Tag Archive for MUA LALEN

MUA LALEN DAN ORGANISASI TERITORIAL MENURUT KONSEP GEBA BUPOLO

Orang Buru

Oleh :

Max Marcus J. PATTINAMA

Profesor Etnoekologi

ABSTRACT

Geba Bupolo are autochtone of the Buru island. The forest area is a great house for Geba Bupolo (Bupolo people). This view gives meaning also that the forest is an area that has an owner. Hunting activities are taking forest products and also fought against evil spirits which dwell in the forest. So the forest is a sacred area and the full value of sanctity. To understand the Bupolo people, I should start from how we understand the way they divide their life space in association with the environment, namely by understanding the territorial organization of the Bupolo. This understanding will then give a good direction to the understanding of their social organization. Complex division of space in Bupolo people’s lives is something interesting to study.  Ethnobotany approach is one of the most suitable methods to be used to describe to complexity. This paper attempts to describe how the Bupolo people in Buru Island, Maluku Province, organize their territory and life spaces.

Key words : Bupolo, Buru Island, Forest, Territorial organization, Ethnobotany

 

1.Prolog

Perkenankan saya untuk mempresentasekan makalah saya dengan judul : Mua Lalen dan Organisasi Teritorial menurut Konsep Geba Bupolo dalam forum lokakarya yang dilaksanakan oleh CIFOR dan UNPATTI di Kota Namlea pada tanggal 21 November 2016. Sering terjadi ketidakcocokan antara Geba Bupolo yang menyatakan diri sebagai penduduk asli (autokton) Pulau Buru dengan para pendatang (alokton) dimana alokton belum paham atau mungkin secara sengaja tidak mau memahami adat dan budaya Geba Bupolo. Ada juga yang mengatakan bahwa para peneliti dan ilmuwan juga turut memberikan andil dalam memelihara ketidakcocokan ini, akibat dari hasil riset atau sintesis pengamatan tidak diinformasikan secara meluas di kalangan masyarakat umum. Saya yakin sungguh bahwa tidak ada kata terlambat untuk mau memahami adat dan budaya manusia, karena tema ini memang sangat menarik untuk didiskusikan.

Wilayah hutan (mua lalen) yang berada disekitar kehidupan Geba Bupolo adalah rumah besar dimana wilayah dimaksud adalah tempat mereka berteduh dan mengelola kehidupan di masa lalu dan masa depan. Kemudian untuk memasuki rumah besar tersebut telah ada siklus waktu yang sudah ditetapkan dan harus mendapat izin dari pemangku adat.

Lokakarya ini akan berujung untuk menghasilkan suatu konsep pemahaman Geba Bupolo, sehingga diharapkan program Pemerintah Kabupaten Buru akan bersinergi dengan kajian yang dibuat oleh CIFOR dan UNPATTI atau sebaliknya dimana manfaat positif dan dampak langsung akan diperoleh masyarakat Pulau Buru pada umumnya. Masalah lahan atau tanah adalah masalah semua manusia sehingga penyelesaian hak atas lahan atau tanah harus diselesaikan secara kemanusiaan menurut tatanan adat dan budaya Pulau Buru.

Pulau Buru sejak dahulu hanya dikenal sebagai tempat penampungan tahanan politik dimana ketika itu ditetapkan oleh rezim Presiden Suharto, “Orde Baru”. Selain itu Pulau Buru adalah pulau yang memproduksikan minyak kayu putih, yaitu suatu minyak yang diekstraksi dari daun pohon yang bernama kayu putih (Melaleuca leucadendron), spesies dari famili Myrtaceae. Selain hamparan tanaman kayu putih, maka saat ini Pulau Buru juga menjadi daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai lumbung pangan nasional mengingat sebagian besar wilayah Kayeli ditemui hamparan sawah yang dibangun selama periode tahun 1969-1979 oleh para tahanan politik dengan sistem kerja paksa. Kegiatan yang berikutnya adalah ternyata areal hutan Pulau Buru ditetapkan sebagai wilayah konsesi pertama untuk eksploitasi hutan secara besar-besaran melalui sistem HPH.

 

2. INFORMASI SINGKAT PULAU BURU

Pulau Buru (seluas 12.656 Km²) dalam skala nasional disebut sebagai pulau sedang[1], namun dalam gugusan Kepulauan Maluku tergolong pulau besar setelah Pulau Seram. Reformasi di Indonesia tahun 1998 telah memberi dampak bagi berkembangnya wilayah Pulau Buru menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Buru dimekarkan tahun 1999 dan Kabupaten Buru Selatan tahun 2008. Secara otomatis pembagian kabupaten membelah wilayah Pulau Buru menjadi dua dengan perbandingan luas menurut catatan dari data BPS Maluku (2015) adalah Kabupaten Buru seluas 7.596 Km² dan Kabupaten Buru Selatan 5.060 Km².

Sebelum dimekarkan pulau Buru terdiri atas tiga kecamatan di bawah administrasi kabupaten Maluku Tengah. Sedangkan di era reformasi terdapat sepuluh kecamatan masing-masing 10 kecamatan di, Kabupaten Buru dan 6 (enam) kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Jika menyusuri pantai utara atau selatan Pulau Buru, ada kesan pulau ini sangat gersang dan didominasi susunan batuan atau karang. Di bagian Utara, terdapat padang savana dengan formasi tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae). Padahal di ruang bagian tengah (pusat) dari pulau ini  terdapat kawasan hutan primer dan sekunder yang luas. Formasi ekologi ini menjadi daya tarik bagi pengusaha hutan khususnya pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk melakukan operasi penebangan pohon khususnya pada jenis Shorea sp., Eucalyptosis sp., dan Castanopsis buruana, sedangkan jenis pohon Agathis sp.ditetapkan sebagai tanaman konservasi, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih terdapat penebangan liar.

 

3. DISKRIPSI PENDUDUK OLEH GEBA BUPOLO

Diantara penduduk yang tinggal di Pulau Buru, dapat dibedakan antara penduduk asli (Geba Bupolo) yang hidup di daerah pegunungan dan penduduk pendatang (Geba Misnit) yang hidup di daerah pesisir pantai. Saat ini jumlah Geba Misnit relatif lebih banyak dari Geba Bupolo. Baik pendatang (alokton) maupun penduduk asli (autokton) selalu menyatakan diri sebagai orang Buru.

Tercatat 36 noro yang menguasai wilayah utara (Lisaboli Lisela) dan 21 noro di selatan (Masa Meserete). Kesatuan hidup tingkat pertama dari orang Bupolo adalah noro atau soa. Masing-masing soa/noro mempunyai dua nama. Yang satu, noro dipakai dalam pergaulan internal sedangkan yang lain, adalah leit yang dipakai dalam pergaulan ekternal. Leit setara dengan istilah fam atau marga. Contohnya Waekolo adalah nama noro/soa sedangkan nama leit adalah Waemese, juga noro Gebrihi dengan leit Lesbasa dan noro Wanhedan dengan leit Latuwael. Kesatuan hidup tingkat kedua didalam noro adalah bialahin. Tercatat Noro/soa di Buru memiliki antara dua sampai sembilan bialahin. Bialahin berarti pohon sagu.

Geba Fuka adalah Geba Bupolo yang mendiami daerah pegunungan. Geba Fuka Unen adalah mereka yang hidup di sentral pulau, yaitu tinggal disekitar Danau Rana dan Gunung Date. Yang tinggal di lereng-lereng gunung menamakan diri Geba Fuka Fafan. Sedangkan Geba Masin adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai karena dahulu mengikuti program Departemen sosial untuk pemukiman kembali (program pemukiman masyarakat terasing). Berkat program ini maka Geba Bupolo bisa hidup bersosialisasi dengan masyarakat alokton.

Penduduk alokton (Geba misnit) terdiri dari berbagai macam suku dan diantara mereka telah mendiami pulau Buru beratus tahun yang lampau, misalnya Arab dan Cina. Kedua suku bangsa ini mendiami pulau Buru karena perdagangan minyak kayu putih dan damar. Kemudian suku Buton pun telah berdiam di pulau ini sejak awal sejarah perdagangan antar pulau di daerah ini. Sultan Ternate menempatkan orang Sula dan Sanana di pantai utara Pulau Buru untuk menanam komoditi kelapa. Pulau ini ternyata makin menarik bagi pendududk alokton lainnya.

 

4. DUNIA KOSMOLOGI GEBA BUPOLO

Tempat pemukiman Orang Bupolo umumnya menempati areal yang terisolir. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah mengapa mereka mengambil keputusan untuk tetap hidup terisolir pada wilayah yang sangat sulit dijangkau oleh orang luar? Apakah mereka sengaja menghindar dari arus modernisasi ataukah mereka merasa tidak mampu berkompetisi dengan orang luar? Sejumlah pertanyaan sejenis bisa dikemukakan dan pada saat pertanyaan diajukan berdasarkan arus pikir yang berbeda dengan mereka maka disitulah letak perbedaan persepsi dalam cara pandang akan dunia Orang Bupolo. Pemikiran yang kuat dari Orang Bupolo dalam memandang pulaunya adalah Bupolo (Pulau Buru) bagaikan seorang laki-laki yang terlentang. Ini bisa dilihat dari Gambar 1 berikut ini.

 

KONSEP-PULAU-BURU

Gambar 1. Konsepsi Orang Bupolo bahwa Pulau Buru bagaikan seorang Laki-laki (Pattinama,2005).

 

Jika diperhatikan Gambar 1 di atas, maka setiap bagian organ manusia direpresentasikan dengan gunung dan sungai.

  • Kepala adalah gunung Kapalatmada, gunung tertinggi di Pulau Buru.
  • Tangan kiri adalah sungai Waenibe yang bersumber dari Danau Rana.
  • Tangan kanan adalah Sungai Waemala, sungai terbesar yang mengalir di selatan Pulau Buru.
  • Punggung adalah daerah sakral yang disebut hutan garan
  • Perut dan alat kelamin adalah Danau Rana dan Gunung Date
  • Kaki kiri adalah Sungai Waeyapo dan daerah dataran Waeyapo, dimana pohon sagu tumbuh dan sekarang telah dialih-fungsikan menjadi lahan persawahan dengan menempatkan eks Tapol G30S/PKI.
  • Kaki kanan adalah gunung Batakbual.

Semua teritorial orang Bupolo mempunyai makna kosmologi sehingga bisa dimengerti bahwa mereka menempati seluruh areal lahan adalah merupakan suatu fungsi yang mereka jalankan karena spirit kosmologi yang kuat.  Boleh dikatakan bahwa spirit itulah yang memberi semangat kepada Orang Bupolo untuk harus tetap mempertahankan wilayah adat mereka.

5. DUNIA NYATA GEBA BUPOLO

 

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yaitu penduduk autokton, relasi dagang dilakukan dengan pedagang yang menetap di daerah pantai yakni keturunan Cina dan Arab. Penduduk autokton berada pada posisi lemah karena hubungan dengan pedagang terjadi satu arah.  Artinya posisi pedagang sangat kuat. Hal ini sangat berbeda dengan pedagang antar pulau dengan penduduk yang mendiami daerah pesisir pantai. Saat itu lalu lintas perdagangan dikuasai oleh Sultan Ternate.

Geba Bupolo mengusahakan tanaman sagu (=bialahin, Metroxylon sagu) sebagai makanan pokok dan mengkonsumsinya dalam bentuk papeda. Makin berkurang populasi rumpun sagu, Geba Bupolo secara rasional memilih singkong (=kasbit, Manihot esculenta Crantz.) yang selanjutnya diolah untuk menghasilkan tepung. Mereka juga mengkonsumsi protein hewani bersumber dari daging babi (fafu), rusa (mjangan) dan kusu (=blafen, Phalanger dendrolagus) dan ikan air tawar (mujair) dan morea (=mloko, Anguilla marmorata). Orang pendatang (Geba Misnit) yang tinggal di pesisir pantai, lebih cenderung mengkonsumsi beras dan singkong. Di samping itu, mereka mengusahakan tanaman kelapa, coklat dan menanam padi sawah dengan sistem irigasi.

Mengenai eksploitasi hutan di Pulau Buru, maka pemerintah Orde Baru untuk pertama kali memberikan izin eksploitasi hutan secara besar-besaran dengan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada PT. Gema Sanubari, suatu perusahaan swasta berafiliasi dengan BAKIN (sekarang BIN). Perusahaan ini memiliki luas HPH terbesar di Pulau Buru (305.000 Ha).

Perkembangan selanjutnya dari kegiatan eksploitasi hutan, maka sekitar tahun 1980 PT. Gema Sanubari mendirikan industri kayu lapis di Buru Utara Barat. Penyerapan tenaga kerja lebih banyak didominasi oleh penduduk alokton sedangkan penduduk autoton mendapat porsi yang sangat sedikit. Mereka tidak diberi kesempatan karena tidak memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang diperlukan perusahaan.

 

6. DUNIA KEARIFAN GEBA BUPOLO

a. Humanati

Membentuk keluarga (humanati) bagi orang Bupolo ini sangat terkait dengan sistem perkawinan yang mereka anut yaitu berdasarkan garis ayah (patrilineal). Konsep bersatunya laki-laki dan perempuan membentuk suatu kelompok kecil dalam kehidupan orang Bupolo termasuk yang sangat kompleks karena terdiri dari berbagai macam bentuk dengan melewati persyaratan adat yang cukup ketat. Ada aliran harta perkawinan yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Boleh dikatakan bahwa jumlah pembayaran harta kawin akan sangat menentukan status seseorang secara berkelompok dalam kehidupan sosial. Jadi perkawinan satu orang Bupolo akan melibatkan seluruh partisipasi anggota yang mempunyai kelompok kekerabatan (clan, soa, noro) yang sama.

Karena ada aliran harta yang relatif besar maka perkawinan juga merupakan suatu arena negosiasi yang bertalian dengan besar tanggungan yang harus dipikul oleh seluruh anggota kekerabatan. Dan anggota keluarga pihak perempuan yang menjadi penentu kuantitas harta yang harus ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki. Untuk itu pihak keluarga laki-laki harus pandai memilih seorang negosiateur yang ulung sehingga beban harta tidak menjadi beban yang berat.

Hal ini bisa dipahami karena dalam mitos orang Bupolo terhadap gunung dan air yang merupakan representasi dari simbol laki-laki dan perempuan. Kedua representasi ini harus selalu nampak atau muncul dalam setiap aktivitas mereka mulai dari mengolah sumberdaya alam hingga rotasi kembalinya kompensasi hasil pengolahan itu setelah dipasarkan untuk mendapatkan harta kawin.

Dengan demikian konsep keluarga modern harus dibatasi untuk menafsirkan konsep keluarga dari suatu kelompok masyarakat, walaupun secara umum konsep perkawinan bagi masyarakat Bupolo ataupun masyarakat modern sekalipun tidak terlepas dari valeur  strategi politik.

Jika seorang laki-laki Bupolo memutuskan untuk bersatu dengan seorang perempuan Bupolo maka dia harus segera meninggalkan rumah keluarganya dan harus menempati rumahnya sendiri. Aturan adat yang melarang seorang menantu perempuan harus tinggal serumah dengan mertua laki-laki dan ipar laki-laki mendesak setiap pembentukan keluarga baru harus berdiri sendiri. Untuk itu seorang laki-laki Bupolo harus punya persiapan yang matang sebelum melakukan pernikahan. Dia harus berburu binatang di hutan, menyuling minyak kayu putih, dan meramu hutan untuk mengumpulkan damar. Hasilnya dijual untuk mengumpulkan harta kawin dan membangun rumah.

 

b. Humalolin

Pola pemukiman orang Bupolo sebenarnya berawal dari konsep bialahin (pohon sagu), yang terdiri dari 3 – 5 rumah mengikuti struktur biologi dari pohon sagu, dimana pohon dari genus Metroxylon dan keluarga Arecaceae atau Palmae ini (Pattinama 2005). Dari segi botani, pohon sagu adalah jenis tanaman berumpun dengan struktur pohon ideal yang terbentuk antara 3 – 5 pohon per rumpun. Jadi kalau dalam sistem kekerabatan orang Bupolo disebut bialahin itu menunjukkan pada suatu sub-grup dari suatu kelompok kekerabatan (clan). Tempat pemukiman bialahin adalah humalolin. Gabungan dari beberapa bialahin yang kita sebut noro atau soa (grup kekerabatan). Selanjutnya tempat pemukimannya disebut fenalalen. Jadi dalam satu fenalalen bisa dijumpai beberapa bialahin dan juga bisa ditemui beberapa noro atau soa. Namun di dalam ruang tersebut mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Pemukiman suatu bialahin dalam suatu humalolin akan semakin besar karena sistem perkawinan dimana harta kawin tidak dilunasi secara lengkap, akibatnya keluarga perempuan dari satu bialahin akan berpindah secara total ke tempat pemukiman bialahin laki-laki dan bersama-sama mereka turut berpartisipasi mengolah lahan pertanian dan melakukan aktivitas meramu hutan (berburu dan mengambil damar). Jika perhitungan dari keluarga laki-laki bahwa seluruh harta kawin telah dilunasi maka bialahin perempuan akan kembali ke tempat asal pemukiman mereka kembali. Oleh sebab itu dalam suatu penelitian pada masyarakat sederhana seperti Orang Bupolo, maka alasan utama berpindahnya pemukiman adalah karena alasan penyakit dan kematian, seyogyanya ditelusuri dengan lebih mendalam lagi.

Mengenai tempat tinggal yaitu rumah, maka Orang Bupolo membangun dinding rumah terbuat dari kulit kayu Shorea dan atap terbuat dari daun sagu. Ikatan dinding menggunakan bambu agar berdiri kokoh. Atap rumah terbuat dari daun sagu. Tempat memasak di sebelah kanan dengan konstruksi rumah panggung.  Umumnya rumah yang mereka bangun terdiri dari dua bangunan yaitu satu bagian untuk ruang tamu dan kamar tidur, sedangkan tempat masak yang berkonstruksi rumah panggung akan terpisah. Masyarakat Bupolo membangun rumah dengan konstruksi yang sangat sederhana.

 

c. Bialahin

Penulis tidak menguraikan dengan mendalam ekologi tanaman sagu (bialahin) tetapi penulis hanya mau mengungkapkan hal pokok yang menarik dari tanaman sagu terhadap kesatuan hidup orang Bupolo.

Bialahin terdiri dari dua kata : bia artinya sagu dan lahin bisa berarti pohon dan akar, jadi bialahin menunjuk pada pohon sagu. Pemimpin bialahin disebut Basafena atau Gebakuasan yang menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia.

Kesatuan hidup orang Bupolo dalam bialahin sangat bergantung dari keputusan yang diambil oleh Gebakuasan. Dari gambaran rumpun pohon sagu itu kehidupan satu bialahin sangat dipertahankan kuat dan segala kerahasiaan dari Gebakuasan dengan setia dilindungi oleh seluruh anggota bialahin lainnya. Dan tidak mudah menerobos kesatuan rumpun tersebut, terutama orang luar akan sangat sulit sekali mempengaruhi energi yang sedang berlangsung diantara mereka.

 

rumpun-sagu

Gambar 2. Rumpun tanaman sagu (Louhenapessy, 1992). Berdasarkan posisi, pohon (1) adalah induk dari satu rumpun. Pohon (2) adalah calon pengganti dari pohon (1), begitupun dengan pohon (3), (4) dan (5). Pohon (1) akan memberikan kesempatan hidup kepada pohon lainnya jika dia ditebang sebelum kehadiran pohon (5). Selama pohon (1) tetap bertahan hidup maka yang lainnya tidak akan melewatinya. Dari rumpun tanaman sagu tersebut ada terjadi aliran energi antara yang satu dengan lainnya.

Ciri tanaman dalam keluarga Arecaceae akan mati bermula dari pucuk secara bertahap menuju ke akarnya. Rapuhnya identitas pohon (1) bermula dari kerusakan pucuk akibatnya produksi energi terhenti, kemudian merambat pada keroposnya tubuh dan akhirnya hancur lebur disaksikan koleganya dalam satu rumpun.

 

d. Organisasi Ruang

Masyarakat Buru mempunyai konsep pembagian batas-batas lingkungan alam yang tegas. Mereka memberikan tanda dan ciri tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri.  Pendatang memerlukan waktu lama untuk memahaminya.

Masyarakat Buru membagi ruang pulau Buru atas tiga bagian :

Pertama, mua lalen yang dilindungi karena nilai kekeramatannya. Wilayah ini termasuk Gunung Date (kaku Date), Danau Rana (Rana Waekolo), dan tempat keramat di hutan primer (koin lalen).

Kedua, mua lalen yang dikelola, meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen).

Ketiga, mua lalen yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen).

Orang Bupolo hidup terpisah secara berkelompok pada suatu ruang pemukiman yang disebut humalolin. Satu humalolin terdiri dari tiga sampai lima rumah mengikuti pola rumpun sagu.

Pemimpin bialahin disebut Basa Fena atau Gebakuasan menempati posisi tengah dan dikelilingi oleh anggotanya. Selama Gebakuasan hidup dia sudah menentukan penggantinya, karena kekuasaan dari Gebakuasan dipegang sampai dia meninggal dunia. Beberapa bialahin bergabung dan tinggal membentuk suatu ruang pemukiman lebih besar yang disebut fenalalen. Namun di dalam fenalalen mereka tetap hidup berkelompok menurut bialahin.

Inti dari pada konsepsi dan pemahaman terhadap lingkungan dengan berbagai aturan adat dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat dan sekaligus mempertahankan nilai keberadaan dari satuan kawasan yang sudah merupakan suatu identitas yang harus dipertahankan. Namun, dalam perkembangan saat ini dengan hadirnya para penebang pohon yang memperoleh hak menebang atas izin negara (HPH), telah terjadi perubahan kemunduran kualitas lingkungan yang memberi dampak juga pada perubahan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam hubungan dengan pemanfaatan ruang untuk aktivitas pertanian, maka ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh orang Bupolo yaitu dimulai dengan membuat:

-Hawa fehut atau fehur (kebun baru) yang terdiri dari tanaman: warahe (Arachis hypogaea), feten (Setaria itallica), dan hala (Oryza sativa).

-Hawa (kebun yang akan dipanen) : hawa hala, hawa magat, dan hawa kasbit.

-Hawa wasi (kebun yang belum selesai dipanen dan masih ada tanaman seperti pisang, nenas, dan ketela pohon).

-Wasi (kebun yang mau ditinggalkan), mereka menyebutnya pula wasa-wasi, ada tanaman seperti nakan (Arthocarpus integraifolia), nakan dengen (Arthocarpus champeden), waplane (Mangifera indica), hosi roit (Citrus nobilis), hosi hat (Citrus grandis), kopi (Coffea spp), warian (Durio zybethinus), biafolo (Arenga pinnata), pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Eugenia aromatica).

-Wasilalen (kebun yang ditinggalkan selama 8-9 tahun)

Orang Buru memiliki norma-norma adat untuk melindungi hutan primer yang mereka anggap sakral. Mereka melarang agresi pemegang HPH masuk ke hutan primer dengan cara membuat foron sbanat, yakni alat perangkap yang ditanam di dalam tanah dengan menanam runcingan bambu tajam agar bisa menjerat manusia.

 

e. Organisasi Waktu

Organisasi waktu menurut pemahaman orang Bupolo disesuaikan menurut phenomena alam dari dua jenis pohon: Kautefu (Pisonia umbellifera) dan Emteda (Terminalia sp.) (Pattinama 2005). Untuk pohon yang pertama (kautefu), jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Pohon yang kedua (emteda) lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun.

Emteda omon bato (daun berlobang, warna kuning) artinya musim panas terik : mulai menebang dan membersihkan lahan. Egroho (daun gugur) artinya tetap musim panas : kegiatan membakar. Efut (tunas daun mulai muncul) artinya panas diselingi dengan gerimis : musim tanam diawali dengan upacara dan pada saat yang sama dilaksanakan perayaan perkawinan. Orang Bupolo selalu menanam warahe (Arachis hypogaea) sebagai tanaman pertama, disekeliling kebun ditebar tanaman hotong atau feten (Setaria itallica), hala (Oryza sativa) dan biskutu (Zea mays). Mereka selalu saling bekerjasama dalam kegiatan menanam.

Efut ale adalah masa ketika daun mulai membesar dan bakal buah mulai keluar.  Artinya musim panas dan hujan kecil pada sore hari. Pada musim ini kegiatan menyiang hanya dilakukan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum lelaki mulai kegiatan penyulingan minyak kayu putih dan berburu rusa. Dua kegiatan ini hanya dilaksanakan pada masa Efut ale yang dilaksanakan di hutan kayu putih (mehet lalen). Akhir dari efut ale adalah masa panen yang dilaksanakan pula dengan upacara kematian nitu wasin. Selwala roit (buah kecil) artinya permulaan musim hujan khususnya di sore dimana hari hujan relatif besar. Pada masa ini diadakan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe.

Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing sehingga morea itu seolah mabuk. Dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Menurut Keith Philippe (1999), sebenarnya morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi. Umumnya morea di Indonesia melakukan kegiatan reproduksi menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Kegiatan berikutnya orang Bupolo adalah berburu babi (babi hutan atau babi rusa) dan kusu (Phalanger dendrolagus). Pada saat ini buah pohon meranti sangat banyak.  Buah ini merupakan sumber makanan bagi kedua hewan buruan tersebut. Lokasi berburu di hutan relatif jauh, yaitu di daerah gunung Kakupalatmada.

Selwala hat (buah besar) artinya akhir dari musim hujan.  Pada masa ini kegiatan orang Bupolo adalah mengumpulkan damar dan rotan. Ini merupakan rangkaian dari kegiatan berburu. Bagi orang Bupolo berburu dan meramu damar atau rotan adalah sama dengan melakukan perang melawan roh-roh jahat yang bermukim di hutan yang senantiasa menghalangi kegiatan orang Bupolo.

ORGANISASIGEBA-BURU

Gambar 3. Organisasi waktu menurut Geba Bupolo (Pattinama, 2005).

 

f. Berburu

Aktivitas ini dilakukan secara rutin dan merupakan pekerjaan yang hanya digeluti oleh kaum laki-laki. Orang Bupolo menggunakan istilah berburu adalah iko ephaga atau iko lodi. Berburu bagi orang Bupolo bukan sekedar hanya masuk areal hutan untuk menangkap atau membunuh binatang buruan. Tetapi bisa diintepretasikan sebagai kegiatan berperang melawan roh-roh jahat dalam hutan rimba yang lebat (hutan primer). Oleh sebab itu persiapan untuk kegiatan ini penuh dengan ritual yang sangat sakral (koin). Jadi ada upacara adat yang mendahului kegiatan berburu.

Saat pelaksanaan kegiatan berburu di hutan maka seorang pemburu tidak boleh semena-mena melakukan eksploitasi terhadap areal hutan yang dijadikan medan perburuan, misalnya menebang pohon dengan sembarangan atau merusak areal yang sudah ditetapkan secara adat sebagai wilayah yang terlarang untuk masuk dan melakukan aktivitas lain. Semua larangan itu diberi tanda atau dalam bahasa Bupolo mengatakan sebagai sihit.

Binatang yang dijadikan sasaran dalam kegiatan ini adalah babi, rusa dan kusu. Ketiga binatang buruan ini hanya bisa diperoleh pada saat meranti (Shorea spp) berbuah, karena buah dari pohon tersebut adalah makanan utama dari kettiga binatang tersebut. Buah meranti dalam bahasa Buru adalah kalodi.

 

g. Meramu Hutan

Kegiatan meramu hutan adalah kegiatan yang dilakukan secara bersamaan pada saat aktivitas berburu dilaksanakan. Meramu hutan dalam bahasa Buru adalah iko mualalen. Saat Orang Bupolo melakukan perburuan binatang di hutan primer maka kegiatan meramu damar (kisi) dan rotan (uwa) dilaksanakan secara bersamaan.

 

7. EPILOG

Orang Bupolo di pedalaman Pulau Buru merupakan masyarakat peladang, berpindah yang menanduskan lahan, peramu hutan, hidup terisolir dan sepenuhnya tergantung dari alam. Dan alam merupakan laboratorium kehidupan mereka di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Orang Bupolo hidup menyatu dengan alam. Pengetahuan mengelola alam diperoleh secara turun temurun dengan hanya mengandalkan diskripsi lisan. Ketaatan hidup pada alam membentuk suatu pandangan akan alam semesta sebagai sesuatu inspirasi yang melahirkan konsep holistik dan konsep totalitas dalam mengelola sumber daya dan interaksinya dengan makhluk hidup lainnya. Itu berarti konsep yang utuh antara ruang kehidupan yaitu gunung, pantai dan laut tidak dapat dipisahkan. Dari pola ladang yang ditanduskan (long fallow cultivation), tampak bahwa mereka memiliki kearifan dalam mengelola sumber daya alam sebagai sumber makanan bagi kehidupan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA TENTANG BUPOLO dan MALUKU

Barraud, Cécile and Friedberg, Claudine, 1996. Life-Giving Relationships in Bunaq and Kei Societies, in : Signe Howell (Ed.), For the Sake of Our Future (Sacrificing in Eastern Indonesia), Research School CNWS, Leiden, The Netherlands : 374-383.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Origin of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, on Halmahera research and its consequences for the study of eastern Indonesia in particular the Moluccas, Royal institut of linguistics and anthropology, International workshop on Indonesian studies No.5, Leiden, 16 p.

Grimes Barbara Dix, 1990. The Return of the Bride : Affiliation and Alliance on Buru. Master of Arts Thesis. Australian National University, 144 p.

Grimes Barbara Dix, 1996. The founding of the house and the source of life; two complementary origin structures in Buru society, in origins, ancestry and alliance, in : James J. Fox and Clifford Sather (Eds.), Exploration in austronesian ethnography, Canberra : 199-215.

Huliselan Mus et al, 1988. Orang-orang Bumi Lale dan Dunianya. Organisasi Sosial, Pertukaran dan Perubahan Sosial di Sentral Pulau Buru-Maluku Tengah-Indonesia. Laporan Penelitian, Ambon, 222 p.

Jonge Nico de, dan Toos van Dijk, 1995, Forgotten Islands of Indonersia, Periplus Editions, 160p.

Keith Philippe, VIGNEUX Erik et BOSC Pierre, 1999. Atlas des poissons et des crustacés d’eau douce de la Réunion, MNHN, Paris 137 p.

Louhenapessy J.E., 1992. Sagu di Maluku (Potensi, Kondisi Lahan dan Permasalahannya, in : Prosiding Simposium Sagu Nasional 12-13 Oktober 1992, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon : 135-149.

Pattinama Marcus Jozef, 1998. Les Bumi Lale de l’île de Buru Moluques Indonésie: Mode de Subsistance et Exploitation du Melaleuca leucadendron. Mémoire de Stage DEA Environnement, Temps, Espaces, Sociétés (ETES) Université d’Orléans, Orléans, 100 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Les Geba Bupolo et leur milieu, Population de l’île de Buru, Moluques, Indonésie. Liwit lalen hafak lalen snafat lahin butemen « Vannerie virile, sarong féminin et émulsion qui flue ». Thèse de Doctorat de l’école doctorale du Muséum National d’Histoire Naturelle, Paris, 354 p.

Pattinama Marcus Jozef, 2005. Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan hidup orang Bupolo. Assau, Vol.4 N°1, pp. 13-17.

Pattinama Marcus Jozef, 2014. Territorial Organization by Bupolo People in Buru Island. A New Horizon of Island Studies in the Asia Pacific Region, Kagoshima University Research Center. P.79-87.

 


[1] Definisi pulau kecil menurut kriteria Departemen Kelautan dan Perikanan RI adalah pulau dengan ukuran < 10000 km².

Makalah Disampaikan pada Acara Diskusi Hasil Penelitian di Pulau Buru Kerjasama antara CIFOR Bogor dengan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, UNPATTI Ambon, Tanggal 21 November 2016 di Kota Namlea, Kabupaten Buru.