebijakan sistem pengajaran yang berlaku sehingga telah terukur melaksanakan PIP ataupun konsep Pertanian Kepulauan. Seperti yang kami sebutkan di atas bahwa para dosen dengan segala kompetensi dan kemampuannya telah berupaya untuk mendekatkan mahasiswa pada permasalahan sekitar lingkungan mereka sehingga diharapkan adanya kemampuan analisis terhadap situasi nyata.

            Sebelum menutup uraian pada bagian ini kami sampaikan bahwa selain kegiatan rutin kuliah yang adalah pengajaran teori di kelas, maka Fakultas Pertanian dengan tiga jurusannya juga melaksanakan kegiatan akademis lainnya seperti Praktikum, Praktek Lapangan/Praktek Umum, Diskusi Interdisipliner antar dosen dengan melibatkan mahasiswa, seminar rutin mahasiswa, dan Praktek Kerja Lapangan. Kegiatan-kegiatan dimaksud pada waktu mendatang bisa dikelola dengan baik sehingga pada saatnya nanti kegiatan-kegiatan ilmiah seperti ini bisa diarahkan menurut tema kegiatan dalam upaya memecahkan masalah pembangunan pertanian di daearah Provinsi Maluku dan masalah umum kemasyarakatan yang terkait langsung dengan sektor Pertanian, karena harus dipahami bahwa masalah kekurangan gizi, penyebaran penyakit fatal dan kemiskinan yang kronis, kesemuanya ini benar-benar suatu ironi mengingat semua anomali kehidupan berbangsa tersebut terjadi pada sektor pertanian.

            Tentunya lokakarya ini merupakan awal diskusi interdisipliner. Sekali lokakarya belum cukup untuk mendapatkan hasil yang baik dan diharapkan akan dilanjutkan secara reguler hingga akan menghasilkan suatu pemahaman yang baik tentang falsafah motto Universitas Pattimura, falsafah PIP Bina Mulia ke Lautan dan hal yang sangat penting dikerjakan segera adalah program implementasi dari seluruh kesepakatan yang dihasilkan dalam lokakarya ini.


[1] Makalah Fakultas Pertanian disampaikan pada Lokakarya Implementasi Pola Ilmiah Pokok (PIP) Universitas Pattimura Ambon, 24-25 Februari 2006.

[2] Ethnobotanist dan Staf Pengajar Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unpatti.

[3] Surat Keputusan Rektor UNPATTI N°20 tahun 1977 yang mengukuhkan Pola Ilmiah Pokok Unpatti yaitu Pengembangan Ilmu dan Teknologi Kelautan (Ilmu-ilmu Kelautan, Marine Sciences).

[4]Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1646p.

[5]KEITH Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.