Tag Archive for Yesus Lahir

JIKA YESUS LAHIR DI BUPOLO……

Yesus-Lahir

Marcus Jozef PATTINAMA

(Ethnobotanist dan Staf Pengajar Sosek Faperta UNPATTI)

Pengantar : Memahami Yesus

Membayangkan Taman Eden : ada Adam dan Hawa dengan wajah bule, buah terlarang (mungkin itu pohon appel ; belum dibudidaya di Maluku tapi bisa ditemui di pasar), ular yang menggoda, akhirnya kedua makhluk itu telanjang, mulai tahu malu dan tidak lagi makan gratis alias harus membanting tulang, lalu diusir keluar dari kehidupan taman yang indah karena tidak setia akan janji sederhana saja yaitu : jangan makan buah dari pohon yang ditanam di tengah Taman Eden ini. Mengapa di tengah dan bukan di pinggir taman ? Setelah meninggalkan Taman Eden, punya keturunan (dua anak laki-laki) dimana mereka lahir dari pasangan yang telah berlumuran benih dosa : akibatnya kehidupan dunia berdosa mulai dijalani. Diawali dengan rasa iri dan cemburu kemudian muncul benih pembunuhan. Jangan heran dan lupa karena Khalik insani juga punya rasa cemburu jika tidak setia pada janjiNya.

PerintahNya kepada manusia untuk memenuhi bumi dipatuhi, populasi manusia meningkat, dosa juga meningkat tanpa kendali maka datanglah air bah, Nuh dan keluarga selamat karena patuh pada janjiNya. Setelah air bah Nuh tahu kalau bumi kering setelah seekor burung membawa setangkai daun, dia turun dari bahteranya dan memulai kehidupan yang baru dengan tujuh anggota keluarganya. Suatu saat Nuh mabuk disaksikan ketiga anaknya, Ham melihatnya telanjang sedangkan Sem dan Yafet menutupnya dengan kain. Kutukan akhirnya menimpa keturunan Ham. Tercatat bahwa keturunan Sem dan Yafet selamat dari kutukan maut itu.

Rupanya dosa terus saja dilakukan oleh manusia, para Nabi sudah tidak mampu lagi mengajarkan yang terbaik kepada pengikut mereka. Akhirnya sang Khalik harus hadir dalam bentuk phisik manusia. Dia adalah Yesus. KelahiranNya sangat tidak lazim menurut pandangan manusia abad modern. Dari rahim Maria Magdalena, perempuan yang sangat sederhana itu, ada kekuatan khusus Khalik (Roh Kudus) yang turut bekerja sehingga benih suci itu membentuk seorang bayi yang juga memiliki sifat kudus. Saatnya tiba bahwa buhar itu harus dilahirkan, dimana prosesnya pun di luar batas pikir manusia yaitu di sebuah kandang ternak. Mungkin itu tradisi Yahudi bahwa kaum khafilah bisa memilih kandang ternak agar istri mereka bisa melahirkan seorang bayi. Mereka tidak akan mengetuk pintu penduduk dari suatu pemukiman yang mereka lewati, pasti ditolak. Ketidak-laziman dalam tradisi Yahudi ini mungkin agak berat bagi mereka menyebutnya sebagai seorang Mesias. Begitulah cara Khalik bekerja untuk membaharui sebuah tradisi adat. Oleh karena itu Yesus hadir dimanapun selalu mendapat tantangan walaupun Yesus dibesarkan dalam tata etika budaya Yahudi, yaitu suatu tempat nun jauh di seberang sana, di Nazareth, kota Galilea (Israel).

Jika membaca Alkitab, ditemui bahwa hampir semua materi pengajaran yang Yesus lakukan selalu memakai ilustrasi lingkungan alam setempat terutama flora dan fauna dimana banyak sekali jenis dari flora dan fauna yang sulit kita ketahui wujud nyatanya. Itu wajar sekali karena habitatnya sangat berbeda. Bersyukur kepada mereka yang punya kesempatan mengunjungi daerah belahan Timur Tengah baik sebagai turis maupun sebagai pekerja atau karyasiswa. Itupun sangat terbatas sekali jumlahnya sedangkan bagian terbesar hanya bisa mengikutinya dengan membaca Alkitab. Sayangnya dalam catatan Alkitab tidak menerangkan dengan mendalam seluruh media dalam lingkungan dan tradisi Yahudi tersebut. Barangkali kitapun tidak terlalu terusik dengan media maupun tradisi tadi sebab yang paling penting harus patuh dan percaya saja. Semuanya benar bahkan sangat kudus adanya. Bagaimana membayangkan bentuk nyata dari biji sesawi, pohon ara, minyak zaitun, pohon anggur, minuman anggur dan lain-lainnya. Dan mengapa media itu yang diangkat sebagai contoh ? Tidak kebetulan terjadi karena ada karakter morfologi dari media tersebut yang ingin dibahas karena memiliki ciri khusus, contohnya mengapa digunakan sifat morfologi ular dan merpati ?.

Tulisan ini dipersembahkan menyongsong kelahiran Yesus, yang secara tradisi dirayakan pada tanggal 25 Desember. Judul « Jika Yesus Lahir di Bupolo…. » ditawarkan penulis kepada Redaksi majalah Assau, memang, ini sesuatu yang mustahil dan irasional, namun penulis sebagai seorang protestan calvinist mencoba meletakkan pikiran, tradisi dan budaya Yahudi ini ke dalam pikiran, tradisi dan budaya Bupolo. Ini sengaja dipersembahkan kepada sidang pembaca dengan dasar pikran bahwa dua pilar budaya (Yahudi dan Bupolo) adalah sesuatu yang tidak dapat dibandingkan dan penulis tidak akan melakukan perbandingan. Tulisan ini hanya bersifat informasi kekayaan pikiran, tradisi dan budaya orang Bupolo dimana penulis melewatinya ketika hidup bersama mereka selama dua tahun efektif. Jika metodologi pemberitaan teologi mampu beradaptasi dengan kondisi riel yang ada dalam suatu kelompok masyarakat maka dipastikan materi pemberitaan nilai-nilai luhur teologi yang dipandang sebagai peradaban modern akan lebih dipahami dengan baik.

Masyarakat Bupolo, sebagaimana tulisan penulis dalam edisi Assau September 2005  ; Etnobotani bialahin (Metroxylon sagu, Arecaceae) : Pandangan Hidup Orang Bupolo, adalah masyarakat asli yang mendiami Pulau Buru. Mereka sangat arif dalam memaknai ciri morfologi pohon sagu dan milieu-nya dalam kehidupan kekerabatan mereka. Begitu sederhana pikirannya dan langsung diwujudkan dalam kehidupan nyata mereka.

 

Mitos : Da Bapoloh, Date, Rana dan Fenafafan

Boleh saja kita sebut cerita ini sebagai mitos. Mitos berkembang dalam masyarakat tradisional dan tetap ada dalam struktur masyarakat modern. Untuk seorang teolog liberal bisa saja Alkitab dianggap sebagai mitos sementara yang belum terbiasa dengan pikiran ini sedikit agak terganggu dan bisa menilai pikiran ini sangat berbahaya. Namun penganut protestan sudah terbiasa mengembangkan ide-ide pembaharuan. Mitos berperan penting dalam studi tentang masyarakat dan digunakan untuk menganalisis konstruksi berpikir yang dikembang-kan oleh masyarakat.

Cerita da bapoloh bagi orang Bupolo adalah awal kisah kehidupan mereka. Cerita ini yang memberi bobot terhadap identitas mereka sebagai orang Bupolo. Dikisahkan bahwa pada waktu mula-mula, air menutupi Pulau Buru. Keadaan ini dinamakan da bapoloh. Ketika air mulai surut, yang pertama muncul adalah Gunung Date. Disini tempat berdiam leluhur orang Bupolo yang disebut Opo Lastala. Pulau Buru muncul setelah surutnya air, kondisi permukaan tanah tetap basah bagaikan papeda. Ini yang disebut bupolo (biapolo à bia = sagu; polo = bergetah). Orang Bupolo punya ekspresi masin keha pa da bapoloh kaku tu da bapoloh wae pe artinya air laut naik menutupi gunung dan juga sungai.

Saat tanah mulai kering, seekor morea besar (mloko hat) naik dari laut menuju ke gunung untuk mencari tempat dan dibuatlah kubangan dan akhirnya terjadilah Rana (=telaga). Setelah itu muncul sepasang manusia: Lawanditau (laki-laki) dan Peteriaditan (perempuan), mereka hidup di Fenafafan (fena=tempat, fafan=paling atas). Pasangan ini punya sembilan orang anak. Mereka hidup sangat rukun dan suatu ketika ada perang diantara mereka karena perebutan pohon sagu. Di Fenafafan, tepung sagu diperoleh hanya dengan melubangi batang pohon sagu dan seterusnya bisa langsung dibuat papeda tanpa harus melalui proses pengolahan seperti saat ini. Persoalan berikutnya yang terjadi di Fenafafan adalah perkawinan yang terus berlangsung hanya diantara bapak-ibu-anak yang disebut mhuka fena tuni. Suatu ketika datanglah murka dari Opo Lastala : 1) tepung sagu sudah harus diperoleh dengan cara menebang pohon, pukul sagu, ramas ela sagu dan ambil tepung dalam goti sagu. 2) mereka harus berpisah dan terjadilah pembagian tempat ke daerah selatan Pulau Buru. Pembagian tempat dan manusia ke dalam ruangnya masing-masing disebut mhuka fena wae.

Dunia Orang Bupolo

Orang Bupolo tidak secara langsung menyatakan bahwa ada kejadian air bah. Bisa saja kita menduga bahwa cerita ini mendapat pengaruh dari misi teologi oleh para penginjil di daerah tersebut. Yang paling penting bahwa kualitas dari peristiwa itu bagi orang Bupolo adalah terbentuknya suatu ruang karena mereka tahu bahwa setelah surutnya air bah muncul Gunung Date.

Di tempat ini juga datang sebuah perahu besar. Date artinya tiba atau sampai. Penumpang perahu itu adalah Opo Lastala, selanjutnya bermukim di Date. Oleh sebab itu dalam keseharian Gunung Date adalah tempat berdiam para leluhur. Dengan demikian Gunung Date tetap harus dijaga dengan tatanan adat yang kuat dari pengaruh orang luar, misalnya dilarang membawa orang luar mengunjungi dan melintasi Gunung Date. Mereka konsisten mempertahankan daerah itu dengan melarang hadirnya HPH.

Di Gunung Date dan daerah hutan primer adalah tempat orang Bupolo meramu damar dan berburu binatang hutan seperti babi (fafu), babi rusa (fafu boti), rusa (mjangan), dan kusu (blafen, Phalanger dendrolagus). Untuk berburu harus menunggu musim buah dari pohon meranti (biahut, Shorea sp).

Pada kawasan hutan sekunder mereka lebih banyak melakukan kegiatan pertanian. yang disesuaikan menurut phenomena alam dari pohon kautefu (Pisonia umbellifera Fors&Soom, Nyctaginaceae) dan pohon emteda (Terminalia sp., Combretaceae). Untuk pohon yang pertama, jika buahnya telah mengeluarkan cairan seperti lem, maka musim panas akan tiba atau sering disebut mena kautefupolo. Itu berarti kegiatan menebang pohon, membersihkan lahan dan membakar akan segera dilaksanakan. Sedangkan pohon yang kedua, akan lebih banyak dipakai untuk menandai kegiatan mereka sepanjang tahun dengan melihat gejala perubahan pada daun.

Setelah menanam kacang tanah pada kebun baru, orang Bupolo melakukan kegiatan mengolah minyak kayu putih atau mereka sebut pula urut daun, yang banyak dilakukan di daerah sebelah utara Pulau Buru, karena disini banyak dijumpai formasi pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron, Myrtaceae) yang tercatat sebagai tanaman asli Pulau Buru.

Orang Bupolo masih sangat yakin bahwa hingga saat ini morea besar itu masih tetap hidup, sehingga kekeramatan Danau Rana tetap dijaga dengan menerapkan aturan adat yang ketat. Danau seluas 75 Km² ini terdapat banyak sekali morea dan pada akhir panen kacang tanah mereka melakukan upacara meta di Danau Rana dimana keluarnya morea dari danau menuju laut melalui sungai Waenibe. Orang Bupolo yakin bahwa leluhur mereka yang berdiam di dalam danau mengusir keluar morea-morea dengan cara kencing (mloko hat stefo) sehingga mereka seolah mabuk, dengan begitu pada upacara meta orang Bupolo dengan sangat mudah dapat menangkap morea mulai dari bagian hulu sungai hingga ke hilir. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah morea tersebut pergi untuk melakukan reproduksi yang menurut peneliti Prancis, Keith Philippe, cs (1999) bahwa umumnya morea di Indonesia menuju ke Pulau Fiji di Pasifik Selatan. Menariknya bahwa setelah reproduksi maka morea dewasa akan mati di laut Fiji dan larvanya akan kembali lagi ke habitat asal di Danau Rana dengan perjalanan lebih dari dua tahun.

Fenafafan merupakan kampung mula-mula dari orang Bupolo. Disini nilai kehidupan manusia dimulai dan dari sini pula etika hidup orang Bupolo diatur. Akibat perkawinan diantara bapak-ibu-anak maka saat ini ada larangan yang sangat keras yaitu dilarang melakukan perkawinan di dalam satu mata rumah. (noro atau soa). Dengan pembagian tempat itu berarti mereka menguasai ruang masing-masing. Fenafafan tetap ada hingga saat ini, hanya berupa suatu wilayah yang kosong di seputar Danau Rana.

PULAU-BURU-RANA-DATE

Peta Pulau Buru dengan Danau Rana dan Gunung Date

 Rana lalen artinya daerah diseputar Danau Rana dan Gunung Date yang terletak di tengah pulau. Orang Bupolo mengibaratkan daerah seputar Danau Rana dan Gunung Date sebagai surga yang perlu dipelihara kelestariannya. Konsep konservasi sumberdaya alam telah mereka kuasai dan melakukannya demi kebesaran Opo Lastala yang selalu mengontrol mereka dari singgasana di Gunung Date.

 

Catatan

Orang Bupolo sangat curiga dengan pendatang baru pada habitat mereka dan sebenarnya mereka juga sangat curiga dengan orang Bupolo sendiri yang sudah mengenal peradaban baru. Diseputar Rana lalen, hanya ada dua kampung (Waereman dan Waegrahi) yang tetap hidup dengan mempraktekkan ritual adat. Sisanya yaitu sebanyak lima kampung telah menerima agama protestan, terdiri dari empat kampung menerima agama Sidang Jemaat Allah (Aerdapa, Kakutuan, Warujawa, Wamanboli) sedangkan satu-satunya yang menerima Protestan GPM (Waemiting).

Pulau Buru dalam tulisan ini menjadi contoh bagaimana pemahaman yang kuat dari masyarakat tentang lingkungan alamnya. Yang turut merusak tatanan ini adalah pelaku ekonomi modern.

Orang Bupolo sering dinobatkan dengan istilah seperti : orang kafir, suku terasing, orang pemalas, orang belakang dan alifuru. Terminologi alifuru artinya orang yang hidup terisolir di daerah hutan. Alifuru menurut J. Paulus (1917) berasal dari bahasa Halmahera Utara : halefoeroe, artinya « tempat tinggal di hutan ». Orang Halmahera Utara khususnya orang Tobelo sering menyebut « o halefoeroeka ma nyawa » yang berarti orang yang berasal dari hutan. Kata alifuru juga dialamatkan kepada kelompok masyarakat asli di Pulau Seram karena pengaruh Sultan Ternate.

Saat ini misi gereja seyogyanya juga belajar memahami lingkungan alam jemaatnya sehingga penulis berharap jika ada pendeta yang berkhotbah di daerah pegunungan Pulau Buru akan mengatakan : Jika Yesus Lahir di Bupolo, maka Yesus akan memberi makan orang Bupolo di Gunung Date, menyeberang Danau Rana, dan mengajar dengan menggunakan semua jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Buru.