Featured Posts

<< >>

VIVERE PERICOLOSO : Membedah Buku “Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan”

COVER LAGU KEBANGSAAN

Bedah Buku, Tanggal 17 September 2019           Judul bedah buku ini kami sebut Vivere Pericoloso, karena sesuai dengan contenu dari 73 essai yang termuat dalam buku berjudul Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan, karya Prof. HAKA (Hariadi Kartodihardjo). Buku setebal 375 halaman ini memiliki nuansa kebebasan berpikir

JIKA YESUS LAHIR DI BUPOLO……

Yesus-Lahir

Marcus Jozef PATTINAMA (Ethnobotanist dan Staf Pengajar Sosek Faperta UNPATTI) Pengantar : Memahami Yesus Membayangkan Taman Eden : ada Adam dan Hawa dengan wajah bule, buah terlarang (mungkin itu pohon appel ; belum dibudidaya di Maluku tapi bisa ditemui di pasar), ular yang menggoda, akhirnya kedua makhluk itu

BERDIRI DI DARAT DAN MEMANDANG KE LAUT

MEMANDANG-KE-LAUT

oleh : Marcus Jozef PATTINAMA[1] I. Prolog Memuliakan Laut. Tema ini kembali digaungkan melalui pemaparan diversifikasi ide pada penerbitan buku ketika merayakan Dies Natalis Universitas Pattimura Ambon yang kini telah berusia 54 tahun pada April 2017. Jika boleh dapat kami sampaikan bahwa tema ini tidak dapat

LA MAIN Á LA PÄTE SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN INSTITUSI INTERNASIONAL

LA MAIN Á LA PÄTE

Oleh : Max Marcus J. PATTINAMA[1]  Prolog La Main à la pâte adalah suatu konsep pengembangan ilmu pendidikan berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan dari pendidikan pada level sekolah dasar dan perguruan tinggi. La Main à la pâte sangat sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tetapi

MUA LALEN DAN ORGANISASI TERITORIAL MENURUT KONSEP GEBA BUPOLO

Orang Buru

Oleh : Max Marcus J. PATTINAMA Profesor Etnoekologi ABSTRACT Geba Bupolo are autochtone of the Buru island. The forest area is a great house for Geba Bupolo (Bupolo people). This view gives meaning also that the forest is an area that has an owner. Hunting

NILAI BUDAYA MELANESIA : PROSPEK dan PEMBERDAYAAN

peta-melanesia

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

Email : mjpattinama@gmail.com

Prolog

Kegiatan fasilitasi dialog nilai budaya dengan tema : Tidore dalam Jaringan Wilayah Budaya Melanesia Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemendikbud RI di wilayah Kesultanan Ternate, bagi kami pribadi, ini adalah momentum yang sangat strategis bagi kebangkitan identitas orang Melanesia Indonesia dengan fokus diskusi kejayaan Kesultanan Tidore.

Kebangkitan identitas ini bukan untuk menempatkannya sebagai hal yang utama dan sangat terpenting sedangkan yang lain dianggap inferior. Tentu tidak, namun ini era kebangkitan untuk menyentak dan mengajak para generasi muda Melanesia Indonesia agar lebih mengenal identitas diri dengan benar dan beretika. Menurut pengamatan kami pribadi bahwa anak bangsa Indonesia saat ini menjadi tidak tenang dan menjurus pada tatanan ketidakaturan karena mereka tidak peduli lagi untuk mau berusaha mengenal identitas diri dan ada indikasi mereka sangat jauh dari etika berbangsa dan bernegara. Dengan demikian acara dialog pada kesempatan ini seyogyanya dipandang sebagai forum untuk kita bisa mengenal dan memahami identitas diri, disamping forum untuk berbagi ilmu dalam memberikan kontribusi ilmiah kepada dunia pendidikan dan penelitian orang Melanesia Indonesia.

Ketika kami dihubungi oleh panitia pelaksana fasilitasi dialog ini untuk menulis tentang Nilai Budaya Melanesia ; Prospek dan Pemberdayaan, kemudian kami menelisik tentative skedul forum diskusi ini ternyata kami dijadwalkan sebagai pembicara terakhir dengan topik tersebut. Judul ini bagi kami cukup menarik dan memberikan sinyal bahwa paparan ide seyogyanya menyentuh nilai budaya dalam konteks kekinian tanpa meninggalkan substansi nilai budaya orang Melanesia Indonesia pada zaman prehistori. Ada dua kata dalam topik makalah kami yang menarik yaitu Prospek dan Pemberdayaan.

Jadi elaborasi ide dalam makalah ini kiranya bisa memberikan suatu harapan baru bahwa nilai budaya orang Melanesia Indonesia pada konteks kekinian dapat memberikan energi atau kekuatan prima untuk memperteguh kapasitas mereka agar bisa berlayar dan sekaligus secara mandiri bisa mengemudikan perahu menuju pulau yang berkeadilan dan sejahtera. Simbol perahu dan pulau digunakan mengingat perjalanan nenek moyang orang Melanesia Indonesia selalu menggunakan alat transportasi perahu untuk menyebar dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dan wilayah itu adalah pulau-pulau kecil.

 

Identifikasi

Negara Kepulauan terbesar di dunia yang bernama Indonesia menjadi lebih menarik karena ternyata dicatat dalam sejarah sebagai tempat persinggahan berbagai suku bangsa. Salah satu suku bangsa yang akan dibahas pada forum ini adalah Melanesia Indonesia. Hal ini berarti orang Melanesia yang hidup di Kepulauan Indonesia.

Melanesia (dalam bahasa Prancis La Mélanésie) secara literal artinya « pulau hitam » atau « les îles noires » tersebar memanjang dari Pasifik barat sampai ke Laut Arafura, utara dan timur laut Australia. Negara-negara yang termasuk ke dalam Melanesia yaitu:Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru dan Timor Leste serta Indonesia. Peta kawasan orang Melanesia di Indonesia adalah wilayah Papua, Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Dari catatan Antropologi menyebutkan bahwa untuk wilayah Maluku dan Nusa Tenggara Timur termasuk dalam mikronesia. Perhatikan peta penyebaran orang Melanesia yang dikutip dari Wikipedia Indonesia :

 peta-melanesia

Peta Kawasan Orang Melanesia

Nilai Masa Lalu Melanesia

Tema Tidore memang menarik karena semangat perdagangan rempah mengarungi hampir diseantero jagat, tetapi harus jujur dikatakan bahwa semangat itu menjadi porak poranda karena ada segregasi internal yang kuat diantara keempat kesultanan, Moloko Kieraha, dimana secara tidak langsung ada proses kanibalisme peran satu dengan yang lain. Hal ini tidak terlalu menonjol ketika hubungan dagang masih terjalin dengan bangsa alokton Cina dan Arab. Kedua bangsa ini masih menerapkan asas pembagian perdagangan yang seimbang. Keseimbangan itu bukan saja pada nilai tanaman yang diperdagangkan tetapi menyentuh pada hakekat manusia. Artinya itu dibuktikan dengan kedua bangsa ini masih mau berasimilasi dengan budaya setempat dan ada terjadi perkawinan diantara mereka, walaupun itu masih terbatas pada masyarakat kelas menengah ke atas.

Prahara mulai muncul ketika datangnya bangsa Eropa. Mengapa ? Mereka masih berpikir tentang superior dan inferior dalam komunikasi dengan autokton. Pada masa itu bangsa Eropa memang masih membangun habitat hidupnya dalam tembok-tembok besar dan membentuk perkampungan kecil (Prancis = hameau). Jadi hubungan asimetris berlangsung dalam perdagangan rempah. Ironisnya keempat kesultanan menjadi terlibat untuk berkolaborasi dengan mereka untuk saling menghancurkan.

Mari kita simak tentang terminologi Melanesia. Walaupun ada beda intepretasi diantara para pakar namun seyogyanya dianggap sebagai bahan untuk memperkaya khasanah sintesis dan analitis ilmu pengetahuan orang Melanesia Indonesia.

Pertanyaannya adalah mengapa para etnolog dan antropolog Eropa bisa menyebut Melanesia sebagai “pulau hitam” ? Tentu ini ada alasan yang kuat berdasarkan pengalaman mereka dalam perjalanan pelayaran mengarungi pulau di belahan timur Nusantara ini.

Pengalaman kami meneliti di Pulau Buru terungkap nama pulau itu oleh autokton diberi nama Bupolo. Diinformasikan lagi bahwa datangnya orang Portugis menyebutnya “Burro”. Ini adalah informasi lisan dari lapangan riset oleh para responden. Informasi ini harus diolah dan diintepretasi berdasarkan data yang akurat. Kami menelusuri di perpustakaan Leiden dan Lisabon. Ditemukan peta yang dibuat oleh Portugis pada tahun 1613. Burro dalam bahasa Portugis artinya keledai dan expresi orang Eropa kepada orang bodoh disetarakan dengan binatang keledai. Hal ini terjadi karena Portugis selalu mendapat penolakan saat mereka ingin berkomunikasi dengan masyarakat. Orang Bupolo ketika itu lebih memilih menutup diri dengan menghilangkan jejak dan masuk ke hutan. Akibatnya pemukiman kosong dan gersang yang senantiasa menyambut kedatangan Portugis dan pasti dialami pula oleh orang Eropa lainnya.

Milieu yang kosong dan gersang seperti ini menginspirasi mereka menyebutnya sebagai l’île noire. Itu beda jika orang Prancis menyebutkan « le noir », karena itu dialamatkan kepada warna kulit manusia yang hitam, tetapi jika disebutkan « les gens noir » berarti manusia tahyul dan jahat.

Tanaman Melaleuca, yang mengandung cineol seperti kayu putih dan merupakan tanaman asli yang tumbuh di Pulau Buru, terdiri dari dua kata dalam bahasa Yunani : melas noir (hitam) dan leuco blanc (putih). Mengapa diberi nama demikian padahal lapisan kulit tanaman kayu putih berwarna putih. Hal ini karena ritual kayu putih di Pulau Buru harus dibakar untuk kemudian mereka bisa dapatkan tunas muda setelah dibakar tadi. Tentunya hamparan kayu putih setelah dibakar maka akan tampak berditi kokoh batang tanaman yang berwarna hitam. Mengingat kambium tanaman ini dibungkus dengan kulit pohon yang tebal maka setelah dibakar pada tahap berikutnya akan muncul tunas muda.

Hal yang sama sekali tidak boleh dikesampingkan adalah catatan sejarah dalam zaman prehistori, persebaran manusia hanya bisa diidentifikasi pada bekas perkampungan. Orang Melanesia memiliki ciri perkampungan yang khas dan para ahli antropologi menyebut sebagai “tempat-tempat perlindungan di bawah karang” (abris sous rôches). Tempat-tempat itu merupakan karang-karang atau gua-gua dengan himpunan tanah pada dasarnya dan selalu mengandung bekas-bekas peralatan. Beberapa kelompok orang Melanesia juga memilih pohon sebagai tempat perlindungan tubuh.

Sisi lain dari orang Melanesia adalah masih melakukan praktek berburu dan meramu hutan. Para etnolog menyimpulkan bahwa orang Melanesia belum mengenal sistem bercocok tanam. Hampir semua flora yang tumbuh adalah atas kehendak alam. Jadi hamparan hutan belum ada campur tangan manusia. Tanaman rempah pada umumnya tumbuh secara alami. Adanya anthropophise (campur tangan manusia) saat perdagangan rempah mulai dicari oleh para pedagang dan terjadilah pertukaran tanaman yang dibawa oleh para pedagang dan momentum ini diikuti dengan saling membagi pengetahuan bercocok tanam, baik tanaman setahun maupun tanaman tahunan.

Sistem kekerabatan orang Melanesia sangat terbuka dan ini merupakan ciri khas orang pulau yang senang menerima tamu yang tiba di pesisir pantai. Sistem yang dibangun berdasarkan konsep rumah atau tempat tinggal, abris sous rôches .

Sistem kemasyarakatan yang dibangun masih berorientasi pada nilai hubungan dengan alam. Kami tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup salah satu kelompok orang Melanesia yang mendiami Pulau Buru di Maluku dan juga merupakan bagian dalam jaringan Kesultanan Tidore. Mereka adalah orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru rata-rata memiliki minimum dua bialahin dan maksimum sembilan bialahin. Masing-masing bialahin hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu. Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

Tanaman sagu merupakan kemurahan Sang Pencipta yang diberi kesempatan hanya tumbuh sebagai tanaman asli di Maluku selanjutnya berkembang ke Papua, namun dari yang mengkonsumsinya hanyalah orang Bupolo yang mampu memaknainya dalam kesatuan hidup mereka.

Untuk jelasnya mari kita lihat Gambar 1 berikut ini :

rumpun-sagu

Gambar 1. Rumpun tanaman sagu. Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

 

Jika pohon (1) mengeluarkan sirih buah penampilan bagaikan tangan manusia yang terangkat seolah-olah mempersembahkan dirinya kepada langit terbuka dan menyerah tak berdaya. Dan mau mengatakan seperti begini : “ambillah tubuhku dan tolonglah aku karena aku sudah tak berdaya lagi dimana hidupku hanya memakan energi kalian berempat. Terima kasih saudaraku pohon (2), (3), (4) dan (5), karena kalian setia mempertahankan identitasku untuk berdiri tegak, hanya kalian yang bisa memahami aku tetapi sebenarnya langkah paling bijak jika kalian bertindak cepat untuk menebangku sebelum saudara kalian pohon (5) itu muncul, ketahuilah bahwa pohon (5) tersebut juga punya hak untuk hidup dalam rumpun ini, dan aku jujur mengatakan bahwa aku sudah menjadi parasit energi dalam rumpun ini. Aku tidak dapat terus bertahan hidup dalam kondisi ketidak-seimbangan ini. Saatnya nanti aku harus mengikuti hukum bumi dimana aku harus mati karena yang mengatur dan menguasai kehidupan ini berasal dari hukum langit. Untuk itu aku mengulurkan tanganku ini untuk menyerahkan diriku kepada hukum langit”.

Pohon (1) menyerah tak berdaya ditandai dengan munculnya sirih buah. Pandangan ini sering disalah-tafsirkan oleh orang di Kepulauan Maluku terutama orang di Pulau Ambon, Lease dan Seram bahwa mereka tetap gagah dan berani seperti pohon (1). Dengan sosok tegar, berkulit gelap, berkulit terang apabila kulit dibersihkan, dada dibelah putih bersih indikasi bahwa suci bahkan setia, tidak mudah rebah walau diterpa angin ribut sekalipun. Padahal yang sebenarnya terjadi bahwa tepung sagu dalam batang pohon (1) sudah tidak ditemukan lagi, kosong, dan tidak berarti lagi. Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

Nilai Orientasi Kekinian dan Masa Depan

Harus disadari secepat mungkin bahwa perkembangan ilmu humaniora di Indonesia khususnya antropologi budaya, etnologi, dan ilmu sosial lainnya (ilmu hukum dan sejarah) dimana ilmu tersebut disajikan untuk mempelajari dan menganalisis kehidupan suku bangsa, manusia dan masyarakat; dilakukan oleh orang Belanda dan untuk kepentingan orang Belanda. Dalam analisisnya masyarakat Indonesia diposisikan sebagai masyarakat yang primitif. Hal ini berarti bahwa ilmu itu tidak lain adalah ilmu orang penjajah untuk mengenal cirri-ciri orang yang dijajah.

Persoalan menjajah dan dijajah pada masa kini mengalami metamorphosis tetapi substansinya dan spiritnya tetap sama yaitu ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Jika orang Melanesia Indonesia merasa belum merdeka dan tetap dijajah dalam seluruh aspek dan relung kehidupannya maka seyogyanya diurai bagaikan mengurai benang kusut, dengan terlebih dahulu memeriksa simpul yang ada didalam orang Melanesia Indonesia sendiri. Kita hanya bergumul dengan dua isu besar yaitu (1) masalah ketegangan antara suku bangsa Melanesia Indonesia, dan (2) masalah minoritet.

Masalah ketegangan masyarakat sebagai akibat akulturasi atau perubahan kebudayaan itu merupakan suatu masalah yang amat kompleks. Dalam proses sosial dewasa ini sebenarnya kehidupan dari suatu kebudayaan dikacaukan oleh unsur-unsur kebudayaan baru dan asing. Proses perubahan ini menyebabkan bahwa norma dan nilai lama dalam kebudayaan Melanesia yang terbentuk sejak awal tidak lagi berguna dalam zaman modern ini. Orang-orang yang hidup berdasarkan nilai-nilai lama tersebut akan mengalami frustasi, kebingungan dan penuh keraguan akibatnya tindakan-tindakannya akan menimbulkan berbagai macam ketegangan dalam masyarakat.

Dialog hari ini seyogyanya menghasilkan sesuatu yang penting dan dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat. Untuk maksud itu kami ingin mengajukan beberapa pendapat yang pada gilirannya akan membawa orang Melanesia Indonesia menjadi orang yang mengerti dan memahami budayanya.

(a)    Dibentuk suatu forum pakar Melanesia Indonesia. Forum ini untuk menghimpun para pakar Melanesia Indonesia yang bisa mengembangkan topik riset sehingga nantinya akan bermanfaat mengembangkan masyarakat kea rah hidup yang lebih sejahtera.

(b)   Mendirikan Pusat Kebudayaan Melanesia dimana pusat tersebut berada pada koordinasi pemerintah kabupaten/kota diIndonesia dan untuk negara-negara Melanesia pusat kebudayaan berada dibawah koordinasi Kementerian Luar Negeri setempat. Dalam pusat ini akan dikembangkan pula sastra dan bahasa Melanesia.

(c)    Mendirikan Museum Melanesia Indonesia pada setiap provinsi.

(d)   Menyukseskan program Maritim Nasional, maka seyogyanya dibangun perusahaan pelayaran Melanesia yang bisa terkoneksi dengan Toll Laut.

 

Epilog

Orang Melanesia Indonesia sejak dahulu telah salah menempatkan posisi dirinya. Di satu sisi negara ini disebut Negara Kepulauan (Archipelago) tetapi di sisi lain tidak mau mengakui identitas sebagai orang pulau. Itu akibat dari kungkungan berpikir yang dengan tegas membagi Indonesia atas dua pola usaha pertanian yaitu « Inner Indonesia » dan « Outer Indonesia ». Kawasan Barat Indonesia dikelompokkan dalam Inner Indonesia cirinya pertanian menetap dengan komoditas padi sawah. Sedangkan Outer Indonesia untuk Kawasan Timur dengan pola usaha ladang berpindah dan berburu. Yang lebih parah adalah kawasan barat menyatakan diri sebagai wilayah kontinental dan dari sanalah keputusan politik semua sektor dirancangkan. Tidak heran kalau hasil keputusan akan mengabaikan ciri khas wilayah di luar kawasan barat, seperti misalnya keunikan wilayah Provinsi Maluku sebagai wilayah yang bertahtakan gugusan pulau-pulau kecil.

Dari keadaan fisik alam Melanesia Indonesia dan yang memiliki ciri kepulauan, dapat kita lihat bahwa pulau-pulau bertebaran dan laut yang menghubungkan satu pulau dengan pulau yang lain. Padahal jika kita bandingkan dengan wilayah Papua, walaupun hanya satu pulau saja tetapi yang memisahkan pola pemukiman orang Papua adalah ruang gunung, lembah dan sungai dimana keadaan ketiga ruang ini tak pernah ramah. Orang Papua melihat ketiga ruang tersebut layaknya orang Maluku memandang laut.

Jendela pandang Orang Pulau adalah laut dimana bertahtakan pulau-pulau sehingga konsep yang dikembangkan adalah konsep laut-pulau. Artinya keduanya tidak dapat dipisahkan. Ciri khas pulau yang ada di Maluku yaitu memiliki garis pantai yang panjang dengan luas dataran yang sempit.

Ciri orang pulau adalah selalu menerima orang luar dengan senang hati, karena setiap pendatang yang singgah di pantai adalah tamu yang harus disambut (welcome). Jika ada yang tidak berkenan maka biasanya orang pulau akan menyembunyikan diri di hutan. Ini adalah bentuk penolakan. Oleh sebab itu orang pulau sering dinobatkan dengan istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang dan alifuru[2]. Aktivitas orang pulau di darat selalu dilakukan mengikuti fenomena alam dan kearifan ini adalah untuk memuliakan ruang pesisir dan laut.

Berdasarkan kondisi nyata geografis wilayah Melanesia, seyogyanya menjadi pertimbangan kuat dalam menetapkan pembangunan politik pertanian di daerah ini. Ide untuk « membangun Maluku dan Indonesia dari laut » harus diikuti dengan studi monografi yang sangat mendalam menyangkut lingkungan, waktu, ruang dan masyarakatnya. Seperti misalnya studi yang kami lakukan di Pulau Buru menunjukkan bahwa orang Buru tidak 100% menggantungkan hidupnya dari laut. Mereka adalah orang gunung yang bermukim di pesisir pantai. Mereka menyandang profesi bivalen sebagai petani dan nelayan, bahkan kegiatan meramu hutan lebih banyak dikerjakan. Ini pilihan yang sangat rasional karena keadaan laut di Maluku senantiasa tidak pernah ramah pada periode tertentu. Untuk itu keberadaan ekologi daratan harus menjadi prioritas pelestarian, yang pada gilirannya bisa memberi dampak langsung yang positif terhadap ekologi laut.

Otonomi daerah harus dilihat sebagai suatu kesempatan untuk mengangkat daerah dari keterbelakangan dan ketertinggalan supaya mampu bersaing secara maksimal dan global. Dalam dunia bebas ini saingan bukan lagi « The survival of the fittest » ,tetapi « The survival of the innovater ». Karena itu sangat diperlukan « innovator » dari anak bangsa yang mampu mengangkat asset unggulan lokal baik asset komoditas maupun asset teknologi masyarakat (indegenous technology) dan pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) menjadi unggulan nasional dan global. Pembangunan ekonomi wilayah harus didasarkan atas keunggulan yang dimiliki daerah, maka ekonomi yang terbangun akan memiliki kemampuan daya bersaing dan berdaya guna bagi seluruh rakyat. Innovator itu harus bertindak sebagai burung elang mencari buruan yaitu dengan visi yang jelas dan tajam, bertindak cepat dan tepat sasaran (jelas, tajam, cepat, tepat).

 

Daftar Pustaka

1. FRIEDBERG, Claudine, 1996. Forêts tropicales et populations forestières: quelques repères. Natures – Sciences – Sociétés 4(2). Elsevier, Paris, pp.155-167.

2. PATTINAMA Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.



[1] Etnobotanist dan Guru Besar Ekologi Manusia Universitas Pattimura Ambon.

[2] Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

Resource Potential Of Snake Fruit (Salacca zalacca var Amboinensis) And Canary (Canarium Amboinense) In The Life Of Seram Island Society, Moluccas

salak-kenari

Marcus J. Pattinama1*), Aryanto Boreel1), Jane K. J. Laisina1), and Handy E.P. Leimena2)

1) Faculty of Agriculture, Pattimura University, Ambon, Indonesia

2) Faculty of Science, Pattimura University, Ambon, Indonesia

*) Corresponding author:mjpattinama@gmail.com

 

 

AbstractStrategic issues in this research are food security and poverty alleviation in the life of society in Ceram island who called themselves Alune People and Wemale People. They stated that snake plant and canary are endemic and native plants in this region. This is because both of these commodities have been around since ancient times can not be separated in their lives and  cultures. Thus the potential of the plant needs to be known for the economic development of this region, but also the tradition of community life should be studied in relation to both commodities through traced study in ethnobotany. Found in the field in addition to the ivory-colored snake fruit fruits, is also red snake fruit. The issue of food security and poverty alleviation can then be solved by strengthening the development of agribusiness basis of snake fruit and canary, where the idea is an effort to strengthen the bargaining position of the society in Ceram Island in Maluku where traditional farming systems are still being practiced. This means that this two commodities is growing through the mediation of the animals in the forest and there is no action by human cultivation. Snake fruit commodity in Ceram island has been established by the Decree of the Minister of Agriculture republic of Indonesia in 2003 as National Superior variety, but the fact is that the development of the cultivation is poor  and production  could not be relied upon as an industrial raw material. The objectives of this research was to make both commodities as superior commodities which have economic added-value that deserved by Ceram communities.

Keywords—food security, snakefruits, canary, seram island

I.     INTRODUCTION

1.1.  BACKGROUND

Society as dynamic social problems continue to be influenced by both external and internal factors . Case study in ceram island tried to present how  resistanc of indigineous people (Alune and Wemale People ) reacts to enclose  various external influences, starting with the presence of migrants from Java island in 1954 at Kairatu . On the other hand, Ceram people feel threatened because their property right to their land  had been deprived due to geopolitical issues that are not necessarily well understood by neither the migrants nor by the Ceram people. Later on, the presence of forest exploitation by logging companies and plywood mills . Are there benefits to Ceram people ? They have not been able to work in this industrial sector, and eventually  ceram people become isolated and inferior.

Understanding society and solving social problems is not a simple concept . This means that participation of universities as Unpatti is needed to give more significantly contribution through  research and community service  that is well planned and aplicable.

Ceram people who live in the mountains have abundant natural resources such as canary and snake fruit commodities.  Both of these plants grow wild in the forest. Although in 2003 the Ministry of Agriculture Republic of Indonesia has been given an official certificate to “Salak Riring” as national superior variety, however what does it mean to them? if it does not provide a significant economic impact. All Ceram people have a dream that when canary and snake fruit became famous for having a distinctive flavor with good packaging. Pillar agribusiness from upstream to downstream must be built to ensure the stock of market demand, good product quality and guarantee of an open market for their products.  The emergence of supermarkets in Ambon city and soon will be reaching Ceram island is an economic opportunity that  must be anticipated. It will be linked to the concept and model of community empowerment that should be pursued seriously.

 

1.2. OBJECTIVES AND ADVANTAGEOUS OF THE RESEARCH

                Recently multidisciplinary research is needed to solve many environmental problems which intersect with social problems. Issues that has not been completely addressed until now are the problems of poverty and food security. Both of these issues will greatly affect the pattern of environmental management in both rural and urban areas.  The objectives of this research was to find a package of technologies that able to improve the productivity and product quality, such as the appropriate technologies to unshelled canary fruit  and how to make snake fruit commodity towards snake fruit chips industry.  Then build agribusiness pillar of canary and snake fruit  that start by managing the upstream production of raw materials as well as setting up downstream  with the post-harvest technologies based on domestic industry.

This study was expected to provide benefits for building families economic and poverty alleviation. In addition it will also provide reinforcement to the concept of food security in the community so that snake fruit and canary can provide energy to the community to sustainthe level of food sufficiency.

I.     methods

This research is a review of participatory acts (participatory action research). In this case, this research used a systemic approach with focused discussion, field observation and in-depth interviews. Questionnaire instruments were used in the survey.  Focussed discussions was conducted by interviewing government officials , traditional leaders and key respondents in each  kinship group.  This was done to look for information related to customs and land tenure which generally not certified yet customarily recognized as well as  social economic  capitals which are  still subsistence. Aspects being observed this research were Ethnobotany, Culture techniques  (Land Systems , Plant Cultivation , Agroclimate ) and  Post Harvest Technology. Observations were also done on Economic and Social aspects and  data collection of  the potencial of commodities

II.     data analyses and interpretation

These five research areas (Uweth , Buria , Riring , Rumahsoal and Lohiasapalewa villages)  included in the District  Taniwel, West Seram Regency, Maluku Province. Located in the mainland and only separated by a river and mountains. The research area is  located in isolated mountainous areas.

 

 

 peta-maluku

 

Figure 1. Map of Moluccas; Field Study Seram Island

 

Accesibility of a region is  affected the region development significantly, where regions with high levels of accessibility has a faster rate of development compare to  the region with lower accessibility. Accessibility to the research site is difficult since it should be reach by walking in long distance, except for Uweth village which located on the coast within 3 ( three ) Km to the capital of the Taniwel District.

Population in the study area are mostly natives of the Alune tribe. Data of  registered population in 2011, with a population density of 18.98 people per km2.

TABLE I.

POPULATION DENSITY IN RESEARCH AREA IN 2011

Village

Household

Number of population

Total

Male

Female

Uweth

75

205

167

372

Buria

120

312

350

662

Riring

172

393

352

745

Rumahsoal

47

134

127

261

Lohiasapalewa

58

157

137

294

Based on the observed data in the field in the village monograph, the percentage of the working age population in the Buria village showed the highest number followed by Riring, Uweth , Rumahsoal and Lohiasapalewa villages . The population of productive age in the study area is very large , however it can not be denied that not all residents of this age are working or have a job . Education of the head of family in the region dominated by the primary school level . Agriculture is the main livelihood of the population in the study area , while the non-agricultural sector occupied only by a small portion of the population in the region (Pattinama, dkk, 2013).

Social relations in the society is still well established, it could be seen from the culture of helping each other, which is still maintained until now. Traditional institutions in the form of local knowledge in the study area which are still carried from generation to generation is environmental ”SASI”. In practice, the opening of SASI by farmers is marked by a splash of water fortified with prayers by religious leaders ( pastors ) with rules that have been agreed institutionaly. Thus the people in the study area generally have awareness of and benefit from the natural resources available. This does not mean that society / the locals closed to the presence of technology or changes comes from outside, but the people believe the natural environment should be maintained  for the sustainability of  biological resources for future generations (Pattinama, 2007)

                Canary is one of native commodity in Maluku province with huge potency. The problems encountered today is the unavailability of sufficient data to describe the distribution of  its potential in the Maluku . This research was conducted as  an effort to develop a  canary potential in a few villages in the mountainous region in the district of Taniwel, West Seram  Regency.

Data collection of canary potential  was done by purposive sampling based on the distribution of canary found at the reseacrh sites.  Lines of observations was made and adjusted to the local topography . In those lines of observations  a plot size of 20 meters x 20 meters was made and the dimensions of canary tree including diameter and height were measured and recorded.

Based on the results of an inventory conducted at the research site, it was found that  the most canaries tree was found in Riring village as many as 81 trees/ha, followed by 57trees/ha in  Uweth village.  Distribution of the least canary trees was found in the village of Rumahsoal as much as 23 trees / ha. Distribution of tree diameter measured on research site ranged from 11.5 cm to 134.4 cm and the height of tree without branches can reach 30 meters. The calculation of the volume of canary trees showed that volume of tree without branches ranged from 36.621 m3/ha to 298.882 m3/ha. Data inventory of potential locations of canary trees in the study area was presented in Table 2.

TABLE II.

INVENTORY OF POTENCY OF CANARY TREE IN RESEARCH AREA

No

Village

Number of Tree (N/ha)

Diameter

(cm)

Heihgt

(m)

Volume*)

(m3/ha)

1.

Uweth

57

11,5 – 122,5

10 – 30,4

79,011

2.

Buria

28

20 – 105

9 – 25

36,621

3.

Lohiasapalewa

50

21,5 – 63,5

5,5 – 12,6

44,309

4.

Rumahsoal

23

54,2 – 149,8

7,3 – 22,5

232,265

5.

Riring

81

42,5 – 134,4

10,6 – 22,7

298,882

*) Tree volume without branches.

It had been shown in table 2 that the canary trees found  in research areas  have a large  size, so that the utilization of timber and fruit will be very valuable (Djandjouma, dkk, 2006). However,  the sustainability of results and continuity of production should be maintained , through silvicultural measures in accordance with the carrying capacity of the land.

 salak-kenari

         (a)                                                        (b)

Figures 2. Canary (a) and Snake Fruit (b)

Snake fruit is one of essential commodity for mountain communities in the study areas. Data collection of snake fruit potency was collected using purposive sampling by considering the presence of plant distribution at the study site. In the areas where snake fruit tree were found Lae plots of 20 meters x 20 meters or 400 m2 was made and observations was done on the trees.

From the results of the inventory of snake fruit in research area, the highest number of trees of 293 clumps was found in Rumahsoal village , followed by  225 clumps in  Buria village. The lowest number of trees of 48 clumps was found in Lohiasapalewa village  in Uweth village snake fruit trees were not found. When viewed from the average number of clumps per hectare , Riring village had the highest number which was 3450 and 4000 clumps / ha , followed by Rumahsoal village as  many as 1465  clumps / ha . Lowest number of clumps found in the village of Lohiasapalewa  which was 415 clumps/ha . Inventory data of potency of snake fruit tree at the study site is shown in Table 3 (Pattinama, dkk. 2012)

TABLE III.

INVENTORY OF POTENCY OF SNAKE FRUIT TREE IN RESEARCH AREA

No

Village

Number of Tree

(Clumps)

Number of Clumps per Plot*)

Average Number of Clumps

(R/ha)

1.

Uweth

 

 

 

2.

Buria

225

20 – 100

1406

3.

Lohiasapalewa

48

1 – 79

415

4.

Rumahsoal

293

42 – 73

1465

5.

Riring

138**); 160***)

138**; 160***)

3450**); 4000***)

*) Size of sample plot (20 x 20) m, **) Red Snake Fruit, ***) Ivory Snake fruit

Potency of snake fruit tree in Lohiasapalewa village was low due to the distribution of plants which was very few , and only owned by a few farmers which were parents or ancestral heritage. On the other hand, most people have not been interested in planting and cultivating of  snake fruit crop (Sudaryono, 1993).

III.     Conclusion

Ceram People in inland of Ceram island is a shifting  land communities, who are forest gatherers, living isolated and completely depend on nature. Nature is a laboratory of their lives in the past ,  present and in the future .

Ceram people living in harmony with nature . Knowledge to manage environment was carried on from generation to generation by verbal description only.  Obedience to nature form point of view that the universe is something which gave inspiration to deliver the concept of holistic and concept of totality in managing resources and their interactions with other living things. That means that the whole concept of the life space that mountain , beach and the sea are inseparable . This understanding begins with their very strong views to the concept of mountain and wate , which deliver  the concept of an orderly way of life and to continue to be believed from one generation to the next.

From long fallow cultivation, it appears that they have the wisdom to manage natural resources as a source of food for life.  The diet of Ceram people describe that they are relatively not lack of food . Even the type of food consumed  have  high carbohydrate (sago) , protein ( pork , Kusu , deer , shrimp and fish ) as well as other vitamins ( vegetables) .

If the measure of poverty used is based on the ability to fulfill family food consumption , then the ceram people is not included in the category of the poor. Poverty of Ceram people  as a autcton resident and so did other alokton population residing on the island of Seram, is a  feeling of isolated due to  mechanisms , systems , and regional and national government policies which in turn makes them shackled in that isolation . Yet the reality on the field proves both autocton and alocton  residents are people who are not isolated , because they are always in touch with the outsider because of the trade . For example, they can communicate regularly with inter-island traders and other migrants who came freely use sea transportation.

So the traditional economic pillars of Ceram people is relatively strong and indigenous kinship system is still maintained because of their orientation to the cosmology world. Ceram island in the shape of a woman body and all of her organs is representatived by territory which is clearly divided and controlled by each kinship . That way it will ensure the orderly of their lives for the sake of exhausting work to the life of  the island called Ceram . Obedience to the tradition because there is a strong accord that is the orientation of the whole universe and not partial so all must be protected simultaneously and at the same time also constructed system of norms to regulate the whole order of life . Therefore, the traditional economic pillars of Ceram people  increasingly strengthened so that they become obedient to the their customs.

References

[1]     A.K.A. Dandjouma, C. Tchiegang, J. Fanni and M. Parmentier, Changes in Canarium schweinfurthii Engl. oil quality during microwave heating . Resecrah Paper.  European Journal of Lipid Science and Technology.  108 (5): 429-433, 2006.

[2]     E. Kriswiyanti, I. K. Muksin, L. Watiniasih Dan M. Suartini, Pola Reproduksi Pada Salak Bali (Salacca zalacca Var. Amboinensis (Becc.) Mogea). Jurnal Biologi XI (2): 78-82. 2008

[3]     M.J. Pattinama, dkk, Studi Bina Mulia ke Lautan di Pulau Seram, Provinsi Maluku : Mempelajari Kearifan Lokal Orang Seram Mengelola Lingkungan Darat dan Laut, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Unpatti-Dikti. 2007.

[4]     T. Sudaryono, S. Purnomo, M,. Cultivar distribution and estimation of area development of Salacca (in Indonesian). Penel. Hort., 5, 1-4. 1993

[5]     M.J. Pattinama, H.E.P. Leimena, A. Boreel and J.K.J. Laisina, Pengembangan Agribisnis Komoditas Kenari (Canarium amboinense) dan Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Sebagai Upaya Memantapkan Posisi Tawar Ekonomi Serta Memperkuat Ketahanan Pangan Bagi Masyarakat Wilayah Pegunungan di Maluku. Laporan Penelitian Penprinas MP3EI. 2012

[6]     M.J. Pattinama, A. Boreel, H.E.P. Leimena, and J.K.J. Laisina, Pengembangan Agribisnis Komoditas Kenari (Canarium amboinense) dan Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Sebagai Upaya Memantapkan Posisi Tawar Ekonomi Serta Memperkuat Ketahanan Pangan Bagi Masyarakat Wilayah Pegunungan di Maluku. Laporan Penelitian Penprinas MP3EI. 2013.


 

The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities

SALAK

The Ethnobotany of Kenari (Canarium indicum L) and Salak (Salacca zalacca var Amboinensis) Commodities to Strengthen the Bargaining Position of the Economy as well as Efforts to Enhance the Food Security Program for Alune Society in Seram Island

Marcus J. Pattinama, Aryanto Boreel, Jane K.J. Laisina, Handy E.P. Leimena

 Laboratorium Etnobiogeografi, Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon

 Email: mjpattinama@voila.fr

 

 Abstract

The concept of management and conservation of natural resources, developed by researchers, academics and intellectuals often produce a complex definition. The concept is increasingly biased if there are particular interests and often manipulated by politicians and capitalists. The fact that the concept of a traditional society in the utilization and preservation of the environment is a very simple concept to understand. The concept was developed from generation to generation and we call local wisdom. Academically should be recognized that local knowledge can not be kept in a museum but it should be more social capital for improving society. The combination of local wisdom or traditional knowledge will have an impact on social engineering without leaving sovereign rights to the resources. Advances in technology and concepts of modern economics in agribusiness aimed at the competitive and negotiated with the external world. This is to reduce poverty and isolation. If this is realized, they will have the economic bargaining power, as a result of an increase in human resources through education.

 

Introduction

Memahami masyarakat dan memecahkan permasalahan sosial bukanlah suatu konsep yang sederhana. Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh orang Alune sejak dahulu hingga saat ini yaitu masalah tanah yang diperuntukkan untuk program nasional transmigrasi guna memindahkan penduduk dari pulau Jawa ke dataran Kairatu sejak tahun 1954. Program pembangunan ini telah memberi dampak ekologi yakni berkurangnya areal tanaman sagu karena telah berubah fungsi lahan menjadi sawah. Kemudian persoalan berikutnya adalah hadirnya perusahaan eksploitasi hutan untuk mengambil kayu. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya rehabilitasi hutan yang gagal dilakukan sehingga yang terjadi adalah makin menurunnya vegetasi pohon di hutan. Persoalan terkini yang terjadi adalah aktivitas eksploitasi tambang untuk mengambil nikel dan emas. Dampak yang akan terjadi adalah dimulai dari pencemaran air, baik di sungai maupun air dalam tanah, oleh aktivitas tambang rakyat yang menggunakan bahan kimia secara tidak terkontrol. Bersamaan dengan aktivitas pertambangan,maka terjadi pula penggalian tanah secara besar-besaran sehingga mengurangi lahan produktif untuk aktivitas pertanian.

Harus jujur dikatakan bahwa aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini belum melibatkan orang Alune yang tinggal di wilayah pegunungan pulau Seram. Fasilitas transportasi darat belum maksimal, akibatnya habitat tempat tinggal mereka menjadi wilayah yang terisolir. Orang Alune melakukan aktivitas pertanian skala subsisten dan aktif meramu hutan untuk mencari damar (Agathis dammara), rotan (Daemonorops spp) dan kemiri (Aleurites moluccana).

Orang Alune juga memiliki sumberdaya alam yang lain seperti komoditas kenari dan salak. Umumnya kenari tumbuh secara liar di hutan tanpa campur tangan manusia. Hewan yang hidup secara bebas di hutan misalnya babi hutan, burung dan kelelawar yang menjadi perantara untuk penyebaran bibit kenari. Sedangkan komoditas salak dibudidayakan oleh orang Alune dan formasi tanaman ini selalu dibawah naungan pohon kenari. Secara alamiah orang Alune paham bahwa tanaman salak akan tumbuh dengan baik diantara tanaman–tanaman lain yang mempunyai strata tajuk lebih tinggi. Salak juga tumbuh dan menyebar pada daerah – daerah aliran sungai. Jadi di lokasi pengamatan ditemui bahwa salak lebih banyak ditanam di bawah pohon kenari, durian (Durio zibethinus) dan salawaku (Paraserianthes falcataria, L).

Tahun 2007 tim riset dari Fakultas Pertanian Unpatti Ambon mengamati perkembangan tanaman salak pada empat desa (Riring, Rumahsoal, Lohiasapalewa dan Manusa) yang berlokasi di wilayah pegunungan pada kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat. Luas tanaman salak di desa Riring adalah 301 hektar. Luas areal yang hampir sama dengan Riring adalah Manusa. Dua desa lain miliki luas lahan salak di bawah 100 hektar.

Salak dibudidayakan di beberapa daerah di Maluku seperti di pulau Ambon (Soya, Hatalai, Wakal, Amahusus dan Hative Besar) dan pulau Seram. Salak Riring (Salacca zalacca var Amboinensis) merupakan salah satu kultivar salak yang diduga merupakan tanaman asli di Maluku. Salak ini masih satu varietas dengan salak Soya dan salak Bali (Leatemia, dkk. 2007). Varietas ini dibedakan dari salak Jawa (Salacca zalacca var. Salacca) berdasarkan ukuran buah, bentuk buah, pola sisik pada kulit buah, ketebalan daging buah, tekstur buah, rasa buah, bentuk vegetatif tanaman (khususnya daun). Dinamakan salak Riring karena kultivar ini banyak tumbuh di desa Riring.

Tahun 2003 Menteri Pertanian RI memberikan penghargaan berupa surat akte atau sertifikat kepada Salak Riring sebagai varitas unggul nasional. Penghargaan ini diberikan untuk menyatakan bahwa salak ini memiliki sifat khas secara botanis dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di Maluku penghargaan yang sama tahun 1989 juga diberikan kepada tanaman durian Soya (Durio zibethinus) dan jeruk Kisar (Citrus nobilis).

Bagi masyarakat tradisional yang mendiami wilayah kepulauan Maluku, termasuk didalamnya orang Alune, dalam kehidupannya sehari-hari memiliki hubungan yang erat dengan alam di sekitarnya. Hubungan tersebut tercermin dalam pola hidup adaptasi dengan kondisi lingkungannya, misalnya cara berburu, memancing dan bertani. Teknik adaptasi tersebut tentu saja coraknya akan berbeda dari satu habitat ke habitat lain, dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Semua perbedaan tersebut disebabkan oleh kondisi lingkungan alam dan aspek sosial budaya yang berbeda.

Penelitian orang Alune dimulai dengan memahami konsep pertanian yang mereka praktekkan yaitu sistem pertanian campuran antara tanaman hutan (buahan – non buah) dan tanaman pertanian lain (pangan dan hortikultura). Model ini yang kita sebut sebagai agroforestry tradisional. Nama lokal dari system ini di pulau Seram disebut lusun, sedangkan di wilayah lain mengatakan dusung (Pulau Ambon dan Lease), wasilalen (Pulau Buru) dan etuvun (Pulau Kei). Model agroforestri (wanatani) tradisional yaitu merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika dibayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani campuran ke pola usahatani monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai, rusaknya tanaman daerah pantai (=mangrove) dan rusaknya daerah terumbu karang.

Kita harus akui bahwa apa yang telah dipraktekan masyarakat dalam berusahatani adalah pilihan yang sangat rasional, maka untuk memberdayakan ekonomi masyarakat seyogyanya dimulai dari konsep yang telah mereka kerjakan dan telah teruji dalam praktek mereka sehari-hari. Hal penting yang harus dilakukan oleh para peneliti adalah membantu petani untuk mengidentifikasi potensi yang mereka miliki. Potensi dimaksud adalah berapa banyak varitas pohon kenari, jumlah tegakan pohon kenari dalam hutan dan bagaimana interaksi antara kenari dan salak. Menurut Leatemia cs, 2007 bahwa tanaman salak di Pulau Seram adalah varitas yang berumah satu. Ini berarti hermaphrodit dimana bunga jantan dan betina berada pada satu rumpun. Jadi tidak perlu dilakukan perkawinan pembungaan dengan bantuan manusia. Secara alami salak Riring akan berbunga dan berbuah.

Jika kedua komoditas ini memiliki keunggulan yang luar biasa maka hal penting berikutnya adalah harus memahami dengan benar status pemilikan tanah yang berlaku di masyarakat. Tanah adalah bukan milik perorangan, tetapi dikuasai secara komunal dalam sistem kelompok kekerabatan (clan). Data ini harus akurat di lapangan karena ada kaitannya dengan perluasan pertanaman jika ingin membenahi bagian hulu dari sistem agribisnis.

Permasalahan pada bagian hilir agribisnis dari kenari dan salak adalah kurangnya aspek introduksi teknologi dan aspek pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan komoditas spesifik. Hal itu berarti bahwa kenari dan salak adalah komoditas andalan bagi suatu daerah. Komoditas andalan bermakna hanya tumbuh dan berkembang dengan baik karena dukungan kondisi tanah dan iklim lokal di daerah tersebut. Produktivitas dan mutu hasil sangat spesifik lokal yang tidak dijumpai di daerah lain.

Masyarakat pegunungan di Pulau Seram harus memiliki kedaulatan pangan pada komoditas kenari dan salak. Kedaulatan pangan dimaksud akan mengangkat tingkat kehidupan mereka dan itu hanya dapat dicapai apabila ada nilai tambah dari komoditas tersebut dalam hidup mereka. Kedaulatan pangan sebenarnya ada kaitannya dengan hak asasi manusia. Jadi pengembangan komoditas pertanian tidak dapat dipisahkan dari pengembangan peradaban manusia. Jika ini semua tercapai maka kita telah menciptakan program kecukupan pangan bagi masyarakat yang hidup disekeliling sumbaerdaya alam yang melimpah dimana selama ini belum dioptimalkan untuk diberdayakan. Apa artinya memperoleh piagam penghargaan sertifikat nasional untuk mengkategorikan salak sebagai komoditas nasional ? Begitupun kenari adalah tanaman asli dari Maluku ? Untuk itu pendekatan yang konvensional tidak bisa diandalkan dalam memberdayakan orang Alune. Dibutuhkan pendekatan etnobotani untuk bisa memahami rasionalitas tersembunyi dari orang Alune, sehingga suatu saat nanti komoditas kenari dan salak akan memberikan kontribusi bagi pendidikan generasi muda orang Alune. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat orang Alune tidak merasa inferior dalam perkembangan teknologi saat ini.

 

Informasi Lokasi Riset dan Demografi

Riset ini dilaksanakan di desa Uweth, Buria, Riring, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Secara administratif termasuk dalam kecamatan Taniwel, kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku (Map 1). Kelima desa ini berada dalam satu daratan dan hanya dipisahkan oleh sungai dan gunung. Akses transportasi ke lokasi studi masih sulit, karena harus ditempuh dengan berjalaan kaki dalam jarak yang cukup jauh, kecuali Desa Uweth yang letaknya di pesisir pantai yang berjarak 3 (tiga) Km ke ibukota Kecamatan Taniwel.

Wilayah studi memiliki fisiografi bergunung dengan ketinggian rata-rata 400 – 725 m dpl dengan kemiringan lereng dominan > 45 %. Namun terdapat areal yang memiliki kemiringan lereng < 30 % dengan luasan yang sempit dan tersebar secara sporadis terutama pada punggung atau puncak gunung serta pada dataran sepanjang dekat aliran sungai.

Pulau Seram mempunyai pola iklim  dengan karakteristik yang berbeda–beda menurut ruang dan waktu, terutama sebaran dan jumlah curah hujan. Curah hujan pada musim basah tercatat > 200 mm dan bulan kering < 100 mm.

Penduduk di wilayah studi sebagian besar adalah penduduk asli dari suku Alune. Data registrasi penduduk tahun 2011 pada wilayah riset disajikan pada tabel 1, dengan tingkat kepadatan penduduk 18.98 jiwa per km2.

 

Tabel 1.  Keadaan Penduduk di Wilayah Studi Tahun 2011

Desa

KK

Jumlah Penduduk

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

Uweth

75

205

167

372

Buria

120

312

350

662

Riring

172

393

352

745

Rumahsoal

47

134

127

261

Lohiasapalewa

58

157

137

294

 

            Berdasarkan data yang diobservasi di lapangan pada data monografi desa, maka persentase jumlah penduduk usia kerja di desa Buria menunjukkan jumlah terbanyak disusul desa Riring, Uweth, Rumahsoal dan Lohiasapalewa. Jumlah penduduk usia produktif di wilayah studi sangat besar, namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa tidaklah semuanya penduduk usia ini sudah bekerja atau memiliki pekerjaan. Pendidikan terakhir kepala keluarga pada wilayah didominasi oleh tingkat sekolah dasar. Sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama penduduk di wilayah studi, sedangkan sektor non pertanian hanya ditekuni oleh sebagian kecil dari jumlah penduduk pada wilayah tersebut.

 

Pulau Seram

 

Map 1 . Pulau Seram dan Teritorial Alune di Kecamatan Taniwel

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Seram, dapat dibedakan antara penduduk asli (Alifuru Seram) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang yang sebagian besar di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah penduduk pendatang dilaporkan relatif lebih banyak dari Alifuru Seram. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Seram (Gambar 1). Kesatuan hidup dari orang Seram adalah soa (clan). Masing-masing soa mempunyai nama yang diwariskan secara patrilineal.

Gambar 1, menyajikan bagan tentang bagaimana Alifuru Seram membagi penduduk dari sisi pandang mereka. Alifuru Seram adalah mereka yang mengaku penduduk asli dan pemilik Pulau Seram. Sebagian besar dari mereka mendiami daerah pegunungan. Kelompok autokton ini terbagi atas dua kelompok yaitu Alifuru Gunung dan Seram Pantai. Penyebutan gunung dan pantai adalah wilayah tempat tinggal mereka. Ada ciri pembeda dari kelompok ini yaitu yang tetap mempertahankan garis perkawinan dalam internal Alifuru Seram menyandang gelar Alifuru Gunung yang terbagi dalam Orang Alune dan Orang Wemale. Sedangkan memilih kawin di luar kelompok mereka disebut Seram Pantai.

Penduduk alokton (Pendatang) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Seram beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Seram karena perdagangan rempah dan damar. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh pedagang Cina. Suku Buton tinggal di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Suku Jawa dan Bali bermukim karena adanya program nasional transmigrasi.

 

orang-seram

 

Figure 1. Penggolongan Penduduk Pulau Seram menurut Orang Alifuru Seram

 

Pendekatan Etnobotani dan Koleksi Data

Penelitian etnobotani yang dikembangkan oleh penulis merupakan suatu konsep pendekatan permasalahan dari segi etnologi dan botani dimana pendekatan ini sudah banyak dilakukan di Indonesia terutama oleh pakar etnologi-antropologi dan botani. (lihat penelitian dari Roy Ellen untuk masyarakat Nuaulu dan Dyah Maria Suharno untuk masyarakat Alune di Lumoli).

Yang banyak terjadi saat ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing pakar tersebut dan lebih cenderung terpisah-pisah sesuai domain ilmunya. Padahal kalau dilakukan secara interdisipliner tentu akan sangat menarik dimana segi etnologi akan menjelaskan bagaimana hubungan yang erat antara kehidupan suatu kelompok masyarakat dengan sumberdaya alam tumbuhan yang ada di lingkungannya, termasuk didalamnya menjelaskan tentang persepsi dan konsepsi masyarakat itu terhadap dunia tumbuhan yang dikenalnya, cara pengelolaan dan sejarah pemanfaatan. Sedangkan dari segi botani akan menjelaskan penyebaran jenis-jenis tanaman, taksonomi dan klasifikasi tanaman. serta sistem pengetahuan suatu kelompok masyarakat terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan, dan yang utama adalah mengungkapkan perannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya analisis yang digunakan dalam studi etnobotani adalah menggunakan « analisis dalam » dan « analisis luar ». Artinya bahwa analisis dalam akan lebih difokuskan untuk menjelaskan karakteristik dengan mengembangkan konsep yang sudah ada dalam suatu masyarakat sedangkan analisis luar akan menganalisis hubungan antara aspek sosial dan aspek teknik secara interdisipliner.

Penelitian interdisipliner dimulai dengan mewawancarai petani dan melakukan diskusi focus dan pengamatan lapangan dan menggunakan kuesioner. Diskusi fokus dilakukan dengan aparat pemerintah, tokoh adat dan responden kunci pada setiap kelompok kekerabatan. Hal ini untuk mencari informasi terkait dengan adat istiadat dan penguasaan tanah. Data yang dikoleksi terdiri atas :

  1. a.      Aspek Etnologi Botani (Pilar Etnobotani dalam Agribisnis) : Data tema ini dimulai dengan melakukan pendekatan etnobotani yang menjelaskan bagaimana hubungan erat antara adat dan budaya masyarakat dengan sumberdaya alam flora-fauna serta cara memperoleh dan memanfaatkannya, khususnya yang terkait dengan tanaman kenari dan salak.
  1. Aspek Kultur Teknis (Pilar Agronomi dalam Agribisnis)

b.1. Sistem Lahan : data tentang penggunaan lahan untuk kenari dan salak.

b.2. Usahatani, Budidaya Tanaman dan Agroklimat : Data dari aspek ini adalah pola usahatani, sistem budidaya dan potensi tanaman kenari dan salak). Data tentang jumlah tanaman kenari yang dimiliki oleh tiap responden petani. Untuk tanaman salak akan dilakukan sensus untuk mendapatkan data jumlah rumpun salak. Data agroklimat menggunakan data sekunder meliputi data iklim: curah hujan, suhu, lama penyinaran, dan kelembaban udara.

  1. c.       Aspek Teknologi Pasca Panen (Pilar Agroteknologi dalam Agribisnis) : Teknologi mesin pemecah kulit buah kenari. Untuk salak telah ditemui mesin untuk membuat keripik salak.
  2. d.      Aspek Sosial Ekonomi (Pilar Agroniaga dalam Agribisnis) :Dalam analisis aspek pasar data yang diperlukan antara lain : kecenderungan konsumsi atau permintaan masa lalu dan sekarang, dan variabel-variabel yang berpengaruh yang dapat dijadikan dasar perumusan model peramalan pasar potensial di masa yang akan datang. Selain itu pula tingkah laku, motivasi, kebiasaan, dan prevalensi konsumen; serta pemilihan “marketing efforts” yang akan dilakukan dan pemilihan skala prioritas dari marketing mix yang tersedia.
    1. e.       Teknik Pengumpulan Data Potensi Komoditas

Dalam tahap pengambilan data potensi kenari dan salak di lapangan dilakukan secara purposive sampling  dengan mempertimbangkan kondisi topografi dan penyebaran tanaman kenari dan salak. Untuk pengambilan data potensi kenari dibuat jalur-jalur pengamatan dimana pada setiap jalur pengamatan dibuat petak contoh untuk pengamatan tingkat pohon. Sedangkan untuk pengamatan tanaman salak dilakukan dengan rumpun tanaman salak.

 

Urgensi Riset

Penelitian multidisiplin saat ini sangat diperlukan untuk memecahkan permasalahan lingkungan yang banyak bersinggungan dengan persoalan manusia. Salah satu persoalan yang belum tuntas ditangani hingga saat ini adalah masalah kemiskinan dan masalah ketahanan pangan. Kedua masalah ini akan sangat mempengaruhi pola pengelolaan lingkungan. Langkah strategis yang ditempuh adalah :

  • Menemukan komponen teknologi maupun paket teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan mutu hasil seperti misalnya teknologi tepat guna untuk memecahkan buah kenari serta bagaimana menjadikan komoditi salak menuju industri ?.
  • Membangun pilar agribisnis kenari dan salak yang dimulai dengan menata bagian hulu produksi bahan baku yakni memecahkan masalah budidaya kenari dan salak dimana saat ini masyarakat masih mempraktekkan budidaya tradisional dan tanpa perawatan. Bibit atau benih yang tumbuh lebih dominan tanpa campur tangan manusia. Selain itu riset ini juga menyiapkan bagian hilir dengan teknologi pasca panen yang berbasis pada industri rumah tangga.
  • Mengidentifikasi aspek jejaring usaha dalam hal ini pasar, selanjutnya membuka kerjasama kemitraan dengan Pemerintah sebagai penjamin regulasi, pengusaha untuk informasi agribisnis dan sekaligus penataan rantai distribusi (Supply Chain Management / SCM) serta mitra akademisi yang selalu mencari terobosan rekayasa teknologi.

 

Penelitian yang dilaksanakan untuk memahami masyarakat dengan lingkungannya akan memberikan kontribusi sebagai berikut :

  • Menjadi pedoman dalam dokumen perencanaan dan pengelolaan pengembangan wilayah Kecamatan Taniwel di Kabupaten Seram Bagian Barat. Pada hakekatnya dokumen ini akan bermanfaat saat masyarakat merancang pembangunan desa dalam forum perencanaan level desa hingga ke forum yang sama pada level kabupaten. Dokumen dimaksud akan berisi data dan peta potensi komoditas unggulan kenari dan salak serta introduksi teknologi tepat guna berbasis industri rumah tangga.
  • Membangun pilar agribisnis pada bagian hulu dan hilir dengan terlebih dahulu menyajikan secara detail informasi sosial dan ekonomi masyarakat, karena informasi ini sangat penting bagi investor yang ingin menanamkan modalnya.
  • Perkembangan ekonomi keluarga yang cenderung meningkat akan memberikan dampak bagi perspektif masyarakat untuk lebih serius menangani pendidikan dan kesehatan. Jika ini berhasil maka persoalan pengentasan kemiskinan akan sukses dilaksanakan.
  • Memberikan penguatan kepada konsep ketahanan pangan dalam masyarakat sehingga kedua komoditas ini memberikan energi kepada masyarakat untuk tetap pada level kecukupan pangan.

 

Hasil Riset

1.Potensi Salak dan Kenari

Salak Riring memiliki keragaman jenis yang cukup besar. Tanaman salak yang dibudidaya di wilayah studi  diduga ada empat jenis yang dapat dibedakan berdasarkan karakter morfologi, karakter  agronomi, warna daging buah dan cita rasa. Tiga jenis telah diidentifikasi yaitu salak merah atau lebih dikenal dalam bahasa Alune : salaka lalakwe. Daging buah  salak ini berwarna merah dan cita rasanya manis, berair serta tekstur dagingnya renyah. Jenis ini mulai dibudidayakan pada tahun 1960 dan mulai berproduksi tahun 1966. Perkembangan budidaya jenis salak ini terlambat, karena masyarakat takut mengkonsumsinya,  dengan alasan warna buahnya tidak lazim bagi mereka. Salak putih bahasa Alune : salaka putile dan salak berwarna gading bahasa Alune : salaka porole. Jenis yang lain adalah salak coklat bahasa Alune : salaka cokale. Jenis ini warna daging buah adalah kecoklatan. Salak ini masih dalam observasi, sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Berdasarkan karakter morfologi, warna daging buah dan selaput daging buah serta cita rasa hampir tidak jauh berbeda dengan salaka lalakwe (Leatemia et al, 2007, Pattinama et al, 2012).

SALAK

Figure 2. Kondisi areal tanaman salak dan produksi buah salak merah

 

Dari hasil identifikasi maka taksonomi salak Riring sebagai berikut :

Kingdom         :           Plantae

Divisi               :           Spermatophyta

Sub Divisi       :           Angiospermae

Kelas               :           Monocotyledon

Ordo                :           Arecales/Spadiciflorae

Family             :           Arecaceae/Palmae

Genus              :           Salacca

Spesies            :           Salacca zalacca var. amboinensis

 

Inventarisasi terhadap tanaman salak di lokasi penelitian ditemukan jumlah individu tertinggi terdapat di desa Rumahsoal adalah 293 rumpun, diikuti dengan desa Buria sebanyak 225 rumpun. Jumlah individu yang terendah ditemukan pada desa Lohiasapalewa sebanyak 48 rumpun sedangkan pada desa Uweth tidak dijumpai adanya tanaman salak. Jika dilihat dari rata-rata jumlah rumpun tiap hektar, maka desa Riring memiliki rata-rata jumlah rumpun tiap hektar yang tertinggi yaitu 3450 dan 4000 rumpun/ha, diikuti oleh desa Rumahsoal sebanyak 1465 rumpun/ha. Jumlah rumpun terendah terdapat pada desa Lohiasapalewa sebanyak 415 rumpun/ha.

Data hasil inventarisasi potensi salak di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 2 .

 

Tabel 2. Hasil inventarisasi potensi tanaman salak di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Individu (Rumpun)

Sebaran Jumlah Rumpun Per Plot *)

Rata-rata Jumlah Rumpun (R/ha)

1.

Uweth

2.

Buria

225

20 – 100

1406

3.

Lohiasapalewa

48

1 – 79

415

4.

Rumahsoal

293

42 – 73

1465

5.

Riring

138**); 160***)

138**; 160***)

3450**); 4000***)

Keterangan : *) ukuran plot contoh (20 x 20) m, **) Salak Merah, ***) salak putih

 

Komoditas kenari dari famili Burseraceae diindikasikan merupakan plasma nutfah yang tumbuh dan berkembang dengan sangat baik di Kepulauan Maluku yang terbentang dari utara (Maluku Utara) hingga ke daerah sebelah selatan (Maluku). Hingga saat ini belum ada suatu riset yang mendalam tentang tanaman ini. Tanaman ini sering dibawa oleh kolonial Belanda untuk menjadi tanamn pelindung pada sejumlah daerah di Indonesia. Yang dimakan dari buah ini adalah dagingnya yang dibungkus oleh kulit buah yang sangat keras dan kokoh. Untuk mendapatkan daging buah secara konvensional masyarakat di Pulau Seram memecahkannya dengan menggunakan parang dan sebagian lagi menggunakan batu atau palu.

Proses pemecahan secara konvensional ini mempunyai kelemahan yaitu laju produksi rendah dan kualitas daging buah kenari yang dihasilkan tidak seragam. Berdasarkan pengalaman di industri rumahan 1 (satu) orang dalam sehari (= 8 jam) hanya mampu memisahkan daging buah kenari dari cangkangnya sebanyak 1(satu) kg. Padahal di hutan Pulau Seram tersedia buah kenari dalam jumlah yang banyak dan itu semua terbuang sebagai limbah di hutan. Babi hutan akan makan buah kenari yang masih utuh. Yang dimakan adalah lapisan kulit yang membungkus cangkang dan seterusnya akan dikeluarkan sebagai kotoran dan ini adalah penyebaran bibit kenari secara alami di hutan. Selain itu jenis burung tertentu juga mempunyai andil menyebar buah kenari dan kemudian tumbuh sebagai bibit.

POHON-KENARI

Figure 3. Pohon kenari yang ditemukan di lokasi penelitian

 

Hasil identifikasi menyatakan bahwa semua kenari yang berada di 5 desa di Kecamatan Taniwel adalah Canarium indicum L. Dari hasil identifikasi tersebut maka taksonomi kenari adalah sebagai berikut :

Kingdom                     : Plantae

Divisi                           : Magnoliophyta

Kelas                           : Dicotyledon

Ordo                            : Sapindales

Famili                          : Burseraceae

Genus                          : Canarium

Spesies                        : Canarium indicum L

 

Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan di lokasi penelitian, ditemukan bahwa potensi kenari banyak ditemukan pada desa Riring sebanyak   81 pohon/ha, diikuti oleh desa Uweth sebanyak 57 pohon/ha seperti disajikan dalam Tabel 3. Selanjutnya, Sebaran potensi kenari yang paling sedikit dijumpai pada desa Rumahsoal sebanyak 23 pohon/ha. Sebaran diameter pohon kenari yang diukur di lokasi penelitian berkisar antara 11,5 cm sampai 149,8 cm  dan tinggi bebas cabang dapat mencapai sekitar 30 meter. Hasil perhitungan volume pohon kenari di dapatkan volume pohon bebas cabangnya berkisar antara 36,621 m3/ha sampai 298,882 m3/ha.

 

Tabel 3. Hasil inventarisasi potensi pohon kenari di lokasi penelitian

No

Desa

Jumlah Pohon (n/ha)

Sebaran Diameter (cm)

Tinggi

(m)

Volume*)

(m3/ha)

1.

Uweth

57

11,5 – 122,5

10 – 30,4

79,011

2.

Buria

28

20 – 105

9 – 25

36,621

3.

Lohiasapalewa

50

21,5 – 63,5

5,5 – 12,6

44,309

4.

Rumahsoal

23

54,2 – 149,8

7,3 – 22,5

232,265

5.

Riring

81

42,5 – 134,4

10,6 – 22,7

298,882

Keterangan *) Volume pohon bebas cabang

 

2.Dunia Kosmologi Orang Alune

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa pemukiman Orang Seram umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar ? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar ? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Alifuru Seram.

Pemikiran yang kuat dari Orang Alifuru Seram dalam memandang pulaunya adalah Nusa Ina (Pulau Ibu) yakni pulau yang melahirkan semua suku bangsa Maluku. Seram adalah tanah yang luas dan subur laksana suburnya seorang perempuan yang melahirkan generasi baru.

Kehidupan awal manusia bermula di Nunusaku. Kata ini mengandung dua kata yakni nunue artinya beringin dan saku artinya air. Jadi Nunusaku adalah beringin yang mengluarkan air. Dari pohon itu keluarlah tiga dahan pohon dimana setiap dahan mengeluarkan air hingga membentuk sungai yang sakral di Pulau Seram yaitu Tala, Eti dan Sapalewa.

 

3.Pola Makan

Orang Seram akan mengorganiser makanan sesuai dengan aktivitas mereka yang berbeda yakni pada saat di dalam rumah dan di luar rumah. Orang Seram mengusahakan tanaman sagu (Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsi-nya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, orang Seram secara rasional memilih singkong (=kasbi, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan pati singkong, kemudian diolah untuk menjadi papeda. Mereka juga mengkonsumsi selain protein hewani seperti daging babi, rusa dan kusu (Phalanger dendrolagus) juga ikan air tawar (mujair) dan udang pada habitat sungai atau kali. Masyarakat alokton (Pendatang) yang sebagian besar tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan juga singkong. Mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

sagu

Figure 4. Proses Pengolahan Sagu,Pati sagu dalam Tumang dan Makanan Papeda (Foto:Pattinama, 2012).

 

Conclusion

Orang Seram di pedalaman Pulau Seram merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Seram hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Pemahaman ini tentu bermula dari pandangan mereka yang sangat kuat terhadap konsep gunung dan air, dimana konsep itu melahirkan suatu pandangan hidup yang teratur dan terus dipegang dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan. Pola makan orang Seram menggambarkan bahwa mereka relatif tidak kekurangan bahan makanan. Bahkan jenis makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat yang tinggi (sagu), protein (babi, kusu, rusa, udang dan ikan) serta vitamin lain (sayuran).

Jika ukuran kemiskinan dipakai berdasarkan kemampuan memenuhi konsumsi makanan keluarga, maka orang Seram bukanlah termasuk dalam kategori orang miskin. Kemiskinan orang Seram sebagai penduduk autokton dan begitu pula penduduk alokton lainnya yang berdiam di Pulau Seram, seolah-olah merasa terisolir sendiri karena mekanisme, sistem, dan kebijakan pemerintah regional dan nasional yang pada gilirannya membuat mereka terbelenggu dalam keterisolasiannya. Padahal kenyataan di lapangan membuktikan baik penduduk autokton maupun alokton adalah masyarakat yang tidak terisolir, karena mereka selalu berhubungan dengan orang luar karena perdagangan. Misalnya secara rutin mereka bisa berkomunikasi dengan pedagang antar pulau dan para pendatang lainnya yang secara bebas datang menggunakan transportasi laut.

Jadi pilar ekonomi tradisional Orang Seram relatif kuat dan sistem kekerabatan adat masih dipertahankan karena orientasi mereka yang mengerucut pada dunia kosmologi yang mereka bangun. Pulau Seram yang berbentuk seorang perempuan dan seluruh organ badan direpresentasekan pada teritorial yang sudah jelas dibagi untuk dikuasai oleh setiap kelompok kekerabatan. Dengan begitu maka keteraturan hidup akan menjamin mereka untuk bekerja dan menguras tenaga demi kehidupan kepada pulau yang bernama Seram. Ketaatan pada adat karena ada perekat yang kuat yakni orientasi pada alam semesta yang utuh dan tidak parsial sehingga secara serentak semua harus dilindungi dan bersamaan dengan itu pula dibangun sistem norma untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan. Oleh sebab itu pilar ekonomi tradisional orang Seram makin dikuatkan sehingga mereka menjadi taat pada adat istiadat.

Misi pemerintah harus tetap dijalankan untuk membuka keterisolasian orang Seram sehingga akses mereka untuk memperoleh pelayanan publik dapat dijangkau dengan mudah saat dibutuhkan, seperti misalnya memperoleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemasaran hasil pertanian.

MAPSARA TU KOINLALEN OTO FADAE RANALALEN, BUPOLO, MALUKU

Orang Buru

fili kamipa na

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Geba Keda Etnoekologi oto Faperta Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

Roger Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

 

Lien na Leu

Neten na dapsara tu na lien humalolin geba Bupolo oto neten mua lalen tu geba lalen. Kapsara lien hangina ni sapan geba, gamdo tu neten ni oto leu ?. Gamdo katine geba Bupolo oto neten hangina na ? Gamdo tu neten geba Bupolo da suba hai fili Ranalalen seponi dafango neten fehut oto na elet dikat ? Kapsara lien na gosa tirin gamdo geba na da defo oto na elet fehut sepuna da suba oto ranalalen ? Lien ranalalen mapsara neten fadae rana Waekolo tu kaku Date neten oto nelat Bupolo.

Gamdo kami huke lienkasen na oto ni kitahalu mapsara lienkasen akilalen geba Bupolo oto neten fenalalen tu humalolin.

 

Humalolin Geba Bupolo

Fenalalen mapsara neten humalolin da defo emsian noro ba. Neten na da defo humartelo eta humarlima. Eta geba Bupolo mapsara fenalalen Waekolo oto ni humalolin da defo geba fili noro Waekolo ba. Geba dikat mo da defo oto nete di tu sira ba. Sepo ni humaelet oto fenalalen da defo geba sa warot mo udu humarlima ba.

Akilalen fenalalen ma dufa kai wai sira tu ina ama. Kai na anat da bagut hai sepu ni na anat mhana na da mau hama fina oto ni gebaromtuan dufango humafehut na laha yako anat mhana. Eta kamipa toho oto neten Bupolo, kami tine gebaromtuan na anat mhana da bagut hai oto ni da fango huma fehut hai da bina laha anat mhana sepu ni kae hama fina pa kae kaweng beka.

Oto neten fenalalen, noro dikat da kadu pa da defo tu kami akilalen pa da fango huma fehut oto ni kami bina humalolin. Eta ni kami na wali duba kadu da defo taga yako oto fenalalen.

Oto elet leu geba Bupolo da bina fenafafan, neten oto Ranalalen. Oto fenafafan gebaromtuan duba newe tu anatcia ba. Fili neten di geba Bupolo du defo oto neten dikat-dikat gamdo tu gebaromtuan du huke sa sa tu na neten kadefo.

Fenafafan hangina na geba defo mohe, ma tewa tu neten na neten koin. Da defo oto neten na noro Waekolo ba oto Waereman, noro dikat sabeta mo. Sira du defo oto kaminteang na ni kai wai fili humalolin dikat gebaromtuan du huke neten laha sira ni pa du defo pa du jaga neten nesa-nesa (Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, Aerdapa) tu noro Waekolo.

 

Koinlalen oto Bupolo

Eta ngei si fenafafan ma sea fili gebaromtuan Waekolo oto humalolin Waereman. Ma sea fili gebaromtuan Portelo tu Mrimu du defo oto neten na. Portelo na geba bagut fili noro Waekolo du jaga neten koin oto ranalalen. Hulu geba Bupolo, sira ba noro Waekolo pese Portelo du defo oto ranalalen tu Mrimu Waekolo.

Eta kamipa toho oto fenafafan, ma linga fili wae na kadan suba eta na ulun humalolin Waereman. Ma kaba waeolon neten na kadan oto waenibenangan. Wae na da suba fili rana du bajaga wae na fili noro Waekolo.

Waeolon da nei oto rana fafan da suba fili rana fafan daiko ngei buru slatan da suba beta mo ina da bastela kaku oto namnelat pa da simsubah wai tinan pa da mano oto waenibe  lienkasen do bina ni waenibenangan, oto Waemala da dufa ior- ior teman gamdo gebaromtuan ro do dufa oto wae ni, eta do ngei ngan Waemala. eta mapsara lienkasen fili Waenibenangan dasuba ngan Waeniba ba, eta wae na da suba fili kaku oto rana fafan gamdo Waekolo do defo oto wae na ulun.

Gamdo ma bina Waenibe olon mo.? Mapsara oto waenibe ni geba Bupolo na ngan waenibenangan ni na ngan remat. Waenibe ni na ulun da dufa oto Waekolo ulun Waenibe na da dufa oto na kadan kwanat, wae ni da suba oto likunsmola. Wae ni da nei oto neten ni geba Bupolo du nei ngan wae Waenibe. Wae na da suba fili ranalalen lienkasen bina rana olon (koin ). Lien dikat likunsmola ma bina neten ni ma dufa wae na leman, oto nelat eta da leman mo fili rana Waekolo, sepu ni wae damano fili Waekolo pa da suba oto neten Waenibenangan. Eta geba Bupolo, likunsmola ni elet wae na du dufa mloko hat oto rana Waekolo, mloko hat stefo da suba giwan fili oto Waenibenangan. Ma tine eta da suba mloko da defo oto likunsmola eta da suba geba Bupolo iko tine pa du seka emdau tu dapan pa du oli tuha oto huma pa du mapo tuha pa du ka. Mloko da suba fili rana da iko msian mo po da iko warot da taga wae na na kadan eta da suba oto Waenibenangan, lien fili geba Bupolo ba mloko na da suba hulut oto masin. Elet na da dufa hangan msian oto fulan permede oto fulan Oktober eta fulan fehut. Geba Bupolo du tine fulan na pa du seka warahe. Eta geba Bupolo bina rana na da rakik hai, mloko hat da sefen pa da loa ahut bagut ni ma dufa oto likunsmola.

Eta ma iko oto fenafafan maliho oto rana Waekolo ma egu waga ngei geba Bupolo fili humalolin Waereman, eta geba Bupolo Waereman du iko kadan fili kaku Date ngei kaku sa. Oto fenafafan geba nyosot pi geba masin du liho oto tuhung na mo. Eta du liho oto neten na ni du difu,. Kamipa iko na po ma dufa liho roit fili gebaromtuan sira du huke . kamipa na jamtelo pa ma iko tine elet gebaromtuan teman sira ba defo

Eta Geba Bupolo sira mau iko tine elet ka defo gebaromtuan teman sira na elet ka defo ni ma egu fua dalu pa huke laha geba Bupolo dae Waereman fafan. gebaromtuan pa ma kala ina tu ama tu kai wai sira ma defo pa ma ka fua tu dalu na mnesa-mnesa tu sira. Ni ma egu fua tu dalu ba.ma egu matan ni pa ma huke laha anat Bupolo oto Waereman pa duhuke oto neten koin ni ma iko oto fenafafan ma egu lastare la ma iko na, ma egu gebaromtuan sira oto kaku Waereman, gamdo du bajaga fenafafan ma pipolon tu sirah pa  maiko mnesa –nesa tu sira pa du tu elet ka defo gebaromtuan teman sira elet kadefo oto fenafafan. Eta geba nyosot do mau si oto neten koin na, ni da egu lastare tu dalufua tu matan goban ni utun lima ba ni naraman laha geba nyosot. Eta geba Bupolo. gebaromtuan dusi oto rine lalen.

Eta ma liho oto fenafafan, kamipa ma dufa mrimu Waekolo. Ringe ma loa adat beto nelat ma kala opolastala tu gebaromtuan, rana tu date fafan. Ma iko pa ma suba oto huma. Dalua huma mo po dalua gama kaulahin, miat tu fafu na elet kafoi tu na kadan oto rahe.

Fenafafan di na elet kadefo gebaromtuan teman. Mrimu da bina neten ni warot ior-ior teman gama todo, gomi, gong bagut tu gong roit, nhero, kwani, balanga tu ior-ior bakan. Ior-ior halu na duba nei oto pau rahe. Geba Bupolo sira lua fefa da bina liang lahin. Da lua fefa ni da langa miat pa da nei akilalen mrapa-mrapa. Da lua fefa akilalen bagut mo, halu ni msian dafu. Na bagut ni msian dafut, na remat ni polone dafut, na leman goa pau sa da remat mo.

Mrimu tu Portelo du defo oto humalolin Waereman du tine huma oto fenafafan. Geba Bupolo oto masinlalen jaga keha tine gebaromtuan fili kaku fenafafan bara sa sia ba pei eta fenafafan, eta sa ba pei du jaga iko oto humakoin pa du jaga tine huma bara daraki. seponi du huke mahun laha geba bupolo bara du pei.

Kamipa na toho oto fenafafan ma tine oto neten di fenafafan warot ni kaku –kaku oto fenafafan, geba Bupolo oto fenafafan du jaga gei kaku tu wae tinan bagut oto fenafafan, kamipa nika gemtuan mrmu eta gamdo tu wae oto fenafafan na ? Gemtuan mrimu bina wae na koin, wae tu kaku na du bina neten koin, noro fili Wakolo di du tine fenafafan bara noro dikat tu bara darogo akilalen oto koinlalen.

Eta kamipa toho oto ranalalen, kamipa tine seget fili fanabo, waili tu Waekolo halu ni sa sa tu ringe nake neten – neten sa sa ?, halu ni kamipa tewa fili gemtuan mrimu, na halu ni bagut tu remat. Gamdo gebaromtuan halu ni ma tewa fili gemtuan mrimun oto Fenafafan,Dabina halu fili marga pila na ni sa sa tu ringe nake neten–neten, gamdo eta geba Bupolo sa da tewa rine nake neten mo,ni gamdo beka gemtuan ee? eta manika fili Gemtuan mrimun da bina gamanga ? Halu ni oto neten geba Bupolo halu, ma sia pa mapsara tu neten na, ina ama kai wai sira kimi bara loat tu neten na eta ma loa epsalah oto seget na.

 

Lien na Sepu

Mapsara lien oto refafan na da bina tu lalen-lalen oto adat geba Bupolo, lepak foni oto na elet ka defo oto sa an a neten-neten noro oto mualalen. Koinlalen oto Bupolo iha na :

a.Ranalalen, b. Mua Garan, c. Waekoit, d. Kakukoit, e. Liang lahin, f. Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h. Seget, i. Sufen.

Ina ama kai wai sira kimi bara loat lalen tu kamipa na. Kamipa tewa lalen-lalen hai fili lien koin na, kamipa fili lolik lalen fedak fena tu retemena bara sehe.

CERITA TENTANG TEMPAT KERAMAT DI DATARAN RANA, PULAU BURU, MALUKU

Danau Rana

oleh :

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Guru Besar Etnoekologi Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

Roger Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

 

Pengantar

Bagian ini ingin menjelaskan keadaan tempat pemukiman tradisional orang Bupolo dalam hubungan dengan lingkungan alam dan kehidupan sosial.  Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bentuk pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal ?  Bagaimana pandangan orang Bupolo terhadap pemukiman tradisional dibandingkan dengan perkembangan pemukiman saat ini ? Bagaimana bentuk pemukiman orang Bupolo yang telah keluar dari ranalalen kemudian membangun pemukiman baru di tempat lain ?  Pertanyaan berikut yang sangat penting adalah bagaimana cara mereka memilih tempat tinggal yang baru setelah keluar dari ranalalen ?  Istilah ranalalen artinya daerah sekitar rana Waekolo dan gunung Date yang terletak di tengah pulau Buru.

Untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kami ingin menjelaskan terminologi yang selalu digunakan orang Bupolo untuk daerah pemukiman yaitu fenalalen dan humalolin.

 

Pemukiman Orang Bupolo

Istilah fenalalen artinya tempat pemukiman yang hanya terdiri dari satu kelompok noro atau soa (clan).  Jumlah rumah dalam satu fenalalen adalah antara tiga sampai lima buah.  Kalau orang Bupolo mengatakan fenalalen Waekolo maka pada daerah pemukiman dimaksud hanya dihuni oleh mereka yang berasal dari noro atau soa Waekolo.  Tidak ada orang Bupolo dari noro lain yang hidup bersama dengan mereka.  Oleh sebab itu jumlah rumah yang dijumpai tidak akan lebih dari lima buah rumah.

Dalam fenalalen biasanya kita jumpai hanya kehidupan antara mereka yang mempunyai hubungan keluarga sekandung bersama istri dan anak-anak mereka.  Kalau anak mereka sudah dewasa dan suatu saat ada rencana untuk menikahkan anak tersebut, maka sebelum yang bersangkutan menikah biasanya orangtua akan membangun rumah baru. Selama penelitian di lapangan, kami mengamati bahwa orangtua yang mempunyai anak laki-laki dewasa dan anak tersebut belum juga menikah maka dengan dibangunnya rumah baru yang terpisah dari orangtua adalah sebuah pesan untuk yang bersangkutan harus segera mencari jodoh untuk menikah.

Sedangkan dalam satu fenalalen, jika ada noro (soa atau clan) yang lain datang untuk tinggal bersama dan membangun rumah baru dalam fenalalen maka daerah pemukiman itu disebut humalolin.  Hal yang umum dijumpai adalah keluarga dari istri yang datang untuk tinggal bersama dalam satu fenalalen tersebut.

Tempat pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal disebut fenafafan, yaitu suatu daerah yang terletak disekitar ranalalen.  Di fenafafan hidup leluhur pertama orang Bupolo bersama sembilan orang anak.  Dari fenafafan (fena=clan, desa ; fafan=tertinggi) orang Bupolo menyebar ke berbagai tempat, sesuai dengan pembagian wilayah yang diperoleh dari leluhur mereka.

Fenafafan saat ini tidak dihuni lagi oleh orang Bupolo, tetapi daerah ini tetap dianggap sangat sakral dan terus dilindungi oleh orang dari noro Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman.  Tidak hanya orang Bupolo yang tinggal di Waereman yang melindungi fenafafan, namun orang Bupolo lain yang tinggal di humalolin lainnya di seputar ranalalen, misalnya Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, dan Aerdapa.

 

Tempat Keramat di Pulau Buru

Untuk memasuki fenafafan harus meminta izin orang Bupolo dari noro Waekolo di humalolin Waereman.  Orang yang berhak memberi izin adalah mereka yang menjadi pemimpin adat seperti Portelo dan Mrimu.  Portelo adalah jabatan adat tertinggi dalam noro Waekolo yang bertugas menjaga seluruh daerah sakral di ranalalen.  Dari semua noro orang Bupolo, hanya dalam noro Waekolo yang dijumpai jabatan adat Portelo.  Portelo harus tinggal di ranalalen bersama Mrimu.

Dari pengamatan kami selama berkunjung ke fenafafan (lihat peta), kedudukannya berada diantara waeolon (wae=air ;olon=kepala) dan humalolin Waereman.  Kita menyebut waeolon karena daerah itu adalah merupakan kepala dari sungai Waenibe.  Salah satu sungai dimana sumber airnya berasal dari rana Waekolo.

Istilah waeolon dalam bahasa Buru hanya disebut untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai Waenibe.  Sedangkan untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai-sungai lain yang ada di pulau Buru kita langsung menyebut nama sungai tertentu dan diikuti dengan kata olon, misalnya sungai Waemala kita sebut Waemalaolon artinya kepala/sumber dari sungai Waemala.  Untuk itu kalau menyebut waeolon maka semua orang Bupolo akan tahu bahwa yang dimaksud adalah kepala air Waenibe di rana Waekolo.

Mengapa kita tidak dapat mengatakan Waenibeolon ?  Menurut pikiran orang Bupolo bahwa air yang keluar dari rana Waekolo tidak langsung menuju sungai Waenibe namun melewati suatu tempat yang bernama likunsmola.  Orang Buru saat menyebut kata ini untuk pertama kali bagi saya sebagai orang luar dan sebagai peneliti dicatat hanya sebagai suatu nama tempat, padahal kata ini setelah dicari makna yang sebenarnya dan dari diskusi dengan banyak informan di lapangan diperoleh bahwa likunsmola terdiri dari likun esmohok laan (likun=bagian air yang dalam atau deep in english, esmohok=bagian yang rendah, laan=tempat untuk membagi).  Dengan kata lain likunsmola artinya suatu tempat dimana terdapat air yang sangat dalam, letaknya sangat rendah dari rana Waekolo dan dari situ air dialirkan ke sungai Waenibe.  Bagi orang Bupolo, likunsmola adalah tempat yang sangat penting karena menurut mitos jika mloko ha (morea besar) yang hidup di rana Waekolo kencing (mloko ha stefo) maka semua mloko yang ada di dalam rana Waekolo akan lari keluar meninggalkan rana Waekolo.  Sebelum keluar maka morea-morea tersebut berkumpul di likunsmolat dan dengan sangat mudah orang Bupolo dapat mengambilnya untuk dimakan. Mereka keluar dari rana Waekolo dalam jumlah yang sangat banyak menuju sungai Waenibe dan menurut orang Bupolo morea-morea tersebut pergi keluar menuju air laut yaitu tempat asal mereka.  Peristiwa ini berlangsung satu kali dalam setahun yaitu pada saat bulan gelap yaitu sekitar bulan oktober saat mulai akan menanam kacang.  Orang Bupolo katakan kalau rana Waekolo sudah kotor maka mloko ha akan marah dan kemarahannya yaitu mloko ha akan kencing (mloko ha stefo) dan itu hanya dapat ditandai dengan banyaknya morea yang terdapat di likunsmola.

Kalau menuju ke fenafafan melewati rana Waekolo dengan pakai perahu hanya diperuntukkan bagi orang Bupolo yang datang dari luar humalolin Waereman, sedangkan bagi orang Bupolo di Waereman biasanya mereka melewati jalan gunung Date dengan berjalan kaki.  Fenafafan tidak diijinkan bagi orang luar.  Saya mendapat izin ke fenafafan hanya satu kali dan kunjungannya sangat singkat dalam waktu tiga jam saja.  Saya hanya mau melihat apakah masih terdapat bangunan rumah seperti yang diceritakan oleh orang Bupolo di humalolin Waereman kepada saya.

Tidak ada syarat khusus yang mereka minta dari saya jika ingin berkunjung ke fenafafan, misalnya harus membayar uang sedekah di humapuji atau humakoin.  Huma puji atau disebut juga humakoin adalah tempat dimana orang Bupolo di Waereman atau orang Bupolo lainnya dapat berbicara (babeto) dengan para leluhur mereka (opolastala).

Pada umumnya orang luar (geba nyosot) yang ingin berkunjung ke tempat-tempat sakral di rana lalen diwajibkan untuk membayar jiwanya dengan sekeping uang di humakoin. Ini sebagai suatu tanda bahwa opolastala dan semua jiwa orangtua dari orang Bupolo yang telah meninggal dunia telah dihormati dan jika melewati tempat sakral, maka jiwa dari orang tersebut akan selamat dan tidak akan membawa kematian.

Saat berkunjung ke fenafafan, saya ditemani oleh mrimu Waekolo.  Setelah tiba di tempat tersebut, mrimu Waekolo berbicara (babeto) untuk minta izin dari opolastala, rana, dan date.  Kemudian kita memasuki suatu tempat yang disebut huma (rumah).  Tempat dimaksud tidak berbentuk rumah secara fisik namun ada beberapa buah batu yang tersusun secara rapih.

Tempat itu adalah rumah pertama dari leluhur mereka.  Menurut mrimu di tempat itu juga tersimpan seluruh harta para leluhur, seperti peralatan untuk berkebun, peralatan berburu, alat untuk masak dan makan.  Semua alat tersebut disimpan di dalam tanah.  Mereka membuat tempat khusus yang dinamakan liang lahin.  Cara membuat liang lahin yaitu mereka membuat sebuah lubang di dalam tanah dan dilapisi dengan batu pada seluruh dinding lubang tersebut. Umumnya ukuran liang lahin yang dibuat tidak terlalu besar, rata-rata berukuran panjang satu meter, lebar 60 sentimeter dan ukuran kedalaman lubang tidak lebih dari satu meter.

Semua barang dimasukkan ke dalam liang lahin dan bagian atas disusun piring yang terbuat dari porselen kemudian ditutup dengan tanah.  Semua peralatan yang terdapat di fenafafan saat ini telah diganti dengan peralatan yang terbuat dari porselen seperti piring dan gelas.  Saya tidak melihat seluruh obyek tersebut hanya diketahui berdasarkan cerita lisan dari mrimu Waekolo.

Mrimu dan portelo Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman secara bergantian mempunyai tugas yang rutin untuk membersihkan rumah di fenafafan.  Tidak ada jadwal yang pasti untuk kegiatan tersebut, jika ada yang sakit di dalam humalolin Waereman atau orang Bupolo yang tinggal di luar ranalalen hendak mengunjungi fenafafan, dari situ baru mereka membersihkan tempat rumah leluhur mereka dan memberi makan.

Pembagian daerah pemukiman baru ini tidak berdasarkan atas luas tanah tetapi berdasarkan pada gunung dan sungai.  Oleh sebab itu setiap noro dari orang Bupolo memiliki gunung dan sungai yang menurut mereka sangat sakral. Gunung dan sungai dimaksud masing-masing mempunyai nama.  Jadi tanah yang ada diantara atau disekitar gunung dan sungai tersebut adalah milik dari noro yang bersangkutan.

Selama penelitian di lapangan, saya mencoba untuk mengetahui batas-batas teritorial dari suatu noro, namun hal itu sangat sulit karena daerah yang terlalu luas dan jawaban dari informan di lapangan hanya menyebutkan bahwa : tanah milik kami terletak pada gunung dan sungai sebagaimana yang telah ditentukan oleh leluhur kami.  Dan semua orang Bupolo telah mengetahuinya.  Jika ada orang Bupolo yang tidak mengetahui maka yang harus menjelaskan kepadanya adalah para pemimpin adat (geba ha) dan orang-orang tua (gebaro emkeda).

 

Penutup

Kesimpulan dari cerita di atas ingin menyatakan bahwa daerah keramat di Pulau Buru merupakan tempat yang menyimpan identitas Orang Bupolo yang selalu menyatu dengan lingkungan alam. Daerah keramat yang dikenal oleh Orang Bupolo terdiri dari :

a.Ranalalen, b.Garan, c.Waekoit, d.Kakukoit, e.Liang lahin, f.Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h.Seget, i.Sufen

MUSEUM REMPAH – REMPAH DAN KEBUN BOTANI

museum

I. PENDAHULUAN

1. Maluku sebagai Kepulauan Rempah-Rempah « The Spices Islands »

Kepulauan Maluku tercatat dalam sejarah dunia sebagai kepulauan rempah-rempah dan kepulauan raja-raja. Untuk itu sejak abad ke-13 menurut catatan penelitian dari Valentijn (1724) atau bahkan pada abad sebelumnya, tanah Maluku sudah dikunjungi oleh pedagang Arab dan Cina. Kemudian pada abad ke-16 didatangi oleh orang Eropa. Masuknya peradaban islam dan kristen di nusantara ini berawal di Kepulauan Maluku kemudian disebarkan ke daerah berkat perdagangan rempah-rempah. Kedatangan pedagang Arab, Cina dan Eropa pada masa itu untuk melakukan perdagangan komoditi cengkeh (Eugenia aromatica O.K., Myrtaceae) dan pala (Myristica fragrans Houtt, Myristicaceae), karena kedua komoditi tersebut mempunyai nilai ekonomi dan estetika yang tinggi layaknya emas dan minyak bumi pada masa sekarang ini. Disamping pergaulan karena pertukaran nilai ekonomi dari rempah-rempah maka terjadi pula interaksi budaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepulauan Maluku saat itu sangat ramai didatangi oleh orang luar. Pergaulan juga dijalin bersama masyarakat nusantara lainnya seperti dari kesultanan Buton, Bone, Melayu dan Jawa. Seiring dengan kepentingan ekonomi, pada periode itu pula perkembangan ilmu pengetahaun mulai berkembang dengan berbagai penelitian yang dilakukan baik oleh bangsa Arab, Cina maupun Eropa. Salah satu diantaranya yang sangat spektakuler dari bumi Maluku sekitar 1640-an tercatat Georgius Everhardus Rumphius, seorang imigran Jerman di Negeri Belanda, pernah hidup dan meneliti kekayaan biodiversitas tanaman di kepulauan Maluku.. Bukunya yang sangat terkenal adalah « Het Amboinsche Kruid-book ». Dari sini dunia ilmu pengetahuan tumbuhan mulai dikenal dunia dan sekaligus menambah referensi botani yang sangat dibutuhkan dunia pada masa itu hingga sekarang ini.

Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah selain dipublikasikan dalam bentuk referensi buku seperti yang dibuat oleh para pakar juga dapat didokumentasikan dalam sebuah museum. Kehadiran sebuah museum bukan saja sebagai tempat pameran benda bersejarah seperti yang sudah dikoleksi di Museum Siwalima Ambon namun ide tentang koleksi rempah-rempah ini pun dapat disajikan pada sebuah museum.

2. Tujuan

Pembangunan museum rempah-rempah bertujuan untuk menginformasikan kepada generasi kini dan generasi dimasa mendatang tentang harumnya Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah.

Kebun Botani sebagai pelestarian plasma nutfah genetik tanaman khas Maluku juga diperuntukkan untuk mendukung lingkungan dan mengemban fungsi sebagai laboratorium alam.

 

3. Manfaat

Museum dapat dimanfaatkan sebagai sarana wisata dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan sejarah, budaya dan lingkungan alam. Dengan kata lain museum bisa dijadikan objek wisata turis dan laboratorium pembelajaran kepada masyarakat umum dan masyarakat ilmiah pada semua strata pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Penelitian mahasiswa bisa dilaksanakan di museum. Dengan demikian setiap objek yang digelar akan menjadi sumber informasi penting.

Di sekitar lokasi Museum Siwalima saat ini dapat juga dibangun taman dan tempat rekreasi yang didukung dengan fasilitas pelengkap lainnya. Ide yang mau ditampilkan disini adalah ke gunung untuk wisata museum dengan koleksi kebun botani dan ke laut untuk wisata bahari dimana pada lokasi di Taman Makmur terdapat situs Batu Capeu yang sangat terkenal. Kedua objek ini dapat ditangani secara terpadu.

 

II. RENCANA PROGRAM PEMBANGUNAN

Museum Rempah-Rempah akan dibangun di lokasi Taman Makmur Ambon dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Museum Siwalima dan Museum Kelautan yang telah ada sebelumnya. Artinya bahwa pengelolaan museum ini akan menjadi tanggung jawab unit pelaksana teknis museum yang bernaung dibawah Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Maluku. Dengan demikian program pembangunan museum ini akan disesuaikan sepenuhnya dengan mekanisme anggaran yang berlaku pada Dinas Pendidikan Nasional.

Untuk memahami rencana program pembangunan Museum Rempah-Rempah maka dapat diikuti pada diagram tahapan kegiatan yang disajikan berikut ini.

Dari diagram tersebut menggambarkan pengembangan sumberdaya manusia dapat ditempuh melalui pendidikan dan pelatihan serta penelitian. Diharapkan kegiatan ini dapat menunjang program penelitian pada jenjang S-1, S-2 dan S-3. Selain itu dapat pula direncanakan program pelatihan untuk mendidik pemandu museum yang profesional dalam bidang tanaman rempah-rempah.

 

III. METODE PENDEKATAN

Wujud dari Museum Rempah-Rempah adalah koleksi fosil dan herbarium dari berbagai spesimen tanaman rempah utama daerah Maluku seperti cengkeh dan pala. Disamping itu koleksi herbarium dari jenis tanaman rempah lainnya yang digunakan oleh masyarakat di Kepulauan Maluku.

Prinsip ilmiah dari pembangunan museum harus bertolak pada koleksi material, identifikasi, dan klasifikasi.

Pekerjaan koleksi, identifikasi dan klasifikasi dari setiap jenis harus dikerjakan dan diarsipkan dengan teliti, kemudian secara periodik dapat dipamerkan kepada khalayak.

Prinsip yang lainnya adalah peragaan dan penataan dimana kedua prinsip ini harus disesuaikan dengan perkembangan lingkungan masyarakat. Artinya semua material di dalam museum harus dipamerkan secara bergiliran mengikuti jadwal kejadian penting yang berlaku di masyarakat, misalnya eksposisi material menyongsong hari besar nasional dan daerah. Yang harus dihindari adalah eksposisi material yang sifatnya monoton.

Koleksi pribadi masyarakat seperti koleksi peninggalan warisan keluarga atau koleksi lukisan dapat ditampilkan untuk dipamerkan kepada khalayak. Disamping itu koleksi sejarah dari negeri, kabupaten/kota, dan pulau dapat dipamerkan secara bergilir menurut jadwal eksposisi. Jadwal eksposisi dimaksud harus diumumkan secara periodik kepada masyarakat umum maupun masyarakat ilmiah dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Dengan demikian membangkitkan kesadaran pentingnya arti museum untuk dikunjungi secara berkala dalam proses pembelajaran kepada masyarakat.

Khusus untuk kebun botani akan dimanfaatkan sebagai ruang koleksi beberapa jenis tanaman rempah sehingga profil tanaman yang telah dikoleksi di dalam museum juga bisa ditemui di dalam kebun botani tersebut. Pembangunan kebun botani akan memanfaatkan lingkungan sekitar museum sehingga kawasan dimaksud akan dikembangkan secara bersama-sama. Mengingat kawasan tersebut adalah milik Universitas Pattimura Ambon seluas 55 Ha yang perencanaan awal oleh Almarhum Kolonel Herman Pieters dengan Yayasan Maluku Irian Barat Makmur adalah ingin mewujudkan suatu kawasan pengembangan koleksi fauna dan flora khas Provinsi Seribu Pulau. Dengan demikian ide yang cemerlang ini dapat diwujudkan kembali guna mendukung program pendidikan dan pariwisata daerah kota Ambon.

IV. RENCANA PENDANAAN

1. Pembangunan infrastruktur dari Museum Rempah-Rempah dibiayai sepenuhnya dari dana APBD dan APBN.

2. Data koleksi material museum akan dikumpulkan melalui kegiatan survei lapangan yang dibiayai oleh dana rutin APBD maupun APBN. Selanjutnya kegiatan ini akan dituangkan dalam usulan proposal kegiatan lapangan.

3. Dana masyarakat akan digunakan untuk membiayai operasional eksposisi dan pemeliharaan koleksi. Selain itu dapat pula diusahakan dana dari donor luar negeri yang diperoleh berdasarkan kerjasama pendidikan dan penelitian, dimana pada program jangka panjang Museum Rempah-Rempah telah mampu menunjukkan identitas sebagai sumber informasi dan laboratorium pendidikan.

Foto Kerangka Bangunan yang berlokasi di samping Museum Siwalima       Koleksi Kelautan, Taman Makmur Ambon.

museum-1

Kerangka bangunan berlantai satu yang berlokasi di kompleks Museum Siwalima Ambon. Bangunan ini dapat dimanfaatkan untuk rencana mewujudkan Museum Rempah-Rempah di Provinsi Maluku. Selanjutnya dapat disebut pula sebagai Museum Siwalima koleksi Rempah-Rempah. (Dokumentasi : M.J. Pattinama, 2005)

 

 

TAHAPAN-MUSEUM-REMPAH

MUSEUM REMPAH-REMPAH DAN MUSEUM PERANG SIPIL 19-1-1999 DI MALUKU

MUSEUM REMPAH-REMPAH DAN MUSEUM PERANG SIPIL 19-1-1999

DI MALUKU[1]

Oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[2]

Uraian singkat

1. Kepulauan Maluku tercatat dalam sejarah dunia sebagai kepulauan rempah-rempah dan kepulauan raja-raja. Untuk itu sejak abad ke-13 menurut catatan penelitian dari Valentijn (1724), tanah Maluku sudah dikunjungi oleh pedagang Arab dan Cina. Kemudian pada abad ke-16 didatangi oleh orang Eropa. Masuknya peradaban islam dan kristen di nusantara ini berawal di Kepulauan Maluku baru kemudian disebarkan ke daerah lainnya berkat perdagangan. Kedatangan pedagang Arab, Cina dan Eropa pada masa itu untuk berdagang komoditi cengkeh (Eugenia aromatica O.K., Myrtaceae) dan pala (Myristica fragrans Houtt, Myristicaceae) karena kedua komoditi dimaksud mempunyai nilai ekonomi dan estetika yang tinggi layaknya emas dan minyak bumi pada masa sekarang ini. Disamping pergaulan karena pertukaran nilai ekonomi dari rempah-rempah maka terjadi pula interaksi budaya. Sehingga boleh dikatakan bahwa kepulauan Maluku saat itu sangat ramai didatangi oleh orang luar. Pergaulan juga dijalin bersama masyarakat nusantara lainnya seperti dari kesultanan Buton, Bone, Melayu dan Jawa. Seiring dengan kepentingan ekonomi, pada periode itu pula perkembangan ilmu pengetahaun mulai berkembang dengan berbagai penelitian yang dilakukan baik oleh orang Arab, Cina maupun Eropa. Salah satu diantaranya yang sangat spektakuler dari bumi Maluku sekitar 1640-an tercatat Georgius Everhardus Rumphius, seorang Jerman yang bekerja pada Belanda, pernah hidup dan meneliti kekayaan biodiversitas tanaman. Tahun 1741 bukunya diterbitkan « Het Amboinsche Kruid-book ». Dari sini dunia ilmu pengetahuan tumbuhan mulai dikenal dunia dan sekaligus menambah referensi ilmu tumbuhan yang sangat dibutuhkan dunia pada masa itu hingga sekarang ini. Dengan demikian kalau berbicara klasifikasi tumbuhan maka konsep Rumphius dengan bumi Maluku akan menjadi rujukan ilmiah.

2. Begitu banyaknya pengaruh dan sentuhan kepentingan yang terjadi di bumi Maluku ini maka sejak zaman dahulu perang sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat di kepulauan ini. Hal ini bisa dilihat dari aktualisasi budayanya seperti tari-tarian yang didominasi oleh unsur peperangan. Sejarah juga mencatat bahwa perang yang terjadi bukan saja antara orang Maluku dengan para pendatang tetapi juga diantara orang Maluku sendiri. Jika penulis berbicara Maluku di sini termasuk didalamnya Maluku Utara dimana kerajaan Raja Ampat sangat tersohor dan pengaruh kesultanan Ternate sangat dominan pada masa itu. Daerah produksi rempah-rempah menjadi ajang pertarungan perang yang luar biasa sehingga terciptalah hubungan « pela-gandong ». Peperangan dan perdamaian terjadi secara terus menerus dalam kehidupan orang Maluku. Sehingga kita tiba pada perang sipil yang terjadi dalam abad 21 ini (1999-2003), kemudian kita melihat dengan begitu cepat mencapai perdamaian di bumi Seribu Pulau. Ini perlu mendapat perhatian serius karena selama perang sipil berlangsung di Maluku masalah ini telah menjadi konsumsi internasional bahkan banyak pengamat atau pemerhati sosial yang memprediksikan bahwa perdamaian akan semakin jauh terwujud dan kalaupun dipaksakan maka dibutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun lebih. Hal ini menjadi pertanyaan bangsa lain dimana kejadian tersebut sulit sekali ditemui di abad modern ini. Tentu ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah dan budaya dari orang Maluku sendiri bahkan tanpa sadar sebenarnya orang Maluku mempunyai peradaban manusia yang sangat tinggi. Pendapat semacam ini banyak kami peroleh selama pergaulan kami sewaktu menyelesaikan studi di Eropa Barat (Prancis). Jadi Maluku pada masa mendatang akan menjadi objek studi peperangan dan perdamaian.

3. Pembangunan museum rempah-rempah dan museum perang sipil dimaksudkan untuk menginformasikan kepada generasi kini dan generasi dimasa mendatang tentang harumnya Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah dan juga mengarsipkan catatan sejarah berperang orang Maluku dari abad ke abad pada satu sisi sedangkan di sisi yang lain ingin menunjukkan bahwa orang Maluku selalu mencintai perdamaian.

4. Wujud dari Museum Rempah-Rempah adalah koleksi fosil dari dua tanaman rempah utama daerah Maluku yaitu cengkeh dan pala. Disamping itu pula koleksi dari seluruh jenis tanaman rempah yang digunakan oleh masyarakat di Kepulauan Maluku. Sedangkan wujud dari Museum Perang Sipil 19-1-1999 adalah pada tahap awal hanyalah mengoleksi seluruh material yang diciptakan dan digunakan oleh masyarakat selama berlangsungnya perang sipil. Mulai dari digunakannya batu dan kayu hingga diciptakannya senjata rakitan. Perubahan setiap peralatan perang per periode dicatat dan dipertunjukkan sebagai suatu perubahan teknologi yang dikuasai oleh masyarakat. Koleksi dari museum ini harus menghindari perasaan emosional dari kedua belah pihak yang bertikai sehingga eksposisi dari koleksinya belum bisa secara langsung menampilkan gambar wajah para korban atau pelaku yang aktif di lapangan selama perang sipil berlangsung. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk bisa menampilkannya kepada umum, namun dokumen foto dan film sepanjang peristiwa perang sipil sudah harus disimpan dan diidentifikasi mulai saat ini.

5. Museum juga dapat difungsikan sebagai sarana wisata dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan sejarah, budaya dan lingkungan alam. Dengan kata lain museum bisa dijadikan objek wisata turis dan laboratorium pembelajaran kepada masyarakat umum dan masyarakat ilmiah pada semua level pendidikan dari sekolah dasar hingga universitas.

6. Seringkali mengunjungi museum memang bukan budaya orang yang tinggal di negara berkembang seperti di Indonesia, tetapi jika belajar dari perjalanan sejarah bangsa yang sudah maju maka perasaan untuk mencintai dan mengunjungi museum harus ditanamkan sejak awal apapun bentuknya bahkan penampilan koleksi museum yang sangat sederhana sekalipun. Dari situ pula akan mencerminkan kesadaran dan penghargaan suatu generasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

7. Pengamatan kami di lapangan terhadap Museum Siwalima Maluku yang berlokasi di Taman Makmur Ambon telah menunjukkan suatu langkah awal yang baik dan perlu penataan dan penanganan yang lebih serius. Kunjungan kami ke sana diperoleh informasi bahwa Museum Siwalima Maluku sangat kekurangan dana untuk penataan koleksi. Lokasi di Taman Makmur alangkah baiknya ditetapkan pemerintah daerah sebagai lokasi museum. Sehingga pembangunan museum rempah-rempah dan museum perang sipil 19-1-1999 bisa ditetapkan lokasinya di sana.

8. Prinsip ilmiah dari pembangunan museum harus bertolak pada koleksi material, identifikasi, dan klasifikasi. Prinsip yang lainnya adalah peragaan dan penataan dimana kedua prinsip ini harus disesuaikan dengan perkembangan lingkungan masyarakat. Artinya semua material di dalam museum harus dipamerkan secara bergiliran mengikuti jadwal kejadian penting yang berlaku di masyarakat, misalnya eksposisi material menyongsong hari besar nasional dan daerah. Yang kami saksikan selama ini di Museum Maluku Taman Makmur adalah koleksi yang ditampilkan secara monoton. Bahkan menurut hemat kami, koleksi pribadi masyarakat seperti koleksi peninggalan warisan keluarga atau koleksi lukisan dapat ditampilkan untuk dipertontonkan kepada khalayak. Juga koleksi sejarah dari desa, kabupaten, dan pulau dapat diperlihatkan secara bergilir menurut jadwal eksposisi. Dan jadwal dimaksud harus diumumkan secara periodik kepada masyarakat umum maupun masyarakat ilmiah dari SD hingga universitas. Dengan demikian rasa ingin mengunjungi museum akan dibangkitkan secara bertahap. Disekitar lokasi museum dapat juga dibangun taman dan tempat rekreasi khusus kepada anak-anak dan tempat bersantai ria dengan makanan ringan. Ide yang mau ditampilkan disini adalah ke gunung untuk wisata museum dan ke laut untuk wisata pantai dimana ada obyek wisata Batu Capeu. Kedua ide ini dapat ditangani secara terpadu, bahkan kami berpikir untuk lebih menambah menariknya kekhususan wilayah Maluku maka dapat pula dibangun Museum Kelautan yang dapat menampilkan seluruh aspek kekayaan laut Maluku seperti berbagai jenis ikan, siput, karang dan mutiara. Pekerjaan ini dapat melibatkan ahli-ahli kelautan yang potensial yang telah dimiliki oleh Fakultas Perikanan Universitas Pattimura Ambon. Pekerjaan koleksi, identifikasi dan klasifikasi dari setiap jenis harus dikerjakan dan diarsipkan dengan teliti, kemudian secara periodik dapat dipertontonkan kepada khalayak.

9. Pembangunan Museum ini tentu akan sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan itu sangat mustahil harus ditangani sendiri oleh Pemerintah Daerah baik Kota maupun Propinsi, sehingga kami dapat mengusulkan kepada Pemerintah Daerah agar membicarakan ide ini dengan pemerintah pusat di Jakarta khususnya dengan Kementrian Pariwisata dan Budaya, karena beberapa waktu yang lalu berdasarkan catatan kami bahwa Menteri Pariwisata dan Budaya Kabinet Indonesia Bersatu (=Jerro Wacik) pernah berbicara soal begitu pentingnya peranan museum saat ini. Kecenderungan yang sangat memprihatinkan menurut pandangan kami bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya telah dirasuki dengan pikiran konsumtif materialistis, itu bisa dilihat dengan makin suburnya pembangunan pusat perbelanjaan yang mewah (=Mall). Pembangunan sektor ini juga sangat diperlukan untuk memacu sektor perekonomian negara, tetapi harus diimbangi pula dengan pembangunan infrastruktur pendidikan seperti museum, sehingga kunjungan ke Mall herus seimbang dengan kunjungan ilmiah ke Museum. Kalau ini tidak dipikirkan sejak saat ini maka generasi yang akan datang akan semakin jauh memiliki jiwa dan tekad untuk menekuni pekerjaan ilmu pengetahuan. Ide pembangunan museum ini dapat dibicarakan pula dengan badan internasional yang sementara tertarik untuk memberikan dukungan dana kepada pembangunan pendidikan dan kebudayaan di Maluku.

10. Demikian pemikiran singkat kami tentang pembangunan museum rempah, museum perang sipil 19-1-1999, museum kelautan dan penataan kembali museum Daerah Maluku di Taman Makmur Ambon dengan lingkungan alam pegunungan dan pesisir pantai yang dibangun secara terpadu. Semua penanganan ini hendaknya direncanakan oleh Pemerintah Daerah Kota Ambon bersama Pemerintah Propinsi Maluku. Semoga pemikiran kami ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah demi pengembangan ilmu pengetahuan lewat museum di daerah seribu pulau ini.

 

Ambon, 1 September 2005

Marcus Jozef PATTINAMA


 

[1] Sumbangan pemikiran ini disampaikan kepada Gubernur Provinsi Maluku di Ambon tanggal 1 September 2005

 

[2] Dosen program studi sosial ekonomi pertanian Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon. Pendidikan : S1 Sosek Pertanian Unpatti, 1988. S2 (DEA) Etnobotani Université d’Orléans Prancis, 1998. S3 (DR) Etnobotani dari Laboratoire Ethnobiologie-Biogéographie Muséum National d’Histoire Naturelle (MNHN) Sorbonne Paris, Prancis 2005. Penerima penghargaan internasional Mahar SCHÜTZENBERGER tahun 2005 untuk penelitian di Pulau Buru, Maluku, Indonesia dari Institut Gaspard Monge, Université de Marne-la-Vallée Prancis.

STRATEGI MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN INSTITUSI INTERNASIONAL

MENARA-EIFEL-PERANCIS

(STUDI KASUS PADA KERJASAMA INSTITUSI PRANCIS – UNPATTI AMBON)

Oleh :

Prof. Dr. Ir. Max Marcus J. PATTINAMA, DEA.

(Guru Besar Ekologi Manusia Unpatti Ambon)

 

Prolog

Kami diminta oleh Ketua International Office Unpatti untuk menyampaikan pokok pembicaraan seperti judul di atas. Untuk itu kami ingin menyampaikan pengalaman pribadi dalam kedua dunia budaya Indonesia dan Prancis. Kami memasuki dunia Prancis bermula dari partisipasi mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh peneliti Prancis pada tahun 1989 dan melakukan riset bersama di Pulau Haruku  dan Pulau Buru pada tahun 1994. Kemudian dunia Prancis lebih dalam kami jalani setelah menyelesaikan studi S2 dan S3 selama tujuh tahun menetap di Prancis. Selama studi berlangsung kami menyandang dua status yaitu sebagai mahasiswa dan sebagai peneliti ilmiah. Profesor yang membimbing kami menyapa dan memandang kami sebagai kolega mengingat kami diberi kesempatan untuk duduk bekerja dan berkantor dalam satu ruangan di laboratorium ilmiah yang telah direkomendasikan untuk kami mengembangkan kapasitas diri dan keilmuan.

Sebagai peneliti ilmiah kami berada di tengah kegiatan peneliti Prancis dalam studi etnobiologi dengan kajian baik di Indonesia maupun dibeberapa tempat lain di belahan Eropa, Afrika dan Amerika Selatan. Bahasa yang digunakan sebagai pengantar adalah Bahasa Prancis. Untuk itu kami diberi kesempatan untuk belajar bahasa tersebut di Pusat Bahasa dan Peradaban Prancis (Langue et Civilisation Français) di suatu kota bernama Besançon selama setahun sebelum masuk dalam komunitas ilmiah Prancis. Sepanjang perjalanan kami studi di sana tetap kami dibimbing untuk memahami dengan benar tentang bahasa dan peradaban Prancis oleh para kolega peneliti ilmiah.

Manusia Prancis dan Ilmu Pengetahuan

Kami cenderung melihat sesuatu dari dasarnya dalam hubungan kerjasama yaitu manusia seutuhnya sebagai sumbernya. Kami tidak ingin membandingkan antara manusia Prancis dan manusia Indonesia, tetapi ingin mensejajarkan kedua manusia dan budaya tersebut, sehingga dapat terlihat bagaimana kita sampai pada hubungan yang ada sekarang.

Manusianya kami lihat dari segi pembentukannya melalui pendidikan formal (modern) yang terutama mendasari sikap pikir dan pandangnya dalam ilmu pengetahuanya itu. Pendidikan manusia Prancis bertumpu pada ajaran Descartes (lihat : Discours de la méthode) ; dimana akal budi adalah alat yang dipakai untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah, berarti mencari apa yang sebenarnya, sehingga manusia itu mendapat keyakinan penuh dari apa yang disimak di luar dirinya. Mereka dididik untuk menemukan sendiri, sehingga mencapai keyakinan yang kokoh atas kebenaran objek yang disimak. Dengan kata lain tiap manusia itu yakin akan kebenaran pandangannya. Demikianlah dikenal ungkapan “autant de têtes, autant d’avis”.

Oleh karena itu mulai dari bangku sekolah mereka sudah dilatih untuk mengembangkan observasi, menganalisis apa yang diamati untuk menilai kebenarannya (l’objet des etudes doit être de diriger l’esprit jusqu’à le rendre capable d’énoncer des jugements solides et vrais sur tout ce qui se présente à lui). Mereka selalu mempertanyakan « kenapa dan bagaimana » (le pourquoi et le comment) untuk meyakinkan kebenaran pandangannya. Maka dapatlah dimengerti bila pada umumnya mereka kurang terbuka dalam arti bahwa kebenaran pandangannya menjadi keyakinannya yang akan dipegang teguh sampai ada pembuktian lain yang menunjukkan ketidakbenarannya.

Di sini dapat dilihat bahwa ide atau pendapatlah yang dikembangkan dan dihargai. Selain itu cara pemaparan penalarannya pun harus jelas dan beruntun dalam hubungan sebab akibat. Oleh karena itu penilaian dan ide yang tepat dan bersifat subjektif itu menjadi ukuran keunggulan seseorang. Perdebatan pendapat dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi manusia Prancis itu. Seseorang yang tidak mengemukakan pendapat tidak menarik. Ide orisinal selalu dicari. Ini tampak dalam pencarian mereka atas dasar ingin tahu akan hal-hal yang khas, istimewa, atau tidak umum. Wajar pula bila mereka memupuk pengetahuan yang luas dan ungkapan « memiliki kepala yang penuh pengetahuan » menjadi tujuan manusia yang berpendidikan. Dan pengetahuan yang didapat berdasarkan rasa ingin tahuakan apa yang ada di luar dirinya itu berarti hasil dari hubungan antara subjek dan objek, Manusia yang demikian akan selalu melihat apa yang di luar dirinya.

Dengan sikap pandang tersebut, kami melihat bahwa selama mereka berada dalam konteks dunianya, terutama bila objeknya dari duania Prancis sendiri, tidak kami rasa ada keganjilan pada pandangan mereka. Keganjilan itu akan timbul bila objek pandangnya adalah fenomena Indonesia atau dari budaya “asing”. Maka pandangan mereka kurang mengena (sebenarnya adalah fenomena universal).

Pertanyaan lain timbul, bagaimana dampak tulisan mereka yang menjadi acuan bagi mereka yang belum mengenal realitasnya ? Pemaparan yang disampaikan dengan nada yang meyakinkan sikap yang tertanam pada manusianya akan mudah diterima sebagai kebenaran realitas objeknya. Terlebih lagi pakar dianggap sebagai orang yang memahami objeknya. Bagaimanapun para pakar itu sedikit banyak menyadari bahwa pandangan mereka itu suatu interpretasi.

 

Manusia Indonesia dan Ilmu Pengetahuan

Dalam mengenal lahan Indonesia dimana tumbuh ilmu pengetahuan modern ini, kita menyadari bahwa suatu sistem budaya tradisional dan modern berjalan bersama dan ilmu pengetahuan itu di sini tumbuh di atas akar budaya tradisional tersebut.

Bagaimana akar budaya tradisional ini ? Sebenarnya sudah kita pahami bahwa ilmu yang tumbuhdari akar tradisional ini berbeda. Ilmu di sini merupakan ajaran hidup dan menuntun manusia untuk menjadi “manusia utama”. Di sini ilmu tidak dipelajari sebagai pengetahuan yang didasari oleh rasa ingin tahu, tetapi harus diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi memang tidak dapat disebut ilmu pengetahuan. Dalam ilmu ini manusianya dituntun untuk menyimak ke dalam dirinya dan meresapi apa yang ada di luar dirinya tanpa memberi pendapat. Sedang yang disebut manusia itu adalah manusia seutuhnya yaitu lahir dan batin. Sikap pandangnya pun menyeluruh (Global) dan manusia itu sendiri adalah bagian dari alam raya ini.

Dengan demikian mereka ini tidak didorong untuk mengemukakan pandangan atau ide mereka, perdebatan pun tidak mudah timbul. Mereka lebih cenderung mengikuti sikap seperti dalam ungkapan ilmu padi : makin berisi makin merunduk. Diam adalah sikap “manusia utama”, manusia yang sempurna lahir batin. Pendidikan tradisonal menuntun manusianya manuju sikap tersebut.

Ilmu pengetahuan yang kemudian tumbuh di atas lahan tradisional ini tentu tidak berproses sama seperti pada lahan aslinya. Dengan masuknya pendidikan BARAT kadar unsur tradisional dalam diri manusianya memudar tergantung dari penyerapan modern tersebut. Akan tetapi sadar atau tidak, unsur-unsur tradisional itu tidak akan lenyap dan pada kondisi tertentu akan muncul juga.

 

Strategi Membangun Kerjasama

Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Orang lain akan menutupi kelemahan atau menambah kekuatan kita. Namun untuk membangun hubungan kerjasama apalagi kerjasama internasional dengan pihak lain bukanlah perkara mudah. Tidak jarang kita gagal membangun hubungan karena kita tidak siap.

Berikut ini beberapa cara membangun hubungan kerjasama dengan pihak lain berdasarkan pengelaman kami :

 

1.Tentukan Tujuan

Tentukan dengan jelas mengapa harus bekerjasama. Apa yang bisa didapatkan? Apa yang bisa diberikan? Saat kita bisa menjawab pertanyaan ini, maka kita bisa mencari pihak yang tepat untuk diajak kerjasama. Hal ini akan membuat kita lebih efektif dan fokus pada tujuan dari kerjasama dimaksud.

 

2.Siapkan Profil

Siapkan beberapa materi tentang institusi ini. gali latar belakangnya dan buat menjadi sebuah cerita (atau organisasi yang dimiliki). temukan hal-hal menarik. Pihak luar biasanya menyukai cerita. Hal ini cukup menarik ketika kita mulai menceritakan “Unpatti itu siapa” (diskripsi diri).

 

3.Buat Kesan Positif

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda” begitu kiranya sebuah tagline sebuah brand terkenal. Kesan pertama memang sangat penting. Banyak orang tidak punya banyak waktu. Berikan kesan positif yang apa adanya. Jangan berlebih-lebihan. Hal ini bisa merusak hubungan dikemudian hari.

 

4.Fokus pada Kualitas bukan Kuantitas

Kita boleh membuat sebanyak mungkin jaringan kerjasama. Namun kita harus bisa memlih prioritas mana yang bisa kita bangun kualitas hubungannya. Cari yang benar-benar kita butuhkan dan memberikan manfaat lebih banyak. Sesuaikan juga dengan kondisi Unpatti yang sebenarnya.

 

5.Hargai Pendapat dan Kebiasaan

Setiap orang (atau organisasi) mempunyai kebiasaan dan budaya sendiri. Hargai pendapat atau kebiasaan pihak yang diajak untuk bekerjasama. Jangan pernah membandingkan dengan orang atau organisasi lain yang kita anggap lebih baik. Sadarilah setiap orang atau organisasi mempunyai keunikan sendiri.

 

6.Tunjukkan Antusiasme

Tunjukan bahwa kita sangat senang bisa mengenal orang atau institusi yang diajak untuk bekerjasama. Lakukan dengan TULUS. Cobalah untuk memahami dan mengenal mereka secara mendalam lebih dahulu. Orang akan lebih senang bila orang lain mengenal dan mau memahami mereka.

 

7.Tawarkan Bantuan

Jangan ragu untuk menawarkan bantuan. Jika Unpatti memang merasa sanggup untuk membantu, mengapa harus menunggu sampai pihak yang diajak kerjasama meminta? Bersikaplah proaktif. Bantuan yang kita berikan pasti kembali pada generasi berikutnya di suatu saat nanti.

 

Epilog

Apa yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional dan modern, jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas, untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Indonesia seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana pada lahan aslinya. Dalam pandangan kami, seminar sehari ini ingin Unpatti menuju pada kelas internasional maka yang bisa kami katakan adalah pikiran itu akan bermuara pada :

  • Pemerian pengalaman pribadi
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek pada objeknya
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek yang berada sekaligus dalam objeknya, dengan memakai disiplin ilmu yang mengharuskan keluar dan berdiri di luar objeknya.

KEKUATAN BAHASA DALAM RASA, KARYA DAN KARSA

(Suatu Ajakan untuk Revitalisasi Bahasa Buru sebagai Mata Ajaran Mulok)

Oleh :

Prof. Dr. Ir. Max Marcus J. PATTINAMA, DEA.

(Guru Besar Etnoekologi Unpatti Ambon)

 

Prolog

Kami diminta oleh Kantor Bahasa di Ambon untuk menyampaikan pokok pembicaraan pada Kegiatan Klinik Bahasa tentang “Situasi Kebahasaan di Kabupaten Buru”. Untuk itu kami ingin menyampaikan pokok pikiran kami seperti judul di atas dan sub judul yang kami paparkan ini bukan usulan yang baru, sebab kami yakin sudah ada gagasan ini sebelumnya yang telah dipikirkan oleh PemKab Buru. Jadi diskusi ini hanyalah sebagai upaya merevitalisasi gagasan Bahasa Buru sebagai pengantar dalam program Mulok. Dengan demikian materi pembicaraan ini diambil dari pengalaman pribadi selama hidup sebagai Geba Bupolo di Rana Lalen. Disamping itu pula relasi sosial juga dibangun dengan semua orang atau manusia yang menyebut dirinya Orang Buru di Lisaboli Lisela, Masa Mesirete dan Lacalua Kayeli serta Regenschap Ambalau.

 

Klasifikasi Manusia Buru

Penduduk di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli, autokton, (Geba Bupolo) yang hidup di pegunungan dan penduduk pendatang, alokton, (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo (Pattinama, 2005). Alokton dan autokton selalu menyatakan diri sebagai orang Buru (Gambar 1).

Gambar 1 menyajikan bagan tentang bagaimana Geba Bupolo membagi penduduk. Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, dimana ada Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai berkat program Departemen Sosial untuk pemukiman kembali bersama dengan alokton..

Dalam catatan botani dunia, ditemukan bahwa tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron L, Myrtaceae) adalah tanaman asli Pulau Buru. Tahun 1925, kolonial Belanda membawa spesies ini dari Buru sebagai tanaman penghijauan di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Pada masa kejayaan perdagangan rempah-rempah, penduduk pulau ini telah bersinggungan dengan bangsa Eropa, sehingga Belanda menamakan suatu tempat di Pulau ini dengan sebutan Kayeli (Kayoe poetih olie).

Pulau Buru atau Bupolo mengalami lima periode pengaruh pendudukan (okupasi) yaitu periode Sultan Ternate, Portugis, Belanda, Jepang dan Indonesia. Periode Sultan Ternate, selain perdagangan juga ada mobilisasi penduduk dari Sula dan Sanana untuk menanam pohon kelapa. Perdagangan kayu putih dan damar dilakukan melalui hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan Sultan Buton dan Sultan Bone. Kemudian Portugis membuat instabilitas perdagangan antara Sultan Ternate dengan pedagang Arab dan Cina di dataran Kayeli. (Pattinama, 2005). Gambar 1 di bawah ini juga menjelaskan pertemuan puncak-puncak budaya antar suku dan bahasa yang digunakan dalam relasi sosial.

 

Penggolongan-Penduduk-Buru

Gambar 1. Penggolongan Penduduk Pulau Buru menurut Geba Bupolo

 

Sejak zaman kolonial hingga kini masyarakat asli Pulau Buru (Geba Bupolo) disebut sebagai suku terasing, tidak beragama, pemalas dan alifuru[1]. Istilah „burro“ (yang kemudian menjadi Buru) diberikan kepada pulau ini dan kata ini ditemukan pada peta Indonesia yang dipublikasi tahun 1613 oleh misi dagang Portugis. Kata Burro (bahasa Portugis) mengandung dua arti yaitu keledai dan bodoh. Ada dua hipotesis dapat penulis kemukakan, pertama, kata burro untuk menamakan babi rusa (Babyrousa babyrussa) dimana untuk pertama kali Portugis melihatnya di pulau ini. Kedua, kata burro dialamatkan kepada masyarakat Bupolo, karena mereka selalu menolak kehadiran Portugis di setiap kampung (humalolin). Cara menolak adalah semua penduduk meninggalkan kampung dan masuk ke hutan. Setelah periode Portugis, maka berikutnya masa penjajahan Belanda, kata Burro tidak digunakan dan ditulis Boeroe atau Buru dalam Bahasa Indonesia.

Selanjutnya periode Jepang membuat wilayah ini semakin terisolir. Saat Jepang harus meninggalkan Pulau Buru tahun 1945, mereka terpaksa harus berpisah dengan budak sex jugun ianfu yang berasal dari Korea dan Pulau Jawa. Para perempuan yang terpaksa harus menjadi budak sex ini terpaksa dipelihara oleh para kepala adat dan akhirnya dijadikan istri. hingga saat ini.    Tahun 1969, Pemerintah Indonesia menetapkan pulau ini khususnya di dataran Waeyapo sebagai kamp konsentrasi tahanan politik G30S/PKI.

Kehadiran HPH sebagai sosok ekonomi modern di tengah hutan belantara Pulau Buru memberikan dampak besar kepada autokton yang masih hidup nomaden. Ciri kehidupan terasing (baca: sederhana) dan terisolir pada daerah pegunungan serta merta diperhadapkan dengan pilihan antara menunggu (menjaga) daerah sakral yaitu tempat bersemayam nenek moyang mereka atau hak membabat hutan yang sudah resmi diberikan negara kepada pengusaha HPH. Posisi autokton sangat jelas menjadi lemah dan inferior baik di hadapan hukum negara maupun pelaku ekonomi modern. Yang terjadi adalah kompetisi disekuilibrium. Hal yang sama akan terjadi dengan ditemukannya tambang emas di Pulau Buru.

 

Liwit Lalen Hafak Lalen Snafat Lahin Butemen

Ini adalah pernyataan filsafati dari Geba Bupolo yang sakral di Rana Lalen. Maknanya sangat holistik yang menghubungkan manusia dengan alam raya, juga antara manusia dengan manusia dan manusia dengan sang khalik. Untuk memahami pernyataan filsafati tersebut, selama pengalaman kami di lapangan, tidak dapat diperoleh melalui hasil wawancara baik dengan responden masyarakat maupun responden kunci. Jadi pemahaman akan diperoleh jika kita terlibat dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Jelaslah bahwa kami sangat yakin dengan judul makalah ini bahwa kekuatan bahasa akan mengandung sesuatu nilai berharga dalam rasa. karya dan karsa.

 

Epilog

Apa yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional di Rana Lalen dan hasilnya dianalisis dan diintepretasi dalam dunia modern. Jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas. Untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Pulau Buru seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan, misalnya kajian Bahasa Buru akan mendapatkan bentuk yang sempurna dalam Klinik Bahasa dari Kantor Bahasa Ambon.

Semoga ada manfaat dari diskusi kami yang sangat singkat ini.


[1]Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

FAKULTAS PERTANIAN DALAM POLA ILMIAH POKOK UNIVERSITAS PATTIMURA : BINA MULIA KE LAUTAN

LOGO-UNPATTI-2013

Fakultas Pertanian dalam Pola Ilmiah Pokok Universitas Pattimura[1] : BINA MULIA KE LAUTAN, oleh :

DR. Ir. Marcus Jozef Pattinama, DEA[2]

I. Pendahuluan

            Landasan berpikir yang hendak dikembangkan dalam tulisan ini adalah bagaimana sumbangan yang dapat diberikan oleh ilmu-ilmu pertanian dalam memberikan penguatan terhadap Pola Ilmiah Pokok Universitas Pattimura, yang pada gilirannya memberikan ciri dan identitas yang tepat terhadap arah pengembangan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon ke depan.

            Landasan berpikir inipun seharusnya tidak boleh terlepas jauh dari latar belakang sejarah lahirnya Unpatti, karena lembaga pendidikan tinggi ini lahir dari niat dan cita-cita yang tulus dari tokoh-tokoh masyarakat Maluku ketika itu, dimana mereka hanya mempunyai satu tekad saja yaitu agar di waktu mendatang anak cucu bumi Maluku bisa bersekolah mencapai level pendidikan yang lebih tinggi. Tahap yang berikutnya adalah memahami motto Unpatti Hotu Mese (= Maju bersama-sama).

            Dalam tulisan ini tidak diuraikan secara detail latar belakang sejarah dan motto dimaksud, kami hanya mau mengingatkan saja bahwa pada saat membicarakan suatu konsep baru yang memberi penguatan kepada lembaga penddikan tinggi ini seperti konsep Pola Ilmiah Pokok (PIP), Bina Mulia ke Lautan, maka seyogyanya rangkaian peristiwa sebelumnya harus turut dipertimbangkan. Sebagai universitas yang masih dikategorikan berkembang (=identik dengan negara berkembang) misalnya Unpatti, maka konsep pemikiran untuk memajukan lembaga ini selalu mendapat muatan energi yang sangat besar pada satu sisi, sedangkan di sisi yang lain berhadapan dengan sistem tata-laksana yang boleh dikatakan masih tradisional. Artinya bahwa akselerasi pemikiran akan sangat rentan sekali pada ide-ide pengembangan yang baru dimana ide tersebut selalu dibungkus dengan menggunakan terminologi yang juga baru, pada akhirnya patut diwaspadai. Akibatnya, bisa lebih menjauhkan kita dari spirit awal yang murni. Contohnya, Hotu Mese (Maju Bersama-sama). Pada tahap perkembangan selanjutnya dimana Unpatti menghadapi tantangan lingkungan sekitarnya, maka muncullah suatu ide untuk menafsirkan Hotu Mese yaitu « Maju Bersama-sama dalam Tantangan ». Pengamatan kami yang lebih jauh lagi adalah pada saat kita mengunjungi dunia maya (internet) dan membuka website Unpatti, maka di sana jelas tertera istilah yang lain lagi yakni Berkembang dalam Tantangan. Contoh yang lain, akhir-akhir ini juga ada pikiran lain yang sementara berkembang untuk menuliskan Bina Mulia Kelautan. Padahal penulis sangat yakin bahwa konsep yang ingin dikembangkan adalah Bina Mulia ke Lautan.

            Kata « kelautan » pada saat sekarang ini sementara « à la mode » atau « up to date » bahkan menjadi tema yang hangat untuk dibicarakan. Hal ini disebabkan Indonesia sebagai negara kepulauan, kemudian ada provinsi yang berciri kepulauan, namun kenyataannya belum mempunyai konsep yang mapan dan aplikatif dalam pengembangan potensi kelautan. Yang tersedia dan disajikan dalam berbagai kesempatan seminar hanyalah « wacana » : berupa konsep-konsep yang belum didasarkan pada suatu penelitian yang komprehensif ataupun suatu penelitian monografi. Contohnya, pada tataran nasional belum ada data yang akurat tentang jumlah pulau yang tersusun untuk merangkaikan wilayah nusantara ini. Laporan terakhir dari Dewan Keamanan PBB (Kompas, Agustus 2005) menunjukkan bahwa masih ada 10.000 pulau anonim di Indonesia. Untuk itu, badan Internasional tersebut mendesak Indonesia untuk segera memberi nama atas pulau-pulau tersebut, yang pada gilirannya dapat disebut sebagai bukti pemilikan yang sah dari Pemerintah Republik Indonesia. Pada tataran regional, Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara (sebagai dua provinsi kepulauan di kawasan timur Indonesia) juga menghadapi persoalan yang sama. Kenyataan menunjukkan bahwa data jumlah pulau di Provinsi Maluku pada suatu kesempatan Seminar akan berbeda dipaparkan pada setiap makalah yang disajikan. (Seminar Nasional BPTP Maluku di Ambon, 21-22 November 2005).

            Dengan demikian saya mau mengajak kita sekalian supaya kembali berpikir pada konsep yang asli, seperti tema kita pada forum yang resmi ini yaitu konsep Pola Ilmiah Pokok : Bina Mulia ke Lautan. Itu berarti bahwa Bina Mulia ke Lautan harus dimengerti dan dipahami secara utuh dengan tidak memberi bobot pada kata tertentu.

            Kemudian yang berikutnya saya ingin mengajukan pertanyaan : bagaimana hubungan filosofi antara motto Unpatti Hotu Mese dan konsep PIP Bina Mulia ke Lautan ? Apakah kedua konsep ini saling menjiwai ? Jika tidak, bagaimana kita mampu memaknai kedua filosofi yang berbeda ini. Jika sebaliknya, bagaimana kita memposisikan ciri dan identitas kita pada kedua konsep tersebut. Pertanyaan yang terakhir, apakah dengan motto belum cukup memberikan makna ilmiah kepada lembaga ini, lalu mengapa harus muncul lagi konsep PIP ?

            Maksud dari pertanyaan di atas adalah hanya ingin memberikan suatu catatan untuk mengingatkan kita sekalian, civitas akademika, dan tidak bermaksud untuk membuat suatu polemik terhadap konsep motto dan PIP yang sudah ada, dimana kedua konsep ini secara legal telah dikukuhkan dengan Surat Keputusan Rektor Unpatti[3]. Dengan demikian konsep filosofi dari motto dan PIP seyogyanya dipahami oleh seluruh civitas akademika sehingga dapat diimplementasikan dalam kerjasama ilmiah antar disiplin ilmu di Unpatti.

 

II. Bina Mulia ke Lautan

1. Catatan Literatur

            Pola Ilmiah Pokok adalah suatu falsafah pendidikan dan bukan merupakan suatu ilmu atau disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan pula bahwa PIP adalah suatu konsep inovasi yang mengandung orientasi dasar ilmiah dengan tujuan pengembangan dan kerjasama pendidikan tinggi.

            Tidak tersedia bahan bacaan yang cukup untuk membuat suatu kajian yang komprehensif tentang implementasi PIP. Kami mendapatkan hanya dua sumber bahan yang bisa digunakan sebagai materi penuntun dalam mengemukakan gagasan kami tentang bagaimana sumbangan Fakultas Pertanian dalam kebijakan implementasi PIP.

            Kedua sumber bahan dimaksud adalah :

  1. Makalah berjudul : Universitas Pattimura dan Pola Ilmiah Pokoknya, Dari Ide Menuju Implementasi (Suatu Pendekatan Strategis), oleh Drs. J.E. Sitanala, Januari 1987.
  2. Makalah berjudul : BINA MULIA KE LAUTAN, oleh Prof. Mr. Steven Munadjat Danusaputro, April 1988.

            Makalah Almarhum Drs. J.E. Sitanala (JES) yang ditulis 10 tahun setelah SK Rektor Unpatti N°20 tahun 1977 merupakan makalah pertama yang menulis tentang pokok pikiran bagaimana mengimplementasi PIP Unpatti. Dari makalah setebal 55 halaman, dapat kami membuat suatu catatan penting bahwa JES tidak pernah menyebut PIP Unpatti adalah Bina Mulia ke Lautan, artinya bahwa JES hanya menyebut bahwa PIP Unpatti adalah Pengembangan Ilmu dan Teknologi Kelautan (pada Kata Pengantar dan halaman 32).

            JES secara jelas sekali memaparkan latar belakang ditetapkannya PIP yang merupakan wujud realisasi dari Kebijaksanaan Pengembangan Pendidikan Tinggi Tahun 1975 oleh Mendikbud RI, kemudian oleh Dirjen Dikti pada tahun 1977 menetapkan Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPT-JP) yang didalamnya terkandung strategi penataan pendidikan tinggi nasional, diantaranya Orientasi Pengembangan dan PIP.

            Jika kembali lagi pada makalah JES, pada halaman 41a disajikan Pola Tatanan Peran Universitas Pattimura, yang menurut hemat kami adalah suatu ilustrasi yang sangat kompleks dan sangat sulit akan mengerti dalam waktu singkat. Namun demikian, JES telah menuangkan ide cemerlang untuk memprediksi begitu rumitnya rangkaian itu dalam pengembangan Unpatti ke depan.

            Pada halaman yang lain, 41b, dijumpai Pola Tatanan PIP Universitas Pattimura. Pada gambar dimaksud tidak dijumpai kata Bina Mulia ke Lautan sebagai PIP Unpatti. Walau begitu, JES sudah membagi peranan yang harus dimainkan oleh Fakultas yang berbasis kelautan dan interaksinya dengan fakultas berbasis non kelautan.

            Makalah JES lebih banyak mengulas langkah-langkah strategi yang harus dimainkan oleh Unpatti dalam mengimplementasi kebijakan Mendikbud melalui PIP. Dan pada halaman 43 dipaparkan bagian khusus berjudul ; Menuju Implementasi. Kami berpendapat bahwa beliau lebih banyak mengulas peranan dari Pengembangan Ilmu Kelautan dan Teknologi Kelautan. Pada bagian penutup (halaman 54), JES ingin mengingatkan kita begini : Cita-cita dan perjuangan kita untuk menegakkan dan mengembangkan PIP Unpatti adalah sesuatu yang berat tetapi juga ambisius dan dalam seluruh perjalanan kita akan menghadapi satu dari dua kemungkinan Unpatti Rules The Waves or Rules by The Waves. JES menutup makalah dengan mengatakan (mengutip kalimat dari ahli manajemen Corrigan) : There is no way standing still, you go either forward or backward. Kalimat penutup tertulis : Marilah Tantangan ini kita jawab dengan motto kita : Hotu Mese (Berkembang Dalam Tantangan). Dengan demikian menurut hemat kami bahwa Unpatti tetap saja menghadapi tantangan dan belum maksimal mencari jalan terbaik untuk menjawab tantangan itu hingga saat ini (19 tahun setelah makalah Almarhum Drs. J.E. Sitanala).

            Makalah Prof. Mr. Steven Munadjat Danusaputro (StMD), ditulis satu tahun setelah makalah JES yaitu April 1988. Kami mendapatkan ada dua makalah beliau dengan judul yang sama (BINA MULIA KE LAUTAN), dipresentasikan dalam dua kesempatan yang berbeda. Pertama, pada saat seminar jurusan Hukum Internasional Fakultas Hukum Unpatti tanggal 21-23 April 1988. Kedua, Seminar Hukum Internasional dan Hukum Tata Pengelolaan Lingkungan Laut dalam menyongsong Dies Natalis ke-25 Unpatti pada tanggal 27 April 1988.

            Makalah StMD ini diawali dengan suatu penjelasan bahwa beliau pertama kali menyentuh tema Bina Mulia ke Lautan pada tanggal 7-8 Februari 1982 untuk memberikan ceramah di Unpatti dalam program Penyebar-luasan Wawasan Nusantara atas inisiatif dari Kementerian Depdikbud dan upaya sosialisasi konvensi PBB tentang Hukum Laut.. Jadi tema ini sudah tiga kali beliau himbau dalam forum diskusi yang berbeda kepada civitas akademika Unpatti. Himbauan ini berkenaan dengan cita-cita beliau agar Unpatti yang harus menjadi pelopor pengembangan Era Kelautan Baru dan Era Kelautan Asia Pasifik di Kawasan Timur Indonesia. Namun himbauan ini tidak langsung dikaji secara serius oleh Unpatti pada masa itu.

            Pada tahun 1988, saat seminar menyongsong Dies Natalis Unpatti yang ke-25, Fakultas Hukum Unpatti kembali mengambil peran utama untuk mengundang kembali StMD untuk kesempatan yang keemat berbicara tentang tema Bina Mulia ke Lautan. Dengan demikian Fakultas Hukum kembali mengangkat tema : Bina Mulia ke Lautan, yang pada gilirannya diterima sebagai judul dari PIP Unpatti Ambon.

            Jika menelusuri alur berpikir dari StMD dalam makalahnya maka beliau memulai analisis dengan memaparkan latar belakang sejarah daerah Maluku sebagai Pulau Rempah-Rempah (The spices islands atau L’île des épices), dimana saat itu rempah-rempah mempunyai daya tarik yang identik dengan minyak bumi saat sekarang ini. Sejarah mencatat bahwa dari komoditi ini era penjajahan (masa kolonisasi) di bumi nusantara berawal dari bumi Maloko (=Maluku) oleh ekspedisi dagang Portugis. Saat berbicara tema ini, maka sejarah kita di Provinsi Maluku seyogyanya tidak dapat dipisahkan dengan Provinsi Maluku Utara (Sejarah kerajaan Raja Ampat : Ternate, Tobelo, Bacan dan Jailolo).

            Sosok imperialisme dan kapitalisme dengan cara menghancurkan secara sistematis tatanan social yang dimiliki oleh masyarakat pribumi kelihatannya sudah berlangsung sejak lama (contohnya: hongi cengkeh dan pala di bumi Kepulauan Maluku, kemudian politik tanam paksa dan kerja paksa untuk membangun perkebunan besar di Pulau Sumatera dan Jawa, serta politik perbudakan yang ekspansinya sampai ke Suriname, Madagaskar dan Pretoria). Dengan demikian imperialisme dan kapitalisme di abad modern ini hanyalah mengalami suatu proses metamosfosis yang tujuan akhir adalah sama seperti yang dilakukan berabad-abad yang lalu, caranya masih sama adalah menebar provokasi, lancarkan politik adu domba, menghancurkan, membunuh dan akhirnya menjajah: tujuannya menguasai sektor ekonomi rakyat. Bandingkan dengan politik invasi Amerika Serikat dan sekutu di kawasan Timur Tengah pada abad modern ini.

            StMD sebagai seorang Guru Besar hukum lingkungan dari Universitas Pajajaran Bandung sangat memahami betul bahwa pada saat membicarakan ide memuliakan lautan maka pemahamannya harus dimulai dari lingkungan darat. Oleh sebab itu beliau mengemukakan alur pikir dengan menerangkan ketertarikan Maluku oleh Rumphius saat melakukan eksplorasi Flora dan Fauna hingga kekayaan alam laut Maluku dengan mendiskripsikan potensi laut yang bisa tetap lestari jika potensi Flora dan Fauna dipelihara. Penguasaan ilmu secara interdisipliner yang dimiliki oleh Prof. StMD, mengantar beliau secara jernih mampu mengemukakan falsafah dari Bina Mulia ke Lautan.

 

2. Definisi Terminologi

            Arti setiap kata di bawah ini menurut J.S.Badudu dan Sutan Mohammad Zain (1996)[4]. :

- Bina       : mendirikan, membangun

                  : memelihara, mengembangkan dan menyempurnakan

- Mulia (Sansekerta), lawan arti adalah hina (Sansekerta).

                                                : tinggi (kedudukan, pangkat, jabatan)

                                                : bermutu (barang)

                                                : luhur (ucapan kepada nabi)

                                                : luhur (budi)

                                                : Yang Mulia (Duta Besar, Presiden)

- ke                                         : (kata depan) penunjuk arah ; pergi menuju

- Lautan                    : laut = kumpulan air asin yang luas sekali di permukaan bumi, memisahkan pulau dengan pulau, benua dengan benua.  Lautan adalah laut yang luas sekali, contoh :Lautan Pasifik (Lautan Teduh)  Lautan Atlantik

Sedangkan : Kelautan adalah gugusan (kumpulan) laut . artinya : hal-hal yang berhubungan dengan laut.

 

3. Makna Harfiah

            Dari definisi istilah kata di atas dapat dikemukakan bahwa bina (kata kerja), mulia (kata sifat), ke (kata depan) lautan (kata benda).

            Dengan demikian Bina Mulia ke Lautan adalah membangun sesuatu dengan penuh keluhuran menuju lautan.

 

4. Makna Filosofi

            Menurut Prof. Mr. Steven Munadjat Danusaputro, Bina Mulia ke Lautan didefinisikan sebagai Tata-bina Cintarasa untuk Memuliakan Lautan. Konsep ini dikemukakan dalam memasuki Era Kelautan Baru setelah Indonesia menerima konvensi PBB tentang Hukum Laut pada tahun 1982.

            Makna filosofi lain dari Bina Mulia ke Lautan adalah : Suatu tatanan yang berisikan pola pembinaan ke arah tumbuhnya cintarasa terhadap lautan dengan kesadaran dan penghayatan untuk senantiasa menjunjung tinggi dan memuliakan lautan dengan segala harta kekayaannya sebagai sumber kehidupan yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Manusia (Danusaputro, 1988, p.4).

 

5. Makna Aplikasi dari Sudut Pandang Fakultas Pertanian

            Dalam suatu forum diskusi untuk membahas makalah ini di Fakultas Pertanian, disepakati bahwa penulisan PIP haruslah pada konsep yang orisinal yaitu Bina Mulia ke Lautan, dengan makna falsafah adalah : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut. (lihat pula : Penuntun Pengembangan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, 2003, p.2).

            Fakultas Pertanian mencoba untuk mengembangkan pemikiran yang sangat sederhana dari PIP yaitu berdasarkan hubungan sebab-akibat. Pernyataan Berdiri di Darat bermakna pada pemahaman konsep ruang dimana seluruh aktifitas pertanian pada ekologi daratan, suatu ruang dimana manusia berpijak untuk hidup. Sedangkan pernyataan Memandang ke Laut artinya bukan sebatas memandang dengan alat indera penglihatan saja tetapi menunjukkan adanya konsep pembagian waktu yang penuh untuk meramu daerah daratan sehingga ruang dan ekologi laut tetap saja dipandang dari sudut kajian ruang dan ekologi daratan. Kami yakin bahwa jika Fakultas Pertanian merumuskan pernyataan Menyelam ke Laut pasti akan mempunyai makna filosofi yang berbeda. Itu berarti bahwa civitas akademika Fakultas Pertanian menyadari bahwa hanya Memandang ke Laut sehingga secara tegas pula ingin memberi batas kajian ilmu pertanian supaya tetap berada pada bingkai yang didefinisikan menurut ruang dan waktu pada daerah daratan. Pendefinisian ini berangkat dari pemahaman nyata dari masyarakat pertanian yang ada di Maluku dimana mereka mendiami hanya satu pulau besar (Seram) dan sisanya bermukim pada pulau kecil (< 10.000 km²).

            Seorang petani di Maluku selalu memangku dua profesi pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani yang mengolah ekologi daratan dan sebagai nelayan. Dengan demikian jika seorang petugas penyuluhan pertanian di suatu desa berhadapan dengan seorang petani dan pada kesempatan lain dimana meteri penyuluhan perikanan diberikan, maka penyuluh akan tetap berhadapan dengan orang yang sama. Profesi bivalen yang dimiliki oleh petani di Maluku yang memberikan inspirasi pada Fakultas Pertanian untuk merumuskan falsafah pembangunan pertanian di Maluku : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut.

            Kenyataan lainnya yang mendukung falsafah ini adalah dalam hal penguasaan tanah di Maluku. Studi yang mendalam tentang organisasi teritorial menunjukkan bahwa penguasaan tanah di Maluku mempunyai batas-batas yang hanya ditandai secara alami, misalnya gunung, air, tanitan, dan tanaman (pohon) tertentu, akibatnya luas daerah yang menjadi hak milik tidak bisa diukur secara akurat ditambah pula dengan hak petuanan yang bersifat komunal. Penguasaan tanah juga menjangkau dalam wilayah sungai yang mengalir dari sumbernya pada daerah pegunungan hingga bermuara pada wilayah lautan. Untuk wilayah ini pendefinisian pemilikan akan terukur pada batas akhir saat air laut surut (meti). Oleh karena itu pada surat resmi kepemilikan tanah yang diakui oleh Negara sebagai Surat Dati juga mencantumkan batas-batas kepemilikan wilayah yang dicatat berdasarkan terminologi vernakuler.

 

III. Konsep Pertanian di Maluku

            Dalam berbagai kesempatan pertemuan ilmiah baik yang diselenggarakan pada intern Fakultas Pertanian maupun pada ekstern di level regional dan nasional, Fakultas Pertanian telah menetapkan arah bahwa konsep pembangunan pertanian yang hendak dikembangkan di Provinsi Maluku adalah Konsep Pertanian Kepulauan.

            Secara objektif boleh dikatakan bahwa disatu sisi Fakultas Pertanian ingin mengembangkan konsep ini, namun pada sisi yang lain Fakultas Pertanian sendiri belum secara serius mengadakan kompilasi dari hasil penelitian dan kajian yang sudah dilakukan oleh para staf dosennya dalam berbagai acara ilmiah yang telah disajikan dalam bentuk makalah seminar, makalah orasi Dies Natalis Universitas dan konsep pidato pengukuhan Guru Besar. Kesemuanya itu boleh dikatakan telah memuat gagasan metodologi penelitian ilmiah yang dapat mendukung konsep Pertanian Kepulauan. Aplikasinya adalah merencanakan suatu metedologi penelitian yang seyogyanya mulai dicoba dalam penelitian-penelitian mahasiswa guna mengakhiri masa studi mereka. Akhirnya yang kita amati bahwa konsep Pertanian Kepulauan bisa dikatakan sebagai « wacana » saja. Pekerjaan berikutnya adalah belum lagi melakukan suatu pengkajian yang komprehensif tentang kedudukan konsep Fakultas Pertanian tersebut dalam Pola Ilmiah Pokok Universitas Pattimura. Yang ingin saya kemukakan disini adalah kita belum terlatih untuk secara tekun mengadakan kegiatan inventarisasi dan identifikasi terhadap seluruh materi kegiatan ilmiah di Fakultas Pertanian baik yang dilakukan dosen saat melaksanakan kegiatan penelitian, pengajaran dan pengabdian masyarakat maupun evaluasi ilmiah terhadap skripsi atau makalah yang ditulis oleh mahasiswa. Apakah semua kegiatan ilmiah dimaksud telah mendukung konsep falsafah PIP yang menurut Fakultas Pertanian : Berdiri di Darat dan Memandang ke Laut ?

            Konsep PIP Bina Mulia ke Lautan harus dipandang dari tiga konsep ruang dimana organisme hidup termasuk manusia memilihnya sebagai suatu habitat yaitu gunung, pantai dan laut. Ketiga ruang ini harus dilihat secara holistik. Jika kita mau membangun manusia, dalam hal ini memanusiakan manusia, maka harus dimulai dari habitat dimana manusia berada yaitu ruang yang memungkinkan manusia bisa berkarya sepanjang hidup dengan curahan waktu yang lama. Itu berarti manusia hanya bisa menggunakan ruang gunung dan pantai. Sedangkan ruang laut atau lautan adalah tempat hydroorganisma. Ruang laut tidak bisa menjadi pemukiman manusia dan lebih cenderung dijadikan sebagai ruang untuk menghidupi manusia, dimana kondisinya tidak bisa ramah sepanjang waktu. Dan kondisi yang ramah itu hanya bisa diketahui oleh manusia yang mengelolanya. Contohnya : pergerakan arah angin di darat akan menjadi indikator tentang kondisi lautan.

            Jepang dan Prancis pernah (=sekitar tahun 1980-an) melakukan riset untuk menguasai laut agar bisa dijadikan tempat pemukiman manusia, namun riset itu menghasilkan suatu kesimpulan yang sangat tidak ekonomis, biaya yang sangat mahal, atau dengan kata lain ruang laut tidak cocok untuk pemukiman manusia. Riset yang sama juga dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia untuk mempersiapkan suatu ruang pada planet selain bumi di ruang angkasa.

            Ruang gunung dan pantai yang harus menjadi sentral pembicaraan. Segala kegiatan manusia dalam ruang gunung dan pantai akan sangat mempengaruhi lautan. Untuk itu konsep berpikir sederhana dari Bina Mulia ke Lautan sebenarnya adalah tindakan pelestarian pada ruang gunung dan pantai harus dilakukan untuk melindungi kehidupan habitat laut yang hidup pada ruangnya.

            Konsep PIP yang ingin diimplementasikan jangan dilihat dari keunggulan sektoral apalagi ada kecenderungan arogan akan pentingnya satu sektor pada satu sisi dan di sisi lain sektor lain hanya sebagai pelengkap jika diperlukan seperti yang selama ini menjadi model pembangunan yang kita anut dalam Negara Indonesia.

            Saya mengajak kita semua untuk mari kita belajar dari konsep yang dikembangkan oleh masyarakat tradisional yang hidup di Pulau Buru. Orang Bupolo atau orang Buru melihat ruang gunung, pantai dan laut adalah sesuatu yang utuh (holistik). Latar belakang berpikir mereka sangat sederhana sekali : danau Rana adalah tempat hidup morea (Anguilla marmorata), kemudian sungai Waenibe adalah satu-satunya sungai yang keluar dari Danau Rana dan bermuara di laut bagian utara Pulau Buru. Sungai Waenibe di daerah pantai adalah sungai yang memisahkan dua desa yaitu Waekose dan Waenibe. Sungai Waenibe mengitari daerah pegunungan dan bermuara di pantai sekaligus juga sebagai sumber air minum pada pemukiman yang ada di sepanjang bentangan gunung hingga pesisir pantai.

            Orang Bupolo sangat yakin bahwa hingga saat ini morea besar itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat. Danau seluas 75 Km² ini terdapat banyak sekali morea dan pada akhir panen kacang tanah mereka melakukan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe. Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing (mloko hat stefo) sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut peneliti Prancis, Keith Philippe, cs (1999)[5] bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Menariknya bahwa setelah reproduksi maka morea dewasa akan mati di laut Fiji dan larvanya akan kembali lagi ke habitat asal di Danau Rana dengan perjalanan lebih dari dua tahun. Ini proses hidup yang berlangsung sepanjang tahun dan sepanjang masa. Secara tradisional orang Buru mengenalnya, untuk itu tindakan melindungi ruang itu harus dijaga dan diatur dengan norma adat.

            Konsep pertanian masyarakat yang sudah kita kenal adalah sistem pertanian campuran antara tanaman hutan (buahan – non buah) dan tanaman pertanian (pangan dan hortikultura). Model ini yang kita sebut sebagai dusung (Pulau Ambon dan Lease), lusun (Pulau Seram), wasilalen (Pulau Buru) dan atuvun (Pulau Kei). Model ini merupakan model yang cocok secara ekologi dan merupakan penyanggah bagi kawasan pegunungan dari bahaya erosi. Jika dibayangkan apabila kita menganjurkan petani di Maluku untuk merubah pola usahatani dari tanaman campuran antara tanaman hutan dan tanaman pertanian ke pola usahatani tanaman pangan bahkan mengarah pada komoditi monokultur, maka untuk daerah kepulauan dengan komposisi tanah yang sangat labil akan sangat berbahaya bagi keselamatan manusia di dalam pulau tersebut. Pengaruh yang luas juga bisa sampai pada pendangkalan daerah tepi pantai, rusaknya tanaman daerah pantai (=mangrove) dan rusaknya daerah terumbu karang.

            Kerusakan ekosistem daerah pantai akan memberi dampak pada siklus hidup plankton dan jenis biota laut lainnya. Tentunya tindakan merubah ekologi daerah pegunungan akan memberikan indikasi bahwa nilai cinta-rasa memuliakan lautan sudah pudar. Amati dan bandingkan dengan tindakan « illegal logging » saat ini, akibatnya ekosistem daerah pegunungan sangat cepat berubah.

 

IV. Implementasi PIP

            Jika kita berbicara implementasi PIP di Unpatti, maka yang harus diperhatikan adalah adanya pemahaman yang baik tentang konsep PIP Bina Mulia ke Lautan bagi seluruh elemen Unpatti dan tentu implementasinya menjadi wewenang penuh pada tiap Fakultas.

            Untuk menuju pada implementasi, maka ingin saya katakan bahwa sebenarnya Fakultas Pertanian telah merumuskan konsep implementasi dari PIP Unpatti seperti yang saya uraikan dalam bagian II.5 Makna Aplikasi dari Sudut Pandang Fakultas Pertanian dan bagian III Konsep Pertanian di Maluku. Bagi saya sebenarnya bagian itu masih pada tataran konsep sedangkan yang ingin saya kemukakan berikut ini adalah implementasi yang harus terukur dalam kegiatan akademis Fakultas Pertanian. Untuk itu langkah awal yang ingin saya sampaikan adalah tentang profil Fakultas Pertanian.

            Fakultas Pertanian adalah bagian integral dari pendidikan tinggi nasional dan khususnya Pendidikan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian di Indonesia, melandasi seluruh pengembangan akademisnya pada tujuan dasar pendidikan tinggi dan dengan profesonalisme bidang kehutanan, bidang peternakan dan bidang pertanian.

            Fakultas Pertanian menyelenggarakan tiga bidang ilmu pertanian dengan status kelembagaan sebagai berikut :

 

  1. Jurusan Kehutanan membawahi tiga (3) Program Studi : Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Teknologi Hasil Hutan.
  2. Jurusan Peternakan membawahi dua (2) Program Studi : Produksi Ternak dan Makanan Ternak. Saat ini untuk program KBK, Jurusan Peternakan hanya mengembangkan satu Program Studi : Ilmu Ternak.
  3. Jurusan Budidaya Pertanian membawahi lima (5) Program Studi : Agronomi, Hama Penyakit Tanaman, Tanah, Sosial Ekonomi Pertanian, dan Teknologi Hasil Pertanian.

 

            Ketiga Jurusan ini harus selalu mengevaluasi diri untuk menyelaraskan kurikulum pendidikannya dengan realita kehidupan masyarakat yang terus berkembang dan berubah, serta tanggap terhadap dinamika pembangunan baik pada level lokal, regional maupun internasional. Untuk itu Fakultas Pertanian Unpatti harus dilihat dalam bentuk abstrak pohon ilmu yang mempunyai tiga akar yaitu :

 

(i)                 ilmu yang berkaitan dengan sumberdaya alam dan hayati

(ii)               ilmu yang berkaitan dengan sumberdaya manusia

(iii)             ilmu yang berkaitan dengan lingkungan biofisik.

 

Dengan demikian ketiga jurusan pada Fakultas Pertanian perlu dilihat sebagai batang ilmu atau disebut juga bidang ilmu dan bukan sebagai cabang ilmu, walaupun status kelembagaan adalah jurusan, karena ilmu yang dicirikan oleh kurikulum inti sama dengan batang ilmu yang dicirikannya dan penyebutan gelar kesarjanaannya sesuai dengan batang ilmu yaitu : Sarjana Pertanian (S.P) untuk Jurusan Budidaya Pertanian, Sarjana Kehutanan untuk Jurusan Kehutanan (S.Hut) dan Sarjana Peternakan (S.Pt) untuk Jurusan Peternakan.

            Program Studi pada Fakultas Pertanian Unpatti jangan dilihat dalam arti sempit yaitu status kelembagaan. Sesungguhnya Program Studi yang menyelenggarakan cabang ilmu yang mencirikan namanya, sehingga perlu dilihat dalam konteks keilmuan walaupun status kelembagaannya adalah program studi.

            Fakultas Pertanian sebagai lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi seyogyanya berperan aktif :

(1)    Dalam bidang penelitian dan pengabdian sebagai upaya menguasai, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kehutanan, peternaka dan pertanian.

(2)    Memberikan solusi bagi masyarakat pulau/gugus pulau, maupun pemerintah daerah serta lembaga swasta dalam memecahkan berbagai masalah menyangkut pemanfaatan lahan pulau atau gugus pulau dengan tetap mempertahankan kelestarian kawasan.

(3)    Memberdayakan sumberdaya manusia kepulauan untuk dapat mengembangkan kemampuan diri di dalam mengelola sumberdaya lingkungan yang ada sehingga terbangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat sebagai konsumen terhadap produk yang dihasilkan.

 

            Setelah pemaparan profil Fakultas Pertanian seperti yang diuraikan di atas, maka implementasi PIP akan terukur dalam penerapan kurikulum yang dikembangkan oleh Fakultas Pertanian, sehingga pada bagian ini hanya kami sebutkan beberapa kelompok mata kuliah yang telah ditetapkan oleh Fakultas Pertanian dalam mendukung konsep falsafah PIP maupun konsep model Pertanian di Maluku. Itu bukan berarti bahwa mata kuliah yang lain sama sekali tidak mendukung konsep di atas, kenyataan membuktikan bahwa setiap dosen yang mengasuh mata kuliah kurikulum inti dan mata kuliah kurikulum institusional serta persiapan penerapan kurikulum berbasis kompetensi, dalam berinteraksi dengan mahasiswa saat proses perkuliahan berlangsung, para dosen telah melakukan upaya maksimal untuk mendekatkan mahasiswa pada kenyataan lapangan di daerah ini dan komparasi dengan kasus lainnya pada level regional antar kabupaten/kota, nasional maupun internasional. Sebagai contoh dalam Mata Kuliah Wajib Nasional diambil dua mata kuliah saja seperti : m.k. Ilmu Alamiah Dasar dan m.k. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Kedua mata kuliah ini telah menumbuhkan benih kecintaan pada masalah sosial dan budaya serta memberikan bekal kepada mahasiswa dalam membentuk konstruksi berpikir yang berorintasi ciri khas daerah secara nasional maupun regional.

            Mata kuliah lainnya yang berciri khas wilayah diantaranya adalah mata kuliah Ekologi Kepulauan dan mata kuliah agroforestry. Istilah agroforestry sebenarnya bermakna pada model pertanian dusung.

            Walaupun dalam makalah ini secara detail tidak kami cantumkan mata kuliah dengan sistem penyusunan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dimana dengan pemaparan perangkat teknis tersebut akan lebih mudah dipahami arah dan kebijakan sistem pengajaran yang berlaku sehingga telah terukur melaksanakan PIP ataupun konsep Pertanian Kepulauan. Seperti yang kami sebutkan di atas bahwa para dosen dengan segala kompetensi dan kemampuannya telah berupaya untuk mendekatkan mahasiswa pada permasalahan sekitar lingkungan mereka sehingga diharapkan adanya kemampuan analisis terhadap situasi nyata.

            Sebelum menutup uraian pada bagian ini kami sampaikan bahwa selain kegiatan rutin kuliah yang adalah pengajaran teori di kelas, maka Fakultas Pertanian dengan tiga jurusannya juga melaksanakan kegiatan akademis lainnya seperti Praktikum, Praktek Lapangan/Praktek Umum, Diskusi Interdisipliner antar dosen dengan melibatkan mahasiswa, seminar rutin mahasiswa, dan Praktek Kerja Lapangan. Kegiatan-kegiatan dimaksud pada waktu mendatang bisa dikelola dengan baik sehingga pada saatnya nanti kegiatan-kegiatan ilmiah seperti ini bisa diarahkan menurut tema kegiatan dalam upaya memecahkan masalah pembangunan pertanian di daearah Provinsi Maluku dan masalah umum kemasyarakatan yang terkait langsung dengan sektor Pertanian, karena harus dipahami bahwa masalah kekurangan gizi, penyebaran penyakit fatal dan kemiskinan yang kronis, kesemuanya ini benar-benar suatu ironi mengingat semua anomali kehidupan berbangsa tersebut terjadi pada sektor pertanian.

            Tentunya lokakarya ini merupakan awal diskusi interdisipliner. Sekali lokakarya belum cukup untuk mendapatkan hasil yang baik dan diharapkan akan dilanjutkan secara reguler hingga akan menghasilkan suatu pemahaman yang baik tentang falsafah motto Universitas Pattimura, falsafah PIP Bina Mulia ke Lautan dan hal yang sangat penting dikerjakan segera adalah program implementasi dari seluruh kesepakatan yang dihasilkan dalam lokakarya ini.


[1] Makalah Fakultas Pertanian disampaikan pada Lokakarya Implementasi Pola Ilmiah Pokok (PIP) Universitas Pattimura Ambon, 24-25 Februari 2006.

[2] Ethnobotanist dan Staf Pengajar Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unpatti.

[3] Surat Keputusan Rektor UNPATTI N°20 tahun 1977 yang mengukuhkan Pola Ilmiah Pokok Unpatti yaitu Pengembangan Ilmu dan Teknologi Kelautan (Ilmu-ilmu Kelautan, Marine Sciences).

[4]Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1646p.

[5]KEITH Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.