Tag Archive for ORANG PULAU BURU

JIKA YESUS LAHIR DI BUPOLO……

Yesus-Lahir

Marcus Jozef PATTINAMA

(Ethnobotanist dan Staf Pengajar Sosek Faperta UNPATTI)

Pengantar : Memahami Yesus

Membayangkan Taman Eden : ada Adam dan Hawa dengan wajah bule, buah terlarang (mungkin itu pohon appel ; belum dibudidaya di Maluku tapi bisa ditemui di pasar), ular yang menggoda, akhirnya kedua makhluk itu telanjang, mulai tahu malu dan tidak lagi makan gratis alias harus membanting tulang, lalu diusir keluar dari kehidupan taman yang indah karena tidak setia akan janji sederhana saja yaitu : jangan makan buah dari pohon yang ditanam di tengah Taman Eden ini. Mengapa di tengah dan bukan di pinggir taman ? Setelah meninggalkan Taman Eden, punya keturunan (dua anak laki-laki) dimana mereka lahir dari pasangan yang telah berlumuran benih dosa : akibatnya kehidupan dunia berdosa mulai dijalani. Diawali dengan rasa iri dan cemburu kemudian muncul benih pembunuhan. Jangan heran dan lupa karena Khalik insani juga punya rasa cemburu jika tidak setia pada janjiNya.

PerintahNya kepada manusia untuk memenuhi bumi dipatuhi, populasi manusia meningkat, dosa juga meningkat tanpa kendali maka datanglah air bah, Nuh dan keluarga selamat karena patuh pada janjiNya. Setelah air bah Nuh tahu kalau bumi kering setelah seekor burung membawa setangkai daun, dia turun dari bahteranya dan memulai kehidupan yang baru dengan tujuh anggota keluarganya. Suatu saat Nuh mabuk disaksikan ketiga anaknya, Ham melihatnya telanjang sedangkan Sem dan Yafet menutupnya dengan kain. Kutukan akhirnya menimpa keturunan Ham. Tercatat bahwa keturunan Sem dan Yafet selamat dari kutukan maut itu.

Rupanya dosa terus saja dilakukan oleh manusia, para Nabi sudah tidak mampu lagi mengajarkan yang terbaik kepada pengikut mereka. Akhirnya sang Khalik harus hadir dalam bentuk phisik manusia. Dia adalah Yesus. KelahiranNya sangat tidak lazim menurut pandangan manusia abad modern. Dari rahim Maria Magdalena, perempuan yang sangat sederhana itu, ada kekuatan khusus Khalik (Roh Kudus) yang turut bekerja sehingga benih suci itu membentuk seorang bayi yang juga memiliki sifat kudus. Saatnya tiba bahwa buhar itu harus dilahirkan, dimana prosesnya pun di luar batas pikir manusia yaitu di sebuah kandang ternak. Mungkin itu tradisi Yahudi bahwa kaum khafilah bisa memilih kandang ternak agar istri mereka bisa melahirkan seorang bayi. Mereka tidak akan mengetuk pintu penduduk dari suatu pemukiman yang mereka lewati, pasti ditolak. Ketidak-laziman dalam tradisi Yahudi ini mungkin agak berat bagi mereka menyebutnya sebagai seorang Mesias. Begitulah cara Khalik bekerja untuk membaharui sebuah tradisi adat. Oleh karena itu Yesus hadir dimanapun selalu mendapat tantangan walaupun Yesus dibesarkan dalam tata etika budaya Yahudi, yaitu suatu tempat nun jauh di seberang sana, di Nazareth, kota Galilea (Israel).

Jika membaca Alkitab, ditemui bahwa hampir semua materi pengajaran yang Yesus lakukan selalu memakai ilustrasi lingkungan alam setempat terutama flora dan fauna dimana banyak sekali jenis dari flora dan fauna yang sulit kita ketahui wujud nyatanya. Itu wajar sekali karena habitatnya sangat berbeda. Bersyukur kepada mereka yang punya kesempatan mengunjungi daerah belahan Timur Tengah baik sebagai turis maupun sebagai pekerja atau karyasiswa. Itupun sangat terbatas sekali jumlahnya sedangkan bagian terbesar hanya bisa mengikutinya dengan membaca Alkitab. Sayangnya dalam catatan Alkitab tidak menerangkan dengan mendalam seluruh media dalam lingkungan dan tradisi Yahudi tersebut. Barangkali kitapun tidak terlalu terusik dengan media maupun tradisi tadi sebab yang paling penting harus patuh dan percaya saja. Semuanya benar bahkan sangat kudus adanya. Bagaimana membayangkan bentuk nyata dari biji sesawi, pohon ara, minyak zaitun, pohon anggur, minuman anggur dan lain-lainnya. Dan mengapa media itu yang diangkat sebagai contoh ? Tidak kebetulan terjadi karena ada karakter morfologi dari media tersebut yang ingin dibahas karena memiliki ciri khusus, contohnya mengapa digunakan sifat morfologi ular dan merpati ?.

Tulisan ini dipersembahkan menyongsong kelahiran Yesus, yang secara tradisi dirayakan pada tanggal 25 Desember. Judul « Jika Yesus Lahir di Bupolo…. » ditawarkan penulis kepada Redaksi majalah Assau, memang, ini sesuatu yang mustahil dan irasional, namun penulis sebagai seorang protestan calvinist mencoba meletakkan pikiran, tradisi dan budaya Yahudi ini ke dalam pikiran, tradisi dan budaya Bupolo. Ini sengaja dipersembahkan kepada sidang pembaca dengan dasar pikran bahwa dua pilar budaya (Yahudi dan Bupolo) adalah sesuatu yang tidak dapat dibandingkan dan penulis tidak akan melakukan perbandingan. Tulisan ini hanya bersifat informasi kekayaan pikiran, tradisi dan budaya orang Bupolo dimana penulis melewatinya ketika hidup bersama mereka selama dua tahun efektif. Jika metodologi pemberitaan teologi mampu beradaptasi dengan kondisi riel yang ada dalam suatu kelompok masyarakat maka dipastikan materi pemberitaan nilai-nilai luhur teologi yang dipandang sebagai peradaban modern akan lebih dipahami dengan baik.

Masyarakat Bupolo, sebagaimana tulisan penulis dalam edisi Assau September 2005  ; Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan Hidup Orang Bupolo, adalah masyarakat asli yang mendiami Pulau Buru. Mereka sangat arif dalam memaknai ciri morfologi pohon sagu dan milieu-nya dalam kehidupan kekerabatan mereka. Begitu sederhana pikirannya dan langsung diwujudkan dalam kehidupan nyata mereka.

 

Mitos : Da Bapoloh, Date, Rana dan Fenafafan

Boleh saja kita sebut cerita ini sebagai mitos. Mitos berkembang dalam masyarakat tradisional dan tetap ada dalam struktur masyarakat modern. Untuk seorang teolog liberal bisa saja Alkitab dianggap sebagai mitos sementara yang belum terbiasa dengan pikiran ini sedikit agak terganggu dan bisa menilai pikiran ini sangat berbahaya. Namun penganut protestan sudah terbiasa mengembangkan ide-ide pembaharuan. Mitos berperan penting dalam studi tentang masyarakat dan digunakan untuk menganalisis konstruksi berpikir yang dikembang-kan oleh masyarakat.

Cerita da bapoloh bagi orang Bupolo adalah awal kisah kehidupan mereka. Cerita ini yang memberi bobot terhadap identitas mereka sebagai orang Bupolo. Dikisahkan bahwa pada waktu mula-mula, air menutupi Pulau Buru. Keadaan ini dinamakan da bapoloh. Ketika air mulai surut, yang pertama muncul adalah Gunung Date. Disini tempat berdiam leluhur orang Bupolo yang disebut Opo Lastala. Pulau Buru muncul setelah surutnya air, kondisi permukaan tanah tetap basah bagaikan papeda. Ini yang disebut bupolo (biapolo à bia = sagu; polo = bergetah). Orang Bupolo punya ekspresi masin keha pa da bapoloh kaku tu da bapoloh wae pe artinya air laut naik menutupi gunung dan juga sungai.

Saat tanah mulai kering, seekor morea besar (mloko hat) naik dari laut menuju ke gunung untuk mencari tempat dan dibuatlah kubangan dan akhirnya terjadilah Rana (=telaga). Setelah itu muncul sepasang manusia: Lawanditau (laki-laki) dan Peteriaditan (perempuan), mereka hidup di Fenafafan (fena=tempat, fafan=paling atas). Pasangan ini punya sembilan orang anak. Mereka hidup sangat rukun dan suatu ketika ada perang diantara mereka karena perebutan pohon sagu. Di Fenafafan, tepung sagu diperoleh hanya dengan melubangi batang pohon sagu dan seterusnya bisa langsung dibuat papeda tanpa harus melalui proses pengolahan seperti saat ini. Persoalan berikutnya yang terjadi di Fenafafan adalah perkawinan yang terus berlangsung hanya diantara bapak-ibu-anak yang disebut mhuka fena tuni. Suatu ketika datanglah murka dari Opo Lastala : 1) tepung sagu sudah harus diperoleh dengan cara menebang pohon, pukul sagu, ramas ela sagu dan ambil tepung dalam goti sagu. 2) mereka harus berpisah dan terjadilah pembagian tempat ke daerah selatan Pulau Buru. Pembagian tempat dan manusia ke dalam ruangnya masing-masing disebut mhuka fena wae.

Dunia Orang Bupolo

Orang Bupolo tidak secara langsung menyatakan bahwa ada kejadian air bah. Bisa saja kita menduga bahwa cerita ini mendapat pengaruh dari misi teologi oleh para penginjil di daerah tersebut. Yang paling penting bahwa kualitas dari peristiwa itu bagi orang Bupolo adalah terbentuknya suatu ruang karena mereka tahu bahwa setelah surutnya air bah muncul Gunung Date.

Di tempat ini juga datang sebuah perahu besar. Date artinya tiba atau sampai. Penumpang perahu itu adalah Opo Lastala, selanjutnya bermukim di Date. Oleh sebab itu dalam keseharian Gunung Date adalah tempat berdiam para leluhur. Dengan demikian Gunung Date tetap harus dijaga dengan tatanan adat yang kuat dari pengaruh orang luar, misalnya dilarang membawa orang luar mengunjungi dan melintasi Gunung Date. Mereka konsisten mempertahankan daerah itu dengan melarang hadirnya HPH.

Di Gunung Date dan daerah hutan primer adalah tempat orang Bupolo meramu damar dan berburu binatang hutan seperti babi (fafu), babi rusa (fafu boti), rusa (mjangan), dan kusu (blafen, Phalanger dendrolagus). Untuk berburu harus menunggu musim buah dari pohon meranti (biahut, Shorea sp).

Pada kawasan hutan sekunder mereka lebih banyak melakukan kegiatan pertanian. yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua, akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun dengan melihat gejala perubahan pada daun.

Setelah menanam kacang tanah pada kebun baru, orang Bupolo melakukan kegiatan mengolah minyak kayu putih atau mereka sebut pula urut daun, yang banyak dilakukan di daerah sebelah utara Pulau Buru, karena disini banyak dijumpai formasi pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae) yang tercatat sebagai tanaman asli Pulau Buru.

Orang Bupolo masih sangat yakin bahwa hingga saat ini morea besar itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat. Danau seluas 75 Km² ini terdapat banyak sekali morea dan pada akhir panen kacang tanah mereka melakukan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe. Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing (mloko hat stefo) sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut peneliti Prancis, Keith Philippe, cs (1999) bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Menariknya bahwa setelah reproduksi maka morea dewasa akan mati di laut Fiji dan larvanya akan kembali lagi ke habitat asal di Danau Rana dengan perjalanan lebih dari dua tahun.

Fenafafan merupakan kampung mula-mula dari orang Bupolo. Disini nilai kehidupan manusia dimulai dan dari sini pula etika hidup orang Bupolo diatur. Akibat perkawinan diantara bapak-ibu-anak maka saat ini ada larangan yang sangat keras yaitu dilarang melakukan perkawinan di dalam satu mata rumah. (noro atau soa). Dengan pembagian tempat itu berarti mereka menguasai ruang masing-masing. Fenafafan tetap ada hingga saat ini, hanya berupa suatu wilayah yang kosong di seputar Danau Rana.

PULAU-BURU-RANA-DATE

Peta Pulau Buru dengan Danau Rana dan Gunung Date

 Rana lalen artinya daerah diseputar Danau Rana dan Gunung Date yang terletak di tengah pulau. Orang Bupolo mengibaratkan daerah seputar Danau Rana dan Gunung Date sebagai surga yang perlu dipelihara kelestariannya. Konsep konservasi sumberdaya alam telah mereka kuasai dan melakukannya demi kebesaran Opo Lastala yang selalu mengontrol mereka dari singgasana di Gunung Date.

 

Catatan

Orang Bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan sebenarnya mereka juga sangat curiga dengan orang Bupolo sendiri yang sudah mengenal peradaban baru. Diseputar Rana lalen, hanya ada dua kampung (Waereman dan Waegrahi) yang tetap hidup dengan mempraktekkan ritual adat. Sisanya yaitu sebanyak lima kampung telah menerima agama protestan, terdiri dari empat kampung menerima agama Sidang Jemaat Allah (Aerdapa, Kakutuan, Warujawa, Wamanboli) sedangkan satu-satunya yang menerima Protestan GPM (Waemiting).

Pulau Buru dalam tulisan ini menjadi contoh bagaimana pemahaman yang kuat dari masyarakat tentang lingkungan alamnya. Yang turut merusak tatanan ini adalah pelaku ekonomi modern.

Orang Bupolo sering dinobatkan dengan istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang dan alifuru. Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut J. Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

Saat ini misi gereja seyogyanya juga belajar memahami lingkungan alam jemaatnya sehingga penulis berharap jika ada pendeta yang berkhotbah di daerah pegunungan Pulau Buru akan mengatakan : Jika Yesus Lahir di Bupolo, maka Yesus akan memberi makan orang Bupolo di Gunung Date, menyeberang Danau Rana, dan mengajar dengan menggunakan semua jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Buru.

MAPSARA TU KOINLALEN OTO FADAE RANALALEN, BUPOLO, MALUKU

Orang Buru

fili kamipa na

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Geba Keda Etnoekologi oto Faperta Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

Roger Tasijawa (Gebaskola oto Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Gebaskola oto Program S1 Agribisnis Faperta Unpatti)

 

Lien na Leu

Neten na dapsara tu na lien humalolin geba Bupolo oto neten mua lalen tu geba lalen. Kapsara lien hangina ni sapan geba, gamdo tu neten ni oto leu ?. Gamdo katine geba Bupolo oto neten hangina na ? Gamdo tu neten geba Bupolo da suba hai fili Ranalalen seponi dafango neten fehut oto na elet dikat ? Kapsara lien na gosa tirin gamdo geba na da defo oto na elet fehut sepuna da suba oto ranalalen ? Lien ranalalen mapsara neten fadae rana Waekolo tu kaku Date neten oto nelat Bupolo.

Gamdo kami huke lienkasen na oto ni kitahalu mapsara lienkasen akilalen geba Bupolo oto neten fenalalen tu humalolin.

 

Humalolin Geba Bupolo

Fenalalen mapsara neten humalolin da defo emsian noro ba. Neten na da defo humartelo eta humarlima. Eta geba Bupolo mapsara fenalalen Waekolo oto ni humalolin da defo geba fili noro Waekolo ba. Geba dikat mo da defo oto nete di tu sira ba. Sepo ni humaelet oto fenalalen da defo geba sa warot mo udu humarlima ba.

Akilalen fenalalen ma dufa kai wai sira tu ina ama. Kai na anat da bagut hai sepu ni na anat mhana na da mau hama fina oto ni gebaromtuan dufango humafehut na laha yako anat mhana. Eta kamipa toho oto neten Bupolo, kami tine gebaromtuan na anat mhana da bagut hai oto ni da fango huma fehut hai da bina laha anat mhana sepu ni kae hama fina pa kae kaweng beka.

Oto neten fenalalen, noro dikat da kadu pa da defo tu kami akilalen pa da fango huma fehut oto ni kami bina humalolin. Eta ni kami na wali duba kadu da defo taga yako oto fenalalen.

Oto elet leu geba Bupolo da bina fenafafan, neten oto Ranalalen. Oto fenafafan gebaromtuan duba newe tu anatcia ba. Fili neten di geba Bupolo du defo oto neten dikat-dikat gamdo tu gebaromtuan du huke sa sa tu na neten kadefo.

Fenafafan hangina na geba defo mohe, ma tewa tu neten na neten koin. Da defo oto neten na noro Waekolo ba oto Waereman, noro dikat sabeta mo. Sira du defo oto kaminteang na ni kai wai fili humalolin dikat gebaromtuan du huke neten laha sira ni pa du defo pa du jaga neten nesa-nesa (Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, Aerdapa) tu noro Waekolo.

 

Koinlalen oto Bupolo

Eta ngei si fenafafan ma sea fili gebaromtuan Waekolo oto humalolin Waereman. Ma sea fili gebaromtuan Portelo tu Mrimu du defo oto neten na. Portelo na geba bagut fili noro Waekolo du jaga neten koin oto ranalalen. Hulu geba Bupolo, sira ba noro Waekolo pese Portelo du defo oto ranalalen tu Mrimu Waekolo.

Eta kamipa toho oto fenafafan, ma linga fili wae na kadan suba eta na ulun humalolin Waereman. Ma kaba waeolon neten na kadan oto waenibenangan. Wae na da suba fili rana du bajaga wae na fili noro Waekolo.

Waeolon da nei oto rana fafan da suba fili rana fafan daiko ngei buru slatan da suba beta mo ina da bastela kaku oto namnelat pa da simsubah wai tinan pa da mano oto waenibe  lienkasen do bina ni waenibenangan, oto Waemala da dufa ior- ior teman gamdo gebaromtuan ro do dufa oto wae ni, eta do ngei ngan Waemala. eta mapsara lienkasen fili Waenibenangan dasuba ngan Waeniba ba, eta wae na da suba fili kaku oto rana fafan gamdo Waekolo do defo oto wae na ulun.

Gamdo ma bina Waenibe olon mo.? Mapsara oto waenibe ni geba Bupolo na ngan waenibenangan ni na ngan remat. Waenibe ni na ulun da dufa oto Waekolo ulun Waenibe na da dufa oto na kadan kwanat, wae ni da suba oto likunsmola. Wae ni da nei oto neten ni geba Bupolo du nei ngan wae Waenibe. Wae na da suba fili ranalalen lienkasen bina rana olon (koin ). Lien dikat likunsmola ma bina neten ni ma dufa wae na leman, oto nelat eta da leman mo fili rana Waekolo, sepu ni wae damano fili Waekolo pa da suba oto neten Waenibenangan. Eta geba Bupolo, likunsmola ni elet wae na du dufa mloko hat oto rana Waekolo, mloko hat stefo da suba giwan fili oto Waenibenangan. Ma tine eta da suba mloko da defo oto likunsmola eta da suba geba Bupolo iko tine pa du seka emdau tu dapan pa du oli tuha oto huma pa du mapo tuha pa du ka. Mloko da suba fili rana da iko msian mo po da iko warot da taga wae na na kadan eta da suba oto Waenibenangan, lien fili geba Bupolo ba mloko na da suba hulut oto masin. Elet na da dufa hangan msian oto fulan permede oto fulan Oktober eta fulan fehut. Geba Bupolo du tine fulan na pa du seka warahe. Eta geba Bupolo bina rana na da rakik hai, mloko hat da sefen pa da loa ahut bagut ni ma dufa oto likunsmola.

Eta ma iko oto fenafafan maliho oto rana Waekolo ma egu waga ngei geba Bupolo fili humalolin Waereman, eta geba Bupolo Waereman du iko kadan fili kaku Date ngei kaku sa. Oto fenafafan geba nyosot pi geba masin du liho oto tuhung na mo. Eta du liho oto neten na ni du difu,. Kamipa iko na po ma dufa liho roit fili gebaromtuan sira du huke . kamipa na jamtelo pa ma iko tine elet gebaromtuan teman sira ba defo

Eta Geba Bupolo sira mau iko tine elet ka defo gebaromtuan teman sira na elet ka defo ni ma egu fua dalu pa huke laha geba Bupolo dae Waereman fafan. gebaromtuan pa ma kala ina tu ama tu kai wai sira ma defo pa ma ka fua tu dalu na mnesa-mnesa tu sira. Ni ma egu fua tu dalu ba.ma egu matan ni pa ma huke laha anat Bupolo oto Waereman pa duhuke oto neten koin ni ma iko oto fenafafan ma egu lastare la ma iko na, ma egu gebaromtuan sira oto kaku Waereman, gamdo du bajaga fenafafan ma pipolon tu sirah pa  maiko mnesa –nesa tu sira pa du tu elet ka defo gebaromtuan teman sira elet kadefo oto fenafafan. Eta geba nyosot do mau si oto neten koin na, ni da egu lastare tu dalufua tu matan goban ni utun lima ba ni naraman laha geba nyosot. Eta geba Bupolo. gebaromtuan dusi oto rine lalen.

Eta ma liho oto fenafafan, kamipa ma dufa mrimu Waekolo. Ringe ma loa adat beto nelat ma kala opolastala tu gebaromtuan, rana tu date fafan. Ma iko pa ma suba oto huma. Dalua huma mo po dalua gama kaulahin, miat tu fafu na elet kafoi tu na kadan oto rahe.

Fenafafan di na elet kadefo gebaromtuan teman. Mrimu da bina neten ni warot ior-ior teman gama todo, gomi, gong bagut tu gong roit, nhero, kwani, balanga tu ior-ior bakan. Ior-ior halu na duba nei oto pau rahe. Geba Bupolo sira lua fefa da bina liang lahin. Da lua fefa ni da langa miat pa da nei akilalen mrapa-mrapa. Da lua fefa akilalen bagut mo, halu ni msian dafu. Na bagut ni msian dafut, na remat ni polone dafut, na leman goa pau sa da remat mo.

Mrimu tu Portelo du defo oto humalolin Waereman du tine huma oto fenafafan. Geba Bupolo oto masinlalen jaga keha tine gebaromtuan fili kaku fenafafan bara sa sia ba pei eta fenafafan, eta sa ba pei du jaga iko oto humakoin pa du jaga tine huma bara daraki. seponi du huke mahun laha geba bupolo bara du pei.

Kamipa na toho oto fenafafan ma tine oto neten di fenafafan warot ni kaku –kaku oto fenafafan, geba Bupolo oto fenafafan du jaga gei kaku tu wae tinan bagut oto fenafafan, kamipa nika gemtuan mrmu eta gamdo tu wae oto fenafafan na ? Gemtuan mrimu bina wae na koin, wae tu kaku na du bina neten koin, noro fili Wakolo di du tine fenafafan bara noro dikat tu bara darogo akilalen oto koinlalen.

Eta kamipa toho oto ranalalen, kamipa tine seget fili fanabo, waili tu Waekolo halu ni sa sa tu ringe nake neten – neten sa sa ?, halu ni kamipa tewa fili gemtuan mrimu, na halu ni bagut tu remat. Gamdo gebaromtuan halu ni ma tewa fili gemtuan mrimun oto Fenafafan,Dabina halu fili marga pila na ni sa sa tu ringe nake neten–neten, gamdo eta geba Bupolo sa da tewa rine nake neten mo,ni gamdo beka gemtuan ee? eta manika fili Gemtuan mrimun da bina gamanga ? Halu ni oto neten geba Bupolo halu, ma sia pa mapsara tu neten na, ina ama kai wai sira kimi bara loat tu neten na eta ma loa epsalah oto seget na.

 

Lien na Sepu

Mapsara lien oto refafan na da bina tu lalen-lalen oto adat geba Bupolo, lepak foni oto na elet ka defo oto sa an a neten-neten noro oto mualalen. Koinlalen oto Bupolo iha na :

a.Ranalalen, b. Mua Garan, c. Waekoit, d. Kakukoit, e. Liang lahin, f. Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h. Seget, i. Sufen.

Ina ama kai wai sira kimi bara loat lalen tu kamipa na. Kamipa tewa lalen-lalen hai fili lien koin na, kamipa fili lolik lalen fedak fena tu retemena bara sehe.

CERITA TENTANG TEMPAT KERAMAT DI DATARAN RANA, PULAU BURU, MALUKU

Danau Rana

oleh :

Prof. Marcus J. Pattinama, Dr. Ir. DEA. (Guru Besar Etnoekologi Universitas Pattimura Ambon)

Yongky Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

Roger Tasijawa (Mahasiswa Program S1 Bimbingan dan Konseling FKIP Unpatti)

Jelles E. Uneputty (Mahasiswa Program S1 Agribisnis Fakultas Pertanian Unpatti)

 

Pengantar

Bagian ini ingin menjelaskan keadaan tempat pemukiman tradisional orang Bupolo dalam hubungan dengan lingkungan alam dan kehidupan sosial.  Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bentuk pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal ?  Bagaimana pandangan orang Bupolo terhadap pemukiman tradisional dibandingkan dengan perkembangan pemukiman saat ini ? Bagaimana bentuk pemukiman orang Bupolo yang telah keluar dari ranalalen kemudian membangun pemukiman baru di tempat lain ?  Pertanyaan berikut yang sangat penting adalah bagaimana cara mereka memilih tempat tinggal yang baru setelah keluar dari ranalalen ?  Istilah ranalalen artinya daerah sekitar rana Waekolo dan gunung Date yang terletak di tengah pulau Buru.

Untuk memberi jawaban atas pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kami ingin menjelaskan terminologi yang selalu digunakan orang Bupolo untuk daerah pemukiman yaitu fenalalen dan humalolin.

 

Pemukiman Orang Bupolo

Istilah fenalalen artinya tempat pemukiman yang hanya terdiri dari satu kelompok noro atau soa (clan).  Jumlah rumah dalam satu fenalalen adalah antara tiga sampai lima buah.  Kalau orang Bupolo mengatakan fenalalen Waekolo maka pada daerah pemukiman dimaksud hanya dihuni oleh mereka yang berasal dari noro atau soa Waekolo.  Tidak ada orang Bupolo dari noro lain yang hidup bersama dengan mereka.  Oleh sebab itu jumlah rumah yang dijumpai tidak akan lebih dari lima buah rumah.

Dalam fenalalen biasanya kita jumpai hanya kehidupan antara mereka yang mempunyai hubungan keluarga sekandung bersama istri dan anak-anak mereka.  Kalau anak mereka sudah dewasa dan suatu saat ada rencana untuk menikahkan anak tersebut, maka sebelum yang bersangkutan menikah biasanya orangtua akan membangun rumah baru. Selama penelitian di lapangan, kami mengamati bahwa orangtua yang mempunyai anak laki-laki dewasa dan anak tersebut belum juga menikah maka dengan dibangunnya rumah baru yang terpisah dari orangtua adalah sebuah pesan untuk yang bersangkutan harus segera mencari jodoh untuk menikah.

Sedangkan dalam satu fenalalen, jika ada noro (soa atau clan) yang lain datang untuk tinggal bersama dan membangun rumah baru dalam fenalalen maka daerah pemukiman itu disebut humalolin.  Hal yang umum dijumpai adalah keluarga dari istri yang datang untuk tinggal bersama dalam satu fenalalen tersebut.

Tempat pemukiman tradisional orang Bupolo yang paling awal disebut fenafafan, yaitu suatu daerah yang terletak disekitar ranalalen.  Di fenafafan hidup leluhur pertama orang Bupolo bersama sembilan orang anak.  Dari fenafafan (fena=clan, desa ; fafan=tertinggi) orang Bupolo menyebar ke berbagai tempat, sesuai dengan pembagian wilayah yang diperoleh dari leluhur mereka.

Fenafafan saat ini tidak dihuni lagi oleh orang Bupolo, tetapi daerah ini tetap dianggap sangat sakral dan terus dilindungi oleh orang dari noro Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman.  Tidak hanya orang Bupolo yang tinggal di Waereman yang melindungi fenafafan, namun orang Bupolo lain yang tinggal di humalolin lainnya di seputar ranalalen, misalnya Waegrahi, Waerujawa, Waemanboli, Waemiting, Kakutuan, dan Aerdapa.

 

Tempat Keramat di Pulau Buru

Untuk memasuki fenafafan harus meminta izin orang Bupolo dari noro Waekolo di humalolin Waereman.  Orang yang berhak memberi izin adalah mereka yang menjadi pemimpin adat seperti Portelo dan Mrimu.  Portelo adalah jabatan adat tertinggi dalam noro Waekolo yang bertugas menjaga seluruh daerah sakral di ranalalen.  Dari semua noro orang Bupolo, hanya dalam noro Waekolo yang dijumpai jabatan adat Portelo.  Portelo harus tinggal di ranalalen bersama Mrimu.

Dari pengamatan kami selama berkunjung ke fenafafan (lihat peta), kedudukannya berada diantara waeolon (wae=air ;olon=kepala) dan humalolin Waereman.  Kita menyebut waeolon karena daerah itu adalah merupakan kepala dari sungai Waenibe.  Salah satu sungai dimana sumber airnya berasal dari rana Waekolo.

Istilah waeolon dalam bahasa Buru hanya disebut untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai Waenibe.  Sedangkan untuk menunjukkan kepala/sumber dari sungai-sungai lain yang ada di pulau Buru kita langsung menyebut nama sungai tertentu dan diikuti dengan kata olon, misalnya sungai Waemala kita sebut Waemalaolon artinya kepala/sumber dari sungai Waemala.  Untuk itu kalau menyebut waeolon maka semua orang Bupolo akan tahu bahwa yang dimaksud adalah kepala air Waenibe di rana Waekolo.

Mengapa kita tidak dapat mengatakan Waenibeolon ?  Menurut pikiran orang Bupolo bahwa air yang keluar dari rana Waekolo tidak langsung menuju sungai Waenibe namun melewati suatu tempat yang bernama likunsmola.  Orang Buru saat menyebut kata ini untuk pertama kali bagi saya sebagai orang luar dan sebagai peneliti dicatat hanya sebagai suatu nama tempat, padahal kata ini setelah dicari makna yang sebenarnya dan dari diskusi dengan banyak informan di lapangan diperoleh bahwa likunsmola terdiri dari likun esmohok laan (likun=bagian air yang dalam atau deep in english, esmohok=bagian yang rendah, laan=tempat untuk membagi).  Dengan kata lain likunsmola artinya suatu tempat dimana terdapat air yang sangat dalam, letaknya sangat rendah dari rana Waekolo dan dari situ air dialirkan ke sungai Waenibe.  Bagi orang Bupolo, likunsmola adalah tempat yang sangat penting karena menurut mitos jika mloko ha (morea besar) yang hidup di rana Waekolo kencing (mloko ha stefo) maka semua mloko yang ada di dalam rana Waekolo akan lari keluar meninggalkan rana Waekolo.  Sebelum keluar maka morea-morea tersebut berkumpul di likunsmolat dan dengan sangat mudah orang Bupolo dapat mengambilnya untuk dimakan. Mereka keluar dari rana Waekolo dalam jumlah yang sangat banyak menuju sungai Waenibe dan menurut orang Bupolo morea-morea tersebut pergi keluar menuju air laut yaitu tempat asal mereka.  Peristiwa ini berlangsung satu kali dalam setahun yaitu pada saat bulan gelap yaitu sekitar bulan oktober saat mulai akan menanam kacang.  Orang Bupolo katakan kalau rana Waekolo sudah kotor maka mloko ha akan marah dan kemarahannya yaitu mloko ha akan kencing (mloko ha stefo) dan itu hanya dapat ditandai dengan banyaknya morea yang terdapat di likunsmola.

Kalau menuju ke fenafafan melewati rana Waekolo dengan pakai perahu hanya diperuntukkan bagi orang Bupolo yang datang dari luar humalolin Waereman, sedangkan bagi orang Bupolo di Waereman biasanya mereka melewati jalan gunung Date dengan berjalan kaki.  Fenafafan tidak diijinkan bagi orang luar.  Saya mendapat izin ke fenafafan hanya satu kali dan kunjungannya sangat singkat dalam waktu tiga jam saja.  Saya hanya mau melihat apakah masih terdapat bangunan rumah seperti yang diceritakan oleh orang Bupolo di humalolin Waereman kepada saya.

Tidak ada syarat khusus yang mereka minta dari saya jika ingin berkunjung ke fenafafan, misalnya harus membayar uang sedekah di humapuji atau humakoin.  Huma puji atau disebut juga humakoin adalah tempat dimana orang Bupolo di Waereman atau orang Bupolo lainnya dapat berbicara (babeto) dengan para leluhur mereka (opolastala).

Pada umumnya orang luar (geba nyosot) yang ingin berkunjung ke tempat-tempat sakral di rana lalen diwajibkan untuk membayar jiwanya dengan sekeping uang di humakoin. Ini sebagai suatu tanda bahwa opolastala dan semua jiwa orangtua dari orang Bupolo yang telah meninggal dunia telah dihormati dan jika melewati tempat sakral, maka jiwa dari orang tersebut akan selamat dan tidak akan membawa kematian.

Saat berkunjung ke fenafafan, saya ditemani oleh mrimu Waekolo.  Setelah tiba di tempat tersebut, mrimu Waekolo berbicara (babeto) untuk minta izin dari opolastala, rana, dan date.  Kemudian kita memasuki suatu tempat yang disebut huma (rumah).  Tempat dimaksud tidak berbentuk rumah secara fisik namun ada beberapa buah batu yang tersusun secara rapih.

Tempat itu adalah rumah pertama dari leluhur mereka.  Menurut mrimu di tempat itu juga tersimpan seluruh harta para leluhur, seperti peralatan untuk berkebun, peralatan berburu, alat untuk masak dan makan.  Semua alat tersebut disimpan di dalam tanah.  Mereka membuat tempat khusus yang dinamakan liang lahin.  Cara membuat liang lahin yaitu mereka membuat sebuah lubang di dalam tanah dan dilapisi dengan batu pada seluruh dinding lubang tersebut. Umumnya ukuran liang lahin yang dibuat tidak terlalu besar, rata-rata berukuran panjang satu meter, lebar 60 sentimeter dan ukuran kedalaman lubang tidak lebih dari satu meter.

Semua barang dimasukkan ke dalam liang lahin dan bagian atas disusun piring yang terbuat dari porselen kemudian ditutup dengan tanah.  Semua peralatan yang terdapat di fenafafan saat ini telah diganti dengan peralatan yang terbuat dari porselen seperti piring dan gelas.  Saya tidak melihat seluruh obyek tersebut hanya diketahui berdasarkan cerita lisan dari mrimu Waekolo.

Mrimu dan portelo Waekolo yang tinggal di humalolin Waereman secara bergantian mempunyai tugas yang rutin untuk membersihkan rumah di fenafafan.  Tidak ada jadwal yang pasti untuk kegiatan tersebut, jika ada yang sakit di dalam humalolin Waereman atau orang Bupolo yang tinggal di luar ranalalen hendak mengunjungi fenafafan, dari situ baru mereka membersihkan tempat rumah leluhur mereka dan memberi makan.

Pembagian daerah pemukiman baru ini tidak berdasarkan atas luas tanah tetapi berdasarkan pada gunung dan sungai.  Oleh sebab itu setiap noro dari orang Bupolo memiliki gunung dan sungai yang menurut mereka sangat sakral. Gunung dan sungai dimaksud masing-masing mempunyai nama.  Jadi tanah yang ada diantara atau disekitar gunung dan sungai tersebut adalah milik dari noro yang bersangkutan.

Selama penelitian di lapangan, saya mencoba untuk mengetahui batas-batas teritorial dari suatu noro, namun hal itu sangat sulit karena daerah yang terlalu luas dan jawaban dari informan di lapangan hanya menyebutkan bahwa : tanah milik kami terletak pada gunung dan sungai sebagaimana yang telah ditentukan oleh leluhur kami.  Dan semua orang Bupolo telah mengetahuinya.  Jika ada orang Bupolo yang tidak mengetahui maka yang harus menjelaskan kepadanya adalah para pemimpin adat (geba ha) dan orang-orang tua (gebaro emkeda).

 

Penutup

Kesimpulan dari cerita di atas ingin menyatakan bahwa daerah keramat di Pulau Buru merupakan tempat yang menyimpan identitas Orang Bupolo yang selalu menyatu dengan lingkungan alam. Daerah keramat yang dikenal oleh Orang Bupolo terdiri dari :

a.Ranalalen, b.Garan, c.Waekoit, d.Kakukoit, e.Liang lahin, f.Kufun-kufun lalen, g.Humakoin, h.Seget, i.Sufen

ORANG BUPOLO DI WAEKEN

pulau-buru

Orang Bupolo di Waeken[1]

Oleh :

Marcus Jozef PATTINAMA[2]

Uraian singkat

1) Tulisan ini dikerjakan sebagai pemaparan ide dan pemikiran dalam suatu diskusi yang diselenggarakan oleh suatu lembaga swadaya masyarakat yang punya peduli ingin memberdayakan masyarakat di Pulau Buru, khususnya di selatan pulau tersebut. Di satu sisi, kami sangat menghargai maksud dan tujuannya karena memang masyarakat di sana sangat membutuhkan sentuhan program pembangunan agar mereka juga dapat merasakan pembagian kue pembangunan nasional yang juga setara seperti yang dirasakan oleh kelompok masyarakat lainnya di nusantara ini. Apalagi orang Bupolo pada umumnya hidup pada habitat di daerah pegunungan yang relatif sulit dijangkau untuk berkomunikasi. Sedangkan di sisi lain, kami ingin memberikan sebuah gagasan yang diperoleh berdasarkan pengalaman kami hidup bersama orang Bupolo selama kurang lebih dua tahun dalam rangka merampung studi kami dalam bidang ethnobotani.

2) Kami menggunakan terminologi orang Bupolo untuk menamakan masyarakat yang mengaku sebagai orang asli dan pemilik Pulau Buru. Istilah Bupolo sendiri adalah nama mula-mula dari Pulau Buru. Ada sejarah yang mengisahkan perubahan nama ini dan orang Bupolo mampu menceritakannya dalam cerita da bapoloh dan Bupolo Waekolo. Boleh disebut sebagai mitos tetapi yang paling penting sebagai peneliti adalah bobot pesan yang terkandung di balik kisah tersebut, sehingga analisis ilmiah terhadap masyarakat ini akan lebih lengkap dan utuh. Dengan begitu kita akan lebih memahami pikiran masyarakat dan kebijakan apa yang dapat diterapkan untuk lebih mendekatkan orang Bupolo berpartisipasi dalam program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Untuk itu kami putuskan menyebut masyarakat asli Pulau Buru sebagai orang Bupolo.

3) Pulau seluas 10.000 km² setara Pulau Bali, dahulu tiga kecamatan dengan administrasi pemerintahan dibawah Kabupaten Maluku Tengah. Kemudian hembusan angin reformasi menjadikannya Kabupaten Buru dengan ibukota Namlea. Kabupaten Buru saat ini terdiri dari 10 kecamatan di pesisir pantai dan direncanakan menambah lagi satu kecamatan untuk melayani administrasi pemerintahan di daerah pegunungan. Dan punya Bupati pertama (Hentihu = henatihu, yang terakhir, bongso) dari keturunan Raja Lisaboli Lisela.

4) Pengalaman kami hidup dengan orang Bupolo di sentral Pulau Buru yaitu di suatu tempat yang mereka sebut Rana lalen yaitu daerah seputar danau Rana Waekolo dimana terdapat danau itu sendiri dan Gunung Date. Kedua tempat yang sangat sakral ini dipelihara utuh karena disinilah letak jati diri orang Bupolo. Mereka yang tinggal di situ dengan jujur selalu mengatakan bahwa tempat ini adalah milik semua orang Bupolo, kami hanya sebagai penunggu bahkan orang pendatang yang telah menyebut diri sebagai orang Buru juga memiliki tempat ini, karena mereka turut berpartisipasi dalam memelihara kesakralan Rana dan Date. Istilah rana sebenarnya berarti telaga sehingga kalau kita menyebut danau rana sebetulnya mengandung arti « redundant ». Oleh sebab itu orang Bupolo selalu menyebutnya Rana saja atau Rana Waekolo. Melewati masa tinggal yang relatif panjang diantara kehidupan orang Bupolo, suatu ketika ada seorang pemangku jabatan adat (Mrimu Waekolo dan Porwisi Waekolo) datang berdiskusi dengan kami, tentunya menggunakan bahasa Buru yang telah kami terjemahkan seperti tertulis ini. Beliau mengatakan demikian : « Céciletama, kenapa orang di lao itu selalu mengatakan katong orang Buru ini kafir dan dorang bilang katong selalu jahat ». Kata sapaan dalam internal pergaulan sesama orang Bupolo maupun dengan orang luar yang sudah dianggap dekat dengan ritme pergaulan mereka maka istilah untuk menyapa orang akan menggunakan « tahin tama » artinya menyapa orang berdasarkan nama anak yang tertua kemudian diikuti kata tama untuk laki-laki dan tina untuk wanita, jadi karena anak kami yang tertua bernama Cécile, sehingga disapa Céciletama sedangkan istri kami akan disapa dengan Céciletina. Ini hanya baru satu aspek saja yaitu soal kata sapa-menyapa yang ingin kami kemukakan sebagai contoh dari pernyataan mereka di atas. Orang di lao berarti orang luar yaitu mereka yang pendatang baik yang sudah lama menetap maupun yang baru datang. Orang Bupolo menyebut kelompok ini dalam bahasa mereka adalah Geba misnit atau Geba nyosot. Jadi yang menarik bagi kami dan ingin disampaikan adalah bahwa orang Bupolo sangat mengerti apa reaksi orang luar tentang kehidupan mereka. Intinya bahwa sebenarnya orang luar mau menilai mereka dengan ukuran yang dipakai oleh orang luar padahal dan memang sangat paradoksal bahwa orang Bupolo sendiri memahami orang luar bukan dengan konsep mereka tetapi mencoba untuk menggunakan konsep orang luar tersebut dan memahaminya. Seperti kata « kafir » dan « jahat » adalah suatu kata yang menurut pandangan kami sudah menghakimi dan menyudutkan orang Bupolo. Seolah-olah kita mengganggap mereka sudah tidak manusiawi lagi bahkan bodoh. Kata-kata yang lain seperti terasing, pemalas, belakang tanah, alifuru … adalah kata-kata yang sering orang luar alamatkan kepada orang Bupolo.

5) Tidak hanya terbatas pada cara dan pandangan hidup orang Bupolo yang sama sekali tidak mau dimengerti oleh orang luar tetapi sampai pada cara mengolah sumberdaya alam yang mereka praktekkan misalnya sistem pertanian yang dikerjakan orang Bupolo. Kadang kita lupa bahwa apapun yang dikerjakan oleh seorang peladang atau petani adalah merupakan suatu keputusan yang rasional. Artinya bahwa kita harus memahami bahwa apapun sistem dan cara kerja yang dilakukan oleh orang Bupolo haruslah kita terima sebagai suatu keputusan yang rasional pula. Sebagai lembaga pendidikan tinggi katakanlah lembaga pendidikan tinggi pertanian sering kita juga tidak mampu memahami dan tidak mau memahami apa yang dikerjakan oleh peladang dan petani. Kita selalu berasumsi bahwa nanti kita yang datang untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada peladang atau petani. Sehingga metode kerja seperti demostrasi plot yang selama ini dianut oleh lembaga penyuluhan pertanian dan lembaga pendidikan tinggi pertanian adalah cerminan bahwa kita hanya memposisikan diri kita bahwa yang paling benar dan paling tahu. Kita lupa bahwa peladang dan petani mempunyai ketrampilan yang sangat luar biasa. Yang seharusnya kita belajar dari peladang atau petani kemudian mengkaji, menganalisis dan mengadakan penelitian ; baru setelah itu kita dapat memberikan rekomendasi yang tepat kepada peladang atau petani. Ini prinsip ilmiah yang ingin kami berikan sebagai pedoman kerja berdasarkan pengalaman kerja kami di Pulau Buru dan juga berdasarkan pengalaman kami selama bertahun-tahun mengikuti pendidikan, dimana perbandingannya kami juga peroleh dengan belajar bagaimana cara yang digunakan oleh Pemerintah Perancis dalam membangun masyarakat pada beberapa negara seperti negara-negara di Afrika, Korea Selatan, Thailand, India, Indocina, dan negara-negara di Amerika Selatan. Konsep barat misalnya R & D (Research and Development) menurut hemat kami sering salah diterapkan oleh para pakar di Indonesia (=mudah-mudahan kami tidak menghakimi). Ini suatu konsep yang sangat mahal karena harus melakukan penelitian yang mendalam baik mandiri maupun institusi. Mengapa kami katakan demikian karena bagi kita di Indonesia R&D ini kita pikirkan sebagai suatu proyek yang dapat mendatangkan keuntungan. Kami juga pikir ini ciri khas berpikir orang di Negara Berkembang dan itu juga suatu bagian dari cara berpikir yang rasional. Sehingga watak dan perilaku kita yang begini menjadi inferior dimata orang asing (=barat) dimana motivasi kerja mereka untuk hal yang satu ini sangat jauh berbeda yang ditampilkan oleh kita. Mengapa berbeda?, kami tidak banyak mengulas pertanyaan ini tetapi yang ingin kami tegaskan bahwa suatu penelitian adalah suatu penelitian saja. Dimana kegiatan dimaksud harus serius dilaksanakan.

6) Pada akhir dari kegiatan penelitian, peneliti mampu menyajikan suatu rekomendasi dan pihak yang paling banyak membutuhkan rekomendasi itu adalah pemerintah dan pihak swasta. Tugas pemerintah hanya satu yaitu membangun infrastruktur dan setelah itu baru pihak swasta yang diminta untuk berinvestasi. Ini suatu siklus yang sudah mapan berlangsung dan merupakan suatu sistem yang hanya dipraktekkan oleh Negara Maju. Jadi sistem mereka sudah seperti rangkaian roda gila. Sekarang bagaimana kenyataan di Negara Berkembang seperti Indonesia ini bahkan bagaimana di Pulau Buru ? Rangkaian itu belum tersusun sehingga kita harus bangun dan bagaimana caranya ? Menyimak apa yang ingin dikerjakan oleh Lembaga Pengabdian pada Masyarakat UNPATTI di Buru Selatan maka ingin kami usulkan bahwa alangkah bijaksana jika kegiatan tersebut dipusatkan di suatu tempat yang bernama Waeken. Untuk lebih jelas tentang lokasi dimaksud bisa dilihat pada peta yang kami sajikan berikut ini.

Peta-Pulau-Buru

Peta Pulau Buru dengan Waeken (Sumber peta: Pattinama, 2004)

7) Mengapa Waeken ? Kami pernah diundang oleh Klasis GPM Buru Selatan untuk memaparkan ide membangun masyarakat di Buru Selatan. Kami tidak tahu harus mulai dari mana. Saat Sidang Klasis kami mengajukan pertanyaan kepada 20 peserta tentang bagaimana pengalaman mereka berusaha untuk hidup dan dimana daerah yang baik untuk dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan pengembangan ? Akhirnya kami berupaya untuk membuat kuesioner yang sederhana agar mereka bisa mengisinya hanya untuk mengetahui tanaman apa yang telah mereka usahakan dan tanaman apa yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang? Mereka sepakat untuk Waeken ditetapkan sebagai titik pengembangan. Jadi lokasi itu ditentukan oleh mereka. Kemudian kami sendiri berinisiatif untuk datang ke Waeken dan hidup diantara masyarakat di sana. Waeken saat ini hanya dihuni oleh 10 rumah (Data primer tahun 2003). Setelah kami menelusurinya ternyata dahulu (sekitar tahun 1950-an) kampung ini dihuni oleh 100 lebih rumah. Dan ini kampung milik orang dari marga Biloro. Mereka terpaksa harus meninggalkan Waeken karena menurut cerita bahwa dahulu warga kampung ini terserang penyakit kutukan yang telah membunuh banyak orang. Penyakit itu berasal katanya dari Tuhan karena mereka pernah mengusir seorang pendeta yang berasal dari Ambon dan sebelum meninggalkan kampung ini pendeta tersebut berdoa. Untuk itu dalam pikiran mereka usir pendeta dan doanyalah yang membuat mereka sebagai orang-orang yang dikutuk. Bahkan Waeken dijadikan sebagai contoh dalam pelayanan misi gereja bahwa kalau usir pendeta akan dikutuk. Ini yang membuat posisi pendeta makin kuat sekali bahkan masyarakat akan lebih mendengar suara pendeta daripada seorang kepala adat. Nilai peradaban Kristen di Buru Selatan lebih dominan, namun demikian kalau kita hidup diantara mereka sedikit lebih lama maka tetap saja kita jumpai ada sekelompok orang yang tetap hidup mempertahankan tradisi dan adat orang Bupolo. Mereka sebenarnya beroposisi dengan misi gereja. Sikap mereka tidak terang-terangan menentang misi gereja, hanya diam dan tetap mengontrol sikap warganya agar tidak boleh melupakan tradisi dan adat walaupun telah menerima peradaban Kristen. Jadi mereka harapkan agar Waeken dapat dipulihkan kembali. Ini suatu kekalahan orang Bupolo dalam percaturan dengan peradaban baru. Saya sendiri tidak tahu apakah Klasis GPM Buru Selatan dapat mengerti situasi ini ?

8) Menuju Waeken hanya butuh waktu empat jam berjalan kaki dengan tidak terburu-buru dari Tifu melewati kampung Nusarua. Saat ini dengan bantuan fasilitas transportasi dari Perusahaan HPH yang bermarkas di Tifu maka dipastikan waktu akan lebih singkat untuk mencapai Weken. Dataran cukup luas dan di bagian belakang kampung melewati sebuah sungai (wae) masyarakat telah menyiapkan lahan untuk digunakan sebagai lahan usaha pertanian. Kami tidak tahu secara pasti berapa luasnya. Dari sungai (wae) tersebut kita dapat menemukan jenis udang air tawar yang cukup banyak dan Waeken sangat terkenal dengan udangnya. Daerah sekitar Waeken perlu mendapat sentuhan program penghijauan, dengan dataran yang relatif luas maka daerah tersebut bisa dijadikan tempat penggembalaan ternak. Di situ kami berpikir untuk diupayakan menjadi tempat pemeliharaan ternak kuda dan keledai kemudian suatu saat bisa didistribusikan kepada setiap warga yang mendiami kampung di daerah pegunungan karena dengan hewan tersebut pada masa depan dapat dijadikan sarana transportasi agar masyarakat di pegunungan bisa menggunakannya mengangkut hasil pertanian mereka ke pusat pemasaran. Kami sarankan agar tidak menggunakan istilah desa binaan. Suatu konsep yang menurut hemat kami dapat menimbulkan kecemburuan sosial terhadap yang lainnya. Artinya siapa yang dibina dan siapa yang menjadi penonton ? Waeken hanya dijadikan tempat penelitian ternak dan usaha pertanian. Agar semua penyuluhan pertanian dan peternakan dapat diselenggarakan secara terpusat di daerah tersebut. Dan program penyuluhan harus menggunakan masyarakat sebagai agen/penyuluh. Konsep penyuluhan dengan petugas penyuluh harus ditinjau lagi. Yang seharusnya terjadi adalah masyarakat harus dididik menjadi penyuluh bukan petugas dari instansi seperti konsep yang selama ini digunakan. Karena penyuluh tidak akan pernah tinggal di kampung dalam jangka waktu yang lama dengan masyarakat. Yang terjadi selama ini dia hanya datang untuk membagi bantuan dan brosur setelah itu pergi meninggalkan sasaran yang akan disuluh. Oleh karena itu kalau Buru Selatan mau dikembangkan maka kegiatannya tidak boleh terpisah dengan kegiatan Klasis GPM Buru Selatan, karena disitulah kekuatan untuk mengembangkan masyarakat. Pada tahap awal para perangkat misi gereja bisa dijadikan ujung tombak. Dengan demikian seluruh kegiatan di Waeken akan diselaraskan dengan kegiatan pelayanan gereja. Jika ini tidak terorganiser secara selaras maka bisa saja misi gereja yang dapat menghambat seluruh kegiatan lapangan dengan program-program yang mereka rancangkan. Misalnya suatu saat kita mendapat jawaban bahwa sibuk karena ada kegiatan ibadah dan rapat di gereja.

9) Program pemberdayaan. Ini suatu istilah yang kita jumpai dimana-mana sekarang ini. Seperti istilah revitalisasi pertanian yang dicetuskan oleh Presiden RI, SB Yudoyono. Akhirnya semua sektor seolah-olah ingin menggunakan istilah revitalisasi. Bagi saya ini latah. Kalau sektor pertanian benar-benar harus diberikan kembali energi yang baru (revitaliser) karena saat ini sektor pertanian memang gagal dan kegagalan itu bisa dilihat dengan meningkatnya orang miskin yang menggeluti sektor pertanian dan bencana kelaparan yang kronis. Mengapa ? karena infrastruktur pertanian yang lemah. Di Pulau Buru misalnya apakah program perberdayaan hanya datang dengan membagi bibit dan uang ? Ini tidak mungkin dan pasti kita akan melihat kegagalan kembali di masa yang akan datang. Orang di Pulau Buru tidak membutuhkan orang luar datang untuk mengajar mereka cara bercocok tanam yang baik karena itulah pekerjaan mereka. Yang harus dijalankan adalah kita mendorong pemerintah membangun pasar dan jalan. Dan untuk Pulau Buru ini sangat berat karena butuh dana yang besar, oleh sebab itu tahap sekarang ini kami lebih cenderung menyarankan gunakan terobosan dengan transportasi kuda atau keledai. Dan Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Unpatti hanya menciptakan terobosan dengan menghubungkan peladang atau petani di Pulau Buru dengan pusat pemasaran hasil pertanian. Jika ini tercipta maka peladang atau petani di Pulau Buru akan aktif untuk berusaha di sektor pertanian secara mandiri karena ada jaminan pasar hasil pertanian mereka. Menurut hemat kami disinilah inti dari pemberdayaan masyarakat. Kalau kita mampu memangkas jalur pemasaran yang tidak resmi dan merugikan orang Bupolo maka disitulah masyarakat akan diberdaya sebab ketidakberdayaan mereka hanya terletak pada tidak mampu menerobos jalur pemasaran yang dikuasi oleh mereka yang sebenarnya punya watak yang sama dengan koruptor kelas kakap. Permainan harga yang hanya mau melakukan barter dan timbangan yang tidak pernah dikontrol atau ditera oleh pihak Dinas Perdagangan (=bagian metrologi). Orang Bupolo pasti memerlukan dana produksi sehingga peranan lembaga keuangan non bank yang mengembang misi simpan pinjam harus diciptakan. Kalau bank akan sangat sulit mereka terobos sebab tidak ada jaminan yang dapat mereka berikan. Tanah mereka semua tidak ada sertifikat dan administrasi formal bank akan sulit mereka penuhi. Kami tidak menyebutnya sebagai koperasi sebab institusi ini juga sangat jauh dari konsep mereka. Entah apa nama yang cocok namun kami lebih cenderung menyebut sebagai lembaga non bank.

10) Demikianlah paparan ide yang singkat ini dan semoga bisa menjadi pertimbangan dalam kiprah lembaga swadaya masyarakat yang ingin membangun harga diri suatu kelompok masyarakat sehingga mereka mempunyai daya tawar-menawar dalam pergaulan dengan kelompok masyarakat lainnya. Semoga Kacang Buru, warahe (Arachis hypogaea L, Fabaceae), Hotong Buru, feten (Setaria itallica, Poaceae) dan Kentang Buru, mangsafut (Solanum tuberosum L, Solanaceae) dapat kembali mengangkat masa keemasan orang Bupolo seperti yang dicapai pada masa dulu. Orang Bupolo benar-benar kalah dalam pertarungan di abad moderen ini.



[1]  Sumbangan pemikiran ini disampaikan dihadapan kelompok diskusi lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada pemberdayaan masyarakat Bupolo, diselenggarakan di Ambon, 31 Januari 2006.

[2] Dosen program studi sosial ekonomi pertanian Fakultas Pertanian UNPATTI Ambon dan Ethnobotanist dari Laboratoire Ethnobiologie-Biogéographie Muséum National d’Histoire Naturelle (MNHN) Sorbonne Paris, Prancis. Penerima penghargaan internasional Mahar SCHÜTZENBERGER tahun 2005 untuk penelitian di Pulau Buru, Maluku, Indonesia dari Institut Gaspard Monge, Université de Marne-la-Vallée, Perancis.