Archive for PULAU BURU

MUA LALEN DAN ORGANISASI TERITORIAL MENURUT KONSEP GEBA BUPOLO

Orang Buru

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA

Profesor Etnoekologi

ABSTRACT

Geba Bupolo are autochtone of the Buru island. The forest area is a great house for Geba Bupolo (Bupolo people). This view gives meaning also that the forest is an area that has an owner. Hunting activities are taking forest products and also fought against evil spirits which dwell in the forest. So the forest is a sacred area and the full value of sanctity. To understand the Bupolo people, I should start from how we understand the way they divide their life space in association with the environment, namely by understanding the territorial organization of the Bupolo. This understanding will then give a good direction to the understanding of their social organization. Complex division of space in Bupolo people’s lives is something interesting to study.  Ethnobotany approach is one of the most suitable methods to be used to describe to complexity. This paper attempts to describe how the Bupolo people in Buru Island, Maluku Province, organize their territory and life spaces.

Key words : Bupolo, Buru Island, Forest, Territorial organization, Ethnobotany

 

1.Prolog

Perkenankan saya untuk mempresentasekan makalah saya dengan judul : Mua Lalen dan Organisasi Teritorial menurut Konsep Geba Bupolo dalam forum lokakarya yang dilaksanakan oleh CIFOR dan UNPATTI di Kota Namlea pada tanggal 21 November 2016. Sering terjadi ketidakcocokan antara Geba Bupolo yang menyatakan diri sebagai penduduk asli (autokton) Pulau Buru dengan para pendatang (alokton) dimana alokton belum paham atau mungkin secara sengaja tidak mau memahami adat dan budaya Geba Bupolo. Ada juga yang mengatakan bahwa para peneliti dan ilmuwan juga turut memberikan andil dalam memelihara ketidakcocokan ini, akibat dari hasil riset atau sintesis pengamatan tidak diinformasikan secara meluas di kalangan masyarakat umum. Saya yakin sungguh bahwa tidak ada kata terlambat untuk mau memahami adat dan budaya manusia, karena tema ini memang sangat menarik untuk didiskusikan.

Wilayah hutan (mua lalen) yang berada disekitar kehidupan Geba Bupolo adalah rumah besar dimana wilayah dimaksud adalah tempat mereka berteduh dan mengelola kehidupan di masa lalu dan masa depan. Kemudian untuk memasuki rumah besar tersebut telah ada siklus waktu yang sudah ditetapkan dan harus mendapat izin dari pemangku adat.

Lokakarya ini akan berujung untuk menghasilkan suatu konsep pemahaman Geba Bupolo, sehingga diharapkan program Pemerintah Kabupaten Buru akan bersinergi dengan kajian yang dibuat oleh CIFOR dan UNPATTI atau sebaliknya dimana manfaat positif dan dampak langsung akan diperoleh masyarakat Pulau Buru pada umumnya. Masalah lahan atau tanah adalah masalah semua manusia sehingga penyelesaian hak atas lahan atau tanah harus diselesaikan secara kemanusiaan menurut tatanan adat dan budaya Pulau Buru.

Pulau Buru sejak dahulu hanya dikenal sebagai tempat penampungan tahanan politik dimana ketika itu ditetapkan oleh rezim Presiden Suharto, “Orde Baru”. Selain itu Pulau Buru adalah pulau yang memproduksikan minyak kayu putih, yaitu suatu minyak yang diekstraksi dari daun pohon yang bernama kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies dari famili Myrtaceae. Selain hamparan tanaman kayu putih, maka saat ini Pulau Buru juga menjadi daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai lumbung pangan nasional mengingat sebagian besar wilayah Kayeli ditemui hamparan sawah yang dibangun selama periode tahun 1969-1979 oleh para tahanan politik dengan sistem kerja paksa. Kegiatan yang berikutnya adalah ternyata areal hutan Pulau Buru ditetapkan sebagai wilayah konsesi pertama untuk eksploitasi hutan secara besar-besaran melalui sistem HPH.

 

2. INFORMASI SINGKAT PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

3. DISKRIPSI PENDUDUK OLEH GEBA BUPOLO

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Buru.

Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu, noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain, adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam atau marga. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin berarti pohon sagu.

Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

 

4. DUNIA KOSMOLOGI GEBA BUPOLO

Tempat pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo. Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 1 berikut ini.

 

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 1. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan seorang Laki-laki (Pattinama,2005).

 

Jika diperhatikan Gambar 1 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

5. DUNIA NYATA GEBA BUPOLO

 

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yaitu penduduk autokton, relasi dagang dilakukan dengan pedagang yang menetap di daerah pantai yakni keturunan Cina dan Arab. Penduduk autokton berada pada posisi lemah karena hubungan dengan pedagang terjadi satu arah.  Artinya posisi pedagang sangat kuat. Hal ini sangat berbeda dengan pedagang antar pulau dengan penduduk yang mendiami daerah pesisir pantai. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate.

Geba Bupolo mengusahakan tanaman sagu (=bialahin, Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsinya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, Geba Bupolo secara rasional memilih singkong (=kasbit, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan tepung. Mereka juga mengkonsumsi protein hewani bersumber dari daging babi (fafu), rusa (mjangan) dan kusu (=blafen, Phalanger dendrolagus) dan ikan air tawar (mujair) dan morea (=mloko, Anguilla marmorata). Orang pendatang (Geba Misnit) yang tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan singkong. Di samping itu, mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

Mengenai eksploitasi hutan di Pulau Buru, maka pemerintah Orde Baru untuk pertama kali memberikan izin eksploitasi hutan secara besar-besaran dengan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada PT. Gema Sanubari, suatu perusahaan swasta berafiliasi dengan BAKIN (sekarang BIN). Perusahaan ini memiliki luas HPH terbesar di Pulau Buru (305.000 Ha).

Perkembangan selanjutnya dari kegiatan eksploitasi hutan, maka sekitar tahun 1980 PT. Gema Sanubari mendirikan industri kayu lapis di Buru Utara Barat. Penyerapan tenaga kerja lebih banyak didominasi oleh penduduk alokton sedangkan penduduk autoton mendapat porsi yang sangat sedikit. Mereka tidak diberi kesempatan karena tidak memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang diperlukan perusahaan.

 

6. DUNIA KEARIFAN GEBA BUPOLO

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

 

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana.

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 2. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

d. Organisasi Ruang

Masyarakat Buru mempunyai konsep pembagian batas-batas lingkungan alam yang tegas. Mereka memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri.  Pendatang memerlukan waktu lama untuk memahaminya.

Masyarakat Buru membagi ruang pulau Buru atas tiga bagian :

Pertama, mua lalen yang dilindungi karena nilai kekeramatannya. Wilayah ini termasuk Gunung Date (kaku Date), Danau Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan primer (koin lalen).

Kedua, mua lalen yang dikelola, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen).

Ketiga, mua lalen yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu.

Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsepsi dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas yang harus dipertahankan. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara (HPH), telah terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam hubungan dengan pemanfaatan ruang untuk aktivitas pertanian, maka ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh orang Bupolo yaitu dimulai dengan membuat:

-Hawa fehut atau fehur (kebun baru) yang terdiri dari tanaman: warahe (Arachis hypogaea), feten (Setaria itallica), dan hala (Oryza sativa).

-Hawa (kebun yang akan dipanen) : hawa hala, hawa magat, dan hawa kasbit.

-Hawa wasi (kebun yang belum selesai dipanen dan masih ada tanaman seperti pisang, nenas, dan ketela pohon).

-Wasi (kebun yang mau ditinggalkan), mereka menyebutnya pula wasa-wasi, ada tanaman seperti nakan (Arthocarpus integraifolia), nakan dengen (Arthocarpus champeden), waplane (Mangifera indica), hosi roit (Citrus nobilis), hosi hat (Citrus grandis), kopi (Coffea spp), warian (Durio zybethinus), biafolo (Arenga pinnata), pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Eugenia aromatica).

-Wasilalen (kebun yang ditinggalkan selama 8-9 tahun)

Orang Buru memiliki norma-norma adat untuk melindungi hutan primer yang mereka anggap sakral. Mereka melarang agresi pemegang HPH masuk ke hutan primer dengan cara membuat foron sbanat, yakni alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia.

 

e. Organisasi Waktu

Organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo disesuaikan menurut phenomena alam dari dua jenis pohon: Kautefu (Pisonia umbellifera) dan Emteda (Terminalia sp.) (Pattinama 2005). Untuk pohon yang pertama (kautefu), jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Pohon yang kedua (emteda) lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun.

Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) artinya tetap musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, disekeliling kebun ditebar tanaman hotong atau feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Mereka selalu saling bekerjasama dalam kegiatan menanam.

Efut ale adalah masa ketika daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar.  Artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari. Pada musim ini kegiatan menyiang hanya dilakukan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum lelaki mulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini hanya dilaksanakan pada masa Efut ale yang dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Akhir dari efut ale adalah masa panen yang dilaksanakan pula dengan upacara kematian nitu wasin. Selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore dimana hari hujan relatif besar. Pada masa ini diadakan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga morea itu seolah mabuk. Dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Menurut Keith Philippe (1999), sebenarnya morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi. Umumnya morea di Indonesia melakukan kegiatan reproduksi menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Kegiatan berikutnya orang Bupolo adalah berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat ini buah pohon meranti sangat banyak.  Buah ini merupakan sumber makanan bagi kedua hewan buruan tersebut. Lokasi berburu di hutan relatif jauh, yaitu di daerah gunung Kakupalatmada.

Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan.  Pada masa ini kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 3. Organisasi waktu menurut Geba Bupolo (Pattinama, 2005).

 

f. Berburu

Aktivitas ini dilakukan secara rutin dan merupakan pekerjaan yang hanya digeluti oleh kaum laki-laki. Orang Bupolo menggunakan istilah berburu adalah iko ephaga atau iko lodi. Berburu bagi orang Bupolo bukan sekedar hanya masuk areal hutan untuk menangkap atau membunuh binatang buruan. Tetapi bisa diintepretasikan sebagai kegiatan berperang melawan roh-roh jahat dalam hutan rimba yang lebat (hutan primer). Oleh sebab itu persiapan untuk kegiatan ini penuh dengan ritual yang sangat sakral (koin). Jadi ada upacara adat yang mendahului kegiatan berburu.

Saat pelaksanaan kegiatan berburu di hutan maka seorang pemburu tidak boleh semena-mena melakukan eksploitasi terhadap areal hutan yang dijadikan medan perburuan, misalnya menebang pohon dengan sembarangan atau merusak areal yang sudah ditetapkan secara adat sebagai wilayah yang terlarang untuk masuk dan melakukan aktivitas lain. Semua larangan itu diberi tanda atau dalam bahasa Bupolo mengatakan sebagai sihit.

Binatang yang dijadikan sasaran dalam kegiatan ini adalah babi, rusa dan kusu. Ketiga binatang buruan ini hanya bisa diperoleh pada saat meranti (Shorea spp) berbuah, karena buah dari pohon tersebut adalah makanan utama dari kettiga binatang tersebut. Buah meranti dalam bahasa Buru adalah kalodi.

 

g. Meramu Hutan

Kegiatan meramu hutan adalah kegiatan yang dilakukan secara bersamaan pada saat aktivitas berburu dilaksanakan. Meramu hutan dalam bahasa Buru adalah iko mualalen. Saat Orang Bupolo melakukan perburuan binatang di hutan primer maka kegiatan meramu damar (kisi) dan rotan (uwa) dilaksanakan secara bersamaan.

 

7. EPILOG

Orang Bupolo di pedalaman Pulau Buru merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Bupolo hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Barraud, Cécile and Friedberg, Claudine, 1996. Life-Giving Relationships in Bunaq and Kei Societies, in : Signe Howell (Ed.), For the Sake of Our Future (Sacrificing in Eastern Indonesia), Research School CNWS, Leiden, The Netherlands : 374-383.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.

Pattinama Marcus Jozef, 2014. Territorial Organization by Bupolo People in Buru Island. A New Horizon of Island Studies in the Asia Pacific Region, Kagoshima University Research Center. P.79-87.

 


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi Hasil Penelitian di Pulau Buru Kerjasama antara CIFOR Bogor dengan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, UNPATTI Ambon, Tanggal 21 November 2016 di Kota Namlea, Kabupaten Buru.

LIWIT LALEN, HAFAK LALEN, SNAFAT LAHIN BUTEMEN

pulau-buru

Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku

oleh

Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

I. PROLOG

Perkenankan saya pada kesempatan ini untuk menyampaikan sebuah pemikiran yang berangkat dari dasar konsep pikiran orang Bupolo dengan judul : Liwit Lalen, Hafak Lalen, Snafat Lahin Butemen : Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku. Judul ini saya pilih dengan alasan : (i) Mendukung tema besar dari Kongres Kebudayaan Maluku tahun 2016 di Pulau Buru ini yaitu Mengokohkan Identitas ke-Maluku-an dalam Perspektif Bupolo. Jadi kalimat di atas yang disajikan dalam Bahasa Buru dan sekaligus adalah judul dari artikel kami ini merupakan representasi pokok pikiran orang Bupolo yang sifatnya holistik, komprehensif dan sakral. Kalimat Liwit Lalen, Hafak Lalen. Snafat Lahin Butemen adalah juga pintu masuk untuk memahami manusia Buru yang menamakan dirinya Geba Bupolo secara totalitas dan coheren. (ii) Manusia tetap menjadi tema sentral dalam pembangunan, namun dibalik itu ada sosok manusia yang senantiasa dibungkus dengan “kepompong misterius” yang tidak mudah dipahami oleh manusia lain, artinya tema manusia merupakan masalah yang sangat sensitif, (iii) Diskusi tentang manusia dalam suatu pertemuan resmi ilmiah atau pertemuan informal seyogyanya dilakukan secara rutin seperti Kongres Kebudayaan Maluku 2016 dimana artikel ini ditulis pula untuk menjawab tujuan keempat yaitu identitas ke-Bupolo-an menjadi empowering dan pengokohan yang tidak terpisahkan dari identitas ke-Maluku-an.

 

II.   MAKNA FILSAFATI LIWIT LALEN HAFAK LALEN SNAFAT LAHIN BUTEMEN

Pernyataan liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen tidak dapat diterjemahkan utuh ke dalam Bahasa Indonesia karena akan memiliki ekspresi makna yang berbeda. Jadi terjemahan kata demi kata adalah : liwit lalen = keranjang tempat makanan yang terbuat dari kulit kayu meranti, Shorea sp, berbentuk silinder ukuran panjang satu meter dan diameter 50 cm. Hafak lalen= kain sarung yang dikenakan perempuan Buru. Snafat lahin = saringan air yang terbuat dari serat pelepah kelapa, istilah Melayu Ambon adalah runut kelapa. Sedangkan butemen = air pertama yang keluar. Dengan demikian secara harfiah artinya “keranjang laki-laki, sarung perempuan dan air pertama yang mengalir keluar”. Ini yang dimaksud dengan mengungkap konsep asli masyarakat berdasarkan bahasa mereka.

Pernyataan ini mengisahkan tentang kekeramatan yang ada di sentral Pulau Buru. Gunung Date disimbolkan dengan liwit lalen sekaligus representasi dari alat kelamin laki-laki (penis), Rana disimbolkan dengan sesuatu yang ada di dalam hafak lalen yaitu alat kelamin wanita (vagina). Pintu keluarnya air dari Rana (likusmolat) ke sungai Waenibe disimbolkan dengan snafat lahin sekaligus representasi dari selaput pada organ vagina. Air yang mengalir keluar dari danau menuju sungai Waenibe disebut butemen sekaligus representasi dari keluarnya cairan sexual ketika manusia bersetubuh untuk melanjutkan generasi. Secara totalitas pernyataan ini mengisahkan tentang penyatuan laki-laki dan perempuan yang sangat sacral yaitu kegiatan memproduksi/menghasilkan kehidupan. Terminologi butemen juga menunjuk pada pengambilan hasil pertama dari kegitan berkebun dan berburu.

Pernyataan itu tidak terbatas hanya mengisahkan kekeramatan di Rana lalen saja, namun pernyataan ini dapat menjelaskan bagaimana Orang Bupolo mengelola sumberdaya tanaman yang ada di sekitarnya seperti mengolah sagu, membuat kebun baru dan melakukan kegiatan berburu di hutan.

Kegiatan mengolah sagu, mulai dari menebang pohon, saat batang sagu rebah di atas tanah adalah eskohot mhana (laki-laki). Disini perempuan bisa berpartisipasi membersihkannya, namun ketika batang pohon sagu dibelah menjadi dua bagian disebut eskohot fina (perempuan), maka perempuan Bupolo dilarang (koin) mendekatinya. Dalam konsep pikir orang Bupolo saat laki-laki menokok empulur sagu disitu layaknya aktivitas persetubuhan hingga disaring dalam wadah yang diibaratkan seperti Rana. Pada waktu air bercampur pati sagu keluar melalui saringan itulah yang disebut butemen, seterusnya ditampung dalam goti yang diibaratkan seperti sungai Waenibe yang mengalirkan air dari Rana menuju laut.

Pohon sagu atau bialahin (Metroxylon sp) dalam pertumbuhan di alam juga merepresentasikan hubungan kekerabatan dalam noro yang disebut bialahin. Dalam satu bialahin biasanya mereka bermukim pada petuanannya dengan jumlah rumah hanya tiga sampai lima mengikuti rumpun sagu. (Perhatikan Gambar 1).

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan (pemimpin bialahin). Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung di antara mereka.

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah, penampilannya bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya,. dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa pati sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

rumpun-sagu

(Sumber : Louhenapessy 1992)

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu menurut kekerabatan bialahin. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

III.  LINGKUNGAN ALAM DI PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

 

PULAU-BURU-RANA-DATE

Sumber: Pattinama (2005)

Gambar 2. Pulau Buru dengan Rana dan Gunung Date

 

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

IV.    GEBA BUPOLO

Bupolo adalah nama awal (asli) pulau Buru, disebut pula Bupolo Waekolo. Waekolo adalah nama kelompok kekerabatan (noro atau soa) yang menyatakan diri sebagai penunggu atau Geba eptugu (geba=orang, eptugu=penunggu) di pusat pulau. Nama lain pusat pulau adalah Rana lalen, dimana dijumpai Rana dan Gunung Date. Kita mengenal Rana adalah nama Danau di Pulau Buru dan biasa ditulis Danau Rana, padahal dalam bahasa Buru kata rana artinya telaga atau danau. Oleh sebab itu Orang Bupolo hanya menyebut Rana saja atau Rana Waekollo. Rana lalen adalah milik seluruh orang Bupolo (Gambar 2). Luas Rana diperkirakan 75 Km² dan lebih besar dari Teluk Ambon serta terletak pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut.(Pattinama,2005).

Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Masing-masing soa/noro mempunyai dua sisi yaitu noro dan leit. Noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan leit dipakai dalam pergaulan ekternal. Contoh: noro Waekolo :: leit Waemese, noro Gebahain :: leit Seleki, noro Nalbesi :: leit Tomhisa, dan noro Mual :: leit Solisa. Di Rana lalen adalah pamali (koin) jika kita menyebut leit, karena itu identitas kepada orang di luar kelompok Bupolo.

Kesatuan hidup tingkat kedua di dalam noro adalah bialahin. Tercatat setiap noro/soa di Pulau Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu.

Data penduduk Pulau Buru menurut BPS Maluku tahun 2015 menunjukkan jumlah sebesar 187.199 jiwa dengan penyebaran di Kabupaten Buru 127.910 jiwa (68%) dan di Kabupaten Buru Selatan 59.289 jiwa (32%). Dari jumlah itu dijumpai hanya sekitar 15% adalah populasi masyarakat asli (autokton)

Penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang atau alokton (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 3).

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 3. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut pendapat Geba Bupolo

 

Gambar 3 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton.

V.  ETNOEKOLOGI BUPOLO DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN MALUKU

Mengungkapkan konsep berpikir Orang Bupolo tentang alam dan lingkungannya merupakan tugas saya selaku seorang peneliti Etnobotani  dengan memegang teguh prinsip dasar metodologi riset apalagi konsep tersebut diungkapkan secara lisan (konsep bertutur) dan ini merupakan pengalaman abadi yang tak ternilai. Tanpa disadari selama menjalani hidup sesehari di Rana lalen sebagaimana layaknya Orang Bupolo saya belajar banyak dari mereka. Untuk itu apa yang dipaparkan pada bagian ini adalah konsep murni yang bisa disumbangkan dalam pembangunan Maluku walaupun materinya hanya pada wilayah Pulau Buru.

 

V.1. Bupolo dalam Pengembangan Pendidikan

Bagaimana sumbangan yang bisa diberikan dari kekayaan konsep berpikir Orang Bupolo ini kepada sektor pendidikan ?

Menurut hemat kami bahwa akar permasalahan sistem pendidikan di negeri kita ini adalah karena sekolah dan universitas telah dipisahkan dari soal-soal kehidupan nyata sehari-hari yang sementara berkembang dalam masyarakat. Para murid dan mahasiswa kita telah kehilangan spirit kepekaan dan hal yang terjadi sebagai akibatnya, maka murid dan mahasiswa kita akan sangat sulit menangkap spirit keilmuan.

Pengalaman saya di Pulau Buru saat melakukan inventarisasi tanaman di hutan yang dimanfaatkan oleh Orang Bupolo dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak Bupolo baik yang belia maupun orang dewasa, dengan cekatan tahu nama-nama tumbuhan atau tanaman walaupun yang diungkapkan itu dalam bahasa lokal (vernaculaire). Mereka mendapat pengetahuan ini dari orangtua mereka saat kegiatan meramu hutan atau berburu. Ini harus diwariskan agar mereka tahu mana yang bisa dikonsumsi dan mana yang beracun. Inventarisasi tanaman selama riset di lapangan diperoleh bahwa orang Bupolo mengenal 94 jenis tanaman yang dibudidayakan dan 473 tanaman yang tumbuh secara liar namun bermanfaat dalam kehidupan mereka.

Jika ini saya bandingkan dengan mahasiswa yang setiap semester saya didik dan bina secara akademik pada jenjang pendidikan formal saat ini, mereka tidak peduli dengan tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Ini saya sebut sebagai buta literasi. Ada kecenderungan bahwa yang diajarkan ini nantinya tidak digunakan pada saat terjun ke masyarakat. Saya tidak dapat menyimpulkan itu karena belum ada penelitian yang dilakukan oleh saya untuk mendukung kesimpulan dimaksud.

Dalam hubungan dengan kemampuan literasi ini dapat saya kemukakan contoh seperti yang dialami oleh TNI (=ABRI) tahun 1973 saat mengejar 30 orang Tapol yang melarikan diri dari tahanan di Waeyapo dan mereka menghilang di hutan. Anggota TNI tidak mampu dan akhirnya operasi ini dibatalkan. Panglima Kodam XV Pattimura ketika itu Brigjend. Haroen Soewardi akhirnya datang menjumpai para kepala adat yang bermukim di pegunungan untuk meminta bantuan mencari mereka yang melarikan diri. Perintah yang diberikan saat itu tangkap hidup atau mati. Orang Bupolo dengan mudah bisa menemukan mereka hanya dengan mengandalkan pengetahuan lokal yaitu mereka menyusuri tapak jalan dan mengetahui jejak para pelarian dan dari melihat cara memotong pohon yang berbeda dengan cara orang Bupolo. Dengan bekal itu akhirnya Orang Bupolo sukses menemukan kembali para tapol yang masih hidup. Menurut cerita para Tapol banyak yang mati di hutan karena salah memakan tanaman yang ada, mereka mengkonsumsi tanaman yang beracun.

 

V.2. Bupolo dalam Pengembangan Ekonomi

Orang Bupolo akan mencapai siklus hidup yang sempurna apabila semua fase dalam kehidupan dikerjakan secara utuh. mulai dari kelahiran sampai kematian. Semua fase itu diikuti dengan upacara ritual dan untuk melaksanakannya dibutuhkan dukungan sumberdaya finansial. Dalam adat orang Bupolo jika itu dilakukan oleh suatu noro misalnya noro Gebahain, maka semua anggota noro yang hidup baik di Buru maupun Buru Selatan akan diberi tanggung jawab untuk menanggung apacara ritual tersebut secara bersama-sama. Menurut catatan kami bahwa keputusan itu sudah dirancangkan sejauh mungkin sehingga ada ruang untuk semua orang Bupolo bekerja. Ada yang bekerja meramu di hutan (rotan, uwa dan damar, kisi), menyuling minyak kayu putih (gelan), membuka kebun baru untuk menanam kacang tanah (warahe) dan pergi berburu di hutan (iko phaga).

Hasil dari aktivitas di atas ada yang disumbangkan secara natura dan ada pula yang diberikan dalam bentuk uang setelah hasilnya dijual di pasar. Jadi orang Bupolo mengerjakan sesuatu dalam perencanaan yang matang sehingga semua aktivitas dijalankan secara simultan.

Ilmu ekonomi dan pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini adalah tidak mampu menangkap sinyal bioregional dan biogeografi, karena hanya berada pada lingkaran jaring laba-laba antara demand dan supply dan pemikiran ekonomi tidak mampu keluar dari pemikiran abstraknya tentang pendapatan asli daerah, pendapatan nasional, dan laju pertumbuhan. Mungkin saja pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini oleh para pakarnya di negara-negara maju tidak cocok diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Namun demikian karakter ekonom yang ada saat ini seolah-olah negara ini sudah masuk dalam kategori negara maju dimana mobilisasi tenaga kerja diatur dalam rel ban berjalan. Bagaimana ilmu ekonomi bisa menangkap aktivitas ekonomi orang Bupolo yang nyata? Saya usulkan kepada para pakar ekonomi mencoba mengembangkan cabang ethnosciences untuk bidang ekonomi yaitu ethnoekonomi.

 

V.3. Bupolo dalam Pengembangan Pertanian

Dalam konsep masyarakat Buru tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Di Pulau Buru dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen) ; kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen) ; kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, meliputi Gunung Date (kaku Date), Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan (koin lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Pemimpin bialahin disebut Gebakuasan (atau juga disebut basafena) yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Orang Buru dalam menghadapi agresi pemegang HPH dalam ruang yang telah mereka atur dengan norma adat, hanya bisa membuat alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia. Alat ini disebut foron sbanat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Gambar 4). Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) masih tetap menandai musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara ritual dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, di sekeliling kebun ditebar tanaman hotong/feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Saat yang sama banyak tenaga kerja yang datang di suatu pemukiman dan mereka saling bantu membantu dalam kegiatan menanam. Efut ale (daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar) artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari : kegiatan menyiangi yang hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pada musim ini pula kaum laki-laki memulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Saat panen yaitu akhir dari efut ale dilaksanakan pula upacara kematian nitu wasin. Fase selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore hari hujan relatif besar : upacara meta di Rana dimana keluarnya morea (sidat) dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut Keith Philippe, cs (1999) bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Kepulauan Fiji di Pasifik Selatan. Setelah melakukan reproduksi maka induknya akan mati di Kepulauan Fiji dan larvanya akan menempuh perjalanan kembali ke Rana. Waktu yang dibutuhkan untuk kembali lagi ke Rana yaitu selama dua sampai tiga tahun. Menurut teori bahwa morea sebagaimana jenis ikan lainnya (= salmon) selalu menempuh perjalanan kembali ke habitat asalnya dengan cara melawan arus di laut dan di sungai. Jika morea tidak keluar dari Rana untuk pergi reproduksi dan tetap menetap di Rana maka usia hidupnya sampai 40 tahun setelah itu akan mati (Pattinama, 2005).

Kegiatan berikutnya orang Bupolo melakukan kegiatan berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat yang sama buah pohon meranti sangat banyak karena buah tersebut menjadi konsumsi bagi kedua hewan buruan di hutan yang letaknya relatif jauh yaitu di daerah gunung Kakupalatmada. Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan : kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang. Yang dimaksud dengan perang adalah melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

 

 ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 4. Organisasi waktu berkaitan dengan aktivitas Geba Bupolo

            Bagaimana semangat Orang Bupolo ini bisa memberi penguatan dalam pembangunan pertanian di Maluku? Pertanian yang dibangun pada aras regional di Indonesia pada umumnya tak bisa memisahkan diri dari politik pertanian nasional. Sepuluh tahun reformasi telah dilalui namun karakter kita masih belum berubah, karena reformasi tidak disertai dengan infrastruktur dan suprastruktur hukum yang kuat. Mau melakukan revitalisasi pertanian tapi fondasi tata birokrasi dan finansial tidak mengalami perubahan. Padahal awal reformasi berjalan kita cenderung menyalahkan rezim Orde Baru yang diduga melemahkan sistem keunikan bioregional. Pada waktu kini saat kita diberi otonomi mengatur diri kita dalam pembangunan pertanian nampaknya kita juga belum mendapat format yang sesuai. Kesibukan yang demikian ini tidak mempengaruhi Orang Bupolo untuk tetap menjalankan aktivitas produksi dengan jadwal yang sudah tersusun untuk satu tahun berjalan, karena apa yang dikerjakan ini adalah siklus ritual, sementara yang dikerjakan oleh aparat pemerintah adalah “siklus” proyek. Dengan demikian dalam pemahaman saya bahwa kedua kutub ini tidak akan pernah ketemu. Untuk menunjukkan rasa hormat kepada pemerintah maka Orang Bupolo seolah-olah patuh tetapi sebenarnya tidak mempraktekkan apa yang direkomendasikan dalam program “siklus” proyek.

 

VI.  EPILOG :

Ungkapan Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen yang dikemukakan dalam Kongres Kebudayaan Maluku 2016 di Bupolo pada kesempatan ini adalah suatu energi budaya dalam membangun dan memberdayakan masyarakat untuk bisa berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa di Maluku. Energi budaya Geba Bupolo ini pula akan memberdayakan masyarakat untuk membangun jati diri sebagai manusia yang utuh.

Orang Bupolo sebagai petani tradisional telah melakukan sendiri fungsi produksi (agronomi dan agroindustri) serta fungsi pemasaran (agroniaga). Mereka menguasai teknologi sederhana, salah satunya adalah teknologi menyuling daun kayu putih. Diharapkan semua ketrampilan yang dikuasai oleh Orang Bupolo seyogyanya dipahami pelaku ekonomi modern, dengan cara memberikan sedikit sentuhan inovasi teknologi baru tanpa mempengaruhi pengetahuan lokal yang sebelumnya telah mereka kuasai. Komponen agronomi, agroindustri dan agroniaga adalah komponen bebas, namun di dalam pertanian modern sudah dilakukan institusi khusus, seperti Perkenunan Negara, Industri BUMN dan Pasar Modal, yang keseluruhan dikendalikan oleh negara, sehingga pengelolaan telah ditata secara rapi. Dalam proses yang modern ini, maka perubahan di salah satu komponen akan memberi dampak kepada komponen yang lain. Demikianlah secara teoritis bahwa seluruh mata rantai itu disebut agribisnis. Disisi yang lain dan semestinya diakui bahwa pengetahuan lokal menguasai lingkungan alam yang dipraktekkan oleh Orang Bupolo dimana mereka telah berpartisipasi membangun dengan kokoh pilar pembangunan pertanian yang juga berwawasan agribisnis walaupun dalam skala yang sederhana.

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160 p/.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

 

Presentase Makalah pada Kongres Kebudayaan Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Buru. Namlea Tanggal 5-7 November 2016

BURU DALAM KONTEKS IDENTITAS KE-MALUKU-AN (PERSPEKTIF PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM)

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Oleh:

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

Email : mjpattinama@gmail.com

Blog : maxmjpattinama.unpatti.org

 

BURAT[2]

Pulau Buru dalam era modern ini masih mengisahkan cerita kelam tentang Orang Bupolo yang masih hidup terisolir di wilayah pegunungan dan Pulau Buru yang pernah menjadi tempat penampungan Tahanan Politik G30S PKI pada tahun 1969 sampai dengan tahun 1979. Dalam Temu Buudaya yang digagas oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku ini tema Orang Bupolo ingin ditampilkan dalam gaya penulisan mengelola sumberdaya alam dan dunia Orang Bupolo. Cara pandang alam akan memberikan informasi yang menarik untuk disimak dalam bingkai identitas orang Maluku. Kenyataan membuktikan bahwa ada proses perlambatan dalam membangun wilayah ini dan manusianya. Hal ini mungkin disebabkan karena kita belum mampu menangkap dan mencium wilayah Pulau Buru dan Maluku dengan baik. Maluku memang dikenal sebagai “Indonesia Mini”. Lalu apa yang harus dilakukan ? Jawabannya adalah hanya orang Buru dan orang Maluku sendiri yang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya. Semua wilayah administratif pemerintahan di Maluku telah dikuasai dan dipimpin oleh orang Maluku. Jadi kalau ada istilah perlambatan dalam membangun Maluku, kemudian ada kesulitan mengenal dan memahami identitas ke-Maluku-annya, maka yang harus disalahkan adalah orang Maluku itu sendiri.

 

PROLOG : IDENTITAS KE-MALUKU-AN

Harus diakui bahwa wilayah Maluku sebagai suatu provinsi memang sangat luas (perbandingan lautan dan daratan  adalah 13 :1) dan selanjutnya tidak dapat dibayangkan pula secara logika bahwa seluruh untaian pulau besar dan kecil semuanya dapat dipersatukan sebagai suatu wilayah administrasi. Maluku disebut juga sebagai « Indonesia Mini ». Dari sisi pandang biogeografis ini maka Maluku bisa disebut sebagai provinsi kepulauan dengan sentrum pemerintahan di Pulau Ambon dan tepatnya pada Kota Ambon.

Pada sisi pandang eco-etnografi, maka akan semakin kompleks lagi yaitu mempersatukan seluruh adat, budaya dan bahasa dalam suatu untaian perekat yakni budaya Maluku. Pada saat diskursus budaya orang Maluku, maka di dalamnya ada orang Lease, orang Buru, orang Banda, orang Seram, orang Kei, orang Dobo dan orang Tenggara Jauh. Kesemua orang Maluku yang disebut ini memiliki identitas sebagai orang pulau.

Sisi pandang socio-economica sangatlah tidak efisien mengelola provinsi yang maha luas ini. Yang dirasakan adalah perkembangan kemajuan masyarakat relatif sangat lambat apalagi diikuti dengan rendahnya perkembangan penguasaan teknologi oleh masyarakat akibat perkembangan kemajuan pendidikan yang tidak merata. Pada tahun 1980-an ketika Prof. Habibie sebagai Menristek pernah mengatakan bahwa “kita jual saja Kepulauan Kei kepada Jerman agar ada percepatan kemajuan”. Pernyataan ini kalau dianalisis maka beliau ada dalam kegumaman dan kegemasan tentang penguasaan teknologi yang rendah ketika itu. Masyarakat memang bukan mesin yang dapat digerakkan dengan mudah dan kekompleksan manusia itulah yang menjadi semakin menarik untuk dipahami. Jadi pergerakan manusia tidak dapat diintepretasi dalam skala untung atau rugi. Ada sesuatu alasan yang sulit diungkapkan, sehingga para etnolog sering katakan itu adalah bagian dari rasionalitas yang tersembunyi (hidden rationality). Nilai identitas diri memang sangat sulit diintepretasi secara rasional. Itulah hakekat kemanusiaan yang nilainya sangat tinggi.

Apabila tinjauannya pada sisi eco-policy, maka Maluku tak dapat dipisahkan dari kebijakan politik nasional dan global. Isu tentang konsep keutuhan wilayah merupakan dimensi pertahanan keamanan. Makna identitas sering dihubungkan dengan isu dimaksud karena berkohesi dengan apresiasi diri demi menjunjung tinggi jati diri dan ciri-ciri seseorang atau masyarakat. Apabila dimensi pertahanan keamanan terusik itu sama halnya dengan terusiknya identitas. Mengupas tema identitas, kami lebih condong menempelkannya dengan terminologi orang (man) dan masyarakat (society). Mengapa ? Orang mewakili individu dan masyarakat mewakili kelompok orang. Kami memang sengaja menghindar menggunakan terminologi suku, etnis dan pribumi atau non pribumi. Terminologi itu lebih banyak digunakan pada era kolonial dimana masyarakat belum berkembang dan masih hidup dalam sekat-sekat superior dan inferior.

Orang Maluku yang tinggal di Pulau Enu, Pulau Kisar dan Pulau Leti Moa Lakor (Lemola), yang kesemuanya adalah pulau kecil 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) di Maluku, mungkin saja sangat jauh dari konsep perubahan bernegara yang sementara terjadi di sentrum pemerintahan di Pulau Jawa, tetapi mereka tetap tahu dan sangat setia sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air satu dan berbahasa satu.

Cerita lama dan elok tentang kepulauan Maluku (Mollucas Archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices): bunga cengkeh dan buah pala, serta awal sejarah kolonisasi oleh orang Eropa di Nusantara. Pesona rempah sangat luar biasa ditulis oleh  Jack Turner, 2011 (Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme). Kemudian tulisan lainnya yang menarik berjudul Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan (Penulis : Giles Milton, 2015). Ini adalah bukti sejarah bahwa orang Maluku sudah menapaki dunia modialisasi ekonomi dan globalisasi peradaban.

Cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia. Cerita dan pengalaman globalisasi dan mondialisasi telah dialami oleh orang pulau di Maluku sejak zaman dahulu. Daya tarik-menarik itu hanya bersimpul pada satu persoalan klasik saja yaitu eksploitasi sumberdaya alam yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi.

Pada cerita lama dimana zaman itu eksotik rempah-rempah bagaikan sumberdaya minyak bumi dan emas di masa kini. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat mempengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku. Keunikan ini bisa dilihat dari kondisi geografis Maluku yang banyak didominasi pulau-pulau kecil.

Membangun Maluku dengan identitas pulau kecil seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Jika selama ini kita melihat Maluku dari pulau-pulau dengan bentangan laut di sekitarnya maka ke depan lebih arif jika sudut pandang itu diubah yaitu melihat lautan yang bertatakan pulau-pulau. Dengan cara pandang demikian, laut dan darat akan menjadi satu kesatuan yang disebut konsep laut-pulau dimana dalam merumuskan konsep pembangunan di Maluku seyogyanya mengandung makna filosofi bahwa segala aktivitas di darat sekaligus untuk memuliakan lautan.

Secara antropologi-sosiologi, orang pulau adalah bukan orang yang terisolir. Mereka senantiasa terbuka (welcome) menerima para tamu. Jika ada kapal atau perahu yang singgah di suatu pulau, maka secara spontan mereka akan menyambutnya dengan gembira bahkan semua penduduk akan berlari menuju tepi pantai untuk melihat siapakah gerangan tamu yang datang itu? Kontak sosial mereka dengan orang luar terjadi tanpa batas.

Orang Maluku senang mengungkapkan pokok pikirannya dalam lirik lagu dan mari kita telaah ide tentang Maluku dari lagu yang berjudul Maluku Tanah Pusaka.

 

Maluku Tanah Pusaka

Sio… Maluku tampa beta putus pusa e

Paser putih alus e

Gunung deng tanjong

Beta seng lupa e

Ina ama lama lawang seng baku dapa e

Sio… biar jauh bagini e

Tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera

Sampe Tenggara Jauh

Katong samua basudara

Nusa Ina …sio …..

Katong samua dari sana

Biar jauh bagini e

Beta seng bisa lupa

Maluku tanah pusaka

Satu nama satu gandong

sio… satu suku

Maluku manis e, ..

 

Lagu ini memaparkan ide tentang Maluku dan manusianya dan menurut interpretasi penulis inilah identitas ke-Maluku-an yang hakiki. Syair ini adalah nasihat yang ditujukan untuk anak Maluku yang telah merantau ke luar Maluku atau anak Maluku yang ada di Maluku tapi belum paham betul tentang Maluku. Orang Maluku mempresentasikan wilayahnya yang indah dan elok dengan “paser putih alus”. Dalam pikiran orang Maluku hanya mengenal dua ruang yaitu gunung dan pantai yang sering disebut « kadara dan kalao ». Kata Ina Ama bukan saja rasa hormat pada kedua orangtua tetapi juga ada ungkapan rasa puja dan puji kepada para leluhur.

Yang disebut orang Maluku itu dalam kawasan Kepulauan Maluku. Jadi tidak ada beda antara orang di utara dan orang di selatan. Konsep itu tidak ada dalam pikiran orang Maluku sehingga secara administratif pemerintahan boleh terbelah tapi pikirannya satu sebagai Tanah Raja-Raja. Maluku saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan Raja Ampat Moloko Kieraha (Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan). Bagaikan air yang mengalir dari “dara” ka “kalao” maka semua dipertemukan di Nusa Ina (Pulau Seram) sebagai pulau terbesar dalam struktur Kepulauan Maluku. Untuk itu semua memang berasal dari Nusa Ina (Seram).

Kata “manise” dari dulu hanya ditempelkan dalam ungkapan yang dialamatkan kepada Pulau Ambon menjadi Ambon Manise, mengapa ? Ini ada kaitannya dengan “paser putih alus e”. Everhardus Georgius Rumphius tahun 1741 dalam bukunya Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense) melaporkan bahwa struktur vegetasi tanaman terlengkap di dunia ada di Pulau Ambon. Dan memang pada zamannya itu pulau Ambon dibungkus dengan vegetasi tanaman yang sangat indah. Bagi seorang ilmuwan botani Eropa yang berkebangsaan Jerman dan bekerja untuk kolonial Belanda, maka vegetasi hutan tropis demikian bagaikan sebuah surga sehingga ungkapan Ambon Manise berulang-ulang dituturkan. Rumphius memang sangat menikmati hidup yang panjang di Pulau Ambon hingga dia harus kehilangan anggota keluarganya (istri dan anaknya) pada tsunami dahsyat di Pulau Ambon di medio abad ke-18. Jadi kata Maluku Manise hanya transformasi dari kata Ambon Manise.

Pertanyaan yang bisa diajukan adalah katalisator apakah yang menyatukan seluruh pulau, baik besar maupun kecil bahkan yang telah eksis memiliki nama dan yang anonim, menjadi suatu kesatuan yang utuh ?

Pemahaman yang komprehensif tentang pulau-pulau kecil terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang ada di Maluku dengan segala komponen di dalamnya merupakan suatu cara untuk bisa memahami makna keutuhan wilayah di samping pemahaman tentang etno-antropologi dari setiap wilayah di Maluku. Beranda depan pulau-pulau kecil itu adalah suatu tempat dimana lalu lintas manusia lalu-lalang dengan segala peristiwa pertukaran budaya yang berlangsung.

 

IDENTITAS SEBAGAI ORANG BUPOLO DI PULAU BURU

Orang Bupolo adalah masyarakat asli Pulau Buru yang tinggal terisolir di daerah pegunungan. Mereka juga tidak tahu bahwa siapa itu Gubernur Maluku atau Presiden RI, tetapi mereka tahu bahwa ini bumi Maluku dan Indonesia, dimana cerita itu diperolehnya dari orang Buton dan Bugis saat mereka melakukan transaksi dagang dengan pedagang antar pulau yang secara reguler datang di Pulau Buru. Kisah masyarakat yang hidup terisolir di Maluku yang menempati habitat gunung atau pulau kecil masih banyak yang belum terungkap. Jika arah pembangunan yang dimulai dari wilayah pinggiran maka selain wilayah 3T sebagaimana disebutkan di atas maka keterisolasian penduduk pada wilayah pegunungan juga seyogyanya menjadi perhatian untuk didiskusikan pemecahannya.

Harus diakui bahwa Pulau Buru menyimpan kisah kelam yang sangat tidak manusiawi yang dialami para tahanan politik (tapol) sejak penempatan mereka yang pertama di tahun 1969. Kawasan penahanan mereka untuk pertama kali disebut Tefaat (=Tempat Pemanfaatan). Sesuai namanya Tefaat, maka para tapol sangat menderita karena benar-benar dimanfaatkan untuk pekerjaan membuka lahan pertanian menjadi sawah dan juga membabat hutan kayu untuk perdagangan kayu gelondongan.

Beberapa tahun kemudian cara Indonesia dalam menangani para Tapol mendapat protes dan kritik dari masyarakat internasional, akhirnya Tefaat dirubah nama menjadi Inrehab (=Instalasi Rehabilitasi). Namun praktek penanganan dan pembinaan kepada para Tapol tetap tidak berubah karena militer senantiasa memakai pendekatan kekerasan. Untuk itu masyarakat internasional lebih mengenal Pulau Buru sebagai « le goulag des mers du sud (bahasa Perancis) » yang berarti: Goulag[3] di Laut Selatan.

Berbicara tentang identitas orang Bupolo maka kami ingin memperkenalkan bagaimana cara pandang mereka tentang masyarakat lain yang hidup secara bersama-sama di Pulau Buru ini. Cara pandang itu dapat dilihat pada penjelasan skema manusia dalam gambar berikut ini.

 

GEBA-BURU

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo (masyarakat autokton) membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

Hadirnya para tahanan politik G30S/PKI dimana Pemerintah Orde Baru saat itu memanfaatkan dataran Waeyapo di sebelah utara timur Pulau Buru untuk dijadikan kamp konsentrasi tahanan politik. Tahun 1980 kawasan ini ditetapkan sebagai daerah pemukiman program transmigrasi nasional yang diperuntukkan untuk dua kelompok yaitu kelompok pertama kepada para tapol G30S/PKI yang dinyatakan bebas dan tidak kembali ke Pulau Jawa, sedangkan kelompok kedua adalah transmigran dari masyarakat Pulau Jawa termasuk di dalamnya para pensiunan militer. Yang terakhir disebut dimaksudkan untuk pembinaan teritorial kepada mantan tahanan politik. Jadi status bebas telah disandang oleh para tapol namun dalam kesehariannya tetap dikontrol oleh pensiunan militer. Di era reformasi ini sekat-sekat kecurigaan telah lenyap secara perlahan-lahan dengan berubahnya waktu dan cara pandang geopolitik.

 

DUNIA ORANG BUPOLO

Kuatnya ikatan orang Bupolo dengan ruang kosmologi adalah adanya cerita mitos yang sekaligus pula menjadi perekat diantara mereka, misalnya gunung dan air adalah dua kekuatan yang memberikan banyak inspirasi hidup bagi orang Bupolo untuk tetap bertahan pada wilayah pegunungan yang sangat terisolir. Oleh sebab itu dalam keseharian Gunung Date adalah tempat berdiam para leluhur. Dengan demikian Gunung Date tetap harus dijaga dengan tatanan adat yang kuat dari pengaruh orang luar, misalnya dilarang membawa orang luar mengunjungi dan melintasi Gunung Date. Mereka konsisten mempertahankan daerah itu dengan melarang hadirnya perusahaan yang eksploitasi hutan dengan izin HPH.

Orang Bupolo masih sangat yakin pula bahwa hingga saat ini leluhur mereka yang dipresentasekan dengan seekor morea besar (= eel, anguille, Anguilla marmorata) itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana seluas 75 Km² tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat.

Rana lalen artinya daerah diseputar Danau Rana dan Gunung Date yang terletak di tengah pulau. Orang Bupolo mengibaratkan daerah seputar Danau Rana dan Gunung Date sebagai surga yang perlu dipelihara kelestariannya. Konsep konservasi sumberdaya alam telah mereka kuasai dan melakukannya demi kebesaran leluhur (Opo Lastala) yang selalu mengontrol mereka dari singgasananya di Gunung Date.

Orang Bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan sebenarnya mereka juga sangat curiga dengan orang Bupolo sendiri yang sudah mengenal peradaban baru (agama). Diseputar Rana lalen, hanya ada dua kampung (Waereman dan Waegrahi) yang tetap hidup dengan mempraktekkan ritual adat. Sisanya yaitu sebanyak lima kampung telah menerima agama protestan (Aerdapa, Kakutuan, Warujawa, Wamanboli, dan Waemiting).

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo.

Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 2 berikut ini.

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 2. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan Manusia

 

Jika diperhatikan Gambar 2 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

 

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

Orang Bupolo memiliki nilai dan norma-norma untuk melindungi lautan, air, danau, gunung, tanaman tahunan (sagu dan minyak kayu putih serta pohon lainnya) dan tanman pangan. Hutan primer merupakan tempat tinggal roh nenek moyang memelihara kelangsungan manusia dan alam. Oleh karena itu, orang Bupolo malarang pengusaha kayu yang memiliki hak pengusahaan hutan (HPH) untuk beroperasi di hutan primer.   Wilayah utara Pulau Buru didominasi iklim yang kering dengan sedikit curah hujan. Di daerah ini komoditas kayu putih, gelan, (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) sangat dominan penyebarannya bersama-sama dengan alang-alang, mehet, (Imperata sp) sampai pada altitude 500 meter. Pada altitude yang lebih tinggi akan ditemui hutan tropis basah. Sedangkan wilayah selatan pada altitude 0 – 100 banyak diselimuti oleh daerah batuan dan karang. Variasi biodiversitas akan terlihat pada altitude lebih dari 100 meter hingga altitude yang lebih tinggi.

Di daerah selatan hutan tropis basah sangat dominan dengan tegakan pohon Shorea (biahut) dan Agathis (kisi) yang sangat rapat. Dengan demikian jika kita berada di daerah pesisir pantai utara maupun selatan seolah-olah ada kesan bahwa pulau ini sangat gersang padahal di dalamnya ada terdapat hutan dengan biodiversitas yang tinggi dan diikuti dengan jenis fauna yang sangat unik dan ada beberapa fauna yang sifatnya sangat khas. Seperti misalnya terdapat babi rusa. Akhir-akhir ini tingkat eksploitasi hutan yang tinggi oleh para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) sangat mempengaruhi keseimbangan lingkungan.

Hutan primer adalah tempat orang Bupolo meramu damar dan berburu binatang hutan seperti babi (fafu), babi rusa (fafu boti), rusa (mjangan), dan kusu (blafen, Phalanger dendrolagus). Untuk berburu harus menunggu musim buah dari pohon meranti (biahut, Shorea sp), karena buah dari pohon tersebut akan menjadi makanan bagi binatang hutan tersebut.

Pada kawasan hutan sekunder mereka lebih banyak melakukan kegiatan pertanian. yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua, akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun dengan melihat gejala perubahan pada daun.

Setelah menanam kacang tanah pada kebun baru, orang Bupolo melakukan kegiatan mengolah minyak kayu putih atau mereka sebut pula urut daun, yang banyak dilakukan di daerah sebelah utara Pulau Buru, karena disini banyak dijumpai formasi pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae) yang tercatat sebagai tanaman asli Pulau Buru.

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Umumnya tidak ada masalah gender dalam hubungan laki-laki dan perempuan Bupolo. Perempuan juga mempunyai peranan yang besar dalam setiap keputusan keluarga maupun peranannya dalam upacara ritual atau adat. Orang Bupolo menempatkan perempuan dalam posisi sesuai kodrat mereka.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

Keturunan adalah tujuan utama berkumpulnya laki-laki dan perempuan. Jika keturunan tidak diperoleh dari kelompok kecil tadi maka perempuan harus rela pasangan laki-laki mengambil perempuan yang lain dan tinggal serumah dengannya. Untuk itu dalam suatu rumah bisa kita jumpai seorang laki-laki hidup dengan lebih dari satu perempuan. Catatan kami memperlihatkan bahwa seorang laki-laki bisa hidup serumah dengan minimum dua perempuan dan maksimum empat perempuan. Sedangkan rata-rata jumlah anak dari suatu perkawinan adalah empat.

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana (Gambar 3).

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Gambar 3.  Konstruksi rumah orang Bupolo (Foto: Pattinama, 2005)

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

Tanaman sagu adalah merupakan kemurahan Sang Pencipta yang diberi kesempatan hanya tumbuh sebagai tanaman asli di Maluku dan Papua, namun dari yang mengkonsumsinya hanyalah orang Bupolo yang mampu memaknainya dalam kesatuan hidup mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 4. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Untuk jelasnya mari kita lihat Gambar 4 (Louhenapessy, 1992), dimana interpretasi etnobotani bisa dijelaskan sesuai tradisi yang dipraktekan oleh orang Bupolo.   Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah (fase pohon sagu dipanen), penampilan bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya. Dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak. Hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul. Ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Ciri khas yang akan ditonjolkan adalah bertubuh tegar, berkulit hitam, dada dibelah putih bersih indikator suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa tepung sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan sama sekali tidak berarti.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

Dalam kesederhanaan berpikir orang Bupolo jika seorang Gebakuasan sudah tua dan tidak mampu lagi berjalan maka sebagian energi kekuasaannya telah dilimpahkan kepada yang akan menggantikannya secara perlahan-lahan dan pada saat dia meninggal maka penggantinya sudah mampu melanjutkan peranannya untuk memimpin kelompok bialahin tersebut. Orang Bupolo juga sudah mengerti suatu proses suksesi kekuasaan yang tenang, berlanjut dan tidak saling membunuh. Sebab jika pohon itu ditebang pun harus punya perhitungan yang sangat matang. Ketika ditebang tidak jatuh menimpa pohon yang lain sehingga kelanjutan generasi itupun tidak akan terputus. Untuk itu mereka cenderung memilih suatu proses yang alami dengan suatu kaderisasi yang telah diatur menurut kebiasaan hidup mereka.

Landasan berpikir yang bersandar pada tanaman sagu ini kalau dimiliki oleh semua orang di kepulauan Maluku dan Papua apalagi yang telah dinobatkan sebagai pemimpin seperti pohon (1), seharusnya dia mampu membagi energi yang merata dan dia sendiri yang harus berani memutuskan kapan harus ada kesempatan hidup kepada yang lainnya. Pohon (1) memiliki sikap menang sendiri dan mau tetap berdiri hingga pohon (5) muncul. Pada saat yang sama itu jika yang berikutnya yaitu pohon (2) juga tidak berada dalam etika kesabaran untuk harus bersabar menerima kenyataan karena memang pohon (5) itu telah muncul, maka tindakan tergesa-gesa di luar etika hidup terpaksa harus ditempuh, bisa memberi dampak kepada yang lainnya. Bisa saja terjadi pohon (2) sendiri yang harus menerima akibatnya dari ulahnya sendiri. Dengan kata lain pemahaman hidup terhadap pohon sagu telah menunjukkan arah sebenarnya harus hidup taat asas dalam tatanan etika hidup yang teratur. Dan penulis banyak mengamati sebagian besar orang Maluku terkadang mau menyalahkan landasan berpikir ini karena menganggap bahwa tanaman sagu telah salah memberi arti sebenarnya bagi pandangan hidup mereka. Untuk itu kualitas dari pohon (1) sebagai pemimpin harus diperhitungkan dengan matang jika tidak maka dapat dipastikan dia akan menjadi penghalang distribusi energi kepada pohon yang lainnya.

Metroxylon sagu adalah tanaman asli di kepulauan Maluku dan Papua (termasuk PNG) kemudian menyebar ke Pasifik Selatan dan seterusnya beberapa spesies dikembangkan ke arah barat Indonesia menuju Malaysia sampai ke India. Namun yang memilihnya sebagai makanan pokok adalah orang di kepulauan Maluku dan di Papua.

Dari orang Bupolo kita dapat mengerti tentang bagaimana pendekatannya kepada kelompok masyarakat di pulau lain. Pada prinsipnya orang pulau tidak pernah terisolir hidupnya dan orang Bupolo sendiri telah mencatat sejarah perjalanan mereka sebagai bukti bahwa mereka mampu bersinggungan dalam pergaulan di level nasional dan internasional. Untuk itu studi tentang etnobotani yang penulis tekuni hanya mau membuat suatu pendekatan guna mendalami masyarakat dari tanaman yang ada disekitar habitat dimana manusia hidup, dengan begitu kita dapat mengerti hubungan timbal balik antara masyarakat dan lingkungannya.

Gambar 5 berikut ini menyajikan rumpun sagu yang dibudidayakan. Dalam satu rumpun idealnya hanya ada lima pohon sagu. Louhenapessy (1992) mengatakan bahwa dalam areal hutan dimana tanaman sagu tumbuh secara liar, maka ditemui ada sekitar 90 pohon sagu dalam satu rumpun. Tanaman sagu mengalami proses perkecambahan tunas untuk melahirkan pohon yang baru melalui akar. Pohon sagu yang tumbuh secara liar akan menghasilkan jumlah pati sagu yang sedikit bila dibandingkan dengan pohon dalam rumpun sagu yang mendapat perlakuan pemeliharaan yang intensif. Hal ini berhubungan dengan kompetisi energi dalam rumpun tersebut.

Secara ekologi, pohon sagu menciptakan kondisi hidromorfis, artinya akan tercipta areal basah atau berair pada habitat tanaman tersebut, sehingga apabila pohon sagu tumbuh secara liar dalam hamparan yang luas maka secara otomatis akan menciptakan daerah rawa-rawa.

 

EPILOG : PULAU BURU DAN KEMAJUANNYA

Daoed Joesoef penulis buku Emak (2005) dalam diskusi lisan dengan penulis pada forum alumni Prancis di Jakarta tahun 2011 pernah mengatakan bahwa Maluku dan Papua adalah sebuah kubangan yang didalamnya tersimpan harta bumi alami yang masih terpendam. Jika harta itu diolah maka kedua wilayah ini akan menjadi benua ke-enam.

Pesan di atas sebenarnya memberikan sinyal yang kuat bahwa masa depan Indonesia ada di Papua dan Maluku. Untuk itu Maluku dengan otonomi daerah dan ditambah lagi kepemimpinan dan kekuasaan daerah provinsi, kabupaten dan kota saat ini ada dalam genggaman orang Maluku, maka sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun Maluku. Jangan lagi pikirkan soal jatah kepemimpinan nasional karena itu akan membuang waktu dan energi.

Terobosan pertama menurut hemat penulis seyogyanya dimulai dengan melakukan rekayasa sosial yang akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya ketahanan masyarakat menghadapi setiap perubahan, Inovasi teknologi akan diterima dengan baik apabila masyarakat dipersiapkan dengan segala informasi yang lengkap dan materi penyuluhan yang bisa dipahami. Dengan demikian informasi sosial yang lengkap akan mendukung penerapan teknologi dengan tepat sasaran dan tepat tujuan.

Terobosan yang berikut adalah pulau Buru ke depan bisa membangun museum alam tentang “Goulag di Pantai Selatan” sebagai peringatan atas tragedi kemanusiaan yang paling mengenaskan dalam sejarah manusia. Selain digunakan sebagai obyek wisata maka pembangunan museum ini pula bisa menggambarkan sejarah pembangunan pertanian yang sawah yang tidak dapat dibayangkan bahwa bisa dibangun pada wilayah formasi tanaman sagu sebagai biodiversitas awal pada areal tersebut. Pengalihan fungsi lahan juga bisa menjadi suatu laboratorium alami dalam mempelajari evolusi tanaman dimana lingkungan akan berubah seturut dengan perubahan vegetasi tanaman.

Penulis tiba pada usulan yang konkrit untuk memperkuat identitas ke-Maluku-an yaitu mensinergikan setiap komponen interdisipliner yang diilustrasikan bagaikan rangka seekor ikan yang menyusun struktur anatomi ikan.

Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat baik yang menghuni pulau-pulau kecil di wilayah 3T maupun yang menghuni wilayah terisolir di pegunungan adalah teknologi nutrisi dan pakan ternak, bioteknologi komoditas unggulan, dan rekayasa sosial.

Tiga komponen ini menempati bagian rangka ikan yang paling peka yaitu pada bagian kepala hingga rongga insang. Artinya bahwa komponen teknologi sangat diperlukan bagi orang pulau, jika tidak ada terobosan teknologi maka seluruh hasil produksi akan terbuang karena membutuhkan jalur pemasaran yang relatif panjang. Komponen pendukung dan juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan adalah ekologi kepulauan dan etnobotani dimana struktur ini bisa menjadi konsep holistik dalam membangun identitas orang Maluku.

diagram-ikan

Gambar 5. Diagram Ikan Konsep Pikiran Orang Maluku pada Pulau Kecil Terdepan dan Terluar

 

DAFTAR PUSTAKA

1.Joesoef Daoed, 2005, Emak, Kompas, Jakarta

2.Jonge de Nico and van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonesia, Perplus, Singapore.

3.Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

4.Milton Giles, 2015, Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan, Pustaka Alvabet, Banten.

5.Pattinama, Marcus J. dkk, 2007. Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku: Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti.

6.Pattinama, Marcus J. 2015. Identitas Maluku dalam Konteks Nasional. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional STAKPN Maluku di Ambon pada tanggal 24-25 November 2015.

7.Rumphius Everhardus Georgius, 1741, Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense),

8.Turner Jack, 2011, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme,Komunitas Bambu, Jakarta.

 



[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon dan Ethnobotanist Pulau Buru.

[2] Burat atau Sareat (Bahasa Buru) adalah adat makan sirih pinang orang Bupolo yang diadakan sebelum dimulainya suatu pertemuan atau diskusi adat.

[3] Goulag singkatan dalam bahasa Rusia « Glavnoïe Oupravlenie Laguereï » artinya « Menuju Tempat Penampungan (baca : kamp konsentrasi) ». Kamp konsentrasi Goulag disebut pula Kepulauan Goulag, dibangun di lahan terbuka yang sangat luas, tidak berpenghuni (kira-kira sebesar Pulau Borneo : Kalimantan + Serawak, Malaisia) di Rusia Utara-Timur (dulu : Uni Soviet). Sebenarnya Goulag telah dibangun sejak rejim Tsar dan dilanjutkan pada rejim Joseph Stalin hingga Brejnev dan baru dinyatakan dibubarkan pada rejim Perestroïka (Gorbachev). Kekuatan ekonomi Uni Soviet kala itu dibangun dengan memanfaatkan tenaga para tahanan yaitu mereka yang beroposisi dengan rejim berkuasa, para bandit kriminal dan pembunuh. Di Goulag, mereka harus menjalani kerja paksa untuk negara (baca : rejim berkuasa). Tentu banyak korban manusia yang mati sia-sia setiap harinya karena pekerjaan berat yang harus dijalani, kondisi sanitasi kamp konsentrasi yang sangat jelek dan suhu yang sangat dingin kadang mencapai -45° C saat musim dingin. Kerja paksa yang mereka lakukan merupakan sebagian sumbangan yang pada gilirannya menjadikan Uni Soviet sebagai negara adi-daya dan tandingan bagi Amerika Serikat, namun akhirnya kekuatan itu tumbang pada 1991 dan selanjutnya disebut Rusia.

Makalah dipresentasikan pada Temu Budaya Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku, di Namlea Tanggal 5 Desember 2015

MAPSARA TU KOINLALEN OTO FADAE RANALALEN, BUPOLO, MALUKU

Orang Buru

fili kamipa na

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Geba Keda Etnoekologi oto Faperta Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

Roger Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

 

Lien na Leu

Neten na dapsara tu na lien humalolin geba Bupolo oto neten mua lalen tu geba lalen. Kapsara lien hangina ni sapan geba, gamdo tu neten ni oto leu ?. Gamdo katine geba Bupolo oto neten hangina na ? Gamdo tu neten geba Bupolo da suba hai fili Ranalalen seponi dafango neten fehut oto na elet dikat ? Kapsara lien na gosa tirin gamdo geba na da defo oto na elet fehut sepuna da suba oto ranalalen ? Lien ranalalen mapsara neten fadae rana Waekolo tu kaku Date neten oto nelat Bupolo.

Gamdo kami huke lienkasen na oto ni kitahalu mapsara lienkasen akilalen geba Bupolo oto neten fenalalen tu humalolin.

 

Humalolin Geba Bupolo

Fenalalen mapsara neten humalolin da defo emsian noro ba. Neten na da defo humartelo eta humarlima. Eta geba Bupolo mapsara fenalalen Waekolo oto ni humalolin da defo geba fili noro Waekolo ba. Geba dikat mo da defo oto nete di tu sira ba. Sepo ni humaelet oto fenalalen da defo geba sa warot mo udu humarlima ba.

Akilalen fenalalen ma dufa kai wai sira tu ina ama. Kai na anat da bagut hai sepu ni na anat mhana na da mau hama fina oto ni gebaromtuan dufango humafehut na laha yako anat mhana. Eta kamipa toho oto neten Bupolo, kami tine gebaromtuan na anat mhana da bagut hai oto ni da fango huma fehut hai da bina laha anat mhana sepu ni kae hama fina pa kae kaweng beka.

Oto neten fenalalen, noro dikat da kadu pa da defo tu kami akilalen pa da fango huma fehut oto ni kami bina humalolin. Eta ni kami na wali duba kadu da defo taga yako oto fenalalen.

Oto elet leu geba Bupolo da bina fenafafan, neten oto Ranalalen. Oto fenafafan gebaromtuan duba newe tu anatcia ba. Fili neten di geba Bupolo du defo oto neten dikat-dikat gamdo tu gebaromtuan du huke sa sa tu na neten kadefo.

Fenafafan hangina na geba defo mohe, ma tewa tu neten na neten koin. Da defo oto neten na noro Waekolo ba oto Waereman, noro dikat sabeta mo. Sira du defo oto kaminteang na ni kai wai fili humalolin dikat gebaromtuan du huke neten laha sira ni pa du defo pa du jaga neten nesa-nesa (Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, Aerdapa) tu noro Waekolo.

 

Koinlalen oto Bupolo

Eta ngei si fenafafan ma sea fili gebaromtuan Waekolo oto humalolin Waereman. Ma sea fili gebaromtuan Portelo tu Mrimu du defo oto neten na. Portelo na geba bagut fili noro Waekolo du jaga neten koin oto ranalalen. Hulu geba Bupolo, sira ba noro Waekolo pese Portelo du defo oto ranalalen tu Mrimu Waekolo.

Eta kamipa toho oto fenafafan, ma linga fili wae na kadan suba eta na ulun humalolin Waereman. Ma kaba waeolon neten na kadan oto waenibenangan. Wae na da suba fili rana du bajaga wae na fili noro Waekolo.

Waeolon da nei oto rana fafan da suba fili rana fafan daiko ngei buru slatan da suba beta mo ina da bastela kaku oto namnelat pa da simsubah wai tinan pa da mano oto waenibe  lienkasen do bina ni waenibenangan, oto Waemala da dufa ior- ior teman gamdo gebaromtuan ro do dufa oto wae ni, eta do ngei ngan Waemala. eta mapsara lienkasen fili Waenibenangan dasuba ngan Waeniba ba, eta wae na da suba fili kaku oto rana fafan gamdo Waekolo do defo oto wae na ulun.

Gamdo ma bina Waenibe olon mo.? Mapsara oto waenibe ni geba Bupolo na ngan waenibenangan ni na ngan remat. Waenibe ni na ulun da dufa oto Waekolo ulun Waenibe na da dufa oto na kadan kwanat, wae ni da suba oto likunsmola. Wae ni da nei oto neten ni geba Bupolo du nei ngan wae Waenibe. Wae na da suba fili ranalalen lienkasen bina rana olon (koin ). Lien dikat likunsmola ma bina neten ni ma dufa wae na leman, oto nelat eta da leman mo fili rana Waekolo, sepu ni wae damano fili Waekolo pa da suba oto neten Waenibenangan. Eta geba Bupolo, likunsmola ni elet wae na du dufa mloko hat oto rana Waekolo, mloko hat stefo da suba giwan fili oto Waenibenangan. Ma tine eta da suba mloko da defo oto likunsmola eta da suba geba Bupolo iko tine pa du seka emdau tu dapan pa du oli tuha oto huma pa du mapo tuha pa du ka. Mloko da suba fili rana da iko msian mo po da iko warot da taga wae na na kadan eta da suba oto Waenibenangan, lien fili geba Bupolo ba mloko na da suba hulut oto masin. Elet na da dufa hangan msian oto fulan permede oto fulan Oktober eta fulan fehut. Geba Bupolo du tine fulan na pa du seka warahe. Eta geba Bupolo bina rana na da rakik hai, mloko hat da sefen pa da loa ahut bagut ni ma dufa oto likunsmola.

Eta ma iko oto fenafafan maliho oto rana Waekolo ma egu waga ngei geba Bupolo fili humalolin Waereman, eta geba Bupolo Waereman du iko kadan fili kaku Date ngei kaku sa. Oto fenafafan geba nyosot pi geba masin du liho oto tuhung na mo. Eta du liho oto neten na ni du difu,. Kamipa iko na po ma dufa liho roit fili gebaromtuan sira du huke . kamipa na jamtelo pa ma iko tine elet gebaromtuan teman sira ba defo

Eta Geba Bupolo sira mau iko tine elet ka defo gebaromtuan teman sira na elet ka defo ni ma egu fua dalu pa huke laha geba Bupolo dae Waereman fafan. gebaromtuan pa ma kala ina tu ama tu kai wai sira ma defo pa ma ka fua tu dalu na mnesa-mnesa tu sira. Ni ma egu fua tu dalu ba.ma egu matan ni pa ma huke laha anat Bupolo oto Waereman pa duhuke oto neten koin ni ma iko oto fenafafan ma egu lastare la ma iko na, ma egu gebaromtuan sira oto kaku Waereman, gamdo du bajaga fenafafan ma pipolon tu sirah pa  maiko mnesa –nesa tu sira pa du tu elet ka defo gebaromtuan teman sira elet kadefo oto fenafafan. Eta geba nyosot do mau si oto neten koin na, ni da egu lastare tu dalufua tu matan goban ni utun lima ba ni naraman laha geba nyosot. Eta geba Bupolo. gebaromtuan dusi oto rine lalen.

Eta ma liho oto fenafafan, kamipa ma dufa mrimu Waekolo. Ringe ma loa adat beto nelat ma kala opolastala tu gebaromtuan, rana tu date fafan. Ma iko pa ma suba oto huma. Dalua huma mo po dalua gama kaulahin, miat tu fafu na elet kafoi tu na kadan oto rahe.

Fenafafan di na elet kadefo gebaromtuan teman. Mrimu da bina neten ni warot ior-ior teman gama todo, gomi, gong bagut tu gong roit, nhero, kwani, balanga tu ior-ior bakan. Ior-ior halu na duba nei oto pau rahe. Geba Bupolo sira lua fefa da bina liang lahin. Da lua fefa ni da langa miat pa da nei akilalen mrapa-mrapa. Da lua fefa akilalen bagut mo, halu ni msian dafu. Na bagut ni msian dafut, na remat ni polone dafut, na leman goa pau sa da remat mo.

Mrimu tu Portelo du defo oto humalolin Waereman du tine huma oto fenafafan. Geba Bupolo oto masinlalen jaga keha tine gebaromtuan fili kaku fenafafan bara sa sia ba pei eta fenafafan, eta sa ba pei du jaga iko oto humakoin pa du jaga tine huma bara daraki. seponi du huke mahun laha geba bupolo bara du pei.

Kamipa na toho oto fenafafan ma tine oto neten di fenafafan warot ni kaku –kaku oto fenafafan, geba Bupolo oto fenafafan du jaga gei kaku tu wae tinan bagut oto fenafafan, kamipa nika gemtuan mrmu eta gamdo tu wae oto fenafafan na ? Gemtuan mrimu bina wae na koin, wae tu kaku na du bina neten koin, noro fili Wakolo di du tine fenafafan bara noro dikat tu bara darogo akilalen oto koinlalen.

Eta kamipa toho oto ranalalen, kamipa tine seget fili fanabo, waili tu Waekolo halu ni sa sa tu ringe nake neten – neten sa sa ?, halu ni kamipa tewa fili gemtuan mrimu, na halu ni bagut tu remat. Gamdo gebaromtuan halu ni ma tewa fili gemtuan mrimun oto Fenafafan,Dabina halu fili marga pila na ni sa sa tu ringe nake neten–neten, gamdo eta geba Bupolo sa da tewa rine nake neten mo,ni gamdo beka gemtuan ee? eta manika fili Gemtuan mrimun da bina gamanga ? Halu ni oto neten geba Bupolo halu, ma sia pa mapsara tu neten na, ina ama kai wai sira kimi bara loat tu neten na eta ma loa epsalah oto seget na.

 

Lien na Sepu

Mapsara lien oto refafan na da bina tu lalen-lalen oto adat geba Bupolo, lepak foni oto na elet ka defo oto sa an a neten-neten noro oto mualalen. Koinlalen oto Bupolo iha na :

a.Ranalalen, b. Mua Garan, c. Waekoit, d. Kakukoit, e. Liang lahin, f. Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h. Seget, i. Sufen.

Ina ama kai wai sira kimi bara loat lalen tu kamipa na. Kamipa tewa lalen-lalen hai fili lien koin na, kamipa fili lolik lalen fedak fena tu retemena bara sehe.

CERITA TENTANG TEMPAT KERAMAT DI DATARAN RANA, PULAU BURU, MALUKU

Danau Rana

oleh :

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Guru Besar Etnoekologi Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

Roger Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

 

Pengantar

Bagian ini ingin menjelaskan keadaan tempat pemukiman tradisional orang Bupolo dalam hubungan dengan lingkungan alam dan kehidupan sosial.  Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bentuk pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal ?  Bagaimana pandangan orang Bupolo terhadap pemukiman tradisional dibandingkan dengan perkembangan pemukiman saat ini ? Bagaimana bentuk pemukiman orang Bupolo yang telah keluar dari ranalalen kemudian membangun pemukiman baru di tempat lain ?  Pertanyaan berikut yang sangat penting adalah bagaimana cara mereka memilih tempat tinggal yang baru setelah keluar dari ranalalen ?  Istilah ranalalen artinya daerah sekitar rana Waekolo dan gunung Date yang terletak di tengah pulau Buru.

Untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kami ingin menjelaskan terminologi yang selalu digunakan orang Bupolo untuk daerah pemukiman yaitu fenalalen dan humalolin.

 

Pemukiman Orang Bupolo

Istilah fenalalen artinya tempat pemukiman yang hanya terdiri dari satu kelompok noro atau soa (clan).  Jumlah rumah dalam satu fenalalen adalah antara tiga sampai lima buah.  Kalau orang Bupolo mengatakan fenalalen Waekolo maka pada daerah pemukiman dimaksud hanya dihuni oleh mereka yang berasal dari noro atau soa Waekolo.  Tidak ada orang Bupolo dari noro lain yang hidup bersama dengan mereka.  Oleh sebab itu jumlah rumah yang dijumpai tidak akan lebih dari lima buah rumah.

Dalam fenalalen biasanya kita jumpai hanya kehidupan antara mereka yang mempunyai hubungan keluarga sekandung bersama istri dan anak-anak mereka.  Kalau anak mereka sudah dewasa dan suatu saat ada rencana untuk menikahkan anak tersebut, maka sebelum yang bersangkutan menikah biasanya orangtua akan membangun rumah baru. Selama penelitian di lapangan, kami mengamati bahwa orangtua yang mempunyai anak laki-laki dewasa dan anak tersebut belum juga menikah maka dengan dibangunnya rumah baru yang terpisah dari orangtua adalah sebuah pesan untuk yang bersangkutan harus segera mencari jodoh untuk menikah.

Sedangkan dalam satu fenalalen, jika ada noro (soa atau clan) yang lain datang untuk tinggal bersama dan membangun rumah baru dalam fenalalen maka daerah pemukiman itu disebut humalolin.  Hal yang umum dijumpai adalah keluarga dari istri yang datang untuk tinggal bersama dalam satu fenalalen tersebut.

Tempat pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal disebut fenafafan, yaitu suatu daerah yang terletak disekitar ranalalen.  Di fenafafan hidup leluhur pertama orang Bupolo bersama sembilan orang anak.  Dari fenafafan (fena=clan, desa ; fafan=tertinggi) orang Bupolo menyebar ke berbagai tempat, sesuai dengan pembagian wilayah yang diperoleh dari leluhur mereka.

Fenafafan saat ini tidak dihuni lagi oleh orang Bupolo, tetapi daerah ini tetap dianggap sangat sakral dan terus dilindungi oleh orang dari noro Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman.  Tidak hanya orang Bupolo yang tinggal di Waereman yang melindungi fenafafan, namun orang Bupolo lain yang tinggal di humalolin lainnya di seputar ranalalen, misalnya Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, dan Aerdapa.

 

Tempat Keramat di Pulau Buru

Untuk memasuki fenafafan harus meminta izin orang Bupolo dari noro Waekolo di humalolin Waereman.  Orang yang berhak memberi izin adalah mereka yang menjadi pemimpin adat seperti Portelo dan Mrimu.  Portelo adalah jabatan adat tertinggi dalam noro Waekolo yang bertugas menjaga seluruh daerah sakral di ranalalen.  Dari semua noro orang Bupolo, hanya dalam noro Waekolo yang dijumpai jabatan adat Portelo.  Portelo harus tinggal di ranalalen bersama Mrimu.

Dari pengamatan kami selama berkunjung ke fenafafan (lihat peta), kedudukannya berada diantara waeolon (wae=air ;olon=kepala) dan humalolin Waereman.  Kita menyebut waeolon karena daerah itu adalah merupakan kepala dari sungai Waenibe.  Salah satu sungai dimana sumber airnya berasal dari rana Waekolo.

Istilah waeolon dalam bahasa Buru hanya disebut untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai Waenibe.  Sedangkan untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai-sungai lain yang ada di pulau Buru kita langsung menyebut nama sungai tertentu dan diikuti dengan kata olon, misalnya sungai Waemala kita sebut Waemalaolon artinya kepala/sumber dari sungai Waemala.  Untuk itu kalau menyebut waeolon maka semua orang Bupolo akan tahu bahwa yang dimaksud adalah kepala air Waenibe di rana Waekolo.

Mengapa kita tidak dapat mengatakan Waenibeolon ?  Menurut pikiran orang Bupolo bahwa air yang keluar dari rana Waekolo tidak langsung menuju sungai Waenibe namun melewati suatu tempat yang bernama likunsmola.  Orang Buru saat menyebut kata ini untuk pertama kali bagi saya sebagai orang luar dan sebagai peneliti dicatat hanya sebagai suatu nama tempat, padahal kata ini setelah dicari makna yang sebenarnya dan dari diskusi dengan banyak informan di lapangan diperoleh bahwa likunsmola terdiri dari likun esmohok laan (likun=bagian air yang dalam atau deep in english, esmohok=bagian yang rendah, laan=tempat untuk membagi).  Dengan kata lain likunsmola artinya suatu tempat dimana terdapat air yang sangat dalam, letaknya sangat rendah dari rana Waekolo dan dari situ air dialirkan ke sungai Waenibe.  Bagi orang Bupolo, likunsmola adalah tempat yang sangat penting karena menurut mitos jika mloko ha (morea besar) yang hidup di rana Waekolo kencing (mloko ha stefo) maka semua mloko yang ada di dalam rana Waekolo akan lari keluar meninggalkan rana Waekolo.  Sebelum keluar maka morea-morea tersebut berkumpul di likunsmolat dan dengan sangat mudah orang Bupolo dapat mengambilnya untuk dimakan. Mereka keluar dari rana Waekolo dalam jumlah yang sangat banyak menuju sungai Waenibe dan menurut orang Bupolo morea-morea tersebut pergi keluar menuju air laut yaitu tempat asal mereka.  Peristiwa ini berlangsung satu kali dalam setahun yaitu pada saat bulan gelap yaitu sekitar bulan oktober saat mulai akan menanam kacang.  Orang Bupolo katakan kalau rana Waekolo sudah kotor maka mloko ha akan marah dan kemarahannya yaitu mloko ha akan kencing (mloko ha stefo) dan itu hanya dapat ditandai dengan banyaknya morea yang terdapat di likunsmola.

Kalau menuju ke fenafafan melewati rana Waekolo dengan pakai perahu hanya diperuntukkan bagi orang Bupolo yang datang dari luar humalolin Waereman, sedangkan bagi orang Bupolo di Waereman biasanya mereka melewati jalan gunung Date dengan berjalan kaki.  Fenafafan tidak diijinkan bagi orang luar.  Saya mendapat izin ke fenafafan hanya satu kali dan kunjungannya sangat singkat dalam waktu tiga jam saja.  Saya hanya mau melihat apakah masih terdapat bangunan rumah seperti yang diceritakan oleh orang Bupolo di humalolin Waereman kepada saya.

Tidak ada syarat khusus yang mereka minta dari saya jika ingin berkunjung ke fenafafan, misalnya harus membayar uang sedekah di humapuji atau humakoin.  Huma puji atau disebut juga humakoin adalah tempat dimana orang Bupolo di Waereman atau orang Bupolo lainnya dapat berbicara (babeto) dengan para leluhur mereka (opolastala).

Pada umumnya orang luar (geba nyosot) yang ingin berkunjung ke tempat-tempat sakral di rana lalen diwajibkan untuk membayar jiwanya dengan sekeping uang di humakoin. Ini sebagai suatu tanda bahwa opolastala dan semua jiwa orangtua dari orang Bupolo yang telah meninggal dunia telah dihormati dan jika melewati tempat sakral, maka jiwa dari orang tersebut akan selamat dan tidak akan membawa kematian.

Saat berkunjung ke fenafafan, saya ditemani oleh mrimu Waekolo.  Setelah tiba di tempat tersebut, mrimu Waekolo berbicara (babeto) untuk minta izin dari opolastala, rana, dan date.  Kemudian kita memasuki suatu tempat yang disebut huma (rumah).  Tempat dimaksud tidak berbentuk rumah secara fisik namun ada beberapa buah batu yang tersusun secara rapih.

Tempat itu adalah rumah pertama dari leluhur mereka.  Menurut mrimu di tempat itu juga tersimpan seluruh harta para leluhur, seperti peralatan untuk berkebun, peralatan berburu, alat untuk masak dan makan.  Semua alat tersebut disimpan di dalam tanah.  Mereka membuat tempat khusus yang dinamakan liang lahin.  Cara membuat liang lahin yaitu mereka membuat sebuah lubang di dalam tanah dan dilapisi dengan batu pada seluruh dinding lubang tersebut. Umumnya ukuran liang lahin yang dibuat tidak terlalu besar, rata-rata berukuran panjang satu meter, lebar 60 sentimeter dan ukuran kedalaman lubang tidak lebih dari satu meter.

Semua barang dimasukkan ke dalam liang lahin dan bagian atas disusun piring yang terbuat dari porselen kemudian ditutup dengan tanah.  Semua peralatan yang terdapat di fenafafan saat ini telah diganti dengan peralatan yang terbuat dari porselen seperti piring dan gelas.  Saya tidak melihat seluruh obyek tersebut hanya diketahui berdasarkan cerita lisan dari mrimu Waekolo.

Mrimu dan portelo Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman secara bergantian mempunyai tugas yang rutin untuk membersihkan rumah di fenafafan.  Tidak ada jadwal yang pasti untuk kegiatan tersebut, jika ada yang sakit di dalam humalolin Waereman atau orang Bupolo yang tinggal di luar ranalalen hendak mengunjungi fenafafan, dari situ baru mereka membersihkan tempat rumah leluhur mereka dan memberi makan.

Pembagian daerah pemukiman baru ini tidak berdasarkan atas luas tanah tetapi berdasarkan pada gunung dan sungai.  Oleh sebab itu setiap noro dari orang Bupolo memiliki gunung dan sungai yang menurut mereka sangat sakral. Gunung dan sungai dimaksud masing-masing mempunyai nama.  Jadi tanah yang ada diantara atau disekitar gunung dan sungai tersebut adalah milik dari noro yang bersangkutan.

Selama penelitian di lapangan, saya mencoba untuk mengetahui batas-batas teritorial dari suatu noro, namun hal itu sangat sulit karena daerah yang terlalu luas dan jawaban dari informan di lapangan hanya menyebutkan bahwa : tanah milik kami terletak pada gunung dan sungai sebagaimana yang telah ditentukan oleh leluhur kami.  Dan semua orang Bupolo telah mengetahuinya.  Jika ada orang Bupolo yang tidak mengetahui maka yang harus menjelaskan kepadanya adalah para pemimpin adat (geba ha) dan orang-orang tua (gebaro emkeda).

 

Penutup

Kesimpulan dari cerita di atas ingin menyatakan bahwa daerah keramat di Pulau Buru merupakan tempat yang menyimpan identitas Orang Bupolo yang selalu menyatu dengan lingkungan alam. Daerah keramat yang dikenal oleh Orang Bupolo terdiri dari :

a.Ranalalen, b.Garan, c.Waekoit, d.Kakukoit, e.Liang lahin, f.Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h.Seget, i.Sufen

POTRET PEREMPUAN BURU DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN EKSPLOITASI HUTAN DI PULAU BURU, MALUKU

pulau-buru

oleh :

Marcus J. PATTINAMA

 Paper disampaikan pada Forum: PIRAC (PUBLIC INTEREST RESEARCH AND ADVOCACY CENTER) Untuk Memperoleh: PHILANTHROPY RESEARCH AWARD III,  Tahun 2007

 

 

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Pulau Buru tersusun dalam gugusan pulau-pulau yang membentuk Kepulauan Maluku (Moluccas Archipelago). Jika bicara kepulauan Maluku, maka didalamnya ada dua Provinsi: Maluku dan Maluku Utara, dimana yang terakhir disebutkan telah terpisah secara administratif dan dimekarkan menjadi provinsi baru pada tahun 1999. Pulau Buru (seluas + 10.000 km²) dalam Provinsi Maluku dikelompokkan sebagai pulau kecil[1]. Salah satu ciri pulau kecil di Maluku dan bahkan pada umumnya dijumpai dimana-mana adalah memiliki garis pantai yang panjang dengan wilayah dataran yang sempit serta didominasi bentuk topografi pegunungan.

Dalam catatan botani dunia, ditemukan bahwa tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) adalah tanaman asli Pulau Buru. Tahun 1925, kolonial Belanda membawa spesies ini sebagai tanaman penghijauan di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Daun tanaman ini bila diekstraksi dan disuling, akan menghasilkan minyak kayu putih. Oleh sebab itu, Pulau Buru dikenal sebagai pulau minyak kayu putih. Pada masa kejayaan perdagangan rempah-rempah, penduduk pulau ini telah bersinggungan dengan bangsa Eropa, sehingga Belanda menamakan suatu tempat di Pulau ini dengan sebutan Kayeli (Kayoe poetih olie).

Cerita Kayeli semakin populer dan dikenal secara luas setelah Pemerintah rezim Orde Baru menetapkan wilayah Kayeli (Buru Utara Timur) atau yang disebut dengan dataran Waeyapo sebagai tempat konsentrasi tahanan politik (Tapol) G30S/PKI (1969-1979). Waeyapo adalah nama sungai di Kayeli. Di tempat ini, rezim Orde Baru menawan para tokoh terkemuka diantaranya yang sangat tersohor adalah penulis Pramoerdya Ananta Toer. Dari goresan penanya, banyak cerita tentang Buru dikisahkan baik yang menceritakan cerita pilu dan tragis tentang kehidupan para tahanan politik maupun cerita Pulau Buru dan masyarakatnya. Informasi tentang masyarakat Buru yang dilaporkan beliau sangat tendensius akibat dari kurang eratnya relasi sosial yang terbangun pada masa itu akibat pengamanan yang ketat.

Harus diakui bahwa Pulau Buru menyimpan kisah yang sangat tidak manusiawi yang dialami para Tapol. Kawasan penahanan mereka untuk pertama kali disebut Tefaat (Tempat Pemanfaatan) hingga pada akhirnya dinamakan Inrehab (Instalasi Rehabilitasi). Untuk itu masyarakat internasional lebih mengenal Pulau Buru sebagai « le goulag des mers du sud (bahasa Perancis) »: goulag[2] di laut selatan.

Sangat ironis sekali bahwa penduduk asli (autokton) juga ikut tertawan akibat diterapkannya sistem pengamanan yang berlapis. Pemerintah Orde Baru memutuskan dataran Waeyapo sebagai tempat tawanan para Tapol bukanlah suatu daerah yang kosong, gersang dan tidak bepetuanan. Daerah itu selanjutnya diklaim oleh rezim sebagai milik negara. Padahal tempat itu adalah gudang makanan bagi autokton Pulau Buru (Orang Bupolo), karena disitu adalah habitat tanaman sagu (Metroxylon sagu, Arecaceae). Sagu adalah makanan pokok orang Bupolo. Ekologi kawasan tersebut secara drastis berubah menjadi areal persawahan untuk tanaman padi lahan basah (wet rice land) hingga saat ini.

Ide membuat sawah pasti muncul dari para Tapol karena mayoritas orang Jawa dimana mereka tidak mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Sejarah mencatat bahwa dari Pulau Buru penguasa Orde Baru, periode itu secara nyata mendapat dukungan dana pembangunan dari Bank Dunia (baca: Amerika Serikat), memperoleh ide untuk melancarkan program transmigrasi masal di seluruh nusantara. Karena mudah mengklaim tanah masyarakat sebagai tanah milik negara untuk program transmigrasi, maka cara ini merambah ke wilayah lain di Indonesia dan ide ini pun mendapat rekomendasi ilmiah dari para pakar Indonesia yang berasal dari universitas terkenal di negeri ini. Orang Bupolo benar-benar kehilangan hak milik mereka. Akibatnya areal tanaman sagu makin berkurang dan memaksa mereka harus meramu hutan dalam jarak yang semakin jauh.

Ketika Orang Bupolo kembali meramu hutan, pada saat yang sama pun militer memanfaatkan para Tapol untuk menebang pohon guna dijadikan bahan bangunan dan meubel. Kemudian militer berkolaborasi dengan pedagang antar pulau untuk menjual kayu. Dari kegiatan ini, akhirnya Orde Baru menetapkan ide untuk eksploitasi hutan secara besar-besaran dengan pemberian izin resmi dari negara dalam bentuk HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada pengusaha.

Kehadiran HPH sebagai sosok ekonomi modern di tengah hutan belantara Pulau Buru memberikan dampak besar kepada autokton yang masih hidup nomaden. Ciri kehidupan terasing (baca: sederhana) dan terisolir pada daerah pegunungan serta merta diperhadapkan dengan pilihan antara menunggu atau menjaga daerah sakral yaitu tempat bersemayam nenek moyang mereka dengan hak membabat hutan yang sudah resmi diberikan negara kepada pengusaha HPH. Posisi autokton sangat jelas menjadi lemah dan inferior baik dihadapan hukum negara maupun pelaku ekonomi modern. Yang terjadi adalah kompetisi disekuilibrium. Akibatnya dinamika kehidupan autokton menjadi terganggu. Pengusaha HPH bisa memasang papan pengumuman di dalam areal hutan belantara hanya untuk melarang autokton masuk melakukan kegiatan berburu dan meramu hutan.

Kenyataan yang sekarang terjadi adalah kebijakan negara mengakibatkan adanya kelompok masyarakat yang terjebak dalam kemiskinan (poverty trap): deprivasi (social deprivation), isolasi, ketidakberdayaan dan ketiadaan akses kepada sumberdaya alam, sarana dan prasarana sosial ekonomi dan kesenjangan, serta semakin tinggi potensi konflik internal diantara kelompok kekerabatan/clan. Itu berarti autokton semakin jauh dari konsep memanusiakan manusia.

Kelompok yang sangat merasakan belenggu kemiskinan adalah kaum perempuan, seperti: keterbelakangan, pendidikan rendah, kekurangan gizi dan resiko kematian. Walaupun demikian kaum perempuan harus bertahan hidup dan menjalankan kodrat alami untuk melanjutkan generasi. Bagi autokton Pulau Buru, peranan perempuan sangat penting sebagai pilar baik untuk kelompok kekerabatan maupun keluarga inti/batih.

I.2. Tujuan Khusus

Studi kasus di Pulau Buru mencoba menyajikan bagaimana ketahanan masyarakat asli Buru (Orang Bupolo) bereaksi untuk mengepung berbagai pengaruh luar, dimulai dengan penempatan kurang lebih 10.000 tahanan politik G30S/PKI. Kemudian dilanjutkan dengan hadirnya para transmigran dari Pulau Jawa. Kehadiran kedua kelompok ini di dataran Waeyapo telah menghilangkan ekologi hutan sagu, komoditi yang berperan sebagai sumber makanan pokok. Masalah berikut adalah eksploitasi hutan oleh perusahaan HPH yang datang sebagai perusak lingkungan. Akhirnya daya tarik komoditas kayu putih (Melaleuca leucadendron L) juga menghadirkan orang luar ke Pulau Buru.

Kesemua peristiwa ini adalah suatu realita yang harus dihadapi oleh orang Bupolo dimana akan memberikan dampak baru dalam hubungan intern diantara mereka. Artinya akan berpengaruh pada penguasaan sumberdaya alam karena kepemilikannya dikuasai berdasarkan hukum adat oleh kelompok kekerabatan. Dapat dikatakan bahwa ada ditemui kelompok kekerabatan yang hak ulayatnya menjadi sempit atau berkurang.

Dari diskripsi permasalahan sosial di atas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan : (1)Untuk menggali dan memahami ketahanan kaum perempuan Buru baik dalam relasi sosial internal maupun relasi eksternal yang terjalin. (2)Untuk memahami relasi eksternal, maka bagaimana tanggung jawab sosial dari perusahaan eksploitasi hutan Pulau Buru bisa dengan adil memberikan share kepada autokton jika dibandingkan dengan aktivitas eksploitasi yang membawa keuntungan relatif tidak kecil.

Sejauh ini diperkirakan bahwa program pemberdayaan perempuan belum diprogramkan oleh pemegang HPH atau bisa saja terjadi Pemerintah Kabupaten Buru sendiri yang belum memiliki keberpihakan kepada keum perempuan.

I.3. Urgensi

Penelitian multidisiplin saat ini sangat diperlukan untuk memecahkan permasalahan lingkungan yang banyak bersinggungan dengan persoalan kemasyarakatan. Salah satu persoalan yang belum tuntas ditangani hingga saat ini adalah masalah deprivasi masyarakat asli tradisional. Mereka secara nyata tidak mampu berkompetisi dengan pelaku ekonomi modern yang serta-merta membuat instabilitas kehidupan autokton. Simpul dari masalah sosial adalah masalah kemiskinan dan masalah ketahanan pangan. Kedua masalah ini akan sangat mempengaruhi pola pengelolaan lingkungan kemayarakatan.

Dalam tatanan masyarakat tradisional, pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan sudah sangat jelas dan dipilah menurut bobot pekerjaan yang dikerjakan. Berdasarkan konsep rumah, perempuan diberi wewenang menangani bagian internal. Ruang dapur dengan segala ornamen pendukung adalah simbol perempuan dan letaknya pada posisi belakang. Sedangkan kewenangan eksternal adalah tugas laki-laki. Ruang kamar tidur, ruang tamu dan teras adalah bagian yang dikuasai laki-laki sebagai simbol untuk mempertahankan pengaruh luar yang masuk karena umumnya bagian ruang ini menempati posisi depan. Laki-laki yang memutuskan bisa tidaknya seorang tamu diterima. Walaupun perempuan hanya diberi wewenang pada satu bagian ruang saja, namun beban tugas kebersihan ruang belakang hingga depan adalah tanggung jawabnya, disamping tanggung jawab mengurus anak. Dengan demikian beban tugas kaum perempuan secara kuantitas dan kualitas lebih besar dari kaum laki-laki.

Penelitian akan dilakukan untuk mendata alokasi waktu yang dicurahkan oleh kaum perempuan Bupolo. Mereka juga terkungkung dengan mitos bahwa perempuan harus kembali ke dapur. Posisi mereka sangat tidak diperhitungkan dan berada pada pihak yang harus mengalah. Jika benar waktu yang dicurahkan perempuan lebih banyak, maka sebenarnya peranan kaum perempuan harus diberi apresiasi yang sewajarnya. Dalam sistem adat, perempuan Buru adalah pembawa harta dalam pertukaran antar kelompok kekerabatan atau apa yang disebut kewajiban matrimonial.

Pengalaman membuktikan bahwa sepanjang perusahaan HPH beroperasi di Pulau Buru, maka tanggung jawab sosial yang diberikan hanya terbatas dengan memberikan material konsumtif pada setiap kampung, seperti: pembagian televisi, motor lampu kapasitas 3 – 5 kg, dan parabola. Penelitian ini akan mendata jumlah dan kualitas barang yang diberikan perusahaan HPH kepada masyarakat begitu pula perhitungan akan dilakukan terhadap jumlah kapasitas pohon yang harus ditebang setiap tahunnya dibandingkan dengan share yang seyogyanya diberikan kepada masyarakat. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa perusahaan HPH tidak pernah berfikir untuk berpartisipasi aktif dalam program memberdayakan masyarakat lebih utama lagi memberdayakan kaum perempuan Buru. Disisi lain, penelitian ini perlu juga mengemukakan alasan rasional dari perusahaan HPH untuk tetap mempertahankan praktek dimaksud. Bagi pengusaha HPH, mungkin dengan membagi material konsumtif sudah merupakan tanda kepedulian kepada masyarakat tanpa memperhitungkan kualitasnya dan urgensi jangka panjang. Tanggung jawab pemberdayaan masyarakat adalah tanggung jawab aparat birokrat pemerintah, karena share yang relatif besar sudah didistribusikan kepada pemerintah.

II. STUDI PUSTAKA

 II.1. Gambaran Umum Wilayah

Pulau Buru mempunyai luas sekitar 10.000 km², dengan jumlah penduduk sekitar 132.471 jiwa (Statistik tahun 2004). Dari jumlah itu dijumpai hanya sekitar 10% adalah populasi masyarakat asli (orang Bupolo). Sebelum era reformasi pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan dibawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Di era reformasi pulau Buru menjadi sebuah kabupaten Buru dengan 10 kecamatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae), sedangkan di bagian sebelah dalam (pusat) terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Kondisi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang HPH untuk melakukan operasi penebangan pohon, misalnya Shorea sp., Eucalyptosis sp., Castanopsis buruana, Agathis dammara.(Fakultas Pertanian Unpatti, 1993)

Tahun 1969, Pemerintah Indonesia menetapkan pulaui ini khususnya di dataran Waeyapo sebagai kamp konsentrasi tahanan politik G30S/PKI.  Tahun 1979, ditetapkan pula sebagai lokasi transmigrasi nasional. Akibatnya, dataran Waeyapo yang sebelumnya daerah berawa yang didominasi oleh vegetasi sagu,  berubah menjadi ekologi dataran yang kering. Kasus yang sama sebelumnya telah terjadi di daerah transmigrasi Gemba (Gerakan Masyarakat Baru), Kairatu, di pulau Seram Barat tahun 1954.

Sejak zaman kolonial hingga kini masyarakat asli Pulau Buru (Geba Bupolo) disebut sebagai suku terasing, pemalas atau alifuru yakni masyarakat terisolir yang tinggal di hutan (Paulus,1917). Berdasarkan informasi dari Universidade Alberta Lisabon, istilah „buro“ diberikan kepada pulau ini dan ditemukan peta Indonesia yang dipublikasi tahun 1613 oleh misi dagang Portugis. Kata Burro (bahasa Portugis) mengandung dua arti keledai dan bodoh. Ada dua hipotesis dapat penulis kemukakan, pertama, kata burro untuk menamakan babi rusa (Babyrousa babyrussa) dimana untuk pertama kali Portugis melihatnya di pulau ini. Kedua, kata burro dialamatkan kepada masyarakat Bupolo, karena mereka selalu menolak kehadiran Portugis di setiap kampung (humalolin). Tindakan ini dimata Portugis selalu dianggap bodoh. Di masa penjajahan Belanda, kata Burro tidak digunakan dan ditulis Boeroe atau Buru dalam Bahasa Indonesia (Pattinama, 2005).

Bupolo adalah nama awal pulau Buru, disebut pula Bupolo Waekolo. Waekolo adalah nama kelompok kekerabatan (noro atau soa) yang menyatakan diri sebagai penunggu atau Geba eptugu (geba=orang, eptugu=penunggu) di pusat pulau.  Berdasarkan pengakuan adat, pusat pulau Buru dengan Gunung Date dan Danau Rana, adalah milik seluruh orang Bupolo (lihat Peta 1).

Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu, noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain, adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal.

Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu.

pulau-buru

Sumber: Pattinama MJ (2005)

Peta 1. Pulau Buru dengan Danau Rana dan Gunung Date

BURU-DI-MALUKU

Peta 2. Peta Pulau Buru dalam Provinsi Maluku

 

II.2. Gambaran Umum Sosial Ekonomi

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Buolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Pendatang dan penduduk asli selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 1).

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan masyarakat pendatang.

Geba Bupolo mengusahakan tanaman sagu (=bialahin, Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsinya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, Geba Bupolo secara rasional memilih singkong (=kasbit, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan tepung. Mereka juga mengkonsumsi protein hewani bersumber dari daging babi (fafu), rusa (mjangan) dan kusu (=blafen, Phalanger dendrolagus) dan ikan air tawar (mujair) dan morea (=mloko, Anguilla marmorata). Orang pendatang (Geba Misnit) yang tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan singkong. Di samping itu, mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

 

GEBA-BURU

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

II.3. Kearifan lokal mengelola sumberdaya alam

a. Organisasi ruang

Masyarakat Buru mempunyai konsep pembagian batas-batas lingkungan alam yang tegas. Mereka memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri, sedangkan orang pendatang memerlukan waktu lama untuk memahaminya.

Masyarakat Buru membagi ruang pulau Buru atas tiga bagian.  Pertama, kawasan yang dilindungi karena nilai kekeramatannya. Wilayah ini termasuk Gunung Date (kaku Date), Danau Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan primer (koin lalen). Kedua, kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen). Ketiga, kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu. Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsepsi dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas yang harus dipertahankan. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara (HPH), telah terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Orang Buru memiliki norma-norma adat untuk melindungi hutan primer yang mereka anggap sakral.  Mereka melarang agresi pemegang HPH masuk ke hutan primer dengan cara membuat foron sbanat, yakni alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia.

b. Organisasi waktu

Organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo disesuaikan menurut phenomena alam dari dua jenis pohon: Kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan Emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama (kautefu), jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Pohon yang kedua (emteda) lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun.

Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) artinya tetap musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, disekeliling kebun ditebar tanaman hotong/feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Mereka selalu saling bekerjasama dalam kegiatan menanam.

Efut ale adalah masa ketika daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar. Artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari. Pada musim ini kegiatan menyiang hanya dilakukan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum lelaki mulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini hanya dilaksanakan pada masa Efut ale yang dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Akhir dari efut ale adalah masa panen yang dilaksanakan pula dengan upacara kematian nitu wasin. Selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore dimana hari hujan relatif besar. Pada masa ini diadakan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga morea itu seolah mabuk. Dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Menurut Keith Philippe (1999), sebenarnya morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi. Umumnya morea di Indonesia melakukan kegiatan reproduksi menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Kegiatan berikutnya orang Bupolo adalah berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat ini buah pohon meranti sangat banyak.  Buah ini merupakan sumber makanan bagi kedua hewan buruan tersebut.  Lokasi berburu di hutan relatif jauh, yaitu di daerah gunung Kakupalatmada.

 

ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 2. Organisasi waktu menurut Geba Bupolo (Pattinama, 2005)

Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan.  Pada masa ini kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

 

II.4. Profil Perempuan Buru

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Umumnya tidak ada masalah gender dalam hubungan laki-laki dan perempuan Bupolo. Perempuan juga mempunyai peranan yang besar dalam setiap keputusan keluarga maupun peranannya dalam upacara ritual atau adat. Orang Bupolo menempatkan perempuan dalam posisi sesuai kodrat mereka.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

Keturunan adalah tujuan utama berkumpulnya laki-laki dan perempuan. Jika keturunan tidak diperoleh dari kelompok kecil tadi maka perempuan harus rela pasangan laki-laki mengambil perempuan yang lain dan tinggal serumah dengannya. Untuk itu dalam suatu rumah bisa kita jumpai seorang laki-laki hidup dengan lebih dari satu perempuan. Catatan kami memperlihatkan bahwa seorang laki-laki bisa hidup serumah dengan minimum dua perempuan dan maksimum empat perempuan. Sedangkan rata-rata jumlah anak dari suatu perkawinan adalah empat orang.

 

II.5. Eksploitasi Hutan Pulau Buru

Tidak ada catatan yang pasti tentang kapan  ide eksploitasi hutan mulai dicetuskan di Indonesia. Namun sejarah mencatat bahwa era Orde Lama sama sekali tidak setuju untuk mengadakan eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran (roofbouw). Lingkungan alam harus dipelihara dengan baik dan anggaran pembangunan tidak didasarkan pada eksploitasi alam. Bisa dikatakan pada masa itu akselerasi pembangunan terlalu terfokus pada dinamika politik sedangkan pembangunan infrastruktur ekonomi belum diprioritaskan.

Dalam era Orde Baru, akselerasi pembangunan ekonomi mendapat prioritas. Disini sangat membutuhkan anggaran pembangunan yang besar. Salah satu sumber keuangan negara yang bisa diperoleh adalah eksploitasi secara besar-besaran sumberdaya alam. Oleh sebab itu diperkirakan ide eksploitasi hutan mulai berkembang di Pulau Buru sejak tahun 1978. Pemerintah Orde Baru mulai memberikan konsesi kepada PT.Gema Sanubari seluas 305.000 hektar. Sebagaimana diketahui bahwa PT.Gema Sanubari adalah usaha bisnis dari Badan Keamanan Intelijen Negara (BAKIN). Saat ini perusahaan tersebut berubah nama menjadi PT.Gema Hutani Lestari. Kemudian setelah itu, tahun 1979 Pemerintah Daerah Maluku mendirikan perusahaan daerah bernama PT.Panca Karya yang juga menerima konsesi hutan seluas 73.600 hektar. Selanjutnya pada dekade tahun 1990an Pemerintah juga memberikan konsesi hutan kepada beberapa perusahaan swata. Informasi dari sumber Dinas Kehutanan Maluku mengatakan bahwa umumnya pemilik perusahaan tersebut adalah para pejabat negara tingkat pusat atau keluarga pejabat. Praktek di lapangan biasanya membuktikan bahwa hak konsesi itu kemudian diserahkan kembali kepada pengusaha lainnya untuk operasi di lapangan, sehingga boleh dikatakan bahwa para pejabat negara dan keluarganya hanya menerima share secara netto tanpa bekerja keras di lapangan.

 

 

III. METODE PENDEKATAN

III.1. Pendahuluan

Penelitian ini merupakan kaji tindak partisipatif (Participatory action research). Dalam arti sederhana, penelitian (research) bertujuan untuk memperoleh pemahaman (understanding) tentang masalah dan konteks penelitian. Dalam hal ini penelitian menggunakan pendekatan sistemik disertai diskusi fokus, pengamatan lapang dan wawancara mendalam (in-depth interview). Hasil dari penelitian ditindaklanjuti dalam bentuk tindakan (participatory action) guna memfasilitasi perubahan ke arah yang lebih baik. Hal ini merupakan suatu proses belajar bersama (collaborative learning process) yang melibatkan lembaga penelitian, penduduk desa dan pengambil kebijakan. Proses belajar bersama yang berkelanjutan diharapkan akan menghasilkan inovasi perubahan dan perbaikan yang berkelanjutan (continuous innovation and improvement).

III.2. Kelompok sasaran (target group)

Fokus penelitian ini adalah kaum perempuan Buru. Tujuannya untuk menggali dari dalam diri mereka sendiri: apakah yang dimaksud dengan pemberdayaan kaum perempuan sebagai pilar penting penerus generasi, apa indikator yang membuat mereka seolah melekat dengan kemiskinan, apa saja penyebabnya, bagaimana lingkaran kemiskinan itu terjadi dan bagaimana kemungkinannya kearifan lokal memberikan ruang untuk mengatasi masalah kemiskinan itu? Kelompok sasaran ditentukan berdasarkan pengenalan akan kondisi lapang dan informasi awal yang telah diperoleh dari informan kunci (key informan). Wawancara mendalam dilakukan dengan pihak pengusaha HPH sebagai responden penelitian.

III.3. Jenis data

Jenis data yang dikumpulkan ada dua. Pertama, data sekunder yang diperoleh dari dokumen tertulis dan studi kepustakaan. Kedua, data primer yang digali dari responden dan informan kunci serta kelompok sasaran (autokton dan pengusaha HPH).  Jenis data primer yang dikumpulkan meliputi profil perempuan Buru dan keluarganya serta indikator-indikator kemiskinan yang membelenggu. Sedangkan dari pihak pengusaha HPH didata kebijakan eksploitasi, upaya pelestarian lingkungan dan tanggung jawab sosial yang dikembangkan kepada masyarakat. Khusus indikator kemiskinan penting diketahui untuk memahami kemiskinan dari perspektif orang miskin itu sendiri.

III.4. Metode mengumpulkan data

Data sekunder dikumpulkan dengan cara studi literatur. Disamping itu ada laporan atau dokumen tertulis dari instansi yang relevan. Data primer dikumpulkan dengan beragam metode. Metode yang dipergunakan antara lain in-depth interview, observasi langsung di lapangan, diskusi kelompok fokus (focus group discussion) dan mapping causal-effect relationship. Peneliti terlibat langsung sebagai bagian dalam proses dialog. Konfirmasi data dilakukan bersama penduduk miskin sehingga terjadi saling koreksi dan pemahaman bersama mengenai angka dan informasi yang diberikan.

III.5. Analisis

Pada prinsipnya penelitian ini lebih berpijak pada penelitian kualitatif.  Data yang dikumpulkan dengan prinsip triangulasi, dianalisis secara kualitatif: tabulasi silang dan analisis isi. Dalam hal ini yang dipentingkan bukan banyaknya contoh atau bertujuan untuk melakukan generalisasi tetapi mengangkat kasus yang spesifik dan mendalam.

Penelitian terhadap masyarakat yang dikategorikan sederhana ini menggunakan konsep pendekatan dari segi etnologi. Pendekatan ini ingin menjelaskan hubungan yang erat antara kehidupan suatu kelompok masyarakat dengan sumberdaya alam di lingkungannya. Analisis yang digunakan dalam studi etnologi adalah analisis dalam dan analisis luar. Analisis dalam menjelaskan karakteristik dengan mengembangkan konsep yang sudah ada dalam suatu masyarakat, sedang analisis luar menganalisis hubungan antara aspek sosial dan aspek teknik secara interdisipliner.

III.6. Lokasi

Lokasi penelitian di Pulau Buru, Maluku dengan masyarakatnya yang masih hidup tradisional, sering menamakan diri sebagai Orang Bupolo (Geba Bupolo).  Dalam kehidupannya sehari-hari, mereka memiliki hubungan yang harmonis dengan alam di sekitarnya seperti cara berburu, memancing dan bertani. Teknik adaptasi tersebut yang membedakan satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain sesuai kondisi lingkungan alam dan aspek sosial budaya.

III.7. Hasil yang akan Dicapai

Dari tujuan penelitian yang sudah digambarkan pada bagian di atas, maka dengan sequence metode penelitian yang telah ditetapkan sebenarnya  penelitian ini dilaksanakan untuk mengungkapkan potret realita kaum perempuan Buru. Sedangkan di sisi lain, ingin pula mengungkapkan tanggung jawab sosial dari perusahaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang beroperasi di Pulau Buru.  Kedua pelaku ini adalah aset dalam pembangunan regional di Maluku demi memperkuat landasan pembangunan nasional.

Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat menggugah Pemerintah Kabupaten Buru dan pemangku kepentingan yang bekerja di Pulau Buru untuk lebih memahami kaum perempuan Buru dan yang paling penting adalah mulai merumuskan langkah strategi pemberdayaan, katakanlah pemerintah mulai merumuskan keberpihakan dengan memfasilitasi pendidikan yang serius kepada kaum perempuan sejak usia dini. Begitu pula dengan aspek kesehatan, dimana kaum perempuan yang hidup terisolir di daerah pegunungan bisa menjalani proses persalinan yang higienis. Jika ada keberpihakan dari pemerintah sebagai penggerak policy pembangunan kepada masyarakat maka secara simultan akan lebih mudah diikuti oleh pihak pengusaha HPH.

Cerita Pulau Buru yang pilu, tragis, dan seram serta tidak manusiawi harus perlahan-lahan diakhiri dengan komitmen untuk memantapkan konsep pembangunan yang bertujuan mengangkat harkat hidup masyarakatnya. Kuncinya pada penyelenggara pembangunan : apakah mereka memahami bahwa Pulau Buru pernah menyimpan cerita yang sangat memilukan ? Ataukah mereka turut berpartisipasi ingin memelihara cerita buruk itu. Pada periode itu, yang tertawan bukan saja para Tapol PKI tetapi juga masyarakat autokton. Bumi mereka  sudah dikapling oleh penguasa Orde Baru, bahkan makanan utama mereka, sagu, turut dimusnahkan. Seperti yang dikisahkan oleh Pak Pram  bahwa di Pulau Buru ternyata ada seorang bisu yang bisa bernyanyi.

 

BAHAN BACAAN

Ananta Toer, Pramoedya, 1995. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Jilid I, Catatan-catatan dari Pulau Buru, Lentera, Jakarta, 319 p.

—————————–, 1997. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Jilid II, Catatan-catatan dari Pulau Buru, Lentera, Jakarta, 310 p.

Direktorat Bina Masyarakat Terasing, 1985. Kehidupan dan penghidupan masyarakat terasing Suku Rana di Pulau Buru dan usaha-usaha pembinaannya, Dirjen Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial RI, 25 p.

Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon, 1993. Studi Diagnostik HPH Bina Desa Hutan P.T. Gema Sanubari, Ambon, 161 p.

Grimes B. D. 1990. The Origin of the House and the Source of Life, Two Complementary Origin Structures in Buru Society in Halmahera Research and its Consequences for the Study of Eastern Indonesia in Particular the Moluccas, Royal Institut of Linguistics and Anthropology, International Workshop on Indonesian Studies No.5, Leiden, 16p.

————————-, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144p.

————————-, 1996. The Founding of the House and the Source Life, Two Complementary Origin Structure in Buru Society, in Origons, Ancestry and Alliance in James J.Fox and Clifford Sather (eds), Exploration in Austronesian Ethnography, Canberra.

Huliselan M. 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru, Maluku Tengah, Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222p.

Keith P., Vigneux E. et Bosc P. 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Monk K.A., de Fretes Y. & Reksodiharjo-Lilley G., 1997. The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. The Ecology of Indonesia Series Volume V, Periplus Editions, Singapore, 966 p.

Pattinama, Marcus J. 1998. “Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron.” Pp. 100 in Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES). Paris: Université d’Orléans, Orléans.

————————. 2005. “Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen ” Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue “. Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle.” Pp. 354. Paris: du Muséum National d’Histoire Naturelle,.

————————-. 2005. Fakultas Pertanian dalam Pola Ilmiah Pokok Universitas Pattimura Bina-Mulia Ke Lautan. Makalah pada Lokakarya PIP Universitas Pattimura Ambon, 16p.

————————–. 2005. Etnobotani Bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan Hidup Orang Bupolo. Artikel dalam Majalah Ilmiah Pikom GPM, ASSAU, ISSN: 1412-7881, halaman 13-17.

————————-. 2005. Kearifan Lokal dan Pengentasan Kemiskinan di Pulau Buru. Artikel guna memperoleh Selo Soemardjan Award Tahun 2005. Selo Soemardjan Research Center, FISIP UI

————————-. 2005. Etnobotani Pulau Buru dalam Pembangunan Pertanian Kepulau-an Maluku Berwawasan Agribisnis. Buku Prosiding Lokakarya Nasional BPTP Maluku. Halaman 63-69.

————————-. 2006. JikaYesus Lahir di Bupolo. Artikel dalam Majalah Ilmiah Pikom GPM, ASSAU, ISSN: 1412-7881, halaman 9-12

Paulus, J. 1917. “Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie.” Tweede druk: 31.

 


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

[2] Goulag singkatan dalam bahasa Rusia « Glavnoïe Oupravlenie Laguereï » artinya « Menuju Tempat Penampungan (baca : kamp konsentrasi) ». Kamp konsentrasi Goulag disebut pula Kepulauan Goulag, dibangun di lahan terbuka yang sangat luas, tidak berpenghuni (kira-kira sebesar Pulau Borneo : Kalimantan + Serawak, Malaisia) di Rusia Utara-Timur (dulu : Uni Soviet). Sebenarnya Goulag telah dibangun sejak rejim Tsar dan dilanjutkan pada rejim Joseph Stalin hingga Brejnev dan baru dinyatakan dibubarkan pada rejim Perestroïka (Gorbachev). Kekuatan ekonomi Uni Soviet kala itu dibangun dengan memanfaatkan tenaga para tahanan yaitu mereka yang beroposisi dengan rejim berkuasa, para bandit kriminal dan pembunuh. Di Goulag, mereka harus menjalani kerja paksa untuk negara (baca : rejim berkuasa). Tentu banyak korban manusia yang mati sia-sia setiap harinya karena pekerjaan berat yang harus dijalani, kondisi sanitasi kamp konsentrasi yang sangat jelek dan suhu yang sangat dingin kadang mencapai -45° C saat musim dingin. Kerja paksa yang mereka lakukan merupakan sebagian sumbangan yang pada gilirannya menjadikan Uni Soviet sebagai negara adi-daya dan tandingan bagi Amerika Serikat, namun akhirnya kekuatan itu tumbang pada 1991 dan selanjutnya disebut Rusia.

 

ORANG BUPOLO DI WAEKEN

pulau-buru

Orang Bupolo di Waeken[1]

Oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[2]

Uraian singkat

1) Tulisan ini dikerjakan sebagai pemaparan ide dan pemikiran dalam suatu diskusi yang diselenggarakan oleh suatu lembaga swadaya masyarakat yang punya peduli ingin memberdayakan masyarakat di Pulau Buru, khususnya di selatan pulau tersebut. Di satu sisi, kami sangat menghargai maksud dan tujuannya karena memang masyarakat di sana sangat membutuhkan sentuhan program pembangunan agar mereka juga dapat merasakan pembagian kue pembangunan nasional yang juga setara seperti yang dirasakan oleh kelompok masyarakat lainnya di nusantara ini. Apalagi orang Bupolo pada umumnya hidup pada habitat di daerah pegunungan yang relatif sulit dijangkau untuk berkomunikasi. Sedangkan di sisi lain, kami ingin memberikan sebuah gagasan yang diperoleh berdasarkan pengalaman kami hidup bersama orang Bupolo selama kurang lebih dua tahun dalam rangka merampung studi kami dalam bidang ethnobotani.

2) Kami menggunakan terminologi orang Bupolo untuk menamakan masyarakat yang mengaku sebagai orang asli dan pemilik Pulau Buru. Istilah Bupolo sendiri adalah nama mula-mula dari Pulau Buru. Ada sejarah yang mengisahkan perubahan nama ini dan orang Bupolo mampu menceritakannya dalam cerita da bapoloh dan Bupolo Waekolo. Boleh disebut sebagai mitos tetapi yang paling penting sebagai peneliti adalah bobot pesan yang terkandung di balik kisah tersebut, sehingga analisis ilmiah terhadap masyarakat ini akan lebih lengkap dan utuh. Dengan begitu kita akan lebih memahami pikiran masyarakat dan kebijakan apa yang dapat diterapkan untuk lebih mendekatkan orang Bupolo berpartisipasi dalam program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Untuk itu kami putuskan menyebut masyarakat asli Pulau Buru sebagai orang Bupolo.

3) Pulau seluas 10.000 km² setara Pulau Bali, dahulu tiga kecamatan dengan administrasi pemerintahan dibawah Kabupaten Maluku Tengah. Kemudian hembusan angin reformasi menjadikannya Kabupaten Buru dengan ibukota Namlea. Kabupaten Buru saat ini terdiri dari 10 kecamatan di pesisir pantai dan direncanakan menambah lagi satu kecamatan untuk melayani administrasi pemerintahan di daerah pegunungan. Dan punya Bupati pertama (Hentihu = henatihu, yang terakhir, bongso) dari keturunan Raja Lisaboli Lisela.

4) Pengalaman kami hidup dengan orang Bupolo di sentral Pulau Buru yaitu di suatu tempat yang mereka sebut Rana lalen yaitu daerah seputar danau Rana Waekolo dimana terdapat danau itu sendiri dan Gunung Date. Kedua tempat yang sangat sakral ini dipelihara utuh karena disinilah letak jati diri orang Bupolo. Mereka yang tinggal di situ dengan jujur selalu mengatakan bahwa tempat ini adalah milik semua orang Bupolo, kami hanya sebagai penunggu bahkan orang pendatang yang telah menyebut diri sebagai orang Buru juga memiliki tempat ini, karena mereka turut berpartisipasi dalam memelihara kesakralan Rana dan Date. Istilah rana sebenarnya berarti telaga sehingga kalau kita menyebut danau rana sebetulnya mengandung arti « redundant ». Oleh sebab itu orang Bupolo selalu menyebutnya Rana saja atau Rana Waekolo. Melewati masa tinggal yang relatif panjang diantara kehidupan orang Bupolo, suatu ketika ada seorang pemangku jabatan adat (Mrimu Waekolo dan Porwisi Waekolo) datang berdiskusi dengan kami, tentunya menggunakan bahasa Buru yang telah kami terjemahkan seperti tertulis ini. Beliau mengatakan demikian : « Céciletama, kenapa orang di lao itu selalu mengatakan katong orang Buru ini kafir dan dorang bilang katong selalu jahat ». Kata sapaan dalam internal pergaulan sesama orang Bupolo maupun dengan orang luar yang sudah dianggap dekat dengan ritme pergaulan mereka maka istilah untuk menyapa orang akan menggunakan « tahin tama » artinya menyapa orang berdasarkan nama anak yang tertua kemudian diikuti kata tama untuk laki-laki dan tina untuk wanita, jadi karena anak kami yang tertua bernama Cécile, sehingga disapa Céciletama sedangkan istri kami akan disapa dengan Céciletina. Ini hanya baru satu aspek saja yaitu soal kata sapa-menyapa yang ingin kami kemukakan sebagai contoh dari pernyataan mereka di atas. Orang di lao berarti orang luar yaitu mereka yang pendatang baik yang sudah lama menetap maupun yang baru datang. Orang Bupolo menyebut kelompok ini dalam bahasa mereka adalah Geba misnit atau Geba nyosot. Jadi yang menarik bagi kami dan ingin disampaikan adalah bahwa orang Bupolo sangat mengerti apa reaksi orang luar tentang kehidupan mereka. Intinya bahwa sebenarnya orang luar mau menilai mereka dengan ukuran yang dipakai oleh orang luar padahal dan memang sangat paradoksal bahwa orang Bupolo sendiri memahami orang luar bukan dengan konsep mereka tetapi mencoba untuk menggunakan konsep orang luar tersebut dan memahaminya. Seperti kata « kafir » dan « jahat » adalah suatu kata yang menurut pandangan kami sudah menghakimi dan menyudutkan orang Bupolo. Seolah-olah kita mengganggap mereka sudah tidak manusiawi lagi bahkan bodoh. Kata-kata yang lain seperti terasing, pemalas, belakang tanah, alifuru … adalah kata-kata yang sering orang luar alamatkan kepada orang Bupolo.

5) Tidak hanya terbatas pada cara dan pandangan hidup orang Bupolo yang sama sekali tidak mau dimengerti oleh orang luar tetapi sampai pada cara mengolah sumberdaya alam yang mereka praktekkan misalnya sistem pertanian yang dikerjakan orang Bupolo. Kadang kita lupa bahwa apapun yang dikerjakan oleh seorang peladang atau petani adalah merupakan suatu keputusan yang rasional. Artinya bahwa kita harus memahami bahwa apapun sistem dan cara kerja yang dilakukan oleh orang Bupolo haruslah kita terima sebagai suatu keputusan yang rasional pula. Sebagai lembaga pendidikan tinggi katakanlah lembaga pendidikan tinggi pertanian sering kita juga tidak mampu memahami dan tidak mau memahami apa yang dikerjakan oleh peladang dan petani. Kita selalu berasumsi bahwa nanti kita yang datang untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada peladang atau petani. Sehingga metode kerja seperti demostrasi plot yang selama ini dianut oleh lembaga penyuluhan pertanian dan lembaga pendidikan tinggi pertanian adalah cerminan bahwa kita hanya memposisikan diri kita bahwa yang paling benar dan paling tahu. Kita lupa bahwa peladang dan petani mempunyai ketrampilan yang sangat luar biasa. Yang seharusnya kita belajar dari peladang atau petani kemudian mengkaji, menganalisis dan mengadakan penelitian ; baru setelah itu kita dapat memberikan rekomendasi yang tepat kepada peladang atau petani. Ini prinsip ilmiah yang ingin kami berikan sebagai pedoman kerja berdasarkan pengalaman kerja kami di Pulau Buru dan juga berdasarkan pengalaman kami selama bertahun-tahun mengikuti pendidikan, dimana perbandingannya kami juga peroleh dengan belajar bagaimana cara yang digunakan oleh Pemerintah Perancis dalam membangun masyarakat pada beberapa negara seperti negara-negara di Afrika, Korea Selatan, Thailand, India, Indocina, dan negara-negara di Amerika Selatan. Konsep barat misalnya R & D (Research and Development) menurut hemat kami sering salah diterapkan oleh para pakar di Indonesia (=mudah-mudahan kami tidak menghakimi). Ini suatu konsep yang sangat mahal karena harus melakukan penelitian yang mendalam baik mandiri maupun institusi. Mengapa kami katakan demikian karena bagi kita di Indonesia R&D ini kita pikirkan sebagai suatu proyek yang dapat mendatangkan keuntungan. Kami juga pikir ini ciri khas berpikir orang di Negara Berkembang dan itu juga suatu bagian dari cara berpikir yang rasional. Sehingga watak dan perilaku kita yang begini menjadi inferior dimata orang asing (=barat) dimana motivasi kerja mereka untuk hal yang satu ini sangat jauh berbeda yang ditampilkan oleh kita. Mengapa berbeda?, kami tidak banyak mengulas pertanyaan ini tetapi yang ingin kami tegaskan bahwa suatu penelitian adalah suatu penelitian saja. Dimana kegiatan dimaksud harus serius dilaksanakan.

6) Pada akhir dari kegiatan penelitian, peneliti mampu menyajikan suatu rekomendasi dan pihak yang paling banyak membutuhkan rekomendasi itu adalah pemerintah dan pihak swasta. Tugas pemerintah hanya satu yaitu membangun infrastruktur dan setelah itu baru pihak swasta yang diminta untuk berinvestasi. Ini suatu siklus yang sudah mapan berlangsung dan merupakan suatu sistem yang hanya dipraktekkan oleh Negara Maju. Jadi sistem mereka sudah seperti rangkaian roda gila. Sekarang bagaimana kenyataan di Negara Berkembang seperti Indonesia ini bahkan bagaimana di Pulau Buru ? Rangkaian itu belum tersusun sehingga kita harus bangun dan bagaimana caranya ? Menyimak apa yang ingin dikerjakan oleh Lembaga Pengabdian pada Masyarakat UNPATTI di Buru Selatan maka ingin kami usulkan bahwa alangkah bijaksana jika kegiatan tersebut dipusatkan di suatu tempat yang bernama Waeken. Untuk lebih jelas tentang lokasi dimaksud bisa dilihat pada peta yang kami sajikan berikut ini.

Peta-Pulau-Buru

Peta Pulau Buru dengan Waeken (Sumber peta: Pattinama, 2004)

7) Mengapa Waeken ? Kami pernah diundang oleh Klasis GPM Buru Selatan untuk memaparkan ide membangun masyarakat di Buru Selatan. Kami tidak tahu harus mulai dari mana. Saat Sidang Klasis kami mengajukan pertanyaan kepada 20 peserta tentang bagaimana pengalaman mereka berusaha untuk hidup dan dimana daerah yang baik untuk dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan pengembangan ? Akhirnya kami berupaya untuk membuat kuesioner yang sederhana agar mereka bisa mengisinya hanya untuk mengetahui tanaman apa yang telah mereka usahakan dan tanaman apa yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang? Mereka sepakat untuk Waeken ditetapkan sebagai titik pengembangan. Jadi lokasi itu ditentukan oleh mereka. Kemudian kami sendiri berinisiatif untuk datang ke Waeken dan hidup diantara masyarakat di sana. Waeken saat ini hanya dihuni oleh 10 rumah (Data primer tahun 2003). Setelah kami menelusurinya ternyata dahulu (sekitar tahun 1950-an) kampung ini dihuni oleh 100 lebih rumah. Dan ini kampung milik orang dari marga Biloro. Mereka terpaksa harus meninggalkan Waeken karena menurut cerita bahwa dahulu warga kampung ini terserang penyakit kutukan yang telah membunuh banyak orang. Penyakit itu berasal katanya dari Tuhan karena mereka pernah mengusir seorang pendeta yang berasal dari Ambon dan sebelum meninggalkan kampung ini pendeta tersebut berdoa. Untuk itu dalam pikiran mereka usir pendeta dan doanyalah yang membuat mereka sebagai orang-orang yang dikutuk. Bahkan Waeken dijadikan sebagai contoh dalam pelayanan misi gereja bahwa kalau usir pendeta akan dikutuk. Ini yang membuat posisi pendeta makin kuat sekali bahkan masyarakat akan lebih mendengar suara pendeta daripada seorang kepala adat. Nilai peradaban Kristen di Buru Selatan lebih dominan, namun demikian kalau kita hidup diantara mereka sedikit lebih lama maka tetap saja kita jumpai ada sekelompok orang yang tetap hidup mempertahankan tradisi dan adat orang Bupolo. Mereka sebenarnya beroposisi dengan misi gereja. Sikap mereka tidak terang-terangan menentang misi gereja, hanya diam dan tetap mengontrol sikap warganya agar tidak boleh melupakan tradisi dan adat walaupun telah menerima peradaban Kristen. Jadi mereka harapkan agar Waeken dapat dipulihkan kembali. Ini suatu kekalahan orang Bupolo dalam percaturan dengan peradaban baru. Saya sendiri tidak tahu apakah Klasis GPM Buru Selatan dapat mengerti situasi ini ?

8) Menuju Waeken hanya butuh waktu empat jam berjalan kaki dengan tidak terburu-buru dari Tifu melewati kampung Nusarua. Saat ini dengan bantuan fasilitas transportasi dari Perusahaan HPH yang bermarkas di Tifu maka dipastikan waktu akan lebih singkat untuk mencapai Weken. Dataran cukup luas dan di bagian belakang kampung melewati sebuah sungai (wae) masyarakat telah menyiapkan lahan untuk digunakan sebagai lahan usaha pertanian. Kami tidak tahu secara pasti berapa luasnya. Dari sungai (wae) tersebut kita dapat menemukan jenis udang air tawar yang cukup banyak dan Waeken sangat terkenal dengan udangnya. Daerah sekitar Waeken perlu mendapat sentuhan program penghijauan, dengan dataran yang relatif luas maka daerah tersebut bisa dijadikan tempat penggembalaan ternak. Di situ kami berpikir untuk diupayakan menjadi tempat pemeliharaan ternak kuda dan keledai kemudian suatu saat bisa didistribusikan kepada setiap warga yang mendiami kampung di daerah pegunungan karena dengan hewan tersebut pada masa depan dapat dijadikan sarana transportasi agar masyarakat di pegunungan bisa menggunakannya mengangkut hasil pertanian mereka ke pusat pemasaran. Kami sarankan agar tidak menggunakan istilah desa binaan. Suatu konsep yang menurut hemat kami dapat menimbulkan kecemburuan sosial terhadap yang lainnya. Artinya siapa yang dibina dan siapa yang menjadi penonton ? Waeken hanya dijadikan tempat penelitian ternak dan usaha pertanian. Agar semua penyuluhan pertanian dan peternakan dapat diselenggarakan secara terpusat di daerah tersebut. Dan program penyuluhan harus menggunakan masyarakat sebagai agen/penyuluh. Konsep penyuluhan dengan petugas penyuluh harus ditinjau lagi. Yang seharusnya terjadi adalah masyarakat harus dididik menjadi penyuluh bukan petugas dari instansi seperti konsep yang selama ini digunakan. Karena penyuluh tidak akan pernah tinggal di kampung dalam jangka waktu yang lama dengan masyarakat. Yang terjadi selama ini dia hanya datang untuk membagi bantuan dan brosur setelah itu pergi meninggalkan sasaran yang akan disuluh. Oleh karena itu kalau Buru Selatan mau dikembangkan maka kegiatannya tidak boleh terpisah dengan kegiatan Klasis GPM Buru Selatan, karena disitulah kekuatan untuk mengembangkan masyarakat. Pada tahap awal para perangkat misi gereja bisa dijadikan ujung tombak. Dengan demikian seluruh kegiatan di Waeken akan diselaraskan dengan kegiatan pelayanan gereja. Jika ini tidak terorganiser secara selaras maka bisa saja misi gereja yang dapat menghambat seluruh kegiatan lapangan dengan program-program yang mereka rancangkan. Misalnya suatu saat kita mendapat jawaban bahwa sibuk karena ada kegiatan ibadah dan rapat di gereja.

9) Program pemberdayaan. Ini suatu istilah yang kita jumpai dimana-mana sekarang ini. Seperti istilah revitalisasi pertanian yang dicetuskan oleh Presiden RI, SB Yudoyono. Akhirnya semua sektor seolah-olah ingin menggunakan istilah revitalisasi. Bagi saya ini latah. Kalau sektor pertanian benar-benar harus diberikan kembali energi yang baru (revitaliser) karena saat ini sektor pertanian memang gagal dan kegagalan itu bisa dilihat dengan meningkatnya orang miskin yang menggeluti sektor pertanian dan bencana kelaparan yang kronis. Mengapa ? karena infrastruktur pertanian yang lemah. Di Pulau Buru misalnya apakah program perberdayaan hanya datang dengan membagi bibit dan uang ? Ini tidak mungkin dan pasti kita akan melihat kegagalan kembali di masa yang akan datang. Orang di Pulau Buru tidak membutuhkan orang luar datang untuk mengajar mereka cara bercocok tanam yang baik karena itulah pekerjaan mereka. Yang harus dijalankan adalah kita mendorong pemerintah membangun pasar dan jalan. Dan untuk Pulau Buru ini sangat berat karena butuh dana yang besar, oleh sebab itu tahap sekarang ini kami lebih cenderung menyarankan gunakan terobosan dengan transportasi kuda atau keledai. Dan Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Unpatti hanya menciptakan terobosan dengan menghubungkan peladang atau petani di Pulau Buru dengan pusat pemasaran hasil pertanian. Jika ini tercipta maka peladang atau petani di Pulau Buru akan aktif untuk berusaha di sektor pertanian secara mandiri karena ada jaminan pasar hasil pertanian mereka. Menurut hemat kami disinilah inti dari pemberdayaan masyarakat. Kalau kita mampu memangkas jalur pemasaran yang tidak resmi dan merugikan orang Bupolo maka disitulah masyarakat akan diberdaya sebab ketidakberdayaan mereka hanya terletak pada tidak mampu menerobos jalur pemasaran yang dikuasi oleh mereka yang sebenarnya punya watak yang sama dengan koruptor kelas kakap. Permainan harga yang hanya mau melakukan barter dan timbangan yang tidak pernah dikontrol atau ditera oleh pihak Dinas Perdagangan (=bagian metrologi). Orang Bupolo pasti memerlukan dana produksi sehingga peranan lembaga keuangan non bank yang mengembang misi simpan pinjam harus diciptakan. Kalau bank akan sangat sulit mereka terobos sebab tidak ada jaminan yang dapat mereka berikan. Tanah mereka semua tidak ada sertifikat dan administrasi formal bank akan sulit mereka penuhi. Kami tidak menyebutnya sebagai koperasi sebab institusi ini juga sangat jauh dari konsep mereka. Entah apa nama yang cocok namun kami lebih cenderung menyebut sebagai lembaga non bank.

10) Demikianlah paparan ide yang singkat ini dan semoga bisa menjadi pertimbangan dalam kiprah lembaga swadaya masyarakat yang ingin membangun harga diri suatu kelompok masyarakat sehingga mereka mempunyai daya tawar-menawar dalam pergaulan dengan kelompok masyarakat lainnya. Semoga Kacang Buru, warahe (Arachis hypogaea L, Fabaceae), Hotong Buru, feten (Setaria itallica, Poaceae) dan Kentang Buru, mangsafut (Solanum tuberosum L, Solanaceae) dapat kembali mengangkat masa keemasan orang Bupolo seperti yang dicapai pada masa dulu. Orang Bupolo benar-benar kalah dalam pertarungan di abad moderen ini.



[1]  Sumbangan pemikiran ini disampaikan dihadapan kelompok diskusi lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada pemberdayaan masyarakat Bupolo, diselenggarakan di Ambon, 31 Januari 2006.

[2] Dosen program studi sosial ekonomi pertanian Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon dan Ethnobotanist dari Laboratoire Ethnobiologie-Biogéographie Muséum National d’Histoire Naturelle (MNHN) Sorbonne Paris, Prancis. Penerima penghargaan internasional Mahar SCHÜTZENBERGER tahun 2005 untuk penelitian di Pulau Buru, Maluku, Indonesia dari Institut Gaspard Monge, Université de Marne-la-Vallée, Perancis.

 

The Ethnobotany Of Traditional Agriculture And Agroforestry System Of The Geba Bupolo, Buru Island, Maluku, Indonesia

Max Marcus J. Pattinama

Faculty of Agriculture Pattimura University, Ambon, Indonesia

mjpattinama@gmail.com

Marthin G. Nanere

School of Bussiness, La Trobe University, Australia

 Apollo Nsubuga-Kyobe

School of Business, La Trobe University, Australia.

ABSTRACT

The paper discusses the balance of environmental and sustainable agiriculture with the focus on the use of river by community.  The research location  is in the area of settlement of the Geba Bupolo in Waekahitnangan, which is the name of the river. The finding suggests that this site (Waekahitnangan) has a strong historical relationship with the area of the origin around Mount Date and Lake Rana. The concept of environmental understanding is not only considered as a magical-spiritual thing, but also a source of life.

INTRODUCTION

Geographically, Maluku has a small land area (14%) spreading over relatively small total area. The land is often viewed in union with the sea. This is due to the fact that adat[1] rights (dati) can be applied not only for the land area, but also for the sea.

Generally, agroforestry system supports family incomes continuously without having to depend on income sources from single commodities. Certain groups of society in Maluku still practise the agroforestry system in their agriculture. This system is well-known as dusun in Ambon and Lease Islands. Other terms are used in different places such as lusun in Seram Island, and wasilalen in Buru Island. Under the wasilalen system, farmers grow mixed plants, including wild, domestic, and introduced plants in a single piece of land.

Interestingly, adat (social-cultural aspect) still plays important roles in many agricultural activities. The main reason that adat rights are still maintained is to protect personal and group rights to cultivate certain agricultural crops during certain periods of time.

This research covers both the ecological system of the geba Bupolo[2] and the semantic categorical system of plants. The geba Bupolo select certain commodities for their daily needs based on certain considerations, which depends on their ecological understanding and held traditions.

The ethnobotanic research is an interdisciplinary research which examines the ecological system of particular community groups, and at the same time attempts to understand their semantic categorical system of plants. Semantic category is used to express the kind of plant on the basis of language expression used in a particular community (Friedberg, 1993).

An ethnobotany expert will therefore deal with both traditional and modern culture.  Ethnobotanic research will improve the understanding of social and cultural systems of certain community groups, and help to understand social value hierarchies held by certain ethnic groups.

IDENTIFICATION OF THE BUPOLO PEOPLE

The term geba Bupolo in this study is suitably used to illustrate the original identity of the group studied, i.e. people originally from the area around Lake Rana, Buru Island.

The term geba Bupolo is used by people around Lake Rana to name their settlement and jurisdiction. The area around Lake Rana covers Mount Date, i.e. a mountain close to Lake Rana.

The geba Bupolo in this research include those not only living in the centre around Mount Date and Lake Rana, but also those living outside the centre, for example those living in the slope of the mountain and coastal area.

These people proudly call themselves the geba Bupolo since that name or term contains the greatness of their region. As a result, they do not have a special term to distinguish their groups from the others. However, within their own group, they have different noro (their interior name) and leit (their exterior name). The term noro is a lineage group of the geba Bupolo.

A unique characteristic of noro and leit of the geba Bupolo is that each noro uses one leit name, in Buru language. For example, noro Waekolo has a leit name: Waemese and noro Nalbesi has a leit name: Tomhisa. There are around 57 noro in Buru Island. This is indeed an identity which can be used to distinguish geba  Bupolo from newcomers, especially coastal dwellers and immigrants.  This identity also implies that Bupolo land belongs to geba Bupolo.

REVEALING THE STORY OF BUPOLO

The story of Bupolo or Buru Island cannot be separated from the sacred places it possesses.  The sacred places indicate worship places, respected by the geba Bupolo.  The most respected worship places are those in the area around Lake Rana, where the geba Bupolo live.  Area surrounding Lake Rana is considered to be the centre of Bupolo. Mount Date and Lake Rana are also considered sacred places.

The term date ahen (heart of Date) is a term used by only a certain group of people, i.e. those having a particular position in the structure of adat institution. This term is considered to be a koin (taboo) or pamali by Ambonese.  Ahen means breath, and the breath of life comes from the heart (poson).  Mount Date and Lake Rana are considered to give an identity story to the hierarchy of the geba Bupolo. It is clear that Mount Date and Lake Rana are also considered to give life (newen) and fertility (tuben) to the geba Bupolo.

RESEARCH METHODOLOGY

The analysis developed for this study are “from outside” which is focused on seeing characteristics and developing concept in the society, and “from inside” analysis which examined the relationship among correlated variables. Data collected consist of botanical aspects and social aspects, which are subsequently analysed in relation to the interdependence between human and agroecology.

The settlement area of the geba Bupolo in Waekahitnangan, Buru North-South regency, close to the transmigration area in Waeyapo plain was chosen for the research location. The Waekahitnangan[3] is the name of the river.

The purpose of this article is to show that this site (Waekahitnangan) has a strong historical relationship with the area of the origin around Mount Date and Lake Rana. The geba Bupolo were excluded from the area of origin since fifty years ago, and they were nomad in many places, and finally lived in the north-east of this island. However, their orientation about  Mount Date and Lake Rana, Buru North-West regency, remains the same. The capital is still in Aerbuaya (see map for details).

Interviews with local people, including some elders of the adat were undertaken to collect the plant data. Local plant names, the use of the plants and growing site were recorded and the herbariums were set up as a result.

AGRICULTURAL SYSTEM AND TRADITIONAL AGROFORESTRY

In Bupolo, a particular garden/field is normally cultivated by a group of people called hawa tabasat. This group consists of several families which are usually relatives. The agriculture system developed by the geba Bupolo was not a shifting cultivation, but a long fallow cultivation system with a period of 8 to 9 years. A hawa (garden) is fallowed after being cultivated for 3 – 4 years.  After a fallowed period of 8 to 9 years the field (called wasi) can be reopened as a new hawa.

 

pulau-buru

Figure 1.  Map of Buru Island.

The cultivation period does not occur all year round.  It was found that cultivation activities were carried out from mid July to the beginning of October.  Since their agriculture system is dependent largely on natural condition, it may change regularly.  The sign used for the beginning of agriculture activities in the hawa was emteda or lisa (Terminalia sp.,Fagaceae).  This means that hawa has to be ready prepared , i.e. opening new field or utilizing wasi field since the raining season is expected to come during that period of time.

 

In relation to a garden field (hawa), several terms may be used for identification as stated below:

Humalolin

Humalolin (huma=house, lolin=circle) is a small residential area or hamlet, where one noro from the same lineage group (bialahin) live, consisting of three to five houses only.  Behind the houses (humamori), there is a development of a garden of fruit trees, such as coconut, mango, pineapple, papaya and bananas. In addition, pigs (fafufena) and local chicken are also raised in here.  Pigs have a high social value in the life of the geba Bupolo.  A pig is also served in every ritual ceremony to the ancestor.  No garden exists in front of houses.

Hawa Fehut

Hawa fehut (hawa=garden, fehut=new) is a newly-cultivated garden whose yields have not been harvested. Thus, the term hawa fehut is used for a field during the period since land clearing, planting, until the first harvesting. Crops grown in hawa fehut are warahe (Arachis hypogaea Linn, Fabaceae), feten (Setaria itallica, Poaceae), and hala (Oryza sativa, Poaceae).

Hawa

Hawa is a garden which has been harvested.  The term hawa fehut is no longer used after the first harvest. The term hawa is usually used for garden in general. There are hawa hala (field of rice), hawa magat (field of Ipomoea batatas, Convolvulaceae), and hawa kasbit (field of cassava, Manihot esculenta Crantz, Euphorbiaceae).

Hawa wasi

Hawa wasi is the term used for a garden which has been cultivated for several years, and is about to be fallowed. Yields have declined, and therefore this field is likely to be abandoned.  However, its products (such as bananas, pineapple, and cassava) can still be harvested.

Wasi

The term wasi is used for a field/garden which has been fallowed for several years.  The geba Bupolo like to call it wasa-wasi. There are some perennial crops which they still cultivated, which include nakan (Arthocarpus integraifolia, Moraceae), nakan dengen or campada (Arthocarpus champeden, Moraceae), waplane (Mangifera indica L.Anacardiaceae), hosi roit (Citrus nobilis Lour.Rutaceae), hosi hat (Citrus grandis L. Osbeck, Rutaceae), kopi (Coffea spp. Rubiaceae), warian (Durio zybethinus, Murr., Bombaceae), biafolo (Arenga pinnata, Arecaceae), pala (Myristica fragrans Houtt., Myristicaceae) and cengkeh (Eugenia aromatica O.K., Myrtaceae). After a wasi is left or fallowed for 8 to 9 years, it can be reopened as a new cultivation field/garden again but the geba Bupolo usually tend to protect some perennial crops.  The field belonged to the geba Bupolo is called wasilalen (see Figure 2 and 3).

pulau-buru-cengkeh

Figure 2.  A wasilalen and the geba Bupolo conserved cengkeh (Eugenia aromatica O.K.).

A new field that is just reopened on the previous garden is called nogit hawa (nogit=to cut a tree of a middle size).  In cultivation a new field /garden, the geba Bupolo are also familiar with the term latak which is used to name the activity of cutting trees of middle sizes, especially in field/garden from wasilalen.  This activity is a second activity of forest clearing for cultivation field/garden after bush clearing/pioneering.

Tahak is used to name an activity of cutting larger-sized trees. This is usually carried out for opening field/garden from secondary forest area, where large trees are found. In this tree-cutting activity, ladders are usually established beside large trees if higher parts of the trees are difficult to cut.

The clearing of primary forest into a cultivation field/garden is usually accompanied by an adat ceremony which is conducted before the commencement of clearing activity.

pulau-buru-arenga

Figure 3.  A wasilalen where we see that the geba Bupolo reopened field and they conserved for example biafolo (Arenga pinnata).  The geba Bupolo will plant warahe (Arachis hypogaeae Linn) as the primary plant in their agricultural activities.

The field/garden adat mentioned is strongly related to the process of opening new field/garden established from a primary forest area. This field/garden adat is concerned with several adat ceremonies related to field/garden cultivation processes. These processes started from selection/ownership of forest area/lands to harvesting. The adat consists of restricting adat (sihit), cutting adat (latak/tahak), burning adat (pefak), harvesting adat (degen) and offering adat (tema).

 

CONCEPT OF ENVIRONMENTAL UNDERSTANDING

The settlement area of the geba Bupolo in Waekahitnangan, prior to resettlement by the Indonesian government, was identified as a remote area in the interior locations of forest.  The space of their movement was unlimited since they live in a wide and free nature.

Considering that their distribution was not concentrated in a certain location, their activities to exploit their natural environment are carried out according to the needs of members.  Meanwhile, it is clear that the bearing capacity nature does not increase to balance their activities which have taken place from generation to generation.

The Geba Bupolo are certainly familiar with boundaries of their zones which become the object of their activities in their environment. This is where they establish signs and names.  Types of zones that they are familiar with include huma elen (former residential areas), huma lolin (hamlet), hawa (cultivation field/garden), wasi (former cultivation fields which are being fallowed), gelan lalen (cajuput “Melaleuca leucadendron” forest area), mua lalen (secondary forest area), mua lalen emkelet (hunting area), and iwang (primary forest).

Technological system in the live of the geba Bupolo is developed in harmony with their agricultural activities as their family income source. Todo (chopping knife), nhero (spear), and gomi (axe) are three majors’ tools to deal with forest products. The two tools (todo and gomi) can be purchased in the market from after the sale of their agricultural products.

In addition, they are familiar with household tools such as plates, cups, spoons, and other kitchen utensils, which are used by general community.  All those tools/utensils can also be obtained from the market.

To get energy source for cooking, woods obtained/collected from the forest around them were collected.  A house for the geba Bupolo is a place for protection from ever changing natural conditions, i.e. rain and sun heat.

These people have been familiar with a more proper function of a house.  This is reflected by the construction of their buildings.  In general, their houses are not completed with a windows and living rooms. There is only one separated room from the others, which is used for the couple (husband and wife). This room is separated by bark weavings from the biahut (Shorea sp, Dispterocarpaceae). Materials for building houses consist of bialahin (Metroxylon sagou., Arecaceae ) leaves for roofing and biahut bark for the walls. The floor is usually made of soil.

Similar to the geba Bupolo living in the centre of island around Mount Date and Lake Rana, the geba Bupolo living in Waekahitnangan lives in harmony with the natural environment. Their ways of living include hunting and cultivating. The wood gathering for house-building and for cooking are supplied by the forest around them, without destruction of natural environment. It is clear that the environmental conservation is well integrated with their daily lives.

The geba Bupolo settling in the Buru North West still maintain their strong identity as compared to those living in the other region (South Buru and North-East Buru). This is due to the fact that in South Buru there are many areas of forest exploitation (HPH = Hak Pangusahaan Hutan).

The geba Bupolo consider nature as not only a spiritual/magical thing but also beneficial source for their life. Forests, natural environment and cultivation field/garden are considered as beneficial aspects in reality. With good gardening skill and knowledge as well as hard work, the garden will yield sufficient foods for them.

 

KNOWLEDGE AND PLANT RESOURCE UTILISATION SYSTEM

This section reviews the knowledge of the geba Bupolo about plants and plant utilization in their daily lives. There are certain plants utilised the geba Bupolo by which their scientific name have not been identified, thus their local names are used.

The knowledge system about plants is very important for their survival. Their knowledge level is certainly different from other tribes. The difference depends upon vegetation environment surrounding the location of their settlement. The knowledge about plants utilization develops in accordance to the development of the culture and knowledge about processing and cooking plant materials.

The geba Bupolo classifies plant world simply into two groups, i.e. the useful and useless plants. The useful plants, based on their utilization in daily life, consist of those used for food, house construction, clothing, domestic and agricultural tools, weaving, tools for ceremonial and social events, medicines, cosmetics, drinks and arts. Anthropology experts in 19 century and the beginning of 20 century have stated that there are eight types of utilization of plants as tools and cultural elements by small nomadic and rural agricultural society, i.e. production tools, weaponry, containers, fire production, food-drink delicacy, clothing and ornaments, housing-protection, and transportation means (Purwanto and Waluyo, 1992).

The result of observation on the utilization of useful plants by the geba Bupolo in Waekahitnangan village recognises 165 kinds of plants. The categories of utilization of plants consist of food containers and food wrapping (3 kinds), traditional medicines (52 kinds), house construction materials (50 kinds), foods (52 kinds), adat ceremonies (7 kinds), roping (14 kinds), wild types (24 kinds), cigarette paper (4 kinds), firewood (24 kinds), fish poisons (2 kinds), hunting baits (2 kinds), glue material (1 kind), hand crafting materials (5 kinds), fire production (1 kind), and gardening tools (2 kinds).

For certain types of plants such as rattan (uwa), the geba Bupolo recognize 8 kinds of rattan, identified based on the shapes of leaves and spines. They recognise 8 kinds of bamboo, distinguished on the basis of internodes and leaf shapes. There are 9 kinds of mushrooms recognised; among which only one is not edible (utan kafana), while the other 8 kinds are consumable as food. The mushrooms are identified by their colour and habitats, i.e. rotting stumps.

CONCLUSIONS

The geba Bupolo have been familiar with inhabitants of coastal areas, and have left the tradition of their origin. Thus, they now wear clothes and are familiar with norms held by general communities, such as those norms regulating their relationship with nature and environment, despite a traditional concept.

The concept of environmental understanding is not that environment is only a magical-spiritual thing, but rather it is a source of their life. The harmony between their life and the environment can be seen from their knowledge about the utilization of plants, in which 165 are recognised by them.

The land available for each family should be sufficiently large. However, the land size that can be cultivated is only between 0.5 – 1 hectare. This is mainly grown with horticultural crops, such as peanut, leafy vegetables and fruits. Their incomes are relatively small mainly due to lack of bargaining power. The agricultural practices of the geba Bupolo are not shifting cultivation but long fallow cultivation with a period of 8 to 9 years.

 

REFERENCES

Departemen Kehutanan RI, 1992, Manual Kehutanan: Sistem-sistem Agroforestry Tradisional di Indonesia, p.5-12.

Friedberg Claudine, 1979, Sur l’agriculture Timoraise et ses possibilités de développement (A propos de Man and environment in Eastern Timor de Joachim K.Metzner). JATBA XXVI-1, Laboratoire d’Ethnobotanique et d’Ethnozoologie, MNHN, Paris, pp.73-83.

Friedberg Claudine, 1993, Ekologi, Taxonomi, Metode Penelitian Ethnobotani, Bahan Kuliah Umum di Universitas Pattimura Ambon, 3-16 Februari 1993, Ambon.

Friedberg Claudine, 1996, Forêts tropicales et populations forestières ; quelques repères. Nature, Sciences, Sociétés  N°4(2), Elsevier, Paris, pp.155-167.

ICRAF, 1989, Agroforestry System, an International Journal, Kluwer Academic Publisher, Vol. 8, No. 3.

Michon Genevieve, et al, 1992, Complex Agroforestry System in Sumatra, BIOTROP, Bogor.

Michon Genevieve, 1992, Village, Forest, Gardens in West Java, Institut de Botanique, Montpellier, France.

Pattinama Marcus Jozef, 1998, Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques-Indonésie : Mode de subsistance et exploitation du Melaleuca leucadendron, Mémoire DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés, ETES, l’Université d’Orléans, France, 100p.

Purwanto Y, dan Eko B. Waluyo, 1992, Etnobotani Suku Dani di Lembah Baliem Irian Jaya, Prosiding Seminar Etnobotani.

Purwanto Y, dan Eko B. Waluyo, 1992, Sistem Pertanian Tradisional, Pemahaman Lingkungan dan Pemanfaatan Sumberdaya Tumbuhan oleh Masyarakat Dani di Lembah Baliem, LBN-Bogor.

Whitmore TC, IGM. Tantra, and U. Sutisna, 1989, Tree Flora of Indonesia Check List for Maluku, Forest Research and Development Centre, Bogor-Indonesia.


[1] Original term originates from Arab language, meaning social-cultural aspect

[2] Geba=people, Bupolo=Buru Island.  The geba Bupolo is the native people in Buru Island

[3] wae=water, kahit=dust, nangan=estuary

LES BUMI LALE DE L’ĪLE DE BURU (MOLUQUES – INDONÉSIE)

Gestion du milieu et exploitation du Melaleuca leucadendron L.

Marcus J. PATTINAMA

L’INTRODUCTION

1. Présentation du terrain de recherche : l’île de Buru dans l’archipel des Moluques en Indonésie

L’Indonésie est le plus grand archipel du monde. Elle a un climat tropical et elle se trouve stratégiquement entre les continents d’Asie et d’Australie, entre l’océan Indien et l’océan Pacifique. En fait l’Indonésie et une nébuleuse de 17.000 îles émiettées sur 5.000 kilomètres. Le nombre de provinces en Indonésie est de 27. Les Indonésiens avec une population d’à peu près 200 millions représentent le quatrième pays du monde après la Chine, la Russie et l’Inde.

D’après le découpage administratif Indonésie, l’archipel des Moluques constitue le vingt-cinquième province. Aux Moluques, il y a un millier d’îles dont des containes rentent anonymes. La population est de 2.094.700 habitants. Les îles principales sont Halmahera, Seram, Wetar, Tanimbar, Kei et Buru base de mon étude sur le terrain.

Historiquement, les Européens sont venus aux Moluques pour faire le commerce des clous de girofle (Eugenia aromatica) et de la noix muscade (Myristica fragrans). D’abord les Portugais en 1512 puis les Hollandais en 1599. D’après Rhumpius (1744) « Het Amboinsche Kruid-book » : c’est la sagesse de Dieu qui donne la richesse à chaque pays et qui a fait pousser les girofliers aux Moluques.

 

2. Présentation du périmètre de la recherche

L’île Buru est une grande île parmi les îles Moluques. Pour la période coloniale, il y a peu d’informations sur cette île et en particulier sur les autochtones qui occupent la partie montagneuse, très isolée et hors de protée.

En outre dans la période post coloniale, en 1966, le gouvernement Indonésien a décidé que le nord de cette île serait un lieu de relégation pour les prisonniers politiques. A cause de cela, on peut dire que cette île est restée fermée à l’activité de recherche et que la communication avec l’extérieur était plus difficile pour les autochtones.

A la fin des années 70, le gouvernement Indonésien a déclaré l’amnistie de tous les prisonniers puis a décidé un programme national de transmigration de Javanais, et une distribution de terres pour les anciens prisonniers politiques.

La surface de l’île Buru est de 10.000 Km² et le plus haut sommet culmine à environ 1.200 mètres. Les mois pluvieux (décembre, janvier, février, mars et avril) sont marqués par une moyenne mensuelle de 22 mm minimum à 293 mm maximum. La température annuelle moyenne est de 25ºC à 27º. Le climat de Buru est rélativement sec par rapport aux autres îles des Moluques.

Au sud et à l’ouest, l’île est limitée par la mer de Banda, au nord par la mer des Moluques, à l’est par la mer de Seram. D’après le découpage administratif, le territoire de Buru appartient au département des Moluques du Centre et il est divisé en Buru du nord et Buru du sud. La particularité du Buru est que l’om y cultive ni le giroflier ni le muscadier mais que les autochtones exploitent depuis longtemps le cajeput (Melaleuca leucadendron L.) qui produit une essence odorante exportée pour une usage médicinal ou en parfumerie.

Les habitants de Buru peuvent être regroupés en trois ensembles :

(a) Les autochtones de l’île : ils se considerent comme alifuru, c’est-à-dire « les premiers hommes dans cette l’île ». Le mot alifuru d’après Paulus (1917) vient de la langue de l’Halmahera du nord : halefoeroe, c’est-à-dire « terre dans la forêt dense ». Les Halmahera du nord parlent souvent des ‘o halefoeroeka ma nyawa’ c’est-à-dire des gens venant de la forêt. Le mot alifuru est aussi utilisé par les gens qui habitent sur la côte pour designer des hommes qui viennent de la montagne. Ce mot désigne aussi les hommes n’appartenant pas à une des grandes religions. Eux-mêmes se désignent comme les Bumi Lale parce qu’ils sont originaires de la région isolée du lac de Rana qu’ils appellent Bumi Lale, c’est-à-dire « la grande terre ». Le lac de Rana se trouve au centre de l’île Buru. De ce territoire, les autochtones se sont dispersés dans toutes les directions. Les autochtones qui habitent dans Buru du sud ont eu beaucoup de communications avec les groupes extérieurs, par des marriages et grâce aux facilités de transport, étant près de la côte.

(b) Le deuxième groupe est formé des immigrants qui viennent de faςon spontanée. Ils sont venus de diverses régions d’Indonésie, par exemple des Javanais, des Butonais, des Bugis, des Sulas, des Bandanes et des Keis. Ils s’appellent les Buru. Généralement ils sont installés sur la côte.

(c) La troisième groupe est formé des hommes qui viennent dans le cadre du programme de transmigration du gouvernement.

Lorsq’on parle des Bumi Lale, on peut distinguer les Bumi Lale de l’intérieur et les Bumi Lale de l’éxterieur. Les Bumi Lale de l’intérieur habitent dans un périmètre soumis à des régles coutumières et considéré comme un térritoire sacré (koin). Ce territoire comprend la région limitrophe du lac de Rana et la montagne de Date. Ces lieux sont pour les Bumi Lale une région chargée de sens parce qu’ils pensent que le premier homme y est né. Pour cette raison ils s’opposent à toute installation d’immigrants sur cette partie du territoire.

Les Bumi Lale de l’éxterieur occupent le reste de l’espace. Ils sont originaires des mêmes maisons que les Bumi Lale de l’intérieur. Ils sont censés s’être installés autour de la région centrale pour protéger celle-ci. Ainsi pour parvenir chez eux, il faut franchir plusieurs portes (sufen) constituées par des villages (humalolin) qui eux-mêmes protègent des lieux sacrés appelés seget. Les seget sont des bois qui sont interdits de coupe et qui abritent des objets ayant appaetenus aux ancêtres.

Lors de mon premier terrain (trois mois), j’ai choisi d’étudier plus particulièrement le groupe habitant le village de Waekahitnangan. Jadis les Bumi Lale changeaient souvent d’habitat. A la fin des années 70, le gouvernement instauré un programme national de regroupement des autochtones isolés. En général dans ce programme, le gouvernement détermine seul le lieu de résidence et ne choisit pas avec les autochtones le lieu plus propice pour eux. En fait, le gouvernement choisit un lieu de résidence près de la côte pour simplifier la communication entre les Bumi Lale et de l’éxterieur. Mais les Bumi Lale ont pensé que ce lieu était trop éloigné des jardins ou de forêt de cajeputier (Melaleuca leucadendron L.). Ce programme n’a pas réussi et ils ont abandonné leur maison et sont repartis dans la forêt. Le gouvernement a alors changé la stratégie du programme de sédentarisation et consulté les Bumi Lale pour déterminer la meilleure localisation. Un des lieux choisi pour les Bumi Lale de l’extérieur a été fixée à Waekahitnangan situé à 27 km de la côte. Les Bumi Lale ont accepté ce lieu et le programme du gouvernement. Même si, les Bumi Lale veulent bien participer au développement, ils souhaitent conserver leurs coutumes et leur culture.

 

3. Problématique

Dépuis que j’ai commencé  mon travail dans l’île Buru dans le cadre du programme national de regroupement des Bumi Lale, notamment dans le village de Waekahitnangan, je m’intéresse aux relations qu’ils entretiennent avec leur environnement. Dans le cadre de mon mémoire pour le DEA-ETES, mon objectif est de traiter certains aspects de ces relations cocernant uniquement les Bumi Lale du nord qui occupe un territoire appelé fena Lisela incluant le village de Waekahitnangan mais également d’autres villages et plus particulièrement ceux situés autour du lac Rana :

(a) Les rapports entre les droits d’usage sur le territoire et ses ressources et l’organisation sociale des Bumi Lale.

(b) Les rituels liés à l’agriculture et à l’exploitation de la flore et de la faune sauvage.

(c) Les données liées au cajeputier, à la fabrication et la commercialisation de son essence.

Pour cette étude, j’utiliserai des données du Docteur Mus Huliselan (Rapport de recherche : Les Bumi Lale et leur environnement : organsation et changement social dans l’île Buru, 1988) et celles que j’ai moi-même recueillies sur le terrain. Mais auparavant il était nécessaire de rassembler et d’analyser la documentation existante.

Pou, r cela, j’ai effectué des recherches à Paris (en particulier à la bibliothèque  de l’UPR 262 ERASME-CNRS à l’Ecole des Hautes Etude en Sciences Sociale, au Laboratoire d’Ethnobiologie-Biogéographie Muséum National d’Histoire Naturelle) et aux Pays-Bas (en particulier à l’Université et l’Herbier à Leiden, au Tropen Muséum à Amsterdam à l’Université d’Agriculture à Wageningen).

 

LA SYNTHESE DE LA BIBLIOGRAPHIQUE

La recherche documentaire a porté sur differents thèmes :

1. Histoire des Bumi Lale, organisation sociale, organisation du terri-toire et droits d’usage sur la terre et ses ressources.

Pour le sujet traité, il est important de savoir quelles sont les régles d’utilisationdu territoire et comment s’etablissent les droits d’usage. Pour cela, il faut commencer pour comprendre comment se répartir la population et avoir une idée sur l’organisation sociale traditionnelle et ses éventuelles modifications actuelles.

Peu de recherches ont été effectuées sur le centre de l’île de Buru, autour du lac Rana, région sur laquelle porte mon étude, mais il m’a semblé important de rechercher la documentation pouvant éclairer l’histoire des Bumi Lale et de leurs contacts avec l’extérieur. En effet, le terme Alifuru par lequel ou les désigne indique qu’ils étaient connus et que, sans doute grâce au commerce, ils avaient des rapports avec le sultanat de Ternate qui prélevait des tribus sur toute la région.

Pour comprendre l’histoire et l’organisation sociale des Bumi Lale, il faut distinguer les informations contenues dans leurs mythes telles qu’elles ont été recueillies par divers chercheurs et les données historiques datant de l’époque coloniale.

Le premier ouvrage où l’on parle de l’intérieur de l’île de Buru est celui d’un Allemand Martin (1894) dans lequel il indique le lac Rana qu’il appelle Wakollo. J’ai ensuite trouvé un rapport écrit par le pasteur Schut (1912) qui explique comment les Bumi Lale vivaient harmonieusement autour du lac Wakollo en exploitant le sagoutier qu’ils utilisaient comme nourriture de base, ils se sont séparés en deux groupes (fena) à la suite d’une guerre à propos de la répartition de cette ressource. C’est ainsi que le fena Masarete occupe le sud et que le fena Lisela reste dans le centre et le nord de l’île.

Huliselan (1988) a recueilli  un autre mythe dans lequel l’île de Buru est appelée Bupolo. Elle est assimilée à un homme en position couchée d’ouest en est avec la montagne le plus haute de Buru Kapalamada comme tête et celle de Batabual comme pied. La rivière Waemala est le bras droit au sud et celle de Waenibe le bras gauche au nord. La montagne de Date et le lac Rana qui est à côté constitue le centre (pusen) et le territoire autour le corps (niman).

Les deux groupes fena ont pour rôle de protéger la région ontre les influences extérieur. Au fena Masarete considéré comme l’aîné est confiée la région sud avec la montagne Batabual et la rivière Waemala. Au fena Lisela, considéré comme le cadet revient le rôle de gardien du nord là où se trouve la tête avec le mont Kapalamada et le centre de l’île avec le lac Rana. Les membres du fena Lisela sont pour cela gardien de la tradition et des relations aux morts avec le bras gauche de l’île que constitue la rivière Waenibe qui prend sa source dans le lac Rana. Par contre, les Masarete aînés vivant sur le bras droit, sont en relation avec l’extérieur.

D’après Schut (1912), un butonais nommé Hade qui s’est réfugié dans une grotte après un naufrage épouse une femme du fena Masarete. Il va vivre sur la côte et ils deviennent chrétiens.

Avec l’arrivée des Portugais, en 1512 est fondé un troisième fena : le fena Kayeli. Pour l’administration coloniale hollandaise, l’île était d’abord divisé en 13 regenxchap, ayant à leur tête des chefs appelés : Sangadji, Patti, et Orang kaija. Ces regenschap ont été ensuite réduit à huit (Huliselan, 1988).

Après l’indépendance, pour l’administration indonésinne l’île de Buru appartient aux Moluques du centre. Elle est divisée en trois parties :

- Buru du nord-est avec la capitale Namlea

- Buru du nord-ouest avec la capitale Air Buaya

- Buru du sud avec la capitale Leksula

Mais pour comprendre les droits d’usage sur le territoire, il faut s’apputer sur l’organisation originelle mais en tenant compte des ambiguités dues aux différents découpages administratifs et aux habitudes coloniales.

Si le lac Rana s’appelle Wakolo sur les cartes anciennes, c’est parce qu’il se trouve sur un territoire dépendant du groupe lignager qui porte ce nom. Un tel groupe est appelé noro par les Bumi Lale et soa dans le langage courant général aux Moluques. En outre, comme l’a montré Grimes (1996), il existé un « nom de famille » (du hollandais fam) utilisé pour désigner le noro à l’extérieur.

Dans la structure des Bumi Lale, l’organisation sociale peut être décrite suivant deux systèmes soit en fonction de l’aspect généalogique soit en fonction de l’aspect territorial (Huliselan,1988). Le terme fena désigne à la fois un groupe humain et le territoire que celui-ci occupe. Il correspond à différents niveaux d’organisation territoriale :

- Le village humalolin

- Le territoire occupé par un noro

- Le territoire dépendant d’un Matgugul, terme originaire de Ternate

(Fraassen,1987 in Grimes, 1990) désignant le raja tanah, c’est-à-dire

le « roi de la terre »

- L’ensemble du territoire de fena Lisela

Le fena Lisela contient deux Matgugul :

- Le matgugul Wakollo qui est à l’est du lac Rana, le titre appartenant

au noro Wakollo

- Le matgugul Nalbesi qui est à l’ouest du lac Rana, le titre appartenant

au noro Nalbesi.

Chaque matgugul comporte quatre noro. Actuellement, chaque village comporte plusieurs noro. De plus les membres d’un même noro peuvent être dans plusieurs humalolin ou village, appartenent à l’un ou l’autre des matgugul ou même dans le fena Masarete. D’après les informations recueillies par Huliselan (1988), jadis les villages étaient formés par les membres d’un seul noro et ils étaient établis autour du lac Rana. Mais par la suite les membres de ces noro se sont dispersés de plus en plus loin.

Chaque Bumi Lale appartient au noro de son père et les noro sont des unités exogames. La cellule familiale formée d’un couple est appelée humanati. La famille étendue comprenant la descendance de ce couple leurs enfants, les épouser des fils et leurs enfants s’appelle humalalen. Tous les membres d’un même noro descendant d’un ancêtre commun forment un bialahin ce qui signifie sagoutier (bia=sagou et lahin=arbre). Un noro est formé de plusieurs bialahin et les membres d’un même bialahin peuvent aussi être répartis sur tout le territoire. Tous les descendants des premiers Bumi Lale qui se trouvaient autour du lac Rana ont les même sur l’ensemble de l’île. Le résultat de leur dispersion au niveau territoriale est que théoriquement un Bumi Lale peut ouvrir un jaedin (hawa) dans n’importe quelle partie du territoire. Cependant après l’avoir cultivée trois ans, le défricheur garde un droit d’usage sur la parcelle qui ne peut être utilisée par d’autres. Ce droit d’usage se transmet à ses fils. Les grands jardins (hawa) éloignés des maisons sont prépares et cultivés de faςon collective par des groupes de cinq à six hommes qui n’appartiennent pas forcement au même noro.

Les Bumi Lale pratiquent l’agriculture sur brûlis. Un jardin abandonné s’appelle wasi et il reste sans être cultivé entre six à huit ans, si bien que le diamètre des arbres ne depasse pas 25 à 30 centimètre et les espèces forestières n’ont pas le temps de s’implanter. Un signe fait avec des feuilles, appelé sihit, indique que la parcelle est déjà utilisée par un groupe et ne peut l’être par un autre.

 

2. Système d’exploitation du territoire : pratiques agricoles, cueillette et chasse

Actuellement c’est seulement autour du lac Rana que les Bumi Lale continuent à utiliser le sagou comme nourriture de base.

En effet c’est uniquement là que les sagoutiers sont suffisamment abondants. Ces formations sont spontanées. Comme ailleurs aux Moluques sans doute existe-t-il autour de lac Rana plusieurs espèces ou variétés de Metroxylon (Purnama et Prahasto, 1984 in Suharno, 1997). Mais aucune recherche n’a été faite sur les sagoutiers de Buru. A Waekahitnangan c’est le manioc qui est utilisé pour préparer la nourriture de base appelée aussi papeda comme pour le sagou, ce qui indique une introduction relativement ancienne.

La céréale cultivée traditionnellement par les Bumi Lale est le Setaria italica qui est sans doute arrivé dans l’Indonésie de l’est avant le riz que les Bumi Lale cultivent aussi. Ce phénomène se retrouve dans d’autres îles des Moluques (Barraud et Friedberg, 1996).

J’ai recherché une documentation sur l’origine et la diffusion du Setaria italica en Asie du Sud-Est à partir de la chine (de Wet et al, 1979 ; Metailie et al, 1981 ; Chang, 1983 ; Naciri et Belliard, 1987). Quand les Bumi Lale ouvrent un nouveau jardin il faut d’abord semer du Setaria italica et des arachides qui ont été sans doute introduites par les Portugais au début des relations commerciales avec l’Amerique du Sud.

Ces premiers semailles sont accompagnées de rituels sous la responsabilité du chef coutumier du noro Wakollo, le gebapuji. En plus du manioc les Bumi Lale cultivent d’autres tubercules : taros, ignames et patates douces. Ils cultivent aussi des légumes : l’utantangko (Ipomoea aquatica), le solansi (Ocimum basilicum) et le sawi (Brassica chinensis).

Parmi la flore spontanée en dehors du cajeputier les Bumi Lale exploitent du damar d’Agathis et différentes espèces donnant du bois d’oeuvre. Il y a également huit types de rotin reconnus par les Bumi Lale. Actuellement des entreprices ont obtenus des permis du gouvernement pour exploiter ces bois d’oeuvre et le rotin et la forêt est très menacée. Cette forêt est aussi importante pour les Bumi Lale parce qu’en dehors des poulets qu’ils élèvent. Elle est leur seule source de viande. En effet les Bumi Lale chassent souvent, leur gibier est constitué de sangliers, de cerfs et de kuskus.

 

3. L’Exploitation du cajeputier

a) Identification botanique du cajeputier

C’est Georgius Everhardus Rumphius naturaliste d’origine Allemande et agent de la compagnie Hollandaise des Indes Orientales, à Ambon aux îles Moluques, qui le premier parla de ce qui allait devenir le genre Melaleuca dans son ouvrage « Herbarium Amboinense » (1744-1755). Sur les planches et dans le texte de son travail, Rumphius désigne les actuels Melaleuca sous les noms de Arbor Albamajor et Arbor Albaminor. Cependant il est difficile de savoir s’il s’agit de deux espèces différentes. En effet les diverses espèces de Melaleuca présentent des types biologiques de végétation très variables et offrent chez la plupart des espèces, de curieuses adaptations xérothermiques, rappelant les divers faciès végétation de la flore australinne.

Le nom Melaleuca leucadendron s.l. (sensu lato) est appliqué tantôt à un arbre de grande taille et tantôt à un arbuste nain, il se refère à un complexe de 10 espèces éntroitement apparentées comprenant : Melaleuca leucadendron L, Melaleuca cajeputi Powell, Melaleuca viridiflora Sol.ex Gaertn. et Melaleuca quinquenervia (Cav) ST Blake (Brinkman et Xuan, 1991). Ces arbres sont dispersés sur plusieurs continents et sous des climats différents, mais sont sans conteste originaires de l’Asie du Sud-Est et de l’Océane (Panouse-Perrin, 1955).

On les rencontre à l’état spontané en Australie, en Nouvelle Calédonie, à Tahiti, en Indonésie et aux Philippines. Etant donné la variabilité de ces espèces, tous les auteurs ne sont pas d’accord sur leur identification. D’après Brinkman et Xuan (1991), l’espèce que l’on trouve à Buru serait Melaleuca leucadendron, alors que celle de Nouvelle Caledonie serait Melaleuca quinquenervia.

De culture facile ces arbres sont remarquablement resistants y compris aux incendies se qui permet la préservation des forêts, ils poussent rapidement mais ont une durée de vie assez brève de l’ordre de 20 à 30 ans (Bonne, 1991). Des spécemens originaires de Buru ont été transplantés à Java et Sumatera. Mais la qualité de leur essence est moins bonne que celle extraite des Melaleuca de Buru (Soepardi, 1953).

 

b) Caractéristiques du Melaleuca leucadendron du point de vue écologique

Les arbres appartenant au complexe Melaleuca leucadendron s.l. sont adaptés au climat tropical et subtropical (Brinkman et Xuan, 1991). On rencontre ces arbres dans des milieux très variés :

- Il semble que le milieu le plus favorable soit celui des zones maré-

cageuses ou saumàtres.

- Ils s’adaptent aussi aux terrains secs bien drainés jusqu’à mille mè-

tres environ.

Ils poussent généralement dans des formations secondaires sur des sols pauvres. Ils contituent des peuplement purs. Odum (1971) in Siregar et Djaingsastro (1986), souligne que le Melaleuca a un caractère « alellopathe » c’est-à-dire qu’il produit des substances chimique qui empêchent d’autres plantes de pousser autour. Ceci explique que dans les formations de cajeputier il n’y a pas d’autres végétaux qui poussent.

Le Melaleuca crôit rapidement et particulièrement adapté aux sols acides, salés et secs. Les Melaleuca sont des arbres toujours verts. Dans certain cas, le Melaleuca sensible à des champignons (Cylindrocladium macrosporum et Cylindrocladium pteridis) qui se développent sur les feuilles et les fut dépérir.

Si on remarque qu’il a une étonnante vigueur végétative (il rejette la souche très facilement et même des racines restées en terre après arrachage de l’arbre) et des propriétés ignifuges excep-tionnelles, on comprend son développement : l’homme medt le feu aux herbes et aux bois, les flammes et la chaleur dégagent une partie du terrain et le Melaleuca, présent dans les marécages et quelques savanes en zone très sèches, résistant aux feux, prend la place libérée. Chaque année, les incendies libérent de plus en plus de terrain et les graines de Melaleuca, sous l’action de la chaleur des incendies, germent d’autant mieux et d’autant plus vite.

Des mesures montrent que les Melaleuca supportent de grandes variations de pH entre la saison des pluies. Au voisinage de terrains inondés, le Melaleuca pousse dans un sol à pH 3 en saison sèche et à pH 6 en saison humide. Au Vietnam, le sol couvert de Melaleuca est composé de sulfate acide de pH moins 4 en saison sèche. La valeur du pH en sous sol diminue et passe d’un pH 4 à 7 (Brinkman et Xuan, 1991).

A Buru, le Melaleuca leucadendron s.l. pousse au dessus de 900 mètres d’altitude. En Nouvelle Calédonie, le Melaleuca pousse au dessus de 1000 mètres, mais on en trouve aussi, quoique moins dense, à basse altitude. D’après Brinkman et Xuan (1991), dans certaines régions, on trouve des Melaleuca au dessous de 500 mètres, par exemple à Java, en Australie, et à Hawaii.

 

c) Technique de fabrication de l’essence

Les indigènes utilisaient les Melaleuca bien avant l’arrivée des Européens, non pour leur bois qui est un matériau de valeur médiocre, mais pour leurs écorces et leur feuilles. L’écorce qui gonfle dans l’eau est utilisée pour faire des joints entre les planches dans la construction des bateaux. Elle est aussi employée comme joints par confectionner les cuves dans les quelles ont met les feuilles qui servent à faire l’essence de cajeput. Ces feuilles sont utilisées fraîches et le dispositif pour la distillation est installé à proximité des formations de cajeputier.

Ce dispositif rudimentaire est confectionné par les Bumi Lale. Il consiste en une cuve posée sur un four fait de pierres et de terre, la fond de cette cuve est constituée par une grande poêle concave en fonte qui est en contact direct avec le feu. La cuve est en planches attachées avec des rotins et rendue étanche par les joints en écorce de Melaleuca. Au dessus il y a un couver cléen bois, maintenu fermé par de grosses pierres, en son centre se trouve une piece de cuivre cylindrique et fermé de la quelle sort un tuyau par lequel s’échappent les vapeurs de cajeput qui vont se refroidir dans une autre cuve remplie d’eau située au-dessous. A sa base un petit tuyau permet de recueillir l’essence qui est mise dans des bouteilles.

Toutes les cuves sont de même dimension et contiennent 62,5 kilogramme des feuilles ce qui fourni 4,5 bouteilles d.un litre (Soepardi,1953). Les Bumi Lale se regroupe par sept ou neuf pour entreprendre une opération de distillation. Généralement chaque personne re,plir deux cuves de feuilles et récupère ainsi neuf bouteilles d’essence. Un jour est nécessaire pour distiller une cuve ce qui demande une grande quantité de bois. Trois jours de récolte sont nécessaire pour remplir de feuilles une cuve. Il s’agit de feuilles jeunes d’arbres âgés entre six mois et un an. L’arbuste ne meurt pas et on pourra à nouveau prélever des feuilles jusqu’à ce que l’arbre deviennent trop vieux pour donner une bonne essence. Il est donc nécessaire de disposer toujours de jeunes poussses.

Les Bumi Lale ont-ils développé des pratiques permettant de favoriser de nouvelles pousses ? D’après les données recueillies dans la documentation sur le fait que le feu favorise la repousse du Melaleuca tout en empêchant l’installation d’autres espèces on peut supposer que les Bumi Lale utilisent cette pratique favorisant ainsi l’extension du Melaleuca.

 

d) Commerce de l’essence

Les Bumi Lale vendent l’essence de cajeput qu’ils fabriquent à des commerςants chinois de Namlea. Ces derniers la revende à d’autres commerςant chinois d’Ambon qui la transporte jusqu’à Surabaya. En général le prix payé aux Bumi Lale est compris entre de 7.000 et 15.500 roupies la bouteille. Ce prix dépend du poids spécifique de l’essence de cajeput. Le prix à Ambon est supérieur de 2.000 roupies. Le prix à Surabaya est encore supérieur de 3.000 roupies à celui d’Ambon.

Le commerce de l’essence de cajeput est ancien et certainement antérieur à l’arrivée des Portugais et des Hollandais. Sans doute se faisait-il par l’intermédiaire du sultanat de Ternate. Il constitue actuellement le seul revenu financier des Bumi Lale.

 

CONCLUSION

La documentation bibliographique n’a pas fourni de données plus précises sur l’organisation traditionnelle des Bumi Lale. Une analyse plus approfondie des données recueillies par moi-même et par Huliselan permettra de mieux comprendre la répartition du territoire entre les différents groupes de Bumi Lale non seulement pour l’agriculture de subsistance mais aussi pour la collecte des feuilles de cajeput qui constitue leur seule source de revenu. Sur ce dernier point une confrontation entre les caractéristiques écologique, les capacités de régénération du Melaleuca, la répartition des formations à Melaleuca et l’implantation des villages nous permettra peut-être de mieux comprendre l’histoire de l’implantation des Bumi Lale dans l’île de Buru. Le rôle du Setaria italica comme céréale archaïque devra aussi être analysè.

Il faudra aussi voir quel est le rôle de la forêt primaire dans la vie des Bumi Lale à travers les pratiques de chasse et l’utilisation du sagou comme nourriture de base. Ceci permettra de mesurer l’impact du développement des exploitations forestières sur l’avenir des Bumi Lale.


LISTES DE REFERENCES

1. ALLEN, B. M., 1971. Gelam, in : Common trees of Malaysia and Singapore, Singapore : Eastern Universities Press : 52-53.

2. ANANTA TOER, Pramoedya, 1995. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Jilid I, Catatan-catatan dari Pulau Buru, Lentera, Jakarta, 319 p.

3. ANANTA TOER, Pramoedya, 1997. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Jilid II, Catatan-catatan dari Pulau Buru, Lentera, Jakarta, 310 p.

4. AUBAILE-SALLENAVE Françoise, 1987. Bois et bateaux du Viêtnam, (Ethnosciences, n° 3), Paris : SELAF, 184 p.

5. AUMEERUDDY Yildiz, 1994. Représentations et gestions paysannes des agroforêts en périphérie du Parc National Kerinci Seblat à Sumatra, Indonésie, (Peuples et plantes, Document de travail n° 3), Paris : UNESCO, 46 p.

6. BAHUCHET Serge, 1985. Le Piégeage, in : Serge Bahuchet (Dir.), Les Pygmées Aka et la forêt centrafricaine, Collection Ethnosciences, LACITO, Paris : 283-298.

7. BAHUCHET Serge et PUJOL Raymond, 1975. Etude ethnozoologique de la chasse et des piéges chez les Isongo de la forêt centrafricaine, in : L’homme et l’animal, 1er colloque d’Ethnozoologie, Inst. Int. Ethnosciences, Paris : 181-192.

8. BAPPEDA TINGKAT I MALUKU, 1996. Studi Pengembanga Wilayah Dengan Basis Kegiatan Tanaman Pangan dan Perkebunan di Pulau Buru. Penelitian bekerja sama dengan Pusat Penelitian Pengembangan Wilayah dan Kota ITB Bandung, 100 p.

9. BARRAU, Jacques, 1962. Les plantes alimentaires de l’Océanie : Origines, distribution et usages, Thèse, Faculté des sciences de Marseille. 275 p.

10. BARRAUD, Cécile, 1979. Tanebar Evav: Une société de maisons tournée vers le large, Cambridge U.P. et Maison des Sciences de l’Homme, Paris, 282 p.

11. BARRAUD, Cécile, 1990. Wife-Givers as Ancestors and Ultimate Values in the Kei Islands, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 146 (2/3) : 193-225.

12. BARRAUD, Cécile, 1996. Etre en relation. A propos des corps a Tanebar-Evav (Kei, Indonésie de l’est), in : Maurice Godelier et Michel Panoff, La production du corps, Editions des archives contemporaines, Amsterdam : 229-248.

13. BARRAUD, Cécile, PLATENKAMP, J.D.M., 1990. Rituals and the Comparison of Societies, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 146 (1) : 103-123.

14. BARRAUD, Cécile and FRIEDBERG, Claudine, 1996. Life-Giving Relationships in Bunaq and Kei Societies, in : Signe Howell (Ed.), For the Sake of Our Future (Sacrificing in Eastern Indonesia), Research School CNWS, Leiden, The Netherlands : 374-383.

15. BERQUE, Augustin, 1993. Environnement planétaire et paysage, Natures Sciences Sociétés, 1 (3) : 194-199.

16. BETSCH, Jean-Marie, et al, 1995. Changes in Edaphic Factors and microarthropod communities after clearing and burning in a tropical rain forest in French Guyana. Finnish Zoological and Botanical Publishing Board, Finland : 142-145.

17. BOHM C. J. MSC, 2001. Brief Chronicle of the Unrest in the Moluccas 1999 – 2001. Crisis Centre Diocese of Amboina Indonesia, Ambon, 176 p.

18. BOISSIERE Manuel, 1999. Ethnobiologie et rapport à l’environnement des Yali d’Irian Jaya (Indonésie). Thèse de Doctorat de l’Université de Montpellier II, Montpellier, 456 p.

19. BONNE Françoise, 1991. Les Melaleuca, Phytotherapie 1 : 4-5.

20. BRINKMAN W.J. and Vo-Tung XUAN, 1991. Melaleuca leucadendron ; a useful and versatile tree for acid sulphate soil and some other poor environments, The international tree crops journal 6 : 261-274.

21. BUBANDT Nils, 1996. The political economy of resource management: timber estates in Halmahera. Paper presented at the Fourth International Maluku Research Conference Ambon (9-13 July 1996), 14 p.

22. BUSNAWI Ibrahim et al., 1969. Tanah di Dataran Waeyapo Pulau Buru, Departemen Pertanian, Lembaga Penelitian Tanah, Bogor, 36p.

23. CHANG Te-Tzu, 1983. The origins and early cultures of the cereal grains and food legumes, in : David N. Keightley (Ed.), The Origins of Chinese Civilization, Studies on China 1, University of California Press, : 65-94.

24. CHARRAS Muriel, 1982. De la forêt maléfique à l’herbe divine (la transmigration en Indonésie : les Balinais à Sulawesi), Editions de la Maison des sciences de l’homme, CNRS., Paris, 341 p.

25. CHARRAS Muriel et Marc PAIN (Eds.), 1993. Spontaneous Settlements in Indonesia : Agricultural pioneers in Southern Sumatra, Paris : ORSTOM-CNRS/Jakarta : Departemen Transmigrasi RI.

26. CHERRIER J.F, 1981. Le niaouli en Nouvelle-Calédonie (Melaleuca quinquenervia S.T. Blake), Revue Forestière Française : XXXIII (4) : 297-311.

27. CHEVALIER Auguste, 1927. Le Melaleuca leucadendron : sa répartition géographique et ses produits, Revue de Botanique Appliquée et d’Agriculture coloniale, 7 (67-68-69) : 175-183, 262-272 et 325-332.

28. CLARENCE-SMITH William Gervase, 1998. The Economic Role of the Arab Community in Maluku (1816 to 1940), in : Indonesia and the Malay World, vol.26, CARFAX Publishing Australia : 33-49.

29. COIFFIER, Christian, 1993. Diversité des techniques de séparation du sagou de son support, dans la province du Sépik-est (Papouasie Nouvelle-Guinée), Technique et culture, 22 : 1-35.

30. COIFFIER, Christian, 1999. Le sagou fermenté dans la région du Sepik (Papouasie), in : Nicole Stauble Tercier et Isabelle Raboud-Schule (dir.), Ferments en folie, Alimentarium, Vevey : 101-105.

31. COMMITTEE ON SELECTED BIOLOGICAL PROBLEMS IN THE HUMID TROPICS, 1982. Ecological aspects of development in humid tropics, National Academy Press, Washington D.C. : 157-175.

32. COPPET Daniel de, 1968. Pour une étude des échanges cérémoniels en Mélanésie, L’homme, Revue française d’anthropologie, 10-12 : 45-57.

33. COPPET Daniel de, 1981. The life-giving death, in : S.C.Humphreys and Helen King (eds.), Mortality and immortality: the anthropology and archaelogy of death, Academic Press, London : 175-203.

34. COPPET Daniel de, 1995. ‘Are’are society : a Melanesian socio-cosmic point of view. How are bigmen the servants of society and cosmos? in : Daniel de Coppet and André Iteanu, Cosmos and Society in Oceania, Berg. Oxford, 30 p.

35. CORAL, 1992. Atlas Gerardi Mercatoris in 1613, Revista da Fundacâo Austronésia Borja da Costa 3 Dezembro.

36. DEPARTEMEN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, 1975. Daftar Nama Pohon-pohonan di Maluku Utara dan Selatan. Bagian Botani Hutan, Lembaga Penelitian Hutan, Bogor.

37. DEPARTEMEN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, (diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dari Heyne K, 1950, De Nuttige Planten van Indonesie), Badan Litbang Kehutanan RI, Jakarta : 1529-1535.

38. DESCOLA Philippe, 1986. La nature domestique : symbolisme et praxis dans l’écologie des Achuar. Maison des sciences de l’homme. Fondation Singer Polignac Paris, 450 p.

39. DEVIN Chaumont, 1969. Buruese Dictionary. Typed manuscript, unpublished, 93 p.

40. DEVIN Chaumont, 1984. A Buru-English dictionary, Typed manuscript, unpublished, 268 p.

41. DE WET J.M.J., et al, 1979. Origins and Evolution of Foxtail Millet (Setaria italica). JATBA XXVI (1) : 53-64.

42. DIREKTORAT BINA MASYARAKAT TERASING, 1985. Kehidupan dan penghidupan masyarakat terasing Suku Rana di Pulau Buru dan usaha-usaha pembinaannya, Dirjen Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial RI, 25 p.

43. DONO Tommie dan PERSULESSY Yan E, 1997. Babi Rusa ; Unik dan khas dari Pulau Buru. in : Bulletin Pancaroba, Departemen Kehutanan RI. : 92-97.

44. DUMONT Louis, 1975. Dravidien et Kariera; l’alliance de mariage dans l’Inde du sud et en Australie, Textes de sciences sociales 14, EHESS, Mouton Editeur, La Haye, Paris, 151 p.

45. ELLEN Roy F., 1988. Ritual, Identity, and the Management of Interethnic Relations on Seram, in : Henry J.M. et al. (ed.), Time Past, Time Present, Time Future; Perspectives on Indonesian Culture, Foris Publications n°131 : 117-135.

46. ELLEN, Roy F. 1996. Individual strategy and cultural regulation in Nuaulu hunting, in : Roy Ellen and Katsuyoshi Fukui (eds.), Redefining nature: ecology, culture and domestication, Oxford : Berg : 597-635.

47. ELLEN Roy F. and HARRIS Holly, 1999. Embeddedness of indigenous environmental knowledge, in : Cultural and Spiritual Values of Biodiversity, UNEP, Intermediate Technology Publications, Nairobi : 180-184.

48. ETESSE M, 1910. Le niaouli, Essai d’agronomie. Augustin Challamel, Paris : 28-33.

49. FAKULTAS PERTANIAN UNIVESITAS PATTIMURA AMBON, 1993. Studi Diagnostik HPH Bina Desa Hutan P.T. Gema Sanubari, Ambon, 161 p.

50. FOGG Wayne H, 1983. Swidden Cultivation of Foxtail Millet by Taiwan Aborigines: A Cultural Analogue of the Domestication of Setaria italica in China, in : David N. Keightley (ed.), The Origins of Chinese Civilization, Studies on China 1, University of California Press : 95-115.

51. FORBES Henry O, F.R.G.S., 1885. A Naturalist’s Wanderings in the Eastern Archipelago, A Narrative of Travel and Exploration from 1878 to 1883. Part V: In the Island of Buru. New York Harper & Brother (Reprinted by Oxford University Press 1989) : 393-411.

52. FOUCAULT Bruno de, 1987. Essai de formalisation de l’ethnobotanique, JATBA, XXXIV : 31-45.

53. FRIEDBERG Claudine, 1974. Agricultures timoraises, Etudes Rurales, 53-56 : 375-405

54. FRIEDBERG, Claudine, 1979. Sur l’agriculture Timoraise et ses possibilités de développement (A propos de Man and environment in Eastern Timor de Joachim K. Metzner), JATBA, XXVI (1) : 73-83.

55. FRIEDBERG, Claudine, 1982. Muk Gubul Nor, la chevelure de la terre, les Bunaq de Timor et les plantes. Thèse de doctorat d’Etat ès lettres et sciences humaines. Université Paris V. 5 tomes. 1857 p.

56. FRIEDBERG Claudine, 1987. Corps animal, corps social, ou le partage des os dans quelques populations des petites îles de la Sonde, in : Des animaux et des hommes, Musée d’ethnographie, Neuchâtel : 63-86.

57. FRIEDBERG, Claudine, 1993. Commentaires, Natures Sciences Sociétés, 1 (3) : 200-201.

58. FRIEDBERG, Claudine, 1994. Compte rendu du livre: Les sentiments de la nature. (Sous la direction de Dominique BOURG), Natures Sciences Sociétés, 2 (2) : 182-183.

59. FRIEDBERG, Claudine, 1996. Forêts tropicales et populations forestières : quelques repères, Natures Sciences Sociétés, 4 (2) : 155-167.

60. FRIEDBERG, Claudine, 1999. Les droits de propriété intellectuelle : le point de vue d’une anthropologue, Natures Sciences Sociétés, 7 (3) : 45-52.

61. FRIEDBERG, Claudine, 2002. L’anthropologie face à la question de l’appropriation de la biodiversité : la biodiversité est-elle appropriable ?, in : Franck-Dominique Vivien (Ed.), Biodiversité et appropriation, les droits de propriété en question : 163-176

62. GRIMES Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

63. GRIMES Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

64. GRIMES Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

65. HOLTTUM R.E, 1954. Flora of Malaya, Vol. 2 : Fern of Malaya. Government Printing Office, Singapore.

66. HUKUNALA E., 1997. Perjuangan Rakyat Buru Selatan Melawan Penjajah Jepang, Yayasan Fuka Bupolo, Ambon : 7-10.

67. HULISELAN Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

68. IFHENDRI dan RIZAL Achmad H.B, 1998. Kajian Sosial Ekonomi Penyuling Minyak Kayu Putih, Pola Manajemen dan Sistem Tata Niaga di Kecamatan Buru Utara Timur, Pulau Buru, Maluku, Buletin Penelitian Kehutanan III (2), Balai Penelitian Kehutanan Manokwari, Irian Jaya : 1-19.

69. INTARI Sri Esti and Y.A. Priyatna Wiraadinata, 1984. A Trial Prevention of Termite Attack on the Cayuput (Melaleuca leucadendron) Using Insecticides and Sanitation Method at Gundih, Central Java. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Bogor, 11p.

70. JEPSON Paul et al, 1995, Conserving Indonesian Biodiversity : The Endemic Bird Area Approach. Jakarta : Bird Life International Indonesia Programme.

71. JUILLERAT Bernard, 1996. Le sagou dans une société de Papouasie, Nouvelle-Guinée, in : Marie-Claire Bataille-Benguigui et Françoise Cousin (Eds.), Cuisines reflets des sociétés. Sépia, Musée de l’Homme, MNHN : 45-55.

72. KEITH Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

73. LEE Ching-Kuo, 1998. A new norlupene from the leaves of Melaleuca leucadendron, Journal of Natural Product 61 : 375-376.

74. LESSON P, 1839. Voyage autour du monde : entrepris par ordre du gouvernement, sur la corvette la coquille. Chapitre XVIII. Séjour à Caïéli ou Cajéli, île de Bourou, l’une des Moluques (du 23 septembre au 1er octobre suivant). P. Pourrat Frères éditeurs, Paris : 131-176.

75. LEVANG P. and FORESTA H. de, 1991. Economics Plants of Indonesia. ORSTOM and SEAMEO BIOTROP, Bogor. 180 p.

76. LEVI-STRAUSS Claude, 1949. Les structures élémentaires de la parenté, in : Claude-Daniele Echaudemaison, Dictionnaire d’économie et de sciences sociales, Editions Nathan, 1996 : 178-179 et 476-477

77. LOUHENAPESSY J.E., 1992. Kondisi Tanah di Pulau Buru, Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon.

78. LOUHENAPESSY J.E., 1992. Potensi Sagu dalam Penganekaragaman Bahan Pangan Pokok Ditinjau dari Persyaratan Lahan, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 99-106.

79. LOUHENAPESSY J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

80. MARSUDI Djamal, 1971. Laporan Pertama dari Pulau Buru. PT.Intibuku Utama, Jakarta, 25 p.

81. MARTIN K., 1894. Reisen in den Molukken : in Ambon, den Uliassern, Seram (Ceram) und Buru. Editions E.J. Brill, Leiden : 171-377.

82. MASINAMBOW E.K.M, 1987. Halmahera dan Raja Ampat Sebagai Kesatuan Majemuk ; Studi-studi Terhadap Suatu Daerah Transisi, Buletin LEKNAS LIPI II (2) / 1983, Terbitan Khusus, Jakarta, 479 p.

83. METAILIE Georges et al, 1981. Données préliminaires pour la réintroduction et la culture du millet Setaria en France, JATBA, 28 (3-4) : 309-328.

84. MICHON Geneviève, 1993. Village-Forest-Gardens in West Java, in P.A. Huxley (Ed.) / Plant Research and Agroforestry, ICRAF, 24p.

85. MICHON Geneviève, 1993. Gestion des ressources naturelles: la voie agroforesterie indonésienne. Arbres, Forets et Communautés Rurales, 5 : 28-36

86. MICHON Geneviève et al, 1992. Complex agroforestry systems in Sumatra. Communication presented in BIOTROP Bogor, Lokakarya Sumatra: Lingkungan dan Pembangunan 16-18 september 1992, 9 p.

87. MONK K.A., DE FRETES Y. & REKSODIHARJO-LILLEY G., 1997. The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku. The Ecology of Indonesia Series Volume V, Periplus Editions, Singapore, 966 p.

88. NACIRI Y. et J. BELLIARD, 1987. Le Millet Setaria italica une plante à redécouvrir. Etude bibliographique, JATBA 34 : 65-87.

89. NAMBAR Prastowo, 1973/1974. Laporan Peninjauan Usaha Minyak Kayu Putih di Maluku. Departemen Teknologi Kimia ITB. Laporan Tenaga Ahli Minyak Eteris. Disusun oleh Sekretariat Proyek Pembinaan Kerajinan Rakyat, Direktorat Jenderal Perindustrian Ringan dan Kerajinan Rakyat, Bandung, 28 p.

90. PANOUSE-PERRIN J, 1955. Propos d’actualité sur les Melaleuca, Bois et forets des tropiques 43 : 21-26.

91. PATTINAMA Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100p.

92. PAULUS J., 1917. Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie. Tweede druk, : 31.

93. PEETERS Alice, 1979. Nomenclature and Classification in Rumphius’s Herbarium Amboinense, in : Roy. F. Ellen and David Reason, Classifications in their social context, Academic Press, London : 145-166.

94. PLATENKAMP J.D.M, 1988. Myths of life and image in northern Halmahera, in : Henry J.M. et al. (Eds.), Time past, time present, time future : perspective on Indonesian culture. Foris Publications (131) : 148-167.

95. PUIG Henri et al, 1994. Recherche en agroforesterie: quelques exemples pris dans les tropiques humides, Natures Sciences Sociétés 2 (2) : 168-173.

96. PURWANTO Yohanes, 1997. Gestion de la biodiversité : relations aux plantes et dynamiques végétales chez les Dani de la vallée de la Baliem en Irian Jaya, Indonésie. Thèse de Doctorat de l’Université Paris VI, Paris, 2 tomes, 638 p.

97. RECLAIRE A. et D.B. SPOELSTRA, 1930. Over de cineolbepaling in kajoepoetih-olie. Berichten van de Afdeeling Handelsmuseum van de Kon. Vereeniging Koloniaal Instituut, No.54, Druk J.H. de Bussy, Amsterdam, 8 p.

98. ROUE Marie, 2003. ONG, peuples autochtones et savoirs locaux : enjeux de pouvoir dans le champ de la biodiversité, in : Les ONG et la gouvernance de la biodiversité, n° de Revue internationale des sciences sociales, 178 : 597-600.

99. ROUE Marie et NAKASHIMA Douglas, 2002. Des savoirs « traditionnels » pour évaluer les impacts environnementaux du développement moderne et occidental, in : Les savoirs autchtones, n° de Revue internationale des sciences sociales, 173 : 377-388.

100. RUMPHIUS Georgius Everhardus, 1741. Het Amboinsche Kruid-book (Herbarium Amboinense).

101. SCHUT J.A.F, 1909. De laatste berichten van Boeroe. Uitgave van de Utrechsche Zendingsvereeniging. J. van Boekhoven, Utrecht, p. 33.

102. SCHUT Joh. A.F, 1912. Boeroe-Idylle. Zendeling Leeraar der U.Z.V. op het Eiland Boeroe. Uitgave van het zendingsbureau, oegstgeest, 55 p.

103. SETIAWAN Hersri, 2003. Aku Eks-Tapol. Galang Press Yogyakarta, 466 p.

104. SIREGAR Chairil Anwar et al., 1986. Penanaman Mahoni (Swietenia macrophyla) dan Lamtorogung (Leucaena leucocephala) Sebagai Usaha Perbaikan Tanah Kritis di Bawah Tegakan Kayu Putih (Melaleuca leucadendron). Buletin Penelitian Hutan, Departemen Kehutanan RI, Jakarta : 21-33.

105. SOEPARDI R., 1953. Perusahaan Minyak Kayuputih. Rimba Indonesia No.1-2 Tahun II, diterbitkan oleh: Persatuan Minat dan Ahli Kehutanan, Jakarta : 431-474.

106. SPOELSTRA D.B. Dr, 1929. Onderzoekingen over bamba-olie en kajoepoetih-olie. Berichten van de Afdeeling Handelsmuseum van de Kon. Vereeniging Koloniaal Instituut, No.41, Druk J.H. de Bussy, Amsterdam, 7 p.

107. SUHARNO Dyah Maria W., 1997. Représentation de l’environnement végétal et pratiques agricoles chez les Alune de Lumoli, Seram de l’Ouest (Moluques centrales, Indonésie de l’Est). Thèse de Doctorat de l’Université Paris VI, Paris, 454 p.

108. SUHARNO Dyah Maria W. et FRIEDBERG Claudine, 1996. Gestion de la biodiversité dans les Kwesie : friches, jachères des Alune de Seram de l’Ouest (Moluques centrales, Indonésie de l’Est), in : Biodiversité : friches et jachères n° spécial JATBA, 38 (1) : 105-129

109. SUHARNO Dyah Maria W. et FRIEDBERG Claudine, 2003. Enjeux autour de la gestion des ressources : le rôle des ONG face à la nouvelle loi d’autonomie locale en Indonésie, in : Les ONG et la gouvernance de la biodiversité, n° de Revue internationale des sciences sociales, 178 : 635-637.

110, SUHARTI Mieke, 1980. Gall desease on cayeput (Melaleuca leucadendron) leaves at Ponorogo, Madiun. Lembaga Penelitian Hutan, Bogor, 13 p.

111. TAPOL BULLETIN, 1976. The Prison State. British Campaign for the Release of Indonesia Political Prisoners, n° 1 July, 20 p.

112 TURUKAY B, 1986. The Role of the Sagopalm in the Development of Integrated Farm System in the Maluku Province of Indonesia, in : Proceeding of the third International symposium, Tokyo : 7-15.

113. VALENTIJN Fr, 1724. Oud en Nieuw Oost Indien, Vol. 1, Part 2, Amsterdam : Dordrecht.

114. VALERI Valerio, 1990. Autonomy and heteronomy in the Kahua ritual (A short meditation on Huaulu society), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) 146 (1) : 56-73.

115. VAN BOEKHOVEN J., 1909. De Laatste Berichten van Boeroe, Utrecht, 30 p.

116. VAN LEUR J.C., 1984. Indonesian trade and society. Essays in Asian social and economic history. Foris Publications : 89-289.

117. VAN STEENIS C.G.G.J., 1948. Flora Malesiana, Vol. 1-10. Walter Noordhoff Groningen.

118. VAN STEENIS C.G.G.J., 1987. Checklist of generic names in Malesian Botany (Spermatophytes). Flora Malesiana Foundation, Leiden.

119. VISSER L. E., 1988. The elder and the younger. Dual Opposition and a Hierarchy of Values, in : Henry J.M. et al. (Eds.), Time Past, Time Present, Time Future: Perspective on Indonesian Culture. Foris Publications n° 131, Holland and USA : 136-147.

120. WALUJO Eko Baroto, 1988. Les écosystèmes domestiques par l’homme dans l’ancien royaume Insana-Timor (Indonésie). Thèse de Doctorat de l’Université Paris VI, Paris, 267 p.

121. WEINER Annette B., 1976. La richesse des femmes (ou comment l’esprit vient aux hommes), îles Trobriand, Editions du Seuil, Paris, 286 p.

122. WEINER Annette B., 1992. Inalienable Possessions, The Paradox of Keeping-While-Giving, University of California Press, California, 232 p.

123. WESTPHAL E. and JANSEN PCM, Plant Resources of South-East Asia (PROSEA), Proposal for a handbook, Pudoc Wageningen. 72 p.

124. WIDJAJA Elizabeth A., 1988. Ethnobotany of the Funeral Ceremony of the Torajanese? Economic Botany 42 (2) : 250-254.

125. WILLER T.J., 1858. Het eiland Boeroe. Zijne exploitatie en Halfoersche instellingen. Editions Frederik Muller, Amsterdam, pp.94-237.

126. YULIA Kak, 1984. Putri Bokisraja & Paparisa. Seri Cerita Rakyat dari Pulau Buru, Penerbit Pelangi, Jakarta, 48p.