Archive for SOSIOLOGI

LA MAIN Á LA PÄTE SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN INSTITUSI INTERNASIONAL

LA MAIN Á LA PÄTE

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

 Prolog

La Main à la pâte adalah suatu konsep pengembangan ilmu pendidikan berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan dari pendidikan pada level sekolah dasar dan perguruan tinggi. La Main à la pâte sangat sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tetapi secara umum dapat disebut sebagai “TANGAN DALAM ADONAN”.

La Main à la pâte adalah konsep yang memiliki filosofi yang sangat tinggi yang dibangun pada tahun 1996 oleh Georges CHARPAK, pemenang Nobel Fisika dari Prancis. Kemudian tahun 2012 ditetapkan sebagai landasan kerjasama ilmiah oleh institusi teknik yang bergengsi di Prancis seperti  Ecole Normale Superieure de Paris dan École Normale Supérieure de Lyon. Selanjutnya La Main à la pâte telah menjadi suatu yayasan yang punya pengaruh di Perancis dan di dunia.

Siapa Georges CHARPAK ?

Georges-Charpak

Lahir pada tahun 1924 di Ukraina, Georges Charpak tiba di Perancis dengan orang tuanya pada usia 7 tahun. Kemudian dia harus cepat belajar bahasa Prancis yang akan menjadi lidah baru baginya. Oleh karenanya dia selalu merasa berhutang budi kepada sekolah yang mendidik dia. Sebagai seorang mahasiswa brilian, ia membahas pendidikan tinggi pada saat perang. Bergabung dengan Perlawanan, ia ditangkap dan dideportasi dengan nama palsu Charpentier ke kamp konsentrasi Dachau.

Setelah dibebaskan pada tahun 1945 ia memasuki Ecole des Mines de Paris dan kemudian bekerja sebagai peneliti pada laboratorium fisika nuklir Frédéric Joliot-Curie. Setelah itu dia tertarik dengan fisika partikel elementer, mengantarnya untuk bergabung CERN (le Centre Européen de Recherche Nucléaire), Pusat Riset Nuklir Eropa yang berkedudukan di Jenewa. Tahun 1992 Georges CHARPAK adalah pemenang Penghargaan Nobel dalam Fisika. Tahun1996 mempopulerkan konsep la Main à la pâte untuk melawan kegagalan akademis dan kekerasan di lingkungan miskin. Tahun 2010 Georges CHARPAK meninggal dunia.

 

Manusia Prancis dan Ilmu Pengetahuan

Kami cenderung melihat sesuatu dari dasarnya dalam hubungan kerjasama yaitu manusia seutuhnya sebagai sumbernya. Kami tidak ingin membandingkan antara manusia Prancis dan manusia Indonesia, tetapi ingin mensejajarkan kedua manusia dan budaya tersebut, sehingga dapat terlihat bagaimana kita sampai pada hubungan yang ada sekarang.

Manusianya kami lihat dari segi pembentukannya melalui pendidikan formal (modern) yang terutama mendasari sikap pikir dan pandangnya dalam ilmu pengetahuanya itu. Pendidikan manusia Prancis bertumpu pada ajaran Descartes (lihat : Discours de la méthode) ; dimana akal budi adalah alat yang dipakai untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah, berarti mencari apa yang sebenarnya, sehingga manusia itu mendapat keyakinan penuh dari apa yang disimak di luar dirinya. Mereka dididik untuk menemukan sendiri, sehingga mencapai keyakinan yang kokoh atas kebenaran objek yang disimak. Dengan kata lain tiap manusia itu yakin akan kebenaran pandangannya. Demikianlah dikenal ungkapan “autant de têtes, autant d’avis”.

Oleh karena itu mulai dari bangku sekolah mereka sudah dilatih untuk mengembangkan observasi, menganalisis apa yang diamati untuk menilai kebenarannya (l’objet des etudes doit être de diriger l’esprit jusqu’à le rendre capable d’énoncer des jugements solides et vrais sur tout ce qui se présente à lui). Mereka selalu mempertanyakan « kenapa dan bagaimana » (le pourquoi et le comment) untuk meyakinkan kebenaran pandangannya. Maka dapatlah dimengerti bila pada umumnya mereka kurang terbuka dalam arti bahwa kebenaran pandangannya menjadi keyakinannya yang akan dipegang teguh sampai ada pembuktian lain yang menunjukkan ketidakbenarannya.

Di sini dapat dilihat bahwa ide atau pendapatlah yang dikembangkan dan dihargai. Selain itu cara pemaparan penalarannya pun harus jelas dan beruntun dalam hubungan sebab akibat. Oleh karena itu penilaian dan ide yang tepat dan bersifat subjektif itu menjadi ukuran keunggulan seseorang. Perdebatan pendapat dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi manusia Prancis itu. Seseorang yang tidak mengemukakan pendapat tidak menarik. Ide orisinal selalu dicari. Ini tampak dalam pencarian mereka atas dasar ingin tahu akan hal-hal yang khas, istimewa, atau tidak umum. Wajar pula bila mereka memupuk pengetahuan yang luas dan ungkapan « memiliki kepala yang penuh pengetahuan » menjadi tujuan manusia yang berpendidikan. Dan pengetahuan yang didapat berdasarkan rasa ingin tahuakan apa yang ada di luar dirinya itu berarti hasil dari hubungan antara subjek dan objek, Manusia yang demikian akan selalu melihat apa yang di luar dirinya.

Dengan sikap pandang tersebut, kami melihat bahwa selama mereka berada dalam konteks dunianya, terutama bila objeknya dari duania Prancis sendiri, tidak kami rasa ada keganjilan pada pandangan mereka. Keganjilan itu akan timbul bila objek pandangnya adalah fenomena Indonesia atau dari budaya “asing”. Maka pandangan mereka kurang mengena (sebenarnya adalah fenomena universal).

Pertanyaan lain timbul, bagaimana dampak tulisan mereka yang menjadi acuan bagi mereka yang belum mengenal realitasnya ? Pemaparan yang disampaikan dengan nada yang meyakinkan sikap yang tertanam pada manusianya akan mudah diterima sebagai kebenaran realitas objeknya. Terlebih lagi pakar dianggap sebagai orang yang memahami objeknya. Bagaimanapun para pakar itu sedikit banyak menyadari bahwa pandangan mereka itu suatu interpretasi.

 

Manusia Indonesia dan Ilmu Pengetahuan

Dalam mengenal lahan Indonesia dimana tumbuh ilmu pengetahuan modern ini, kita menyadari bahwa suatu sistem budaya tradisional dan modern berjalan bersama dan ilmu pengetahuan itu di sini tumbuh di atas akar budaya tradisional tersebut.

Bagaimana akar budaya tradisional ini ? Sebenarnya sudah kita pahami bahwa ilmu yang tumbuhdari akar tradisional ini berbeda. Ilmu di sini merupakan ajaran hidup dan menuntun manusia untuk menjadi “manusia utama”. Di sini ilmu tidak dipelajari sebagai pengetahuan yang didasari oleh rasa ingin tahu, tetapi harus diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi memang tidak dapat disebut ilmu pengetahuan. Dalam ilmu ini manusianya dituntun untuk menyimak ke dalam dirinya dan meresapi apa yang ada di luar dirinya tanpa memberi pendapat. Sedang yang disebut manusia itu adalah manusia seutuhnya yaitu lahir dan batin. Sikap pandangnya pun menyeluruh (Global) dan manusia itu sendiri adalah bagian dari alam raya ini.

Dengan demikian mereka ini tidak didorong untuk mengemukakan pandangan atau ide mereka, perdebatan pun tidak mudah timbul. Mereka lebih cenderung mengikuti sikap seperti dalam ungkapan ilmu padi : makin berisi makin merunduk. Diam adalah sikap “manusia utama”, manusia yang sempurna lahir batin. Pendidikan tradisonal menuntun manusianya manuju sikap tersebut.

Ilmu pengetahuan yang kemudian tumbuh di atas lahan tradisional ini tentu tidak berproses sama seperti pada lahan aslinya. Dengan masuknya pendidikan BARAT kadar unsur tradisional dalam diri manusianya memudar tergantung dari penyerapan modern tersebut. Akan tetapi sadar atau tidak, unsur-unsur tradisional itu tidak akan lenyap dan pada kondisi tertentu akan muncul juga.

 

Strategi Membangun Kerjasama

Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Orang lain akan menutupi kelemahan atau menambah kekuatan kita. Namun untuk membangun hubungan kerjasama apalagi kerjasama internasional dengan pihak lain bukanlah perkara mudah. Tidak jarang kita gagal membangun hubungan karena kita tidak siap.

Berikut ini beberapa cara membangun hubungan kerjasama dengan pihak lain berdasarkan pengelaman kami :

1.Tentukan Tujuan

Tentukan dengan jelas mengapa harus bekerjasama. Apa yang bisa didapatkan? Apa yang bisa diberikan? Saat kita bisa menjawab pertanyaan ini, maka kita bisa mencari pihak yang tepat untuk diajak kerjasama. Hal ini akan membuat kita lebih efektif dan fokus pada tujuan dari kerjasama dimaksud.

2.Siapkan Profil

Siapkan beberapa materi tentang institusi ini. gali latar belakangnya dan buat menjadi sebuah cerita (atau organisasi yang dimiliki). temukan hal-hal menarik. Pihak luar biasanya menyukai cerita. Hal ini cukup menarik ketika kita mulai menceritakan “Unpatti itu siapa” (diskripsi diri).

3.Buat Kesan Positif

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda” begitu kiranya sebuah tagline sebuah brand terkenal. Kesan pertama memang sangat penting. Banyak orang tidak punya banyak waktu. Berikan kesan positif yang apa adanya. Jangan berlebih-lebihan. Hal ini bisa merusak hubungan dikemudian hari.

4.Fokus pada Kualitas bukan Kuantitas

Kita boleh membuat sebanyak mungkin jaringan kerjasama. Namun kita harus bisa memlih prioritas mana yang bisa kita bangun kualitas hubungannya. Cari yang benar-benar kita butuhkan dan memberikan manfaat lebih banyak. Sesuaikan juga dengan kondisi Unpatti yang sebenarnya.

5.Hargai Pendapat dan Kebiasaan

Setiap orang (atau organisasi) mempunyai kebiasaan dan budaya sendiri. Hargai pendapat atau kebiasaan pihak yang diajak untuk bekerjasama. Jangan pernah membandingkan dengan orang atau organisasi lain yang kita anggap lebih baik. Sadarilah setiap orang atau organisasi mempunyai keunikan sendiri.

6.Tunjukkan Antusiasme

Tunjukan bahwa kita sangat senang bisa mengenal orang atau institusi yang diajak untuk bekerjasama. Lakukan dengan TULUS. Cobalah untuk memahami dan mengenal mereka secara mendalam lebih dahulu. Orang akan lebih senang bila orang lain mengenal dan mau memahami mereka.

7.Tawarkan Bantuan

Jangan ragu untuk menawarkan bantuan. Jika Unpatti memang merasa sanggup untuk membantu, mengapa harus menunggu sampai pihak yang diajak kerjasama meminta? Bersikaplah proaktif. Bantuan yang kita berikan pasti kembali pada generasi berikutnya di suatu saat nanti.

Epilog

Apa yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional dan modern, jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas, untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Indonesia seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana pada lahan aslinya. Dalam pandangan kami, seminar sehari ini ingin Unpatti menuju pada kelas internasional maka yang bisa kami katakan adalah pikiran itu akan bermuara pada :

  • Pemerian pengalaman pribadi
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek pada objeknya
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek yang berada sekaligus dalam objeknya, dengan memakai disiplin ilmu yang mengharuskan keluar dan berdiri di luar objeknya.

 

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi LA MAIN Á LA PÄTE di Warung Prancis (French Corner) Universitas Pattimura Ambon, 12 April 2017.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon

 

MUA LALEN DAN ORGANISASI TERITORIAL MENURUT KONSEP GEBA BUPOLO

Orang Buru

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA

Profesor Etnoekologi

ABSTRACT

Geba Bupolo are autochtone of the Buru island. The forest area is a great house for Geba Bupolo (Bupolo people). This view gives meaning also that the forest is an area that has an owner. Hunting activities are taking forest products and also fought against evil spirits which dwell in the forest. So the forest is a sacred area and the full value of sanctity. To understand the Bupolo people, I should start from how we understand the way they divide their life space in association with the environment, namely by understanding the territorial organization of the Bupolo. This understanding will then give a good direction to the understanding of their social organization. Complex division of space in Bupolo people’s lives is something interesting to study.  Ethnobotany approach is one of the most suitable methods to be used to describe to complexity. This paper attempts to describe how the Bupolo people in Buru Island, Maluku Province, organize their territory and life spaces.

Key words : Bupolo, Buru Island, Forest, Territorial organization, Ethnobotany

 

1.Prolog

Perkenankan saya untuk mempresentasekan makalah saya dengan judul : Mua Lalen dan Organisasi Teritorial menurut Konsep Geba Bupolo dalam forum lokakarya yang dilaksanakan oleh CIFOR dan UNPATTI di Kota Namlea pada tanggal 21 November 2016. Sering terjadi ketidakcocokan antara Geba Bupolo yang menyatakan diri sebagai penduduk asli (autokton) Pulau Buru dengan para pendatang (alokton) dimana alokton belum paham atau mungkin secara sengaja tidak mau memahami adat dan budaya Geba Bupolo. Ada juga yang mengatakan bahwa para peneliti dan ilmuwan juga turut memberikan andil dalam memelihara ketidakcocokan ini, akibat dari hasil riset atau sintesis pengamatan tidak diinformasikan secara meluas di kalangan masyarakat umum. Saya yakin sungguh bahwa tidak ada kata terlambat untuk mau memahami adat dan budaya manusia, karena tema ini memang sangat menarik untuk didiskusikan.

Wilayah hutan (mua lalen) yang berada disekitar kehidupan Geba Bupolo adalah rumah besar dimana wilayah dimaksud adalah tempat mereka berteduh dan mengelola kehidupan di masa lalu dan masa depan. Kemudian untuk memasuki rumah besar tersebut telah ada siklus waktu yang sudah ditetapkan dan harus mendapat izin dari pemangku adat.

Lokakarya ini akan berujung untuk menghasilkan suatu konsep pemahaman Geba Bupolo, sehingga diharapkan program Pemerintah Kabupaten Buru akan bersinergi dengan kajian yang dibuat oleh CIFOR dan UNPATTI atau sebaliknya dimana manfaat positif dan dampak langsung akan diperoleh masyarakat Pulau Buru pada umumnya. Masalah lahan atau tanah adalah masalah semua manusia sehingga penyelesaian hak atas lahan atau tanah harus diselesaikan secara kemanusiaan menurut tatanan adat dan budaya Pulau Buru.

Pulau Buru sejak dahulu hanya dikenal sebagai tempat penampungan tahanan politik dimana ketika itu ditetapkan oleh rezim Presiden Suharto, “Orde Baru”. Selain itu Pulau Buru adalah pulau yang memproduksikan minyak kayu putih, yaitu suatu minyak yang diekstraksi dari daun pohon yang bernama kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies dari famili Myrtaceae. Selain hamparan tanaman kayu putih, maka saat ini Pulau Buru juga menjadi daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai lumbung pangan nasional mengingat sebagian besar wilayah Kayeli ditemui hamparan sawah yang dibangun selama periode tahun 1969-1979 oleh para tahanan politik dengan sistem kerja paksa. Kegiatan yang berikutnya adalah ternyata areal hutan Pulau Buru ditetapkan sebagai wilayah konsesi pertama untuk eksploitasi hutan secara besar-besaran melalui sistem HPH.

 

2. INFORMASI SINGKAT PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

3. DISKRIPSI PENDUDUK OLEH GEBA BUPOLO

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Buru.

Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu, noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain, adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam atau marga. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin berarti pohon sagu.

Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

 

4. DUNIA KOSMOLOGI GEBA BUPOLO

Tempat pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo. Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 1 berikut ini.

 

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 1. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan seorang Laki-laki (Pattinama,2005).

 

Jika diperhatikan Gambar 1 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

5. DUNIA NYATA GEBA BUPOLO

 

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yaitu penduduk autokton, relasi dagang dilakukan dengan pedagang yang menetap di daerah pantai yakni keturunan Cina dan Arab. Penduduk autokton berada pada posisi lemah karena hubungan dengan pedagang terjadi satu arah.  Artinya posisi pedagang sangat kuat. Hal ini sangat berbeda dengan pedagang antar pulau dengan penduduk yang mendiami daerah pesisir pantai. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate.

Geba Bupolo mengusahakan tanaman sagu (=bialahin, Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsinya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, Geba Bupolo secara rasional memilih singkong (=kasbit, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan tepung. Mereka juga mengkonsumsi protein hewani bersumber dari daging babi (fafu), rusa (mjangan) dan kusu (=blafen, Phalanger dendrolagus) dan ikan air tawar (mujair) dan morea (=mloko, Anguilla marmorata). Orang pendatang (Geba Misnit) yang tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan singkong. Di samping itu, mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

Mengenai eksploitasi hutan di Pulau Buru, maka pemerintah Orde Baru untuk pertama kali memberikan izin eksploitasi hutan secara besar-besaran dengan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada PT. Gema Sanubari, suatu perusahaan swasta berafiliasi dengan BAKIN (sekarang BIN). Perusahaan ini memiliki luas HPH terbesar di Pulau Buru (305.000 Ha).

Perkembangan selanjutnya dari kegiatan eksploitasi hutan, maka sekitar tahun 1980 PT. Gema Sanubari mendirikan industri kayu lapis di Buru Utara Barat. Penyerapan tenaga kerja lebih banyak didominasi oleh penduduk alokton sedangkan penduduk autoton mendapat porsi yang sangat sedikit. Mereka tidak diberi kesempatan karena tidak memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang diperlukan perusahaan.

 

6. DUNIA KEARIFAN GEBA BUPOLO

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

 

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana.

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 2. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

d. Organisasi Ruang

Masyarakat Buru mempunyai konsep pembagian batas-batas lingkungan alam yang tegas. Mereka memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri.  Pendatang memerlukan waktu lama untuk memahaminya.

Masyarakat Buru membagi ruang pulau Buru atas tiga bagian :

Pertama, mua lalen yang dilindungi karena nilai kekeramatannya. Wilayah ini termasuk Gunung Date (kaku Date), Danau Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan primer (koin lalen).

Kedua, mua lalen yang dikelola, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen).

Ketiga, mua lalen yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu.

Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsepsi dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas yang harus dipertahankan. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara (HPH), telah terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam hubungan dengan pemanfaatan ruang untuk aktivitas pertanian, maka ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh orang Bupolo yaitu dimulai dengan membuat:

-Hawa fehut atau fehur (kebun baru) yang terdiri dari tanaman: warahe (Arachis hypogaea), feten (Setaria itallica), dan hala (Oryza sativa).

-Hawa (kebun yang akan dipanen) : hawa hala, hawa magat, dan hawa kasbit.

-Hawa wasi (kebun yang belum selesai dipanen dan masih ada tanaman seperti pisang, nenas, dan ketela pohon).

-Wasi (kebun yang mau ditinggalkan), mereka menyebutnya pula wasa-wasi, ada tanaman seperti nakan (Arthocarpus integraifolia), nakan dengen (Arthocarpus champeden), waplane (Mangifera indica), hosi roit (Citrus nobilis), hosi hat (Citrus grandis), kopi (Coffea spp), warian (Durio zybethinus), biafolo (Arenga pinnata), pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Eugenia aromatica).

-Wasilalen (kebun yang ditinggalkan selama 8-9 tahun)

Orang Buru memiliki norma-norma adat untuk melindungi hutan primer yang mereka anggap sakral. Mereka melarang agresi pemegang HPH masuk ke hutan primer dengan cara membuat foron sbanat, yakni alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia.

 

e. Organisasi Waktu

Organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo disesuaikan menurut phenomena alam dari dua jenis pohon: Kautefu (Pisonia umbellifera) dan Emteda (Terminalia sp.) (Pattinama 2005). Untuk pohon yang pertama (kautefu), jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Pohon yang kedua (emteda) lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun.

Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) artinya tetap musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, disekeliling kebun ditebar tanaman hotong atau feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Mereka selalu saling bekerjasama dalam kegiatan menanam.

Efut ale adalah masa ketika daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar.  Artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari. Pada musim ini kegiatan menyiang hanya dilakukan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum lelaki mulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini hanya dilaksanakan pada masa Efut ale yang dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Akhir dari efut ale adalah masa panen yang dilaksanakan pula dengan upacara kematian nitu wasin. Selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore dimana hari hujan relatif besar. Pada masa ini diadakan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga morea itu seolah mabuk. Dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Menurut Keith Philippe (1999), sebenarnya morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi. Umumnya morea di Indonesia melakukan kegiatan reproduksi menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Kegiatan berikutnya orang Bupolo adalah berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat ini buah pohon meranti sangat banyak.  Buah ini merupakan sumber makanan bagi kedua hewan buruan tersebut. Lokasi berburu di hutan relatif jauh, yaitu di daerah gunung Kakupalatmada.

Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan.  Pada masa ini kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 3. Organisasi waktu menurut Geba Bupolo (Pattinama, 2005).

 

f. Berburu

Aktivitas ini dilakukan secara rutin dan merupakan pekerjaan yang hanya digeluti oleh kaum laki-laki. Orang Bupolo menggunakan istilah berburu adalah iko ephaga atau iko lodi. Berburu bagi orang Bupolo bukan sekedar hanya masuk areal hutan untuk menangkap atau membunuh binatang buruan. Tetapi bisa diintepretasikan sebagai kegiatan berperang melawan roh-roh jahat dalam hutan rimba yang lebat (hutan primer). Oleh sebab itu persiapan untuk kegiatan ini penuh dengan ritual yang sangat sakral (koin). Jadi ada upacara adat yang mendahului kegiatan berburu.

Saat pelaksanaan kegiatan berburu di hutan maka seorang pemburu tidak boleh semena-mena melakukan eksploitasi terhadap areal hutan yang dijadikan medan perburuan, misalnya menebang pohon dengan sembarangan atau merusak areal yang sudah ditetapkan secara adat sebagai wilayah yang terlarang untuk masuk dan melakukan aktivitas lain. Semua larangan itu diberi tanda atau dalam bahasa Bupolo mengatakan sebagai sihit.

Binatang yang dijadikan sasaran dalam kegiatan ini adalah babi, rusa dan kusu. Ketiga binatang buruan ini hanya bisa diperoleh pada saat meranti (Shorea spp) berbuah, karena buah dari pohon tersebut adalah makanan utama dari kettiga binatang tersebut. Buah meranti dalam bahasa Buru adalah kalodi.

 

g. Meramu Hutan

Kegiatan meramu hutan adalah kegiatan yang dilakukan secara bersamaan pada saat aktivitas berburu dilaksanakan. Meramu hutan dalam bahasa Buru adalah iko mualalen. Saat Orang Bupolo melakukan perburuan binatang di hutan primer maka kegiatan meramu damar (kisi) dan rotan (uwa) dilaksanakan secara bersamaan.

 

7. EPILOG

Orang Bupolo di pedalaman Pulau Buru merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Bupolo hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Barraud, Cécile and Friedberg, Claudine, 1996. Life-Giving Relationships in Bunaq and Kei Societies, in : Signe Howell (Ed.), For the Sake of Our Future (Sacrificing in Eastern Indonesia), Research School CNWS, Leiden, The Netherlands : 374-383.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.

Pattinama Marcus Jozef, 2014. Territorial Organization by Bupolo People in Buru Island. A New Horizon of Island Studies in the Asia Pacific Region, Kagoshima University Research Center. P.79-87.

 


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi Hasil Penelitian di Pulau Buru Kerjasama antara CIFOR Bogor dengan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, UNPATTI Ambon, Tanggal 21 November 2016 di Kota Namlea, Kabupaten Buru.

LIWIT LALEN, HAFAK LALEN, SNAFAT LAHIN BUTEMEN

pulau-buru

Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku

oleh

Marcus J. PATTINAMA

Profesor Ekologi Manusia dan Kepala Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

I. PROLOG

Perkenankan saya pada kesempatan ini untuk menyampaikan sebuah pemikiran yang berangkat dari dasar konsep pikiran orang Bupolo dengan judul : Liwit Lalen, Hafak Lalen, Snafat Lahin Butemen : Suatu Konsep Etnoekologi Bupolo dalam Perspektif Pembangunan Maluku. Judul ini saya pilih dengan alasan : (i) Mendukung tema besar dari Kongres Kebudayaan Maluku tahun 2016 di Pulau Buru ini yaitu Mengokohkan Identitas ke-Maluku-an dalam Perspektif Bupolo. Jadi kalimat di atas yang disajikan dalam Bahasa Buru dan sekaligus adalah judul dari artikel kami ini merupakan representasi pokok pikiran orang Bupolo yang sifatnya holistik, komprehensif dan sakral. Kalimat Liwit Lalen, Hafak Lalen. Snafat Lahin Butemen adalah juga pintu masuk untuk memahami manusia Buru yang menamakan dirinya Geba Bupolo secara totalitas dan coheren. (ii) Manusia tetap menjadi tema sentral dalam pembangunan, namun dibalik itu ada sosok manusia yang senantiasa dibungkus dengan “kepompong misterius” yang tidak mudah dipahami oleh manusia lain, artinya tema manusia merupakan masalah yang sangat sensitif, (iii) Diskusi tentang manusia dalam suatu pertemuan resmi ilmiah atau pertemuan informal seyogyanya dilakukan secara rutin seperti Kongres Kebudayaan Maluku 2016 dimana artikel ini ditulis pula untuk menjawab tujuan keempat yaitu identitas ke-Bupolo-an menjadi empowering dan pengokohan yang tidak terpisahkan dari identitas ke-Maluku-an.

 

II.   MAKNA FILSAFATI LIWIT LALEN HAFAK LALEN SNAFAT LAHIN BUTEMEN

Pernyataan liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen tidak dapat diterjemahkan utuh ke dalam Bahasa Indonesia karena akan memiliki ekspresi makna yang berbeda. Jadi terjemahan kata demi kata adalah : liwit lalen = keranjang tempat makanan yang terbuat dari kulit kayu meranti, Shorea sp, berbentuk silinder ukuran panjang satu meter dan diameter 50 cm. Hafak lalen= kain sarung yang dikenakan perempuan Buru. Snafat lahin = saringan air yang terbuat dari serat pelepah kelapa, istilah Melayu Ambon adalah runut kelapa. Sedangkan butemen = air pertama yang keluar. Dengan demikian secara harfiah artinya “keranjang laki-laki, sarung perempuan dan air pertama yang mengalir keluar”. Ini yang dimaksud dengan mengungkap konsep asli masyarakat berdasarkan bahasa mereka.

Pernyataan ini mengisahkan tentang kekeramatan yang ada di sentral Pulau Buru. Gunung Date disimbolkan dengan liwit lalen sekaligus representasi dari alat kelamin laki-laki (penis), Rana disimbolkan dengan sesuatu yang ada di dalam hafak lalen yaitu alat kelamin wanita (vagina). Pintu keluarnya air dari Rana (likusmolat) ke sungai Waenibe disimbolkan dengan snafat lahin sekaligus representasi dari selaput pada organ vagina. Air yang mengalir keluar dari danau menuju sungai Waenibe disebut butemen sekaligus representasi dari keluarnya cairan sexual ketika manusia bersetubuh untuk melanjutkan generasi. Secara totalitas pernyataan ini mengisahkan tentang penyatuan laki-laki dan perempuan yang sangat sacral yaitu kegiatan memproduksi/menghasilkan kehidupan. Terminologi butemen juga menunjuk pada pengambilan hasil pertama dari kegitan berkebun dan berburu.

Pernyataan itu tidak terbatas hanya mengisahkan kekeramatan di Rana lalen saja, namun pernyataan ini dapat menjelaskan bagaimana Orang Bupolo mengelola sumberdaya tanaman yang ada di sekitarnya seperti mengolah sagu, membuat kebun baru dan melakukan kegiatan berburu di hutan.

Kegiatan mengolah sagu, mulai dari menebang pohon, saat batang sagu rebah di atas tanah adalah eskohot mhana (laki-laki). Disini perempuan bisa berpartisipasi membersihkannya, namun ketika batang pohon sagu dibelah menjadi dua bagian disebut eskohot fina (perempuan), maka perempuan Bupolo dilarang (koin) mendekatinya. Dalam konsep pikir orang Bupolo saat laki-laki menokok empulur sagu disitu layaknya aktivitas persetubuhan hingga disaring dalam wadah yang diibaratkan seperti Rana. Pada waktu air bercampur pati sagu keluar melalui saringan itulah yang disebut butemen, seterusnya ditampung dalam goti yang diibaratkan seperti sungai Waenibe yang mengalirkan air dari Rana menuju laut.

Pohon sagu atau bialahin (Metroxylon sp) dalam pertumbuhan di alam juga merepresentasikan hubungan kekerabatan dalam noro yang disebut bialahin. Dalam satu bialahin biasanya mereka bermukim pada petuanannya dengan jumlah rumah hanya tiga sampai lima mengikuti rumpun sagu. (Perhatikan Gambar 1).

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan (pemimpin bialahin). Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung di antara mereka.

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah, penampilannya bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya,. dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa pati sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

rumpun-sagu

(Sumber : Louhenapessy 1992)

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu menurut kekerabatan bialahin. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

III.  LINGKUNGAN ALAM DI PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

 

PULAU-BURU-RANA-DATE

Sumber: Pattinama (2005)

Gambar 2. Pulau Buru dengan Rana dan Gunung Date

 

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

IV.    GEBA BUPOLO

Bupolo adalah nama awal (asli) pulau Buru, disebut pula Bupolo Waekolo. Waekolo adalah nama kelompok kekerabatan (noro atau soa) yang menyatakan diri sebagai penunggu atau Geba eptugu (geba=orang, eptugu=penunggu) di pusat pulau. Nama lain pusat pulau adalah Rana lalen, dimana dijumpai Rana dan Gunung Date. Kita mengenal Rana adalah nama Danau di Pulau Buru dan biasa ditulis Danau Rana, padahal dalam bahasa Buru kata rana artinya telaga atau danau. Oleh sebab itu Orang Bupolo hanya menyebut Rana saja atau Rana Waekollo. Rana lalen adalah milik seluruh orang Bupolo (Gambar 2). Luas Rana diperkirakan 75 Km² dan lebih besar dari Teluk Ambon serta terletak pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut.(Pattinama,2005).

Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Masing-masing soa/noro mempunyai dua sisi yaitu noro dan leit. Noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan leit dipakai dalam pergaulan ekternal. Contoh: noro Waekolo :: leit Waemese, noro Gebahain :: leit Seleki, noro Nalbesi :: leit Tomhisa, dan noro Mual :: leit Solisa. Di Rana lalen adalah pamali (koin) jika kita menyebut leit, karena itu identitas kepada orang di luar kelompok Bupolo.

Kesatuan hidup tingkat kedua di dalam noro adalah bialahin. Tercatat setiap noro/soa di Pulau Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu.

Data penduduk Pulau Buru menurut BPS Maluku tahun 2015 menunjukkan jumlah sebesar 187.199 jiwa dengan penyebaran di Kabupaten Buru 127.910 jiwa (68%) dan di Kabupaten Buru Selatan 59.289 jiwa (32%). Dari jumlah itu dijumpai hanya sekitar 15% adalah populasi masyarakat asli (autokton)

Penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang atau alokton (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 3).

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 3. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut pendapat Geba Bupolo

 

Gambar 3 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton.

V.  ETNOEKOLOGI BUPOLO DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN MALUKU

Mengungkapkan konsep berpikir Orang Bupolo tentang alam dan lingkungannya merupakan tugas saya selaku seorang peneliti Etnobotani  dengan memegang teguh prinsip dasar metodologi riset apalagi konsep tersebut diungkapkan secara lisan (konsep bertutur) dan ini merupakan pengalaman abadi yang tak ternilai. Tanpa disadari selama menjalani hidup sesehari di Rana lalen sebagaimana layaknya Orang Bupolo saya belajar banyak dari mereka. Untuk itu apa yang dipaparkan pada bagian ini adalah konsep murni yang bisa disumbangkan dalam pembangunan Maluku walaupun materinya hanya pada wilayah Pulau Buru.

 

V.1. Bupolo dalam Pengembangan Pendidikan

Bagaimana sumbangan yang bisa diberikan dari kekayaan konsep berpikir Orang Bupolo ini kepada sektor pendidikan ?

Menurut hemat kami bahwa akar permasalahan sistem pendidikan di negeri kita ini adalah karena sekolah dan universitas telah dipisahkan dari soal-soal kehidupan nyata sehari-hari yang sementara berkembang dalam masyarakat. Para murid dan mahasiswa kita telah kehilangan spirit kepekaan dan hal yang terjadi sebagai akibatnya, maka murid dan mahasiswa kita akan sangat sulit menangkap spirit keilmuan.

Pengalaman saya di Pulau Buru saat melakukan inventarisasi tanaman di hutan yang dimanfaatkan oleh Orang Bupolo dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak Bupolo baik yang belia maupun orang dewasa, dengan cekatan tahu nama-nama tumbuhan atau tanaman walaupun yang diungkapkan itu dalam bahasa lokal (vernaculaire). Mereka mendapat pengetahuan ini dari orangtua mereka saat kegiatan meramu hutan atau berburu. Ini harus diwariskan agar mereka tahu mana yang bisa dikonsumsi dan mana yang beracun. Inventarisasi tanaman selama riset di lapangan diperoleh bahwa orang Bupolo mengenal 94 jenis tanaman yang dibudidayakan dan 473 tanaman yang tumbuh secara liar namun bermanfaat dalam kehidupan mereka.

Jika ini saya bandingkan dengan mahasiswa yang setiap semester saya didik dan bina secara akademik pada jenjang pendidikan formal saat ini, mereka tidak peduli dengan tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Ini saya sebut sebagai buta literasi. Ada kecenderungan bahwa yang diajarkan ini nantinya tidak digunakan pada saat terjun ke masyarakat. Saya tidak dapat menyimpulkan itu karena belum ada penelitian yang dilakukan oleh saya untuk mendukung kesimpulan dimaksud.

Dalam hubungan dengan kemampuan literasi ini dapat saya kemukakan contoh seperti yang dialami oleh TNI (=ABRI) tahun 1973 saat mengejar 30 orang Tapol yang melarikan diri dari tahanan di Waeyapo dan mereka menghilang di hutan. Anggota TNI tidak mampu dan akhirnya operasi ini dibatalkan. Panglima Kodam XV Pattimura ketika itu Brigjend. Haroen Soewardi akhirnya datang menjumpai para kepala adat yang bermukim di pegunungan untuk meminta bantuan mencari mereka yang melarikan diri. Perintah yang diberikan saat itu tangkap hidup atau mati. Orang Bupolo dengan mudah bisa menemukan mereka hanya dengan mengandalkan pengetahuan lokal yaitu mereka menyusuri tapak jalan dan mengetahui jejak para pelarian dan dari melihat cara memotong pohon yang berbeda dengan cara orang Bupolo. Dengan bekal itu akhirnya Orang Bupolo sukses menemukan kembali para tapol yang masih hidup. Menurut cerita para Tapol banyak yang mati di hutan karena salah memakan tanaman yang ada, mereka mengkonsumsi tanaman yang beracun.

 

V.2. Bupolo dalam Pengembangan Ekonomi

Orang Bupolo akan mencapai siklus hidup yang sempurna apabila semua fase dalam kehidupan dikerjakan secara utuh. mulai dari kelahiran sampai kematian. Semua fase itu diikuti dengan upacara ritual dan untuk melaksanakannya dibutuhkan dukungan sumberdaya finansial. Dalam adat orang Bupolo jika itu dilakukan oleh suatu noro misalnya noro Gebahain, maka semua anggota noro yang hidup baik di Buru maupun Buru Selatan akan diberi tanggung jawab untuk menanggung apacara ritual tersebut secara bersama-sama. Menurut catatan kami bahwa keputusan itu sudah dirancangkan sejauh mungkin sehingga ada ruang untuk semua orang Bupolo bekerja. Ada yang bekerja meramu di hutan (rotan, uwa dan damar, kisi), menyuling minyak kayu putih (gelan), membuka kebun baru untuk menanam kacang tanah (warahe) dan pergi berburu di hutan (iko phaga).

Hasil dari aktivitas di atas ada yang disumbangkan secara natura dan ada pula yang diberikan dalam bentuk uang setelah hasilnya dijual di pasar. Jadi orang Bupolo mengerjakan sesuatu dalam perencanaan yang matang sehingga semua aktivitas dijalankan secara simultan.

Ilmu ekonomi dan pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini adalah tidak mampu menangkap sinyal bioregional dan biogeografi, karena hanya berada pada lingkaran jaring laba-laba antara demand dan supply dan pemikiran ekonomi tidak mampu keluar dari pemikiran abstraknya tentang pendapatan asli daerah, pendapatan nasional, dan laju pertumbuhan. Mungkin saja pemikiran ekonomi yang dikembangkan saat ini oleh para pakarnya di negara-negara maju tidak cocok diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Namun demikian karakter ekonom yang ada saat ini seolah-olah negara ini sudah masuk dalam kategori negara maju dimana mobilisasi tenaga kerja diatur dalam rel ban berjalan. Bagaimana ilmu ekonomi bisa menangkap aktivitas ekonomi orang Bupolo yang nyata? Saya usulkan kepada para pakar ekonomi mencoba mengembangkan cabang ethnosciences untuk bidang ekonomi yaitu ethnoekonomi.

 

V.3. Bupolo dalam Pengembangan Pertanian

Dalam konsep masyarakat Buru tentang pengetahuan dan pemahaman lingkungan, mereka telah melakukan pembagian yang tegas terhadap alam di sekitarnya dengan cara memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri. Konsep seperti ini pada masyarakat tertentu ada kalanya sangat kompleks dan sulit dipahami oleh orang di luar kelompok, sehingga untuk memahaminya harus meluangkan waktu yang relatif lama untuk hidup dengan mereka.

Di Pulau Buru dikenal beberapa satuan lingkungan seperti kawasan yang diusahakan, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen) ; kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen) ; kawasan yang dilindungi nilai kekeramatannya, meliputi Gunung Date (kaku Date), Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan (koin lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Pemimpin bialahin disebut Gebakuasan (atau juga disebut basafena) yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsep ini dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas dan harus dipertahankan dari generasi ke generasi. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya pelaku ekonomi modern yaitu para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara, dimana negara berasumsi bahwa kawasan hutan tersebut tidak bertuan dan harus dieksploitasi. Akibat dari rendahnya kualitas kontrol yang dilakukan negara terhadap pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), maka terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Orang Buru dalam menghadapi agresi pemegang HPH dalam ruang yang telah mereka atur dengan norma adat, hanya bisa membuat alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia. Alat ini disebut foron sbanat.

Untuk mengisi konsep ruang yang telah mereka tetapkan maka berikut ini adalah organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun (Gambar 4). Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) masih tetap menandai musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara ritual dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, di sekeliling kebun ditebar tanaman hotong/feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Saat yang sama banyak tenaga kerja yang datang di suatu pemukiman dan mereka saling bantu membantu dalam kegiatan menanam. Efut ale (daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar) artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari : kegiatan menyiangi yang hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Pada musim ini pula kaum laki-laki memulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Saat panen yaitu akhir dari efut ale dilaksanakan pula upacara kematian nitu wasin. Fase selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore hari hujan relatif besar : upacara meta di Rana dimana keluarnya morea (sidat) dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut Keith Philippe, cs (1999) bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Kepulauan Fiji di Pasifik Selatan. Setelah melakukan reproduksi maka induknya akan mati di Kepulauan Fiji dan larvanya akan menempuh perjalanan kembali ke Rana. Waktu yang dibutuhkan untuk kembali lagi ke Rana yaitu selama dua sampai tiga tahun. Menurut teori bahwa morea sebagaimana jenis ikan lainnya (= salmon) selalu menempuh perjalanan kembali ke habitat asalnya dengan cara melawan arus di laut dan di sungai. Jika morea tidak keluar dari Rana untuk pergi reproduksi dan tetap menetap di Rana maka usia hidupnya sampai 40 tahun setelah itu akan mati (Pattinama, 2005).

Kegiatan berikutnya orang Bupolo melakukan kegiatan berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat yang sama buah pohon meranti sangat banyak karena buah tersebut menjadi konsumsi bagi kedua hewan buruan di hutan yang letaknya relatif jauh yaitu di daerah gunung Kakupalatmada. Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan : kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang. Yang dimaksud dengan perang adalah melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

 

 ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 4. Organisasi waktu berkaitan dengan aktivitas Geba Bupolo

            Bagaimana semangat Orang Bupolo ini bisa memberi penguatan dalam pembangunan pertanian di Maluku? Pertanian yang dibangun pada aras regional di Indonesia pada umumnya tak bisa memisahkan diri dari politik pertanian nasional. Sepuluh tahun reformasi telah dilalui namun karakter kita masih belum berubah, karena reformasi tidak disertai dengan infrastruktur dan suprastruktur hukum yang kuat. Mau melakukan revitalisasi pertanian tapi fondasi tata birokrasi dan finansial tidak mengalami perubahan. Padahal awal reformasi berjalan kita cenderung menyalahkan rezim Orde Baru yang diduga melemahkan sistem keunikan bioregional. Pada waktu kini saat kita diberi otonomi mengatur diri kita dalam pembangunan pertanian nampaknya kita juga belum mendapat format yang sesuai. Kesibukan yang demikian ini tidak mempengaruhi Orang Bupolo untuk tetap menjalankan aktivitas produksi dengan jadwal yang sudah tersusun untuk satu tahun berjalan, karena apa yang dikerjakan ini adalah siklus ritual, sementara yang dikerjakan oleh aparat pemerintah adalah “siklus” proyek. Dengan demikian dalam pemahaman saya bahwa kedua kutub ini tidak akan pernah ketemu. Untuk menunjukkan rasa hormat kepada pemerintah maka Orang Bupolo seolah-olah patuh tetapi sebenarnya tidak mempraktekkan apa yang direkomendasikan dalam program “siklus” proyek.

 

VI.  EPILOG :

Ungkapan Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen yang dikemukakan dalam Kongres Kebudayaan Maluku 2016 di Bupolo pada kesempatan ini adalah suatu energi budaya dalam membangun dan memberdayakan masyarakat untuk bisa berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa di Maluku. Energi budaya Geba Bupolo ini pula akan memberdayakan masyarakat untuk membangun jati diri sebagai manusia yang utuh.

Orang Bupolo sebagai petani tradisional telah melakukan sendiri fungsi produksi (agronomi dan agroindustri) serta fungsi pemasaran (agroniaga). Mereka menguasai teknologi sederhana, salah satunya adalah teknologi menyuling daun kayu putih. Diharapkan semua ketrampilan yang dikuasai oleh Orang Bupolo seyogyanya dipahami pelaku ekonomi modern, dengan cara memberikan sedikit sentuhan inovasi teknologi baru tanpa mempengaruhi pengetahuan lokal yang sebelumnya telah mereka kuasai. Komponen agronomi, agroindustri dan agroniaga adalah komponen bebas, namun di dalam pertanian modern sudah dilakukan institusi khusus, seperti Perkenunan Negara, Industri BUMN dan Pasar Modal, yang keseluruhan dikendalikan oleh negara, sehingga pengelolaan telah ditata secara rapi. Dalam proses yang modern ini, maka perubahan di salah satu komponen akan memberi dampak kepada komponen yang lain. Demikianlah secara teoritis bahwa seluruh mata rantai itu disebut agribisnis. Disisi yang lain dan semestinya diakui bahwa pengetahuan lokal menguasai lingkungan alam yang dipraktekkan oleh Orang Bupolo dimana mereka telah berpartisipasi membangun dengan kokoh pilar pembangunan pertanian yang juga berwawasan agribisnis walaupun dalam skala yang sederhana.

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160 p/.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

 

Presentase Makalah pada Kongres Kebudayaan Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Buru. Namlea Tanggal 5-7 November 2016

BURU DALAM KONTEKS IDENTITAS KE-MALUKU-AN (PERSPEKTIF PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM)

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Oleh:

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

Email : mjpattinama@gmail.com

Blog : maxmjpattinama.unpatti.org

 

BURAT[2]

Pulau Buru dalam era modern ini masih mengisahkan cerita kelam tentang Orang Bupolo yang masih hidup terisolir di wilayah pegunungan dan Pulau Buru yang pernah menjadi tempat penampungan Tahanan Politik G30S PKI pada tahun 1969 sampai dengan tahun 1979. Dalam Temu Buudaya yang digagas oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku ini tema Orang Bupolo ingin ditampilkan dalam gaya penulisan mengelola sumberdaya alam dan dunia Orang Bupolo. Cara pandang alam akan memberikan informasi yang menarik untuk disimak dalam bingkai identitas orang Maluku. Kenyataan membuktikan bahwa ada proses perlambatan dalam membangun wilayah ini dan manusianya. Hal ini mungkin disebabkan karena kita belum mampu menangkap dan mencium wilayah Pulau Buru dan Maluku dengan baik. Maluku memang dikenal sebagai “Indonesia Mini”. Lalu apa yang harus dilakukan ? Jawabannya adalah hanya orang Buru dan orang Maluku sendiri yang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya. Semua wilayah administratif pemerintahan di Maluku telah dikuasai dan dipimpin oleh orang Maluku. Jadi kalau ada istilah perlambatan dalam membangun Maluku, kemudian ada kesulitan mengenal dan memahami identitas ke-Maluku-annya, maka yang harus disalahkan adalah orang Maluku itu sendiri.

 

PROLOG : IDENTITAS KE-MALUKU-AN

Harus diakui bahwa wilayah Maluku sebagai suatu provinsi memang sangat luas (perbandingan lautan dan daratan  adalah 13 :1) dan selanjutnya tidak dapat dibayangkan pula secara logika bahwa seluruh untaian pulau besar dan kecil semuanya dapat dipersatukan sebagai suatu wilayah administrasi. Maluku disebut juga sebagai « Indonesia Mini ». Dari sisi pandang biogeografis ini maka Maluku bisa disebut sebagai provinsi kepulauan dengan sentrum pemerintahan di Pulau Ambon dan tepatnya pada Kota Ambon.

Pada sisi pandang eco-etnografi, maka akan semakin kompleks lagi yaitu mempersatukan seluruh adat, budaya dan bahasa dalam suatu untaian perekat yakni budaya Maluku. Pada saat diskursus budaya orang Maluku, maka di dalamnya ada orang Lease, orang Buru, orang Banda, orang Seram, orang Kei, orang Dobo dan orang Tenggara Jauh. Kesemua orang Maluku yang disebut ini memiliki identitas sebagai orang pulau.

Sisi pandang socio-economica sangatlah tidak efisien mengelola provinsi yang maha luas ini. Yang dirasakan adalah perkembangan kemajuan masyarakat relatif sangat lambat apalagi diikuti dengan rendahnya perkembangan penguasaan teknologi oleh masyarakat akibat perkembangan kemajuan pendidikan yang tidak merata. Pada tahun 1980-an ketika Prof. Habibie sebagai Menristek pernah mengatakan bahwa “kita jual saja Kepulauan Kei kepada Jerman agar ada percepatan kemajuan”. Pernyataan ini kalau dianalisis maka beliau ada dalam kegumaman dan kegemasan tentang penguasaan teknologi yang rendah ketika itu. Masyarakat memang bukan mesin yang dapat digerakkan dengan mudah dan kekompleksan manusia itulah yang menjadi semakin menarik untuk dipahami. Jadi pergerakan manusia tidak dapat diintepretasi dalam skala untung atau rugi. Ada sesuatu alasan yang sulit diungkapkan, sehingga para etnolog sering katakan itu adalah bagian dari rasionalitas yang tersembunyi (hidden rationality). Nilai identitas diri memang sangat sulit diintepretasi secara rasional. Itulah hakekat kemanusiaan yang nilainya sangat tinggi.

Apabila tinjauannya pada sisi eco-policy, maka Maluku tak dapat dipisahkan dari kebijakan politik nasional dan global. Isu tentang konsep keutuhan wilayah merupakan dimensi pertahanan keamanan. Makna identitas sering dihubungkan dengan isu dimaksud karena berkohesi dengan apresiasi diri demi menjunjung tinggi jati diri dan ciri-ciri seseorang atau masyarakat. Apabila dimensi pertahanan keamanan terusik itu sama halnya dengan terusiknya identitas. Mengupas tema identitas, kami lebih condong menempelkannya dengan terminologi orang (man) dan masyarakat (society). Mengapa ? Orang mewakili individu dan masyarakat mewakili kelompok orang. Kami memang sengaja menghindar menggunakan terminologi suku, etnis dan pribumi atau non pribumi. Terminologi itu lebih banyak digunakan pada era kolonial dimana masyarakat belum berkembang dan masih hidup dalam sekat-sekat superior dan inferior.

Orang Maluku yang tinggal di Pulau Enu, Pulau Kisar dan Pulau Leti Moa Lakor (Lemola), yang kesemuanya adalah pulau kecil 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) di Maluku, mungkin saja sangat jauh dari konsep perubahan bernegara yang sementara terjadi di sentrum pemerintahan di Pulau Jawa, tetapi mereka tetap tahu dan sangat setia sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air satu dan berbahasa satu.

Cerita lama dan elok tentang kepulauan Maluku (Mollucas Archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices): bunga cengkeh dan buah pala, serta awal sejarah kolonisasi oleh orang Eropa di Nusantara. Pesona rempah sangat luar biasa ditulis oleh  Jack Turner, 2011 (Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme). Kemudian tulisan lainnya yang menarik berjudul Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan (Penulis : Giles Milton, 2015). Ini adalah bukti sejarah bahwa orang Maluku sudah menapaki dunia modialisasi ekonomi dan globalisasi peradaban.

Cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia. Cerita dan pengalaman globalisasi dan mondialisasi telah dialami oleh orang pulau di Maluku sejak zaman dahulu. Daya tarik-menarik itu hanya bersimpul pada satu persoalan klasik saja yaitu eksploitasi sumberdaya alam yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi.

Pada cerita lama dimana zaman itu eksotik rempah-rempah bagaikan sumberdaya minyak bumi dan emas di masa kini. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat mempengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku. Keunikan ini bisa dilihat dari kondisi geografis Maluku yang banyak didominasi pulau-pulau kecil.

Membangun Maluku dengan identitas pulau kecil seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Jika selama ini kita melihat Maluku dari pulau-pulau dengan bentangan laut di sekitarnya maka ke depan lebih arif jika sudut pandang itu diubah yaitu melihat lautan yang bertatakan pulau-pulau. Dengan cara pandang demikian, laut dan darat akan menjadi satu kesatuan yang disebut konsep laut-pulau dimana dalam merumuskan konsep pembangunan di Maluku seyogyanya mengandung makna filosofi bahwa segala aktivitas di darat sekaligus untuk memuliakan lautan.

Secara antropologi-sosiologi, orang pulau adalah bukan orang yang terisolir. Mereka senantiasa terbuka (welcome) menerima para tamu. Jika ada kapal atau perahu yang singgah di suatu pulau, maka secara spontan mereka akan menyambutnya dengan gembira bahkan semua penduduk akan berlari menuju tepi pantai untuk melihat siapakah gerangan tamu yang datang itu? Kontak sosial mereka dengan orang luar terjadi tanpa batas.

Orang Maluku senang mengungkapkan pokok pikirannya dalam lirik lagu dan mari kita telaah ide tentang Maluku dari lagu yang berjudul Maluku Tanah Pusaka.

 

Maluku Tanah Pusaka

Sio… Maluku tampa beta putus pusa e

Paser putih alus e

Gunung deng tanjong

Beta seng lupa e

Ina ama lama lawang seng baku dapa e

Sio… biar jauh bagini e

Tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera

Sampe Tenggara Jauh

Katong samua basudara

Nusa Ina …sio …..

Katong samua dari sana

Biar jauh bagini e

Beta seng bisa lupa

Maluku tanah pusaka

Satu nama satu gandong

sio… satu suku

Maluku manis e, ..

 

Lagu ini memaparkan ide tentang Maluku dan manusianya dan menurut interpretasi penulis inilah identitas ke-Maluku-an yang hakiki. Syair ini adalah nasihat yang ditujukan untuk anak Maluku yang telah merantau ke luar Maluku atau anak Maluku yang ada di Maluku tapi belum paham betul tentang Maluku. Orang Maluku mempresentasikan wilayahnya yang indah dan elok dengan “paser putih alus”. Dalam pikiran orang Maluku hanya mengenal dua ruang yaitu gunung dan pantai yang sering disebut « kadara dan kalao ». Kata Ina Ama bukan saja rasa hormat pada kedua orangtua tetapi juga ada ungkapan rasa puja dan puji kepada para leluhur.

Yang disebut orang Maluku itu dalam kawasan Kepulauan Maluku. Jadi tidak ada beda antara orang di utara dan orang di selatan. Konsep itu tidak ada dalam pikiran orang Maluku sehingga secara administratif pemerintahan boleh terbelah tapi pikirannya satu sebagai Tanah Raja-Raja. Maluku saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan Raja Ampat Moloko Kieraha (Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan). Bagaikan air yang mengalir dari “dara” ka “kalao” maka semua dipertemukan di Nusa Ina (Pulau Seram) sebagai pulau terbesar dalam struktur Kepulauan Maluku. Untuk itu semua memang berasal dari Nusa Ina (Seram).

Kata “manise” dari dulu hanya ditempelkan dalam ungkapan yang dialamatkan kepada Pulau Ambon menjadi Ambon Manise, mengapa ? Ini ada kaitannya dengan “paser putih alus e”. Everhardus Georgius Rumphius tahun 1741 dalam bukunya Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense) melaporkan bahwa struktur vegetasi tanaman terlengkap di dunia ada di Pulau Ambon. Dan memang pada zamannya itu pulau Ambon dibungkus dengan vegetasi tanaman yang sangat indah. Bagi seorang ilmuwan botani Eropa yang berkebangsaan Jerman dan bekerja untuk kolonial Belanda, maka vegetasi hutan tropis demikian bagaikan sebuah surga sehingga ungkapan Ambon Manise berulang-ulang dituturkan. Rumphius memang sangat menikmati hidup yang panjang di Pulau Ambon hingga dia harus kehilangan anggota keluarganya (istri dan anaknya) pada tsunami dahsyat di Pulau Ambon di medio abad ke-18. Jadi kata Maluku Manise hanya transformasi dari kata Ambon Manise.

Pertanyaan yang bisa diajukan adalah katalisator apakah yang menyatukan seluruh pulau, baik besar maupun kecil bahkan yang telah eksis memiliki nama dan yang anonim, menjadi suatu kesatuan yang utuh ?

Pemahaman yang komprehensif tentang pulau-pulau kecil terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang ada di Maluku dengan segala komponen di dalamnya merupakan suatu cara untuk bisa memahami makna keutuhan wilayah di samping pemahaman tentang etno-antropologi dari setiap wilayah di Maluku. Beranda depan pulau-pulau kecil itu adalah suatu tempat dimana lalu lintas manusia lalu-lalang dengan segala peristiwa pertukaran budaya yang berlangsung.

 

IDENTITAS SEBAGAI ORANG BUPOLO DI PULAU BURU

Orang Bupolo adalah masyarakat asli Pulau Buru yang tinggal terisolir di daerah pegunungan. Mereka juga tidak tahu bahwa siapa itu Gubernur Maluku atau Presiden RI, tetapi mereka tahu bahwa ini bumi Maluku dan Indonesia, dimana cerita itu diperolehnya dari orang Buton dan Bugis saat mereka melakukan transaksi dagang dengan pedagang antar pulau yang secara reguler datang di Pulau Buru. Kisah masyarakat yang hidup terisolir di Maluku yang menempati habitat gunung atau pulau kecil masih banyak yang belum terungkap. Jika arah pembangunan yang dimulai dari wilayah pinggiran maka selain wilayah 3T sebagaimana disebutkan di atas maka keterisolasian penduduk pada wilayah pegunungan juga seyogyanya menjadi perhatian untuk didiskusikan pemecahannya.

Harus diakui bahwa Pulau Buru menyimpan kisah kelam yang sangat tidak manusiawi yang dialami para tahanan politik (tapol) sejak penempatan mereka yang pertama di tahun 1969. Kawasan penahanan mereka untuk pertama kali disebut Tefaat (=Tempat Pemanfaatan). Sesuai namanya Tefaat, maka para tapol sangat menderita karena benar-benar dimanfaatkan untuk pekerjaan membuka lahan pertanian menjadi sawah dan juga membabat hutan kayu untuk perdagangan kayu gelondongan.

Beberapa tahun kemudian cara Indonesia dalam menangani para Tapol mendapat protes dan kritik dari masyarakat internasional, akhirnya Tefaat dirubah nama menjadi Inrehab (=Instalasi Rehabilitasi). Namun praktek penanganan dan pembinaan kepada para Tapol tetap tidak berubah karena militer senantiasa memakai pendekatan kekerasan. Untuk itu masyarakat internasional lebih mengenal Pulau Buru sebagai « le goulag des mers du sud (bahasa Perancis) » yang berarti: Goulag[3] di Laut Selatan.

Berbicara tentang identitas orang Bupolo maka kami ingin memperkenalkan bagaimana cara pandang mereka tentang masyarakat lain yang hidup secara bersama-sama di Pulau Buru ini. Cara pandang itu dapat dilihat pada penjelasan skema manusia dalam gambar berikut ini.

 

GEBA-BURU

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo (masyarakat autokton) membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

Hadirnya para tahanan politik G30S/PKI dimana Pemerintah Orde Baru saat itu memanfaatkan dataran Waeyapo di sebelah utara timur Pulau Buru untuk dijadikan kamp konsentrasi tahanan politik. Tahun 1980 kawasan ini ditetapkan sebagai daerah pemukiman program transmigrasi nasional yang diperuntukkan untuk dua kelompok yaitu kelompok pertama kepada para tapol G30S/PKI yang dinyatakan bebas dan tidak kembali ke Pulau Jawa, sedangkan kelompok kedua adalah transmigran dari masyarakat Pulau Jawa termasuk di dalamnya para pensiunan militer. Yang terakhir disebut dimaksudkan untuk pembinaan teritorial kepada mantan tahanan politik. Jadi status bebas telah disandang oleh para tapol namun dalam kesehariannya tetap dikontrol oleh pensiunan militer. Di era reformasi ini sekat-sekat kecurigaan telah lenyap secara perlahan-lahan dengan berubahnya waktu dan cara pandang geopolitik.

 

DUNIA ORANG BUPOLO

Kuatnya ikatan orang Bupolo dengan ruang kosmologi adalah adanya cerita mitos yang sekaligus pula menjadi perekat diantara mereka, misalnya gunung dan air adalah dua kekuatan yang memberikan banyak inspirasi hidup bagi orang Bupolo untuk tetap bertahan pada wilayah pegunungan yang sangat terisolir. Oleh sebab itu dalam keseharian Gunung Date adalah tempat berdiam para leluhur. Dengan demikian Gunung Date tetap harus dijaga dengan tatanan adat yang kuat dari pengaruh orang luar, misalnya dilarang membawa orang luar mengunjungi dan melintasi Gunung Date. Mereka konsisten mempertahankan daerah itu dengan melarang hadirnya perusahaan yang eksploitasi hutan dengan izin HPH.

Orang Bupolo masih sangat yakin pula bahwa hingga saat ini leluhur mereka yang dipresentasekan dengan seekor morea besar (= eel, anguille, Anguilla marmorata) itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana seluas 75 Km² tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat.

Rana lalen artinya daerah diseputar Danau Rana dan Gunung Date yang terletak di tengah pulau. Orang Bupolo mengibaratkan daerah seputar Danau Rana dan Gunung Date sebagai surga yang perlu dipelihara kelestariannya. Konsep konservasi sumberdaya alam telah mereka kuasai dan melakukannya demi kebesaran leluhur (Opo Lastala) yang selalu mengontrol mereka dari singgasananya di Gunung Date.

Orang Bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan sebenarnya mereka juga sangat curiga dengan orang Bupolo sendiri yang sudah mengenal peradaban baru (agama). Diseputar Rana lalen, hanya ada dua kampung (Waereman dan Waegrahi) yang tetap hidup dengan mempraktekkan ritual adat. Sisanya yaitu sebanyak lima kampung telah menerima agama protestan (Aerdapa, Kakutuan, Warujawa, Wamanboli, dan Waemiting).

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo.

Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 2 berikut ini.

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 2. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan Manusia

 

Jika diperhatikan Gambar 2 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

 

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

Orang Bupolo memiliki nilai dan norma-norma untuk melindungi lautan, air, danau, gunung, tanaman tahunan (sagu dan minyak kayu putih serta pohon lainnya) dan tanman pangan. Hutan primer merupakan tempat tinggal roh nenek moyang memelihara kelangsungan manusia dan alam. Oleh karena itu, orang Bupolo malarang pengusaha kayu yang memiliki hak pengusahaan hutan (HPH) untuk beroperasi di hutan primer.   Wilayah utara Pulau Buru didominasi iklim yang kering dengan sedikit curah hujan. Di daerah ini komoditas kayu putih, gelan, (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) sangat dominan penyebarannya bersama-sama dengan alang-alang, mehet, (Imperata sp) sampai pada altitude 500 meter. Pada altitude yang lebih tinggi akan ditemui hutan tropis basah. Sedangkan wilayah selatan pada altitude 0 – 100 banyak diselimuti oleh daerah batuan dan karang. Variasi biodiversitas akan terlihat pada altitude lebih dari 100 meter hingga altitude yang lebih tinggi.

Di daerah selatan hutan tropis basah sangat dominan dengan tegakan pohon Shorea (biahut) dan Agathis (kisi) yang sangat rapat. Dengan demikian jika kita berada di daerah pesisir pantai utara maupun selatan seolah-olah ada kesan bahwa pulau ini sangat gersang padahal di dalamnya ada terdapat hutan dengan biodiversitas yang tinggi dan diikuti dengan jenis fauna yang sangat unik dan ada beberapa fauna yang sifatnya sangat khas. Seperti misalnya terdapat babi rusa. Akhir-akhir ini tingkat eksploitasi hutan yang tinggi oleh para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) sangat mempengaruhi keseimbangan lingkungan.

Hutan primer adalah tempat orang Bupolo meramu damar dan berburu binatang hutan seperti babi (fafu), babi rusa (fafu boti), rusa (mjangan), dan kusu (blafen, Phalanger dendrolagus). Untuk berburu harus menunggu musim buah dari pohon meranti (biahut, Shorea sp), karena buah dari pohon tersebut akan menjadi makanan bagi binatang hutan tersebut.

Pada kawasan hutan sekunder mereka lebih banyak melakukan kegiatan pertanian. yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua, akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun dengan melihat gejala perubahan pada daun.

Setelah menanam kacang tanah pada kebun baru, orang Bupolo melakukan kegiatan mengolah minyak kayu putih atau mereka sebut pula urut daun, yang banyak dilakukan di daerah sebelah utara Pulau Buru, karena disini banyak dijumpai formasi pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae) yang tercatat sebagai tanaman asli Pulau Buru.

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Umumnya tidak ada masalah gender dalam hubungan laki-laki dan perempuan Bupolo. Perempuan juga mempunyai peranan yang besar dalam setiap keputusan keluarga maupun peranannya dalam upacara ritual atau adat. Orang Bupolo menempatkan perempuan dalam posisi sesuai kodrat mereka.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

Keturunan adalah tujuan utama berkumpulnya laki-laki dan perempuan. Jika keturunan tidak diperoleh dari kelompok kecil tadi maka perempuan harus rela pasangan laki-laki mengambil perempuan yang lain dan tinggal serumah dengannya. Untuk itu dalam suatu rumah bisa kita jumpai seorang laki-laki hidup dengan lebih dari satu perempuan. Catatan kami memperlihatkan bahwa seorang laki-laki bisa hidup serumah dengan minimum dua perempuan dan maksimum empat perempuan. Sedangkan rata-rata jumlah anak dari suatu perkawinan adalah empat.

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana (Gambar 3).

KONSTRUKSI RUMAH ORANG BUPOLO

Gambar 3.  Konstruksi rumah orang Bupolo (Foto: Pattinama, 2005)

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

Tanaman sagu adalah merupakan kemurahan Sang Pencipta yang diberi kesempatan hanya tumbuh sebagai tanaman asli di Maluku dan Papua, namun dari yang mengkonsumsinya hanyalah orang Bupolo yang mampu memaknainya dalam kesatuan hidup mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 4. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Untuk jelasnya mari kita lihat Gambar 4 (Louhenapessy, 1992), dimana interpretasi etnobotani bisa dijelaskan sesuai tradisi yang dipraktekan oleh orang Bupolo.   Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah (fase pohon sagu dipanen), penampilan bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya. Dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak. Hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul. Ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku mau jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Ciri khas yang akan ditonjolkan adalah bertubuh tegar, berkulit hitam, dada dibelah putih bersih indikator suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa tepung sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan sama sekali tidak berarti.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

Dalam kesederhanaan berpikir orang Bupolo jika seorang Gebakuasan sudah tua dan tidak mampu lagi berjalan maka sebagian energi kekuasaannya telah dilimpahkan kepada yang akan menggantikannya secara perlahan-lahan dan pada saat dia meninggal maka penggantinya sudah mampu melanjutkan peranannya untuk memimpin kelompok bialahin tersebut. Orang Bupolo juga sudah mengerti suatu proses suksesi kekuasaan yang tenang, berlanjut dan tidak saling membunuh. Sebab jika pohon itu ditebang pun harus punya perhitungan yang sangat matang. Ketika ditebang tidak jatuh menimpa pohon yang lain sehingga kelanjutan generasi itupun tidak akan terputus. Untuk itu mereka cenderung memilih suatu proses yang alami dengan suatu kaderisasi yang telah diatur menurut kebiasaan hidup mereka.

Landasan berpikir yang bersandar pada tanaman sagu ini kalau dimiliki oleh semua orang di kepulauan Maluku dan Papua apalagi yang telah dinobatkan sebagai pemimpin seperti pohon (1), seharusnya dia mampu membagi energi yang merata dan dia sendiri yang harus berani memutuskan kapan harus ada kesempatan hidup kepada yang lainnya. Pohon (1) memiliki sikap menang sendiri dan mau tetap berdiri hingga pohon (5) muncul. Pada saat yang sama itu jika yang berikutnya yaitu pohon (2) juga tidak berada dalam etika kesabaran untuk harus bersabar menerima kenyataan karena memang pohon (5) itu telah muncul, maka tindakan tergesa-gesa di luar etika hidup terpaksa harus ditempuh, bisa memberi dampak kepada yang lainnya. Bisa saja terjadi pohon (2) sendiri yang harus menerima akibatnya dari ulahnya sendiri. Dengan kata lain pemahaman hidup terhadap pohon sagu telah menunjukkan arah sebenarnya harus hidup taat asas dalam tatanan etika hidup yang teratur. Dan penulis banyak mengamati sebagian besar orang Maluku terkadang mau menyalahkan landasan berpikir ini karena menganggap bahwa tanaman sagu telah salah memberi arti sebenarnya bagi pandangan hidup mereka. Untuk itu kualitas dari pohon (1) sebagai pemimpin harus diperhitungkan dengan matang jika tidak maka dapat dipastikan dia akan menjadi penghalang distribusi energi kepada pohon yang lainnya.

Metroxylon sagu adalah tanaman asli di kepulauan Maluku dan Papua (termasuk PNG) kemudian menyebar ke Pasifik Selatan dan seterusnya beberapa spesies dikembangkan ke arah barat Indonesia menuju Malaysia sampai ke India. Namun yang memilihnya sebagai makanan pokok adalah orang di kepulauan Maluku dan di Papua.

Dari orang Bupolo kita dapat mengerti tentang bagaimana pendekatannya kepada kelompok masyarakat di pulau lain. Pada prinsipnya orang pulau tidak pernah terisolir hidupnya dan orang Bupolo sendiri telah mencatat sejarah perjalanan mereka sebagai bukti bahwa mereka mampu bersinggungan dalam pergaulan di level nasional dan internasional. Untuk itu studi tentang etnobotani yang penulis tekuni hanya mau membuat suatu pendekatan guna mendalami masyarakat dari tanaman yang ada disekitar habitat dimana manusia hidup, dengan begitu kita dapat mengerti hubungan timbal balik antara masyarakat dan lingkungannya.

Gambar 5 berikut ini menyajikan rumpun sagu yang dibudidayakan. Dalam satu rumpun idealnya hanya ada lima pohon sagu. Louhenapessy (1992) mengatakan bahwa dalam areal hutan dimana tanaman sagu tumbuh secara liar, maka ditemui ada sekitar 90 pohon sagu dalam satu rumpun. Tanaman sagu mengalami proses perkecambahan tunas untuk melahirkan pohon yang baru melalui akar. Pohon sagu yang tumbuh secara liar akan menghasilkan jumlah pati sagu yang sedikit bila dibandingkan dengan pohon dalam rumpun sagu yang mendapat perlakuan pemeliharaan yang intensif. Hal ini berhubungan dengan kompetisi energi dalam rumpun tersebut.

Secara ekologi, pohon sagu menciptakan kondisi hidromorfis, artinya akan tercipta areal basah atau berair pada habitat tanaman tersebut, sehingga apabila pohon sagu tumbuh secara liar dalam hamparan yang luas maka secara otomatis akan menciptakan daerah rawa-rawa.

 

EPILOG : PULAU BURU DAN KEMAJUANNYA

Daoed Joesoef penulis buku Emak (2005) dalam diskusi lisan dengan penulis pada forum alumni Prancis di Jakarta tahun 2011 pernah mengatakan bahwa Maluku dan Papua adalah sebuah kubangan yang didalamnya tersimpan harta bumi alami yang masih terpendam. Jika harta itu diolah maka kedua wilayah ini akan menjadi benua ke-enam.

Pesan di atas sebenarnya memberikan sinyal yang kuat bahwa masa depan Indonesia ada di Papua dan Maluku. Untuk itu Maluku dengan otonomi daerah dan ditambah lagi kepemimpinan dan kekuasaan daerah provinsi, kabupaten dan kota saat ini ada dalam genggaman orang Maluku, maka sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun Maluku. Jangan lagi pikirkan soal jatah kepemimpinan nasional karena itu akan membuang waktu dan energi.

Terobosan pertama menurut hemat penulis seyogyanya dimulai dengan melakukan rekayasa sosial yang akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya ketahanan masyarakat menghadapi setiap perubahan, Inovasi teknologi akan diterima dengan baik apabila masyarakat dipersiapkan dengan segala informasi yang lengkap dan materi penyuluhan yang bisa dipahami. Dengan demikian informasi sosial yang lengkap akan mendukung penerapan teknologi dengan tepat sasaran dan tepat tujuan.

Terobosan yang berikut adalah pulau Buru ke depan bisa membangun museum alam tentang “Goulag di Pantai Selatan” sebagai peringatan atas tragedi kemanusiaan yang paling mengenaskan dalam sejarah manusia. Selain digunakan sebagai obyek wisata maka pembangunan museum ini pula bisa menggambarkan sejarah pembangunan pertanian yang sawah yang tidak dapat dibayangkan bahwa bisa dibangun pada wilayah formasi tanaman sagu sebagai biodiversitas awal pada areal tersebut. Pengalihan fungsi lahan juga bisa menjadi suatu laboratorium alami dalam mempelajari evolusi tanaman dimana lingkungan akan berubah seturut dengan perubahan vegetasi tanaman.

Penulis tiba pada usulan yang konkrit untuk memperkuat identitas ke-Maluku-an yaitu mensinergikan setiap komponen interdisipliner yang diilustrasikan bagaikan rangka seekor ikan yang menyusun struktur anatomi ikan.

Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat baik yang menghuni pulau-pulau kecil di wilayah 3T maupun yang menghuni wilayah terisolir di pegunungan adalah teknologi nutrisi dan pakan ternak, bioteknologi komoditas unggulan, dan rekayasa sosial.

Tiga komponen ini menempati bagian rangka ikan yang paling peka yaitu pada bagian kepala hingga rongga insang. Artinya bahwa komponen teknologi sangat diperlukan bagi orang pulau, jika tidak ada terobosan teknologi maka seluruh hasil produksi akan terbuang karena membutuhkan jalur pemasaran yang relatif panjang. Komponen pendukung dan juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan adalah ekologi kepulauan dan etnobotani dimana struktur ini bisa menjadi konsep holistik dalam membangun identitas orang Maluku.

diagram-ikan

Gambar 5. Diagram Ikan Konsep Pikiran Orang Maluku pada Pulau Kecil Terdepan dan Terluar

 

DAFTAR PUSTAKA

1.Joesoef Daoed, 2005, Emak, Kompas, Jakarta

2.Jonge de Nico and van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonesia, Perplus, Singapore.

3.Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab. Agrometeorologi, IPB, Bogor.

4.Milton Giles, 2015, Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan, Pustaka Alvabet, Banten.

5.Pattinama, Marcus J. dkk, 2007. Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku: Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti.

6.Pattinama, Marcus J. 2015. Identitas Maluku dalam Konteks Nasional. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional STAKPN Maluku di Ambon pada tanggal 24-25 November 2015.

7.Rumphius Everhardus Georgius, 1741, Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense),

8.Turner Jack, 2011, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme,Komunitas Bambu, Jakarta.

 



[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon dan Ethnobotanist Pulau Buru.

[2] Burat atau Sareat (Bahasa Buru) adalah adat makan sirih pinang orang Bupolo yang diadakan sebelum dimulainya suatu pertemuan atau diskusi adat.

[3] Goulag singkatan dalam bahasa Rusia « Glavnoïe Oupravlenie Laguereï » artinya « Menuju Tempat Penampungan (baca : kamp konsentrasi) ». Kamp konsentrasi Goulag disebut pula Kepulauan Goulag, dibangun di lahan terbuka yang sangat luas, tidak berpenghuni (kira-kira sebesar Pulau Borneo : Kalimantan + Serawak, Malaisia) di Rusia Utara-Timur (dulu : Uni Soviet). Sebenarnya Goulag telah dibangun sejak rejim Tsar dan dilanjutkan pada rejim Joseph Stalin hingga Brejnev dan baru dinyatakan dibubarkan pada rejim Perestroïka (Gorbachev). Kekuatan ekonomi Uni Soviet kala itu dibangun dengan memanfaatkan tenaga para tahanan yaitu mereka yang beroposisi dengan rejim berkuasa, para bandit kriminal dan pembunuh. Di Goulag, mereka harus menjalani kerja paksa untuk negara (baca : rejim berkuasa). Tentu banyak korban manusia yang mati sia-sia setiap harinya karena pekerjaan berat yang harus dijalani, kondisi sanitasi kamp konsentrasi yang sangat jelek dan suhu yang sangat dingin kadang mencapai -45° C saat musim dingin. Kerja paksa yang mereka lakukan merupakan sebagian sumbangan yang pada gilirannya menjadikan Uni Soviet sebagai negara adi-daya dan tandingan bagi Amerika Serikat, namun akhirnya kekuatan itu tumbang pada 1991 dan selanjutnya disebut Rusia.

Makalah dipresentasikan pada Temu Budaya Maluku. Diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku, di Namlea Tanggal 5 Desember 2015

IDENTITAS MALUKU DALAM KONTEKS NASIONAL

peta-maluku

Max Marcus J. PATTINAMA

Email : mjpattinama@gmail.com

SEKAPUR SIRIH

Mengenal, memahami dan membangun Kepulauan Maluku dengan seluruh identitas ke-Maluku-an, dimana penduduknya mayoritas mendiami pulau-pulau kecil, seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Itu berarti orang Maluku kekinian bukan menuntut diperlakukan khusus atau istimewa, karena orang Maluku sadar betul bahwa mereka bukanlah spesies unik. Kenyataan membuktikan bahwa ada proses perlambatan dalam membangun wilayah ini dan manusianya. Hal ini mungkin disebabkan karena wilayah Maluku yang sangat luas. Maluku memang dikenal sebagai “Indonesia Mini”. Lalu apa yang harus dilakukan ? Jawabannya adalah hanya orang Maluku sendiri yang mampu mengenal dan memahami identitas dirinya. Semua wilayah administratif pemerintahan di Maluku telah dikuasai dan dipimpin oleh orang Maluku. Jadi kalau ada istilah perlambatan dalam membangun Maluku, kemudian ada kesulitan mengenal dan memahami identitas ke-Maluku-annya, maka yang harus disalahkan adalah orang Maluku itu sendiri.

PROLOG : IDENTITAS SEBAGAI BANGSA INDONESIA

Indonesia sebagai suatu negara memang cukup luas dan itu tidak dapat dibayangkan secara logika bahwa seluruh untaian pulau besar dan kecil semuanya dapat dipersatukan sebagai suatu Negara Kepulauan yang semenjak dahulu disebut Nusantara. Semangat Nusantara dengan profil manusia maritim adalah modal sosial yang bisa merekatkan seluruh pulau itu bagaikan magnet dengan sentrum pemerintahan Jakarta di Pulau Jawa. Hal ini berarti  memandang Indonesia hanya baru dari satu aspek saja yaitu geografis.

Pada aspek eco-etnografi, maka akan semakin kompleks lagi yaitu mempersatukan seluruh adat, budaya dan bahasa dalam suatu untaian perekat yakni budaya Indonesia. Walaupun dalam prakteknya yang disebut budaya Indonesia mendapat pengaruh yang besar pada sentrum pemerintahan di Pulau Jawa. Jadi kalau menyatakan diri sebagai orang Indonesia nampaknya masih pada tataran konsep yang abstrak. Alangkah lebih bangga menyatakan diri sebagai orang Sumatra, orang Jawa, orang Kalimantan, orang Sulawesi, orang Maluku atau orang Papua. Dalam kesatuan orang yang disebutkan itupun masih akan ditemui kelompok kekerabatan yang khas dan sangat beragam, misalnya diskursus[1] orang Sumatra di dalamnya ada orang Aceh, orang Batak atau orang Padang. Diskursus orang Jawa di dalamnya ada orang Sunda, orang Jawa tulen atau orang Betawi. Begitupun dengan diskursus orang Maluku di dalamnya ada orang Ambon, orang Lease, orang Buru, orang Banda, orang Seram atau orang Kei serta orang Tenggara Jauh.

Bagaimana dengan pengungkapan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia? Jika menyebut identitas demikian mungkin saja lebih konkrit maknanya. Berbeda misalnya dengan masyarakat Amerika atau Eropa yang menyatakan diri sebagai orang Amerika atau orang Eropa (I am American atau Je suis européen). Perhatikan orang Inggris yang kemudian bermigrasi bersatu dengan bangsa lain menjadi orang Amerika lalu menyatakan diri pribadi atau saya dengan “I” (=ai). Kata “I” ini mulai ditulis pada bagian depan, tengah dan akhir kalimat harus ditulis dengan huruf kapital. Negara Inggris adalah sebuah negara kepulauan di Eropa. Kata saya dalam bahasa Eropa lainnya tidak menganut aturan ini. Ini berarti bahwa orang pulau cenderung lebih bayak menonjolkan diri pribadi.

Dari uraian di atas jelas bahwa mengungkapkan identitas diri ada kaitannya dengan kondisi geografis. Masyarakat di wilayah kontinental adalah lebih konkrit menyatakan identitas diri dengan terminologi orang, sedangkan Indonesia sebagai wilayah kepulauan yang terdiri dari pulau besar dan lebih dominan pulau-pulau kecil, akan menyatakan identitas berdasarkan pulau sebagai habitat hidupnya. Istilah orang juga harus dibedakan dengan istilah masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu mengatakan masyarakat Indonesia sebagai Bangsa Indonesia akan lebih kuat dan lebih bermakna dari pada menyebut diri sebagai orang Indonesia. Keunikan Indonesia yang demikian akan lebih menambah bobot pandangan bangsa lain terhadap Nusantara khususnya pada aspek tata pengelolaan sosial pemerintahan yang diterapkan untuk dapat menyatukan bangsa Indonesia dari ufuk Barat hingga ufuk Timur atau dari Sabang sampai Merauke. Orang asing (bukan Orang Indonesia) akan menjadi heran dan makin tidak paham bahwa Indonesia yang besar ini bisa dipersatukan hingga pada saat ini.

Pada sudut pandang socio-economica sangatlah tidak efisien mengelola negara yang sangat luas ini. Akibatnya perkembangan kemajuan masyarakat akan sangat lambat apalagi diikuti dengan lambannya perkembangan penguasaan teknologi. Jelaslah hal itu akan memerlukan anggaran negara yang relatif tidak kecil. Jika pendapat ini dibenarkan tanpa diungkapkan dengan suatu data atau pengalaman berdasarkan riset, maka mungkin kesimpulan prematur yang diambil adalah “Indonesia Bubar”. Secara historis telah diungkapkan bahwa pengalaman bernegara kita sudah membuktikan dimana ketika itu sistem politik pemerintahan pernah berganti-ganti, hingga akhirnya tiba pada keputusan “harga mati” yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi berkumpulnya manusia tidak dapat diintepretasi dalam skala untung atau rugi. Ada sesuatu alasan yang sulit diungkapkan dan para etnolog sering katakan itu adalah bagian dari rasionalitas yang tersembunyi (hidden rationality). Masyarakat Indonesia menganut filosofi “mangan ora mangan asal ngumpul”,”yang penting mudik” dan “bakumpul orang basudara” adalah nilai identitas diri yang sangat sulit diintepretasi secara rasional. Itulah hakekat hubungan kemanusiaan yang nilainya sangat tinggi.

Apabila tinjauannya pada aspek eco-policy, maka Indonesia adalah Negara Kepulauan terbesar telah sukses melakukan agenda reformasi politik. Bayangkan saja dari negara dengan pemimpin yang “diktatorial” selama dua rezim kekuasaan (Orde Lama dan Orde Baru) ke negara yang sukses melakukan reformasi infra dan supra struktur politik menuju sistem negara demokrasi. Modal sosial lainnya yang dimiliki Indonesia adalah masyarakat yang plural, baik etnis maupun agama. Kemudian konflik sosial bisa tuntas diselesaikan dengan sangat santun dan beradab, misalnya persoalan Aceh dan Papua, serta tragedi kemanusiaan di Maluku dan Poso. Bandingkan saja dengan persoalan geopolitik lainnya yang terjadi di beberapa belahan dunia yang tidak tuntas diselesaikan hingga masih menyisakan dendam kesumat. Katakanlah persoalan di Timur Tengah dan persoalan religius di Irlandia Utara. Jadi dalam tatanan pergaulan diplomasi politik global dengan menyelesaikan reformasi politik dan konflik sosial, maka Indonesia sangat disegani karena dianggap telah melakukan loncatan politik yang berhasil. Dalam beberapa analisis dikemukakan bahwa demokrasi hanya bisa terwujud apabila pilar ekonomi negara telah kuat. Pendapat itu bisa saja benar atau salah, tetapi yang pasti bahwa penguatan pilar ekonomi negara ini hanya bisa terwujud dengan terobosan rekayasa teknologi yang ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian pulau-pulau kecil yang sangat dominan di Nusantara.

Pertanyaan yang bisa diajukan adalah katalisator apakah yang menyatukan seluruh pulau, baik besar maupun kecil bahkan yang telah eksis memiliki nama dan yang belum ada nama, menjadi suatu kesatuan yang utuh? Pemahaman yang komprehensif tentang pulau-pulau kecil terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang ada di Indonesia dengan segala komponen di dalamnya merupakan suatu cara untuk bisa memahami makna keutuhan wilayah di samping pemahaman tentang etno-antropologi dari setiap wilayah.

 

IDENTITAS SEBAGAI ORANG MALUKU

Isu tentang konsep keutuhan wilayah merupakan dimensi pertahanan keamanan dan sesungguhnya makna identitas sering dihubungkan dengan isu dimaksud karena berkohesi dengan apresiasi diri demi menjunjung tinggi jati diri dan ciri-ciri seseorang atau masyarakat. Pertahanan keamanan terusik itu sama halnya dengan terusiknya identitas. Mengupas tema identitas, kami lebih condong menempelkannya dengan terminologi orang (man) dan masyarakat (society). Mengapa ? Orang mewakili individu dan masyarakat mewakili kelompok orang. Kami memang sengaja menghindar menggunakan terminologi suku, etnis dan pribumi atau non pribumi. Terminologi itu lebih banyak digunakan pada era kolonial dimana masyarakat belum berkembang dan masih hidup dalam sekat-sekat superior dan inferior.

Orang Maluku yang tinggal di Pulau Enu, Pulau Kisar dan Pulau Leti Moa Lakor (Lemola), yang kesemuanya adalah pulau kecil 3T di Maluku, mungkin saja sangat jauh dari konsep perubahan bernegara yang sementara terjadi di sentrum pemerintahan di Pulau Jawa, tetapi mereka tetap tahu dan sangat setia sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air satu dan berbahasa satu. Orang Bupolo adalah masyarakat asli Pulau Buru yang tinggal terisolir di daerah pegunungan tidak tahu bahwa siapa itu Gubernur Maluku atau Presiden RI, tetapi mereka tahu bahwa ini bumi Indonesia, dimana cerita itu diperolehnya dari orang Buton atau Bugis saat mereka melakukan transaksi dagang dengan pedagang antar pulau yang secara reguler datang di Pulau Buru. Kisah masyarakat yang hidup terisolir di Indonesia yang menempati habitat gunung atau pulau kecil masih banyak yang belum terungkap.

Cerita lama dan elok tentang kepulauan Maluku (Mollucas Archipelago) adalah kisah tentang rempah-rempah (spices): bunga cengkeh dan buah pala, serta awal sejarah kolonisasi oleh orang Eropa di Nusantara. Pesona rempah sangat luar biasa ditulis oleh  Jack Turner, 2011 (Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme). Kemudian tulisan lainnya yang menarik berjudul Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan (Penulis : Giles Milton, 2015). Ini adalah bukti sejarah bahwa orang Maluku sudah menapaki dunia modialisasi ekonomi dan globalisasi peradaban.

Cerita terkini hanya menyisakan kesedihan seperti yang tertuang dalam buku karya de Jonge dan van Dijk (1995) berjudul Forgotten Islands of Indonesia. Cerita dan pengalaman globalisasi dan mondialisasi telah dialami oleh orang pulau di Maluku sejak zaman dahulu. Daya tarik-menarik itu hanya bersimpul pada satu persoalan klasik saja yaitu eksploitasi sumberdaya alam yang bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi.

Pada zaman itu, eksotik rempah-rempah bagaikan sumberdaya minyak bumi dan emas. Ditemukannya ciri khusus dalam kandungan sumberdaya alam di Kepulauan Maluku disebabkan iklim Maluku dikenal sangat spesifik dan menurut riset yang dilakukan oleh Koesmaryono (2007) bahwa iklim demikian dikategorikan iklim lokal dan sama sekali tidak terpengaruh oleh iklim muson dan ekuatorial. Karakteristik iklim lokal sangat mempengaruhi keberadaan biodiversitas flora dan fauna yang pada gilirannya sumberdaya alam tersebut hanya bisa dijumpai di Maluku. Keunikan ini bisa dilihat dari kondisi geografis Maluku yang banyak didominasi pulau-pulau kecil dan penduduk tersebar menempati pulau tersebut.

Membangun Maluku dengan ciri-ciri pulau kecil seyogyanya menggunakan jendela pandang yang spesifik. Jika selama ini kita melihat Maluku dari pulau-pulau dengan bentangan laut di sekitarnya maka ke depan lebih arif jika sudut pandang itu diubah yaitu melihat lautan yang bertatakan pulau-pulau. Dengan cara pandang demikian, laut dan darat akan menjadi satu kesatuan yang disebut konsep laut-pulau dimana dalam merumuskan konsep pembangunan di Maluku seyogyanya mengandung makna filosofi bahwa segala aktivitas di darat sekaligus untuk memuliakan lautan.

Orang Maluku yang mendiami pulau kecil 3T inilah yang sebenarnya hidup dalam Beranda NKRI. Beranda adalah ruang beratap yang terbuka dan tidak berdinding di bagian samping atau depan rumah. Pemahaman kita tentang pembagian ruang dalam suatu “rumah” dimana ada manusia sebagai penghuninya, mau menyatakan bahwa pembagian ruang telah menunjukkan strata atau pelapisan. Hal ini dapat dilihat juga di dalam masyarakat dan sering kita sebut stratifikasi sosial. Beranda merepresentasikan fungsi sosial yang penting. Jadi orang yang menempati beranda rumah sebenarnya adalah wajah dari seluruh isi rumah tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa kita menganggap mereka yang hidup di pulau kecil terluar sebagai daerah terpencil dan terisolir serta seluruh masyarakatnya tergolong miskin dan tak berdaya?

Secara antropologi-sosiologi, orang pulau adalah bukan orang yang terisolir. Mereka senantiasa terbuka (welcome) menerima para tamu. Jika ada kapal atau perahu yang singgah di suatu pulau, maka secara spontan mereka akan menyambutnya dengan gembira bahkan semua penduduk akan berlari menuju tepi pantai untuk melihat siapakah gerangan tamu yang datang itu? Kontak sosial mereka dengan orang luar terjadi tanpa batas.

Orang Maluku senang mengungkapkan pokok pikirannya dalam lirik lagu dan mari kita telaah ide tentang Maluku dari lagu yang berjudul Maluku Tanah Pusaka.

Maluku Tanah Pusaka

Sio… Maluku tampa beta putus pusa e

Paser putih alus e

Gunung deng tanjong

Beta seng lupa e

Ina ama lama lawang seng baku dapa e

Sio… biar jauh bagini e

Tapi dekat di hati beta e

Dari ujung Halmahera

Sampe Tenggara Jauh

Katong samua basudara

Nusa Ina …sio …..

Katong samua dari sana

Biar jauh bagini e

Beta seng bisa lupa

Maluku tanah pusaka

Satu nama satu gandong

sio… satu suku

Maluku manis e, ..

 

Lagu ini memaparkan ide tentang Maluku dan manusianya. Ini nasihat untuk anak Maluku yang telah merantau ke luar Maluku atau mereka yang ada di Maluku tapi belum paham betul tentang Maluku. Orang Maluku mempresentasikan wilayahnya yang indah dan elok dengan “paser putih alus”. Dalam pikiran orang Maluku hanya mengenal dua ruang yaitu gunung dan pantai yang sering disebut « kadara dan kalao ». Kata Ina Ama bukan saja rasa hormat pada kedua orangtua tetapi juga ada ungkapan rasa puja dan puji kepada para leluhur.

Yang disebut orang Maluku itu dalam kawasan Kepulauan Maluku. Jadi tidak ada beda antara orang di utara dan orang di selatan. Konsep itu tidak ada dalam pikiran orang Maluku sehingga secara administratif pemerintahan boleh terbelah tapi pikirannya satu sebagai Tanah Raja-Raja. Maluku saat ini memang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan Raja Ampat Moloko Kieraha (Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan). Bagaikan air yang mengalir dari “dara” ka “kalao” maka semua dipertemukan di Nusa Ina (Pulau Seram) sebagai pulau terbesar dalam struktur Kepulauan Maluku. Untuk itu semua memang berasal dari Nusa Ina (Seram).

Kata “manise” dari dulu hanya ditempelkan dalam ungkapan yang dialamatkan kepada Pulau Ambon menjadi Ambon Manise, mengapa ? Ini ada kaitannya dengan “paser putih alus e”. Everhardus Georgius Rumphius tahun 1741 dalam bukunya Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense) melaporkan bahwa struktur vegetasi tanaman terlengkap di dunia ada di Pulau Ambon. Dan memang pada zamannya itu pulau Ambon dibungkus dengan vegetasi tanaman yang sangat indah. Bagi seorang ilmuwan botani Eropa yang berkebangsaan Jerman dan bekerja untuk kolonial Belanda, maka vegetasi hutan tropis demikian bagaikan sebuah surga sehingga ungkapan Ambon Manise berulang-ulang dituturkan. Rumphius memang sangat menikmati hidup yang panjang di Pulau Ambon hingga dia harus kehilangan anggota keluarganya (istri dan anaknya) pada tsunami dahsyat di Pulau Ambon di medio abad ke-18. Jadi kata Maluku Manise hanya transformasi dari kata Ambon Manise.

 

MALUKU DALAM TATARAN KEBIJAKAN NASIONAL

Provinsi Maluku menurut catatan Departemen Kelautan dan Perikanan RI memiliki 16 pulau di perbatasan. Perbatasan yang dimaksud adalah batas negara dengan Timor Leste dan Australia. Sebenarnya hanya cara pandang dan ukuran penilaian ekonomi modern semata yang mengakibatkan kita terjebak dalam memandang orang Maluku atau masyarakat Indonesia lainnya yang mendiami Beranda RI adalah warga negara pinggiran yang hidup di “ketiak” RI. Kita sebagai Bangsa Indonesia pada saatnya akan menjadi terusik, marah dan pasti merasa terhina apabila peristiwa Sipadan dan Ligitan yang saat ini telah dikuasai Malaysia akan kembali terjadi untuk pulau kecil terluar di Maluku mungkin ketika Timor Leste atau Australia melakukan invasi yang sistematik dan permanen untuk menguasai pulau kecil yang menyimpan banyak potensi. Itulah identitas yang harus dijunjung tinggi.

Konsep identitas wilayah dalam era milenium ini tidak dapat dimaknai dengan suatu kekuatan yang mekanik yaitu peralatan militer yang sofistikasi tetapi kelemahan suprastruktur sosial dimana pada pulau kecil terluar dengan angka kemiskinan yang relatif tinggi mencapai 56% juga bisa mengancam identitas negara. Oleh karena itu rekayasa sosial dalam hal pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas untuk dilaksanakan agar Beranda NKRI menjadi lebih kokoh.

Jika Maluku tetap tidak bersuara dan tidak mengambil langkah-langkah radikal dalam membangun pulau-pulau kecil dan membangun wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal), maka sulit diharapkan masyarakat Maluku akan lebih baik. Sebagian besar rakyat Maluku hanya bisa tidur memeluk kekayaan sumberdaya alam yang melimpah saja tanpa bisa berbuat banyak untuk keluar dari ketertinggalan itu. Maluku bukan saja Kota Ambon atau Lease tetapi Maluku adalah pulau-pulau kecil dan wilayah 3T.

Semua rakyat Maluku harus berada dalam kegumaman untuk memastikan bahwa wilayah pulau-pulau kecil terluar di Maluku itu bukan suatu wilayah kutukan kepada masyarakat yang menempatinya. Pandangan bahwa pulau kecil terluar adalah wilayah terisolir atau daerah yang termarjinalkan, inferior, dan daerah pinggiran serta ditambah dengan stigmatisasi kepada masyarakatnya yang sering dinobatkan dengan istilah-istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang atau alifuru[2], sebenarnya hanya karena persepsi orang luar saja yang belum tentu benar dan belum memahami mereka. Pikiran dan konsep membangun Maluku tidak semata-mata berbasis pada persoalan mengungkapkan potensi dalam kegiatan yang klasik dilakukan yaitu eksplorasi tetapi pendekatan yang harus bermuatan suatu terobosan baik rekayasa sosial maupun terobosan teknologi.

Konsep peningkatan identitas diri yang berbasis pada sistem hankamrata[3] merupakan suatu kekuatan penting terutama pada wilayah Indonesia terluar yang terdiri atas pulau-pulau yang berbatasan dengan negara lain, seperti sejumlah pulau di provinsi Maluku, khususnya pada Kabupaten Maluku Barat Daya, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Kepulauan Aru. Pengertian membangun identitas diri secara gamblang dapat didefenisikan sebagai suatu kemampuan masyarakat untuk memberdayakan sumberdaya alamnya sehingga mampu mendiami tempat tertentu sebagai masyarakat suatu negara berdaulat. Pulau-pulau kecil terluar memiliki karakteristik khas pada aspek geostrategis, historis, budaya sosioantropologis, potensi alam unggulan, hak ulayat, dan lainnya. Pulau-pulau kecil terluar juga memiliki masalah yang sistematis dan kompleks.

Keterisolasian pulau-pulau kecil terluar merupakan masalah sistematis masyarakat yang perlu dipecahkan dan diberdayakan. Sebuah pulau yang terisolasi dapat diartikan sebagai kurangnya aktivitas masyarakat, barang, jasa, hasil alam, dan lainnya dari dan ke pulau yang dimaksud. Keterisolasian bagi sebagaian orang mungkin dapat diasumsikan sebagai sebuah kutukan Sang Pencipta, namun keterisolasian yang telah melewati ranah sejarah dan waktu dapat menjadi keunggulan yang masih tersembunyi.

Pengamatan pada masyarakat pulau-pulau kecil terluar dapat diamati dengan mengikuti rangkaian hubungan antar faktor guna pekerjaan rekayasa sosial dimana saling berhubungan seluruh faktor yang bermuara pada pemanfaatan sumberdaya baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Hubungan antar faktor tersebut dapat diikuti dalam Gambar 1.

Nampaknya hubungan antar faktor tersebut di atas adalah saling terkait satu sama lain dan ternyata faktor sejarah lebih dominan untuk mempengaruhi faktor yang lain. Faktor pengelolaan sumberdaya yang menjadi basis untuk menopang keterkaitan kepada faktor yang lain. Dengan demikian arah dari pokok pikiran membangun Maluku akan dimulai dengan pemahaman akan manajemen sumberdaya di wilayah 3T, setelah itu baru diurutkan hingga menuju pada faktor kelompok kepentingan atau faktor perorangan.

Masalah kompleks lain pada pulau-pulau kecil terluar adalah kemiskinan dan ketertinggalan karena terkait oleh berbagai faktor kritis yang terintegrasi. Ada banyak faktor penentu kompleksitas masalah yang dihadapi misalnya angka partisipasi pendidikan, dunia kerja dan usaha, ekonomi masyarakat, otonomi daerah, paternal model, infrastruktur dan suprastruktur, dan lainnya.

hubungan-rekayasa-nasional

Gambar 1. Hubungan antar Faktor dalam Rekayasa Sosial

 

 

MALUKU DALAM PUSARAN KEKUASAAN NASIONAL

  1. a.      Periode Kolonialisme

Sejarah harus mencatat dengan benar bahwa kolonialisme mulai eksist untuk pertama kalinya dari Kepulauan Maluku dan tepatnya di wilayah Raja Ampat Moloko Kieraha. Setelah itu bangsa Eropa silih berganti datang untuk melakukan kolonisasi ke wilayah Nusantara lainnya. Orang Maluku sangat militan melawan penjajah, namun pada suatu masa tertentu orang Maluku ternyata bisa diajak kompromi untuk membantu Belanda melakukan kolonisasi di wilayah lainnya. Istilah « orang Belanda Hitam » dialamatkan kepada orang Maluku. Artinya orang Maluku sudah bisa menyatu dengan orang Belanda. Salah satu cirinya adalah orang Maluku bisa mencapai posisi jabatan penting dalam birokrasi kolonialisme. Orang Maluku disekolahkan oleh para penjajah Eropa agar bisa mendapat pengakuan dalam birokrasi pemerintahan kolonial.

Orang Maluku dipercaya masuk dalam garda pertahanan dan keamanan Belanda dan itu semakin memperkuat stigma Belanda bahwa orang yang makan makanan seperti anjing pasti punya kesetiaan yang tinggi. Artinya cara makan orang Maluku menyantap makanan papeda dengan cara membungkukan badan dengan mulut menyentuh papeda dalam piring adalah identik dengan cara makan seekor anjing. Analoginya menurut pikiran Belanda bahwa orang Maluku pasti punya tabiat dan kesetiaan seperti seekor binatang piaraan anjing.

Belanda menggunakan orang Maluku untuk mengawasi pembangunan perkebunan di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra serta di wilayah jajahan Belanda di Suriname. Penjajah Belanda tahu betul filosofi sagu dari orang Maluku bahwa tidak boleh melakukan pendekatan yang keras, harus didekati secara halus dengan menepuk pundaknya maka akan luluh pula hatinya. Ibaratnya sagu salempeng yang keras akan menjadi lunak setelah dicelup dalam air, teh atau kopi. Pendekatan phsikologi yang tepat dilakukan oleh Belanda untuk dapat menguasai orang Maluku.

Pada masa berakhirnya era kolonial Belanda di Nusantara maka orang-orang Maluku yang setia kepada Belanda terpaksa harus dievakuasi ke Eropa di Negara Belanda dengan sejumlah janji manis mengingat penyerahan kedaulatan ke Republik Indonesia pasti akan berakibat buruk kepada orang Maluku yang setia kepada penjajah Belanda. Peristiwa ini dalam bahasa Perancis dikenal dengan nama « coup de têtê ».

 

  1. b.      Periode Kemerdekaan RI

b.1. Orde Lama

Pada masa itu diplomasi Belanda masih kuat kepada Negara Republik Indonesia sebagai negara yang baru mendapat kedaulatan sebagai negara merdeka. Tentunya orang Maluku yang pernah mendapat didikan Belanda masih dipakai oleh rezim Orde Lama karena kemampuannya yang masih dianggap baik dan selain itu pula Presiden Soekarno yang juga adalah hasil didikan Belanda masih memerlukan sosok orang Maluku untuk bisa berdiplomasi dengan Belanda.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ternyata perjuangan dengan Belanda belum usai mengingat ada wilayah yang masih mau diklaim oleh Belanda sebagai wilayah jajahannya, misalnya Papua yang ketika itu bernama Hollandia. Belanda masih berkolaborasi dengan orang Maluku dalam menancapkan kekuasaannya di Hollandia (=baca buku Leontine E.Visser berjudul : Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda – Indonesia). Ketika Papua resmi masuk kedalam kedaulatan RI, maka evakuasi besar-besaran orang Maluku ke negara Belanda mencapai puncaknya. Seiring dengan hal tersebut maka ada lagu Maluku yang berjudul Hela Rotan e. Penulis tidak mengatakan bahwa lagu ini khusus diciptakan untuk situasi politik ketika itu, namun ini hanya interprestasi penulis dengan melihat syair lagu tersebut.

Hela Rotan e

Hela hela rotan e

Rotan e tifa Jawa

Jawa e babunyi

Rotan, rotan sudah putus

Sudah putus ujung dua

Dua baku dapa e

Rotan, rotan sudah putus

Sudah putus ujung dua

Dua baku dapa e

 

Kita membayangkan bahwa memang dahulu kala ketika belum ada alat tali temali yang terbuat dari plastik atau bahan sejenisnya maka dalam permainan adu kekuatan antara dua kelompok selalu menggunakan rotan yang dirangkai khusus untuk perlombaan tersebut. Dalam realita rotan tidak mungkin putus karena memang sangat kuat. Makna filsafati bahwa antara dua kekuatan politik (=Belanda dan RI) yang bertaruh sudah selesai mengingat semua wilayah telah ada dalam kedaulatan RI. Itu berarti pula hubungan Belanda dan orang Maluku yang setia ketika itu telah terputus. Peranan yang akan diambil sesuai syair lagu itu adalah orang Jawa. Tifa Jawa mempunyai nilai filsafati yang tinggi. Tabuh gendang Jawa terus melantun hingga saat ini.

Posisi Maluku bukan berarti terus membangkang untuk mendirikan RI, namun Maluku dengan para tokohnya seperti diantaranya Mr. J. Latuharhary berkontribusi untuk mendirikan RI. Yang mau dikatakan bahwa ada tokoh orang Maluku yang rasional dan tahu persis tentang sejarah kolonialisme terus berjuang untuk terwujudnya Negara Kesatuan RI (NKRI). Jadi kalau ada yang menuduh Maluku tidak nasionalis maka sejarah dengan jelas membantah tuduhan itu dan NKRI harga mati tidak etis terus menerus dikumandangkan di kuping orang Maluku. Lagu Hela Rotan e memang ada dan eksist hingga saat ini tetapi itu suatu ide seni yang memang harus diakui keberadaannya.

Identitas orang Maluku yang berkiprah secara nasional dan mempunyai sumbangan yang sangat besar kepada negara RI adalah dr. J. Leimena, Prof. Dr. G.A. Siwabessy dan Komodor AU Leo Wattimena. Tentunya masih ada banyak tokoh orang Maluku yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Yang jelas bahwa masa lalu penjajahan dan kesetiaan orang Maluku kepada penjajah Belanda telah selesai dan hanya sejarah yang boleh mencatatnya.

 

b.2. Orde Baru

Rezim ini memang sangat panjang dalam berkuasa sekitar 32 tahun. Orde lama hanya berkuasa selama 20 tahun. Tentunya sejarah RI juga mencatat banyak kelebihan dan kesuksesan yang dicapai oleh Orde Baru. Orde ini adalah orde pembangunan dan merupakan koreksi terhadap orde sebelumnya (Orde Lama) yang hanya terkungkung dengan isu dan rumor politik. Kita sebagai ilmuwan dan akademisi tidak boleh dengan gampang menyalahkan orde kepemimpinan bangsa dengan periode dan zamannya tersendiri. Hal ini tentu sudah dipelajari dan mempunyai dasar yang kuat dalam metode pendekatan riset (Observasi, Problematik Riset dan Kerangka Analisis)

Tokoh orang Maluku dengan mempresentasikan identitas orang Maluku juga masih dilibatkan dalam pembangunan bangsa ini seperti Prof.Dr. G.A. Siwabessy yang mempunyai ide untuk membangun Puskesmas diseluruh tanah air dan ide untuk mendirikan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Selain itu ada tokoh orang Maluku seperti Mayjend TNI J. Muskitta dan Leo Lopulissa.

Orde Baru mempunyai cerita yang panjang dalam membangun bangsa ini dan tidak semua yang dikerjakan mencapai kepuasan dan kesempurnaan hakiki dimata manusia Indonesia, namun sejarah juga mencatat lembaran hitam manajemen bernegara dari Orde Baru sehingga pada akhirnya diruntuhkan oleh semangat mahasiswa dan masyarakat yang meminta adanya pergantian pemerintahan pada tahun 1998.

 

b.3. Orde Reformasi

Tahun 1998 muncul Orde Reformasi yang menghendaki diberlakukannya sistem demokrasi dalam manajemen bernegara. Ini suatu perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang berani memilih paham demokrasi yang lahir di Prancis setelah adanya revolusi Prancis tahun 1789.

Ini pilihan yang sudah diputuskan oleh bangsa Indonesia dan kini telah melewati satu dasawarsa dan nampaknya ada banyak kritikan yang dilontarkan oleh masyarakat tentang perjalanan orde ini.

Orang Maluku juga sadar bahwa mereka harus berkontribusi dalam orde ini. Pikiran mereka sangat sederhana saja bahwa orde boleh silih berganti tetapi NKRI tidak boleh dikoyak-koyak sebab orang Maluku juga berkontribusi dalam organisasi Jong Ambon untuk mendirikan NKRI.

Tokoh orang Maluku yang berperan dalam orde ini diantaranya Alex Litaay, Ali Mochtar Ngabalin, Nono Sampono, Suaidy Marasabessy dan Alex Retraubun serta Max Yohuzua Yoltuwu. Sekali lagi penulis memohon maaf untuk tidak bisa menyebutkan rentetan peran tokoh orang Maluku dengan identitas masing-masing dalam periode enam rezim kekuasaan sejak Presiden Habibi hingga Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY).

Di era rezim yang ke-tujuh ini dengan Presiden Joko Widodo nampaknya ada niat gugatan orang Maluku karena merasa TIDAK dilibatkan dalam kepemimpinan nasional. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah tidak ada tokoh Maluku dalam kepemimpinan nasional seolah-olah Maluku telah dilupakan oleh RI ?

Saya berharap sungguh bahwa semainar nasional ini diadakan bukan menjadi basis untuk menuntut jatah itu. Sebab kalau sejarah dipelajari maka keterlibatan tokoh Maluku dengan membawa iderntitas wilayahnya adalah berkat kemampuan baik soft skill maupun hard skill, jadi bukan duduk di singgasana kekuasaan karena desakan demo khusus yang diadakan untuk itu.

 

EPILOG : MALUKU PASTI MAJU

Daoed Joesoef penulis buku Emak (2005) dalam diskusi lisan dengan penulis dalam forum alumni Prancis di Jakarta tahun 2011 pernah mengatakan bahwa Maluku dan Papua adalah sebuah kubangan yang didalamnya tersimpan harta bumi alami yang masih terpendam. Jika harta itu diolah maka kedua wilayah ini akan menjadi benua ke-enam.

Dalam diskusi isu strategis di Lemhanas RI tanggal 9 September 2015, penulis kemukakan bahwa isu strategis yang harus mendapat perhatian negara adalah isu Melanesia. Para TAJI (Tim Ahli Pengkaji) dan TAJAR (Tim Ahli Pengajar) Lemhanas RI mengatakan bahwa ada pesan dari Gubernur Lemhanas RI agar isu Melanesia tidak boleh dibahas karena itu masih menjadi kajian yang mendalam dari Lemhanas RI. Akhirnya isu yang kami usulkan itu tidak dicatat sebagai isu strategis nasional.

Kedua pesan di atas sebenarnya memberikan sinyal yang kuat bahwa masa depan Indonesia ada di Papua dan Maluku. Untuk itu Maluku dengan otonomi daerah dan ditambah lagi kepemimpinan dan kekuasaan daerah provinsi, kabupaten dan kota saat ini ada dalam genggaman orang Maluku, maka sudah sewajarnya membuat terobosan yang revolusioner untuk membangun Maluku. Jangan lagi pikirkan soal jatah kepemimpinan nasional karena itu akan membuang waktu dan energi.

Terobosan pertama menurut hemat penulis seyogyanya dimulai dengan melakukan rekayasa sosial yang akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya ketahanan masyarakat menghadapi setiap perubahan, Inovasi teknologi akan diterima dengan baik apabila masyarakat dipersiapkan dengan segala informasi yang lengkap dan materi penyuluhan yang bisa dipahami. Dengan demikian informasi sosial yang lengkap akan mendukung penerapan teknologi dengan tepat sasaran dan tepat tujuan.

Keterisolasian juga bisa menjauhkan masyarakat untuk berakses dengan mudah pada infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah. Akibatnya mereka semakin jauh dari sentuhan pembangunan. Keterisolasian masyarakat sesuai habitat bisa ditemui pada wilayah pegunungan atau wilayah pulau-pulau kecil. Kita tidak dapat mengatakan bahwa masyarakat pulau-pulau kecil terluar yang terisolir disebabkan karena pilihan habitat hidup yang keliru atau bahkan secara ekstrim suatu kutukan kepada mereka. Setiap masyarakat dengan pilihannya senantiasa mempunyai alasan yang rasional untuk menempati wilayah tersebut. Kita berharap pemerintah daerah mempersiapkan daerah ini untuk bisa berkoneksi dengan tol laut yang digagas oleh Presiden Joko Widodo.

Pulau-pulau kecil terluar dan terdepan di Maluku umumnya menyimpan potensi alam yang cukup banyak dan sangat unik, terutama komoditas yang sudah merupakan plasma nutfah. Katakanlah jeruk kisar yang hanya bisa tumbuh dan berbuah dengan sempurna pada habitatnya di pulau Kisar. Jika komoditas ini ditanam di luar pulau tersebut maka kualitasnya akan berbeda. Itu berarti pertumbuhan dari buah tersebut mendapat pengaruh iklim mikro dari benua Australia, karena jeruk tersebut hampir mirip dengan jenis jeruk sunkist Begitupun dengan jenis ternak ruminansia yang sangat berpotensi. Seluruh catatan keunikan komoditas ini tidak sebanding dengan keberadaan masyarakat yang mempunyai posisi yang lemah saat melakukan transaksi perdagangan. Potensi yang melimpah itu bukan saja terdapat di wilayah daratan tetapi juga tersimpan di wilayah pesisir.

Sebenarnya mereka harus mempunyai posisi tawar menawar yang kuat jika produksi hasil sumberdaya alam mendapat sentuhan terobosan teknologi. Hal ini bisa menambah keawetan produk untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga produk dimaksud akan menjadi aman pada saat diantar-pulaukan menuju pasar akhir.

Jika kondisi ini terus dibiarkan maka taraf kehidupan mereka akan semakin menurun kualitasnya, akibatnya mereka terjerembab dalam lembah kemiskinan. Saat yang sama mereka akan meninggalkan pekerjaan sebagai petani atau nelayan. Hal ini bisa mengakibatkan terbengkalainya sumberdaya alam tersebut dan keinginan yang kuat dari mereka untuk meninggalkan daerah pedesaan menuju perkotaan. Hal lain yang bisa terjadi yaitu mereka tetap tinggal di desa dengan pasrah dan hilang harapan. Pada saat bersamaan mereka akan melakukan atau menerima tawaran apa saja dari para pedagang antar pulau yang bisa berasal dari dalam Indonesia atau dari luar Indonesia.

Dengan demikian permasalahan sistematis dan kompleks dapat diantisipasi dengan pemberdayaan masyarakat, peningkatan produk unggulan, peningkatan pengetahuan kewirausahaan yang berbasis daerah pulau kecil terluar sebagai suatu dimensi pertahanan dan keamanan demi memuliakan identitas diri sebagai orang pulau dan masyarakat pulau.

Penulis tiba pada usulan yang konkrit untuk memperkuat identitas ke-Maluku-an yaitu mensinergikan setiap komponen interdisipliner yang diilustrasikan bagaikan rangka seekor ikan yang menyusun struktur anatomi ikan.

Teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat pulau-pulau kecil di wilayah 3T adalah teknologi nutrisi dan pakan ternak, bioteknologi komoditas unggulan, dan rekayasa sosial. Tiga komponen ini menempati bagian rangka ikan yang paling peka yaitu pada bagian kepala hingga rongga insang. Artinya bahwa komponen teknologi sangat diperlukan bagi orang pulau, jika tidak ada terobosan teknologi maka seluruh hasil produksi akan terbuang karena membutuhkan jalur pemasaran yang relatif panjang. Komponen pendukung dan juga sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan adalah ekologi kepulauan dan etnobotani dimana struktur ini bisa menjadi konsep holistik dalam membangun identitas orang Maluku.

  diagram-ikan

Gambar 2. Diagram Ikan Konsep Pikiran Orang Maluku pada Pulau Kecil Terdepan dan Terluar

 

DAFTAR PUSTAKA

1.Joesoef Daoed, 2005, Emak, Kompas, Jakarta

2.Jonge de Nico and van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonesia, Perplus, Singapore.

3.Koesmaryono Yonny, 2007, Materi Ceramah Ilmiah di Hadapan Civitas Academica Fakultas

Pertanian Unpatti Ambon, Desember 2007, dengan tema : Adaptation to Climate

Change : Climate Forecast Information for Setting Up Planting Strategies, Lab.

Agrometeorologi, IPB, Bogor.

4.Milton Giles, 2015, Pulau Run : Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan

Manhattan, Pustaka Alvabet, Banten.

5.Nikijuluw dan Rachman (editor), 2014, Sang Upuleru, Gramedia, Jakarta.

6.Pattinama, Marcus J. dkk, 2007. Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku: Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti.

7.Paulus J. Mr.Dr, 1917. Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie. Tweede druk, p.31.

8.Rumphius Everhardus Georgius, 1741, Het Amboinesche Kruid Book (Herbarium Amboinense),

9.Turner Jack, 2011, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme,Komunitas Bambu, Jakarta.

10.Visser Leontine E., 2009, Bakti Pamong Praja Papua di Era Transisi Kekuasaan Belanda – Indonesia, Penerbit Kompas, Jakarta.



[1] Diskursus adalah suatu aktivitas diskusi pada suatu tema yang berlangsung secara berkala baik secara lisan maupun tertulis.

[2] Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

[3] Hankamrata adalah sistem pertahanan keamanan rakyat semesta.

NILAI BUDAYA MELANESIA : PROSPEK dan PEMBERDAYAAN

peta-melanesia

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

Email : mjpattinama@gmail.com

Prolog

Kegiatan fasilitasi dialog nilai budaya dengan tema : Tidore dalam Jaringan Wilayah Budaya Melanesia Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemendikbud RI di wilayah Kesultanan Ternate, bagi kami pribadi, ini adalah momentum yang sangat strategis bagi kebangkitan identitas orang Melanesia Indonesia dengan fokus diskusi kejayaan Kesultanan Tidore.

Kebangkitan identitas ini bukan untuk menempatkannya sebagai hal yang utama dan sangat terpenting sedangkan yang lain dianggap inferior. Tentu tidak, namun ini era kebangkitan untuk menyentak dan mengajak para generasi muda Melanesia Indonesia agar lebih mengenal identitas diri dengan benar dan beretika. Menurut pengamatan kami pribadi bahwa anak bangsa Indonesia saat ini menjadi tidak tenang dan menjurus pada tatanan ketidakaturan karena mereka tidak peduli lagi untuk mau berusaha mengenal identitas diri dan ada indikasi mereka sangat jauh dari etika berbangsa dan bernegara. Dengan demikian acara dialog pada kesempatan ini seyogyanya dipandang sebagai forum untuk kita bisa mengenal dan memahami identitas diri, disamping forum untuk berbagi ilmu dalam memberikan kontribusi ilmiah kepada dunia pendidikan dan penelitian orang Melanesia Indonesia.

Ketika kami dihubungi oleh panitia pelaksana fasilitasi dialog ini untuk menulis tentang Nilai Budaya Melanesia ; Prospek dan Pemberdayaan, kemudian kami menelisik tentative skedul forum diskusi ini ternyata kami dijadwalkan sebagai pembicara terakhir dengan topik tersebut. Judul ini bagi kami cukup menarik dan memberikan sinyal bahwa paparan ide seyogyanya menyentuh nilai budaya dalam konteks kekinian tanpa meninggalkan substansi nilai budaya orang Melanesia Indonesia pada zaman prehistori. Ada dua kata dalam topik makalah kami yang menarik yaitu Prospek dan Pemberdayaan.

Jadi elaborasi ide dalam makalah ini kiranya bisa memberikan suatu harapan baru bahwa nilai budaya orang Melanesia Indonesia pada konteks kekinian dapat memberikan energi atau kekuatan prima untuk memperteguh kapasitas mereka agar bisa berlayar dan sekaligus secara mandiri bisa mengemudikan perahu menuju pulau yang berkeadilan dan sejahtera. Simbol perahu dan pulau digunakan mengingat perjalanan nenek moyang orang Melanesia Indonesia selalu menggunakan alat transportasi perahu untuk menyebar dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dan wilayah itu adalah pulau-pulau kecil.

 

Identifikasi

Negara Kepulauan terbesar di dunia yang bernama Indonesia menjadi lebih menarik karena ternyata dicatat dalam sejarah sebagai tempat persinggahan berbagai suku bangsa. Salah satu suku bangsa yang akan dibahas pada forum ini adalah Melanesia Indonesia. Hal ini berarti orang Melanesia yang hidup di Kepulauan Indonesia.

Melanesia (dalam bahasa Prancis La Mélanésie) secara literal artinya « pulau hitam » atau « les îles noires » tersebar memanjang dari Pasifik barat sampai ke Laut Arafura, utara dan timur laut Australia. Negara-negara yang termasuk ke dalam Melanesia yaitu:Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru dan Timor Leste serta Indonesia. Peta kawasan orang Melanesia di Indonesia adalah wilayah Papua, Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Dari catatan Antropologi menyebutkan bahwa untuk wilayah Maluku dan Nusa Tenggara Timur termasuk dalam mikronesia. Perhatikan peta penyebaran orang Melanesia yang dikutip dari Wikipedia Indonesia :

 peta-melanesia

Peta Kawasan Orang Melanesia

Nilai Masa Lalu Melanesia

Tema Tidore memang menarik karena semangat perdagangan rempah mengarungi hampir diseantero jagat, tetapi harus jujur dikatakan bahwa semangat itu menjadi porak poranda karena ada segregasi internal yang kuat diantara keempat kesultanan, Moloko Kieraha, dimana secara tidak langsung ada proses kanibalisme peran satu dengan yang lain. Hal ini tidak terlalu menonjol ketika hubungan dagang masih terjalin dengan bangsa alokton Cina dan Arab. Kedua bangsa ini masih menerapkan asas pembagian perdagangan yang seimbang. Keseimbangan itu bukan saja pada nilai tanaman yang diperdagangkan tetapi menyentuh pada hakekat manusia. Artinya itu dibuktikan dengan kedua bangsa ini masih mau berasimilasi dengan budaya setempat dan ada terjadi perkawinan diantara mereka, walaupun itu masih terbatas pada masyarakat kelas menengah ke atas.

Prahara mulai muncul ketika datangnya bangsa Eropa. Mengapa ? Mereka masih berpikir tentang superior dan inferior dalam komunikasi dengan autokton. Pada masa itu bangsa Eropa memang masih membangun habitat hidupnya dalam tembok-tembok besar dan membentuk perkampungan kecil (Prancis = hameau). Jadi hubungan asimetris berlangsung dalam perdagangan rempah. Ironisnya keempat kesultanan menjadi terlibat untuk berkolaborasi dengan mereka untuk saling menghancurkan.

Mari kita simak tentang terminologi Melanesia. Walaupun ada beda intepretasi diantara para pakar namun seyogyanya dianggap sebagai bahan untuk memperkaya khasanah sintesis dan analitis ilmu pengetahuan orang Melanesia Indonesia.

Pertanyaannya adalah mengapa para etnolog dan antropolog Eropa bisa menyebut Melanesia sebagai “pulau hitam” ? Tentu ini ada alasan yang kuat berdasarkan pengalaman mereka dalam perjalanan pelayaran mengarungi pulau di belahan timur Nusantara ini.

Pengalaman kami meneliti di Pulau Buru terungkap nama pulau itu oleh autokton diberi nama Bupolo. Diinformasikan lagi bahwa datangnya orang Portugis menyebutnya “Burro”. Ini adalah informasi lisan dari lapangan riset oleh para responden. Informasi ini harus diolah dan diintepretasi berdasarkan data yang akurat. Kami menelusuri di perpustakaan Leiden dan Lisabon. Ditemukan peta yang dibuat oleh Portugis pada tahun 1613. Burro dalam bahasa Portugis artinya keledai dan expresi orang Eropa kepada orang bodoh disetarakan dengan binatang keledai. Hal ini terjadi karena Portugis selalu mendapat penolakan saat mereka ingin berkomunikasi dengan masyarakat. Orang Bupolo ketika itu lebih memilih menutup diri dengan menghilangkan jejak dan masuk ke hutan. Akibatnya pemukiman kosong dan gersang yang senantiasa menyambut kedatangan Portugis dan pasti dialami pula oleh orang Eropa lainnya.

Milieu yang kosong dan gersang seperti ini menginspirasi mereka menyebutnya sebagai l’île noire. Itu beda jika orang Prancis menyebutkan « le noir », karena itu dialamatkan kepada warna kulit manusia yang hitam, tetapi jika disebutkan « les gens noir » berarti manusia tahyul dan jahat.

Tanaman Melaleuca, yang mengandung cineol seperti kayu putih dan merupakan tanaman asli yang tumbuh di Pulau Buru, terdiri dari dua kata dalam bahasa Yunani : melas noir (hitam) dan leuco blanc (putih). Mengapa diberi nama demikian padahal lapisan kulit tanaman kayu putih berwarna putih. Hal ini karena ritual kayu putih di Pulau Buru harus dibakar untuk kemudian mereka bisa dapatkan tunas muda setelah dibakar tadi. Tentunya hamparan kayu putih setelah dibakar maka akan tampak berditi kokoh batang tanaman yang berwarna hitam. Mengingat kambium tanaman ini dibungkus dengan kulit pohon yang tebal maka setelah dibakar pada tahap berikutnya akan muncul tunas muda.

Hal yang sama sekali tidak boleh dikesampingkan adalah catatan sejarah dalam zaman prehistori, persebaran manusia hanya bisa diidentifikasi pada bekas perkampungan. Orang Melanesia memiliki ciri perkampungan yang khas dan para ahli antropologi menyebut sebagai “tempat-tempat perlindungan di bawah karang” (abris sous rôches). Tempat-tempat itu merupakan karang-karang atau gua-gua dengan himpunan tanah pada dasarnya dan selalu mengandung bekas-bekas peralatan. Beberapa kelompok orang Melanesia juga memilih pohon sebagai tempat perlindungan tubuh.

Sisi lain dari orang Melanesia adalah masih melakukan praktek berburu dan meramu hutan. Para etnolog menyimpulkan bahwa orang Melanesia belum mengenal sistem bercocok tanam. Hampir semua flora yang tumbuh adalah atas kehendak alam. Jadi hamparan hutan belum ada campur tangan manusia. Tanaman rempah pada umumnya tumbuh secara alami. Adanya anthropophise (campur tangan manusia) saat perdagangan rempah mulai dicari oleh para pedagang dan terjadilah pertukaran tanaman yang dibawa oleh para pedagang dan momentum ini diikuti dengan saling membagi pengetahuan bercocok tanam, baik tanaman setahun maupun tanaman tahunan.

Sistem kekerabatan orang Melanesia sangat terbuka dan ini merupakan ciri khas orang pulau yang senang menerima tamu yang tiba di pesisir pantai. Sistem yang dibangun berdasarkan konsep rumah atau tempat tinggal, abris sous rôches .

Sistem kemasyarakatan yang dibangun masih berorientasi pada nilai hubungan dengan alam. Kami tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup salah satu kelompok orang Melanesia yang mendiami Pulau Buru di Maluku dan juga merupakan bagian dalam jaringan Kesultanan Tidore. Mereka adalah orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru rata-rata memiliki minimum dua bialahin dan maksimum sembilan bialahin. Masing-masing bialahin hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu. Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

Tanaman sagu merupakan kemurahan Sang Pencipta yang diberi kesempatan hanya tumbuh sebagai tanaman asli di Maluku selanjutnya berkembang ke Papua, namun dari yang mengkonsumsinya hanyalah orang Bupolo yang mampu memaknainya dalam kesatuan hidup mereka.

Untuk jelasnya mari kita lihat Gambar 1 berikut ini :

rumpun-sagu

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah penampilan bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya. Dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa tepung sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti lagi. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

Nilai Orientasi Kekinian dan Masa Depan

Harus disadari secepat mungkin bahwa perkembangan ilmu humaniora di Indonesia khususnya antropologi budaya, etnologi, dan ilmu sosial lainnya (ilmu hukum dan sejarah) dimana ilmu tersebut disajikan untuk mempelajari dan menganalisis kehidupan suku bangsa, manusia dan masyarakat; dilakukan oleh orang Belanda dan untuk kepentingan orang Belanda. Dalam analisisnya masyarakat Indonesia diposisikan sebagai masyarakat yang primitif. Hal ini berarti bahwa ilmu itu tidak lain adalah ilmu orang penjajah untuk mengenal cirri-ciri orang yang dijajah.

Persoalan menjajah dan dijajah pada masa kini mengalami metamorphosis tetapi substansinya dan spiritnya tetap sama yaitu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Jika orang Melanesia Indonesia merasa belum merdeka dan tetap dijajah dalam seluruh aspek dan relung kehidupannya maka seyogyanya diurai bagaikan mengurai benang kusut, dengan terlebih dahulu memeriksa simpul yang ada didalam orang Melanesia Indonesia sendiri. Kita hanya bergumul dengan dua isu besar yaitu (1) masalah ketegangan antara suku bangsa Melanesia Indonesia, dan (2) masalah minoritet.

Masalah ketegangan masyarakat sebagai akibat akulturasi atau perubahan kebudayaan itu merupakan suatu masalah yang amat kompleks. Dalam proses sosial dewasa ini sebenarnya kehidupan dari suatu kebudayaan dikacaukan oleh unsur-unsur kebudayaan baru dan asing. Proses perubahan ini menyebabkan bahwa norma dan nilai lama dalam kebudayaan Melanesia yang terbentuk sejak awal tidak lagi berguna dalam zaman modern ini. Orang-orang yang hidup berdasarkan nilai-nilai lama tersebut akan mengalami frustasi, kebingungan dan penuh keraguan akibatnya tindakan-tindakannya akan menimbulkan berbagai macam ketegangan dalam masyarakat.

Dialog hari ini seyogyanya menghasilkan sesuatu yang penting dan dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat. Untuk maksud itu kami ingin mengajukan beberapa pendapat yang pada gilirannya akan membawa orang Melanesia Indonesia menjadi orang yang mengerti dan memahami budayanya.

(a)    Dibentuk suatu forum pakar Melanesia Indonesia. Forum ini untuk menghimpun para pakar Melanesia Indonesia yang bisa mengembangkan topik riset sehingga nantinya akan bermanfaat mengembangkan masyarakat kea rah hidup yang lebih sejahtera.

(b)   Mendirikan Pusat Kebudayaan Melanesia dimana pusat tersebut berada pada koordinasi pemerintah kabupaten/kota diIndonesia dan untuk negara-negara Melanesia pusat kebudayaan berada dibawah koordinasi Kementerian Luar Negeri setempat. Dalam pusat ini akan dikembangkan pula sastra dan bahasa Melanesia.

(c)    Mendirikan Museum Melanesia Indonesia pada setiap provinsi.

(d)   Menyukseskan program Maritim Nasional, maka seyogyanya dibangun perusahaan pelayaran Melanesia yang bisa terkoneksi dengan Toll Laut.

 

Epilog

Orang Melanesia Indonesia sejak dahulu telah salah menempatkan posisi dirinya. Di satu sisi negara ini disebut Negara Kepulauan (Archipelago) tetapi di sisi lain tidak mau mengakui identitas sebagai orang pulau. Itu akibat dari kungkungan berpikir yang dengan tegas membagi Indonesia atas dua pola usaha pertanian yaitu « Inner Indonesia » dan « Outer Indonesia ». Kawasan Barat Indonesia dikelompokkan dalam Inner Indonesia cirinya pertanian menetap dengan komoditas padi sawah. Sedangkan Outer Indonesia untuk Kawasan Timur dengan pola usaha ladang berpindah dan berburu. Yang lebih parah adalah kawasan barat menyatakan diri sebagai wilayah kontinental dan dari sanalah keputusan politik semua sektor dirancangkan. Tidak heran kalau hasil keputusan akan mengabaikan ciri khas wilayah di luar kawasan barat, seperti misalnya keunikan wilayah Provinsi Maluku sebagai wilayah yang bertahtakan gugusan pulau-pulau kecil.

Dari keadaan fisik alam Melanesia Indonesia dan yang memiliki ciri kepulauan, dapat kita lihat bahwa pulau-pulau bertebaran dan laut yang menghubungkan satu pulau dengan pulau yang lain. Padahal jika kita bandingkan dengan wilayah Papua, walaupun hanya satu pulau saja tetapi yang memisahkan pola pemukiman orang Papua adalah ruang gunung, lembah dan sungai dimana keadaan ketiga ruang ini tak pernah ramah. Orang Papua melihat ketiga ruang tersebut layaknya orang Maluku memandang laut.

Jendela pandang Orang Pulau adalah laut dimana bertahtakan pulau-pulau sehingga konsep yang dikembangkan adalah konsep laut-pulau. Artinya keduanya tidak dapat dipisahkan. Ciri khas pulau yang ada di Maluku yaitu memiliki garis pantai yang panjang dengan luas dataran yang sempit.

Ciri orang pulau adalah selalu menerima orang luar dengan senang hati, karena setiap pendatang yang singgah di pantai adalah tamu yang harus disambut (welcome). Jika ada yang tidak berkenan maka biasanya orang pulau akan menyembunyikan diri di hutan. Ini adalah bentuk penolakan. Oleh sebab itu orang pulau sering dinobatkan dengan istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang dan alifuru[2]. Aktivitas orang pulau di darat selalu dilakukan mengikuti fenomena alam dan kearifan ini adalah untuk memuliakan ruang pesisir dan laut.

Berdasarkan kondisi nyata geografis wilayah Melanesia, seyogyanya menjadi pertimbangan kuat dalam menetapkan pembangunan politik pertanian di daerah ini. Ide untuk « membangun Maluku dan Indonesia dari laut » harus diikuti dengan studi monografi yang sangat mendalam menyangkut lingkungan, waktu, ruang dan masyarakatnya. Seperti misalnya studi yang kami lakukan di Pulau Buru menunjukkan bahwa orang Buru tidak 100% menggantungkan hidupnya dari laut. Mereka adalah orang gunung yang bermukim di pesisir pantai. Mereka menyandang profesi bivalen sebagai petani dan nelayan, bahkan kegiatan meramu hutan lebih banyak dikerjakan. Ini pilihan yang sangat rasional karena keadaan laut di Maluku senantiasa tidak pernah ramah pada periode tertentu. Untuk itu keberadaan ekologi daratan harus menjadi prioritas pelestarian, yang pada gilirannya bisa memberi dampak langsung yang positif terhadap ekologi laut.

Otonomi daerah harus dilihat sebagai suatu kesempatan untuk mengangkat daerah dari keterbelakangan dan ketertinggalan supaya mampu bersaing secara maksimal dan global. Dalam dunia bebas ini saingan bukan lagi « The survival of the fittest » ,tetapi « The survival of the innovater ». Karena itu sangat diperlukan « innovator » dari anak bangsa yang mampu mengangkat asset unggulan lokal baik asset komoditas maupun asset teknologi masyarakat (indegenous technology) dan pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) menjadi unggulan nasional dan global. Pembangunan ekonomi wilayah harus didasarkan atas keunggulan yang dimiliki daerah, maka ekonomi yang terbangun akan memiliki kemampuan daya bersaing dan berdaya guna bagi seluruh rakyat. Innovator itu harus bertindak sebagai burung elang mencari buruan yaitu dengan visi yang jelas dan tajam, bertindak cepat dan tepat sasaran (jelas, tajam, cepat, tepat).

 

Daftar Pustaka

1. FRIEDBERG, Claudine, 1996. Forêts tropicales et populations forestières: quelques repères. Natures – Sciences – Sociétés 4(2). Elsevier, Paris, pp.155-167.

2. PATTINAMA Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.



[1] Etnobotanist dan Guru Besar Ekologi Manusia Universitas Pattimura Ambon.

[2] Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities

SALAK

The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities to Strengthen the Bargaining Position of the Economy as well as Efforts to Enhance the Food Security Program for Alune Society in Seram Island

Marcus J. Pattinama, Aryanto Boreel, Jane K.J. Laisina, Handy E.P. Leimena

 Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon

 Email: mjpattinama@voila.fr

 

 Abstract

The concept of management and conservation of natural resources, developed by researchers, academics and intellectuals often produce a complex definition. The concept is increasingly biased if there are particular interests and often manipulated by politicians and capitalists. The fact that the concept of a traditional society in the utilization and preservation of the environment is a very simple concept to understand. The concept was developed from generation to generation and we call local wisdom. Academically should be recognized that local knowledge can not be kept in a museum but it should be more social capital for improving society. The combination of local wisdom or traditional knowledge will have an impact on social engineering without leaving sovereign rights to the resources. Advances in technology and concepts of modern economics in agribusiness aimed at the competitive and negotiated with the external world. This is to reduce poverty and isolation. If this is realized, they will have the economic bargaining power, as a result of an increase in human resources through education.

 

Introduction

Memahami masyarakat dan memecahkan permasalahan sosial bukanlah suatu konsep yang sederhana. Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh orang Alune sejak dahulu hingga saat ini yaitu masalah tanah yang diperuntukkan untuk program nasional transmigrasi guna memindahkan penduduk dari pulau Jawa ke dataran Kairatu sejak tahun 1954. Program pembangunan ini telah memberi dampak ekologi yakni berkurangnya areal tanaman sagu karena telah berubah fungsi lahan menjadi sawah. Kemudian persoalan berikutnya adalah hadirnya perusahaan eksploitasi hutan untuk mengambil kayu. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya rehabilitasi hutan yang gagal dilakukan sehingga yang terjadi adalah makin menurunnya vegetasi pohon di hutan. Persoalan terkini yang terjadi adalah aktivitas eksploitasi tambang untuk mengambil nikel dan emas. Dampak yang akan terjadi adalah dimulai dari pencemaran air, baik di sungai maupun air dalam tanah, oleh aktivitas tambang rakyat yang menggunakan bahan kimia secara tidak terkontrol. Bersamaan dengan aktivitas pertambangan,maka terjadi pula penggalian tanah secara besar-besaran sehingga mengurangi lahan produktif untuk aktivitas pertanian.

Harus jujur dikatakan bahwa aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini belum melibatkan orang Alune yang tinggal di wilayah pegunungan pulau Seram. Fasilitas transportasi darat belum maksimal, akibatnya habitat tempat tinggal mereka menjadi wilayah yang terisolir. Orang Alune melakukan aktivitas pertanian skala subsisten dan aktif meramu hutan untuk mencari damar (Agathis dammara), rotan (Daemonorops spp) dan kemiri (Aleurites moluccana).

Orang Alune juga memiliki sumberdaya alam yang lain seperti komoditas kenari dan salak. Umumnya kenari tumbuh secara liar di hutan tanpa campur tangan manusia. Hewan yang hidup secara bebas di hutan misalnya babi hutan, burung dan kelelawar yang menjadi perantara untuk penyebaran bibit kenari. Sedangkan komoditas salak dibudidayakan oleh orang Alune dan formasi tanaman ini selalu dibawah naungan pohon kenari. Secara alamiah orang Alune paham bahwa tanaman salak akan tumbuh dengan baik diantara tanaman–tanaman lain yang mempunyai strata tajuk lebih tinggi. Salak juga tumbuh dan menyebar pada daerah – daerah aliran sungai. Jadi di lokasi pengamatan ditemui bahwa salak lebih banyak ditanam di bawah pohon kenari, durian (Durio zibethinus) dan salawaku (Paraserianthes falcataria, L).

Tahun 2007 tim riset dari Fakultas Pertanian Unpatti Ambon mengamati perkembangan tanaman salak pada empat desa (Riring, Rumahsoal, Lohiasapalewa dan Manusa) yang berlokasi di wilayah pegunungan pada kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat. Luas tanaman salak di desa Riring adalah 301 hektar. Luas areal yang hampir sama dengan Riring adalah Manusa. Dua desa lain miliki luas lahan salak di bawah 100 hektar.

Salak dibudidayakan di beberapa daerah di Maluku seperti di pulau Ambon (Soya, Hatalai, Wakal, Amahusus dan Hative Besar) dan pulau Seram. Salak Riring (Salacca zalacca var Amboinensis) merupakan salah satu kultivar salak yang diduga merupakan tanaman asli di Maluku. Salak ini masih satu varietas dengan salak Soya dan salak Bali (Leatemia, dkk. 2007). Varietas ini dibedakan dari salak Jawa (Salacca zalacca var. Salacca) berdasarkan ukuran buah, bentuk buah, pola sisik pada kulit buah, ketebalan daging buah, tekstur buah, rasa buah, bentuk vegetatif tanaman (khususnya daun). Dinamakan salak Riring karena kultivar ini banyak tumbuh di desa Riring.

Tahun 2003 Menteri Pertanian RI memberikan penghargaan berupa surat akte atau sertifikat kepada Salak Riring sebagai varitas unggul nasional. Penghargaan ini diberikan untuk menyatakan bahwa salak ini memiliki sifat khas secara botanis dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di Maluku penghargaan yang sama tahun 1989 juga diberikan kepada tanaman durian Soya (Durio zibethinus) dan jeruk Kisar (Citrus nobilis).

Bagi masyarakat tradisional yang mendiami wilayah kepulauan Maluku, termasuk didalamnya orang Alune, dalam kehidupannya sehari-hari memiliki hubungan yang erat dengan alam di sekitarnya. Hubungan tersebut tercermin dalam pola hidup adaptasi dengan kondisi lingkungannya, misalnya cara berburu, memancing dan bertani. Teknik adaptasi tersebut tentu saja coraknya akan berbeda dari satu habitat ke habitat lain, dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Semua perbedaan tersebut disebabkan oleh kondisi lingkungan alam dan aspek sosial budaya yang berbeda.

Penelitian orang Alune dimulai dengan memahami konsep pertanian yang mereka praktekkan yaitu sistem pertanian campuran antara tanaman hutan (buahan – non buah) dan tanaman pertanian lain (pangan dan hortikultura). Model ini yang kita sebut sebagai agroforestry tradisional. Nama lokal dari system ini di pulau Seram disebut lusun, sedangkan di wilayah lain mengatakan dusung (Pulau Ambon dan Lease), wasilalen (Pulau Buru) dan etuvun (Pulau Kei). Model agroforestri (wanatani) tradisional yaitu merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika dibayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani campuran ke pola usahatani monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai, rusaknya tanaman daerah pantai (=mangrove) dan rusaknya daerah terumbu karang.

Kita harus akui bahwa apa yang telah dipraktekan masyarakat dalam berusahatani adalah pilihan yang sangat rasional, maka untuk memberdayakan ekonomi masyarakat seyogyanya dimulai dari konsep yang telah mereka kerjakan dan telah teruji dalam praktek mereka sehari-hari. Hal penting yang harus dilakukan oleh para peneliti adalah membantu petani untuk mengidentifikasi potensi yang mereka miliki. Potensi dimaksud adalah berapa banyak varitas pohon kenari, jumlah tegakan pohon kenari dalam hutan dan bagaimana interaksi antara kenari dan salak. Menurut Leatemia cs, 2007 bahwa tanaman salak di Pulau Seram adalah varitas yang berumah satu. Ini berarti hermaphrodit dimana bunga jantan dan betina berada pada satu rumpun. Jadi tidak perlu dilakukan perkawinan pembungaan dengan bantuan manusia. Secara alami salak Riring akan berbunga dan berbuah.

Jika kedua komoditas ini memiliki keunggulan yang luar biasa maka hal penting berikutnya adalah harus memahami dengan benar status pemilikan tanah yang berlaku di masyarakat. Tanah adalah bukan milik perorangan, tetapi dikuasai secara komunal dalam sistem kelompok kekerabatan (clan). Data ini harus akurat di lapangan karena ada kaitannya dengan perluasan pertanaman jika ingin membenahi bagian hulu dari sistem agribisnis.

Permasalahan pada bagian hilir agribisnis dari kenari dan salak adalah kurangnya aspek introduksi teknologi dan aspek pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan komoditas spesifik. Hal itu berarti bahwa kenari dan salak adalah komoditas andalan bagi suatu daerah. Komoditas andalan bermakna hanya tumbuh dan berkembang dengan baik karena dukungan kondisi tanah dan iklim lokal di daerah tersebut. Produktivitas dan mutu hasil sangat spesifik lokal yang tidak dijumpai di daerah lain.

Masyarakat pegunungan di Pulau Seram harus memiliki kedaulatan pangan pada komoditas kenari dan salak. Kedaulatan pangan dimaksud akan mengangkat tingkat kehidupan mereka dan itu hanya dapat dicapai apabila ada nilai tambah dari komoditas tersebut dalam hidup mereka. Kedaulatan pangan sebenarnya ada kaitannya dengan hak asasi manusia. Jadi pengembangan komoditas pertanian tidak dapat dipisahkan dari pengembangan peradaban manusia. Jika ini semua tercapai maka kita telah menciptakan program kecukupan pangan bagi masyarakat yang hidup disekeliling sumbaerdaya alam yang melimpah dimana selama ini belum dioptimalkan untuk diberdayakan. Apa artinya memperoleh piagam penghargaan sertifikat nasional untuk mengkategorikan salak sebagai komoditas nasional ? Begitupun kenari adalah tanaman asli dari Maluku ? Untuk itu pendekatan yang konvensional tidak bisa diandalkan dalam memberdayakan orang Alune. Dibutuhkan pendekatan etnobotani untuk bisa memahami rasionalitas tersembunyi dari orang Alune, sehingga suatu saat nanti komoditas kenari dan salak akan memberikan kontribusi bagi pendidikan generasi muda orang Alune. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat orang Alune tidak merasa inferior dalam perkembangan teknologi saat ini.

 

Informasi Lokasi Riset dan Demografi

Riset ini dilaksanakan di desa Uweth, Buria, Riring, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Secara administratif termasuk dalam kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku (Map 1). Kelima desa ini berada dalam satu daratan dan hanya dipisahkan oleh sungai dan gunung. Akses transportasi ke lokasi studi masih sulit, karena harus ditempuh dengan berjalaan kaki dalam jarak yang cukup jauh, kecuali Desa Uweth yang letaknya di pesisir pantai yang berjarak 3 (tiga) Km ke ibukota Kecamatan Taniwel.

Wilayah studi memiliki fisiografi bergunung dengan ketinggian rata-rata 400 – 725 m dpl dengan kemiringan lereng dominan > 45 %. Namun terdapat areal yang memiliki kemiringan lereng < 30 % dengan luasan yang sempit dan tersebar secara sporadis terutama pada punggung atau puncak gunung serta pada dataran sepanjang dekat aliran sungai.

Pulau Seram mempunyai pola iklim  dengan karakteristik yang berbeda–beda menurut ruang dan waktu, terutama sebaran dan jumlah curah hujan. Curah hujan pada musim basah tercatat > 200 mm dan bulan kering < 100 mm.

Penduduk di wilayah studi sebagian besar adalah penduduk asli dari suku Alune. Data registrasi penduduk tahun 2011 pada wilayah riset disajikan pada tabel 1, dengan tingkat kepadatan penduduk 18.98 jiwa per km2.

 

Tabel 1.  Keadaan Penduduk di Wilayah Studi Tahun 2011

Desa

KK

Jumlah Penduduk

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

Uweth

75

205

167

372

Buria

120

312

350

662

Riring

172

393

352

745

Rumahsoal

47

134

127

261

Lohiasapalewa

58

157

137

294

 

            Berdasarkan data yang diobservasi di lapangan pada data monografi desa, maka persentase jumlah penduduk usia kerja di desa Buria menunjukkan jumlah terbanyak disusul desa Riring, Uweth, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Jumlah penduduk usia produktif di wilayah studi sangat besar, namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa tidaklah semuanya penduduk usia ini sudah bekerja atau memiliki pekerjaan. Pendidikan terakhir kepala keluarga pada wilayah didominasi oleh tingkat sekolah dasar. Sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama penduduk di wilayah studi, sedangkan sektor non pertanian hanya ditekuni oleh sebagian kecil dari jumlah penduduk pada wilayah tersebut.

 

Pulau Seram

 

Map 1 . Pulau Seram dan Teritorial Alune di Kecamatan Taniwel

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Seram, dapat dibedakan antara penduduk asli (Alifuru Seram) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang yang sebagian besar di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah penduduk pendatang dilaporkan relatif lebih banyak dari Alifuru Seram. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Seram (Gambar 1). Kesatuan hidup dari orang Seram adalah soa (clan). Masing-masing soa mempunyai nama yang diwariskan secara patrilineal.

Gambar 1, menyajikan bagan tentang bagaimana Alifuru Seram membagi penduduk dari sisi pandang mereka. Alifuru Seram adalah mereka yang mengaku penduduk asli dan pemilik Pulau Seram. Sebagian besar dari mereka mendiami daerah pegunungan. Kelompok autokton ini terbagi atas dua kelompok yaitu Alifuru Gunung dan Seram Pantai. Penyebutan gunung dan pantai adalah wilayah tempat tinggal mereka. Ada ciri pembeda dari kelompok ini yaitu yang tetap mempertahankan garis perkawinan dalam internal Alifuru Seram menyandang gelar Alifuru Gunung yang terbagi dalam Orang Alune dan Orang Wemale. Sedangkan memilih kawin di luar kelompok mereka disebut Seram Pantai.

Penduduk alokton (Pendatang) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Seram beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Seram karena perdagangan rempah dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh pedagang Cina. Suku Buton tinggal di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Suku Jawa dan Bali bermukim karena adanya program nasional transmigrasi.

 

orang-seram

 

Figure 1. Penggolongan Penduduk Pulau Seram menurut Orang Alifuru Seram

 

Pendekatan Etnobotani dan Koleksi Data

Penelitian etnobotani yang dikembangkan oleh penulis merupakan suatu konsep pendekatan permasalahan dari segi etnologi dan botani dimana pendekatan ini sudah banyak dilakukan di Indonesia terutama oleh pakar etnologi-antropologi dan botani. (lihat penelitian dari Roy Ellen untuk masyarakat Nuaulu dan Dyah Maria Suharno untuk masyarakat Alune di Lumoli).

Yang banyak terjadi saat ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing pakar tersebut dan lebih cenderung terpisah-pisah sesuai domain ilmunya. Padahal kalau dilakukan secara interdisipliner tentu akan sangat menarik dimana segi etnologi akan menjelaskan bagaimana hubungan yang erat antara kehidupan suatu kelompok masyarakat dengan sumberdaya alam tumbuhan yang ada di lingkungannya, termasuk didalamnya menjelaskan tentang persepsi dan konsepsi masyarakat itu terhadap dunia tumbuhan yang dikenalnya, cara pengelolaan dan sejarah pemanfaatan. Sedangkan dari segi botani akan menjelaskan penyebaran jenis-jenis tanaman, taksonomi dan klasifikasi tanaman. serta sistem pengetahuan suatu kelompok masyarakat terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan, dan yang utama adalah mengungkapkan perannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya analisis yang digunakan dalam studi etnobotani adalah menggunakan « analisis dalam » dan « analisis luar ». Artinya bahwa analisis dalam akan lebih difokuskan untuk menjelaskan karakteristik dengan mengembangkan konsep yang sudah ada dalam suatu masyarakat sedangkan analisis luar akan menganalisis hubungan antara aspek sosial dan aspek teknik secara interdisipliner.

Penelitian interdisipliner dimulai dengan mewawancarai petani dan melakukan diskusi focus dan pengamatan lapangan dan menggunakan kuesioner. Diskusi fokus dilakukan dengan aparat pemerintah, tokoh adat dan responden kunci pada setiap kelompok kekerabatan. Hal ini untuk mencari informasi terkait dengan adat istiadat dan penguasaan tanah. Data yang dikoleksi terdiri atas :

  1. a.      Aspek Etnologi Botani (Pilar Etnobotani dalam Agribisnis) : Data tema ini dimulai dengan melakukan pendekatan etnobotani yang menjelaskan bagaimana hubungan erat antara adat dan budaya masyarakat dengan sumberdaya alam flora-fauna serta cara memperoleh dan memanfaatkannya, khususnya yang terkait dengan tanaman kenari dan salak.
  1. Aspek Kultur Teknis (Pilar Agronomi dalam Agribisnis)

b.1. Sistem Lahan : data tentang penggunaan lahan untuk kenari dan salak.

b.2. Usahatani, Budidaya Tanaman dan Agroklimat : Data dari aspek ini adalah pola usahatani, sistem budidaya dan potensi tanaman kenari dan salak). Data tentang jumlah tanaman kenari yang dimiliki oleh tiap responden petani. Untuk tanaman salak akan dilakukan sensus untuk mendapatkan data jumlah rumpun salak. Data agroklimat menggunakan data sekunder meliputi data iklim: curah hujan, suhu, lama penyinaran, dan kelembaban udara.

  1. c.       Aspek Teknologi Pasca Panen (Pilar Agroteknologi dalam Agribisnis) : Teknologi mesin pemecah kulit buah kenari. Untuk salak telah ditemui mesin untuk membuat keripik salak.
  2. d.      Aspek Sosial Ekonomi (Pilar Agroniaga dalam Agribisnis) :Dalam analisis aspek pasar data yang diperlukan antara lain : kecenderungan konsumsi atau permintaan masa lalu dan sekarang, dan variabel-variabel yang berpengaruh yang dapat dijadikan dasar perumusan model peramalan pasar potensial di masa yang akan datang. Selain itu pula tingkah laku, motivasi, kebiasaan, dan prevalensi konsumen; serta pemilihan “marketing efforts” yang akan dilakukan dan pemilihan skala prioritas dari marketing mix yang tersedia.
    1. e.       Teknik Pengumpulan Data Potensi Komoditas

Dalam tahap pengambilan data potensi kenari dan salak di lapangan dilakukan secara purposive sampling  dengan mempertimbangkan kondisi topografi dan penyebaran tanaman kenari dan salak. Untuk pengambilan data potensi kenari dibuat jalur-jalur pengamatan dimana pada setiap jalur pengamatan dibuat petak contoh untuk pengamatan tingkat pohon. Sedangkan untuk pengamatan tanaman salak dilakukan dengan rumpun tanaman salak.

 

Urgensi Riset

Penelitian multidisiplin saat ini sangat diperlukan untuk memecahkan permasalahan lingkungan yang banyak bersinggungan dengan persoalan manusia. Salah satu persoalan yang belum tuntas ditangani hingga saat ini adalah masalah kemiskinan dan masalah ketahanan pangan. Kedua masalah ini akan sangat mempengaruhi pola pengelolaan lingkungan. Langkah strategis yang ditempuh adalah :

  • Menemukan komponen teknologi maupun paket teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan mutu hasil seperti misalnya teknologi tepat guna untuk memecahkan buah kenari serta bagaimana menjadikan komoditi salak menuju industri ?.
  • Membangun pilar agribisnis kenari dan salak yang dimulai dengan menata bagian hulu produksi bahan baku yakni memecahkan masalah budidaya kenari dan salak dimana saat ini masyarakat masih mempraktekkan budidaya tradisional dan tanpa perawatan. Bibit atau benih yang tumbuh lebih dominan tanpa campur tangan manusia. Selain itu riset ini juga menyiapkan bagian hilir dengan teknologi pasca panen yang berbasis pada industri rumah tangga.
  • Mengidentifikasi aspek jejaring usaha dalam hal ini pasar, selanjutnya membuka kerjasama kemitraan dengan Pemerintah sebagai penjamin regulasi, pengusaha untuk informasi agribisnis dan sekaligus penataan rantai distribusi (Supply Chain Management / SCM) serta mitra akademisi yang selalu mencari terobosan rekayasa teknologi.

 

Penelitian yang dilaksanakan untuk memahami masyarakat dengan lingkungannya akan memberikan kontribusi sebagai berikut :

  • Menjadi pedoman dalam dokumen perencanaan dan pengelolaan pengembangan wilayah Kecamatan Taniwel di Kabupaten Seram Bagian Barat. Pada hakekatnya dokumen ini akan bermanfaat saat masyarakat merancang pembangunan desa dalam forum perencanaan level desa hingga ke forum yang sama pada level kabupaten. Dokumen dimaksud akan berisi data dan peta potensi komoditas unggulan kenari dan salak serta introduksi teknologi tepat guna berbasis industri rumah tangga.
  • Membangun pilar agribisnis pada bagian hulu dan hilir dengan terlebih dahulu menyajikan secara detail informasi sosial dan ekonomi masyarakat, karena informasi ini sangat penting bagi investor yang ingin menanamkan modalnya.
  • Perkembangan ekonomi keluarga yang cenderung meningkat akan memberikan dampak bagi perspektif masyarakat untuk lebih serius menangani pendidikan dan kesehatan. Jika ini berhasil maka persoalan pengentasan kemiskinan akan sukses dilaksanakan.
  • Memberikan penguatan kepada konsep ketahanan pangan dalam masyarakat sehingga kedua komoditas ini memberikan energi kepada masyarakat untuk tetap pada level kecukupan pangan.

 

Hasil Riset

1.Potensi Salak dan Kenari

Salak Riring memiliki keragaman jenis yang cukup besar. Tanaman salak yang dibudidaya di wilayah studi  diduga ada empat jenis yang dapat dibedakan berdasarkan karakter morfologi, karakter  agronomi, warna daging buah dan cita rasa. Tiga jenis telah diidentifikasi yaitu salak merah atau lebih dikenal dalam bahasa Alune : salaka lalakwe. Daging buah  salak ini berwarna merah dan cita rasanya manis, berair serta tekstur dagingnya renyah. Jenis ini mulai dibudidayakan pada tahun 1960 dan mulai berproduksi tahun 1966. Perkembangan budidaya jenis salak ini terlambat, karena masyarakat takut mengkonsumsinya,  dengan alasan warna buahnya tidak lazim bagi mereka. Salak putih bahasa Alune : salaka putile dan salak berwarna gading bahasa Alune : salaka porole. Jenis yang lain adalah salak coklat bahasa Alune : salaka cokale. Jenis ini warna daging buah adalah kecoklatan. Salak ini masih dalam observasi, sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Berdasarkan karakter morfologi, warna daging buah dan selaput daging buah serta cita rasa hampir tidak jauh berbeda dengan salaka lalakwe (Leatemia et al, 2007, Pattinama et al, 2012).

SALAK

Figure 2. Kondisi areal tanaman salak dan produksi buah salak merah

 

Dari hasil identifikasi maka taksonomi salak Riring sebagai berikut :

Kingdom         :           Plantae

Divisi               :           Spermatophyta

Sub Divisi       :           Angiospermae

Kelas               :           Monocotyledon

Ordo                :           Arecales/Spadiciflorae

Family             :           Arecaceae/Palmae

Genus              :           Salacca

Spesies            :           Salacca zalacca var. amboinensis

 

Inventarisasi terhadap tanaman salak di lokasi penelitian ditemukan jumlah individu tertinggi terdapat di desa Rumahsoal adalah 293 rumpun, diikuti dengan desa Buria sebanyak 225 rumpun. Jumlah individu yang terendah ditemukan pada desa Lohiasapalewa sebanyak 48 rumpun sedangkan pada desa Uweth tidak dijumpai adanya tanaman salak. Jika dilihat dari rata-rata jumlah rumpun tiap hektar, maka desa Riring memiliki rata-rata jumlah rumpun tiap hektar yang tertinggi yaitu 3450 dan 4000 rumpun/ha, diikuti oleh desa Rumahsoal sebanyak 1465 rumpun/ha. Jumlah rumpun terendah terdapat pada desa Lohiasapalewa sebanyak 415 rumpun/ha.

Data hasil inventarisasi potensi salak di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 2 .

 

Tabel 2. Hasil inventarisasi potensi tanaman salak di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Individu (Rumpun)

Sebaran Jumlah Rumpun Per Plot *)

Rata-rata Jumlah Rumpun (R/ha)

1.

Uweth

2.

Buria

225

20 – 100

1406

3.

Lohiasapalewa

48

1 – 79

415

4.

Rumahsoal

293

42 – 73

1465

5.

Riring

138**); 160***)

138**; 160***)

3450**); 4000***)

Keterangan : *) ukuran plot contoh (20 x 20) m, **) Salak Merah, ***) salak putih

 

Komoditas kenari dari famili Burseraceae diindikasikan merupakan plasma nutfah yang tumbuh dan berkembang dengan sangat baik di Kepulauan Maluku yang terbentang dari utara (Maluku Utara) hingga ke daerah sebelah selatan (Maluku). Hingga saat ini belum ada suatu riset yang mendalam tentang tanaman ini. Tanaman ini sering dibawa oleh kolonial Belanda untuk menjadi tanamn pelindung pada sejumlah daerah di Indonesia. Yang dimakan dari buah ini adalah dagingnya yang dibungkus oleh kulit buah yang sangat keras dan kokoh. Untuk mendapatkan daging buah secara konvensional masyarakat di Pulau Seram memecahkannya dengan menggunakan parang dan sebagian lagi menggunakan batu atau palu.

Proses pemecahan secara konvensional ini mempunyai kelemahan yaitu laju produksi rendah dan kualitas daging buah kenari yang dihasilkan tidak seragam. Berdasarkan pengalaman di industri rumahan 1 (satu) orang dalam sehari (= 8 jam) hanya mampu memisahkan daging buah kenari dari cangkangnya sebanyak 1(satu) kg. Padahal di hutan Pulau Seram tersedia buah kenari dalam jumlah yang banyak dan itu semua terbuang sebagai limbah di hutan. Babi hutan akan makan buah kenari yang masih utuh. Yang dimakan adalah lapisan kulit yang membungkus cangkang dan seterusnya akan dikeluarkan sebagai kotoran dan ini adalah penyebaran bibit kenari secara alami di hutan. Selain itu jenis burung tertentu juga mempunyai andil menyebar buah kenari dan kemudian tumbuh sebagai bibit.

POHON-KENARI

Figure 3. Pohon kenari yang ditemukan di lokasi penelitian

 

Hasil identifikasi menyatakan bahwa semua kenari yang berada di 5 desa di Kecamatan Taniwel adalah Canarium indicum L. Dari hasil identifikasi tersebut maka taksonomi kenari adalah sebagai berikut :

Kingdom                     : Plantae

Divisi                           : Magnoliophyta

Kelas                           : Dicotyledon

Ordo                            : Sapindales

Famili                          : Burseraceae

Genus                          : Canarium

Spesies                        : Canarium indicum L

 

Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan di lokasi penelitian, ditemukan bahwa potensi kenari banyak ditemukan pada desa Riring sebanyak   81 pohon/ha, diikuti oleh desa Uweth sebanyak 57 pohon/ha seperti disajikan dalam Tabel 3. Selanjutnya, Sebaran potensi kenari yang paling sedikit dijumpai pada desa Rumahsoal sebanyak 23 pohon/ha. Sebaran diameter pohon kenari yang diukur di lokasi penelitian berkisar antara 11,5 cm sampai 149,8 cm  dan tinggi bebas cabang dapat mencapai sekitar 30 meter. Hasil perhitungan volume pohon kenari di dapatkan volume pohon bebas cabangnya berkisar antara 36,621 m3/ha sampai 298,882 m3/ha.

 

Tabel 3. Hasil inventarisasi potensi pohon kenari di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Pohon (n/ha)

Sebaran Diameter (cm)

Tinggi

(m)

Volume*)

(m3/ha)

1.

Uweth

57

11,5 – 122,5

10 – 30,4

79,011

2.

Buria

28

20 – 105

9 – 25

36,621

3.

Lohiasapalewa

50

21,5 – 63,5

5,5 – 12,6

44,309

4.

Rumahsoal

23

54,2 – 149,8

7,3 – 22,5

232,265

5.

Riring

81

42,5 – 134,4

10,6 – 22,7

298,882

Keterangan *) Volume pohon bebas cabang

 

2.Dunia Kosmologi Orang Alune

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Seram umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Alifuru Seram.

Pemikiran yang kuat dari Orang Alifuru Seram dalam memandang pulaunya adalah Nusa Ina (Pulau Ibu) yakni pulau yang melahirkan semua suku bangsa Maluku. Seram adalah tanah yang luas dan subur laksana suburnya seorang perempuan yang melahirkan generasi baru.

Kehidupan awal manusia bermula di Nunusaku. Kata ini mengandung dua kata yakni nunue artinya beringin dan saku artinya air. Jadi Nunusaku adalah beringin yang mengluarkan air. Dari pohon itu keluarlah tiga dahan pohon dimana setiap dahan mengeluarkan air hingga membentuk sungai yang sakral di Pulau Seram yaitu Tala, Eti dan Sapalewa.

 

3.Pola Makan

Orang Seram akan mengorganiser makanan sesuai dengan aktivitas mereka yang berbeda yakni pada saat di dalam rumah dan di luar rumah. Orang Seram mengusahakan tanaman sagu (Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsi-nya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, orang Seram secara rasional memilih singkong (=kasbi, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan pati singkong, kemudian diolah untuk menjadi papeda. Mereka juga mengkonsumsi selain protein hewani seperti daging babi, rusa dan kusu (Phalanger dendrolagus) juga ikan air tawar (mujair) dan udang pada habitat sungai atau kali. Masyarakat alokton (Pendatang) yang sebagian besar tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan juga singkong. Mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

sagu

Figure 4. Proses Pengolahan Sagu,Pati sagu dalam Tumang dan Makanan Papeda (Foto:Pattinama, 2012).

 

Conclusion

Orang Seram di pedalaman Pulau Seram merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Seram hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Seram menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Bahkan jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu), protein (babi, kusu, rusa, udang dan ikan) serta vitamin lain (sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Seram bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Seram sebagai penduduk autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Pulau Seram, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Seram relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan karena orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Pulau Seram yang berbentuk seorang perempuan dan seluruh organ badan direpresentasekan pada teritorial yang sudah jelas dibagi untuk dikuasai oleh setiap kelompok kekerabatan. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan kepada pulau yang bernama Seram. Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Seram makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Seram sehingga akses mereka untuk memperoleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memperoleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

MAPSARA TU KOINLALEN OTO FADAE RANALALEN, BUPOLO, MALUKU

Orang Buru

fili kamipa na

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Geba Keda Etnoekologi oto Faperta Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

Roger Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

 

Lien na Leu

Neten na dapsara tu na lien humalolin geba Bupolo oto neten mua lalen tu geba lalen. Kapsara lien hangina ni sapan geba, gamdo tu neten ni oto leu ?. Gamdo katine geba Bupolo oto neten hangina na ? Gamdo tu neten geba Bupolo da suba hai fili Ranalalen seponi dafango neten fehut oto na elet dikat ? Kapsara lien na gosa tirin gamdo geba na da defo oto na elet fehut sepuna da suba oto ranalalen ? Lien ranalalen mapsara neten fadae rana Waekolo tu kaku Date neten oto nelat Bupolo.

Gamdo kami huke lienkasen na oto ni kitahalu mapsara lienkasen akilalen geba Bupolo oto neten fenalalen tu humalolin.

 

Humalolin Geba Bupolo

Fenalalen mapsara neten humalolin da defo emsian noro ba. Neten na da defo humartelo eta humarlima. Eta geba Bupolo mapsara fenalalen Waekolo oto ni humalolin da defo geba fili noro Waekolo ba. Geba dikat mo da defo oto nete di tu sira ba. Sepo ni humaelet oto fenalalen da defo geba sa warot mo udu humarlima ba.

Akilalen fenalalen ma dufa kai wai sira tu ina ama. Kai na anat da bagut hai sepu ni na anat mhana na da mau hama fina oto ni gebaromtuan dufango humafehut na laha yako anat mhana. Eta kamipa toho oto neten Bupolo, kami tine gebaromtuan na anat mhana da bagut hai oto ni da fango huma fehut hai da bina laha anat mhana sepu ni kae hama fina pa kae kaweng beka.

Oto neten fenalalen, noro dikat da kadu pa da defo tu kami akilalen pa da fango huma fehut oto ni kami bina humalolin. Eta ni kami na wali duba kadu da defo taga yako oto fenalalen.

Oto elet leu geba Bupolo da bina fenafafan, neten oto Ranalalen. Oto fenafafan gebaromtuan duba newe tu anatcia ba. Fili neten di geba Bupolo du defo oto neten dikat-dikat gamdo tu gebaromtuan du huke sa sa tu na neten kadefo.

Fenafafan hangina na geba defo mohe, ma tewa tu neten na neten koin. Da defo oto neten na noro Waekolo ba oto Waereman, noro dikat sabeta mo. Sira du defo oto kaminteang na ni kai wai fili humalolin dikat gebaromtuan du huke neten laha sira ni pa du defo pa du jaga neten nesa-nesa (Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, Aerdapa) tu noro Waekolo.

 

Koinlalen oto Bupolo

Eta ngei si fenafafan ma sea fili gebaromtuan Waekolo oto humalolin Waereman. Ma sea fili gebaromtuan Portelo tu Mrimu du defo oto neten na. Portelo na geba bagut fili noro Waekolo du jaga neten koin oto ranalalen. Hulu geba Bupolo, sira ba noro Waekolo pese Portelo du defo oto ranalalen tu Mrimu Waekolo.

Eta kamipa toho oto fenafafan, ma linga fili wae na kadan suba eta na ulun humalolin Waereman. Ma kaba waeolon neten na kadan oto waenibenangan. Wae na da suba fili rana du bajaga wae na fili noro Waekolo.

Waeolon da nei oto rana fafan da suba fili rana fafan daiko ngei buru slatan da suba beta mo ina da bastela kaku oto namnelat pa da simsubah wai tinan pa da mano oto waenibe  lienkasen do bina ni waenibenangan, oto Waemala da dufa ior- ior teman gamdo gebaromtuan ro do dufa oto wae ni, eta do ngei ngan Waemala. eta mapsara lienkasen fili Waenibenangan dasuba ngan Waeniba ba, eta wae na da suba fili kaku oto rana fafan gamdo Waekolo do defo oto wae na ulun.

Gamdo ma bina Waenibe olon mo.? Mapsara oto waenibe ni geba Bupolo na ngan waenibenangan ni na ngan remat. Waenibe ni na ulun da dufa oto Waekolo ulun Waenibe na da dufa oto na kadan kwanat, wae ni da suba oto likunsmola. Wae ni da nei oto neten ni geba Bupolo du nei ngan wae Waenibe. Wae na da suba fili ranalalen lienkasen bina rana olon (koin ). Lien dikat likunsmola ma bina neten ni ma dufa wae na leman, oto nelat eta da leman mo fili rana Waekolo, sepu ni wae damano fili Waekolo pa da suba oto neten Waenibenangan. Eta geba Bupolo, likunsmola ni elet wae na du dufa mloko hat oto rana Waekolo, mloko hat stefo da suba giwan fili oto Waenibenangan. Ma tine eta da suba mloko da defo oto likunsmola eta da suba geba Bupolo iko tine pa du seka emdau tu dapan pa du oli tuha oto huma pa du mapo tuha pa du ka. Mloko da suba fili rana da iko msian mo po da iko warot da taga wae na na kadan eta da suba oto Waenibenangan, lien fili geba Bupolo ba mloko na da suba hulut oto masin. Elet na da dufa hangan msian oto fulan permede oto fulan Oktober eta fulan fehut. Geba Bupolo du tine fulan na pa du seka warahe. Eta geba Bupolo bina rana na da rakik hai, mloko hat da sefen pa da loa ahut bagut ni ma dufa oto likunsmola.

Eta ma iko oto fenafafan maliho oto rana Waekolo ma egu waga ngei geba Bupolo fili humalolin Waereman, eta geba Bupolo Waereman du iko kadan fili kaku Date ngei kaku sa. Oto fenafafan geba nyosot pi geba masin du liho oto tuhung na mo. Eta du liho oto neten na ni du difu,. Kamipa iko na po ma dufa liho roit fili gebaromtuan sira du huke . kamipa na jamtelo pa ma iko tine elet gebaromtuan teman sira ba defo

Eta Geba Bupolo sira mau iko tine elet ka defo gebaromtuan teman sira na elet ka defo ni ma egu fua dalu pa huke laha geba Bupolo dae Waereman fafan. gebaromtuan pa ma kala ina tu ama tu kai wai sira ma defo pa ma ka fua tu dalu na mnesa-mnesa tu sira. Ni ma egu fua tu dalu ba.ma egu matan ni pa ma huke laha anat Bupolo oto Waereman pa duhuke oto neten koin ni ma iko oto fenafafan ma egu lastare la ma iko na, ma egu gebaromtuan sira oto kaku Waereman, gamdo du bajaga fenafafan ma pipolon tu sirah pa  maiko mnesa –nesa tu sira pa du tu elet ka defo gebaromtuan teman sira elet kadefo oto fenafafan. Eta geba nyosot do mau si oto neten koin na, ni da egu lastare tu dalufua tu matan goban ni utun lima ba ni naraman laha geba nyosot. Eta geba Bupolo. gebaromtuan dusi oto rine lalen.

Eta ma liho oto fenafafan, kamipa ma dufa mrimu Waekolo. Ringe ma loa adat beto nelat ma kala opolastala tu gebaromtuan, rana tu date fafan. Ma iko pa ma suba oto huma. Dalua huma mo po dalua gama kaulahin, miat tu fafu na elet kafoi tu na kadan oto rahe.

Fenafafan di na elet kadefo gebaromtuan teman. Mrimu da bina neten ni warot ior-ior teman gama todo, gomi, gong bagut tu gong roit, nhero, kwani, balanga tu ior-ior bakan. Ior-ior halu na duba nei oto pau rahe. Geba Bupolo sira lua fefa da bina liang lahin. Da lua fefa ni da langa miat pa da nei akilalen mrapa-mrapa. Da lua fefa akilalen bagut mo, halu ni msian dafu. Na bagut ni msian dafut, na remat ni polone dafut, na leman goa pau sa da remat mo.

Mrimu tu Portelo du defo oto humalolin Waereman du tine huma oto fenafafan. Geba Bupolo oto masinlalen jaga keha tine gebaromtuan fili kaku fenafafan bara sa sia ba pei eta fenafafan, eta sa ba pei du jaga iko oto humakoin pa du jaga tine huma bara daraki. seponi du huke mahun laha geba bupolo bara du pei.

Kamipa na toho oto fenafafan ma tine oto neten di fenafafan warot ni kaku –kaku oto fenafafan, geba Bupolo oto fenafafan du jaga gei kaku tu wae tinan bagut oto fenafafan, kamipa nika gemtuan mrmu eta gamdo tu wae oto fenafafan na ? Gemtuan mrimu bina wae na koin, wae tu kaku na du bina neten koin, noro fili Wakolo di du tine fenafafan bara noro dikat tu bara darogo akilalen oto koinlalen.

Eta kamipa toho oto ranalalen, kamipa tine seget fili fanabo, waili tu Waekolo halu ni sa sa tu ringe nake neten – neten sa sa ?, halu ni kamipa tewa fili gemtuan mrimu, na halu ni bagut tu remat. Gamdo gebaromtuan halu ni ma tewa fili gemtuan mrimun oto Fenafafan,Dabina halu fili marga pila na ni sa sa tu ringe nake neten–neten, gamdo eta geba Bupolo sa da tewa rine nake neten mo,ni gamdo beka gemtuan ee? eta manika fili Gemtuan mrimun da bina gamanga ? Halu ni oto neten geba Bupolo halu, ma sia pa mapsara tu neten na, ina ama kai wai sira kimi bara loat tu neten na eta ma loa epsalah oto seget na.

 

Lien na Sepu

Mapsara lien oto refafan na da bina tu lalen-lalen oto adat geba Bupolo, lepak foni oto na elet ka defo oto sa an a neten-neten noro oto mualalen. Koinlalen oto Bupolo iha na :

a.Ranalalen, b. Mua Garan, c. Waekoit, d. Kakukoit, e. Liang lahin, f. Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h. Seget, i. Sufen.

Ina ama kai wai sira kimi bara loat lalen tu kamipa na. Kamipa tewa lalen-lalen hai fili lien koin na, kamipa fili lolik lalen fedak fena tu retemena bara sehe.

CERITA TENTANG TEMPAT KERAMAT DI DATARAN RANA, PULAU BURU, MALUKU

Danau Rana

oleh :

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Guru Besar Etnoekologi Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

Roger Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

 

Pengantar

Bagian ini ingin menjelaskan keadaan tempat pemukiman tradisional orang Bupolo dalam hubungan dengan lingkungan alam dan kehidupan sosial.  Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bentuk pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal ?  Bagaimana pandangan orang Bupolo terhadap pemukiman tradisional dibandingkan dengan perkembangan pemukiman saat ini ? Bagaimana bentuk pemukiman orang Bupolo yang telah keluar dari ranalalen kemudian membangun pemukiman baru di tempat lain ?  Pertanyaan berikut yang sangat penting adalah bagaimana cara mereka memilih tempat tinggal yang baru setelah keluar dari ranalalen ?  Istilah ranalalen artinya daerah sekitar rana Waekolo dan gunung Date yang terletak di tengah pulau Buru.

Untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kami ingin menjelaskan terminologi yang selalu digunakan orang Bupolo untuk daerah pemukiman yaitu fenalalen dan humalolin.

 

Pemukiman Orang Bupolo

Istilah fenalalen artinya tempat pemukiman yang hanya terdiri dari satu kelompok noro atau soa (clan).  Jumlah rumah dalam satu fenalalen adalah antara tiga sampai lima buah.  Kalau orang Bupolo mengatakan fenalalen Waekolo maka pada daerah pemukiman dimaksud hanya dihuni oleh mereka yang berasal dari noro atau soa Waekolo.  Tidak ada orang Bupolo dari noro lain yang hidup bersama dengan mereka.  Oleh sebab itu jumlah rumah yang dijumpai tidak akan lebih dari lima buah rumah.

Dalam fenalalen biasanya kita jumpai hanya kehidupan antara mereka yang mempunyai hubungan keluarga sekandung bersama istri dan anak-anak mereka.  Kalau anak mereka sudah dewasa dan suatu saat ada rencana untuk menikahkan anak tersebut, maka sebelum yang bersangkutan menikah biasanya orangtua akan membangun rumah baru. Selama penelitian di lapangan, kami mengamati bahwa orangtua yang mempunyai anak laki-laki dewasa dan anak tersebut belum juga menikah maka dengan dibangunnya rumah baru yang terpisah dari orangtua adalah sebuah pesan untuk yang bersangkutan harus segera mencari jodoh untuk menikah.

Sedangkan dalam satu fenalalen, jika ada noro (soa atau clan) yang lain datang untuk tinggal bersama dan membangun rumah baru dalam fenalalen maka daerah pemukiman itu disebut humalolin.  Hal yang umum dijumpai adalah keluarga dari istri yang datang untuk tinggal bersama dalam satu fenalalen tersebut.

Tempat pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal disebut fenafafan, yaitu suatu daerah yang terletak disekitar ranalalen.  Di fenafafan hidup leluhur pertama orang Bupolo bersama sembilan orang anak.  Dari fenafafan (fena=clan, desa ; fafan=tertinggi) orang Bupolo menyebar ke berbagai tempat, sesuai dengan pembagian wilayah yang diperoleh dari leluhur mereka.

Fenafafan saat ini tidak dihuni lagi oleh orang Bupolo, tetapi daerah ini tetap dianggap sangat sakral dan terus dilindungi oleh orang dari noro Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman.  Tidak hanya orang Bupolo yang tinggal di Waereman yang melindungi fenafafan, namun orang Bupolo lain yang tinggal di humalolin lainnya di seputar ranalalen, misalnya Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, dan Aerdapa.

 

Tempat Keramat di Pulau Buru

Untuk memasuki fenafafan harus meminta izin orang Bupolo dari noro Waekolo di humalolin Waereman.  Orang yang berhak memberi izin adalah mereka yang menjadi pemimpin adat seperti Portelo dan Mrimu.  Portelo adalah jabatan adat tertinggi dalam noro Waekolo yang bertugas menjaga seluruh daerah sakral di ranalalen.  Dari semua noro orang Bupolo, hanya dalam noro Waekolo yang dijumpai jabatan adat Portelo.  Portelo harus tinggal di ranalalen bersama Mrimu.

Dari pengamatan kami selama berkunjung ke fenafafan (lihat peta), kedudukannya berada diantara waeolon (wae=air ;olon=kepala) dan humalolin Waereman.  Kita menyebut waeolon karena daerah itu adalah merupakan kepala dari sungai Waenibe.  Salah satu sungai dimana sumber airnya berasal dari rana Waekolo.

Istilah waeolon dalam bahasa Buru hanya disebut untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai Waenibe.  Sedangkan untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai-sungai lain yang ada di pulau Buru kita langsung menyebut nama sungai tertentu dan diikuti dengan kata olon, misalnya sungai Waemala kita sebut Waemalaolon artinya kepala/sumber dari sungai Waemala.  Untuk itu kalau menyebut waeolon maka semua orang Bupolo akan tahu bahwa yang dimaksud adalah kepala air Waenibe di rana Waekolo.

Mengapa kita tidak dapat mengatakan Waenibeolon ?  Menurut pikiran orang Bupolo bahwa air yang keluar dari rana Waekolo tidak langsung menuju sungai Waenibe namun melewati suatu tempat yang bernama likunsmola.  Orang Buru saat menyebut kata ini untuk pertama kali bagi saya sebagai orang luar dan sebagai peneliti dicatat hanya sebagai suatu nama tempat, padahal kata ini setelah dicari makna yang sebenarnya dan dari diskusi dengan banyak informan di lapangan diperoleh bahwa likunsmola terdiri dari likun esmohok laan (likun=bagian air yang dalam atau deep in english, esmohok=bagian yang rendah, laan=tempat untuk membagi).  Dengan kata lain likunsmola artinya suatu tempat dimana terdapat air yang sangat dalam, letaknya sangat rendah dari rana Waekolo dan dari situ air dialirkan ke sungai Waenibe.  Bagi orang Bupolo, likunsmola adalah tempat yang sangat penting karena menurut mitos jika mloko ha (morea besar) yang hidup di rana Waekolo kencing (mloko ha stefo) maka semua mloko yang ada di dalam rana Waekolo akan lari keluar meninggalkan rana Waekolo.  Sebelum keluar maka morea-morea tersebut berkumpul di likunsmolat dan dengan sangat mudah orang Bupolo dapat mengambilnya untuk dimakan. Mereka keluar dari rana Waekolo dalam jumlah yang sangat banyak menuju sungai Waenibe dan menurut orang Bupolo morea-morea tersebut pergi keluar menuju air laut yaitu tempat asal mereka.  Peristiwa ini berlangsung satu kali dalam setahun yaitu pada saat bulan gelap yaitu sekitar bulan oktober saat mulai akan menanam kacang.  Orang Bupolo katakan kalau rana Waekolo sudah kotor maka mloko ha akan marah dan kemarahannya yaitu mloko ha akan kencing (mloko ha stefo) dan itu hanya dapat ditandai dengan banyaknya morea yang terdapat di likunsmola.

Kalau menuju ke fenafafan melewati rana Waekolo dengan pakai perahu hanya diperuntukkan bagi orang Bupolo yang datang dari luar humalolin Waereman, sedangkan bagi orang Bupolo di Waereman biasanya mereka melewati jalan gunung Date dengan berjalan kaki.  Fenafafan tidak diijinkan bagi orang luar.  Saya mendapat izin ke fenafafan hanya satu kali dan kunjungannya sangat singkat dalam waktu tiga jam saja.  Saya hanya mau melihat apakah masih terdapat bangunan rumah seperti yang diceritakan oleh orang Bupolo di humalolin Waereman kepada saya.

Tidak ada syarat khusus yang mereka minta dari saya jika ingin berkunjung ke fenafafan, misalnya harus membayar uang sedekah di humapuji atau humakoin.  Huma puji atau disebut juga humakoin adalah tempat dimana orang Bupolo di Waereman atau orang Bupolo lainnya dapat berbicara (babeto) dengan para leluhur mereka (opolastala).

Pada umumnya orang luar (geba nyosot) yang ingin berkunjung ke tempat-tempat sakral di rana lalen diwajibkan untuk membayar jiwanya dengan sekeping uang di humakoin. Ini sebagai suatu tanda bahwa opolastala dan semua jiwa orangtua dari orang Bupolo yang telah meninggal dunia telah dihormati dan jika melewati tempat sakral, maka jiwa dari orang tersebut akan selamat dan tidak akan membawa kematian.

Saat berkunjung ke fenafafan, saya ditemani oleh mrimu Waekolo.  Setelah tiba di tempat tersebut, mrimu Waekolo berbicara (babeto) untuk minta izin dari opolastala, rana, dan date.  Kemudian kita memasuki suatu tempat yang disebut huma (rumah).  Tempat dimaksud tidak berbentuk rumah secara fisik namun ada beberapa buah batu yang tersusun secara rapih.

Tempat itu adalah rumah pertama dari leluhur mereka.  Menurut mrimu di tempat itu juga tersimpan seluruh harta para leluhur, seperti peralatan untuk berkebun, peralatan berburu, alat untuk masak dan makan.  Semua alat tersebut disimpan di dalam tanah.  Mereka membuat tempat khusus yang dinamakan liang lahin.  Cara membuat liang lahin yaitu mereka membuat sebuah lubang di dalam tanah dan dilapisi dengan batu pada seluruh dinding lubang tersebut. Umumnya ukuran liang lahin yang dibuat tidak terlalu besar, rata-rata berukuran panjang satu meter, lebar 60 sentimeter dan ukuran kedalaman lubang tidak lebih dari satu meter.

Semua barang dimasukkan ke dalam liang lahin dan bagian atas disusun piring yang terbuat dari porselen kemudian ditutup dengan tanah.  Semua peralatan yang terdapat di fenafafan saat ini telah diganti dengan peralatan yang terbuat dari porselen seperti piring dan gelas.  Saya tidak melihat seluruh obyek tersebut hanya diketahui berdasarkan cerita lisan dari mrimu Waekolo.

Mrimu dan portelo Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman secara bergantian mempunyai tugas yang rutin untuk membersihkan rumah di fenafafan.  Tidak ada jadwal yang pasti untuk kegiatan tersebut, jika ada yang sakit di dalam humalolin Waereman atau orang Bupolo yang tinggal di luar ranalalen hendak mengunjungi fenafafan, dari situ baru mereka membersihkan tempat rumah leluhur mereka dan memberi makan.

Pembagian daerah pemukiman baru ini tidak berdasarkan atas luas tanah tetapi berdasarkan pada gunung dan sungai.  Oleh sebab itu setiap noro dari orang Bupolo memiliki gunung dan sungai yang menurut mereka sangat sakral. Gunung dan sungai dimaksud masing-masing mempunyai nama.  Jadi tanah yang ada diantara atau disekitar gunung dan sungai tersebut adalah milik dari noro yang bersangkutan.

Selama penelitian di lapangan, saya mencoba untuk mengetahui batas-batas teritorial dari suatu noro, namun hal itu sangat sulit karena daerah yang terlalu luas dan jawaban dari informan di lapangan hanya menyebutkan bahwa : tanah milik kami terletak pada gunung dan sungai sebagaimana yang telah ditentukan oleh leluhur kami.  Dan semua orang Bupolo telah mengetahuinya.  Jika ada orang Bupolo yang tidak mengetahui maka yang harus menjelaskan kepadanya adalah para pemimpin adat (geba ha) dan orang-orang tua (gebaro emkeda).

 

Penutup

Kesimpulan dari cerita di atas ingin menyatakan bahwa daerah keramat di Pulau Buru merupakan tempat yang menyimpan identitas Orang Bupolo yang selalu menyatu dengan lingkungan alam. Daerah keramat yang dikenal oleh Orang Bupolo terdiri dari :

a.Ranalalen, b.Garan, c.Waekoit, d.Kakukoit, e.Liang lahin, f.Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h.Seget, i.Sufen

MUSEUM REMPAH – REMPAH DAN KEBUN BOTANI

museum

I. PENDAHULUAN

1. Maluku sebagai Kepulauan Rempah-Rempah « The Spices Islands »

Kepulauan Maluku tercatat dalam sejarah dunia sebagai kepulauan rempah-rempah dan kepulauan raja-raja. Untuk itu sejak abad ke-13 menurut catatan penelitian dari Valentijn (1724) atau bahkan pada abad sebelumnya, tanah Maluku sudah dikunjungi oleh pedagang Arab dan Cina. Kemudian pada abad ke-16 didatangi oleh orang Eropa. Masuknya peradaban islam dan kristen di nusantara ini berawal di Kepulauan Maluku kemudian disebarkan ke daerah berkat perdagangan rempah-rempah. Kedatangan pedagang Arab, Cina dan Eropa pada masa itu untuk melakukan perdagangan komoditi cengkeh (Eugenia aromatica O.K., Myrtaceae) dan pala (Myristica fragrans Houtt, Myristicaceae), karena kedua komoditi tersebut mempunyai nilai ekonomi dan estetika yang tinggi layaknya emas dan minyak bumi pada masa sekarang ini. Disamping pergaulan karena pertukaran nilai ekonomi dari rempah-rempah maka terjadi pula interaksi budaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepulauan Maluku saat itu sangat ramai didatangi oleh orang luar. Pergaulan juga dijalin bersama masyarakat nusantara lainnya seperti dari kesultanan Buton, Bone, Melayu dan Jawa. Seiring dengan kepentingan ekonomi, pada periode itu pula perkembangan ilmu pengetahaun mulai berkembang dengan berbagai penelitian yang dilakukan baik oleh bangsa Arab, Cina maupun Eropa. Salah satu diantaranya yang sangat spektakuler dari bumi Maluku sekitar 1640-an tercatat Georgius Everhardus Rumphius, seorang imigran Jerman di Negeri Belanda, pernah hidup dan meneliti kekayaan biodiversitas tanaman di kepulauan Maluku.. Bukunya yang sangat terkenal adalah « Het Amboinsche Kruid-book ». Dari sini dunia ilmu pengetahuan tumbuhan mulai dikenal dunia dan sekaligus menambah referensi botani yang sangat dibutuhkan dunia pada masa itu hingga sekarang ini.

Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah selain dipublikasikan dalam bentuk referensi buku seperti yang dibuat oleh para pakar juga dapat didokumentasikan dalam sebuah museum. Kehadiran sebuah museum bukan saja sebagai tempat pameran benda bersejarah seperti yang sudah dikoleksi di Museum Siwalima Ambon namun ide tentang koleksi rempah-rempah ini pun dapat disajikan pada sebuah museum.

2. Tujuan

Pembangunan museum rempah-rempah bertujuan untuk menginformasikan kepada generasi kini dan generasi dimasa mendatang tentang harumnya Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah.

Kebun Botani sebagai pelestarian plasma nutfah genetik tanaman khas Maluku juga diperuntukkan untuk mendukung lingkungan dan mengemban fungsi sebagai laboratorium alam.

 

3. Manfaat

Museum dapat dimanfaatkan sebagai sarana wisata dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan sejarah, budaya dan lingkungan alam. Dengan kata lain museum bisa dijadikan objek wisata turis dan laboratorium pembelajaran kepada masyarakat umum dan masyarakat ilmiah pada semua strata pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Penelitian mahasiswa bisa dilaksanakan di museum. Dengan demikian setiap objek yang digelar akan menjadi sumber informasi penting.

Di sekitar lokasi Museum Siwalima saat ini dapat juga dibangun taman dan tempat rekreasi yang didukung dengan fasilitas pelengkap lainnya. Ide yang mau ditampilkan disini adalah ke gunung untuk wisata museum dengan koleksi kebun botani dan ke laut untuk wisata bahari dimana pada lokasi di Taman Makmur terdapat situs Batu Capeu yang sangat terkenal. Kedua objek ini dapat ditangani secara terpadu.

 

II. RENCANA PROGRAM PEMBANGUNAN

Museum Rempah-Rempah akan dibangun di lokasi Taman Makmur Ambon dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Museum Siwalima dan Museum Kelautan yang telah ada sebelumnya. Artinya bahwa pengelolaan museum ini akan menjadi tanggung jawab unit pelaksana teknis museum yang bernaung dibawah Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Maluku. Dengan demikian program pembangunan museum ini akan disesuaikan sepenuhnya dengan mekanisme anggaran yang berlaku pada Dinas Pendidikan Nasional.

Untuk memahami rencana program pembangunan Museum Rempah-Rempah maka dapat diikuti pada diagram tahapan kegiatan yang disajikan berikut ini.

Dari diagram tersebut menggambarkan pengembangan sumberdaya manusia dapat ditempuh melalui pendidikan dan pelatihan serta penelitian. Diharapkan kegiatan ini dapat menunjang program penelitian pada jenjang S-1, S-2 dan S-3. Selain itu dapat pula direncanakan program pelatihan untuk mendidik pemandu museum yang profesional dalam bidang tanaman rempah-rempah.

 

III. METODE PENDEKATAN

Wujud dari Museum Rempah-Rempah adalah koleksi fosil dan herbarium dari berbagai spesimen tanaman rempah utama daerah Maluku seperti cengkeh dan pala. Disamping itu koleksi herbarium dari jenis tanaman rempah lainnya yang digunakan oleh masyarakat di Kepulauan Maluku.

Prinsip ilmiah dari pembangunan museum harus bertolak pada koleksi material, identifikasi, dan klasifikasi.

Pekerjaan koleksi, identifikasi dan klasifikasi dari setiap jenis harus dikerjakan dan diarsipkan dengan teliti, kemudian secara periodik dapat dipamerkan kepada khalayak.

Prinsip yang lainnya adalah peragaan dan penataan dimana kedua prinsip ini harus disesuaikan dengan perkembangan lingkungan masyarakat. Artinya semua material di dalam museum harus dipamerkan secara bergiliran mengikuti jadwal kejadian penting yang berlaku di masyarakat, misalnya eksposisi material menyongsong hari besar nasional dan daerah. Yang harus dihindari adalah eksposisi material yang sifatnya monoton.

Koleksi pribadi masyarakat seperti koleksi peninggalan warisan keluarga atau koleksi lukisan dapat ditampilkan untuk dipamerkan kepada khalayak. Disamping itu koleksi sejarah dari negeri, kabupaten/kota, dan pulau dapat dipamerkan secara bergilir menurut jadwal eksposisi. Jadwal eksposisi dimaksud harus diumumkan secara periodik kepada masyarakat umum maupun masyarakat ilmiah dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Dengan demikian membangkitkan kesadaran pentingnya arti museum untuk dikunjungi secara berkala dalam proses pembelajaran kepada masyarakat.

Khusus untuk kebun botani akan dimanfaatkan sebagai ruang koleksi beberapa jenis tanaman rempah sehingga profil tanaman yang telah dikoleksi di dalam museum juga bisa ditemui di dalam kebun botani tersebut. Pembangunan kebun botani akan memanfaatkan lingkungan sekitar museum sehingga kawasan dimaksud akan dikembangkan secara bersama-sama. Mengingat kawasan tersebut adalah milik Universitas Pattimura Ambon seluas 55 Ha yang perencanaan awal oleh Almarhum Kolonel Herman Pieters dengan Yayasan Maluku Irian Barat Makmur adalah ingin mewujudkan suatu kawasan pengembangan koleksi fauna dan flora khas Provinsi Seribu Pulau. Dengan demikian ide yang cemerlang ini dapat diwujudkan kembali guna mendukung program pendidikan dan pariwisata daerah kota Ambon.

IV. RENCANA PENDANAAN

1. Pembangunan infrastruktur dari Museum Rempah-Rempah dibiayai sepenuhnya dari dana APBD dan APBN.

2. Data koleksi material museum akan dikumpulkan melalui kegiatan survei lapangan yang dibiayai oleh dana rutin APBD maupun APBN. Selanjutnya kegiatan ini akan dituangkan dalam usulan proposal kegiatan lapangan.

3. Dana masyarakat akan digunakan untuk membiayai operasional eksposisi dan pemeliharaan koleksi. Selain itu dapat pula diusahakan dana dari donor luar negeri yang diperoleh berdasarkan kerjasama pendidikan dan penelitian, dimana pada program jangka panjang Museum Rempah-Rempah telah mampu menunjukkan identitas sebagai sumber informasi dan laboratorium pendidikan.

Foto Kerangka Bangunan yang berlokasi di samping Museum Siwalima       Koleksi Kelautan, Taman Makmur Ambon.

museum-1

Kerangka bangunan berlantai satu yang berlokasi di kompleks Museum Siwalima Ambon. Bangunan ini dapat dimanfaatkan untuk rencana mewujudkan Museum Rempah-Rempah di Provinsi Maluku. Selanjutnya dapat disebut pula sebagai Museum Siwalima koleksi Rempah-Rempah. (Dokumentasi : M.J. Pattinama, 2005)

 

 

TAHAPAN-MUSEUM-REMPAH