Tag Archive for LA MAIN Á LA PÄTE

LA MAIN Á LA PÄTE SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN INSTITUSI INTERNASIONAL

LA MAIN Á LA PÄTE

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA[1]

 Prolog

La Main à la pâte adalah suatu konsep pengembangan ilmu pendidikan berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan dari pendidikan pada level sekolah dasar dan perguruan tinggi. La Main à la pâte sangat sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tetapi secara umum dapat disebut sebagai “TANGAN DALAM ADONAN”.

La Main à la pâte adalah konsep yang memiliki filosofi yang sangat tinggi yang dibangun pada tahun 1996 oleh Georges CHARPAK, pemenang Nobel Fisika dari Prancis. Kemudian tahun 2012 ditetapkan sebagai landasan kerjasama ilmiah oleh institusi teknik yang bergengsi di Prancis seperti  Ecole Normale Superieure de Paris dan École Normale Supérieure de Lyon. Selanjutnya La Main à la pâte telah menjadi suatu yayasan yang punya pengaruh di Perancis dan di dunia.

Siapa Georges CHARPAK ?

Georges-Charpak

Lahir pada tahun 1924 di Ukraina, Georges Charpak tiba di Perancis dengan orang tuanya pada usia 7 tahun. Kemudian dia harus cepat belajar bahasa Prancis yang akan menjadi lidah baru baginya. Oleh karenanya dia selalu merasa berhutang budi kepada sekolah yang mendidik dia. Sebagai seorang mahasiswa brilian, ia membahas pendidikan tinggi pada saat perang. Bergabung dengan Perlawanan, ia ditangkap dan dideportasi dengan nama palsu Charpentier ke kamp konsentrasi Dachau.

Setelah dibebaskan pada tahun 1945 ia memasuki Ecole des Mines de Paris dan kemudian bekerja sebagai peneliti pada laboratorium fisika nuklir Frédéric Joliot-Curie. Setelah itu dia tertarik dengan fisika partikel elementer, mengantarnya untuk bergabung CERN (le Centre Européen de Recherche Nucléaire), Pusat Riset Nuklir Eropa yang berkedudukan di Jenewa. Tahun 1992 Georges CHARPAK adalah pemenang Penghargaan Nobel dalam Fisika. Tahun1996 mempopulerkan konsep la Main à la pâte untuk melawan kegagalan akademis dan kekerasan di lingkungan miskin. Tahun 2010 Georges CHARPAK meninggal dunia.

 

Manusia Prancis dan Ilmu Pengetahuan

Kami cenderung melihat sesuatu dari dasarnya dalam hubungan kerjasama yaitu manusia seutuhnya sebagai sumbernya. Kami tidak ingin membandingkan antara manusia Prancis dan manusia Indonesia, tetapi ingin mensejajarkan kedua manusia dan budaya tersebut, sehingga dapat terlihat bagaimana kita sampai pada hubungan yang ada sekarang.

Manusianya kami lihat dari segi pembentukannya melalui pendidikan formal (modern) yang terutama mendasari sikap pikir dan pandangnya dalam ilmu pengetahuanya itu. Pendidikan manusia Prancis bertumpu pada ajaran Descartes (lihat : Discours de la méthode) ; dimana akal budi adalah alat yang dipakai untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah, berarti mencari apa yang sebenarnya, sehingga manusia itu mendapat keyakinan penuh dari apa yang disimak di luar dirinya. Mereka dididik untuk menemukan sendiri, sehingga mencapai keyakinan yang kokoh atas kebenaran objek yang disimak. Dengan kata lain tiap manusia itu yakin akan kebenaran pandangannya. Demikianlah dikenal ungkapan “autant de têtes, autant d’avis”.

Oleh karena itu mulai dari bangku sekolah mereka sudah dilatih untuk mengembangkan observasi, menganalisis apa yang diamati untuk menilai kebenarannya (l’objet des etudes doit être de diriger l’esprit jusqu’à le rendre capable d’énoncer des jugements solides et vrais sur tout ce qui se présente à lui). Mereka selalu mempertanyakan « kenapa dan bagaimana » (le pourquoi et le comment) untuk meyakinkan kebenaran pandangannya. Maka dapatlah dimengerti bila pada umumnya mereka kurang terbuka dalam arti bahwa kebenaran pandangannya menjadi keyakinannya yang akan dipegang teguh sampai ada pembuktian lain yang menunjukkan ketidakbenarannya.

Di sini dapat dilihat bahwa ide atau pendapatlah yang dikembangkan dan dihargai. Selain itu cara pemaparan penalarannya pun harus jelas dan beruntun dalam hubungan sebab akibat. Oleh karena itu penilaian dan ide yang tepat dan bersifat subjektif itu menjadi ukuran keunggulan seseorang. Perdebatan pendapat dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi manusia Prancis itu. Seseorang yang tidak mengemukakan pendapat tidak menarik. Ide orisinal selalu dicari. Ini tampak dalam pencarian mereka atas dasar ingin tahu akan hal-hal yang khas, istimewa, atau tidak umum. Wajar pula bila mereka memupuk pengetahuan yang luas dan ungkapan « memiliki kepala yang penuh pengetahuan » menjadi tujuan manusia yang berpendidikan. Dan pengetahuan yang didapat berdasarkan rasa ingin tahuakan apa yang ada di luar dirinya itu berarti hasil dari hubungan antara subjek dan objek, Manusia yang demikian akan selalu melihat apa yang di luar dirinya.

Dengan sikap pandang tersebut, kami melihat bahwa selama mereka berada dalam konteks dunianya, terutama bila objeknya dari duania Prancis sendiri, tidak kami rasa ada keganjilan pada pandangan mereka. Keganjilan itu akan timbul bila objek pandangnya adalah fenomena Indonesia atau dari budaya “asing”. Maka pandangan mereka kurang mengena (sebenarnya adalah fenomena universal).

Pertanyaan lain timbul, bagaimana dampak tulisan mereka yang menjadi acuan bagi mereka yang belum mengenal realitasnya ? Pemaparan yang disampaikan dengan nada yang meyakinkan sikap yang tertanam pada manusianya akan mudah diterima sebagai kebenaran realitas objeknya. Terlebih lagi pakar dianggap sebagai orang yang memahami objeknya. Bagaimanapun para pakar itu sedikit banyak menyadari bahwa pandangan mereka itu suatu interpretasi.

 

Manusia Indonesia dan Ilmu Pengetahuan

Dalam mengenal lahan Indonesia dimana tumbuh ilmu pengetahuan modern ini, kita menyadari bahwa suatu sistem budaya tradisional dan modern berjalan bersama dan ilmu pengetahuan itu di sini tumbuh di atas akar budaya tradisional tersebut.

Bagaimana akar budaya tradisional ini ? Sebenarnya sudah kita pahami bahwa ilmu yang tumbuhdari akar tradisional ini berbeda. Ilmu di sini merupakan ajaran hidup dan menuntun manusia untuk menjadi “manusia utama”. Di sini ilmu tidak dipelajari sebagai pengetahuan yang didasari oleh rasa ingin tahu, tetapi harus diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi memang tidak dapat disebut ilmu pengetahuan. Dalam ilmu ini manusianya dituntun untuk menyimak ke dalam dirinya dan meresapi apa yang ada di luar dirinya tanpa memberi pendapat. Sedang yang disebut manusia itu adalah manusia seutuhnya yaitu lahir dan batin. Sikap pandangnya pun menyeluruh (Global) dan manusia itu sendiri adalah bagian dari alam raya ini.

Dengan demikian mereka ini tidak didorong untuk mengemukakan pandangan atau ide mereka, perdebatan pun tidak mudah timbul. Mereka lebih cenderung mengikuti sikap seperti dalam ungkapan ilmu padi : makin berisi makin merunduk. Diam adalah sikap “manusia utama”, manusia yang sempurna lahir batin. Pendidikan tradisonal menuntun manusianya manuju sikap tersebut.

Ilmu pengetahuan yang kemudian tumbuh di atas lahan tradisional ini tentu tidak berproses sama seperti pada lahan aslinya. Dengan masuknya pendidikan BARAT kadar unsur tradisional dalam diri manusianya memudar tergantung dari penyerapan modern tersebut. Akan tetapi sadar atau tidak, unsur-unsur tradisional itu tidak akan lenyap dan pada kondisi tertentu akan muncul juga.

 

Strategi Membangun Kerjasama

Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Orang lain akan menutupi kelemahan atau menambah kekuatan kita. Namun untuk membangun hubungan kerjasama apalagi kerjasama internasional dengan pihak lain bukanlah perkara mudah. Tidak jarang kita gagal membangun hubungan karena kita tidak siap.

Berikut ini beberapa cara membangun hubungan kerjasama dengan pihak lain berdasarkan pengelaman kami :

1.Tentukan Tujuan

Tentukan dengan jelas mengapa harus bekerjasama. Apa yang bisa didapatkan? Apa yang bisa diberikan? Saat kita bisa menjawab pertanyaan ini, maka kita bisa mencari pihak yang tepat untuk diajak kerjasama. Hal ini akan membuat kita lebih efektif dan fokus pada tujuan dari kerjasama dimaksud.

2.Siapkan Profil

Siapkan beberapa materi tentang institusi ini. gali latar belakangnya dan buat menjadi sebuah cerita (atau organisasi yang dimiliki). temukan hal-hal menarik. Pihak luar biasanya menyukai cerita. Hal ini cukup menarik ketika kita mulai menceritakan “Unpatti itu siapa” (diskripsi diri).

3.Buat Kesan Positif

“Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda” begitu kiranya sebuah tagline sebuah brand terkenal. Kesan pertama memang sangat penting. Banyak orang tidak punya banyak waktu. Berikan kesan positif yang apa adanya. Jangan berlebih-lebihan. Hal ini bisa merusak hubungan dikemudian hari.

4.Fokus pada Kualitas bukan Kuantitas

Kita boleh membuat sebanyak mungkin jaringan kerjasama. Namun kita harus bisa memlih prioritas mana yang bisa kita bangun kualitas hubungannya. Cari yang benar-benar kita butuhkan dan memberikan manfaat lebih banyak. Sesuaikan juga dengan kondisi Unpatti yang sebenarnya.

5.Hargai Pendapat dan Kebiasaan

Setiap orang (atau organisasi) mempunyai kebiasaan dan budaya sendiri. Hargai pendapat atau kebiasaan pihak yang diajak untuk bekerjasama. Jangan pernah membandingkan dengan orang atau organisasi lain yang kita anggap lebih baik. Sadarilah setiap orang atau organisasi mempunyai keunikan sendiri.

6.Tunjukkan Antusiasme

Tunjukan bahwa kita sangat senang bisa mengenal orang atau institusi yang diajak untuk bekerjasama. Lakukan dengan TULUS. Cobalah untuk memahami dan mengenal mereka secara mendalam lebih dahulu. Orang akan lebih senang bila orang lain mengenal dan mau memahami mereka.

7.Tawarkan Bantuan

Jangan ragu untuk menawarkan bantuan. Jika Unpatti memang merasa sanggup untuk membantu, mengapa harus menunggu sampai pihak yang diajak kerjasama meminta? Bersikaplah proaktif. Bantuan yang kita berikan pasti kembali pada generasi berikutnya di suatu saat nanti.

Epilog

Apa yang kami sampaikan di atas ini diperoleh selama perjalanan hidup kami menapak dunia tradisional dan modern, jadi kami berada pada dunia transisi. Dengan demikian sangat sulit untuk kami bisa bereaksi sesuai dengan keinginan dua dunia sebagai realitas, untuk itu kami hanya bisa sarankan bahwa dunia pendidikan di Indonesia seyogyanya dibangun dengan sangat serius agar transformasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung sebagaimana pada lahan aslinya. Dalam pandangan kami, seminar sehari ini ingin Unpatti menuju pada kelas internasional maka yang bisa kami katakan adalah pikiran itu akan bermuara pada :

  • Pemerian pengalaman pribadi
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek pada objeknya
  • Pandangan yang diberikan oleh subjek yang berada sekaligus dalam objeknya, dengan memakai disiplin ilmu yang mengharuskan keluar dan berdiri di luar objeknya.

 

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi LA MAIN Á LA PÄTE di Warung Prancis (French Corner) Universitas Pattimura Ambon, 12 April 2017.


[1] Guru Besar Ekologi Manusia UNPATTI Ambon